Harapan Baru, Awal yang Lebih Baik untuk Masa Depan

Oleh: Yanny Kusumawaty – Orang tua siswa X MIPA 2

Sebuah kapal besar dapat bersandar dengan baik di pelabuhan jika memiliki jangkar yang kuat. Jangkar akan menjaga kapal tersebut tetap stabil dan tidak terombang-ambing. Dalam Ibrani 6:19 dikatakan “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir.”

Ayat ini adalah janji firman Tuhan bagi kita semua. Ketika kita memiliki pengharapan hanya pada Tuhan, maka jangkar hidup kita akan kuat. Pengharapan kita tidak akan goyah karena telah dilabukan sampai ke belakang tabir, yaitu di tempat Allah Bapa kita.

Baca Juga : Keluarga yang Bersyukur

Harapan Baru Dimulai dari Langkah Iman

Berawal dari suatu hal baru yang Tuhan letakkan di hati kami di tahun 2018, di mana kami merasa bahwa kami perlu renovasi rumah. Bukan untuk bergaya, tetapi karena kondisi bangunan rumah sudah di atas 10 tahun. Banyak bagian yang perlu diperbaiki agar lebih layak. Selain itu, rumah kami hanya memiliki dua kamar, sementara anak kami ada dua dengan gender berbeda. Belum lagi setiap Jumat, rumah kami ada persekutuan komunitas sel group. Jadi rasanya alasan untuk kami merenovasi rumah, sangat kuat. Kami sekeluarga mulai doakan hal ini sambil menabung. Kami letakkan harapan kami pada Tuhan. 

Pada tahun 2020, dunia mengalami perubahan besar dengan datangnya pandemi COVID-19. Suatu kondisi yang sangat baru yang sebelumnya tidak pernah ada. Banyak orang mengalami kesulitan ekonomi dan rencana kami seolah harus ditunda. Namun, di tengah situasi sulit ini, Tuhan bekerja dengan cara yang tak terduga. Rumah orang tua saya yang diwariskan kepada kami 4 bersaudara tiba-tiba mendapatkan pembeli. Padahal, rumah ini sudah dipasarkan sejak tahun 2015, tetapi tidak pernah ada kesepakatan harga. Prosesnya tidak langsung berjalan lancar. Ada banyak kendala, mulai dari dokumentasi, pajak, hingga proses KPR di bank. Saat itu, pengharapan kami pasang surut. Kami sering bertanya-tanya, “Apakah rumah ini benar-benar akan terjual?”

Namun, di akhir tahun 2020, tepat di hari terakhir tutup buku bank, rumah tersebut akhirnya terjual dengan harga yang kami harapkan. Kami melihat bagaimana Tuhan membuka jalan bagi keluarga kami untuk mewujudkan harapan baru dalam merenovasi rumah.

Penyertaan Tuhan tidak sampai di situ. Kami dipertemukan dengan arsitek yang tidak hanya pintar, tetapi juga mau mendengar kebutuhan kami. Ia menggandeng kontraktor yang baik dan dapat dipercaya. Meski proses renovasi dilakukan di tengah pandemi, semuanya berjalan lancar tanpa kendala. Tuhan juga menyediakan tempat tinggal sementara dengan harga yang terjangkau. Kami bisa menempatinya selama proses renovasi berlangsung. Semua kebutuhan terasa seperti telah disiapkan dengan sempurna.

Menaruh Harapan Sepenuhnya pada Tuhan

Akhirnya, pada akhir Oktober 2021, proses renovasi selesai tepat waktu. Dana yang kami miliki juga sangat cukup, hanya ada sedikit pinjaman yang kini hampir lunas. Saya bersyukur atas setiap proses ini. Saya melihat bagaimana Tuhan bertanggung jawab penuh atas apa yang telah Ia mulai dengan tidak membiarkan saya terombang-ambing tidak tentu arah.

Kini, kami menikmati rumah yang telah direnovasi dengan nyaman. Semua ini adalah bukti bahwa Tuhan setia dan berkuasa. Ia tidak membiarkan kami terombang-ambing dalam ketidakpastian, karena kami memilih untuk menaruh harapan kepada-Nya.

Tidak mudah dalam melabuhkan pengharapan pada Tuhan, karena natur kita sebagai manusia pastinya menggunakan hal yang bisa dipikirkan oleh logika dan akal kita.  Sedangkan bentuk pengharapan umumnya adalah abstrak, sesuatu yang tidak terlihat, tidak nampak, hanya BERHARAP… 

Namun kembali lagi, jika Tuhan yang menaruhkan suatu yang baru dalam hidup kita untuk kita menaruhkan harapan kita pada Tuhan, percayalah, Dialah jangkar yang kuat dan sempurna, yang sangat aman bagi jiwa kita. 

PERUBAHAN dan PERTUMBUHAN

Tema Tapel 2022/2023

Board of Directors (BoD) menetapkan tema besar tahun pelajaran 2022/2023 adalah Back to School: The Year of Recovery. Selama pandemi COVID-19, pembelajaran berubah dari luring menjadi daring. Memasuki tahun ketiga pandemi, seiring menurunnya kasus COVID-19, maka pemerintah membuat kebijakan supaya pembelajaran kembali dilakukan secara luring. Tentunya akan ada banyak hal lagi penyesuaian atau perubahan-perubahan yang perlu dilakukan, supaya pemulihan bisa terjadi.

                Terlebih memasuki tapel 2022/2023 ada beberapa perubahan, yaitu: (1) persiapan menyambut kurikulum baru yaitu kurikulum Merdeka, (2) perubahan kurikulum karakter untuk lebih sistematis, dan (3) perubahan pembelajaran dari daring ke luring. Setiap perubahan perlu dikelola dengan baik, sehingga menghasilkan pertumbuhan iman di setiap individu dan organisasi. Oleh karena itu, pada kesempatan pembukaan tapel 2022/2023 Senin, 4 Juli 2022 sie kerohanian mengadakan pembinaan bertema “Perubahan & Pertumbuhan” yang dibawakan oleh Ev. Fini Chen dari SLH-SDH.

