Bijak Menggunakan Media Sosial

Oleh: Ni Putu Dewi, staf Pengembangan Karakter Sekolah Athalia.

Metamorphosis Camp (MetCamp) merupakan kegiatan tahunan SMP Athalia yang diperuntukkan bagi seluruh siswa kelas VII. Kegiatan ini bertujuan sebagai jembatan pembelajaran karakter bagi siswa yang baru lulus dari jenjang SD dan masuk ke SMP. Pada tahun pelajaran ini, profil karakter siswa SD Athalia adalah Tanggung Jawab, sedangkan profil karakter siswa SMP adalah Caring and Sharing.

Sesuai dengan namanya, “metamorphosis” berarti perubahan. Kami berharap, para siswa semakin menyadari bahwa mereka akan mengalami beberapa perubahan di usia remaja—tidak hanya secara fisik, tetapi juga dalam hal tanggung jawab. Kini, tanggung jawabnya bukan hanya memikirkan kebutuhan diri sendiri, melainkan juga kebutuhan orang lain, yang merupakan wujud nyata dari caring & sharing.

Generasi Z dan Tantangan Digital

Para siswa SMP Athalia tahun ini termasuk dalam Generasi Z (Gen Z), sehingga kehidupan mereka sangat dekat dengan gadget dan media sosial. Kondisi pandemi Covid-19 juga membuat keseharian mereka terus terkoneksi dengan internet. Hal inilah yang mendasari bahasan salah satu sesi berjudul “Tanggung Jawab Remaja dalam Penggunaan Media Sosial dan Internet”.

Sesi ini dibawakan oleh Pak Christian Naa dengan sangat interaktif. Dibuka dengan pertanyaan, “Apa kata firman Tuhan mengenai media sosial dan teknologi? Apakah ada hukum Taurat yang secara rinci mengatakan tentang penggunaan handphone dan Instagram?” Jawabannya: tidak ada! Namun, bukan berarti Alkitab tidak memberikan prinsip tentang cara hidup yang benar di zaman ini.

Di dalam 1 Korintus 10: 23-24 & 31, Paulus memaparkan secara jelas tentang prinsip hidup yang tidak akan tergerus oleh zaman.

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna.

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.

Jangan seorang pun yang mencari keuntungan sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain. …

Aku menjawab: jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.

Artinya, kita sebagai orang yang telah ditebus oleh Kristus di atas kayu salib diperbolehkan melakukan “segala sesuatu”.

Pak Christian menekankan bahwa sebelum melakukan sesuatu, kita perlu mengajukan empat pertanyaan penting:

1. Apakah “sesuatu” itu berguna?
2. Apakah “sesuatu” itu membangun orang lain?
3. Apakah “sesuatu” itu untuk keuntungan/kepentingan orang lain, bukan hanya tentang diri saya?
4. Apakah “sesuatu” itu untuk kemuliaan nama Tuhan?

Empat pertanyaan ini menjadi landasan dalam menilai tindakan, termasuk saat menggunakan media sosial. Untuk mempermudah para siswa memahami sesi ini, Pak Christian Naa memberikan sebuah ilustrasi. Misalnya, saat kita liburan ke Swiss dan melihat gunung yang besar di sana. Kita memfoto dan mengunggahnya di Instagram dengan captionHow Great Thou Art”. Pertanyaannya: apakah motivasinya untuk menyombongkan diri, atau untuk menunjukkan kehebatan Allah sebagai Pencipta?

Tidak hanya soal motif, media sosial juga memberi banyak pengaruh lain dalam kehidupan. Contohnya, beberapa orang yang terlalu fokus di media sosial jadi tidak memperhatikan relasi dengan orang lain di dunia nyata, keinginan untuk menunjukkan hanya sisi baik dan keren di media sosial, menyebarkan berita bohong, bahkan menjadi pelaku cyber bullying. Lalu bagaimana cara agar kita bijak dalam menggunakan media sosial?

Baca Juga : Cara Efektif Menetapkan Batasan untuk Anak Remaja

Tips Bijak Menggunakan Media Sosial

Berikut adalah beberapa tips bijak menggunakan media sosial dari sesi ini.

  1. Bagikan hal baik yang kita lihat dan dengar.
  2. Hindari memberikan like atau comment pada konten yang bersifat negatif. Ingat bahwa algoritma media sosial bekerja berdasarkan aktivitas pengguna. Media sosial tetaplah aplikasi yang tidak bisa membedakan antara baik dan buruk, sehingga frekuensi kemunculan konten-konten tergantung pada postingan yang sering kita beri perhatian melalui like dan comment.
  3. Selalu periksa kebenaran suatu informasi dari beberapa sumber terpercaya sebelum membagikannya di media sosial.
  4. Berhati-hatilah dalam melakukan obrolan melalui Direct Message dengan
    orang yang tidak dikenal.

Sesi ini juga menekankan bahwa apa yang kita bagikan di media sosial menunjukkan siapa diri kita, sehingga perlu berhikmat dalam mengunggah sesuatu di media sosial. Sebelum sesi berakhir, Pak Christian Naa juga mengajak para siswa kelas VII untuk melakukan social media check up dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut secara pribadi.

  1. Apa yang ingin saya tunjukkan melalui media sosial?
  2. Apakah saya menampilkan sosok pribadi yang sama, baik di media sosial maupun dunia nyata?
  3. Siapa saja yang saya follow sehingga memengaruhi cara pikir dan perilaku saya?

Sesi ini memberikan wawasan mendalam mengenai tanggung jawab remaja dalam dunia media sosial dan internet. Setelah mengikuti sesi ini, siswa kelas VII SMP Athalia diharapkan dapat semakin bijak dalam memilih, membagikan, dan merespons konten digital.

Menjadi Teman Perjalanan Anak Bertumbuh

Keluarga kami terdiri dari enam orang, yaitu kami sebagai orang tua dengan empat anak. Awalnya, kami hanya berpikir untuk mempunyai dua orang anak laki-laki dengan selisih umur satu tahun. Namun, kenyataan berbeda. Saat anak pertama baru berusia enam bulan, saya kembali hamil. Selisih umur yang dekat ini membuat kami tercengang. Bila anak pertama kami sambut dengan bahagia dan antusias, anak kedua ini kami sambut dengan sukacita bercampur kaget.

