Pengendalian Diri: Tembok Pertahanan Diri

Selama masa pandemi, banyak kebiasaan yang harus ditunda demi menjaga kesehatan bersama. Tidak sedikit orang merasa rindu untuk kembali menghabiskan waktu akhir pekan di restoran favorit atau berjalan-jalan di mal bersama keluarga. Keinginan untu kembali ke rutinitas itu sangat manusiawi, tapi di saat yang sama, situasi ini mengajarkan kita satu hal penting : pengendalian diri. Di tengah berbagai keterbatasan, kita ditantang untuk menahan diri kemudian menjadi teladan bagi anak-anak.

Pengendalian diri bukanlah sesuatu yang muncul secara instan, melainkan keterampilan yang perlu diasah secara konsisten. Bagaimana cara membangun dan melatih karakter ini secara efektif, terutama dalam siuasi yang penuh tantangan seperti masa pandemi? Apa langkah-langkah konkret yang dapat diambil?

Untuk memahami lebih dalam mengenai pentingnya pengendalian diri serta strategi praktis dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, mari simak video singkat berikut ini:

Kita dapat menjadikan masa sulit ini sebagai momen untuk belajar, baik bagi diri sendiri maupun anak-anak. Setiap keputusan kecil yang kita ambil hari ini, seperti menunda bepergian atau memiliki aktivitas aman di rumah, adalah bentuk nyata dari pengendalian diri yang berdampak besar.

Yuk, bersama-sama kita tumbuhkan karakter ini agar kelak anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang kuat, bijak, dan penuh tanggung jawab.

Baca Juga : Berbagi: Ajarkan Anak Hidup Hemat dan Peduli Sesama

Tags :

#pengendaliandiri#buahroh#sekolahathalia#komunitassekolahathalia #sekolahkarakter#sekolahkristen#rightfromthestart#benarsejakawal #characterbasedlearningcommunity

Keuntungan Bermain Board Game

Keuntungan Bermain Board Game

Mengajak anak bermain board game dapat sekaligus mengajarkannya berbagai hal, lho! Dalam video berikut, Ibu Marlene, salah satu orang tua siswa Athalia, berbagi tentang keuntungan bermain board game. Apakah Anda tertarik untuk juga mengajak anak bermain board game di rumah?

Baca Juga: Berlibur Bersama

#aktivitasdirumah#bermain#boardgame#qualitytime#familytime

#manfaatboardgame#dirumahaja#homelearning#aktivitasseru

#permainananak#keluarga#sekolahathalia#rightfromthestart

#characterbasedlearningcommunity

Rendah Hati: Kunci Utama Membangun Relasi

rendah hati

Orang tua yang memiliki anak remaja sering kali menghadapi masa-masa sulit dalam membangun komunikasi dengan anaknya. Masa remaja dikenal sebagai fase terjadinya perubahan besar, baik secara emosional, psikologis, maupun sosial. Sikap remaja yang cenderung cuek, lebih suka bergaul dengan teman sebaya, dan tampak enggan mendengarkan nasihat orang tua kerap memicu ketegangan di rumah. Kondisi ini semakin terasa di masa kini, ketika situasi membuat anak dan orang tua harus menghabiskan lebih banyak waktu bersama di rumah, bahkan hingga 24 jam penuh.

Dalam situasi seperti itu, friksi kecil dapat dengan cepat berubah menjadi konflik yang lebih besar. Ketika orang tua merasa tidak dihargai dan anak merasa dikekang, jarak emosional di antara keduanya bisa semakin melebar. Jika tidak ditangani dengan bijak, hubungan yang seharusnya menjadi tempat bertumbuh bagi anak justru bisa menjadi sumber luka batin. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mencari pendekatan yang tidak hanya memperbaiki perilaku anak, tetapi juga membangun hubungan yang lebih sehat dan kuat.

Lantas, apa yang dapat dilakukan oleh orang tua agar relasi dengan anak tetap terjaga, bahkan bertumbuh, tanpa harus merusak kepercayaan yang sudah ada?

Rendah Hati, Kunci Utama Membangun Relasi

Dalam video singkat ini, Ibu Charlotte Priatna mengajak para orang tua untuk mengasah karakter rendah hati. Rendah hati bukan berarti menyerah atau mengabaikan prinsip yang benar. Sebaliknya, rendah hati adalah kesiapan untuk membuka diri, mengakui kelemahan, dan bersedia belajar dari kesalahan, termasuk dalam berelasi dengan anak. Dengan sikap rendah hati, orang tua tidak lagi hanya fokus menuntut anak untuk berubah atau introspeksi. Orang tua pun mau melakukan evaluasi diri: apakah cara berkomunikasi yang diterapkan sudah membangun? Apakah sikap kita sudah cukup memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh mandiri? dan lain sebagainya.

