Oleh: Benny Dewanto, Kepala Bagian PK3 Sekolah Athalia
Tujuan Keluarga Kristen
Gary Thomas, penulis buku-buku pernikahan, mengutarakan pandangan yang jarang dipikirkan oleh banyak orang, yaitu makna keluarga adalah tentang kekudusan, bukan semata kebahagiaan. Thomas berkata bahwa keluarga Kristen perlu memikirkan dan mengarahkan tujuan perjalanan bahteranya pada tujuan kekudusan. Bagi Thomas, makna kekudusan memiliki nilai keutamaan ketimbang kebahagiaan. Sekalipun pandangan ini tidak populer di telinga banyak pasangan, sebagai keluarga yang perlu memikirkan warisan iman bagi setiap anak-anak, pandangan ini penting untuk direnungi.
Mari kita ikuti pemikiran Gary Thomas yang mendorong bahwa setiap keluarga Kristen seharusnya mengutamakan kekudusan ketimbang “kebahagiaan saja”. Dimulai dari pendalaman 1Korintus 7:1 yang berkata: “Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin.” Kutipan ayat ini mendorong kita untuk mengetahui mengapa Paulus menyarankan laki-laki tidak kawin. Bukankah nasihat ini terkesan bertentangan dengan pemeo pria bahwa mereka adalah mahluk yang memiliki hasrat besar untuk kawin? Rupanya Paulus hendak menyampaikan pesan tentang hasrat yang terkelola melalui kekudusan, bukan hasrat liar percabulan. Bila tidak mampu hidup dalam konsep kudus, lebih baik tidak kawin atau tidak menikah. Di luar konsep kudus, perkawinan menjadi perjalanan hasrat yang nyaris sama dengan percabulan. Kekudusanlah yang membedakan perkawinan yang benar dan dengan yang tidak benar.
Dari sisi inilah Gary Thomas memberikan perenungan bahwa sasaran kekudusan menjadi hal yang penting dalam kehidupan keluarga Kristen. Kudus adalah berbeda. Kudus adalah kekhususan, tidak serupa dengan dunia, tetapi serupa dengan Kristus. Keluarga Kristen yang berpusat pada Kristus seharusnya menjadi keluarga yang mengutamakan pertumbuhan melalui nilai-nilai Kristus. Keluarga Kristen adalah pelaku penuh hasrat tentang nilai-nilai Kristus. Sedemikian besar hasrat tersebut sehingga sekalipun harus berhadapan dengan kesulitan, sasaran kekudusan tetap dikejar ketimbang sekadar merasa bahagia. Membangun keluarga yang berpusat pada Kristus adalah keluarga yang hidup setia di dalam kuk bersama Kristus dan itulah sasaran nilai kebahagiaannya!
Saya seorang ibu dengan tiga orang anak. Dua orang putri dan satu anak laki-laki. Ketiganya saya rawat dan besarkan seorang diri karena ayahnya bekerja jauh yang pulang beberapa kali dalam satu tahun. Meskipun sangat repot, ada rasa sukacita manakala melihat anak-anak bertumbuh dengan baik.
Dalam
mendidik anak, saya berusaha untuk tidak mendikte mereka. Untuk urusan yang
berhubungan dengan kegiatan mereka, saya selalu mendiskusikannya, bahkan sejak
mereka masih balita. Mereka boleh mengajukan pendapat meskipun saya yang
memutuskan. Saya akan menjelaskan alasannya jika ternyata keputusan berbeda
dengan pilihan mereka. Begitu pula bila mereka melakukan kesalahan, bukan saja
menegurnya, saya harus menerangkan alasan saya marah sampai mereka paham.
Anak-anak
juga tidak ada yang mengikuti les mata pelajaran. Saya mendampingi mereka saat
belajar di rumah. Namun, ketika mereka kelas tiga SD, saya mulai melepaskan
perlahan. Mereka sudah mulai belajar secara mandiri, dan saya hanya memantau.
Pada awalnya, nilai agak turun (memang tidak sampai di bawah KKM), tetapi itu
tidak apa-apa. Biar mereka belajar bagaimana harus berjuang untuk meraih
sesuatu sesuai yang diharapkan.
Hebatnya,
ternyata mereka memiliki standar untuk diri mereka sendiri, tanpa saya perlu memintanya.
Mereka begitu bersemangat, sementara saya hanya mengawal dan mendampingi,
sambil menggali dan mencari tahu potensi yang ada di dalam diri tiap anak. Ketika saya mulai melihat
talenta yang Tuhan karuniakan, saya berusaha untuk mendukung dan terus
mengembangkannya.
Tidak semua anak memiliki pola perkembangan yang sama. Anak pertama kami lebih membutuhkan perhatian khusus, tapi kami berhasil melewatinya. Saya percaya semua ini adalah campur tangan Tuhan. Roh Kudus yang memberikan kepada mereka hati yang bertanggung jawab, mandiri, dapat membedakan yang baik dan tidak, mana yang boleh dan tidak. Bahkan jika melakukan kesalahan, mereka terbuka mau bercerita kepada saya. Sebagai orang tua, kami tidak mengalami kesulitan dalam mendidik mereka. Sukacita itu selalu ada dalam perjalanan kami.
Berbeda
dengan kedua kakaknya (jaraknya cukup jauh), putra kami yang bungsu setiap hari
belajar bersama kelompoknya, tapi tetap di rumah masing-masing. Tentu saja
awalnya saya bingung karena saya kira dia cuma sedang mengobrol. Ternyata, dia
sedang berdiskusi secara online bersama tiga orang temannya. Di
situ saya merasa bangga karena
dia memanfaatkan teknologi dengan tujuan baik. Meskipun jika ada waktu, mereka
juga bermain game bersama.
