Mercy Gracia Mintodihardjo (Staf Chaplain)
Dalam bahasa Inggris, wonder dapat berarti rasa kagum (kata benda) sekaligus rasa ingin tahu (kata kerja). Kita sering mengira bahwa semakin banyak belajar, semakin kecil ruang bagi rasa kagum. Seperti trik sulap, begitu mekanismenya kita pahami, hal itu tidak lagi mengagumkan kita.
Namun, true learning tidak memadamkan wonder (rasa kagum). Bila dijalani dengan benar, belajar mengenal Allah dan dunia ciptaan-Nya justru akan menumbuhkan rasa kagum yang dalam dan berkelanjutan.
1. Learning with wonder begins with seeing
“O Lord my God,
When I in awesome wonder,
Consider all the works
Thy hands have made,
I see the stars,
I hear the rolling thunder,
Thy pow’r throughout
The universe displayed!”
Himne ini senada dengan perenungan Daud ketika ia mengagumi alam semesta buatan Allah (Mazmur 8:2–4). Kejadian 1:31 menceritakan bagaimana Allah melihat ciptaan-Nya dan menilai bahwa semuanya “sungguh amat baik”.
Learning with wonder dimulai dengan melihat kepada Allah yang terus setia memelihara ciptaan-Nya—Sang Pencipta yang membentuk setiap serpih salju dengan keunikannya dan meragamkan warna daun musim gugur. Kemudian, kita melihat kepada diri sendiri yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya serta telah diberi kehormatan sekaligus tanggung jawab untuk memelihara ciptaan sebagai wakil Allah (Mazmur 8:5–9).
Cara paling mendasar dalam memelihara ciptaan adalah dengan belajar. Ketika kita memahami bahwa segala sesuatu yang kita pelajari adalah ciptaan Allah yang baik dan indah, belajar tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang biasa atau remeh. Semakin kita belajar, semakin kita mampu menolong orang lain melihat apa yang telah Allah jadikan.
2. Learning with wonder requires us to open up
Learning with wonder berarti membuka diri terhadap hikmat Allah dan cara kerja-Nya yang dahsyat, sambil menyadari keterbatasan pemahaman kita. Inilah yang diakui Ayub ketika menyadari kekeliruannya:
“..tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui.”
(Ayub 42:3)
Namun, keterbatasan ini tidak membuat kita putus asa, melainkan melatih kita untuk rendah hati ketika belajar. Keterbatasan tersebut membuat kita menghargai proses, menyambut pertanyaan-pertanyaan sulit, dan menerima kenyataan bahwa akan selalu ada misteri sekalipun kita terus belajar.
3. Learning with wonder asks us to stop
Learning with wonder berarti berhenti sejenak, menyisihkan waktu untuk mengagumi, merenungkan, dan menikmati Allah serta karya-Nya. Dengan kata lain, learning with wonder berarti membiarkan Allah menjadi Allah dan manusia menjadi manusia.
Di manakah tempat terbaik untuk berhenti dan mengagumi-Nya? Di kaki Yesus Kristus. Puncak kemuliaan dari karya ajaib Allah. Di antara jutaan bintang dan atom mikroskopis. Keajaiban terbesar di alam semesta ada pada kayu salib—tempat Anak Allah, Yesus Kristus, menyerahkan nyawa-Nya bagi orang berdosa.
“And when I think
That God, His Son not sparing,
Sent Him to die,
I scarce can take it in
That on the cross,
My burden gladly bearing,
He bled and died
To take away my sin!
Berbeda dari trik sulap, makin kita mempelajari dan memahami Allah serta karya-Nya, makin besar wonder yang kita dapatkan. Maka, mari renungkan bagaimana kita bisa learning with wonder. Mungkin dengan tetap tekun belajar pada pelajaran yang tidak kita sukai, menciptakan lingkungan yang aman untuk bertanya, dan menjawab setiap pertanyaan dengan sabar.
Tuhan, tolonglah kami, komunitas sekolah Athalia, agar bisa learning with wonder. Amin.