Bertahan di Tengah Perubahan

                Ev. Fini Chen mengawali pemaparan materinya dengan memperkenalkan sebuah buku berjudul “Thank You for Being Late” yang ditulis oleh Thomas L. Friedman. Buku ini ditulis dengan harapan menjadi panduan untuk bertahan di tengah dunia yang semakin cepat berakselerasi. Ada banyak perubahan di bidang teknologi yang semakin cepat yang berdampak pula terhadap globalisasi dan iklim. Perubahan-perubahan itu menimbulkan rasa sukacita menyambut sesuatu yang baru, tetapi juga membawa kepusingan tersendiri mempelajari hal-hal baru tersebut. Buku ini ingin menjawab pertanyaan, bagaimana hidup di masa akselerasi? Bagaimana menjaga agar langkah tetap selaras dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat dan memusingkan?

Hidup dan Melayani Secara Ilahi

                Dalam pembinaan ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan: bagaimana hidup dan melayani secara ilahi di masa akselerasi?

Ada dua prinsip yang perlu dilakukan, adalah:

Pancang

Galatia 4:19, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.”

Dulu yang menjadi agen budaya yaitu keluarga, sekolah, agama, media, kepemimpinan, dan hukum. Namun kini terjadi perubahan. Yang menjadi agen budaya yaitu media digital. Media digital menjadi penentu rasa, nilai, dan pemikiran (Vanhoozer, 2017).

Di tengah segala perubahan yang terjadi perlu diajukan pertanyaan yang tepat. Di dunia Pendidikan, pertanyaan tersebut harusnya terkait dengan humanitas, karena yang dididik adalah manusia. Mereka perlu dididik untuk mengenal Pencipta/Penebus dan hidup seturut gambar Pencipta-Nya sebagai manusia Allah. Pertanyaan-pertanyaan itu, adalah:

  • Manusia
    seperti apa saya-kamu-kita sebenarnya dan seharusnya?
  • Sudah
    berapa tepatkah saya-kamu-kita berubah?
  • Sudah
    berapa tepatkah saya-kamu-kita bertumbuh?

Setiap orang memiliki perspektif yang berbeda-beda. Namun, sebagai komunitas, saya-kamu-kita perlu memiliki satu titik fokus perhatian yang sama yaitu visi dan misi lembaga/sekolah. Visi sekolah Athalia yaitu “Siswa yang Menjadi Murid Tuhan” sedangkan misinya yaitu “Mendidik siswa menghidupi rencana Tuhan baginya”. Setiap pribadi, saya-kamu-kita perlu melihat perspektif orang lain dan mengacu pada visi dan misi. Dengan demikian setiap pribadi berproses, sehingga bertumbuh menjadi semakin serupa Kristus.

Pegang

Galatia 4:19, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.”

Setelah komunitas memiliki fokus yang sama, yaitu visi dan misi, maka perlu saling berpegangan tangan untuk meraih tujuan, karena perubahan-perubahan bisa membuat gamang yang menimbulkan rasa seperti sakit bersalin, namun pada akhirnya akan melahirkan pertumbuhan.

Kurva perubahan Kubler-Ross menunjukkan bahwa, perubahan berpotensi adanya pengalaman baru, keputusan-keputusan baru, dan pembaharuan tiap individu karena adanya integrasi.

Namun, jika saya-kamu-kita tidak saling memahami perspektif masing-masing orang, maka hanya akan bertahan di fase depresi dan tidak menghasilkan pertumbuhan karena menghasilkan tingkah laku organisasi yang tidak sehat. Setiap pribadi perlu memahami posisi orang lain di kurva perubahan dan berhati-hati supaya setiap perkataan maupun tindakan tidak membuat orang lain stuck.

Untuk menuju permulaan yang baru ada hal-hal yang perlu diubah atau dihilangkan, apa yang perlu dipertahankan. Selain itu hal yang perlu dilakukan lainnya yaitu membangun jembatan dengan melakukan diskusi dan argumentasi yang bernalar. Saya-kamu-kita perlu berpegangan tangan untuk bersama-sama bertumbuh dengan mengakhiri hal-hal yang tidak baik dan menuju memulai yang baik.

Acara pembinaan diakhiri dengan kegiatan refleksi pribadi kemudian saling berbagi di dalam kelompok devosi. Peserta mengendapkan dan merenungkan materi yang disampaikan lalu mengambil langkah nyata untuk siap menghadapi perubahan dan bertumbuh dengan mengandalkan kekuatan Tuhan.

Setelah mengikuti pembinaan ini, diharapkan komunitas Athalia semakin siap menghadapi berbagai perubahan yang menanti di tapel 2022-2023 dengan terus belajar memahami perspektif yang berbeda-beda. Namun tetap fokus pada visi dan misi sekolah dan berpegangan tangan sebagai sebuah komunitas, bersedia menanggung benefit & risk dari setiap perubahan, dan bertumbuh bersama-sama menuju awal yang baru. Dengan tekun menanggung rasa sakit bersalin, maka rupa Kristus menjadi nyata di setiap pribadi dan komunitas.

Pembelajaran Karakter di Sekolah Athalia Tapel 2022-2023

Oleh: Ni Putu Mustika Dewi – staff pengembangan karakter Sekolah Athalia

Visi Sekolah Athalia dan Identitas Murid Kristus

Sekolah Athalia, sebuah sekolah di Serpong, didirikan dengan sebuah visi “Siswa yang Menjadi Murid Tuhan”. Sesungguhnya visi ini bukan hanya ditujukan bagi siswa melainkan juga bagi seluruh anggota komunitas (orang tua, guru, staf, dan yayasan). Sebagaimana orang dapat saling mengenal melalui identitas atau karakteristik tertentu, demikian halnya dengan diri kita sebagai murid Tuhan. Dalam Yohanes 13:35, Tuhan Yesus memaparkan bahwa semua orang akan tahu bahwa kita adalah murid Tuhan, kalau kita saling mengasihi. Dengan demikian, KASIH menjadi identitas hidup murid-murid-Nya.

