Cara Efektif Menetapkan Batasan untuk Anak Remaja

Oleh: Erika Kristianingrum, orang tua siswa 8R dan 4E

“Bunda jahat… aku mau ganti orang tua aja, semua yang aku lakuin salah!”

Begitulah teriakan putri pertamaku yang saat itu sudah beranjak dewasa. Ia marah ketika saya merebut HP-nya saat ia sedang sibuk chatting di WA dengan teman-temannya sementara ia sedang mengikuti pembelajaran online.

“Ya… memang kamu salah karena tidak memperhatikan gurumu malah sibuk chatting,“ sahut saya. Namun, setelah berkata demikian, saya hanya terdiam. Kata-katanya terasa seperti tamparan keras bagi saya. Saya sadar bahwa sebagai orang tua, saya sering gagal dan perlu berubah. Saya harus berubah agar anak saya juga bisa berubah!

Sebagai orang tua, kita sering kali bingung bagaimana menetapkan batasan untuk anak remaja. Jika terlalu banyak aturan, mereka bisa memberontak dan menjauh dari orang tua. Di sisi lain, jika terlalu longgar di usia mereka yang baru masuk pada masa peralihan, mereka bisa kehilangan arah. Remaja sedang berada dalam masa peralihan. Mereka ingin memiliki otonomi sendiri, tetapi masih butuh bimbingan. Terkadang, pilihan mereka tidak sesuai dengan harapan kita. Namun, mereka tetap perlu belajar mengambil keputusan untuk masa depan mereka sendiri.

Untuk mengatasi kebingungan ini, saya memutuskan untuk memulai dengan menerima keadaannya. Saya paham bahwa mengikuti sekolah online mungkin bukanlah hal yang mudah bagi anak saya. Ia pasti merasa bosan. Di sisi lain, HP adalah satu-satunya hal yang bisa menghiburnya walaupun dapat mengganggu konsentrasinya. Tetapi, saya pun harus tetap menetapkan batasan untuk anak saya agar ia tetap bertanggung jawab.

Baca Juga : Si Kecil Tidak Mau Sekolah Minggu? Coba Terapkan Ini!

Cara Efektif Menetapkan Batasan untuk Anak Remaja

Cara Menetapkan Batasan untuk Anak agar Tidak Menimbulkan Konflik

Saya sadar bahwa menetapkan batasan harus dilakukan dengan cara yang tepat. Berikut beberapa hal yang saya lakukan dalam membuat batasan agar tetap dihormati oleh anak tanpa menimbulkan konflik:

  1. Berdiskusi tentang Batasan yang Diterapkan.
    Hal ini saya terapkan khususnya dalam membahas terkait aturan menggunakan HP. Saya akan mendengarkan kebutuhannya dan menjelaskan apa yang harus ia lakukan. Dari diskusi ini, kami akhirnya memperoleh beberapa kesepakatan yang harus dijalani bersama sebagai orang tua dan anak. Dengan ini, anak akan merasa lebih dihargai karena pendapat dan perasaannya didengarkan.
  2. Mengubah Cara Menegur menjadi Lebih Santai.
    Saya juga menyadari bahwa cara menegur sangat berpengaruh terhadap reaksi anak. Oleh karena itu, saya mengubah cara saya berbicara kepada anak saya menjadi lebih santai dan menggunakan intonasi yang lebih lembut. Selain itu, saya tidak akan menegurnya saat sedang capek, lapar, atau mengantuk. Saya sadar bahwa jika saya menegurnya dalam kondisi tersebut, kemungkinan besar justru akan terjadi konflik.

New Features : The Discipline of Choosing Right

Ternyata, setelah saya mengubah diri saya dan berusaha untuk berkomunikasi lebih baik, batasan-batasan yang telah disepakati dapat berjalan tanpa konflik. Sekarang, setiap kali aku bertanya kepadanya, “Masih mau ganti orang tua?”, dengan mantap ia akan menjawab, ‘Tidak… bunda tetap yang terbaik.” Kami pun tertawa bersama.

Tips Mendampingi Anak TK dan SD Kembali Sekolah Onsite

Oleh: Chandria Wening Krisnanda (Konselor Bina Karir Sekolah Athalia)

Situasi Saat Ini

Belakangan, kasus harian orang yang terpapar COVID-19 tidak sebanyak dulu. Bahkan, per 17 Mei 2022 Jokowi mengumumkan bahwa masyarakat diperbolehkan tidak menggunakan masker ketika berkegiatan di luar ruangan atau di area terbuka yang tidak padat orang (Nugraheny, 2022). Kondisi ini mendorong sekolah-sekolah mulai memberlakukan sistem pembelajaran onsite di semester depan.

Bagi beberapa anak TK dan SD, kembali belajar di sekolah setelah lebih dari dua tahun menjalani PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) membutuhkan proses penyesuaian. Orang tua perlu membantu anak agar merasa nyaman ketika menjalani masa transisi ini. Bagaimana caranya? Dalam laman resminya, UNICEF menyebutkan beberapa tips yang dapat dilakukan orang tua.

Tips Bagi Orang Tua Mempersiapkan Anak Kembali Belajar Secara Onsite

1. Dengarkan anak

Dengarkan dengan saksama ketika anak bercerita tentang kekhawatirannya. Untuk anak yang berusia lebih kecil, kita dapat melakukan role play di rumah yang menggambarkan situasi “back to school”. Orang tua juga bisa mengajak anak menggambar bersama untuk setiap tahapan yang harus mereka lakukan nantinya saat kembali ke sekolah.

2. Membantu anak membuat persiapan

Dampingi anak untuk mempelajari aturan-aturan baru saat mereka kembali ke sekolah. Jangan lupa untuk mendiskusikan tentang apa yang mereka rasakan. Jika ada hal penting yang diceritakan anak, maka kita dapat mengomunikasikannya dengan guru mereka.

3. Tetap tenang

Ingatlah bila anak usia TK dan SD sangat mudah menyerap dan meniru respons orang tuanya terhadap suatu peristiwa. Kita perlu tetap bersikap tenang agar anak dapat merasa lebih nyaman dan aman.

4. Buatlah rencana perpisahan

Untuk anak yang berusia lebih besar, kita dapat mencoba beberapa cara berikut jika ia kesulitan menghadapi perpisahan dengan orang tua.

  • Berikan kesan perpisahan yang positif.
  • Beri tahu anak bahwa akan ada momen “perpisahan sementara”.
  • Ceritakan dengan kata-kata yang jelas dan mudah dipahami.
  • Ingatkan ke anak bahwa kita akan bertemu kembali dengan mereka.
  • Jangan terlihat ragu-ragu saat melakukan perpisahan.
  • Jemput mereka tepat waktu dan sesuai dengan rencana.
  • Lakukan kebiasaan yang sama setiap kali akan mengantar dan menjemput anak.

Kita bisa menjadikan momen kembali ke sekolah sebagai proses belajar bagi anak untuk lebih dewasa dalam menghadapi “perpisahan”. Yang perlu diperhatikan orang tua adalah cara berkomunikasi dengan anak sesuai dengan usianya. Jika anak berhasil melalui proses ini, maka ia akan belajar lebih mandiri dan cepat beradaptasi untuk hal atau kebiasaan baru lainnya.

Referensi:

Nugraheny. (2022). Jokowi Bolehkan Warga Lepas Masker di Area Terbuka. Diakses pada tanggal 19 Mei 2022, https://nasional.kompas.com/read/2022/05/17/17235791/jokowi-bolehkan-warga-lepas-masker-di-area-terbuka.

UNICEF.  (n.d.). How to Support Your Child through Reopening. Diakses pada tanggal 10 Mei 2022, https://www.unicef.org/coronavirus/support-child-covid-reopening.