Saat tiba harus memilih sekolah, kami punya beberapa pertimbangan. Pertimbangan yang paling mendasar adalah sekolah tersebut harus dekat dengan rumah, berbahasa pengantar bahasa Inggris, dan menerapkan batas usia yang tidak terlalu ketat. Sepertinya waktu itu sedang populer pemikiran kalau anak bisa lancar berbahasa Inggris, sehari-hari bicaranya menggunakan bahasa Inggris, kelihatannya hebat sekali. Sebuah pemikiran yang kemudian kami sadari kurang bijak dan tidak selalu membantu anak bertumbuh dengan sehat.

Kami menyekolahkan anak pertama saat berusia dua tahun. Saat itu, kami memilih sekolah dekat rumah, dengan saya melakukan pendampingan secara langsung selama di kelas. Tak lama, kami mendengar ada sekolah baru di Serpong yang menawarkan biaya lebih terjangkau dengan nilai pendidikan serupa. Seperti orang tua yang lain, kami pun langsung memindahkan anak ke sekolah tersebut. Perpindahan ini membuat pilihan sekolah untuk adiknya pun ikut menyesuaikan lokasi agar dekat dengan sekolah anak pertama.

Sekolah untuk si adik adalah sekolah kecil yang menerapkan sistem montessori dan berbahasa pengantar Inggris. Beberapa nilai yang menjadi pertimbangan menyekolahkan anak-anak kami tersebut ternyata menimbulkan “kecelakaan besar” dalam proses anak kedua kami bertumbuh. Dia sering tidak mau sekolah karena tidak menikmati lingkungannya. Sikap tersebut dipandang tidak apa-apa karena sepertinya sekolah juga mengikuti kemauan anak (anak-anak tidak boleh dipaksa).

Perbedaan yang Menimbulkan Tantangan Akademik

Ketika anak pertama kembali ke sekolah semula, anak kedua ikut kami pindahkan. Kami merasa keputusan ini sudah tepat karena sekolah dekat rumah, plus ini merupakan sekolah favorit. Proses belajar anak pertama berjalan dengan lancar karena memang sebelumnya sudah pernah diajarkan membaca dan menulis. Jadi saat kembali ke sekolah pertama, ia tidak mengalami hambatan belajar.

Masalah justru muncul pada anak kedua. Ia tidak diajarkan baca tulis di TK B, tapi saat masuk SD sudah dituntut mampu. Perbedaan pendekatan ini sangat memengaruhi cara anak bertumbuh dalam fase belajarnya. Kami tidak menyadari perbedaan ini, sebab pengalaman anak pertama sangat lancar. Selain itu, komunikasi antara pihak pengajar dengan orang tua sangat kurang, khususnya mengenai ketidakmampuan anak ini, juga menjadi isu yang cukup panjang sampai kami berkali-kali dipanggil oleh sekolah. Walau begitu, kami tidak pernah menemukan akar masalah dan solusinya. Kesan yang kami terima justru sekolah menganggap anak kami malas mengikuti pelajaran.

Sesungguhnya, kami berharap sekolah bisa bekerja sama dengan orang tua untuk menemukan akar masalah anak kami. Kami berpikir bimbingan konseling bisa membantu. Namun, saat bertemu konselor sekolah, beliau menyarankan anak kami untuk pindah sekolah karena dianggap tidak cocok bersekolah di sana. Kami tidak langsung percaya dengan saran itu. Kami tetap meyakini kalau anak kedua kami bisa terus bersekolah di sana.

Karena merasa tidak terbantu dengan saran sekolah, kami membawa anak kami untuk konseling ke konselor Kristen. Saat konseling berjalan, kami menyadari bahwa menyatukan dua pribadi dengan latar belakang berbeda adalah tantangan tersendiri. Namun, kami sungguh bersyukur Tuhan bekerja melalui masalah anak kedua ini sehingga saat menjalani konseling, kami juga memulai masa pendewasaan dan pemulihan. Kami terus dibangun untuk memahami, menerima, dan menyeimbangkan perbedaan yang ada di dalam rencana Allah bagi keluarga kami.

Konseling Keluarga

Melalui konseling ini, diketahui bahwa anak kami mengalami keterlambatan motorik di dalam menulis yang tidak ditangani sejak dia masuk SD 1. Ini menjadi isu yang pelik ketika baru ditangani di SD 3. Proses yang kami lewati sungguh panjang. Kami terus menghadapi panggilan demi panggilan dari sekolah dengan keluhan yang hampir sama: anak kami malas menulis. Padahal, semua ujian diberikan secara tertulis yang berarti bila tidak dikerjakan, dia gagal ujian. Anak kami selalu menghitung angka kecukupan untuk dia bisa naik secara pas-pasan sehingga tidak perlu mengeluarkan usaha maksimal untuk naik kelas. Puji Tuhan dengan berbagai kesulitan yang ada, setiap tahun dia tetap naik kelas dengan nilai secukupnya. Semua pengajar di setiap jenjang selalu berkomentar anak ini pintar, tetapi tidak mau berusaha maksimal.

Saat dia duduk di SD 5, kami diberi Tuhan anugerah tambahan, yaitu kehamilan anak ketiga. Tentu saja kehadiran anak ketiga ini sangat mengubah ritme hidup kami. Hal ini juga mengubah banyak hal dalam diri kedua anak kami. Anak pertama, karena memang posisinya sebagai anak sulung, semakin mandiri apalagi memang sudah memasuki jenjang SMP. Namun, kondisinya berbeda bagi anak kedua kami, yang sebelumnya sempat menjadi anak bungsu dalam waktu lama. Dia yang tadinya masih sangat manja, tiba-tiba harus menjadi kakak dan menjadi lebih bertanggung jawab atas dirinya sendiri, tidak bisa mengandalkan mamanya terus-menerus.