Di sinilah saya belajar bahwa beda generasi, beda pula cara asuhnya. Semakin ke sini, mau tidak mau anak akan tumbuh berdampingan dengan teknologi. Karena itu, modal yang saya tanamkan kepada mereka adalah bahwa dalam menjalani hidup, mereka bertanggung jawab kepada Tuhan. Orang tua tidak selalu ada untuk mereka, tetapi ada Tuhan yang menjaga sekaligus mengamati. Saat ini, kedua putri kami sedang menempuh kuliah, dan saat tulisan ini ditulis, keduanya sudah di akhir semester.
Sementara putra bungsu kami duduk di kelas sepuluh. Walaupun ada sedikit riak-riak, segala sesuatu termasuk berjalan dengan lancar. Dalam perjalanan mendidik anak-anak, ada banyak tantangan, tetapi lebih banyak lagi sukacita yang saya rasakan. Kami juga merasakan penyertaan Tuhan dalam setiap langkah kami. Tuhan telah mempertemukan kami dengan orang-orang dan kondisi yang tepat, seperti salah satunya dengan sekolah dan pengajar Athalia. Dia selalu ada, serta menolong tepat di saat kami membutuhkan pertolongan.
Peribahasa “Tak Kenal, maka Tak Sayang” tampaknya tepat untuk menggambarkan perjalanan anak kami saat pertama kali masuk sekolah dasar. Awalnya, kami berharap ia akan menikmati suasana sekolah. Namun, harapan tersebut bertolak belakang dengan kenyataan. Setiap hari, ia menangis dan menolak masuk kelas. Terus terang, sebagai orang tua, kami berharap anak akan senang ketika berada di sekolah. Namun, harapan itu ternyata jauh dari kenyataan. Saya sempat kaget melihat anak saya menolak masuk kelas dan terus menangis.
Sementara itu, temannya dengan santai dan percaya diri melenggang masuk ke kelas. Anak saya terus menangis, berkata bahwa dia tidak mau sekolah dan mau pulang saja. Saya shock sampai menelepon istri dan berkata, “Apa perlu kita pindahkan sekolahnya?” Padahal, sewaktu mengikuti tes penerimaan siswa baru, anak kami mampu menjawab pertanyaan dengan baik. Dia juga terlihat senang dan mau sekolah di Athalia. Mungkin anak kami kaget melihat suasana sekolah yang ramai. Saat TK, memang lingkungannya lebih kecil dengan sedikit teman.
Saat pulang ke rumah, terus terang pikiran saya tidak tenang. Saya mengingat kembali ketika dia berusia 2,5 tahun. Dengan riang gembira, dia selalu mengikuti Sekolah Minggu. Begitu juga ketika dia masuk TK. Bahkan, dia kami ikutkan jemputan dan tidak pernah ada masalah sama sekali. Mungkin inilah yang terjadi, ekspektasi orang tua terhadap anak tidak sesuai kenyataan.
Setelah satu minggu mengantar-jemput anak selesai, kami melimpahkan tugas tersebut kepada mobil
jemputan. Kami pikir semuanya sudah berlalu. Namun, ternyata kami salah.
Menghadapi Tantangan Awal Sekolah dengan Kesabaran
Suatu pagi, terjadi kehebohan karena anak saya
menolak ikut mobil jemputan. Istri saya mengantarnya sampai ke dalam mobil, tetapi
anak kami berteriak-teriak tidak mau sekolah. Dia menangis dan memberontak,
ingin lompat ke luar mobil. Saya sampai tepok
jidat. Kenapa
lagi anak ini? Setelah
melakukan pembicaraan dengan anak dan sopir jemputan, akhirnya
dia mau berangkat sekolah.
Kami bersyukur bahwa fase tersebut akhirnya berakhir. Seiring berjalannya waktu, anak kami mulai menikmati sekolahnya. Dia bercerita teman-temannya ternyata sangat baik, sangat welcome. Meskipun teman-temannya sebagian besar merupakan siswa Athalia sejak TK, mereka mau mengajaknya bermain dan tidak pernah mengejeknya.
Bahkan, setelahnya, anak kami tidak pernah mau izin tidak masuk sekolah. Ketika dia sakit, dia tidak mau izin. Pernah suatu hari karena lupa dia makan ikan laut sehingga alerginya kumat, di badannya tampak bentol-bentol dan dia merasa kurang sehat. Namun, ketika disuruh pulang oleh wali kelas, dia tidak mau, saking cintanya dengan Sekolah Athalia dia memilih tetap belajar hingga selesai jam sekolah.
Dia bilang kepada mamanya, “Aku tidak mau ketinggalan pelajaran di sekolah.” Bahkan, ketika sedang demam pun di rumah tetap belajar agar bisa ikut ulangan. Kami terharu ketika melihat perjuangannya mengenal sekolah, lingkungan, teman, dan segala hal baru. Kami menyadari bahwa dengan dukungan dan sayang yang tulus, anak kami dapat melewati tantangan yang awalnya terasa berat.
Anak kami berhasil naik ke kelas 3 dengan mendapatkan piala hasil kumulatif dari piagam top score yang dia kumpulkan dari kelas 1 sampai kelas 2. Itu adalah momen terindah baginya dan suatu kejutan bagi kami. Bahkan, malam sebelum dia terima rapor, saya bilang, “Ahhh…sepertinya kamu tidak mungkin deh dapat banyak nilai bagus karena agak malas belajar kelas 3 ini. Kalo sampai kamu dapat nilai bagus yang banyak, akan papa belikan jam tangan yang tahan air deh…”
Sekali lagi, ekspetasiorang tua tidak sesuai kenyataan. Ternyata, anak kami malah membawa pulang piala. Saya pun harus memenuhi janji membelikan sebuah jam tangan yang tahan air agar bisa dipakai berenang. Ini adalah momen tepok jidat yang kedua.