Manfaatkan Pandemi untuk Mengembangkan Potensi Diri Remaja

Ratu Putri Hiemawan dari kelas X IPS 1.

Mengembangkan Potensi Diri di Masa Pandemi

Pernahkah merasa malas mengembangkan potensi diri, atau merasa masa remaja terbuang sia-sia? Padahal, remaja dan pemuda merupakan penentu masa depan bangsa. Beberapa tahun ke depan, Indonesia akan dipimpin oleh generasi muda yang saat ini sedang tumbuh dan berkembang.

Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, pernah berkata:

“Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.”

Kutipan ini menegaskan besarnya peran pemuda dalam kemajuan bangsa. Terlebih di masa pandemi, kreativitas dan kontribusi generasi muda sangat dibutuhkan untuk menciptakan inovasi baru yang bermanfaat.

Salah satu contoh nyata adalah hadirnya situs Aku Pintar, yang didirikan oleh Lutvianto Pebri Handoko (kelahiran 1993). Platform ini membantu pelajar menemukan minat, bakat, gaya belajar, dan jurusan kuliah secara daring. Hal ini membuktikan bahwa pemuda tetap mampu mengembangkan potensi diri di tengah keterbatasan pandemi.

Peran Teknologi Digital dalam Pengembangan Potensi Diri

Saat ini, Indonesia berada di era revolusi industri 4.0, di mana teknologi menjadi kunci utama kemajuan bangsa. Menurut data Tekno Kompas (2021), jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta jiwa, dan 49,5% di antaranya berusia 19–34 tahun.

Fakta ini menunjukkan bahwa remaja dan pemuda adalah generasi yang paling akrab dengan teknologi. Oleh karena itu, sudah seharusnya teknologi dimanfaatkan secara maksimal untuk mengembangkan potensi diri selama pandemi, bukan hanya untuk hiburan semata.

Setiap Orang Memiliki Potensi yang Unik

Setiap individu memiliki potensi yang berbeda-beda. Ada yang unggul di satu bidang, ada pula yang memiliki banyak bakat. Namun, setiap orang memiliki peluang yang sama untuk sukses, tergantung pada kemauan untuk menemukan dan mengembangkan potensinya.

Sayangnya, masih banyak siswa yang:

  • Belum menemukan potensi dirinya
  • Sudah menemukan potensi, tetapi malas mengembangkannya
  • Menjadikan pandemi sebagai alasan untuk berhenti berkembang

Padahal, keterbatasan bukanlah alasan untuk menyerah.

Kendala Mengembangkan Potensi Diri di Masa Pandemi

1. Kendala Pembelajaran Daring dan Akses Teknologi

Pembelajaran daring dinilai kurang efektif oleh sebagian siswa karena:

  • Minimnya interaksi langsung
  • Keterbatasan akses internet di beberapa daerah
  • Adaptasi yang belum maksimal

Indonesia yang memiliki wilayah luas masih menghadapi kesenjangan akses teknologi, sehingga menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan potensi diri.

2. Faktor Internal yang Menghambat

Beberapa faktor internal yang sering menghambat pengembangan potensi diri antara lain:

  • Tidak memiliki tujuan hidup yang jelas
  • Kurangnya rasa percaya diri
  • Minimnya motivasi
  • Terjebak dalam zona nyaman
  • Trauma terhadap kegagalan

Rasa takut gagal memang wajar, tetapi jangan sampai kegagalan menghentikan proses belajar dan berkembang.

3. Faktor Eksternal dari Lingkungan

Selain faktor internal, faktor eksternal juga berpengaruh besar, seperti:

  • Stigma masyarakat (misalnya seni dianggap tidak menjanjikan)
  • Stereotip gender (tari dan kecantikan hanya untuk perempuan)
  • Kurangnya apresiasi dari lingkungan sekitar

Padahal, apresiasi sekecil apa pun dapat meningkatkan motivasi, terutama bagi mereka yang baru memulai.

Masa Remaja sebagai Waktu Terbaik Mengembangkan Potensi Diri

Masa remaja bukan hanya waktu untuk bersenang-senang, tetapi juga masa penting untuk:

  • Mengenali bakat dan minat
  • Menentukan jurusan kuliah
  • Mempersiapkan masa depan

Salah memilih arah karena tidak mengenal potensi diri dapat berdampak besar di kemudian hari.

Cara Menemukan dan Mengembangkan Potensi Diri

1. Mengenali Diri Sendiri

Luangkan waktu untuk:

  • Mendengarkan suara hati
  • Jujur pada diri sendiri
  • Merefleksikan hal-hal yang disukai sejak dulu

Pandemi justru memberikan lebih banyak waktu untuk introspeksi diri.

2. Berani Mencoba Hal Baru

Cobalah:

  • Webinar
  • Lomba daring
  • Kegiatan online lainnya

Jangan takut gagal, karena kegagalan adalah bagian dari proses menuju versi terbaik diri sendiri.

3. Mengembangkan Potensi secara Daring

Manfaatkan teknologi untuk:

  • Mencari sumber belajar
  • Menonton video edukatif
  • Mengikuti seminar dan perlombaan online

Internet membuka peluang tanpa batas bagi siapa pun yang mau berusaha.

Webinar, Lomba, dan Komunitas sebagai Sarana Pengembangan Diri

Mengikuti webinar memberikan banyak manfaat, seperti:

  • Materi pengembangan diri
  • Wawasan baru
  • Tips praktis dari para ahli

Selain itu, perlombaan daring memberikan kesempatan lebih luas karena tidak terhambat jarak dan biaya perjalanan.

Bergabung dengan komunitas sesuai minat melalui media sosial juga penting untuk:

  • Bertukar informasi
  • Belajar dari pengalaman orang lain
  • Mendapatkan dukungan dan motivasi

Tips Menghadapi Kesulitan dalam Mengembangkan Potensi Diri

Beberapa hal yang dapat dilakukan saat menghadapi kesulitan:

  • Menanamkan komitmen dan tujuan yang jelas
  • Menjadikan orang tua atau cita-cita sebagai motivasi
  • Tetap konsisten meskipun kondisi tidak ideal

Saya sendiri mengalami kesulitan saat les piano daring karena delay dan koneksi internet. Namun, dengan motivasi untuk cepat lulus dan membanggakan orang tua, saya tetap berusaha maksimal.

Bahkan, saya memanfaatkan pandemi dengan mengikuti ujian ABRSM secara daring, yang justru memberikan banyak keuntungan dibandingkan ujian tatap muka.

Kesimpulan: Pandemi Bukan Penghalang untuk Berkarya

Pandemi memang membawa banyak keterbatasan, tetapi juga membuka peluang baru. Dengan motivasi yang tepat, kemauan beradaptasi, dan pemanfaatan teknologi, kita tetap bisa mengembangkan potensi diri secara optimal.

Ingatlah, pandemi bukan alasan untuk berhenti berkarya.
Mari manfaatkan masa pandemi ini sebaik mungkin untuk mengembangkan potensi diri dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Daftar Pustaka:

Riyanto, G. P. (2021). Jumlah Pengguna Internet Indonesia 2021 Tembus 202 Juta. Diakses pada 11 Oktober 2021, dari https://tekno.kompas.com/read/2021/02/23/16100057/jumlah-pengguna-internet-indonesia-2021-tembus-202-juta

Anwar, Fahrul. (2021). Lutvianto Pebri Handoko : Bantu Pelajar Dalam Memilih Minat dan Jurusan. Diakses pada 11 Oktober 2021, dari https://youngster.id/technopreneur/lutvianto-pebri-handoko-bantu-pelajar-dalam-memilih-minat-dan-jurusan/

Rahasia Hubungan yang Baik dan Harmonis

Oleh: Tirza Naftali, orang tua siswa.

Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan (1 Tesalonika 5: 11).

“Kaulah yang terbaik.”