Makna Kasih Menurut Ajaran Kristus Vs Ajaran Dunia

Namun, kasih yang Kristus ajarkan sangat berbeda dengan kasih yang diajarkan oleh dunia ini. Berikut contoh kasih yang biasa kita temui, orang tua yang membesarkan anaknya dengan harapan nantinya sang anak bisa membalas budi. Seorang yang taat beribadah dan melakukan aturan-aturan agama memiliki tujuan mendapat berkat atau pahala. Seorang yang dengan murah hati memberi apa yang dimiliki kepada orang lain, didasarkan pada motif untuk mendapat kedamaian di hati. Masih banyak contoh lainnya yang membuktikan bahwa kasih manusia kepada sesama bahkan kepada Tuhan tidaklah tulus dan masih mengharapkan imbalan.

Lain halnya dengan kasih yang ditunjukkan dan diajarkan oleh Allah. Kasih ini adalah kasih tanpa pamrih dan tanpa syarat. Kasih yang sudah dibuktikan secara nyata di atas kayu salib, pada saat Ia menyerahkan diri-Nya untuk menebus hidup kita. Saat itu kita bukanlah yang baik dan layak untuk dikasihi tetapi Tuhan Yesus mau mengorbankan diri-Nya bagi kita (Roma 5:8). Akibat dari karya penebusan yang diberikan-Nya, orang-orang pilihan-Nya dimampukan untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Jadi, ada perbedaan besar antara kasih yang dilakukan oleh murid-murid Tuhan dengan yang bukan, yaitu pada motif atau alasan. Murid-murid Tuhan saling mengasihi didasarkan pada motif karena Kristus terlebih dahulu mengasihi kita. Jadi kasih merupakan bentuk respons kita terhadap kasih Allah yang besar itu. Bukan didasarkan pada motif supaya mendapat imbalan, berkat, atau supaya hidup damai dan bahagia.

Ciri Murid Tuhan

Selain kasih, ciri lain dari seorang murid Tuhan adalah hidup semakin serupa dengan-Nya yang ditampilkan melalui kualitas-kualitas karakter ilahi. Setiap pola pikir, sikap dan tindakan kita diarahkan atau ditujukan pada keserupaan dengan Kristus. Semakin hari kualitas-kualitas karakter Kristus semakin nyata terlihat melalui hidup kita.

Berdasarkan pemaparan di atas, kita menyadari bahwa hidup menjadi seorang murid Tuhan bukanlah perkara yang mudah. Kita sangat membutuhkan pertolongan dari Allah Roh Kudus untuk memampukan, mengingatkan, menegur dan menuntun kita pada kebenaran. Layaknya dua sisi koin mata uang, selain ketergantungan akan pertolongan dari Allah Roh Kudus, kita juga harus berupaya dalam mendisiplinkan diri. Kita harus bersedia hidup taat pada kehendak-Nya. Jika kita tidak mau mendengarkan dan lebih memilih untuk mengikuti kedagingan, maka besar kemungkinan kita akan jatuh dalam dosa dan sulit untuk bertumbuh semakin serupa Kristus. Hal ini sependapat dengan Jerry Bridges, “Sebagaimana pesawat mustahil terbang dengan satu sayap, demikianlah kita pun mustahil berhasil mengejar kekudusan dengan bergantung saja atau disiplin saja. Kita mutlak harus memiliki keduanya.” (Disiplin Anugerah, hal.144)

Upaya Sekolah Athalia dalam Mendidik Siswa Menjadi Murid Tuhan

Oleh sebab itu, ada sebuah upaya nyata yang dilakukan oleh Sekolah Athalia dalam mendidik siswa menjadi murid Tuhan. Cara nyata tersebut yaitu dengan dirancangnya sebuah kurikulum pembelajaran karakter yang berkesinambungan dari TK hingga SMA.

Bagi siswa yang berada pada masa kanak-kanak (usia 3-8 tahun) sampai pra-remaja (usia 8-12 tahun), diupayakan pembentukan pribadi yang kokoh (Steadfast Person). Pribadi yang mampu berpikir, memilih, dan bertindak berdasarkan prinsip-prinsip yang benar. Selain itu, siswa juga didorong/dilatih untuk bertumbuh menjadi pengikut yang baik (Followership). Khusus bagi siswa TK tahapan yang akan diajarkan dalam kelas adalah pertumbuhan dalam karakter dasar (Growing). Sedangkan bagi siswa SD difokuskan pada pembentukan karakternya (Shaping). Bagi siswa yang berada pada masa remaja (13-18 tahun) diupayakan pengembangan lebih lanjut untuk menjadi seorang pemimpin yang memiliki prinsip melayani (Servant Leader). Dengan berbagai karakter yang dibudayakan sampai kelas 6 SD, diharapkan sifat kepemimpinan (Leadership) akan relatif mudah ditanamkan dan dibentuk dalam pribadi siswa. Khusus bagi siswa SMP tahapan dalam proses pembelajaran mereka adalah peduli dan berbagi (Caring & Sharing). Selanjutnya, pada masa SMA siswa didorong untuk berkontribusi atau memiliki dampak positif (Influencing & Contributing).

