Kiat-Kiat Mendampingi Anak Saat Menghadapi Masalah

Oleh: Mattias Malanthon-Kepala PKBM Pinus

Sejumlah kasus bunuh diri yang terjadi di Indonesia dilakukan oleh anak-anak usia remaja. Hal ini disebabkan oleh berbagai permasalahan yang membuat mereka merasa terpojok, kesepian, tertekan, bahkan sampai kehilangan identitas. Di sinilah peran orang tua sebagai sosok terdekat dibutuhkan untuk mendampingi anak melewati masa sulit.

Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam menghadapi permasalahan anaknya, di antaranya adalah:

1. Mendengarkan versus Mendengar

Mendengarkan tidaklah sama dengan mendengar. Menurut KBBI, mendengar berarti menangkap suara dengan telinga, sedangkan mendengarkan berarti memberi perhatian secara sungguh-sungguh. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan yang mendasar antara mendengar dengan mendengarkan. Sebagai orang tua, seringkali seorang ayah atau ibu “terpaksa” mendengar anaknya bercerita. Kondisi ini biasa terjadi saat orang tua membutuhkan waktu untuk beristirahat, tapi sang anak justru meminta waktu untuk didengarkan masalahnya.

Contohnya, anak mengalami perundungan dari teman-temannya karena menolak menyontek. Dari sudut pandang orang tua, akar permasalahan tampak sederhana: “masalah menyontek.” Mereka mungkin hanya memberikan nasihat bahwa tindakan anak sudah benar. Padahal, yang menjadi inti permasalahan adalah perundungan yang dialami. Jika orang tua menyepelekan cerita anak, mereka dapat merasa terpojok, kesepian, dan tidak dimengerti.

2. Memberi Penguatan Versus Melakukan Penghakiman

Selain mendengarkan, orang tua juga perlu memberikan respons yang tepat. Memberi penguatan berarti memberi respons positif yang dapat mendorong munculnya rasa percaya diri dan penerimaan diri anak, sehingga dapat keluar dari permasalahan yang dihadapinya. Sebaliknya, penghakiman dapat diartikan sebagai respons berdasarkan pengalaman pribadi, pengalaman masa kecil, ajaran agama, etika, norma sosial, dan sebagainya.

Sebagai contoh, seorang anak merasa kesal karena hasil ujian yang dia dapatkan tidak sesuai harapan, meskipun dia merasa sudah belajar dengan sungguh-sungguh. Dalam situasi ini, orang tua bisa dapat mendampingi anak dengan memberi penguatan, berempati dengan memosisikan diri di “sepatu” anak, lebih fokus mencari tahu perasaan anak, serta memberikan dukungan positif.

Baca juga : Waspada! Ini 10 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua

3. Mengurangi Tekanan Versus Menambah Tekanan

Anak khususnya remaja sering menghadapi tekanan yang besar dari lingkungan sekolah maupun pergaulan. Maka dari itu, mereka membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya untuk berbagi cerita dan mencari solusi. Di sinilah peran orang tua sebagai pendamping sangat krusial.

Sebagai contoh, seorang anak perempuan diajak teman-teman geng-nya untuk mem-bully seorang teman, dengan ancaman akan menyebarkan rahasia pribadinya jika anak tersebut tidak mau melakukannya. Dalam situasi ini, anak mungkin merasa terjebak dan butuh seseorang yang bisa dipercaya sebagai tempat untuk bercerita, juga membantunya keluar dari masalah itu. Orang tua bisa memulai dengan mengajak anak untuk menceritakan “rahasia” yang dimaksud oleh teman-temannya. Saat anak sudah mau bercerita, ajak mereka agar bisa berdamai dengan hal tersebut. Dengan demikian anak dapat merasakan tekanan akibat masalah yang dihadapinya berkurang.

4. Optimis Versus Pesimis

Optimisme adalah kunci bagi remaja untuk menghadapi tantangan hidup. Ketika anak dapat melihat bahwa masalahnya sudah mulai terurai satu persatu, optimisme dan rasa percaya diri mereka akan tumbuh. Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk pola pikir ini.

Sebagai contoh, seorang anak mengalami perundungan karena tubuhnya yang pendek. Jika orang tua hanya merespons dengan kata-kata seperti “tidak apa-apa” tanpa penjelasan lebih lanjut, anak mungkin tetap merasa rendah diri. Namun, jika orang tua mendengarkan dengan serius, membantu anak melihat gambar diri yang baik, dan mengajarkan cara menyikapi ejekan “pendek” tersebut dengan bijak, anak akan belajar menerima dirinya dengan lebih baik dan optimis.

Mendampingi anak remaja bukan sekedar tugas, tetapi sebuah tanggung jawab moral yang harus dilakukan dengan penuh kesadaran. Anak-anak yang tahu bahwa mereka memiliki orang tua yang mendukung akan lebih kuat dalam menghadapi tantangan hidup.

Saat ini, coba tanyakan kepada diri sendiri: “Sudahkan saya benar-benar mendengarkan anak saya? Apakah saya lebih banyak memberi penghakiman daripada penguatan? Apakah saya menciptakan lingkungan yang aman bagi anak untuk bercerita?”

Mari menjadi orang tua yang siap mendampingi anak agar pada saat anak menghadapi permasalahan, mereka tahu harus bercerita kepada siapa untuk bisa keluar dari permasalahannya sebagai pemenang.

Baca juga: Perjuangan Memenangi Hati Anak dan Menjadi Teman Perjalanan Anak Bertumbuh

Liburan di Rumah Bebas ‘Drama’

Oleh: Hilda Davina S. – Staf Parenting PK3

Penilaian Akhir Semester (PAS) baru saja selesai. Hari libur menanti di depan mata. Anak-anak pun bersukacita menyambutnya. Liburan adalah waktu di mana anak-anak bisa rehat sejenak dari rutinitas belajar selama satu semester. Namun, di balik sukacita anak-anak, terdengar beberapa keluhan dari orang tua antara lain, “Anakku kalau liburan malah bangun siang,” atau “Anakku kalau di rumah, tiap hari main HP karena bingung mau main apa.

Keluhan-keluhan tersebut sering terucap saat anak-anak menjalani masa liburan di rumah. Dalam situasi ini, hal tersebut dapat terjadi disebabkan oleh rutinitas yang tidak sengaja terbentuk karena aktivitas anak di rumah turut ‘berlibur’ saat anak berada di rumah. Oleh sebab itu, orang tua perlu menciptakan rutinitas yang berkesinambungan untuk mengajarkan kedisiplinan pada anak.