Ketika mendengar frasa ini, kita langsung tahu bahwa frasa ini diucapkan untuk memberikan dukungan/peneguhan. Ketika frasa ini disampaikan kepada orang lain, bisa memberikan dukungan dan bersifat membangun. Kita bisa mengucapkan frasa ini dengan tulus jika memiliki unconditional love (kasih tanpa syarat) dan penerimaan terhadap orang lain.

Bagi orang percaya, dua hal tersebut bisa kita peroleh melalui Kristus karena melalui-Nya Allah mengasihi dan menerima kita tanpa syarat: “…
Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa
.” (Roma 5: 8)

Gambar oleh Bpk. Rizal & Ibu Rina Badudu.

Kasih tanpa syarat ini idealnya kita praktikkan kepada orang lain
sebagai dasar dalam berelasi,
terutama kepada pasangan dan anak. Ketika hal ini terus-menerus dipraktikkan, akan membentuk sebuah siklus yang dapat semakin memperkuat relasi dengan orang lain.

Pada kesempatan ini, saya akan membagikan penerapan kasih tanpa syarat antara saya dan suami. Saya dan suami memiliki bahasa kasih terkuat yang sama, yaitu sentuhan fisik. Bahasa kasih kedua kami yang berbeda—saya membutuhkan kata-kata penghargaan, sedangkan suami menunjukkan kasih melalui pelayanan. Perbedaan ini kerap menjadi sumber konflik.

Baca Juga : Penyertaan Tuhan Itu Nyata? Ini Buktinya

Valentines Day concept isolated person situations. Collection of scenes with people celebrating romantic holiday, couples on date, love relationship. Mega set. Vector illustration in flat design

Menerapkan Kasih Tanpa Syarat dalam Hubungan Pasangan

Saya tumbuh dalam lingkungan yang minim kata-kata dorongan, sehingga merasa kekurangan dan berharap pasangan serta anak mengisinya. Sementara itu, suami dididik dalam budaya keluarga yang irit berbicara, mengutamakan kesopanan kepada orang lain, dan menghindari konflik demi ketenangan rumah. Latar belakang pola asuh kami ini juga terbawa ke dalam relasi kami sebagai suami istri.

Ketika konflik muncul, suami saya cenderung untuk diam. Suami saya bahkan bisa dalam beberapa hari “membiarkan” saya yang juga sedang diam. Padahal, di dalam pikiran, saya sangat gelisah. Saya berburuk sangka, merasa tidak dikasihi, karena tidak ada penyelesaian atas masalah kami (bahkan kata “maaf). Selain itu, suami juga kurang mengekspresikan penghargaan kepada saya. Padahal kepada orang lain, dia sangat sopan, tetapi kepada saya, kata-katanya terasa lebih lugas seperti, “Eh, lempar kunci, dong!” atau “Ma, piring, dong!” Padahal, saya sangat membutuhkan kata-kata seperti “maaf,” “tolong,” dan “terima kasih.”

Situasi seperti demikian membuat saya merasa tidak nyaman. Bersyukur kepada Tuhan, pada 2018 yang lalu gereja kami mengadakan retret pasutri yang dibawakan oleh GI. Julimin dan alm. GI. Wei Tjen. Di acara tersebut, kami diberi kesempatan mengobrol berdua dan di situ kami saling mengungkapkan isi hati satu sama lain.

Suami saya tumbuh dalam lingkungan yang menekankan kesopanan kepada orang lain, tetapi kurang dalam penerimaan diri. Setelah menikah, ia menganggap saya bagian dari dirinya, sehingga merasa tidak perlu menjaga kesopanan seperti kepada orang lain. Suami saya merasa sudah memberikan seluruh cintanya melalui tindakan pelayanan yang dia lakukan kepada saya, tetapi saya tidak bisa merasakan kasihnya karena tidak sesuai dengan bahasa kasih saya. Bagi suami saya, mengucapkan kata “maaf”, “terima kasih”, “tolong” kepada inner circle, termasuk dirinya sendiri, bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Saat konflik, ia lebih memilih diam, bukan karena tidak peduli, tetapi karena takut ucapannya justru memperburuk keadaan.

Langkah Praktis dalam Membangun Hubungan yang Lebih Baik

Ketika mendengarkan isi hati suami, saya merasa sedih karena selama ini saya kesulitan memahami dan menerima dia apa adanya. Padahal, dia sudah begitu berjuang menunjukkan kasihnya kepada saya. Setelah itu, kami bersama-sama mengambil langkah praktis yang terus-menerus dipraktikkan hingga sekarang dan harapannya bisa kami lakukan terus ke depannya.

Berikut beberapa hal yang kami sepakati.

  1. Berjuang bersama Roh Kudus untuk memulihkan diri dari luka masa lalu dengan cara memulihkan relasi saya dengan orangtua. Ketika saya bersedia diproses oleh Tuhan, saya semakin dipulihkan. Relasi saya dengan suami dan anak pun menjadi jauh lebih baik.
  2. Bersedia untuk terus belajar mengasihi satu sama lain dengan bahasa kasih yang sesuai dengan yang diharapkan pasangan.
  3. Berlatih untuk tidak menghakimi pasangan. Ketika sisi gelap salah satu dari kami muncul, pasangan tidak menghakimi dengan berkata, “Tuh,
    kan gua bilang juga apa, kebiasaan sih!”, “Kamu kok, gitu terus, sih”, dan lain-lain.
  4. Mendisiplinkan diri dengan bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan untuk kamu/kita dalam menghadapi kelemahan/konflik ini?” Tidak ada lagi “saya vs kamu”. Yang ada adalah “kita vs masalah”.
  5. Menjadi penolong, bukan perongrong. Setiap pagi sebelum beraktivitas, kami akan bertanya, “Mau didoakan apa?” Selain itu, kami terus memegang prinsip: “Kamu memang tidak sempurna, saya pun begitu. Namun, kamu tetaplah yang terbaik yang Tuhan berikan kepada saya.”

Baca Juga : Athalia Leaning Community Nomor 5 Tahun 2021

Ketika kita sedang berada di titik rapuh, kita pasti rindu untuk direngkuh. Oleh karena itu, dari pada memberikan respons berupa penolakan, penghakiman, atau ketidakmengertian, sudahkah kita merangkul sesama, memberinya yang terbaik dalam ketenangan, hiburan, dan penguatan?

Memahami Dukacita

Oleh: Agape Ndraha, staf Sekolah Athalia

Memahami Dukacita

“Andaikan aku memintanya untuk tetap di rumah saja…”

“Ini RS pasti gak menangani dengan benar…”

“Aku gagal… aku ga mampu menyelamatkan nyawanya… mestinya aku lebih cepat membawanya ke RS…”

Kehilangan seseorang yang dikasihi, apalagi yang selama ini menjadi belahan jiwa, akan menimbulkan dukacita yang mendalam. Ini adalah emosi yang bisa sangat menguasai seseorang dan tidak mudah untuk dihadapi, apalagi bila terjadi secara mendadak. Respons yang muncul umumnya adalah penyesalan, kegundahan yang besar karena meyakini bahwa seharusnya kehilangan ini bisa dihindari, andai saja…

Elizabeth Kübler-Ross dan David Kessler dalam bukunya On Grief and Grieving menuliskan bahwa seseorang yang mengalami grief atau dukacita umumnya akan masuk dalam lima tahap. Tahapan ini tidaklah baku karena manusia adalah individu yang unik. Duka yang dialami atas peristiwa yang sama bisa menimbulkan respons emosi yang berbeda antara satu individu dengan yang lain. Grief bersifat individual sehingga tidak semua orang menjalani pola yang sama dan dalam jangka waktu yang sama. Teori mengenai Five Stages of Grief ini diberikan sebagai upaya menolong seseorang yang mengalami dukacita untuk setidaknya memiliki gambaran tentang apa yang akan dilaluinya, dan untuk mengenali emosi-emosi yang mungkin akan dialami saat berduka.