Kehadiran anak ketiga juga mengubah kondisi ekonomi keluarga sehingga kami perlu menyesuaikan berbagai hal mengingat penambahan kebutuhan dengan kehadiran anak ketiga. Hal ini sangat memengaruhi ritme hidup anak kedua karena segala fasilitas yang tadinya bisa diberikan kepadanya—privilege sebagai anak bungsu—tak lagi dirasakan. Dia harus berbagi dengan adiknya. Kondisi kehamilan ketiga ini juga membuat anak pertama harus bersekolah di SMP dekat rumah agar saya tidak repot mengantar-jemput.

Perjalanan Mendampingi Anak Bertumbuh

Setahun kemudian, saat anak kedua masuk SMP, kami menyekolahkannya ke sekolah yang berbeda dengan kakaknya. Kami berpikir untuk memindahkannya ke Athalia. Namun, tiga kali kami mencoba mengontak sekolah ini, tidak pernah berhasil bertemu dengan bagian pendaftaran karena berbagai alasan. Saat itu, yang tebersit di pikiran kami, yaitu Tuhan tidak mengizinkan anak ini bersekolah di sini (sebuah pola pikir yang belakangan kami sadari kalau salah). Akhirnya, anak kedua kami masuk ke sekolah lain.

Singkat cerita, di sekolah yang baru, konselor dan pengajar sangat perhatian dan mencoba membantu kesulitan anak kami. Namun, cara belajar di sana berbeda dengan sekolah sebelumnya. Jadilah anak saya semakin malas, bukannya semangat. Dia terus menyalahkan kami karena sudah memindahkannya ke sana, bukan ke sekolah yang dia mau (sekolah lain dengan biaya yang jauh lebih mahal dan jarak yang lebih jauh).

Saat anak-anak masuk SMA, kami memberikan opsi agar mereka memilih sekolah sesuai minat dan kesiapan. Kami berharap mereka tidak merasa dipaksa. Apakah masalah selesai? Tidak. Hal ini dikarenakan begitu mulai sekolah, mereka harus mengalami pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat pandemi. Anak pertama sempat bersekolah tatap muka, tetapi anak kedua memulai masa SMA-nya dengan PJJ penuh. Di sinilah kemandirian mereka diuji.

Saat itu, anak kedua kembali mengalami kesulitan. Ia sulit mengatur waktu dan menyelesaikan tugas tepat waktu. Lagi-lagi kami menghadapi panggilan pengajar dan nilai rapor yang tidak memuaskan yang membuat anak kami yang kedua ini hampir tinggal kelas. Sepanjang proses ini, sebagai orang tua, kami jatuh bangun menghadapi setiap kondisi yang ada. Kami terus berpengharapan bahwa hanya Tuhanlah yang mampu mengubahkan anak kami. Kami juga terus memohon agar diberi hikmat untuk bisa mengembalikan anak kami ke “jalan yang benar”. Tuhan memang Maha Pengasih, tetapi kami juga menyadari segala rencana Tuhan akan berjalan sesuai dengan waktu-Nya.

Awal Anak Bertumbuh

Selama liburan sekolah, ketika kami banyak berbincang dengan kakaknya mengenai kelanjutan sekolah di universitas, rupa-rupanya sang adik ikut mendengarkan. Keinginan sang kakak untuk bersekolah di PTN membuat sang adik menyadari bahwa untuk masuk PTN membutuhkan nilai rapor yang bagus. Di sinilah kebangkitannya. Sejak saat itu, kami melihat perubahan. Ia mulai belajar, menyelesaikan tugas, bahkan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Kami kembali diteguhkan bahwa anak bertumbuh ketika diberikan dorongan yang tepat.

Berdasarkan pengalaman dengan anak pertama dan kedua, kami tidak mau mengulang kesalahan yang sama dengan anak ketiga dan keempat. Kami memutuskan bahwa bahasa ibu adalah prioritas. Hal ini memudahkan komunikasi dan memperkaya perkembangan berpikir anak. Perkembangan bahasa anak ketiga dan keempat lebih baik. Mereka mudah mengungkapkan pikiran dan perasaan. Kami bersyukur karena Tuhan telah membuka pemahaman kami. Sungguh semuanya hanya karena anugerah-Nya.

Saat tiba waktunya bagi anak ketiga dan keempat bersekolah, kami sudah memiliki prioritas yang berbeda dari sebelumnya. Kami mencari sekolah yang bisa mengajarkan anak untuk takut dan hormat akan Tuhan, mengenal Tuhan Allah, dan mempunyai karakter Kristus. Motto Athalia, yaitu right from the start, menarik perhatian kami. Maknanya sungguh dalam, membuat kami mengingat kembali kasus yang terjadi kepada anak kedua. Ketika langkah awalnya keliru, segala jalan ke depannya menjadi sangat-sangat terjal.

Baca Juga : Waspada! Ini 10 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua

Terus Bertumbuh Bersama dalam Anugerah Tuhan

Saat ini, kami masih terus berproses dalam mendidik dan menemani anak bertumbuh. Anak pertama dan kedua kami sudah remaja dan akan mulai kuliah. Segalanya terus berjalan, naik turun. Ada masa-masa di mana muncul masalah di dalam komunikasi sehari-hari. Terjadi pergesekan antara anak kedua dan anak ketiga sehingga kami harus terus mengawasi dan menjaga agar kondisi dan relasi mereka tetap terjaga. Namun, satu hal yang pasti, kami percaya bahwa Tuhan terus berbelas kasihan dan memimpin perjalanan kami.

Saat liburan Natal 2021 lalu, kami melihat komunikasi anak kedua dan ketiga terus membaik. Pekerjaan rumah kami masih banyak, seperti membawa anak-anak berjalan bersama Tuhan, kembali kepada Tuhan, dan mau ke gereja untuk beribadah setiap Minggu. Kami terus belajar dan mengalami jatuh bangun. Hanya dengan mengandalkan Tuhan, menyandarkan diri kepada-Nya, dan terus-menerus memohon kepada Tuhan agar Tuhan beranugerah membentuk dan keempat anak kami untuk dipakai seturut dengan rencana dan kehendak-Nya. Soli Deo Gloria.

oleh : anonim.

Baca juga: Perjalanan Remaja Mencari Identitas Diri

Pendidikan Karakter = Kunci Menghasilkan Anak Baik?