Saat anak kami berada di kelas 3, dia mendapatkan rujuan dari RS untuk berobat dan menjalani serangkaian tes di RS Siloam Karawaci. Kami berangkat dari rumah jam 6 pagi karena jarak yang lumayan jauh. Dia berpesan untuk dibawakan seragam dan tas sekolah. Dia berharap proses tes tidak terlalu lama sehingga bisa lanjut pergi ke sekolah. Namun, ternyata proses tes berjalan lama sampai lewat jam makan siang sehingga hari itu dia tidak bisa masuk sekolah.
Puji Tuhan, akhirnya anak kami menemukan dunia yang indah di masa kecilnya untuk belajar banyak hal dan bermain. Kami sebagai orang tua mencoba mengajarkan kepada anak kami dengan memberikan keteladanan hidup, moral, dan iman untuk masa depannya. Dengan luar biasa, Sekolah Athalia membentuknya dengan cara mendidik karakternya untuk menjadi anak yang takut akan Tuhan dan berguna bagi bangsa dan negara, seperti moto sekolah ini “Right From The Start”, benar sejak awal. Kami percaya bahwa dengan kasih sayang, anak-anak dapat berkembang menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab, siap menghadapi masa depan dengan percaya diri.
Sekilas saya melihat tatapan wajah anak saya yang kosong, menatap ke luar jendela. Kepalanya tersandar dengan lesu. Setelah berbincang mengenai ini dan itu, akhirnya saya menemukan jawabannya. Ia merasa letih dengan jadwal belajar yang padat menjelang ujian nasional. Sebagai ibu yang mendampingi di rumah, saya pun merasakan hal itu. Iba sekaligus bangga melihat anak usia SD berjuang keras untuk meraih yang terbaik. Meski baru pulang sekolah, dia punya waktu belajar dan mengerjakan tugas-tugas. Luar biasa!
Saya dan suami melibatkan diri dalam mendukungnya agar tetap semangat. Kami bergandengan tangan untuk menjaga semangatnya sampai lulus UN dengan nilai yang sangat baik. Puji Tuhan. Namun, menjelang usianya yang sudah remaja, sebagai orang tua kami tak hanya ingin melihat anak berkembang secara kognitif alias punya pencapaian bagus dalam hal akademis. Kami butuh sekolah yang mendidik dan mendampingi anak-anak dengan nilai-nilai Kristiani sekaligus memberikan bekal untuk pengembangan karakternya.
Melibatkan Nilai-Nilai Karakter dalam Pendidikan Anak
Anak kami ini sangat peduli dengan orang lain dan paling tidak bisa melihat orang lain bersedih. Hal itu sudah ditunjukkannya sejak ia masih kecil. Bahkan, pada saat TK A, ia sendiri yang bercerita bahwa salah seorang temannya tidak dibawakan bekal. Berhubung bekalnya masih ada, ia memberikan beberapa keping biskuit ke temannya itu tanpa disuruh pengajar.
Namun, di lain sisi ia juga menjadi
anak yang tidak tegas. Tidak tegas untuk mengatakan “tidak” terhadap hal-hal
yang kurang baik. Contohnya, saat kelas TK A, ada salah seorang temannya yang
menggodanya, tetapi ia cuek. Justru temannya itu menjadi emosi dan
akhirnya hidungnya ditonjok hingga lebam dan berdarah. Bahkan, dampak dari kejadian itu
hidungnya mengalami trauma sehingga sering kali mimisan.
Peristiwa
itu menjadi pergumulan kami dan puncaknya ketika di kelas 4 dia mengalami perundungan dari
seorang temannya. Suatu hari, dia membawa bekal susu kotak. Lalu, temannya bilang bekalnya
sudah habis, tetapi masih lapar dan meminta susu kotak itu. Dengan senang hati
anak kami memberikannya.
Namun, rupanya tak berhenti di situ. Besok dan besoknya lagi setiap
jam sarapan atau makan siang, anak itu selalu meminta bekal anak kami. Suatu hari, anak kami menolak permintaan
temannya karena memang dia tidak membawa bekal lebih. Jawaban itu memicu
kemarahan temannya yang berakibat seisi tas sekolah anak kami ditumpahkan di
kelas.
Diperlakukan seperti itu, anak kami tetap bergeming. Dia tidak melawan. Salah seorang siswa yang melihat kejadian itu melapor kepada wali kelas dan pengajar. Akhirnya, orang tua anak tersebut dipanggil ke sekolah. Anak itu mendapatkan teguran serta skorsing.
Ketegasan dalam Menghadapi Perundungan
Mungkin maksud anak kami baik, tidak membalas keburukan dengan keburukan. Namun, kemudian kami melihat, ia menjadi anak yang kurang tegas untuk berkata “tidak” untuk hal-hal yang dirasa tidak baik. Ini menjadi satu kerinduan kami sebagai orang tua agar anak kami memiliki karakter yang makin baik dan makin mengenal Allah. Ketika akhirnya tebersit untuk mencari sekolah dengan muatan pendidikan karakter, kami memohon kepada Tuhan untuk campur tangan.
Kami
berpikir, tak mudah memindahkan seorang
anak remaja ke sekolah yang baru. Kami pun
tak jarang mendengarkan pertanyaan-pertanyaan dari orang tua
atau teman di sekolah sebelumnya.
“Ngapain pindah? Bukannya sekolah di sini
sudah bagus?”
“Yakin
pindah ke Athalia? Ngapain?”
Kami
berpikir, di mana pun tempat pasti akan ada pertanyaan, dan kadang
itu retoris.
Jadi, bersama Tuhan kami terus
memantapkan langkah untuk memindahkan anak kami ke Sekolah Athalia.