1. Denial (Penyangkalan)

 “Rasanya gak percaya dia tidak akan pernah duduk di kursi itu lagi…”

“Dia seperti hanya sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota seperti biasa, dan sebentar lagi akan menelepon saya…”

Tahap pertama ini tidak berarti seseorang sengaja mengingkari realitas yang ada. Namun kabar yang begitu tiba-tiba bisa membuatnya diserang shock yang hebat dan tak mampu lagi merasa. Bagai terputus dari ruang dan waktu. Respons seperti ini sering kali muncul karena realitas itu terlalu berat untuk ditanggung oleh jiwa. Berita kematian terasa tidak nyata, seperti mimpi, karena otak tidak mampu memrosesnya. Dalam tahap ini, tanpa disadari denial sedang menolong seseorang yang berduka untuk mengelola perasaan, memberinya waktu untuk sedikit berjarak dengan dukacitanya. Tahap ini membawa anugerah tersendiri karena secara natural seseorang akan mampu menerima tekanan hanya sebatas kekuatannya saja. Bila tahap ini tidak hadir, munculnya emosi yang membludak dengan begitu tiba-tiba bisa sangat mengguncangkan.

Di tahap ini mereka yang berduka akan banyak bercerita tentang orang yang dikasihi tersebut, tentang masa akhir hidupnya, rencana yang belum tercapai, dan cerita lain. Ini adalah cara pikiran beradaptasi dengan realitas. Dengan melakukan hal ini, penyangkalan perlahan mulai hilang dan realitas muncul dengan jelas di depan mata, membawa orang masuk ke tahap berikutnya: mencari jawaban. “Mengapa ini semua terjadi, apakah sebenarnya bisa dicegah?”, atau “Apa salahku sehingga pantas menerima ini?” Pada akhirnya, dengan banyaknya pertanyaan yang mulai bermunculan, makin menguat kesadaran bahwa kehilangan itu nyata. Penyangkalan mulai reda seiring dengan proses ini. Berbagai emosi mulai muncul ke permukaan.

Baca Juga : Athalia Learning Community News Nomor 3 Tahun 2021

2. Anger (Amarah)

Setelah melalui tahap penolakan, seseorang mulai menyadari bahwa mereka mampu bertahan. “Aku masih di sini… Aku masih bisa menghadapi semuanya…” Namun, di balik kesadaran itu, muncul berbagai emosi yang menyakitkan seperti marah, sedih, panik, kecewa, dan kesepian. “Kenapa ini terjadi padaku? Aku tidak pantas menerima ini! Aku belum siap!”

Kemarahan bisa tertuju ke mana saja—pada orang yang telah pergi, pada diri sendiri yang merasa tidak berdaya, atau bahkan pada Tuhan. “Kenapa kamu pergi dan meninggalkanku? Kenapa tidak lebih berhati-hati?” Amarah juga bisa muncul sebagai bentuk protes kepada Tuhan, mempertanyakan kehadiran-Nya di tengah penderitaan.

C.S. Lewis dalam A Grief Observed menggambarkan rasa kehilangan dengan begitu jujur: Ketika kita bahagia, Tuhan terasa dekat. Namun, saat kita dilanda duka dan mengetuk pintu-Nya, justru kita merasakan keheningan yang menyakitkan. Tahap kemarahan adalah bagian dari proses berduka yang perlu diterima. Luapkan kemarahan dengan cara yang sehat. Misalnya seperti berbicara dengan orang terdekat, menulis, berteriak di tempat yang aman, atau menyalurkannya melalui aktivitas fisik. Semakin kita mengizinkan diri merasakannya, semakin cepat kemarahan mereda.

Menurut Dr. Jill Bolte Taylor, reaksi kimia akibat emosi hanya bertahan 90 detik. Namun, jika seseorang terus merasa marah atau sedih berkepanjangan, itu sering kali disebabkan oleh pikirannya sendiri yang terus menghidupkan kembali perasaan itu. Dengan mengelola emosi, kemarahan akan berlalu. Ketika amarah mereda, muncul emosi lain—kesedihan, frustrasi, atau bahkan iri pada mereka yang tidak mengalaminya. Menghadapi setiap emosi dengan kesadaran akan membantu kita perlahan pulih.

3. Bargaining (Tawar-menawar)

Fase berikutnya yang umum terjadi adalah pikiran yang terus melayang ke masa sebelum dukacita… “Kalau aku lebih banyak berbuat baik, akankah semua ini berubah jadi sekadar sebuah mimpi buruk?” atau “Kalau saja aku lebih memahami dirinya, mungkinkah dia akan lebih sehat danlebih kuat bertahan…?” Rasa bersalah adalah emosi yang umumnya mendasari fase ini. Kalimat seperti “Tuhan, tolonglah…aku akan lakukan apa pun agar dia kembali…” merupakan respons khas yang dapat muncul juga di fase ini. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, Kübler-Ross dan Kessler menuliskan bahwa tahap demi tahap tidak selalu bersifat linear. Seseorang yang berdukacita dapat kembali lagi ke fase sebelumnya, atau bahkan melewati salah satu fase.

Sama seperti pada fase yang lain, penting untuk menerima emosi yang muncul. Rasa bersalah dan tawar-menawar yang dilakukan adalah bagian upaya untuk keluar dari rasa sakit akibat kehilangan, upaya mengalihkan diri dari kepedihan yang sebenarnya. Mereka yang berduka tahu bahwa tawar-menawar tak akan mengembalikan orang yang dikasihinya, tetapi tetap melakukannya selama beberapa waktu karena dapat memberi kelegaan walau sesaat. “Tuhan, bagaimana bila aku saja yang mati dan jangan dia?”  Pikiran-pikiran semacam ini akan terus muncul. Seiring pikiran memproses seluruh tawar-menawar itu, akan muncul kesadaran mengenai realitas yang sesungguhnya: orang terkasih sudah benar-benar pergi selamanya!

4. Depression (Depresi)

Perasaan hampa mulai muncul, sementara dukacita semakin mendalam. Namun, penting untuk memahami bahwa perasaan ini bukan gangguan mental, melainkan respons alami terhadap kehilangan yang besar. Ada keengganan menjalani hari, keinginan untuk tetap berada dalam kesedihan, dan pertanyaan tentang makna hidup. “Mengapa harus bangun? Untuk apa makan? Apa gunanya semua ini jika harus dijalani sendirian?”

Banyak orang berusaha mencegah mereka yang berduka agar tidak tenggelam dalam depresi. Kondisi ini sering dianggap tidak wajar dan perlu segera diatasi. Padahal, dalam proses berduka, depresi adalah bagian yang alami. Justru aneh jika kesedihan mendalam tidak menimbulkan perasaan tersebut.

Dalam konteks dukacita, depresi berfungsi sebagai mekanisme perlindungan. Sistem saraf secara alami menutup diri agar seseorang tidak langsung menghadapi emosi yang terlalu berat. Oleh karena itu, mendesak seseorang untuk segera pulih justru bisa memperburuk keadaan. Ibarat badai yang sedang mengamuk, memaksanya “keluar” terlalu cepat sama dengan memaksanya menghadapi gelombang besar tanpa persiapan.

Depresi bukan perasaan yang nyaman, tetapi cara terbaik menghadapinya adalah dengan menerimanya. Mengabaikannya hanya akan membuatnya terus menghantui. Seiring waktu, perasaan ini akan mereda, dan kehidupan perlahan berjalan kembali. Namun, dukacita tidak benar-benar hilang. Dari waktu ke waktu, rasa pedih itu mungkin datang lagi.