Rutinitas yang Sehat agar Liburan di Rumah Tetap Seru

Agar liburan tetap menyenangkan tanpa menghilangkan kebiasaan baik, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk menerapkan disiplin di rumah:

1. Instruksi yang Jelas.

Orang tua perlu mengomunikasikan dengan jelas perilaku yang diharapkan dari anak dan menetapkan batasan. Hal ini bisa dilakukan dengan menciptakan rutinitas yang teratur, stabil, dan nyaman. Rutinitas dapat membantu mengembangkan perilaku dan kontrol pribadi pada anak-anak.

Agar anak dapat menikmati rutinitas mereka, ajak mereka untuk terlibat dalam membuat jadwal dan aturan yang akan disepakati bersama. Di samping itu, orang tua bisa berkreasi bersama anak untuk membuat poster dan menempelkannya di tempat yang gampang dilihat oleh seluruh anggota keluarga.

2. Berikan Pujian dan Semangat.

Pujian dan dorongan semangat dapat meningkatkan rasa percaya dan harga diri anak. Berikan apresiasi atas usaha mereka, contohnya saat mereka mendapatkan nilai baik.

Selain itu, pujian juga dapat diberikan ketika anak-anak menceritakan keberhasilan kecil yang mereka raih. Pujian paling efektif adalah pujian yang datangnya tanpa diharapkan anak. Contohnya, orang tua memberi pujian ketika anak membereskan kamarnya tanpa diminta. Pujian yang tidak diharapkan akan lebih berarti bagi anak dan menjadi motivasi untuk terus berusaha mencapai keberhasilan.

3. Berikan Konsekuensi.

Jelaskan terlebih dahulu perilaku seperti apa yang orang tua harapkan dan konsekuensi apa yang akan mereka dapatkan jika mereka berbuat sebaliknya. Contohnya, jika anak tidak mau merapikan mainannya, maka mainan tersebut akan disimpan di gudang dalam waktu tertentu. Dengan demikian, anak belajar memahami tanggung jawab atas tindakannya.

Baca juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

4. Jadilah Teladan.

Sikap orang tua memberi pengaruh yang besar pada anak. Anak perlu teladan orang tua yang selalu taat pada aturan, yang tentunya bersumber pada ketaatan kepada Tuhan. Contohnya, jika orang tua menerapkan aturan ‘tidak ada gawai saat makan,’ maka orang tua juga harus menerapkannya. Dengan demikian, anak melihat orang tua sebagai orang yang adil dan berpegang pada aturan yang telah disepakati.

Kedisiplinan membutuhkan proses panjang, tetapi dengan konsistensi dan kesabaran, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih rajin dan taat. Melalui proses ini, orang tua juga akan dibentuk menjadi pribadi yang lebih tegas tapi tetap penuh kasih dan sabar dalam mendidik anak-anak.

Sumber:
Ezzo, G. & Ezzo, A. M. 2001. Membesarkan Anak dengan Cara Allah.
Family routines: how and why they work. Diambil dari https://raisingchildren.net.au/pre-teens/behaviour/behaviour-management-ideas/family-routines

Kunci Berkomunikasi dengan Anak: Buat Lebih Bermakna!

Oleh: Marcelina Denise Lahenda – Staf Konselor SD

Bulan Bahasa diperingati setiap bulan Oktober di Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen yang berbasis pendidikan karakter di BSD, Serpong. Kegiatan ini menjadi momen refleksi akan peran krusial bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi antarindividu, tetapi juga sebagai sarana utama dalam membangun interaksi sosial yang efektif. Selain itu, komunikasi dengan anak secara efektif merupakan fondasi penting dalam membentuk hubungan yang sehat dan keterikatan emosi antara orangtua dan anak.

Komunikasi yang efektif berperan penting dalam membantu anak merasa dipahami, dihargai, dan didukung. Ketika anak merasa bahwa perasaan dan kebutuhannya diakui, mereka akan lebih mudah mengembangkan rasa percaya, serta merasa aman dan nyaman dalam lingkungannya. Kondisi ini secara tidak langsung mendukung perkembangan sosial dan emosional mereka.

Komunikasi yang berkualitas mencakup kemampuan untuk mendengarkan dengan empati, memahami perspektif anak, serta memberikan respons yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Meskipun komunikasi antara orang tua dan anak terlihat sederhana, pada praktiknya dibutuhkan kesabaran, keterampilan, serta kesiapan untuk menyediakan waktu yang cukup agar komunikasi dapat berjalan secara efektif.

Baca juga : Titik Temu Antargenerasi – Terhubung dan Terlibat

Tips Berkomunikasi dengan Anak Secara Efektif

Berikut beberapa strategi yang dapat diterapkan orang tua untuk membangun komunikasi yang lebih bermakna dengan anak:

  1. Active listening
    Saat berbicara dengan anak, pastikan Anda benar-benar hadir dalam percakapan. Hindari distraksi seperti ponsel atau pekerjaan lain, sehingga anak merasa dihargai dan didengar sepenuhnya. Mendengarkan secara aktif membantu anak-anak merasa didengar dan dipahami.
  2. Reflective listening
    Salah satu cara untuk menunjukkan bahwa kita memperhatikan dan menangkap apa yang mereka katakan adalah dengan mengulangi apa yang mereka katakan dengan menggunakan frase yang berbeda. Misalnya, jika anak berkata, “Saya tidak mau bermain dengan Tono lagi.” Kita dapat merespons dengan, “Kamu sedang tidak mau main ya. Kelihatannya kamu sedang kesal.” Dengan ini, anak akan merasa dimengerti dan tidak dihakimi, sehingga anak dapat mengekspresikan emosi mereka tanpa penilaian.
  3. Speaking clearly
    Gunakan bahasa yang dapat dimengerti untuk anak dan sesuai dengan usia mereka. Pemilihan kata harus jelas, spesifik, dan tidak menggunakan kata-kata yang kasar atau menghina. Menggunakan bahasa yang baik akan membantu memberikan contoh positif bagi anak-anak.
  4. Explaining feelings
    Untuk membantu anak mengembangkan kecerdasan emosional, penting bagi mereka untuk belajar bagaimana memberi nama perasaan mereka. Ketika anak mengekspresikan perasaan mereka secara verbal, dengarkan apa yang mereka katakan dengan empati dan tanpa penilaian. Jika anak mengekspresikan perasaan mereka dengan cara nonverbal – misalnya melalui amarah atau tertawa dan bersenang-senang melakukan aktivitas yang mereka sukai, kita perlu membahasakan bagaimana perasaan mereka, seperti bahagia, sedih, santai, terluka, takut, lapar, bangga, mengantuk, marah, tidak berdaya, jengkel, malu atau gembira, dll.