Fase adaptasi di tempat yang baru, teman-teman yang baru, pengajar dan lingkungan baru tentu bukan hal yang mudah untuk dilewati. Kami sempat khawatir, tetapi kami yakin Tuhan yang pilihkan, Ia pun akan memampukan.
Kami
perhatikan, perkembangan anak kami baik sekali. Satu
semester terlewati dengan baik. Dia
berhasil beradaptasi dalam hal akademis. Sikapnya di kelas juga sangat baik.
Bahkan, kami dibuat terharu ketika wali kelas bercerita bahwa anak kami
bersikap sangat sopan dan suka menolong teman-temannya.
Menuju
semester dua, lagi-lagi Tuhan buat kami mengucap syukur.
Meski anak baru, ia memperoleh piagam besar dan piagam kecil High Achievement untuk mata pelajaran PKN. Senyumnya merekah seakan berhasil menaklukkan tantangan yang berat. Hal itu menjadi pencapaian yang membanggakannya karena pada dasarnya dia tak menyukai pelajaran PKN. Namun, dia justru mencetak prestasi di mata pelajaran tersebut.
Kami pun menasihatinya,“Jika kita melibatkan Tuhan, maka Ia mampu membuat hal yang paling tidak kita sukai sekalipun, menjadi jalan keberhasilan, Nak…”
Melibatkan Tuhan dalam Setiap Langkah Anak Kami
Sejak
hari itu, dia paham bahwa suka atau tidak suka, semua harus dipelajari dengan
sungguh-sungguh. Meski demikian, anak kami masih terus berproses di Athalia,
hingga ke masa yang akan datang pun ia akan terus berproses. Setidaknya, ia menyelesaikan kelas 7 dengan baik dan dia memasuki kelas 8. Mengingat tujuan utama kami memindahkan sekolahnya, yaitu untuk
memberikan yang terbaik untuk pertumbuhan karakternya, tentu saja hal itu
menjadi fokus kami.
Satu tahun
pertama, hal yang paling mengharukan adalah dia sudah mulai mencuci piring dan
gelas yang ia gunakan setelah makan dan minum. Dia juga membantu
mamanya menjemur pakaian dan menyapu. Hal-hal sederhana yang sebelumnya tidak
pernah ia lakukan. Setahap demi setahap ini adalah wujud dari pertumbuhan
karakternya ke arah yang lebih baik.
Begitu juga
dengan sikapnya yang perlahan mulai lebih terbuka. Tadinya ia tidak pernah
cerita kalau tidak ditanya. Sekarang, dengan sendirinya, tiap pulang sekolah, dia akan aktif bercerita kepada kami
tanpa harus ditanya.
Selain
itu,
kini dia
punya banyak teman. Bahkan, sejak kelas 7, beberapa kali dia mengajak teman-temannya ke rumah untuk mengerjakan
tugas. Anak-anak pun sangat senang
mengerjakan tugas bersama. Jika ada kendala dalam membuat presentasi, papanya dengan senang hati
membantu anak-anak. Bahkan, dari kegiatan mengerjakan bersama PR itu, kami memiliki ide untuk membuka les pemrograman untuk anak-anak, sesuai skill yang kami dalami.
Itu semua adalah contoh-contoh kecil perubahan yang sangat berarti buat kami. Rupanya, pilihan di Athalia direstui oleh Tuhan. Kami yakin, Tuhan akan melibatkan tangan-Nya dalam perjalanan ini.
Terima kasih, Sekolah Athalia. Kiranya Tuhan memberkati anak-anak, pengajar, kepala sekolah, Ibu Charlotte, karyawan, orang tua, dan semua yang berada di dalam komunitas Athalia.
Seorang gadis muda datang kepada sahabatnya dengan hati yang penuh luka. Mulutnya tak mampu membendung umpatan atas segala kekesalannya. Ia bercerita mengenai opa dan omanya yang selama ini telah mengasuhnya sejak usia 3 tahun. Sebagai seorang gadis muda, ia bertumbuh di dalam lingkungan kaum muda yang memberikan banyak gaya hidup. Namun, seiring dengan hal tersebut, opa dan omanya tidak dapat mengerti seluruh perkembangan gaya hidup anak muda zaman sekarang. Tidak aneh bila tiap hari terjadi keributan besar—hanya karena perbedaan nilai hidup. Ditambah lagi ketidakhadiran orang tua kandungnya karena perceraian. Jadilah gadis ini kehilangan arah nilai hidup.
Nilai hidup adalah sebuah dasar sekaligus pengarah hidup seseorang. Seseorang dapat melihat sebuah nilai hidup sebagai sesuatu yang bernilai atau tidak, dilatari oleh banyak hal yang beragam. Artinya, nilai hidup dipengaruhi oleh suatu hal yang tertanam di dalam diri seseorang. Penanaman pemahaman tentang nilai hidup membutuhkan intensitas yang terukur dan memerlukan terang rohani agar konsep nilai itu menjadi yang benar di mata Tuhan. Penanaman tersebut harus dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga.
Hal ini dapat dilihat dalam Kejadian 7:1 “… Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.” Di antara manusia lainnya, yang akan musnah karena nilai hidup yang tidak benar (dosa), Nuh dan keluarganya dibenarkan dan diselamatkan Tuhan. Ketaatan Nuh telah membawa keluarganya juga ikut taat masuk ke dalam bahtera. Tanpa proses penyampaian nilai hidup agar taat kepada Tuhan, tidaklah mungkin bahtera tersebut dapat diisi segala macam binatang dan Nuh sekeluarga.