Wujud Nyata Pembelajaran Karakter

Secara khusus pada tahun pelajaran 2022-2023 ini, kurikulum karakter diwujudkan dalam berbagai kegiatan dan proses pembelajaran karakter baik di dalam maupun luar kelas. Salah satunya adalah disediakan sebuah ruang perjumpaan antara guru (Wali Kelas dan Pendamping Wali Kelas) bersama dengan siswa yang diberi nama “kelas Shepherding”. Kelas ini dirancang khusus untuk memperkenalkan dan membudayakan karakter ilahi. Adapun strategi yang digunakan dalam kelas ini agar pembelajaran karakter tidak berujung hanya pada ranah kognitif semata adalah dengan adanya sharing life guru (WK dan PWK) sebagai gembala serta sharing life siswa sebagai pribadi yang digembalakan. Kiranya melalui sharing life yang akan dibagikan itu baik guru maupun siswa dapat memaknai bahwa perjalanan menjadi murid Tuhan, yang berujung pada keserupaan dengan Kristus adalah perjalanan yang dilalui bersama. Meski prosesnya panjang dan tidak mudah, guru dan siswa dapat saling mengingatkan bahwa ada kasih Tuhan yang menyelamatkan dan yang menjadi dasar dari segala tindakan.

Sumber:

Bridges, J. 2009. Disiplin Anugerah: Peran Allah dan Peran Kita dalam Mengejar Kekudusan. Bandung: Pionir Jaya.

Badudu, R, dkk. 2021 (Versi 1). Manual Kurikulum Karakter Sekolah Athalia. Jakarta.

Baca Juga: SHEPHERDING TIME, Melihat dan meniru cara Yesus mengajar (Markus 4:1, 33-34)

Apa yang Berkesan pada Acara Wisuda Sekolah PINUS Tahun Ini?

Oleh: Nita Tri Yuliana – Kepala PAUD dan SD PINUS

Wisuda Tahun Ini

Pada Jumat, 10 Juni 2022 merupakan hari bersejarah bagi seluruh siswa Kelas VI SD PINUS, sebuah sekolah di Serpong. Di mana pada hari tersebut mereka secara resmi dinyatakan lulus jenjang pendidikan SD. Sehari setelah acara tersebut, PAUD PINUS pun mengadakan acara wisuda pada hari Sabtu, 11 Juni 2022. Yuk, kita simak hal yang berkesan pada acara wisuda PAUD dan SD PINUS tahun ini.

PINUS Sebagai Sebuah Oase

Kehadiran PINUS di tengah-tengah komunitas Sekolah Athalia sungguh menjadi oase bagi masyarakat sekitar. Hal ini terbukti dengan dukungan mereka pada sekolah PINUS dengan tetap melanjutkan pendidikan untuk jenjang selanjutnya tetap di sekolah PINUS. Pada tahun pelajaran 2021-2022 SD PINUS berhasil meluluskan 16 siswa, sedangkan PAUD PINUS meluluskan 19 siswa. Sekitar 84% lulusan PAUD PINUS melanjutkan ke SD PINUS dan sekitar 75% lulusan SD PINUS melanjutkan ke PKBM PINUS.

Wisuda yang Mengesankan

Alasan kenapa acara wisuda PAUD dan SD PINUS tahun ini sangat mengesankan? Tahun ini acara wisuda atau kelulusan diadakan secara on site setelah dua hanya dengan menatap layar laptop atau gawai saja. Siswa juga bersemangat saat menghadiri acara ini. Persiapan yang dilakukan oleh siswa begitu maksimal. Dengan antusias mereka berlatih prosesi wisuda dalam waktu singkat meskipun dengan keterbatasan mobilitas karena masih dalam masa pandemi.

Selain sukacita ada juga haru yang terasa pada acara wisuda tahun ini, yaitu ada siswa yang tidak didampingi oleh sosok seorang ayah yang sudah meninggal dunia. Momen mengharukan juga terjadi saat siswa mengungkapkan rasa kasih terhadap orang tua mereka yang telah mendampingi mereka selama ini. Tangis bahagia menyeruak di antara siswa, orang tua, bahkan juga beberapa guru. Begitu juga saat orang tua mempersembahkan lagu untuk anak-anak mereka sebagai tanda kasih mereka terhadap putra-putrinya, air mata kembali terlihat membasahi mata mereka.

Acara Wisuda Sebagai Ucapan Syukur

Sebagai kepala sekolah, saya melihat acara wisuda bukan sekedar sukacita dan kegembiraan karena para siswa sudah berhasil melewati jenjang pendidikan di level masing-masing, tetapi lebih kepada ucapan syukur atas keberhasilan yang telah mereka raih dengan pertolongan Tuhan.

Harapan saya semoga pandemi segera berakhir, sehingga di tahun-tahun mendatang acara wisuda dapat dilakukan terus secara on site. Para siswa dan orang tua dapat mengekspresikan rasa syukur mereka dengan leluasa dan tidak hanya sebatas layar laptop.

Baca Juga: First Day School SD PINUS

“MEMBAPTIS” KURIKULUM MERDEKA

Victor Sumua Sanga, S.T., M.Div. (Wakasis dan Guru Agama SMA Athalia)

Pendahuluan

Di tengah maraknya sosialisasi dan implementasi kurikulum merdeka oleh pemerintah, kontribusi sekolah Kristen sebagai bagian dari institusi pendidikan di bawah naungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sangat dibutuhkan. Penerapan kurikulum merdeka di sekolah Kristen harus diimbangi dan mempertahankan keunikan dan panggilan sebagai lembaga pendidikan yang mengetengahkan wawasan dunia Kristen. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah perspektif filsafat yang mendasarinya.

Filsafat sebagai Sentral dari Sebuah Kurikulum

Ornstein & Hunkins (2009) menyatakan, filsafat adalah sentral dari sebuah kurikulum. Oleh karena itu, mempelajari filsafat di balik kurikulum akan membantu seseorang untuk memahami dan menyesuaikan dengan pandangan atau keyakinannya. Berdasarkan beberapa kajian, kurikulum merdeka didasari oleh beberapa filsafat, salah satunya progresivisme (Mustaghfiroh, 2020). Latar belakang filsafat progresivisme pada kurikulum merdeka juga diakui oleh Suparlan (2015) dalam artikelnya yang berjudul “Filsafat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Sumbangannya bagi Pendidikan Indonesia”.

Pertanyaannya, bagaimanakah filsafat progresivisme diterapkan dalam dunia pendidikan? Bagaimana pula sekolah Kristen menyikapi filsafat tersebut berdasarkan natur pendidikan Kristen?