Seorang ibu yang kehilangan anaknya berkata, “Saya pikir sudah lebih baik, tetapi depresi itu kembali menghantam saya. Saya tahu, satu-satunya cara menghadapi badai ini adalah dengan melaluinya.”

5. Acceptance (Penerimaan)

Banyak yang mengira acceptance terjadi ketika kita bisa menerima kehilangan dan menganggapnya sebagai peristiwa yang biasa saja. Namun, acceptance bukanlah seperti itu. Tahap ini adalah tentang menerima kenyataan bahwa dia yang kita kasihi telah meninggalkan kita selamanya. Kita tak akan pernah menyukai realitas ini atau merasa baik-baik saja. Namun, pada akhirnya kita akan menerimanya dan belajar untuk hidup berdampingan dengan rasa kehilangan ini. Kita mungkin akan berhenti marah kepada Tuhan, berhenti mencari jawaban, dan menerima bahwa memang sudah waktunya kekasih hati kita pergi. Sementara bagi kita, inilah waktunya untuk sembuh.

Dengan berjalannya waktu, ketika kita sedikit demi sedikit belajar hidup berdampingan dengan realitas, kita akan melihat bahwa ada hal-hal yang perlu diselaraskan karena hidup telah berubah selamanya. Kita perlu mengatur ulang peran kita, melepaskan tanggung jawab yang tak bisa kita pikul, dan melakukan penyesuaian lainnya. Acceptance adalah proses yang membutuhkan waktu. Griefing antara satu orang dengan yang lainnya berbeda karena sifatnya yang sangat personal.

Sedikit demi sedikit, energi yang kita curahkan pada kepedihan akan teralih pada hidup yang ada di hadapan kita. Kita mulai membangun perspektif baru, menemukan cara untuk mengenang dia yang telah pergi, dan menyelaraskan diri. Dalam proses ini, kita semakin mengenal diri. Anehnya, seiring dengan proses melewati dukacita ini, kita merasa makin dekat dengan kekasih yang telah pergi. Berbagai kenangan tentangnya mulai memberi kehangatan dan bukan lagi luka. Kita mulai belajar menyatukan lagi pecahan-pecahan hidup kita. Kita memulai relasi dan kisah baru, memberi perhatian kepada apa yang kita butuhkan. Selain itu, kita juga bergerak, berubah, bertumbuh…. kita mulai hidup lagi.

Itu semua akan terjadi bila kita memberi waktu pada diri kita untuk berduka.

Tips Mendukung Seseorang yang Sedang Mengalami Dukacita

1. Pahami tahap-tahap yang umumnya terjadi pada seseorang yang sedang mengalami kedukaan.

2. Kedukaan bersifat personal. Oleh karena itu, penanganannya bisa berbeda antara satu individu dengan yang lain. Bersabarlah bersama mereka untuk melalui tahap demi tahap sesuai kondisi masing-masing.

3. Seorang yang berduka perlu diberi kesempatan untuk berproses dan mengalami kesedihannya. Umumnya kita ingin menolong agar dia kembali bahagia, tetap melihat sisi positif, dan fokus pada berbagai hal baik yang hadir di sekelilingnya. Namun, sikap seperti itu bila terlalu cepat dikomunikasikan hanya akan membuat yang berduka makin terluka karena merasa kesedihannya dianggap tidak penting.

4. Tawarkan bantuan. Kita bisa menemani, memberi informasi, memberi dukungan dana, memberi bantuan transportasi, membelikan kebutuhan sehari-hari, membelikan mainan untuk anak, dan lain-lain.

Berduka dan Beriman

“Jangan sedih, dia sudah bahagia di surga…” adalah ungkapan penghiburan yang umum. Namun, apakah orang beriman tidak boleh bersedih saat kehilangan orang terkasih? Bagaimana seharusnya seorang beriman menghadapi dukacita?

Penelitian empiris menunjukkan bahwa individu lebih mampu mengatasi dukacita ketika diberikan ruang untuk berproses. Dukacita bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. Kehilangan orang terkasih mengubah hidup secara signifikan. Oleh karena itu, wajar jika seseorang merasakan kesedihan mendalam.

Roma 12:15 menegaskan, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Paulus memahami bahwa menangis adalah respons alami terhadap kehilangan. Orang beriman boleh menangis dan diminta untuk mendukung sesama yang berduka dengan empati.

Dukacita Orang Beriman

Paulus menulis dalam 1 Tesalonika 4:13 bahwa orang beriman tidak berdukacita seperti mereka yang tidak memiliki pengharapan. Dalam teks aslinya, Paulus menggunakan kata “tertidur” untuk menggambarkan kematian. Ia menekankan bahwa orang percaya menantikan kedatangan Yesus kembali.

Orang yang telah meninggal tidak hilang selamanya. Mereka akan dibangkitkan ketika Kristus datang kembali. Pada saat itu, orang percaya akan bersatu kembali dengan mereka dalam kemuliaan Tuhan. Oleh karena itu, dukacita bagi orang beriman bukan tanpa batas, melainkan tetap diiringi pengharapan.

Paulus tidak mengabaikan kebutuhan emosional seseorang. Namun, ia menekankan bahwa kematian bersifat sementara. Kesedihan tetap ada, tetapi tidak boleh menjadi kesedihan yang tanpa harapan. Penghiburan sejati ditemukan dalam iman kepada Tuhan.

Makna Hidup dalam Menghadapi Dukacita

Pandangan terhadap hidup sangat memengaruhi cara seseorang menghadapi dukacita. Paulus berkata, “Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Ia menganggap hidup sebagai kesempatan untuk melayani Kristus.

Bagi Paulus, kehidupan di dunia ini bersifat sementara. Oleh karena itu, ia tidak takut menghadapi kematian. Justru, ia merindukan saat bersama Tuhan. Perspektif ini membantu orang beriman dalam menghadapi kehilangan.

C.S. Lewis dalam A Grief Observed menggambarkan hidup seperti permainan menyusun kartu. Kita bisa tertawa saat menyusunnya, tetapi situasi berubah jika setiap kartu menyangkut hidup dan mati seseorang. Kesadaran akan kefanaan membuat kita lebih serius dalam menjalani hidup.

Dukacita dapat menjadi momen refleksi. Ini adalah kesempatan untuk bertanya, “Apa makna hidup yang sejati?” Ketika menghadapi kehilangan, kita diajak untuk merenungkan tujuan hidup dalam terang iman kepada Tuhan.

Proses dalam Dukacita : Perspektif Psikologi dan Iman

R. Scott Sullender dalam Saint Paul’s Approach to Grief: Clarifying the Ambiguity menyebutkan bahwa setiap orang membutuhkan ruang untuk mengekspresikan emosi mereka. Namun, banyak orang justru menekan emosinya dan mengalihkannya ke hal lain.

Studi Cambridge University menemukan bahwa dukacita sehat mencapai puncaknya dalam 4-6 bulan. Setelah itu, kesedihan perlahan mereda. Proses ini sejalan dengan tahapan grief yang umum dialami seseorang.

Dalam menghadapi kehilangan, kita membutuhkan struktur, jeda, dan penghiburan. Struktur ini dapat ditemukan dalam ibadah dan pemahaman doktrin agama. Iman menuntun seseorang untuk tetap terhubung dengan Tuhan. Ibadah juga membantu seseorang dalam mengelola emosinya dengan lebih baik.

Baca Juga : Dibentuk dengan Berbagi Hidup

Pelajaran dari Kisah Ayub

Kisah Ayub memberikan gambaran tentang keterpurukan akibat dukacita. Ia bahkan berharap tidak pernah dilahirkan (Ayub 3:10-11). Dalam penderitaannya, Ayub mempertanyakan Tuhan dan mengungkapkan emosinya dengan jujur.