Sebuah refleksi dari buku Emotionally Healthy Spirituality.

Baru-baru ini saya membaca buku Emotionally Healthy Spirituality karya Peter Scazzero. Salah satu babnya yang berjudul “Mengenal Diri Sendiri untuk Mengenal Allah – Menjadi Diri Sendiri yang Autentik” menarik perhatian saya untuk merenungkannya lebih jauh tentang pembelajaran karakter yang sering kita dengar.

Di dalam bab tersebut, Peter mengangkat kisah Joe DiMaggio, seorang pemain baseball terbesar yang pernah ada pada abad ke-20 dan sering dipuja sebagai pahlawan olahraga Amerika. Ia menikahi Marilyn Monroe yang dikenal sebagai wanita tercantik pada masa itu. Namun setelah Joe meninggal, biografinya yang ditulis oleh Richard Ben Cramer mengungkap kenyataan yang mengejutkan. Joe secara sengaja hanya menunjukkan sisi yang baik dalam hidupnya saja dan menutupi banyak hal yang sebenarnya. “Kisah Joe DiMaggio sang ikon sangatlah terkenal. Kisah DiMaggio yang sebenarnya telah dikubur,” tulis Richard Ben Cramer.

Ironis sekali membaca kisah ini. Namun sebenarnya, menggunakan “topeng” bukanlah hal yang asing, bahkan dalam hidup orang-orang Kristen.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Saya rasa, banyak faktor yang membentuk manusia menjadi pribadi yang tidak autentik. Salah satunya yaitu pola pikir yang ditanamkan, baik secara langsung atau tidak langsung. Misalnya, ketika anak menangis karena mainannya rusak, tidak jarang orang tua langsung berkata “Sudah, enggak usah nangis, nanti diperbaiki.” Tentu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak selalu tepat karena belum tentu itu yang dibutuhkan anak. Bila terus diulang, anak belajar menekan emosinya. Ia akan berpikir bahwa bersedih itu tidak boleh, dan emosi harus disembunyikan.

Pendidikan Karakter = Kunci Menghasilkan Anak Baik

Menyembunyikan Emosi

Tak bisa dipungkiri bahwa kadang kala, pengajaran di dalam gereja pun menguatkan pola pikir ini. Emosi seperti marah atau kecewa dianggap dosa. Akibatnya, kita mengabaikan banyak emosi dalam diri. Rasanya, tidak berani menilik hasrat, mimpi, kesenangan, dan ketidaksukaan kita karena khawatir hal tersebut akan ‘menempatkan diri saya terlalu tinggi dan menjauhkan saya dari mengutamakan Allah’. Apa dampaknya? Kita berusaha menghindar dan mengabaikan perasaan, berjuang untuk terlihat baik-baik saja, dan ingin selalu menampilkan diri yang baik, ideal, dan saleh.

Saya jadi berpikir, jangan-jangan pendidikan karakter yang selama ini kita dengar juga memiliki gambaran yang sama. Kita melihat karakter sebagai tampilan luar, perilaku, atau kebaikan yang terlihat hingga muncul berbagai stigma seperti:

Orang yang sabar itu tidak pernah marah. Mereka yang rajin akan selalu bersemangat mengerjakan tugas, apa pun kondisinya. Orang yang dapat mengendalikan diri tidak pernah tergoda melakukan sesuatu untuk memuaskan keinginan diri…” dan masih banyak stigma lainnya.

Hal ini membuat kita lebih sering mengenakan tampilan luar atau perilaku yang palsu supaya terlihat baik. Hal yang sama juga kita terapkan ketika mendidik anak-anak untuk memiliki karakter yang baik.

Pendidikan Karakter

Menurut saya, pendidikan karakter tidak sesederhana itu. Pendidikan karakter bukan hanya soal moralitas yang harus dijaga demi nama baik diri, keluarga, maupun sekolah. Mengikuti karakter Kristus seharusnya memanusiakan manusia sebagaimana Kristus sendiri pernah hidup sebagai manusia yang sejati. Pendidikan karakter semestinya menilik lebih dalam ke dalam diri, menyingkap hati, motivasi, dan emosi yang bergejolak, berani melihat keberadaan diri yang sesungguhnya, yang hancur di hadapan Allah.

Peter dalam bukunya menulis, “Ketika kita mengabaikan penderitaan, kehilangan, dan semua perasaan kita selama bertahun-tahun, kemanusiaan kita menjadi semakin berkurang. Kita pelan-pelan berubah menjadi cangkang kosong yang diberi lukisan senyuman di depannya. … Kegagalan untuk menghargai perasaan seperti yang Alkitab lakukan dalam kehidupan Kristen kita yang lebih luas telah menghasilkan kerusakan yang besar, dan membuat manusia yang harusnya bebas dalam Kristus tetap dalam perbudakan.”

Tentu hal ini bukan berarti kita menyerahkan diri kepada perasaan sepenuhnya dan mengikuti ke mana diri ini dibawa—mengingat bahwa kita adalah manusia yang sudah jatuh dalam dosa. Namun, usaha membuka diri untuk merasakan emosi dan jujur kepada diri sendiri adalah langkah awal agar kita bisa merespons dengan benar di hadapan Allah. Justru hal itu mungkin menjadi cara Allah berbicara, merengkuh manusia dengan kasih-Nya, serta membentuk kita makin serupa dengan-Nya. Ia menyingkap diri kita dan berbicara dengan lembut “It’s okay, Aku mengenalmu, Aku mau berjalan bersamamu.

Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Menyampaikan Pesan yang Sama pada Anak

Apa pesan yang kita sampaikan kepada anak saat mereka gagal atau melakukan kesalahan? Ataukah kita mengabaikan dan menghindari hal itu, lalu memaksa mereka untuk menampilkan yang baik-baik saja?

Anak yang jatuh tidak selalu perlu nasihat. Terkadang, mereka hanya butuh pelukan dan penerimaan. Ajak mereka untuk berproses bersama. Karakter bukanlah suatu tempelan ataupun fenomena semata. Membentuk karakter adalah membentuk hati. Pembentukan karakter Kristus adalah bagian dari perjalanan iman; sebuah proses yang berlangsung seumur hidup, yang seharusnya dijalani dengan sukacita di dalam dasar penerimaan dan penebusan Kristus yang sempurna.