Siapkah kita, sebagai orang tua, untuk terus belajar dan bertumbuh?

Baca Juga : Kiat-Kiat Mendampingi Remaja Saat Menghadapi Masalah

Tags:

#tipsparenting #videoparenting #dirumahaja #belajarparenting #belajarkarakter #rendahhati #relasiorangtuadananak #parenthood #sekolahkarakter #sekolahathalia #characterbasedlearningcommunity #rightfromthestart

Music: www.bensound.com

Jangan Marah Dulu! Simak Cara Melatih Kesabaran

Shalom Bapak/Ibu dalam Komunitas Athalia. Bagaimana kabarnya selama #dirumahaja? Sebelum mulai, mari renungkan hal ini sejenak. Dalam kesibukan dan kepenatan di masa pandemi ini, seberapa sering kita mengingat pentingnya kesabaran dalam menjalani hari bersama keluarga?

Pandemi Covid-19 membuat banyak keluarga beraktivitas sepenuhnya di rumah. Awalnya mungkin terasa menyenangkan, tapi lama-kelamaan rutinitas yang monoton bisa menimbulkan rasa jenuh dan bahkan membuat orang tua kehilangan kesabaran. Anak-anak yang aktif sering bertengkar karena berebut remote TV, meminta perhatian terus-menerus, dan membuat rumah terasa kacau.

Dalam kondisi penuh ketidakpastian ini, kesabaran adalah kunci utama. Kita perlu menyadari bahwa anak-anak juga sedang berjuang menghadapi ketidakpastian. Mereka belum bisa mengelola emosi seperti orang dewasa. Sebagai orang tua, kita ditantang untuk lebih bijak, bukan hanya dalam mengatur rutinitas, tetapi juga dalam mengelola diri sendiri.

Alih-alih terpancing emosi, mari belajar mengatur ulang ekspektasi dan memperbanyak momen kebersamaan yang penuh kasih. Latihan kesabaran bukan berarti menahan amarah saja, tetapi hadir secara utuh, mendengarkan lebih banyak, dan menciptakan suasana rumah yang aman secara emosional. Inilah kesempatan emas untuk memperkuat ikatan batin dengan anak dan membentuk karakter mereka melalui keteladanan yang penuh cinta.

Mari kita jadikan masa ini peluang untuk bertumbuh dalam kesabaran. Tonton kembali video di atas bersama pasangan atau komunitas Anda dan renungkan, “Apakah aku sudah menunjukkan kasih dan kesabaran hari ini?

Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Tags : 

#parenting #tipsparenting #videoparenting #charlottepriatna #karaktersabar  #sekolahathalia #sekolahkarakter #rightfromthestart #covid19 #dirumahaja #sekolahdirumah #belajardirumah #physicaldistancing #psbbtangsel

Belas Kasihan

belas kasihan

Oleh: Bapak Presno Saragih, Kabid. Pendidikan

Yesus yang Penuh Belas Kasihan

Dalam Markus 6:30 kita membaca bahwa para murid melaporkan apa yang sudah mereka kerjakan dan ajarkan kepada orang-orang yang mereka jumpai. Pasti terjadi diskusi yang menarik antara mereka dengan Tuhan Yesus. Mungkin ada pujian, koreksi, dan lain-lain yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Pendek kata ada evaluasi yang Tuhan Yesus sampaikan kepada mereka.

Lalu pada ayat 31 kita membaca adanya ajakan Tuhan Yesus kepada mereka untuk pergi ke tempat yang sunyi untuk beristirahat di sana karena mereka baru saja melakukan pelayanan yang sangat melelahkan. Namun ketika Tuhan Yesus melihat orang banyak yang mencari-cari (membutuhkan) Dia, niat-Nya untuk beristirahat diurungkan-Nya (Markus 6:33,34). Ayat 34 mencatat bahwa hati-Nya tergerak oleh “belas kasihan” kepada mereka.

Makna Belas Kasihan

Belas kasihan adalah perasaan kasih yang ditunjukkan lewat perbuatan nyata. Markus 6:34b mencatat bahwa Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Mereka membutuhkan pengajaran Tuhan Yesus karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala (Markus 6:34a).

Perasaan belas kasihan-Nya tidak berhenti pada perasaan simpati dan atau empati saja tapi dilanjutkan dengan perbuatan memberi pengajaran kepada orang banyak yang terlantar tersebut. Bahkan ketika hari mulai malam Tuhan Yesus meminta murid-murid-Nya untuk memberi makanan kepada orang banyak yang baru menerima pengajaran-Nya. Orang banyak membutuhkan makanan jasmani setelah mereka menerima makanan rohani dari Tuhan Yesus. Perasaan belas kasihan-Nya kembali mewujud nyata dalam bentuk perbuatan yaitu memberi orang banyak makanan yang mereka butuhkan.