Filsafat Progresivisme dalam Pendidikan

Progresivisme merupakan paham tentang pedagogi, tujuan pendidikan, dan kurikulum yang dicirikan dengan ketidakpercayaan terhadap otoritas dalam pendidikan dan siswa sebagai pusat pedagogi. Salah satu tokoh kunci dalam filsafat ini adalah John Dewey (1859-1952). Dewey menyebut, siswa adalah pusat pendidikan sehingga tujuan dan masalah yang dihadapi siswa akan menjadi titik awal kegiatan pendidikan. Dewey juga menekankan pentingnya sistem sekolah sebagai lingkungan pendidikan untuk mendukung progres pertumbuhan komunitas yang terus berkelanjutan. Untuk mencapai tujuan ini, diperlukan koneksi antar murid sehingga tidak ada individu yang diabaikan dalam konteks sosial sekolah (Winch & Gingell, 2002).

Beberapa prinsip yang ditekankan oleh filsafat progresivisme adalah (Saragih dkk., 2021):

  1. Peserta didik merupakan awal sekaligus tujuan akhir dari proses pendidikan.
  2. Sekolah perlu membentuk ekosistem yang demokratis dan kooperatif dalam mendukung pembelajaran sehingga murid dapat berperan aktif dan guru sebagai fasilitator.
  3. Proses pembelajaran difokuskan pada pemecahan masalah yang dihadapi murid.

Prinsip-prinsip Filsafat Progresivisme Lainnya

Dalam sumber lain, Winch & Gingell (2002) juga mengemukakan pendapatnya tentang prinsip-prinsip filsafat progresivisme.

  1. Siswa bisa memilih mata pelajaran sesuai minatnya, karena materi pelajaran yang disajikan sekolah merupakan pilihan dan keputusan murid.
  2. Sekolah perlu menghindari metode pembelajaran yang dapat mengurangi otonomi murid, seperti hafalan.
  3. Kurikulum tidak boleh mengategorikan subjek pelajaran, tetapi menekankan pada integrasi subjek.

Kritik tentang progresivisme

Sekalipun filsafat ini mengandung banyak kekuatan, tetapi ada kritik terhadap progresivisme.

  • Pertama, penolakan terhadap otoritas. Padahal, otoritas adalah bagian penting dalam ajaran agama, nilai moral, struktur politik, serta keilmuan itu sendiri (Anwar, 2015).
  • Kedua, keyakinan bahwa pertumbuhan (progres) adalah tujuan, juga dapat menimbulkan ancaman karena pertumbuhan dapat terjadi ke arah yang salah, misalnya menjadi seorang kriminal. Namun terkait kriminalitas, kaum progresivisme membantah dan menyatakan bahwa kriminalitas tidak dapat disebut sebagai pertumbuhan atau progres (Winch & Gingell, 2002).

Natur Pendidikan Kristen Menurut Wolterstorff

            Nicholas Paul Wolterstorff merupakan seorang tokoh pendidikan yang sangat berpengaruh bagi perkembangan sekolah-sekolah Kristen dalam tradisi Reformed di Amerika Utara, bahkan seluruh dunia. Wolterstorff menyuarakan beberapa hal yang harus diperhatikan sekolah selain pengetahuan dan keterampilan (Wolterstorff, 2014). Menurut Wolterstorff, pendidik perlu menyadari bahwa perubahan yang dialami murid tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga kehidupan di luar kelas. Oleh karena itu, pendidikan harus mengarah pada cara hidup di dunia (di kelas maupun luar kelas), hari ini dan masa depan. Pendidikan merupakan medan pertempuran karena dalam pengarahan kepada cara hidup di dunia, kita menyentuh isu religius dalam masyarakat yang pluralis, sedangkan kita tidak sependapat dalam isu-isu religius tersebut.

Maturisasi dan Sosialisasi

Berkaitan dengan hal tersebut, ada dua ideologi utama yang dominan dalam pendidikan: maturasi dan sosialisasi.

  • Maturasi menekankan pada kebebasan individu, berpusat pada siswa, dan minat anak akan menentukan pelajarannya.
  • Sosialisasi menitikberatkan pada disiplin dan tanggung jawab sosial untuk mempersiapkan anak memahami peran sosialnya, sehingga masyarakat yang menentukan pelajaran sekolah. Jadi, kaum maturasionis berfokus pada siswa, sosialisasionis berpusat pada masyarakat, sedangkan orang Kristen mengusulkan pendidikan yang bersumber pada Allah. Sasaran tertinggi pendidikan yang berakar pada Allah adalah membimbing anak untuk hidup dengan memelihara iman kepada Allah (Wolterstorff, 2014).

Jika dicermati, kaum maturasionis menganggap diri mereka mengasuh anak, kaum sosialisasionis merasa sedang membentuk anak. Pendidikan Kristen lebih dari itu: memimpin anak (mengasuh dan membentuk hanyalah unsurnya) untuk menuju cara hidup Kristen di dunia. Memimpin adalah suatu tindakan etis yang berlandaskan perhatian, kepedulian dan kasih kepada anak.

Cara yang Afektif dan Bertanggung Jawab untuk Membentuk Kecenderungan Anak untuk Bertindak

Dari beragam tipe tersebut, pendidikan tidak menjamin akan membentuk tindakan tertentu dari para murid, tetapi pendidikan mempunyai pengaruh atas mereka. Menurut Wolterstorff (2014), cara yang efektif dan bertanggung jawab untuk membentuk kecenderungan anak untuk bertindak adalah:

  1. Disiplin, yaitu mengaitkan tindakan dengan konsekuensi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan.
  2. Memberikan teladan. Anak cenderung meniru perilaku orang yang dikasihinya, sehingga kita perlu bertindak benar secara konsisten. Perbuatan “berbicara” lebih lantang daripada perkataan.
  3. Pemberian alasan atas tindakan yang diharapkan juga akan memperbesar peluang suatu tindakan dilakukan, terutama alasan “pedulikan orang lain.”