Oleh: Bella Kumalasari, staf Pengembangan Karakter Sekolah Athalia.

Value vs. Belief, Apakah yang Kita Pegang Benar-Benar Tulus?

Erika Kristianingrum, Orang Tua Siswa.

Bulan November 2021 yang lalu, saya berkesempatan mengikuti program CARE (Connect – Accept – Restore – Equipt). Program ini merupakan inisiatif dari Bu Charlotte yang bertujuan membantu peserta menemukan jati diri serta menyembuhkan luka batin. Diharapkan, setelah mengikuti program ini, peserta mampu menolong orang lain.

Untuk sementara, program ini berupa pilot project, sehingga pesertanya ditujukan hanya untuk CPR dan CC Sekolah Athalia. Salah satu pertemuan yang paling membekas bagi saya adalah pertemuan ketiga, yang membahas tentang value, belief, dan attitude. Saat itu, kami diminta untuk merenungkan ketiga aspek tersebut dalam kehidupan masing-masing. Saya dengan yakin menyatakan bahwa value utama saya adalah keluarga. Dalam pandangan saya, keluarga adalah prioritas utama, tempat berlindung, dan ruang yang nyaman untuk kembali. Belief yang saya pegang erat adalah bahwa keluarga merupakan tempat berbagi suka dan duka tanpa perlu berpura-pura menjadi orang lain. Salah satu contoh attitude yang mencerminkan keyakinan tersebut adalah keputusan saya untuk tidak pernah pergi berlibur hanya bersama teman-teman. Saya meyakini bahwa liburan adalah momen berharga yang seharusnya dinikmati bersama keluarga.

Menyelami Makna Value dalam Keseharian

Setelah pertemuan itu, pikiran saya terusik. Saya mulai mempertanyakan kembali apakah benar keluarga adalah value utama saya, atau ada faktor lain yang lebih mendalam yang belum saya sadari. Saya teringat pesan fasilitator yang menyarankan agar setiap peserta terus menggali lebih dalam tentang keyakinan yang dimiliki.

Malam itu, saya merenungkan banyak hal, terutama dalam hal mendidik dan membesarkan anak-anak. Sejak awal, saya berusaha mengajarkan mereka untuk memiliki hati yang mau melayani, menjadi berkat bagi orang lain, serta menjunjung tinggi sopan santun dalam pergaulan. Saya juga selalu mendampingi mereka saat belajar agar mereka merasa diperhatikan dan didukung. Begitu juga terhadap suami. Saya selalu menyiapkan segala keperluannya, mengantarnya sampe ke pintu pagar saat dia akan berangkat kerja, dan mengingatkannya untuk makan saat sedang di kantor.

Semua ini saya lakukan dengan keyakinan bahwa keluarga adalah hal terpenting dalam hidup saya. Namun, seiring dengan perenungan yang lebih dalam, saya mulai melihat sudut pandang lain yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Baca Juga : Hati Sejuk di Zaman Penuh Tekanan: Renungan Amsal 24:10–12

Mengungkap Motivasi di Balik Value

Tuhan perlahan menyingkapkan sesuatu yang selama ini tersembunyi di dalam hati saya. Saya mulai menyadari bahwa tindakan yang saya lakukan terhadap anak dan suami bukan sepenuhnya karena keluarga adalah prioritas utama saya. Ada faktor lain yang lebih dominan, yang selama ini tidak saya sadari—yaitu keinginan untuk mendapatkan reputasi yang baik. Ternyata, value saya adalah REPUTASI.

Dalam mendidik anak, saya ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang sopan dan berakhlak baik agar orang lain melihat saya sebagai ibu yang berhasil dalam membesarkan anak sesuai ajaran Tuhan. Dalam hubungan dengan suami, saya ingin orang lain melihat saya sebagai istri yang baik dan berbakti. Saya ingin citra diri saya sebagai seorang ibu dan istri mendapat pengakuan dari lingkungan sekitar.

Tak sadar, air mata saya menetes. Saya sadar bahwa menanggapi panggilan menjadi seorang ibu tidak mudah. Jika anak-anak bersikap tidak baik, orang akan bertanya, “Siapa ibunya?”. Jika terjadi sesuatu terhadap suami, orang akan berpendapat istrinya pasti kurang melayani suaminya dengan baik. Tidak ada penghargaan khusus atau promosi jabatan untuk seorang ibu terutama ibu rumah tangga seperti yang didapat wanita yang mendapatkan promosi jabatan di sebuah perusahaan.

Seorang ibu tidak akan pernah mendapat penghargaan sebagai ibu terbaik dari orang lain selain dari keluarganya sendiri. Setidaknya, hal-hal itulah yang saya percaya selama ini. Oleh karena itu, saya menganggap keluarga begitu penting karena dari keluargalah saya bisa mendapatkan reputasi yang baik. Hal inilah yang ingin saya capai: orang lain harus menilai saya baik.

Mengubah Perspektif: Dari Reputasi ke Rasa Syukur

Namun, akhirnya saya sadar bahwa semua itu pemikiran yang salah. Saya mulai belajar mengubah semua motivasi dalam menanggapi panggilan sebagai ibu rumah tangga dan istri. Saya seharusnya meresponsnya sebagai wujud syukur karena Tuhan sudah begitu besar mengasihi dan memberikan anugrah yang besar kepada saya: seorang suami yang baik dan anak-anak yang manis. Sudah sewajarnya saya melayani mereka sesuai dengan yang Tuhan mau, bukan sebagai alat agar orang melihat dan menilai saya sebagai ibu dan istri yang baik.

Saat ini, saya masih terus belajar memiliki motivasi yang benar, yaitu sebagai ucapan syukur kepada Tuhan agar hanya nama Tuhan yang dipermuliakan. Saya ingin Tuhan berkenan atas saya karena telah mendengar panggilan sebagai ibu rumah tangga sesuai dengan yang Dia kehendaki sehingga hanya nama-Nya yang dipermuliakan.

Mengapa Menjaga Hati Itu Penting untuk Melakukan Hal Baik?