Ada banyak hal yang sangat menarik berkaitan dengan mujizat 5 ketul roti dan 2 ekor ikan. Ketika diberitahukan kepada Tuhan Yesus bahwa “modal” makanan yang mereka miliki hanyalah 5 ketul roti dan 2 ekor ikan, Tuhan Yesus tidak berkomentar negatif melihat perbandingan yang sangat tidak seimbang antara jumlah makanan dan jumlah orang yang butuh makanan, yang membutuhkan makanan ada lebih dari 5.000 orang (Markus 6:44).

Alkitab mencatat ada 5.000 orang laki-laki yang mendengarkan khotbah Tuhan Yesus pada waktu itu. Jumlah perempuan dan anak-anak yang hadir tidak ditulis. Mungkin ada 5.000 perempuan dan 5.000 anak-anak yang juga hadir menerima pengajaran Tuhan Yesus. Berarti totalnya ada +/- 15.000 orang yang membutuhkan makanan. Lalu Tuhan Yesus mengucap syukur dan membagi-bagikan roti dan ikan itu kepada mereka (Yohanes 6:11). Dan terjadilah mujizat. Roti dan ikan itu tidak kunjung habis. Semua orang mendapat makanan dan makan sampai kenyang (Markus 6:42). Bahkan masih tersisa 12 bakul penuh (Markus 6:43). Belas kasihan Tuhan Yesus yang disertai ucapan syukur menghasilkan mujizat yang mencukupi kebutuhan jasmani dan rohani 15.000 orang.

Refleksi

Bagaimana dengan perasaan belas kasihan yang kita miliki? Apakah perasaan tersebut mewujud nyata dalam bentuk perbuatan? Atau hanya berhenti pada perasaan simpati dan atau empati saja? Hanya berputar-putar pada poros perasaan kasihan semata. Kita cuma berkata, ”Kasihan ya bapak itu?” Namun tidak ada perbuatan nyata yang kita lakukan. Bahkan mungkin kemudian menggosipkan orang yang kita kasihani itu panjang lebar dengan teman kita. Ironis, bukan?!

Mengapa banyak orang hanya memiliki perasaan simpati dan atau empati saja tanpa disertai perbuatan nyata? Mungkin karena mereka sendiri belum pernah mengalami kasih ilahi dalam kehidupan mereka yaitu kasih Allah yang membawa-Nya naik ke bukit Golgota. Sehingga mereka tidak dapat membagikan kasih ilahi kepada orang lain karena kantong kasih mereka kosong melompong. Alkitab berkata bahwa Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita melalui kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib ketika manusia (kita) masih berdosa (Roma 5:8). Dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi, kita menerima kasih ilahi yang menyucikan kita dari segala dosa dan pelanggaran kita. Dengan modal kasih Allah tersebut kita dimampukan untuk mewujudnyatakan kasih kita kepada orang lain melalui perbuatan kita.

Ada banyak orang di sekitar kita membutuhkan injil Kristus. Ada banyak orang di sekitar kita membutuhkan uang kita, tenaga kita, telinga kita, waktu kita, nasehat kita, dan lain-lain. Maukah kita berbelas kasihan kepada mereka dengan memberitakan injil Kristus? Maukah kita berbelas kasihan kepada mereka dengan memberikan uang kita, tenaga kita, telinga kita, waktu kita, nasehat kita? Mari kita menjawabnya di hadapan Tuhan secara pribadi…

Baca Juga: Belas Kasihan Adalah Kunci

Hidup Bijaksana Menurut Alkitab: Takut Akan Tuhan sebagai Dasar Hikmat Sejati

Hidup Bijaksana Menurut Alkitab Takut Akan Tuhan sebagai Dasar Hikmat Sejati

Makna Hidup yang Sesungguhnya

Hidup manusia dikatakan bermakna bukan dari seberapa panjang usianya, tetapi dari nilai-nilai yang ia hidupi selama di dunia. Pertanyaannya: Apakah kita sudah mengisi hidup dengan bijaksana selama di dunia?


Kisah Dua Anak dan Pesan Kebijaksanaan Ayah

Ada sebuah kisah tentang seorang ayah dengan dua anak laki-laki. Sebelum meninggal, ia memberikan sejumlah uang kepada keduanya sambil berpesan:

“Gunakan uang ini baik-baik! Jadikan uang ini sebagai modal usaha, supaya engkau menjadi orang berhasil. Tetapi ingat pesanku ini: jangan sampai kepalamu terkena sinar matahari.”