Bangun Hubungan Lebih Dekat Lewat Komunikasi yang Positif

Berkomunikasi dengan anak secara efektif bukanlah hal yang instan, tetapi merupakan proses yang perlu dengan sengaja diciptakan dan dibangun karena sangat mempengaruhi hubungan orangtua dengan anak. Dengan memberikan waktu, perhatian, dan mendengarkan dengan baik, kita dapat membantu anak tumbuh dan berkembang secara positif. Semua ini membantu mereka merasa dicintai dan diperhatikan sebagai dasar yang kuat untuk setiap tahap perkembangan di masa depan.

Sumber: https://www.unicef.org/parenting/child-care/9-tips-for-better-communication

Soft Skill vs Hard Skill, Mana yang Lebih Penting?

Oleh: Elisa Sri Indahati – Research & Development Unit SD

Kita mungkin pernah mengenal seseorang yang nilai akademiknya tidak menonjol di masa sekolah, tetapi berhasil membangun karier yang cemerlang dan mencapai kesuksesan. Hal ini bukan tanpa sebab, melainkan mereka memiliki kelebihan lainnya di luar nilai akademis.

Nilai atau kemampuan akademik seseorang atau yang disebut dengan hard skill (keahlian yang bisa diukur dan bisa dinilai) tidak bisa begitu saja membuat seseorang berhasil atau sukses. Diperlukan juga kemampuan yang disebut dengan soft skill. Apa itu soft skill?

Soft skill adalah kemampuan yang tidak terlihat seperti berpikir kritis, mampu beradaptasi, percaya diri, pantang menyerah, daya juang tinggi, dan lain sebagainya. Lalu, apakah soft skill lebih unggul daripada hard skill atau justru sebaliknya? Tentu saja tidak, keduanya seharusnya memiliki porsi yang sama dalam diri seseorang. Hard skill dan soft skill sama-sama penting.

 

 

Mengapa Soft Skill dan Hard Skill Sama Pentingnya?

Menurut Rhenald Kasali, sudah saatnya orang tua sadar untuk memperhatikan karakter anak sedari dini. Pendidikan bukan hanya sekadar kompetensi kognitif, anak juga memerlukan kemampuan lain seperti survival skills di lingkungan.

Dalam berbagai profesi, hard skill memang menjadi syarat utama untuk masuk ke dunia kerja. Namun, tanpa soft skill yang baik, seseorang akan kesulitan dalam berkolaborasi, menyelesaikan masalah, atau bahkan mempertahankan pekerjaannya. Karena itu, pendidikan karakter sejak dini sangatlah krusial. Anak-anak tidak hanya perlu didorong untuk meraih nilai akademik yang baik, tetapi juga untuk memiliki ketahanan mental, percaya diri, dan kemampuan menyelesaikan tantangan secara mandiri.

Mengharapkan nilai rapor yang baik memang penting, tetapi menolong anak-anak kita untuk tetap memiliki daya juang dan tidak putus asa dalam mengerjakan semua tugas sekolah adalah tugas mulia kita sebagai orang tua.

Pentingnya Soft Skill dalam Pendidikan Anak

Sekolah Athalia terus berusaha untuk mengajarkan ilmu, tetapi juga tetap konsisten untuk membimbing anak-anak untuk memiliki karakter yang akan menolong mereka hidup di tengah masyarakat. Pendidikan karakter tidak saja diberikan dalam bentuk pemahaman, tetapi juga dalam bentuk proyek nyata dalam setiap kegiatan seperti kamp karakter dan kelas shepherding.

Dalam kegiatan-kegiatan ini, siswa diberikan proyek karakter sederhana seperti mencuci piring setelah makan atau merapikan tempat tidur sendiri. Namun, tantangan muncul ketika anak-anak terbiasa dilayani di rumah oleh orang tua atau asisten rumah tangga. Beberapa anak bahkan mengeluhkan bahwa melakukan tugas-tugas ini terasa sulit dan tidak nyaman.

Ketika Kamp Karakter siswa SD menginap di sekolah, ada aktivitas mencuci gelas dan sendok setelah makan malam. Tiba-tiba ada anak yang menggerutu, ”enakan tidur di rumah daripada tidur di sekolah. Kalau di rumah apa-apa sudah disiapin, diambilin, di sini semua disuruh lakuin sendiri, ambil sendiri, nyuci sendiri.”

Pengalaman-pengalaman ini membuktikan bahwa membangun soft skill memerlukan latihan dan konsistensi. Anak-anak perlu diberi kesempatan untuk bertanggung jawab atas tugas-tugas kecil agar mereka terbiasa menghadapi tantangan di masa depan.

Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Peran Orang Tua

Sebagai orang tua, peran kita bukan hanya mendampingi anak dalam mengejar prestasi akademik, tetapi juga membimbing mereka dalam membangun soft skill yang akan membantu mereka bertahan di dunia nyata. Berikan anak-anak kepercayaan untuk melakukan sesuatu khususnya tugas atau proyek yang diberikan sekolah.

Jangan takut bila anak mengalami kegagalan. Bersabarlah ketika mereka mencoba mandiri, meskipun awalnya berantakan atau belum sempurna. Tidak masalah jika mereka kesulitan dalam melakukan sesuatu atau belum berhasil pada percobaan pertama. Yang terpenting, ajarkan mereka untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka dan siap menghadapi konsekuensi dari setiap kesalahan. Orang tua dapat terus mendampingi anak dan membiarkan mereka mengerjakan bagian mereka.

Sudahkan Anda membantu anak mengembangkan soft skill mereka hari ini?

Mundur Selangkah untuk Maju Lima Langkah: Seni Adaptasi

Oleh: Join Silaban – Guru Bahasa Indonesia SMA

Setiap orang menginginkan rencana mereka berjalan sesuai ekspektasi. Namun, ketika realita tidak sejalan, perasaan kecewa dan frustrasi bisa muncul. Akhirnya, situasi yang tidak sesuai ekspektasi itu mungkin akan mencuri damai sejahtera kita dan bisa berakibat fatal hingga depresi.