Oleh: Elisa Christantio, Orang tua siswa.

Firman Tuhan yang direnungkan pada Rabu, 6 Oktober 2021 diambil dari Amsal 4: 23, berbunyi:

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (TB)

Ketika mendengar kata “menjaga,” umumnya kita akan berpikir tentang sesuatu yang tampak secara fisik. Namun, kita sering lupa bahwa menjaga juga mencakup hal-hal yang tidak kasatmata. Jadi, ketika Alkitab berbicara tentang hati, tentu tidak berbicara tentang fisik. Hati yang dimaksud bukanlah sekadar organ tubuh, tetapi melambangkan pikiran, kehendak, dan batiniah seseorang. Pikiran dan kemauan adalah pusat pengambilan keputusan, tempat di mana setiap pilihan dibuat. Segala sesuatu yang kita putuskan untuk dilakukan berasal dari sana. Lantas, mengapa penting untuk menjaga hati kita?

Baca Juga : Menjadi Otentik, Kunci Bertumbuh

1. Karena kita mencintai Tuhan yang sudah lebih dulu mencintai kita.

Salah satu motivasi terbesar untuk menjaga hati karena kita mencintai Tuhan. Mengasihi Tuhan dan memelihara persekutuan yang erat dengan-Nya harus menjadi landasan utama dalam menjaga hati.

Sebelum pandemi, tugas dan pelayanan mengharuskan saya dan suami bepergian ke luar kota. Kami sudah sepakat walau melayani Tuhan, kami ingin selalu bersama dengan anak-anak. Akhirnya, kami memilih jadwal saat anak-anak libur sekolah agar mereka bisa ikut. Ini bukan keterpaksaan, tetapi hal yang dilakukan dengan sukacita. Kami memilih untuk melakukannya karena rasa sayang. Kami saling mengasihi sehingga kami menempatkan perlindungan untuk hati kami dengan cara seperti ini.

2. Rencana Tuhan

Ketika semua yang kita lakukan mengalir dari hati, mungkin saja rencana Tuhan sedang terjadi dalam hidup kita. Tidak ada yang lebih memuaskan di bumi ini selain melakukan kehendak Tuhan.

Baca Juga : Athalia Learning Community Nomor 4 Tahun 2021

3. Menyelesaikannya dengan baik

Banyak di antara kita yang memulai dengan baik, tetapi mengakhiri dengan buruk. Amsal mengingatkan agar kita memulai dan mengakhiri dengan baik pula.

Menjalani pekerjaan yang harus sering keluar kota, mewartakan kabar baik, dan melayani bersama-sama keluarga tentu tidak mudah. Namun, kami ingin menyelesaikannya dengan baik. Suatu kali, kami melayani di Desa Pulutan, Wonosari, Gunungkidul. Kami tidak memberi tahu anak-anak tentang kegiatan hari itu. Sesampainya di lokasi, anak kami yang besar bertanya, “Kenapa kita disambut seperti presiden?” Dia bingung karena kehadiran kami disambut meriah. Singkat cerita, kami beramah tamah. Anak kami yang besar waktu itu masih kelas 4 SD, ditanya oleh salah seorang murid lokal tentang bahasa yang dikuasai. Lalu anak kami berkata, “Aku bisa bahasa Mandarin. Wo jiào Nathanael. Nǐ jiào shénme míngzì?” Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa. Kemudian, anak kami berkata, “Kamu juga bisa, makanya kamu harus rajin belajar.” Lalu, semua orang di sana bertepuk tangan.

Mengapa Menjaga Hati Itu Penting untuk Melakukan Hal Baik

Melakukan Hal Baik dalam Rencana Tuhan

Hari itu, kami pulang dengan hati bersyukur karena kami mengalami liburan yang luar biasa. Anak-anak mengerti tentang menjaga sekaligus memberi hati untuk orang lain. Kami sekeluarga pun menyelesaikan misi/tujuan Tuhan dalam hidup kami, walau dengan cara yang sederhana.

Menjaga hati bahkan juga dialami tokoh misionaris terhebat sepanjang masa dalam Filipi 3: 12–14. Paulus menyadari bahwa pekerjaannya belum selesai dan dia ingin memastikan bisa menyelesaikannya dengan kuat.

Saya yakin Paulus pun menjaga hatinya. Saya dan kita semua harus melakukan hal baik yang sama.

Sebagai penutup, saya bagikan satu ayat yang merangkum cara menjaga hati: “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”– Filipi 4: 8

Selamat merenung. Tuhan Yesus memberkati!

Pantang Menyerah

Oleh: Dwi Handayani, Orang Tua Siswa.

Anak adalah titipan Tuhan yang sangat berharga. Sebagai orang tua, kita pasti ingin menanamkan nilai-nilai kebaikan di hidupnya agar menjadi generasi yang tangguh dan mandiri di masa depannya.

Saya ingin berbagi cerita tentang putri pertama kami. Dia merupakan anak yang patuh dan penyayang, tetapi memiliki sifat pemalu serta cenderung manja. Ketika teman sebayanya mengajaknya bermain, ia lebih memilih lari pulang ke rumah dan hanya mau bermain jika saya menemaninya. Selain itu, daya juangnya masih lemah. Misalnya, saat mencoba membuat benda dari origami dan hasilnya tidak sesuai harapan, ia langsung menyerah dan enggan mencoba kembali.

Sebagai orang tua, kami selalu berusaha membimbing dan menyemangatinya agar lebih percaya diri serta mau berusaha. Kami terus mengingatkan bahwa tidak semua keinginannya dapat langsung terwujud tanpa usaha. Ada kalanya ia harus bekerja keras dan berjuang untuk mencapai sesuatu. Selain itu, kami juga menanamkan nilai syukur atas segala nikmat yang sudah Tuhan berikan. Kami ingin ia memahami bahwa menghargai apa yang dimiliki lebih penting daripada terus meminta lebih, karena masih banyak orang lain yang hidup dalam keterbatasan.