Selain itu, terdapat tiga hal fundamental yang harus ada dalam kurikulum sekolah Kristen (Wolterstorff, 2014):

  1. Sekolah perlu membangkitkan kesadaran murid tentang ciri-ciri kehidupan dalam shalom Allah (sebagai tujuan/visi).
  2. Sekolah menolong siswa memahami struktur sosial masyarakat dan melakukan analisis sosial untuk menemukan tempat dalam mengerjakan panggilannya (realitas).
  3. Sekolah harus membandingkan realitas masyarakat dan ciri shalom Allah untuk menemukan panggilan unik murid dengan tujuan memperbaiki hal yang perlu diperbaiki.

Kesimpulan

            Jadi, dapatkah sekolah Kristen menerapkan kurikulum merdeka yang didasari oleh filsafat progresivisme? Tentu saja bisa, tetapi perlu terlebih dahulu memurnikannya (baca: “membaptisnya”) dari konsep yang tidak sesuai dengan iman Kristen. Pendidikan Kristen adalah pendidikan yang berpusat pada Allah dan membimbing murid untuk memelihara iman kepada-Nya. Guru berperan sebagai pemimpin (otoritatif, bukan otoriter atau sekadar fasilitator) untuk menolong para murid hidup dengan cara Kristen di dunia ini. Anak dilatih untuk bertindak dengan cara yang efektif dan bertanggung jawab melalui tiga hal, yaitu: disiplin, teladan, dan pemberian alasan. Selain itu, pendidikan Kristen memberi ruang bagi pembelajaran yang memfasilitasi kondisi dan minat anak yang berbeda-beda, sebagai upaya menemukan panggilan unik mereka dalam menjalani cara hidup Kristen.

Referensi

Anwar, M. (2015). Filsafat Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Mustaghfiroh, S. (2020). Konsep “Merdeka Belajar” Perspektif Aliran Progresivisme John Dewey. Jurnal Studi Guru Dan Pembelajaran, 3 (1), 141-147.

Ornstein, A.C., & Hunkins, F.P. (2009). Curriculum Foundations, Principles, and Issues. USA: Pearson Education.

Saragih, H., dkk. (2021). Filsafat Pendidikan. Medan: Yayasan Kita Menulis.

Suparlan, H. (2015). Filsafat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Sumbangannya bagi Pendidikan Indonesia. Jurnal Filsafat, 25 (1), 56-74.

Winch, C., & Gingell, J. (2002). Philosophy of Education: The Key Concepts. New York: Routledge.

Wolterstorff, N.P. (2014). Mendidik untuk Kehidupan: Refleksi mengenai Pengajaran dan Pembelajaran Kristen. Surabaya: Momentum.

Baca Juga: PARADIGMA KURIKULUM MERDEKA, Kurikulum Merdeka, Tidak Sekadar Belajar CALISTUNG

Allah yang Mahatahu dan Mengetahui Rahasia Hati Kita (Mazmur 44:21)

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan (orang tua siswa)

Firman Tuhan: Allah Mengetahui Rahasia Hati Kita

“…masakan Allah tidak akan menyelidikinya? Karena Ia mengetahui rahasia hati!”
Mazmur 44:21

Ayat ini menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan yang Mahatahu. Ia mengenal setiap ciptaan-Nya secara mendalam — sejak sebelum kita lahir, Ia sudah mengetahui tujuan hidup dan perjalanan kita.
Sifat Allah yang Mahatahu bukan hanya tentang pengetahuan tanpa batas, tetapi juga tentang pemahaman yang penuh kasih terhadap apa yang terbaik bagi kita, bahkan ketika cara-Nya tidak sesuai dengan rencana atau keinginan kita.


Kesaksian Pribadi

Beberapa waktu lalu, saya mendapat kesempatan untuk memimpin PIT (Parents in Touch), yaitu persekutuan doa bersama orang tua dan staf/pendidik di Sekolah Athalia, sekolah Kristen di BSD, Serpong.
Namun, situasi saya saat itu cukup menantang. Saya tidak memiliki asisten rumah tangga, dan ketiga anak saya masih kecil — dua di antaranya mengikuti sekolah online, sementara si bungsu baru berusia empat tahun.

Saya pun berdiskusi dengan koordinator PIT dan menjelaskan kemungkinan akan terlambat datang karena harus menemani anak-anak, serta rencana membawa si bungsu saat kegiatan onsite berlangsung dan memohon maaf karena merasa tidak bisa melayani secara maksimal.

Selama minggu-minggu persiapan, saya terus berdoa:

“Tuhan, Engkau tahu isi hati saya. Saya mau melayani, tetapi kalau saat ini belum waktunya, saya akan menerimanya. Namun jika Engkau izinkan, tolong supaya anak saya bisa tenang ketika saya melayani, agar pelayanan tidak terganggu.”

Sempat terlintas untuk mengundurkan diri. Namun ternyata, cara Tuhan bekerja sungguh luar biasa dan di luar dugaan manusia.
Beberapa hari sebelum acara, angka positif COVID-19 kembali meningkat, dan akhirnya PIT diadakan secara online.
Dengan begitu, saya tetap bisa melayani dari rumah sambil menjaga anak-anak.

Saya tidak bersukacita karena pandemi, tetapi saya bersyukur karena Tuhan mengenal pergumulan saya dan memberikan solusi terbaik. Allah sungguh Mahatahu dan penuh kasih terhadap umat-Nya.


Belajar Jujur di Hadapan Allah yang Mahatahu

Pengalaman ini mengajarkan saya untuk selalu terbuka dan jujur di hadapan Tuhan.
Sering kali kita berkata, “I’m okay,” di hadapan orang lain, padahal hati kita sedang tidak baik-baik saja. Namun, Tuhan tahu segalanya, bahkan hal-hal yang kita sembunyikan dari orang lain.