Allah tidak langsung menjawab pertanyaannya, tetapi memberi respons yang dibutuhkan Ayub. Di akhir kisah, Ayub berkata, “Sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” Ayub bertumbuh melalui penderitaan, bukan saat kondisinya pulih, tetapi ketika ia memahami Tuhan dengan lebih dalam.

Iman menjadi kekuatan bagi Ayub dalam menghadapi penderitaan. Ini juga berlaku bagi setiap orang percaya. Dalam dukacita, iman menjadi sumber penghiburan dan keteguhan hati.

Paulus menekankan pentingnya penghiburan dalam komunitas orang percaya. Penghiburan ini dapat dilakukan dengan tiga cara:

  1. Memberikan pemahaman yang benar tentang dukacita, bahwa kesedihan orang Kristen bersifat sementara dan ada harapan akan sukacita mendatang.
  2. Menyampaikan kata-kata penghiburan yang memberi harapan berdasarkan kebenaran firman Tuhan.
  3. Melakukan interaksi langsung dengan mereka yang berduka. Paulus sendiri pernah merasakan penghiburan dari kunjungan Titus dan Timotius.

Ketika seseorang mengalami dukacita, kehadiran dan empati dari sesama orang beriman sangatlah berarti. Penghiburan bukan sekadar kata-kata, tetapi juga tindakan nyata dalam mendampingi mereka yang berduka.

Mazmur 119:92 berkata, “Sekiranya Taurat-Mu tidak menjadi kegemaranku, maka aku telah binasa dalam sengsaraku.” Dalam dukacita, iman kepada Tuhan memberi kekuatan dan penghiburan sejati bagi setiap orang percaya.

Apakah Benar Tak Kenal, maka Tak Sayang?

Oleh: Adrianus

Peribahasa “Tak Kenal, maka Tak Sayang” tampaknya tepat untuk menggambarkan perjalanan anak kami saat pertama kali masuk sekolah dasar. Awalnya, kami berharap ia akan menikmati suasana sekolah. Namun, harapan tersebut bertolak belakang dengan kenyataan. Setiap hari, ia menangis dan menolak masuk kelas. Terus terang, sebagai orang tua, kami berharap anak akan senang ketika berada di sekolah. Namun, harapan itu ternyata jauh dari kenyataan. Saya sempat kaget melihat anak saya menolak masuk kelas dan terus menangis.

Sementara itu, temannya dengan santai dan percaya diri melenggang masuk ke kelas. Anak saya terus menangis, berkata bahwa dia tidak mau sekolah dan mau pulang saja. Saya shock sampai menelepon istri dan berkata, “Apa perlu kita pindahkan sekolahnya?” Padahal, sewaktu mengikuti tes penerimaan siswa baru, anak kami mampu menjawab pertanyaan dengan baik. Dia juga terlihat senang dan mau sekolah di Athalia. Mungkin anak kami kaget melihat suasana sekolah yang ramai. Saat TK, memang lingkungannya lebih kecil dengan sedikit teman.

Saat pulang ke rumah, terus terang pikiran saya tidak tenang. Saya mengingat kembali ketika dia berusia 2,5 tahun. Dengan riang gembira, dia selalu mengikuti Sekolah Minggu. Begitu juga ketika dia masuk TK. Bahkan, dia kami ikutkan jemputan dan tidak pernah ada masalah sama sekali. Mungkin inilah yang terjadi, ekspektasi orang tua terhadap anak tidak sesuai kenyataan.

Setelah satu minggu mengantar-jemput anak selesai, kami melimpahkan tugas tersebut kepada mobil jemputan. Kami pikir semuanya sudah berlalu. Namun, ternyata kami salah.

Menghadapi Tantangan Awal Sekolah dengan Kesabaran

Suatu pagi, terjadi kehebohan karena anak saya menolak ikut mobil jemputan. Istri saya mengantarnya sampai ke dalam mobil, tetapi anak kami berteriak-teriak tidak mau sekolah. Dia menangis dan memberontak, ingin lompat ke luar mobil. Saya sampai tepok jidat. Kenapa lagi anak ini? Setelah melakukan pembicaraan dengan anak dan sopir jemputan, akhirnya dia mau berangkat sekolah.

Kami bersyukur bahwa fase tersebut akhirnya berakhir.
Seiring berjalannya waktu, anak kami mulai menikmati sekolahnya. Dia bercerita teman-temannya ternyata sangat baik, sangat welcome. Meskipun teman-temannya sebagian besar merupakan siswa Athalia sejak TK, mereka mau mengajaknya bermain dan tidak pernah mengejeknya.

Bahkan, setelahnya, anak kami tidak pernah mau izin tidak masuk sekolah. Ketika dia sakit, dia tidak mau izin. Pernah suatu hari karena lupa dia makan ikan laut sehingga alerginya kumat, di badannya tampak bentol-bentol dan dia merasa kurang sehat. Namun, ketika disuruh pulang oleh wali kelas, dia tidak mau, saking cintanya dengan Sekolah Athalia dia memilih tetap belajar hingga selesai jam sekolah.

Dia bilang kepada mamanya, “Aku tidak mau ketinggalan pelajaran di sekolah.” Bahkan, ketika sedang demam pun di rumah tetap belajar agar bisa ikut ulangan. Kami terharu ketika melihat perjuangannya mengenal sekolah, lingkungan, teman, dan segala hal baru. Kami menyadari bahwa dengan dukungan dan sayang yang tulus, anak kami dapat melewati tantangan yang awalnya terasa berat.

Baca Juga : Komunitas Athalia yang Bertumbuh

Melewati Tantangan dengan Kasih dan Sayang

Anak kami berhasil naik ke kelas 3 dengan mendapatkan piala hasil kumulatif dari piagam top score yang dia kumpulkan dari kelas 1 sampai kelas 2. Itu adalah momen terindah baginya dan suatu kejutan bagi kami. Bahkan, malam sebelum dia terima rapor, saya bilang, “Ahhh…sepertinya kamu tidak mungkin deh dapat banyak nilai bagus karena agak malas belajar kelas 3 ini. Kalo sampai kamu dapat nilai bagus yang banyak, akan papa belikan jam tangan yang tahan air deh…”

Sekali lagi, ekspetasi orang tua tidak sesuai kenyataan. Ternyata, anak kami malah membawa pulang piala. Saya pun harus memenuhi janji membelikan sebuah jam tangan yang tahan air agar bisa dipakai berenang. Ini adalah momen tepok jidat yang kedua.

Saat anak kami berada di kelas 3, dia mendapatkan rujuan dari RS untuk berobat dan menjalani serangkaian tes di RS Siloam Karawaci. Kami berangkat dari rumah jam 6 pagi karena jarak yang lumayan jauh. Dia berpesan untuk dibawakan seragam dan tas sekolah. Dia berharap proses tes tidak terlalu lama sehingga bisa lanjut pergi ke sekolah. Namun, ternyata proses tes berjalan lama sampai lewat jam makan siang sehingga hari itu dia tidak bisa masuk sekolah.

Puji Tuhan, akhirnya anak kami menemukan dunia yang indah di masa kecilnya untuk belajar banyak hal dan bermain. Kami sebagai orang tua mencoba mengajarkan kepada anak kami dengan memberikan keteladanan hidup, moral, dan iman untuk masa depannya. Dengan luar biasa, Sekolah Athalia membentuknya dengan cara mendidik karakternya untuk menjadi anak yang takut akan Tuhan dan berguna bagi bangsa dan negara, seperti moto sekolah ini “Right From The Start, benar sejak awal. Kami percaya bahwa dengan kasih sayang, anak-anak dapat berkembang menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab, siap menghadapi masa depan dengan percaya diri.

Terima kasih, Athalia!