Pantang Menyerah

Pelajaran Berharga dari Sebuah Keinginan

Suatu hari, saat usia anak kami lima tahun, dia minta dibelikan mainan yang cukup mahal bagi kami, yaitu satu set mainan Plants vs Zombies. Kami pun tidak membelikannya karena mainannya sudah cukup banyak di rumah. Beberapa hari kemudian, ketika sedang mengikuti sekolah daring, ia memanggil saya dan menunjukkan layar laptop. Rupanya, ada teman laki-lakinya yang memegang mainan yang ia inginkan. Dengan penuh harap, ia kembali meminta hal yang sama. Namun, jawaban kami tetap tidak berubah. Kami menjelaskan alasan yang sama agar ia belajar memahami bahwa tidak semua keinginan bisa langsung terpenuhi.

Beberapa minggu kemudian, terjadi sesuatu yang sangat membekas dalam hati saya. Suatu siang, ia tiba-tiba berkata ingin berjualan. Awalnya, saya mengira ini hanyalah bagian dari permainan jual-jualan seperti biasanya. Saya mengiyakan saja karena dia suka mainan jual-jualan dan mama papanya disuruh menjadi pembeli. Namun, ternyata kali ini berbeda. Ia meminta saya membawakan meja belajar kecilnya ke teras depan rumah. Tidak lama kemudian, ia menempelkan kertas HVS bertuliskan “Mainan ini dijual, ya!” dengan hiasan warna-warni.

Ketika saya bertanya tujuannya, ia dengan penuh semangat menjawab, “Aku mau jualan karena aku mau dapet duit biar bisa beli mainan Zombie.”

Ternyata, tanpa kami sadari, ia mulai memahami pentingnya usaha untuk mendapatkan sesuatu. Ia tidak lagi sekadar meminta, melainkan mulai menunjukkan sikap pantang menyerah dengan mencari cara sendiri untuk mewujudkan keinginannya.

Baca Juga : Dibentuk dengan Berbagi Hidup

Sikap Pantang Menyerah dalam Berusaha

Tak lama setelah itu, ia masuk ke dalam rumah dan kembali membawa sekantong mainan serta beberapa camilan dari rak makanan. Dia letakkan berbagai cemilan tersebut, kemudian dia mengambil kertas, gunting, dan selotip. Dengan penuh antusiasme, ia menuliskan harga dan menempelkannya ke bungkus cemilan.

Saat dia meletakkan cemilan ke meja, saya lihat harga satu Beng-Beng Rp1.000.000 dan Nyam-Nyam Rp1.000.000.000. Hampir semua cemilan dia kasih harga fantastis. Saya hanya tertawa dalam hati. Ya… tentunya dia belum paham arti nol sebanyak itu. Walau geli melihat hal itu, saya terharu sekali. Saya tidak menyangka dia akan seniat itu untuk berjualan demi mendapatkan mainan yang dia mau. Entah dari mana asal ide itu, yang pasti saya dan suami cukup kaget melihatnya. Saat itu, saya mengelus rambutnya sambil berkata, “Jadi kamu mau jualan beneran, ya?”

Dia pun menjawab dengan semangat, “Iyaa… nih aku udah tulis harga makanannya, terus aku juga mau jualin mainan yang di kantong yang udah nggak aku suka.”

Melihat semangatnya, saya setuju untuk membantunya. Namun, karena saat itu siang hari dan matahari sangat terik, saya menyarankan untuk berjualan sore saja. Namun, ia tetap bersikeras ingin melanjutkan. Ia bahkan membuka pagar rumah lebar-lebar dan menggeser meja ke depan agar lebih terlihat oleh orang-orang. Dengan penuh semangat, ia duduk menunggu pembeli datang.

Setelah 15 menit berlalu tanpa ada satu pun pembeli, saya hanya bisa mengawasinya dari dalam rumah. Ia tetap duduk diam, mungkin sedang berpikir apakah usahanya akan berhasil atau tidak. Setelah lebih dari 20 menit, akhirnya saya berhasil membujuknya masuk dan berjanji untuk berjualan kembali di sore hari.

Buah dari Sikap Pantang Menyerah

Sore hari pun tiba. Sekitar pukul 4, ia kembali semangat untuk berjualan. Kami berdiskusi mengenai harga yang lebih masuk akal dan memilih mainan yang layak dijual. Mainan kecil diberi harga Rp1.000 atau Rp2.000 agar lebih mudah dibeli oleh anak-anak lain. Kebetulan, di dekat rumah ada musala yang ramai dengan anak-anak mengaji pada sore hari. Kami berharap ada beberapa anak yang tertarik membeli dagangannya.

Setelah mencoba berjualan selama tiga hari, uang yang terkumpul sebanyak 22 ribu rupiah. Dia senang bukan main. Kami berniat mau menambahkan uang untuk membelikan mainan yang dia mau. Saya pun bertanya, “Kamu jadi mau beli mainan Plants vs Zombies?”

Secara mengejutkan, dia menjawab, “Enggak jadi. Aku mau beli mainan makeup-makeupan aja!” sambil menunjukkan gambarnya di Tokopedia.

Apa pun akhirnya, kami salut atas usahanya, kami pun bersyukur karena anak kami akhirnya dapat memahami jika ingin mendapatkan sesuatu harus berusaha dan tidak pantang menyerah. Oh ya, ternyata dari hasil usaha berjualannya itu pula dia akhirnya belajar bersosialisasi dan lebih percaya diri, bahkan akhirnya mendapatkan teman baru untuk bermain setiap sore hari.

Belas Kasihan, Bertindak dengan Empati

belas kasihan

Belas kasihan sering disamakan dengan rasa kasihan, padahal keduanya berbeda secara mendasar. Perasaan ini berangkat dari pemahaman yang tulus terhadap penderitaan orang lain, lalu diikuti dengan niat untuk membantu dengan cara yang menghargai martabat mereka.

Dalam belas kasihan, kita tidak hanya hadir untuk membantu, tapi juga mendorong orang lain agar bangkit dan mandiri. Ini adalah bentuk empati aktif yang menolak hubungan yang timpang. Seseorang yang berbelas kasih tidak sekadar merasa iba, tapi juga bertindak dengan bijak, tidak merendahkan, dan tidak menciptakan ketergantungan. Misalnya, saat anak kesulitan belajar di rumah, kita bisa memilih untuk memahami tantangan anak, lalu mendukungnya menemukan kekuatan dari dalam dirinya sendiri.