Namun, kali ini saya harus belajar menerima kenyataan yang tidak sesuai rencana saya. Saya memilih untuk mundur sejenak, mengevaluasi aspek yang perlu diperbaiki, dan berani berinovasi meski ada risiko yang harus saya hadapi. Semua ini saya lakukan dengan tujuan agar dapat melangkah lebih jauh, tidak hanya lima tetapi bahkan sepuluh langkah ke depan.

Hal ini saya alami ketika berhadapan dengan situasi pandemi dan harus beradaptasi dengan sistem belajar online di kelas 10 IPA dan IPS TA 2021/2022.

seni adaptasi

Menguji Fleksibilitas dalam Pembelajaran Online

Kala itu tepat hari Rabu. Saya siap mengajar di kelas 10 IPS 1 di Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di Serpong. Sebelumnya, saya sering mendengar keluhan dari rekan guru tentang siswa yang enggan untuk on camera atau merespons selama pembelajaran daring. Masalah ini menjadi diskusi harian di ruang guru.

“Selamat pagi, Nak! Silakan On Camera!” Saya menyapa kelas dengan penuh semangat. Namun, semangat saya berbanding terbalik dengan suasana kelas online saat itu. Saya seperti berada di kuburan. Dari 24 siswa yang terdaftar di kolom partisipan, hanya ada lima orang yang mengaktifkan kamera, itu pun harus menunggu sekitar lima menit. Lalu satu-satu menyusul sampai akhirnya ada delapan orang.

Sekali lagi, saya sapa mereka. Sahutan “Selamat pagi, Bu!” sayup-sayup terdengar dari salah seorang yang mengaktifkan kamera. Namanya Lola. Lola ini saya percayakan sebagai PIC atau penanggung jawab mata pelajaran di kelas tersebut. Sejenak timbul di pikiran, “Apa mungkin Lola enggan tidak menjawab sapaan saya karena Lola adalah PIC saya?” Saat itu, saya merasa mati gaya.

Sepertinya, saya tidak siap melanjutkan pembelajaran. Namun, saya berpegang pada prinsip lebih baik mundur satu langkah untuk mencapai lima langkah ke depan. Saya memilih berdiam satu menit untuk memikirkan strategi yang dapat membangkitkan semangat kelas dan menciptakan suasana belajar yang lebih merdeka. Dalam momen itu, saya mencoba memahami kondisi para siswa. Saya melihat wajah-wajah mereka di layar laptop—terkurung di ruangan yang sama setiap hari, dengan ruang gerak terbatas akibat kebijakan PPKM darurat level 4. Mereka tidak hanya terjebak secara fisik, tetapi mungkin juga secara mental dan emosional. Apakah mereka merasa jenuh? Lelah? Atau mungkin sedang menghadapi tekanan dari keluarga? Saya menyadari bahwa sebelum menuntut mereka untuk lebih aktif dalam pembelajaran, saya perlu lebih dulu memahami dan berempati terhadap kondisi mereka.

Baca juga : Kunci Berkomunikasi dengan Anak: Buat Lebih Bermakna!

Adaptasi Strategi Baru: Mengubah Metode, Membangun Keterlibatan

Saya menyadari bahwa pendekatan yang terlalu kaku tidak akan efektif dalam situasi ini. Oleh karena itu, saya mengganti strategi. Alih-alih menekan mereka untuk on camera, saya memberi tugas sederhana. Saya meminta mereka mengambil barang favorit di ruangan mereka, serta mencari benda berbentuk segitiga dan lingkaran dari luar ruangan. Saya beri mereka waktu lima menit untuk mencari sebelum nantinya ditunjukkan kepada teman-teman mereka.

Kegiatan ini bermaksud supaya mereka sedikit bergerak dari tempat duduk ataupun ruangan mereka. Setidaknya menepis sedikit gelar untuk anak-anak zaman pandemi, “para kaum rebahan”. Alhasil, mereka refleks mengaktifkan kameranya dan beradu untuk memencet tombol reaksi “raise hand” di fitur google meet yang sedang kami gunakan. Semuanya mengaktifkan kamera.

Ini, Bu. Saya suka bantal, saya suka HP, saya suka biola, saya suka gitar.”

Antusiasme mereka dalam merespons seketika memecahkan keheningan yang ada. Mereka beradu-adu sambil memandangi apa yang dipegang teman-temannya. Hmmm, ternyata seni memberi instruksi juga sangat diperlukan.

Setelah saya menyaksikan api semangat itu ada di wajah mereka, saya berani menyampaikan kegiatan pembelajaran. Mereka akan melaporkan secara live informasi selama PPKM darurat yang telah berlangsung sejak 3 Juli kemarin sampai sekarang. Pertemuan kali ini saya rencanakan untuk mengambil penilaian. Namun, setelah melihat suasana kelas, saya tiba-tiba ada ide untuk mengubah strategi tersebut. Saya sampaikan ke mereka adaptasi rencana tersebut.

Awalnya laporan hasil observasi ditampilkan dengan satu tipe, kini bervariatif, berdiferensiasi. Ada yang menampilkan dalam bentuk pantun, talk show, lagu, presenter, infografis, bermain peran, pun musikalisasi puisi. Alhasil, performa mereka di luar ekspektasi saya. Sebelum waktu yang ditentukan, raise hand bertubi-tubi dan teman-teman sekelas menyaksikan penampilan mereka dengan haru dan penuh apresiasi. Emotikon tepuk tangan di layar menandakan mereka sangat menikmati penampilan temannya. Kami sama-sama bahagia. Inikah yang dinamakan merdeka belajar?

Baca Juga : Membangun Ketahanan Diri pada Anak sejak Dini

Fleksibilitas: Kunci Adaptasi dan Perkembangan

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa dalam situasi yang tidak sesuai harapan, adaptasi adalah kunci. Terkadang, mundur selangkah untuk mengevaluasi dan menyesuaikan strategi bisa membawa kita lebih maju di kemudian hari. Kita perlu siap mengubah strategi, keluar dari zona nyaman, dan terlebih belajar tunduk untuk pengendalian Tuhan bahwa semuanya tidak harus berjalan sesuai rencana kita.

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda menerapkan adaptasi dalam menghadapi tantangan?

Catatan: 
Tulisan ini sudah dimuat dalam buku yang berjudul “Mundur Selangkah Maju Lima Langkah, Sebuah Seni Mengubah Mindset Pecundang Menjadi Pemenang”. Penyunting, J. Sumardianta. Maret 2023. Hal. 96.