Kunci Menemukan Nilai Hidup yang Benar dalam Keluarga
Untuk dapat menemukan nilai hidup yang benar di hadapan Tuhan membutuhkan hikmat. Tanpa hikmat, nilai hidup akan menjadi nilai yang bias, tidak tetap, dan mudah beralih. Hikmat mengarahkan manusia melihat apa yang dikehendaki Tuhan. Kisah Para Rasul 16:19-34 menceritakan kepala penjara yang bertobat ketika melihat Paulus dan Silas diselamatkan Tuhan. Kepala penjara mendapat hikmat bahwa peristiwa yang terjadi kepada Paulus dan Silas merupakan bukti bahwa Tuhan itu ada. Melalui hikmat, dirinya mendapatkan nilai hidup tentang injil. Nilai hidup itu dibawanya kepada seisi rumahnya, dan mereka merayakan sukacita keselamatan.
Mari kita hidup dengan aliran hikmat, hari demi hari. Karena dunia tidak akan pernah berhenti menawarkan nilai-nilai hidup yang menarik. Tugas kita sebagai orang percaya adalah mula-mula menggembalakan seluruh isi rumah untuk hidup dalam nilai hidup keselamatan. Jangan biarkan kita kering akan hikmat agar dapat melihat nilai hidup yang benar.
Yakobus 1:5 mengatakan, “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah …”. Kehadiran hikmat Allah akan menolong keluarga kita berjalan dengan penuh bijaksana. Melangkahlah bersama keluarga kita dengan hikmat Allah. Tuhan menolong kita semua.
Beberapa bulan terakhir, dunia mengalami perubahan besar akibat pandemi. Segala lini kehidupan dipaksa untuk beradaptasi, termasuk dunia pendidikan. Proses belajar mengajar tidak lagi dilakukan di sekolah, melainkan dari rumah. Siswa harus mengikuti kelas daring tanpa bisa bertemu langsung dengan teman atau pengajar. Itulah yang dialami para siswa Sekolah Athalia. Mereka memulai tahun ajaran baru melalui layar komputer, bukan di ruang kelas. Pertanyaannya, apakah kondisi ini menjadi masalah serius bagi anak-anak zaman sekarang?
Dunia Digital yang Menjadi Rumah Kedua
Tanpa kita sadari, banyak masalah yang muncul di dalam diri para remaja yang berhubungan dengan platform daring. Namun kini, sudah empat bulan lebih mereka melakukan pembelajaran secara daring—mengumpulkan tugas, melaksanakan ujian sekolah, proyek mata pelajaran, bahkan sesi kelas tatap muka pun harus dilakukan dengan platform daring.
Pertanyaannya, apakah benar mereka sedang beradaptasi dengan metode daring atau sebenarnya sudah menjadi “warga” dunia daring dan teknologi digital? Tidak bisa dipungkiri, anak-anak remaja saat ini adalah generasi digital. Menurut Hanlie Muliani dalam webinar berjudul “Memahami 7 Karakteristik Gen Z dan Parenting Style untuk Gen Z” yang dilaksanakan pada 4-5 Mei 2020, para remaja ini disebut sebagai generasi local residents di zaman kemajuan teknologi sehingga berhasil menciptakan sebuah era baru dalam dunia sosial. Mereka bisa berteman dengan siapa saja dari seluruh dunia hanya dalam sekali klik di komputer atau gadget mereka.
Fenomena sosial di kalangan generasi Z menunjukkan bahwa meskipun tidak bisa bertemu langsung, mereka tetap bisa akrab melalui media sosial. Platform seperti Instagram, Twitter, dan Facebook menjadi ruang komunikasi, ekspresi, dan solidaritas. Media sosial memungkinkan remaja menjalin hubungan dan mempertahankan interaksi secara intens. Bahkan, para remaja kini lebih menguasai media sosial dibandingkan orang tua mereka. Jadi, di awal Tahun Pelajaran 2020-2021 ini, apakah menjadi sebuah masalah bagi para remaja saat mereka tidak bisa bertemu teman?
Kebanyakan dari mereka mungkin sedang mengeluh betapa bosannya di rumah dan merindukan untuk bisa kembali bertemu teman-teman di sekolah. Menurut penelitian Barna (2019), kebanyakan dari para remaja ini memang sudah merasa saling terhubung, tetapi perasaan dicintai dan didukung oleh orang lain tidaklah sebesar itu. Itulah mengapa hari-hari ini mereka sangat mudah untuk memiliki teman, tetapi tidak dapat membangun rasa saling mengasihi satu sama lain dengan maksimal karena mereka kesulitan bertemu secara tatap muka.
Peran Orang Tua dalam Mendampingi Generasi Z
Menyikapi fenomena ini, orang tua diharapkan bisa membangun hubungan atau relasi yang hangat dengan anak-anak supaya mereka tetap merasakan dukungan dan punya teman untuk bicara di masa-masa PJJ. Harapannya, lewat hubungan yang dibangun dengan anak-anak, orang tua bisa membimbing para remaja menggunakan media sosial dengan lebih bijak. Kiranya interaksi-interaksi di media sosial atau post yang di-upload boleh menjadi berkat bagi yang melihat dan menyaksikannya.
Biarlah setiap orang tua di awal tahun ajaran ini semakin dimampukan Tuhan untuk membimbing anak remaja mereka tetap berjalan dalam kebenaran Tuhan di masa-masa pembelajaran online ini.
Referensi: Barna Group. 2019. The Connected Generation: How Christian Leaders Around the World Can Strengthen Faith and Well-Being Among 18-35-Year-Olds. California: Barna Group.
Mendidik dan membesarkan anak merupakan tanggung jawab besar yang dipercayakan Tuhan kepada orang tua. Dalam konteks parenting, peran ini bukan sekadar kewajiban, tetapi panggilan hidup yang harus dijalankan dengan komitmen. Namun, realitas zaman sekarang menunjukkan bahwa banyak ibu turut mengambil peran sebagai pencari nafkah untuk membantu keuangan keluarga. Kondisi ini memunculkan isu baru: kalau begitu, siapakah yang akan mengasuh anak ketika kedua orang tuanya bekerja di luar rumah?