Mari simak video ini!

Baca Juga : Titik Temu Antargenerasi – Terhubung dan Terlibat

Cobalah refleksikan: dalam interaksi harian kita, lebih sering mana kita merasa kasihan, dan kapan terakhir kita benar-benar berbelas kasih?

Baca Juga: Belas Kasihan

 

Kejujuran: Berani Menjadi Diri Apa Adanya

Amsal 20 ayat 11 mencatat bahwa anak-anak pun sudah dapat dikenal dari perbuatannya, apakah bersih dan jujur kelakuannya. Artinya, sejak usia dini, anak sudah menunjukkan karakter dasar yang terlihat melalui tindakannya sehari-hari. Salah satu karakter yang sangat penting untuk dibentuk sejak kecil adalah kejujuran.

Meskipun begitu, membentuk karakter jujur pada anak tidak selalu mudah dan memerlukan pendekatan yang konsisten serta penuh kesabaran. Anak-anak sering kali memilih untuk berbohong karena rasa takut akan konsekuensi yang mungkin timbul, seperti dimarahi, dihukum, atau dipermalukan.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan pengajar untuk menciptakan lingkungan yang aman dan suportif, di mana anak merasa dihargai saat menyampaikan kebenaran. Memberikan pujian dan penguatan positif ketika anak menunjukkan kejujuran akan membantu mereka memahami bahwa bersikap jujur merupakan nilai yang dihargai dan dibanggakan. Selain itu, kejujuran bukan hanya diajarkan lewat kata-kata, tetapi juga melalui contoh nyata dari orang dewasa. Orang tua dan pengajar perlu membiasakan diri hidup dalam kejujuran, baik hal kecil maupun hal besar.

Bu Charlotte dalam video “Kejujuran: Berani Menjadi Diri Apa Adanya” membahas bagaimana cara melatih karakter jujur anak secara konsisten. Mari simak video di bawah ini!

Semoga video ini dapat menjadi berkat dan membantu membangun karakter jujur dalam keluarga.

Baca Juga : Menjadi Otentik, Kunci Bertumbuh

tags :

#sekolahathalia #komunitassekolahathalia #sekolahkarakter #sekolahkristen #rightfromthestart #benarsejakawal #characterbasedlearningcommunity #jujur #karakter #karakterjujur

Berbagi: Ajarkan Anak Hidup Hemat dan Peduli Sesama

Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak besar bagi berbagai aspek kehidupan, tak terkecuali dalam hal ekonomi. Banyak orang yang menghadapi tantangan finansial, mulai dari pengurangan pendapatan, kehilangan pekerjaan, hingga meningkatnya kebutuhan sehari-hari. Di tengah situasi yang serba tidak pasti ini, justru terbuka peluang berharga untuk mengajarkan nilai-nilai penting kepada anak, salah satunya adalah bagaimana bijak dalam menggunakan uang dan sumber daya yang lain. Selain itu, yang tak kalah penting adalah belajar berbagi.

Bagaimana cara memulainya? Salah satu triknya adalah dengan menggunakan pendekatan yang menyenangkan dan penuh makna akan lebih efektif. Misalnya, melibatkan anak dalam menyusun anggaran belanja keluarga, tantang mereka menabung untuk barang impian, dan ajak berdiskusi tentang pentingnya berbagi. Kegiatan seperti mendaur ulang barang lama untuk dijadikan hadiah atau proyek kreatif juga bisa memperkuat nilai hemat sekaligus melatih empati.

Ingin tahu lebih banyak cara kreatif dan inspiratif untuk mengajarkan hidup hemat pada anak?

Yuk, tonton video ini bersama keluarga dan temukan inspirasinya!

Dengan membiasakan anak untuk hemat dan berbagi, kita tidak hanya menanamkan nilai finansial, tetapi juga membentuk karakter yang bijak, peduli, dan bertanggung jawab sejak dini.

Sudahkah kita memberi contoh hidup bijak dan peduli kepada anak-anak kita? Karena sejatinya, anak belajar bukan dari kata-kata, tetapi dari apa yang mereka lihat dan rasakan setiap hari. Mari jadikan momen ini sebagai langkah awal membangun kebiasaan baik dalam keluarga!

Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

tags:

#sekolahathalia #komunitassekolahathalia #sekolahkarakter #sekolahkristen #rightfromthestart #benarsejakawal #characterbasedlearningcommunity #hemat #hiduphemat #memberi #sharing

Tabah: Bertahan dan Berjuang Hingga Akhir

tabah

Setiap orang tua tentu ingin membesarkan anak mereka menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah menyerah, dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan kepala tegak. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian ini, membangun karakter tabah menjadi sangat penting. Dengan karakter ini, kita akan tetap bertahan dalam situasi sulit dan menyelesaikannya sampai akhir. Namun, bagaimana cara terbaik dalam membentuk anak-anak menjadi sosok yang tabah?

Melalui video “Tabah: Bertahan dan Berjuang Hingga Akhir“, Ibu Charlotte Priatna mengupas soal karakter tabah. Beliau mengatakan bahwa dalam karakter ini, ada proses pembelajaran yang konsisten dan penuh keteladanan yang perlu dilakukan oleh orang dewasa, khususnya orang tua.

Selain keteladanan, proses mendidik anak agar memiliki karakter ini juga membutuhkan ruang untuk mereka menghadapi kesulitan sendiri. Memberikan mereka kesempatan untuk menyelesaikan masalah, mengelola emosi, dan bangkit dari kegagalan akan memperkuat jiwa dan mental mereka.

Kiranya video ini tidak hanya mengajak kita merenung, tetapi juga mendorong kita untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh dan lembut dalam membentuk karakter anak. Karena dalam setiap proses belajar bertahan, kita pun sedang diproses untuk menjadi lebih tabah.

Baca Juga : Rahasia 30 Tahun Perjalanan Karakter

tags:

#sekolahathalia #komunitassekolahathalia #sekolahkarakter #sekolahkristen #rightfromthestart #benarsejakawal #characterbasedlearningcommunity #karakter #tabah #endurance