Ingin Berpikir Lebih Kritis dan Kreatif? Coba Latihan Ini!

Oleh: Dra. Corrina Anggasurjana, MA, staf Research & Development SMA Athalia

Apakah contoh pembicaraan di atas sudah terjadi dalam komunikasi antara orang tua dan anak? Sudahkan komunikasi antara orang tua dan anak mencakup percakapan yang mendorong anak untuk berpikir? Apakah anak diajak mempertimbangkan berbagai aspek sebelum mengambil keputusan?

Diskusi yang didasarkan pemikiran yang kritis akan menghasilkan kesimpulan yang matang. Proses ini membantu anak belajar mengambil keputusan dengan bijak. Oleh karena itu, orang tua perlu melatih dan membiasakan anak mengembangkan proses berpikir kritis yang benar. Hal ini juga menjadi fokus dalam pendidikan di Indonesia. Salah satu ciri ‘Pelajar Pancasila’ adalah kemampuan bernalar kritis. Apa itu berpikir kritis?

Berpikir kritis atau critical thinking merupakan keterampilan yang memungkinkan seseorang memproses informasi secara objektif, baik kualitatif maupun kuantitatif. Kemampuan ini melibatkan :

  1. Menghubungkan berbagai informasi untuk menemukan pola atau kesimpulan.
  2. Menganalisis dan mengevaluasi informasi sebelum menerima atau menolaknya.
  3. Merefleksikan dan mengevaluasi pemikiran sendiri, sehingga tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan.

Pelajar yang memiliki kemampuan berpikir kritis tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga meneliti, menilai, dan mempertimbangkan berbagai perspektif sebelum mengambil kesimpulan.

Bagaimana Melatih Anak Berpikir Kritis?

Agar anak terbiasa berpikir kritis, mereka perlu mengembangkan beberapa keterampilan penting, misalnya:

  1. Menubuhkan rasa ingin tahu. Sebagai orang tua, kita bisa merangsang keingintahuan anak dengan pertanyaan-pertanyaan yang menantang, seperti “Apakah ada cara pandang lain untuk menyikapi hal ini?”, “Bila kamu yang jadi menteri keuangan, kira-kira solusi apa yang akan kamu ambil?”, dan lain sebagainya. Pertanyaan terbuka ini mendorong anak untuk berpikir lebih dalam dan melihat berbagai sudut pandang.
  2. Kreatif dalam Berpikir. Kreativitas dapat diasah dengan latihan sederhana, misalnya beri satu kata dan minta anak mengajukan tiga pertanyaan yang dimulai dengan kata “jika….”.
  3. Tekun dalam Berpikir. Ketekunan penting agar anak tidak mudah menyerah dalam memecahkan masalah. Ajarkan mereka untuk memikirkan hal-hal yang ada di sekitar situasi tersebut untuk memperluas pemahaman dan wawasan.

Membiasakan anak untuk berpikir kritis akan membuat mereka siap dan mau untuk berusaha mencari informasi yang relavan ketika menghadapi suatu persoalan. Selain itu, anak juga akan lebih percaya diri dalam mengambil keputusan, terlatih menanyakan pertanyaan yang bermakna, mempertimbangkan berbagai alternatif sudut pandang, menggunakan logikanya, menghindari asumsi, dan mempertimbangkan berbagai peluang.

Orang tua harus mendorong anak-anak untuk mencari kebenaran dengan belajar bernalar dan berdebat secara sehat sehingga anak-anak tidak akan hanya menelan apa saja yang ditawarkan kepada mereka tanpa mempertimbangkannya. Anak-anak remaja yang terbiasa berdebat secara sehat dengan orang tuanya akan mengembangkan kemandirian dan keteguhan yang membuat mereka lebih tahan terhadap tekanan teman sebaya, termasuk yang berkaitan dengan narkoba, alkohol, atau pun isu-isu negatif yang mewarnai dunia para remaja.

Baca Juga : Inilah Pesona Matematika yang Tak Banyak Orang Sadari!

Dengan melatih berpikir kritis, anak tidak hanya tumbuh menjadi individu yang cerdas dan logis, tetapi juga memiliki keteguhan dan kepedulian yang akan membawa dampak positif bagi dirinya dan masyarakat.

The simple believes everything, but the prudent gives thought to his steps. Proverbs 14:15 (ESV)

Hati Ayah bagi Keluarga

Oleh: Erika Kristianingrum, peserta Gathering Daddy n Me Day

Seorang ayah memiliki peran besar dalam kehidupan anak-anaknya. Bagi anak perempuan, ayah adalah cinta pertama mereka. Sedangkan bagi anak laki-laki, ayah adalah teladan utama dalam menjadi seorang pria kelak. Namun terkadang, banyak ayah yang tidak menjalankan fungsinya sebagai seorang ayah karena tidak bisa menikmati perannya sebagai seorang ayah. Akibatnya, banyak anak-anak tumbuh tanpa figur ayah yang kuat, sekalipun ayah ada di rumah setiap harinya.

Melihat fenomena ini maka kami berinisiatif untuk mengadakan acara gathering Daddy n Me Day agar relasi ayah dan anak yang renggang dapat diperbaiki.

Gathering Daddy n Me Day

Acara ini dibawakan oleh Bapak Rizal Badudu dan istrinya ibu Rina Badudu. Beliau adalah seorang pembicara sekaligus penulis buku Service Excellence dan Character Excellence. Melalui pengalaman mereka berdua saat mengasuh keempat buah hatinya yang kini sudah beranjak dewasa, mereka berdua berbagi tentang bagaimana seharusnya peran ayah dan bagaimana peran ibu sebagai penolong yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Acara ini dibawakan bukan dalam bentuk pengajaran atau seminar tapi lebih ke praktek-praktek sehingga lebih mengena dan mudah dipahami untuk mengaplikasikannya di dalam keluarga. Ada 4 sesi dalam acara ini, meliputi sesi struktur keluarga, identitas keluarga, bermain bersama, dan perekat keluarga.

Sesi 1 Struktur Keluarga

Dalam sesi pertama, Bapak Rizal dan Ibu Rina mengajak keluarga untuk kembali kepada struktur keluarga yang benar, yaitu Tuhan yang berada di atas keluarga. Struktur ini dilanjutkan dengan peran ayah sebagai pelindung dan penyedia kebutuhan keluarga, lalu ibu sebagai pengelola di rumah, serta anak-anak yang taat dan mengasihi orang tuanya.