Rekomendasi Buku untuk Mencari Pasangan Hidup

Judul buku: THE SACRED SEARCH (Pencarian Pasangan Hidup yang Kudus)

Informasi terkait buku:

Penulis: Gary Thomas
Penerjemah: Paksi Ekanto Putra
Tahun terbit: Cetakan Kesepuluh, Agustus 2018
Jumlah halaman: 261 halaman

Pada umumnya, dua dari beberapa tugas perkembangan manusia dewasa ialah menjalin hubungan dengan lawan jenis dan menikah. Namun, dalam perjalanan kehidupan, kita hampir tidak pernah diajarkan bagaimana membangun relasi secara formal maupun mencari pasangan hidup. Sering kali, dasar seseorang dalam menjalin relasi dan mengambil keputusan untuk menikah hanyalah karena perasaan jatuh cinta. Padahal, ada faktor-faktor lain yang jauh lebih kuat, mendasar, dan kekal yang seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam memutuskan menikah. Hal-hal inilah yang dikupas secara mendalam dalam buku The Sacred Search (Pencarian Pasangan Hidup yang Kudus).

Mengupas Buku The Sacred Search (Pencarian Pasangan Hidup yang Kudus)

Buku ini mengangkat tema relasi dari perspektif iman Kristen. Banyak orang sering bertanya: “Siapa orang yang paling tepat untuk dinikahi?” Namun, penulis buku ini mengarahkan untuk merenungkan pertanyaan yang lebih mendasar: “Mengapa menikah?” Berawal dari pertanyaan ini, penulis mengajak para lajang untuk mengevaluasi alasan terdalam yang melandasi keputusan menjalin hubungan dengan lawan jenis. Penekanan utama ada pada dasar yang harus berakar pada firman Tuhan dan secara langsung berkaitan dengan pertumbuhan rohani bersama pasangan hidup. Dalam konteks ini, membangun relasi menuju pasangan hidup yang sejalan dengan kehendak Tuhan menjadi tujuan yang jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti dorongan emosional sesaat.

Penulis membahas persoalan yang diperlukan dalam mengembangkan keterampilan berelasi yang mengutamakan Tuhan. Pembaca diajak berefleksi mengenai panggilan hidup dan pengenalan diri secara utuh. Selain itu, pembaca juga diajak untuk melihat bagaimana neuroscience dan psikologis memengaruhi hubungan antarpribadi. Buku ini membahas bagaimana pasangan menjalani panggilan hidup bersama dalam pernikahan. Penulis menekankan pentingnya membangun landasan yang kokoh dalam relasi dengan lawan jenis. Maka dari itu, pembaca diajak mempertimbangkan pandangan dalam memilih calon pasangan di masa mendatang. Lebih jauh lagi, penulis juga membahas hal-hal yang berkaitan dengan intimasi pernikahan dan pembaca diharapkan terbuka menelisik diri sendiri untuk dapat membangun hubungan yang sehat dan kudus dengan pasangan kelak.

Refleksi, Aplikasi, dan Tantangan dalam Membangun Relasi Sejati

Uniknya, buku ini tidak menyajikan tips and trick, tapi justru membuka wawasan pembaca terhadap kemungkinan baik dan buruk ketika berelasi. Misalnya, meninjau kembali gaya pernikahan yang dibahas dalam satu bab, penulis memaparkan berbagai gaya pernikahan yang mungkin mengarah pada kemungkinan gaya pernikahan di masa mendatang. Pembaca juga diajak meninjau gaya pernikahan tersebut. Apakah mampu beriringan dengan seseorang yang sedang digumulkan untuk menjadi pasangan? dan apakah lifestyle tersebut dapat menumbuhkan diri dan pasangan dalam pernikahan?

Kisah ilustrasi yang dipakai dalam tiap bab memang kurang kontekstual dengan tradisi orang Asia. Namun, prinsip yang ditekankan cukup relevan dan tidak hanya mewakili satu budaya tertentu. Istilah bidang kedokteran, psikologi, dan teologi banyak dipakai dalam buku ini.

Gaya tulisan yang bercerita dan bahasa yang mudah dimengerti adalah poin lebih dari buku ini. Pembaca diajak mengambil waktu untuk mengevaluasi diri melalui pertanyaan studi lanjut di tiap bab untuk dijawab. Hal ini menolong pembaca mengurai setiap bahasan yang diterima dan merefleksikannya di dalam diri. Pembaca juga diajak meninjau kembali pengenalan diri serta harapan terhadap hubungan dengan pasangan.

Buku ini disarankan untuk dibaca oleh kaum muda yang bergumul tentang pasangan hidup, orang tua yang rindu mendampingi anaknya menemukan pasangan hidup yang sepadan dan seimbang, pembimbing rohani, dan pasangan menikah untuk memperkokoh hubungan. Buku ini cocok dipakai dalam persekutuan kelompok-kelompok kecil yang membahas tentang relasi lawan jenis menuju pernikahan.

(KAY)

Ternyata, Inilah Kunci Keluarga Bertahan ketika Konflik

Oleh: Benny Dewanto

Seorang gadis muda datang kepada sahabatnya dengan hati yang penuh luka. Mulutnya tak mampu membendung umpatan atas segala kekesalannya. Ia bercerita mengenai opa dan omanya yang selama ini telah mengasuhnya sejak usia 3 tahun. Sebagai seorang gadis muda, ia bertumbuh di dalam lingkungan kaum muda yang memberikan banyak gaya hidup. Namun, seiring dengan hal tersebut, opa dan omanya tidak dapat mengerti seluruh perkembangan gaya hidup anak muda zaman sekarang. Tidak aneh bila tiap hari terjadi keributan besar—hanya karena perbedaan nilai hidup. Ditambah lagi ketidakhadiran orang tua kandungnya karena perceraian. Jadilah gadis ini kehilangan arah nilai hidup.

Nilai hidup adalah sebuah dasar sekaligus pengarah hidup seseorang. Seseorang dapat melihat sebuah nilai hidup sebagai sesuatu yang bernilai atau tidak, dilatari oleh banyak hal yang beragam. Artinya, nilai hidup dipengaruhi oleh suatu hal yang tertanam di dalam diri seseorang. Penanaman pemahaman tentang nilai hidup membutuhkan intensitas yang terukur dan memerlukan terang rohani agar konsep nilai itu menjadi yang benar di mata Tuhan. Penanaman tersebut harus dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga.

Hal ini dapat dilihat dalam Kejadian 7:1 “… Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.” Di antara manusia lainnya, yang akan musnah karena nilai hidup yang tidak benar (dosa), Nuh dan keluarganya dibenarkan dan diselamatkan Tuhan. Ketaatan Nuh telah membawa keluarganya juga ikut taat masuk ke dalam bahtera. Tanpa proses penyampaian nilai hidup agar taat kepada Tuhan, tidaklah mungkin bahtera tersebut dapat diisi segala macam binatang dan Nuh sekeluarga.

Baca Juga : Athalia Learning Community New Edisi Mei 2020

Kunci Menemukan Nilai Hidup yang Benar dalam Keluarga

Untuk dapat menemukan nilai hidup yang benar di hadapan Tuhan membutuhkan hikmat. Tanpa hikmat, nilai hidup akan menjadi nilai yang bias, tidak tetap, dan mudah beralih. Hikmat mengarahkan manusia melihat apa yang dikehendaki Tuhan. Kisah Para Rasul 16:19-34 menceritakan kepala penjara yang bertobat ketika melihat Paulus dan Silas diselamatkan Tuhan. Kepala penjara mendapat hikmat bahwa peristiwa yang terjadi kepada Paulus dan Silas merupakan bukti bahwa Tuhan itu ada. Melalui hikmat, dirinya mendapatkan nilai hidup tentang injil. Nilai hidup itu dibawanya kepada seisi rumahnya, dan mereka merayakan sukacita keselamatan.