Setelah sang ayah meninggal, kedua anak itu memulai usaha masing-masing. Anak pertama mengartikan pesan itu secara harfiah — setiap hari ia pergi dan pulang dengan membawa payung agar kepalanya tidak terkena matahari. Namun, meskipun berusaha keras melindungi diri dari panas, usahanya justru bangkrut.

Anak kedua memiliki pemahaman berbeda. Ia tidak membeli payung, tetapi datang lebih pagi ke tempat usaha dan bekerja sampai malam. Ia memahami pesan ayahnya secara bijak: jangan bermalas-malasan hingga matahari tinggi, tetapi bekerjalah rajin sejak pagi. Hasilnya, usahanya berhasil dan berkembang. Ia berhasil karena bijaksana memaknai pesan ayahnya.


Apa Itu Bijaksana?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bijaksana berarti:

“Selalu menggunakan akal budi (pengalaman dan pengetahuan); arif; tajam pikiran; serta hati-hati dalam menghadapi kesulitan.”

Tuhan menghendaki agar umat-Nya memiliki hati yang bijaksana dalam menjalani hidup. Namun, orang bijaksana tidak selalu sama dengan orang berpengetahuan tinggi. Banyak orang berilmu belum tentu bijak, tetapi orang bijaksana tahu bagaimana bersikap benar dalam setiap keadaan.

Orang bijaksana adalah orang yang melihat hidup dari sudut pandang Allah dan mengetahui tindakan terbaik sesuai kehendak-Nya. Ia mengenal isi hati Tuhan dan berusaha hidup sesuai Firman-Nya.


Menjadi Bijaksana Menurut Alkitab

Alkitab mengajarkan prinsip penting dalam Amsal 1:7:

“Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.”

Takut akan Tuhan berarti menghormati Tuhan, mengakui bahwa Dialah sumber hikmat sejati, serta menjauhi dosa dan kejahatan. Orang yang takut akan Tuhan akan membenci dosa dan memilih hidup dalam kebenaran.

Contoh nyata dapat dilihat dari tokoh-tokoh Alkitab seperti Henokh, Nuh, dan Ayub. Mereka menjauhi kejahatan bukan karena kesempurnaan diri, tetapi karena mereka menghormati Tuhan di atas segalanya.
Sebaliknya, orang yang tidak takut akan Tuhan — betapapun pandainya — pada akhirnya akan binasa.


Contoh Salomo: Hikmat Tanpa Takut akan Tuhan Membawa Kejatuhan

Raja Salomo dikenal sebagai raja paling bijaksana dalam Perjanjian Lama. Ia memohon hikmat dari Tuhan agar dapat memimpin rakyat dengan benar, dan Tuhan mengabulkan permohonannya.
Namun, di kemudian hari, Salomo kehilangan hati yang takut akan Tuhan. Ia menikahi banyak perempuan asing yang tidak mengenal Allah dan akhirnya ikut menyembah berhala.
Salomo mulai mengandalkan dirinya sendiri, tidak lagi melekat kepada Tuhan. Ia lupa bahwa hikmat sejati berasal dari takut akan Tuhan, bukan dari kepandaian manusia. Akibatnya, hidupnya berakhir dalam kehancuran.


Melekat pada Tuhan dan Mencintai Firman-Nya

Orang yang bijaksana memiliki hati yang melekat kepada Tuhan dan mencintai Firman-Nya. Saat hati Salomo menjauh dari Tuhan, ia berhenti mencintai titah Tuhan dan hidupnya mulai jatuh dalam dosa.
Melekat kepada Tuhan berarti tinggal di dalam Tuhan dan membiarkan Tuhan tinggal di dalam kita.

Daud menulis dalam Mazmur 119:99-100:

“Aku lebih berakal budi dan aku lebih mengerti, sebab aku merenungkan peringatan-peringatan-Mu dan memegang titah-titah-Mu.”

Daud menjadikan Firman Tuhan sebagai isi pikirannya dan gaya hidupnya. Karena itu, untuk menjadi bijaksana, Firman Tuhan harus menjadi pelita bagi kaki kita (Mazmur 119:105).

Alkitab adalah Firman Allah yang mengajarkan mengapa kita hidup, bagaimana menjalani hidup, dan apa yang harus dihindari agar kita bisa hidup dengan bijaksana di hadapan Tuhan.


Kebijaksanaan Sejati Berasal dari Tuhan

Kebijaksanaan sejati tidak berasal dari ide manusia, tetapi dari Tuhan. Orang yang bijaksana adalah mereka yang takut akan Tuhan, melekat kepada-Nya, dan mencintai serta melakukan Firman-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaannya sekarang:

Maukah kita menjadi orang yang bijaksana sesuai kehendak Tuhan?