Untuk menerapkan konsep ini, setiap anggota keluarga diminta menuliskan hal-hal yang perlu diperbaiki dan dilakukan. Proses ini membantu ayah memahami bahwa hati ayah adalah fondasi utama dalam membangun keluarga yang harmonis.

Sesi 2 Identitas Keluarga

Dalam sesi ini tiap-tiap keluarga diminta untuk membuat poster yang menggambarkan identitas dari keluarga tersebut. Yang dinilai dalam pembuatan poster ini adalah kerjasama dari tiap-tiap anggota keluarga dalam proses pembuatannya. Ada perdebatan, penyampaian pendapat, bekerja sama dan bahagia lagi untuk sebuah tujuan. Proses pembuatan poster ini menggambarkan keseharian masing-masing keluarga dalam menghadapi pergumulan.

Sesi 3 Bermain Bersama

Dalam sesi ini seluruh anggota keluarga diajak untuk bermain games. Ada 5 games yang dimainkan yaitu permainan know your daddy, where is it, merapat yuk, telepati, dan treasure hunt. Selain bekerja sama ada hal yang dipelajari dalam sesi ini yaitu bermain bersama, karena jarang sekali orang tua mau bermain bersama anaknya Dengan bermain bersama masing-masing anggota keluarga bisa saling mengenal satu dengan yang lain.

Sesi 4 Perekat keluarga

Di terakhir ini, masing-masing anggota keluarga diminta untuk menuliskan perasaan dan ucapan terima kasih kepada anggota keluarga yang lain. Kemudian, mereka akan membacakan isi tulisan tersebut.

Bagi sebagian keluarga, mengungkapkan perasaan bukanlah hal yang mudah. Namun, sesi ini membuka kesempatan bagi mereka -terlebih ayah, untuk menunjukkan kasih sayang kepada anak dan pasangan mereka. Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh ayah, memperkuat kembali peran hati ayah dalam keluarga.

Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Menghidupkan Hati Ayah dalam Keluarga

Kami bersyukur acara yang diikuti oleh 110 keluarga dari Komunitas Athalia dapat menjadi berkat bagi mereka. Walaupun lelah karena acara berlangsung dari pagi hingga siang, acara ini cukup berkesan dengan terlihat dari peserta yang menyadari pentingnya untuk mengembalikan struktur yang benar di dalam keluarga sesuai dengan kehendak Tuhan. Setelah mengikuti acara ini, banyak ayah berkomitmen untuk lebih meluangkan waktu bersama anak-anak, terus saling mengenal, dan menerima kelemahan masing-masing anggota keluarga.

“Others things may change us, but we start and end with the family”

Si Kecil Tidak Mau Sekolah Minggu? Coba Terapkan Ini!

Oleh: Elisa Sri Indahati – Staf R&D SD Athalia

Adek gak mau Sekolah Minggu, mau ikut mama aja!”
Adek ngantuk, gak mau sendirian di Sekolah Minggu.”

Kalimat seperti ini sering keluar dari mulut anak-anak kita yang tidak mau pergi ke Sekolah Minggu. Sayangnya, tidak sedikit orang tua yang tidak mau repot dan enggan berdebat dengan anak. Beberapa bahkan menawarkan solusi praktis, seperti membiarkan anak ikut ibadah raya umum dan diberikan hp agar tidak berisik.

Setelah lebih dari 2 tahun masa pandemi menjalani ibadah online, kembali ke Sekolah Minggu secara langsung mungkin terasa sulit bagi anak. Mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru, bertemu teman yang belum dikenal, dan belajar mandiri. Tak jarang, ada anak yang hanya duduk diam di pojok ruangan atau bahkan menangis.

Namun, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk membantu anak merasa lebih nyaman dan bersemangat ikut Sekolah Minggu, lho! Yuk, intip tips berikut ini.

1. Menemani anak di kelas.

Ketika anak menangis dan menolak ke Sekolah Minggu, orang tua sering menyerah dan berakhir membawanya ke ibadah umum. Jika hal ini dilakukan sekali dua kali mungkin tidak masalah. Tetapi jika dibiarkan terus-menerus, anak bisa menjadikannya kebiasaan.

Sebagai alternatif, orang tua bisa menemani anak selama beberapa kali pertemuan pertama. Walaupun berarti harus mengorbankan sedikit waktu ibadah pribadi, hal ini membantu anak merasa lebih aman. Setelah merasa nyaman, anak akan lebih mudah beradaptasi dan bisa belajar menikmati pengalaman rohani ini sendiri.

2. Cari jam ibadah yang cocok dengan kondisi anak.

Beberapa anak menyukai suasana ramai (jumlah kehadiran banyak) karena bisa berbaur tanpa menjadi pusat perhatian. Namun, ada juga anak yang lebih nyaman dengan suasana sepi (jumlah kehadiran sedikit) karena mendapatkan perhatian lebih dari kakak Sekolah Minggu.

Kenalilah karakter anak. Orang tua bisa mencoba membawa anak ke sesi yang berbeda untuk melihat mana yang paling cocok untuk mereka. Setelah menemukan waktu yang tepat, buatlah jadwal rutin agar anak bisa membangun kebiasaan dan menemukan komunitasnya sendiri.

3. Datang lebih awal untuk adaptasi.

Tiba di gereja tepat saat ibadah dimulai bisa membuat anak merasa canggung karena belum mendapat waktu untuk menyesuaikan diri dengan ruang kelas, kakak Sekolah Minggu, dan teman-teman. Untuk itu, datanglah lebih awal, sekitar 10-15 menit, agar anak bisa beradaptasi terlebih dahulu. Pendekatan ini membantu anak merasa lebih tenang dan nyaman sebelum kelas dimulai.

4. Membantu anak berkenalan dengan teman baru.

Anak yang baru beradaptasi cenderung memilih-milih teman. Sebagai orang tua, kita bisa membantu mereka untuk berkenalan dengan teman-teman lainnya. Duduklah di dekat anak lain yang kira-kira cocok, lalu ajak anak untuk berbicara atau bermain bersama. Setelahnya, orang tua dapat menanyakan perasaan mereka mengikuti ibadah hari ini serta perasaan mereka berteman dengan orang baru. Untuk mendorong keterlibatan lebih lanjut, ajak anak membuat kartu ucapan atau membawa hadiah kecil untuk teman barunya di pertemuan berikutnya.