Mari kita hidup dengan aliran hikmat, hari demi hari. Karena dunia tidak akan pernah berhenti menawarkan nilai-nilai hidup yang menarik. Tugas kita sebagai orang percaya adalah mula-mula menggembalakan seluruh isi rumah untuk hidup dalam nilai hidup keselamatan. Jangan biarkan kita kering akan hikmat agar dapat melihat nilai hidup yang benar.

Yakobus 1:5 mengatakan, “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah …”. Kehadiran hikmat Allah akan menolong keluarga kita berjalan dengan penuh bijaksana. Melangkahlah bersama keluarga kita dengan hikmat Allah. Tuhan menolong kita semua.

Generasi Z vs Sosial Media

Oleh: Fanuel Renaldy Sugiarto

Beberapa bulan terakhir, dunia mengalami perubahan besar akibat pandemi. Segala lini kehidupan dipaksa untuk beradaptasi, termasuk dunia pendidikan. Proses belajar mengajar tidak lagi dilakukan di sekolah, melainkan dari rumah. Siswa harus mengikuti kelas daring tanpa bisa bertemu langsung dengan teman atau pengajar. Itulah yang dialami para siswa Sekolah Athalia. Mereka memulai tahun ajaran baru melalui layar komputer, bukan di ruang kelas. Pertanyaannya, apakah kondisi ini menjadi masalah serius bagi anak-anak zaman sekarang?

Dunia Digital yang Menjadi Rumah Kedua

Tanpa kita sadari, banyak masalah yang muncul di dalam diri para remaja yang berhubungan dengan platform daring. Namun kini, sudah empat bulan lebih mereka melakukan pembelajaran secara daring—mengumpulkan tugas, melaksanakan ujian sekolah, proyek mata pelajaran, bahkan sesi kelas tatap muka pun harus dilakukan dengan platform daring.

Pertanyaannya, apakah benar mereka sedang beradaptasi dengan metode daring atau sebenarnya sudah menjadi “warga” dunia daring dan teknologi digital? Tidak bisa dipungkiri, anak-anak remaja saat ini adalah generasi digital. Menurut Hanlie Muliani dalam webinar berjudul “Memahami 7 Karakteristik Gen Z dan Parenting Style untuk Gen Z” yang dilaksanakan pada 4-5 Mei 2020, para remaja ini disebut sebagai generasi local residents di zaman kemajuan teknologi sehingga berhasil menciptakan sebuah era baru dalam dunia sosial. Mereka bisa berteman dengan siapa saja dari seluruh dunia hanya dalam sekali klik di komputer atau gadget mereka.

Baca Juga : Diatur Waktu atau Mengatur Waktu?

Media Sosial sebagai Jembatan Sosial Generasi Z

Fenomena sosial di kalangan generasi Z menunjukkan bahwa meskipun tidak bisa bertemu langsung, mereka tetap bisa akrab melalui media sosial. Platform seperti Instagram, Twitter, dan Facebook menjadi ruang komunikasi, ekspresi, dan solidaritas. Media sosial memungkinkan remaja menjalin hubungan dan mempertahankan interaksi secara intens. Bahkan, para remaja kini lebih menguasai media sosial dibandingkan orang tua mereka. Jadi, di awal Tahun Pelajaran 2020-2021 ini, apakah menjadi sebuah masalah bagi para remaja saat mereka tidak bisa bertemu teman?

Kebanyakan dari mereka mungkin sedang mengeluh betapa bosannya di rumah dan merindukan untuk bisa kembali bertemu teman-teman di sekolah. Menurut penelitian Barna (2019), kebanyakan dari para remaja ini memang sudah merasa saling terhubung, tetapi perasaan dicintai dan didukung oleh orang lain tidaklah sebesar itu. Itulah mengapa hari-hari ini mereka sangat mudah untuk memiliki teman, tetapi tidak dapat membangun rasa saling mengasihi satu sama lain dengan maksimal karena mereka kesulitan bertemu secara tatap muka.

Peran Orang Tua dalam Mendampingi Generasi Z

Menyikapi fenomena ini, orang tua diharapkan bisa membangun hubungan atau relasi yang hangat dengan anak-anak supaya mereka tetap merasakan dukungan dan punya teman untuk bicara di masa-masa PJJ. Harapannya, lewat hubungan yang dibangun dengan anak-anak, orang tua bisa membimbing para remaja menggunakan media sosial dengan lebih bijak. Kiranya interaksi-interaksi di media sosial atau post yang di-upload boleh menjadi berkat bagi yang melihat dan menyaksikannya.

Biarlah setiap orang tua di awal tahun ajaran ini semakin dimampukan Tuhan untuk membimbing anak remaja mereka tetap berjalan dalam kebenaran Tuhan di masa-masa pembelajaran online ini.

Referensi:
Barna Group. 2019. The Connected Generation: How Christian Leaders Around the World Can Strengthen Faith and Well-Being Among 18-35-Year-Olds. California: Barna Group.

Rekomendasi Buku Kepemimpinan

lead like jesus

LEAD LIKE JESUS (Belajar dari Model Kepemimpinan Paling Dahsyat Sepanjang Zaman)

Lihat Keterangan Buku Lebih Lanjut

Judul buku: LEAD LIKE JESUS (Belajar dari Model Kepemimpinan Paling Dahsyat Sepanjang Zaman)
Penulis: Ken Blanchard & Phil Hodges
Penerbit: Visimedia
Penerjemah: Dionisius Pare
Tahun terbit: 2006
Jumlah halaman: 317

Di mana Anda bisa menemukan model kepemimpinan yang dapat mengubah hidup Anda?” Pertanyaan ini menjadi pengantar reflektif dalam buku karya Ken Blanchard dan Phil Hodges, Lead Like Jesus. Berdasarkan telaah mendalam terhadap Kitab Suci (Alkitab), Ken dan Phil menemukan banyak hikmah kepemimpinan melebihi yang mereka pikirkan selama ini. Belajar cara memimpin seperti Yesus membuat kita menemukan perbedaan besar dalam hidup dan dalam kehidupan orang-orang yang kita pimpin.

Transformasi Pribadi melalui Kepemimpinan Yesus

Buku ini diawali dengan refleksi penulis tentang perubahan sudut pandang terhadap makna kepemimpinan.

Sebagai pembaca, kita diajak untuk mengalami transformasi yang dimulai dari kehidupan personal yang kemudian bergerak memimpin orang lain dalam hubungan satu-satu (one on one), lalu memimpin satu tim atau kelompok, dan akhirnya memimpin satu organisasi atau masyarakat. Siklus ini dapat terjadi baik dalam peran hidup pribadi maupun organisasi. Dengan membaca buku ini, kita diharapkan mampu menjadi pemimpin yang memiliki hati untuk melayani seperti yang Yesus lakukan, bukan pemimpin yang ingin dilayani.

Buku ini terdiri atas tujuh bab yang di dalamnya terdiri atas pemaparan penulis mengenai cara sederhana menjadi pemimpin seperti Yesus. Pembaca juga diajak untuk memahami konsep kepemimpinan Yesus. Selain itu, pembaca juga diajak untuk memahami konsep, melakukan refleksi, menyusun rencana aksi, serta mengevaluasi diri melalui jurnal dan pertanyaan panduan.

Setiap prinsip yang disampaikan selalu dikaitkan dengan kebenaran Firman Tuhan dan diperkuat dengan kisah nyata dari penulis serta tokoh-tokoh lain. Selain itu, adanya lembar kerja berupa pertanyaan atau panduan untuk mendukung proses mengalami transformasi kepemimpinan seperti Yesus. Selamat membaca dan merasakan dampak dari buku ini. [PK3]

Referensi :
Blanchard, K., & Hodges, P. 2006. Lead Like Jesus: Belajar dari Model Kepemimpinan Paling Dahsyat Sepanjang Masa. Jakarta: Visimedia. URL : https://www.leadlikejesus.com/