Mazmur 44:21 kembali mengingatkan:

“…masakan Allah tidak akan menyelidikinya? Karena Ia mengetahui rahasia hati!”

Karena itu, marilah kita belajar seperti pemazmur — jujur dalam setiap keadaan, baik ketika bersukacita maupun ketika merasa lemah, kehilangan, atau khawatir.
Kita boleh datang kepada Tuhan dengan doa yang sederhana namun tulus:

“Tuhan, tolong saya yang lemah ini agar tidak tenggelam dalam perasaan-perasaan ini. Ajari saya untuk kembali memandang-Mu dan percaya penuh pada rencana-Mu.”


Kesimpulan: Allah Tahu yang Terbaik bagi Kita

Allah yang Mahatahu selalu mengetahui isi hati dan kebutuhan kita yang terdalam.
Ia tidak hanya menyelidiki hati, tetapi juga memahami dan menyediakan yang terbaik bagi setiap anak-Nya — sesuai kehendak-Nya, bukan keinginan kita.

Kiranya melalui renungan ini, kita semakin percaya bahwa Tuhan mengenal dan memelihara hidup kita sepenuhnya.
Jujurlah di hadapan-Nya, karena tidak ada yang tersembunyi bagi Allah yang mengetahui rahasia hati manusia.

Mendidik Anak dengan Cara Allah

Mendidik Anak dengan Cara Allah

Oleh: Chandria Wening Krisnanda (Konselor Bina Karir Sekolah Athalia)

Perjalanan Gary dan Anne Marie Ezzo, pasangan suami istri penggagas kelas parenting GKGW (Growing Kids God’s Way), dimulai pada tahun 1984. Mereka terpanggil untuk berbagi prinsip praktis dalam mendidik anak yang berfokus pada kemuliaan Tuhan.

Pelayanan mereka dimulai dari enam pasangan suami istri di Los Angeles melalui kelas “Membesarkan Anak dengan Cara Allah” atau “Growing Kids God’s Way”. Kini, konsep GKGW telah tersebar luas dan menjadi berkat bagi banyak keluarga, termasuk Komunitas Sekolah Athalia.


Tujuan Utama Kelas Parenting GKGW

1. Membentuk Anak untuk Memuliakan Tuhan, Bukan Manusia

Banyak orang tua tanpa sadar memosisikan anak sebagai objek tanpa hak, menuntut penghormatan berlebihan dengan alasan pendisiplinan. Padahal, segala hormat dan kemuliaan sejatinya hanya milik Tuhan.
Kelas parenting GKGW mengingatkan bahwa mendidik anak bukan untuk kebanggaan pribadi, tetapi untuk kemuliaan Allah.


2. Memberikan Petunjuk Praktis Berdasarkan Prinsip Alkitabiah

Setiap keluarga memiliki cara masing-masing dalam mendidik anak. Namun, Gary dan Anne Marie Ezzo menyusun silabus terintegrasi berdasarkan karakter iman Kristen agar setiap prinsip pengasuhan memiliki makna rohani dan tidak menjadi kesia-siaan di hadapan Allah Bapa.


3. Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Orang Tua

Apakah Anda pernah merasa ragu saat mendisiplin anak atau gelisah melihat anak menangis? Banyak orang tua mengalami hal serupa.
Kelas GKGW hadir untuk meneguhkan orang tua agar memiliki keyakinan dalam menjalankan perannya. Rasa percaya diri ini bersumber dari Firman Tuhan yang menyatakan kebenaran serta penerapan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kepercayaan diri yang kokoh, orang tua dapat mengembangkan kemampuan mendidik anak dengan lebih berkualitas.


4. Menolong Orang Tua Melihat Masa Remaja dengan Pandangan Positif

“Anakku sudah ABG dan mulai sulit diatur…” — keluhan seperti ini sering terdengar di kalangan orang tua.

Gary dan Anne Marie Ezzo mengajarkan bahwa masa remaja bukanlah masa yang menakutkan. Justru, dengan berpegang pada standar Tuhan, mendidik anak remaja dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan dan membangun hubungan yang lebih erat.


5. Menjangkau Hati dan Pikiran Generasi yang Akan Datang

Menurut Gary dan Anne Marie Ezzo, dibutuhkan dua generasi untuk melihat dampak nyata dari perubahan cara pikir. Mereka rindu agar para orang tua memiliki pola pikir yang alkitabiah sehingga dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Perubahan sejati dimulai dari pembaruan pola pikir orang tua, yang kemudian menjangkau anak-anak dan cucu mereka.


Dampak Kelas Parenting GKGW di Komunitas Sekolah Athalia

Lima tujuan tersebut menjadi dasar bagi Sekolah Athalia untuk menyelenggarakan kelas parenting GKGW beberapa tahun lalu. Banyak pasangan merasa terberkati dan mengalami perubahan dalam keluarga mereka.


Testimoni Peserta Kelas GKGW

Beryl & Anita

Kami mengikuti GKGW karena ingin mendidik anak dengan benar. Banyak prinsip baru yang kami pelajari di setiap pertemuan. Kini, kami memiliki relasi yang lebih hangat dengan anak remaja kami berkat penerapan nilai-nilai GKGW.
Kami berharap kelas ini dapat memberkati keluarga besar kami agar pola asuh yang benar dapat diterapkan secara lebih luas.

Djulia

Saat saya dan suami memutuskan untuk taat menerapkan ajaran GKGW, kami melihat perubahan nyata dalam relasi keluarga. Prosesnya memang panjang, bahkan hingga anak-anak dewasa kami tetap menerapkannya.
Harapan kami, kelak anak-anak kami juga mau belajar GKGW ketika mereka sudah berkeluarga.


Melanjutkan Tongkat Estafet Pengasuhan Kristen

Semoga Komunitas Sekolah Athalia terus melanjutkan tongkat estafet dari Gary dan Anne Marie Ezzo untuk melahirkan generasi masa depan yang benar sejak awal, yang hidup sesuai dengan Firman Tuhan.