Dengan cara ini, anak akan lebih antusias menunggu hari Minggu karena ingin bertemu temannya lagi.

Baca juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

5. Berikan apresiasi atas perkembangan anak.

Setiap kali anak mengalami progres, berikan penghargaan. Penghargaan tidak harus dalam bentuk barang agar anak tidak fokus pada penghargaan, melainkan rasa bangga atas pencapaian yang telah diraih. Pujian, pelukan, atau ucapan seperti “Mama dan papa bangga adek tadi berani masuk kelas sendiri” sudah cukup untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka. Jika dilakukan dengan konsisten, anak akan mulai melihat Sekolah Minggu sebagai pengalaman yang menyenangkan dan bermakna.

Nah, itu adalah tips untuk orang tua agar si kecil berani dan mau ibadah Sekolah Minggu sejak dini. Demikian tips kecil yang dapat saya bagikan, semoga para orang tua dapat berjuang untuk membawa si kecil mau dan rajin Sekolah Minggu. Tuhan Yesus memberkati!

Kenali Bahasa Kasih Pasangan: Kunci Hubungan Harmonis

Oleh: Tirza Naftali – Staf Chaplain

Ketika kita tinggal di negeri asing, kita pasti akan mati-matian belajar bahasa negara tersebut, bukan? Jika tidak, kita akan kesulitan memahami budaya, cara pikir, bahkan obrolan sederhana. Relasi pun terasa sulit, meski hanya untuk sekadar membeli ikan di pasar.

Begitu pun dengan pernikahan. Namun, kali ini bukan soal belajar bahasa asing, melainkan bahasa kasih. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menunjukkan dan menerima kasih. Jika pasangan tidak memahami bahasa kasih satu sama lain, komunikasi bisa menjadi hambatan besar dalam hubungan.

Ketidaksesuaian bahasa kasih dapat menyebabkan perasaan tidak dimengerti, bahkan berujung pada konflik. Oleh karena itu, memahami bahasa kasih pasangan adalah kunci dalam membangun pernikahan yang sehat dan penuh cinta.

Kenali Bahasa Kasih Pasangan Kunci Hubungan Harmonis

Perbedaan Bahasa Kasih: Konflik atau Kekuatan?

Saya dan suami memiliki bahasa kasih utama yang sama, yaitu sentuhan fisik. Pelukan dan ciuman menjadi bagian dari keseharian kami untuk menunjukkan kasih sayang. Namun, di awal-awal pernikahan, kami kerap memiliki konflik yang berkaitan dengan bahasa kasih kedua kami yang berbeda.

Saya sangat membutuhkan kata-kata penghargaan. Saya merasa dikasihi jika mendapat pujian, apresiasi, atau sekadar ucapan terima kasih. Hal ini dipengaruhi oleh pola asuh keluarga saya sebelumnya yang penuh kritik. Sebaliknya, suami saya menunjukkan kasihnya melalui tindakan pelayanan. Tuhan menganugerahkan saya seorang suami yang betul-betul irit dalam berkata-kata.

Ketika Bahasa Kasih Tidak Dipahami

Di awal pernikahan, komunikasi kami terasa berat. Saya ingin berdiskusi saat konflik terjadi, tetapi suami justru memilih diam. Ada perasaan bahwa saya ingin dipahami, sedangkan dia merasa cukup dengan melayani saya melalui tindakan.

Saya sering merasa frustrasi ketika suami lebih banyak diam saat kami bertengkar. Bahkan, ia bisa tertidur pulas dan berangkat ke kantor esok harinya tanpa berkata apa-apa. Baginya, diam adalah cara menenangkan diri. Namun, bagi saya, diam terasa seperti mengabaikan perasaan saya. Konflik yang tidak segera diselesaikan membuat saya semakin resah.

Suatu kali, setelah satu atau dua hari berlalu, suami baru mendekat, memeluk, dan meminta maaf. Barulah saat itu, saya menangis dan mengungkapkan isi hati. Kami pun berdamai. Terkadang hal itu terjadi karena di siang hari, pada saat kami berada di kantor masing-masing, saya tidak tahan untuk menumpahkan seluruh pikiran pada suami via WA. Saya berpikir bahwa tulisan dapat mengungkapkan pikiran dengan lebih terstruktur dan minim emosi, sehingga suami dapat mengerti dengan lebih baik.

Baca Juga : Athalia Learning Community News Edisi Oktober 2023

Belajar Bahasa Kasih

Kami berkesempatan mengikuti retreat persekutuan pasangan suami istri di gereja. Di sana, kami diberi waktu untuk berbicara dari hati ke hati. Saya akhirnya bertanya langsung kepada suami:

Apa yang sebenarnya kamu rasakan terhadap saya? Kenapa konflik soal kata-kata ini selalu berulang? Kenapa ya kira-kira konflik terkait kata-kata itu sering berulang? Lalu, mengapa kamu begitu sopan dan berkata-kata baik untuk orang lain, tapi sering terkesan ketus kepadaku?”

Suami saya akhirnya mengungkapkan bahwa dalam keluarganya, ia diajarkan untuk sopan di depan orang lain. Namun, kepada keluarga sendiri, ia merasa tidak perlu menjaga tutur kata. Bagi dia, saya adalah bagian dari dirinya, sehingga berbicara dengan singkat dan lugas adalah hal yang wajar. Pada titik ini, saya menyadari bahwa bukan berarti dia tidak peduli. Dia hanya menunjukkan kasih dengan cara yang berbeda.

Selain memahami alasan di balik kebiasaannya, saya juga menyadari sesuatu yang lebih dalam. Suami saya sudah menunjukkan kasih dengan caranya sendiri, tetapi saya terlalu fokus pada keinginan saya. Dia mengganti lampu yang rusak tanpa saya minta dan memasang cantelan di dapur agar saya lebih nyaman memasak. Dia pergi ke minimarket dengan sigap ketika saya butuh sesuatu. Sayangnya, saya buta terhadap semua itu.

Ternyata, luka batin masa lalu saya membuat saya haus akan kasih dengan cara yang spesifik. Saya lebih banyak menuntut daripada menerima. Padahal, suami saya sudah menunjukkan kasih dengan begitu banyak tindakan kecil yang bermakna.