Para orang tua bekerja ini tentu membutuhkan bantuan pihak ketiga untuk menjaga anak mereka. Berbagai pilihan bisa diambil, mulai dari mempekerjakan suster atau asisten rumah tangga, menitipkan ke daycare, atau menitipkan ke keluarga. Yang terakhir ini pada umumnya pihak-pihak yang dianggap dekat dengan keluarga inti, misalnya tante, om, atau kakek dan nenek.
Opsi Parenting untuk Anak
Menitipkan anak kepada kakek dan nenek menjadi opsi paling menarik bagi orang tua yang bekerja. Dari sudut pandang parenting, hal ini dianggap lebih aman karena tetap berada dalam lingkup keluarga inti. Selain itu, mereka dianggap telah berpengalaman mengurus anak. Namun, ada hal yang harus diingat. Ketika orang tua menitipkan anak kepada kakek dan nenek, mereka harus memahami bahwa akan ada nilai-nilai yang berbeda dan hal tersebut bisa saja memunculkan kebingungan pada anak.
Mari kita ambil contoh. Misalnya, peraturan mengenai jam tidur siang. Bagi orang tua, anak wajib tidur siang agar tubuhnya lebih fit di sore hari dan bisa melakukan aktivitas lainnya dengan lebih bersemangat. Sementara itu, kakek dan nenek tidak tega untuk meminta cucu mereka tidur siang ketika masih asyik bermain.
Dampak Inkonsistensi Pola Asuh terhadap Emosi Anak
Adanya nilai yang berbeda ini akan menimbulkan perbedaan gaya parenting. Terjadilah inkonsistensi. Pihak A berkata 1, pihak B berkata 2. Anak pun akan mulai kebingungan. Jika kondisi ini tidak segera ditangani, akan memengaruhi pertumbuhan emosionalnya yang mengarah kepada rasa frustrasi. Lalu, apa dampak dari kebingungan yang dialami anak ini?
1. Emosi anak menjadi tidak stabil.
Dia akan merasakan banyak kemarahan karena melihat bahwa lingkungannya “tidak nyaman”. Anak usia dini, khususnya, sangat memerlukan kenyamanan. Dengan melakukan aktivitasnya secara konsisten dan teratur, anak lebih mudah menerima kondisinya dan menyadari ekspektasi-ekspektasi yang diberikan kepadanya. Ketika anak berada di lingkungan yang membuatnya dapat memprediksikan kondisinya, dia akan memiliki perilaku yang positif.
2. Tidak bonding dengan orang tua.
Ketika anak melihat bahwa kakek dan neneknya secara konsisten membelanya (selalu berseberangan dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan oleh orang tuanya), anak akan melihat bahwa orang tuanya adalah pihak yang “jahat”, yang membuat mereka kesulitan untuk dekat dengan orang tuanya.
3. Merasa bersalah akan konflik yang terjadi.
Ketika ada perbedaan nilai, ada beberapa orang tua yang akhirnya mengonfrontasi kakek dan nenek. Hal ini berujung pada pertengkaran. Jika anak menyaksikan ini, akan muncul perasaan bersalah di dalam dirinya karena menjadi penyebab orang tuanya tidak akur dengan kakek dan neneknya.
4. Sulit mengenal diri dan identitas dirinya lemah.
Ketika anak berhasil mendapatkan nilai 6 di mata pelajaran yang tidak dikuasainya, dia mendapatkan pujian dari orang tuanya karena sudah bekerja keras untuk mendapatkan nilai cukup. Sementara itu, bagi kakek dan nenek, nilai itu masih jauh dari cukup. Dia didorong untuk mendapatkan nilai lebih. Pengalaman ini yang terjadi di sepanjang hidupnya akan membuatnya kesulitan mengambil sikap.
5. Mengalami kecemasan dan sulit mengatasi masalah di masa dewasa.
Anak dengan pola asuh ganda akan kesulitan memutuskan sesuatu yang baik baginya. Selama hidupnya, dia melihat ada dua nilai berbeda. Ketika dia berada di kondisi harus mengatasi masalahnya sendiri, dia akan cemas karena ragu bahwa dirinya bisa mengambil keputusan yang tepat.
6. Munculnya agresi dan kekerasan.
Dalam kasus-kasus ekstrem, beberapa anak yang mengalami pola asuh yang tidak konsisten dapat membuatnya menjadi kriminal di masa depan. Tindakan kekerasan dilakukan karena dia tidak pernah merasa nyaman dengan lingkungan dan dirinya.
Solusi Parenting: Menetapkan Batasan dan Membangun Komunikasi
Jika saat ini Anda sedang mengalami masalah serupa, segera ambil tindakan dengan memberikan batasan-batasan. Perjelas bahwa aturan dan nilai-nilai Andalah yang harus diajarkan kepada anak.
Untuk memperdalam pemahaman tentang inkonsistensi dalam parenting, Anda dapat menyaksikan program Athalia on Parenting edisi 18 Juli 2020. Episode ini bertajuk “Pihak Ketiga Tidak Tega: Bisakah Kita Menyela?” dan membahas secara komprehensif tentang peran pihak ketiga dalam pengasuhan anak.
Orang tua menjadi lingkaran terkecil dalam kehidupan anak yang paling memberikan dampak dalam pembentukan karakter dan perilakunya di kemudian hari. Oleh karena itu, usia-usia krusial, yaitu 0–5 tahun menjadi begitu penting dan dapat digunakan orang tua untuk mengajari anak berbagai keterampilan hidup.