Baca Juga : Perbedaan yang Indah

Mengenali Pasangan: Perubahan yang Dibutuhkan

Saat terjadi konflik, saya mulai menyadari pola yang terus berulang antara saya dan suami. Di satu sisi, suami membiarkan saya untuk meredakan ledakan emosi saya. Dia tidak ingin memperburuk situasi dengan respons yang impulsif. Namun, di sisi lain, sifatnya yang sangat rasional membuatnya takut untuk berkata-kata atau bertindak. Dia khawatir jika salah bicara, itu justru akan memperkeruh suasana.

Saya pun menyadari bahwa mengajak suami untuk langsung berdebat saat konflik memuncak bukanlah solusi yang tepat. Saya juga tidak adil jika memaksanya untuk berbicara ketika dia masih membutuhkan waktu untuk memahami situasi. Faktanya, bukan hanya saya yang perlu waktu untuk meredakan emosi, tetapi suami juga membutuhkan ruang untuk meregulasi pikirannya.

Kami akhirnya menyadari bahwa kami tidak bisa terus-menerus berjalan dengan cara masing-masing. Saya belajar untuk lebih peka terhadap bahasa kasih pelayanan suami. Dia, di sisi lain, mulai berusaha mengungkapkan perasaan dengan kata-kata. Saat konflik, kami mulai membangun kebiasaan baru. Jika suasana memanas, kami berusaha tidak langsung berbicara dengan emosi. Kami belajar untuk berhenti sejenak, memeluk, atau sekadar bertanya dengan lembut: “Apa yang bisa aku lakukan untukmu?

Perbedaan ini menyadarkan kami, sampai maut memisahkan pun, kami harus terus mengenal dan mempelajari pasangan kami. Meski orang berkata “Ah, kalau sudah bertahun-tahun menikah kedip mata saja sudah tahu maksud dia apa”.

Pernikahan bukan soal saling memahami dalam setahun atau dua tahun. Bahkan setelah puluhan tahun, pasangan tetap perlu terus belajar mengenal satu sama lain.

Seperti belajar bahasa asing, jika tidak digunakan, kita bisa melupakannya. Begitu pula dengan bahasa kasih pasangan. Jika tidak dipraktikkan, hubungan bisa terasa hambar dan tanpa makna.

Maka, mari kita terus berjuang untuk memahami dan menggunakan bahasa kasih pasangan kita. Terlebih lagi, mari kita doakan dan serahkan pasangan kita kepada Tuhan, Sang Ahli dari semua bahasa kasih. Karena kasih yang sejati berasal dari-Nya.

Cara Menjadi Orang Tua Terbaik di Tengah Pergumulan

Oleh: Marlene Abigail – Orang tua Kelas TK A

Dalam perjalanan kami menjadi orang tua, kami terus diteguhkan bahwa menjadi orang tua adalah sebuah panggilan. Allah yang memanggil kami untuk menjalankan peran ini dan menitipkan seorang anak, yang sesungguhnya adalah milik-Nya sendiri, untuk kami asuh. Sungguh sebuah panggilan mulia yang kami sambut dengan sukacita dan semangat untuk memberikan yang terbaik.

Dalam menjalankan peran sebagai orang tua, kami tentunya ingin memberikan yang terbaik bagi anak. Dengan kesadaran ini, kami mulai belajar cara pengasuhan yang baik, berusaha menerapkan apa yang benar, berdiskusi, hingga mencari komunitas untuk bertumbuh bersama. Namun di tengah perjalanan, kami mulai menyadari bahwa meskipun kami sudah berusaha memberikan yang terbaik, hasilnya berlum tentu seperti yang kami harapkan.

Belum lagi banyak kisah di sekitar kami yang membuat hati kami kecil. Ada keluarga yang sudah menerapkan prinsip-prinsip pengasuhan dengan baik, tetapi tetap menghadapi tantangan besar dalam membesarkan anak-anak mereka. Ada orang tua yang setia mengajarkan nilai-nilai kebaikan, tetapi tetap harus menghadapi anak yang memberontak atau terjebak dalam pergaulan yang salah. Hal ini membawa kami kepada sebuah perenungan. Apakah kami berusaha menjadi yang terbaik karena kami mengasihi Allah, atau karena kami hanya ingin memastikan anak kami tumbuh tanpa masalah? Bisakah menjadi yang terbaik dinilai dari hasil yang nampak?

Baca Juga : Waspada! Ini 10 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua

Menjadi yang Terbaik: Tunduk pada Rencana Allah

Dalam bukunya Bijak Menjadi Orang Tua, Paul David Tripp menuliskan bahwa pengasuhan bukanlah tentang menggunakan kuasa untuk mengubah anak-anak kita. Pengasuhan adalah tentang kesetiaan yang rendah hati dalam kesediaan untuk berpartisipasi dalam karya pengubahan Allah demi kebaikan anak-anak kita. Dari sini kami belajar bahwa pengasuhan adalah urusan antara orang tua dengan Allah, bukan sekadar hubungan antara orang tua dan anak. Kita tidak dipanggil untuk membentuk anak sesuai dengan keinginan kita sendiri. Manusia tidak bisa mengubah hati siapa pun, hanya Allah yang mampu membawa perubahan sejati dalam hati anak-anak kita.

Kami belajar bahwa menjadi terbaik dimulai dengan menyadari bahwa kita hanyalah perpanjangan tangan Tuhan. Setiap hari, kita membutuhkan hikmat dan kuasa-Nya untuk menjalankan panggilan sebagai orang tua. Menjadi terbaik bukan dinilai dari apakah kita memiliki anak yang baik, penurut, berprestasi, bisa dibanggakan di social media, di mana kemudian kita merasa bahwa ini adalah karya kita, Allah hanyalah partisipan yang kita undang untuk menjaga anak kita tetap baik. Malah menjadi kengerian tersendiri, apakah anak-anak yang baik ini mengenal dan mengasihi Allah?

Menjadi yang terbaik artinya sedia untuk taat dan setia kepada Allah yang punya urusan pengasuhan ini. Hal ini ditujukan supaya kita setia tunduk dalam doa dan menyerahkan segala proses kepada Tuhan. Tidak hanya itu, hal ini juga dilakukan agar kehendak Allah terjadi atas anak-anak kita, sehingga mereka mengenal dan mengasihi-Nya seumur hidup. Kami rindu Allah mendapati kita semua taat dan setia di akhir perjalanan kita sebagai orang tua nantinya. Mari terus bersedia dan setia menjadi orang tua yang terbaik, di mata Allah. Salam.