Saat di rumah bersama anak seperti sekarang ini dapat dijadikan momentum untuk memberikan sebanyak mungkin ajaran tentang kehidupan. Khususnya untuk anak usia dini, orang tua dapat memanfaatkan masa-masa ini untuk memberikan teladan dan mengajari anak tentang kebaikan dan keburukan.
Mungkin Anda sering tidak sabar dengan polah anak yang sering menumpahkan air minum, membuat rumah berantakan, sulit diatur dan diberitahu, mengajak saudaranya berkelahi, dan lain sebagainya. Kondisi-kondisi tersebut memang menguras emosi dan tenaga, apalagi jika Anda tak memiliki asisten rumah tangga di rumah. Namun, ayolah, kita renungkan kembali: apa yang bisa kita petik dari momen tersebut? Jangan biarkan momen tersebut berlalu begitu saja dan berakhir dengan Anda memarahi anak tanpa memberikannya pelajaran berharga. Apa yang harus anak lakukan saat menumpahkan air minumnya dan membuat rumah berantakan? Konsekuensi apa yang harus dihadapi anak saat tidak taat kepada orang tua dan mengusili saudaranya?
Cara Mengenali dan Memanfaatkan Golden Moment Anak
Ubah “momen melelahkan” tersebut menjadi “golden moment”. Jadikan momen tersebut gerbang masuk untuk Anda mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Daripada fokus dengan kejengkelan karena anak menumpahkan minumannya berkali-kali, Anda dapat menjadikan momen ini sebagai pembelajaran bagi anak untuk belajar tanggung jawab. Ajak anak untuk bersihkan tumpahan air minumnya. Ajari anak untuk menjadi pribadi yang lebih hati-hati. Rengkuh momen ini secepat mungkin.
Begitu juga ketika anak terus-menerus membantah dan tak mau mendengarkan orang tua. Apa yang harus anak pelajari tentang ketaatan? Ketika anak mengganggu saudaranya, apa yang dapat dia pelajari tentang mengasihi dan menghormati saudaranya? Orang tua memang memikul tugas besar untuk membentuk karakter anak dan dari momen-momen seperti inilah (hal yang terjadi secara nyata) Anda bisa mengajarkan tentang karakter.
Anak-anak usia dini adalah pembelajar ulung, tetapi mereka juga jiwa-jiwa yang sangat membutuhkan bimbingan langkah per langkah. Syukuri segala hal yang terjadi di rumah dan berikan respons yang dapat “membangun” karakter anak sekaligus mempererat relasi antaranggota keluarga. [DLN]
Tiga bulan sudah anak-anak belajar di rumah, berinteraksi dengan pengajar mereka secara virtual. Orang tua menjadi pihak yang paling berperan dalam pembelajaran sekolah anak belakangan ini. Dengan bimbingan dan panduan orang tua, anak dapat melanjutkan proses belajar dengan berbagai materi yang tersedia di rumah.
Namun, banyak yang mengakui bahwa menemani anak belajar di rumah menjadi tantangan tersendiri, khususnya anak usia TK dan SD yang membutuhkan pendampingan penuh. Lantas, adakah trik khusus dalam mendampingi anak belajar tanpa hambatan berarti?
Tips & Trik Mendampingi Anak Belajar
1. Pahami kondisi saat ini
Untuk dapat memahami sesuatu, Anda harus menerimanya secara sadar. Saat ini, kondisi memang sedang tidak ideal untuk siapa pun: untuk Anda yang harus mendampingi anak belajar di sela-sela kesibukan bekerja dan mengurus rumah tangga, untuk anak yang tak dapat bertatap muka dengan pengajarnya, juga untuk para pengajar yang harus menyiapkan materi belajar di rumah.
Anda tak perlu meminta anak untuk menjadi ideal. Maklumilah jika anak belum memahami materi walau Anda sudah mengulangnya, pahami jika anak meminta istirahat sebentar setelah mengerjakan beberapa soal.
Ketika Anda menyadari kondisi dan kemampuan anak, Anda akan menjalani hari-hari dengan lebih santai.
2. Ciptakan suasana nyaman saat mendampingi anak belajar
Suasana apa yang membuat anak merasa nyaman melakukan sesuatu? Tentu saja suasana santai, “cair”, dan penuh sukacita! Bagaimana Anda dapat berharap anak mampu mengikuti instruksi dan belajar sesuatu jika dia berada di dalam suasana yang tidak menyenangkan, menegangkan, dan terus-menerus diomeli? Justru situasi ini rentan membuat anak stres dan enggan belajar lagi di kemudian hari.
Ciptakan suasana nyaman agar anak “ketagihan” belajar bersama Anda dan menunggu-nunggu momen belajar tiap harinya.
3. Suasana positif
Banyak orang tua yang berfokus pada progres yang besar dan tak menganggap progres kecil. Seberapa pun kecilnya, progres tetaplah sebuah kemajuan. Jangan lupa untuk terus memuji anak ketika dia berhasil menyelesaikan satu atau dua soal atau berhasil menghafal rumus. Berikan semangat dan afirmasi positif agar semangatnya terjaga terus sampai sesi belajar berakhir.
Hindari memaksa anak untuk belajar terus-menerus. Ketika suasana sudah mulai terasa negatif, Anda dapat menghentikan sesi belajar sejenak dan menggantinya dengan melakukan hal-hal menyenangkan untuk mengembalikan mood Anda dan anak. Anda bisa mengajak anak untuk belajar kembali ketika suasana sudah kembali positif.
4. Atur waktu fleksibel untuk mendampingi anak belajar
Tidak apa-apa jika anak belajar tidak sesuai jadwal sekolah. Untuk anak yang lebih kecil, orang tua harus pintar menangkap momen. Ajak anak beraktivitas saat mood-nya sedang baik dan dia sedang bersemangat untuk melakukan aktivitas sekolah. Jadi, tidak masalah jika anak memang belum mau diajak “sekolah” pada pagi hari. Anda dapat mencobanya saat siang atau sore hari.
Hindari mengajak anak belajar saat sedang lapar, mengantuk, atau saat suasana hatinya sedang tidak baik. Ini justru akan semakin membuat anak rewel, marah, dan Anda pun akan ikut-ikutan frustrasi.
Sementara itu, untuk anak yang lebih besar, tidak ada salahnya Anda memberikan keleluasaan untuk anak memilih waktu belajarnya sendiri. Tentu saja Anda tetap harus memberikan batasan waktu kepada anak agar tidak belajar hingga larut malam. Tugas Anda adalah mengawasi aktivitas belajar anak dan mengajarinya bijak dalam mengatur waktu.
5. Penuhi “tangki emosi” Anda sebelum mendampingi anak belajar
Sebagai pendamping anak, Anda pun harus memastikan suasana hati sedang baik saat menemani anak belajar. Jika mood Anda sedang tidak baik, emosi Anda akan lebih mudah terpancing. Jika sudah begini, suasana belajar pun akan tidak menyenangkan. Output yang diharapkan pun tak tercapai.
Persiapkan diri sebelum menemani anak belajar. Pilih waktu-waktu tenang agar kedua belah pihak menjalani sesi ini dengan suasana hati dan semangat yang sama.
6. Tetap terapkan disiplin
Walau anak belajar di rumah, bukan berarti dia bisa melakukan banyak hal sekehendaknya. Anda tetap harus memberikan batasan-batasan. Misalnya, anak tetap harus bangun pagi—untuk membiasakannya ketika nanti kembali masuk sekolah, sarapan sesuai jamnya, dan lain sebagainya. Anda bisa memberikan jadwal, misalnya memberikan rentang waktu untuk anak belajar (yang dapat dia pilih sendiri), misalnya, pukul 10–12, 14–16, 20–22, atau waktu-waktu lain untuk anak yang usianya lebih kecil.
Momen mendampingi anak belajar di rumah menjadi momen langka yang belum tentu terulang lagi ke depannya. Jadi, berikan kenangan baik untuk anak mengingat bahwa ada masanya orang tua mereka menjadi pengajar yang asyik selama mereka belajar di rumah. [DLN]
Pandemi Covid-19 membuat banyak keluarga harus di rumah saja. Orang tua bekerja di rumah, sedangkan anak belajar di rumah. Situasi ini tentu tidak mudah, baik bagi orang tua maupun anak. Sebagian anak mungkin mulai merasa jenuh karena kehilangan momen bersosialisasi, bermain bersama teman, atau sekadar beraktivitas di luar ruangan.
Di tengah kondisi ini, muncul pertanyaan penting: kira-kira, apa yang bisa dilakukan orang tua untuk membuat anak selalu bersemangat menjalani hari-hari setelah belajar di rumah?
Di hari-hari biasa, interaksi antara orang tua dan anak seringkali terbatas. Sarapan pagi mungkin menjadi satu-satunya waktu bercengkerama sebelum semua berpencar menjalani rutinitas masing-masing. Ketika malam tiba, tubuh sudah lelah dan hanya ingin beristirahat. Rutinitas semacam ini, meski wajar, membuat ruang untuk menjalin kedekatan jadi sangat sempit.
Namun, pandemi memberi kita waktu. Waktu yang bisa dimaknai sebagai peluang untuk mempererat hubungan antaranggota keluarga. Setelah menyelesaikan tugas dan pekerjaan, sisa hari bisa diisi dengan aktivitas yang menyenangkan dan bermakna—seperti mengobrol, bercerita, atau sekadar tertawa bersama. Ini adalah bentuk quality time.
Beberapa orang tua mengaku bingung cara memulai interaksi dengan anak. Media apa yang bisa digunakan sebagai ice breaker? “Masa hanya duduk bareng di ruang TV dan meminta anak bercerita tentang kesehariannya?”
Tentu Anda perlu kreatif! Pikirkan media yang bisa digunakan untuk seru-seruan dengan anak. Salah satu caranya, yaitu dengan bermain! Yes! Pilih permainan yang memungkinkan anak dan orang tua menjalin relasi lebih dekat. Salah satunya melalui permainan ular tangga.
Ular Tangga Bercerita: Permainan Sederhana, Makna Mendalam
Ada yang menarik dari permainan yang satu ini. Permainan ini berisi angka-angka sehingga kita bisa memodifikasi ketentuan bermain. Mari coba bermain ular tangga bercerita! Setiap pemain mengocok dadu, menjalankan pion, dan menganggap angka-angka yang dilaluinya sebagai hitungan usia. Misalnya, jika pion pemain berhenti di angka 17, pemain harus menceritakan pengalaman mengesankan saat berumur 17 tahun. Saat pion anak menyentuh angka 40, anak bisa menceritakan “bayangannya” saat ia nanti berusia 40 tahun. Saat pion bertemu dengan ular dan harus turun ke bawah, orang tua maupun anak bisa bercerita tentang kegagalannya. Lalu, saat pion anak merangkak naik karena melalui tangga, anak juga diminta menyebutkan karakter apa saja yang harusnya dimiliki untuk mencapai kesuksesan.
Orang tua bisa menggunakan media permainan ular tangga untuk berkisah, mendengarkan cerita anak, sampai menanamkan karakter. Permainan ini sederhana, mudah, dan tidak memerlukan biaya besar. Orang tua dan anak bisa belajar bersama lewat kisah-kisah yang dibagikan atau “menikmati” satu kisah untuk dibahas lebih dalam untuk diambil hikmahnya. Bukankah ini media terbaik untuk menjalin relasi?
Apakah Anda punya ide permainan lain yang sama serunya? [SO]