Sumber

Ezzo, G., & Ezzo, A.M. (2001). Let The Children Come-Along The Virtuous Way: Membesarkan Anak dengan Cara Allah. Bogor: Yayasan Bina Keluarga Indonesia..

ICON Camp SMA Athalia 2022

Oleh: Bella Kumalasari, staf Pengembangan Karakter Sekolah Athalia

Pendidikan Karakter di Sekolah Athalia

Pendidikan karakter di Sekolah Athalia, sebuah sekolah di Serpong, telah dimulai sejak dini. Siswa dibentuk untuk menjadi pribadi yang bersukacita, bertanggung jawab atas kewajibannya, serta peduli dengan sekitar. Semua itu bertujuan mempersiapkan siswa agar dapat memberi dampak dan berkontribusi secara lebih luas bagi masyarakat. Apalagi sebentar lagi mereka juga akan memasuki dunia perguruan tinggi. Oleh sebab itu, profil karakter siswa SMA Athalia adalah Influencing and Contributing.

Kamp Karakter di SMA Athalia

ICON Camp (Influencing and Contributing Camp) menjadi salah satu sarana pembentukan karakter siswa SMA Athalia. Acara ini diadakan secara khusus di kelas 11. Melalui kamp ini, siswa diingatkan kembali mengenai karakter yang mereka pelajari selama di jenjang SMA. Mereka diberi ruang untuk mengevaluasi diri sudah sejauh mana belajar dan menghidupi karakter-karakter yang dibinakan. Juga untuk mengembangkan karakter-karakter tersebut di masa mendatang dengan lebih baik.

Tema ICON Camp Tahun Ini

ICON Camp SMA Athalia tahun ini mengangkat tema “Be You Till Full”. Para guru mencermati, pembelajaran di masa pandemi memang dilakukan secara terbatas. Namun, di sisi lain siswa memiliki ruang yang luas untuk mengeksplorasi minat dan bakatnya. Bukankah hal ini dapat menjadi kesempatan untuk mendorong siswa memaksimalkan minat dan bakatnya untuk berdampak dan berkontribusi secara lebih luas?

Sebelum pelaksanaan ICON Camp, siswa menjalani tes psikologi untuk mengenal bakat dan minatnya. Setelah itu mereka dibagi ke dalam kelompok dengan anggota yang memiliki kecerdasan berbeda-beda. Mereka diminta untuk merancang sebuah proyek ICON yang akan disayembarakan pada hari H. Di sini, setiap siswa belajar untuk bekerja sama dan mengambil bagian dalam melakukan proyek ICON.

Acara ICON Camp

Ketika hari ICON Camp tiba, siswa mengikuti acara selama dua hari. Di hari pertama mereka dipandu untuk mengenal diri. Selain itu juga memaksimalkan kelebihan untuk menjadi berkat bagi orang lain melalui materi, permainan, dan diskusi. Di hari kedua, siswa diberi kesempatan untuk mendengarkan pemaparan dari beberapa narasumber. Para narasumber ini adalah mereka yang sudah menunjukkan influencing and contributing dalam hidupnya. Contohnya seperti mendirikan rumah baca di daerah terpencil serta membuka usaha pengolahan sampah.

Kisah ICON dari para narasumber ditutup dengan presentasi siswa mengenai proyek ICON yang sudah mereka rancang. Dari lima belas kelompok, terpilih tiga kelompok dengan rancangan proyek terbaik.

Proyek-proyek terbaik:

  • Pertama adalah Thrift It, yaitu penjualan baju bekas layak pakai ataupun baju-baju sisa ekspor sebagai salah satu cara mencari dana. Nnantinya dana yang terkumpul didonasikan kepada orang yang membutuhkan.
  • Kedua adalah Ecomplex, yaitu pengolahan sampah dapur (sisa kulit buah dan sayuran busuk). Sampah organik ini diolah menjadi produk daur ulang berupa pupuk cair.
  • Ketiga, Maskerin (masker kain), merupakan proyek mengampanyekan gerakan memakai masker kain daripada masker sekali pakai.

Harapan untuk Peserta ICON Camp

Kiranya melalui proyek-proyek yang akan direalisasikan ini, siswa dapat berlatih untuk merencanakan, mengelola, serta memperjuangkan sesuatu yang dapat membawa pengaruh dan dampak bagi sesama dan lingkungan. Proyek ICON menjadi miniatur proyek-proyek nyata yang dapat dilakukan oleh siswa di masa yang akan datang dalam lingkup yang lebih luas. Karena sesungguhnya setiap siswa dipanggil untuk menjadi murid Tuhan yang menjadi terang dan garam bagi dunia (Matius 5:13-16).

Tips Mendampingi Anak TK dan SD Kembali Sekolah Onsite

Oleh: Chandria Wening Krisnanda (Konselor Bina Karir Sekolah Athalia)

Situasi Saat Ini

Belakangan, kasus harian orang yang terpapar COVID-19 tidak sebanyak dulu. Bahkan, per 17 Mei 2022 Jokowi mengumumkan bahwa masyarakat diperbolehkan tidak menggunakan masker ketika berkegiatan di luar ruangan atau di area terbuka yang tidak padat orang (Nugraheny, 2022). Kondisi ini mendorong sekolah-sekolah mulai memberlakukan sistem pembelajaran onsite di semester depan.

Bagi beberapa anak TK dan SD, kembali belajar di sekolah setelah lebih dari dua tahun menjalani PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) membutuhkan proses penyesuaian. Orang tua perlu membantu anak agar merasa nyaman ketika menjalani masa transisi ini. Bagaimana caranya? Dalam laman resminya, UNICEF menyebutkan beberapa tips yang dapat dilakukan orang tua.

Tips Bagi Orang Tua Mempersiapkan Anak Kembali Belajar Secara Onsite

1. Dengarkan anak

Dengarkan dengan saksama ketika anak bercerita tentang kekhawatirannya. Untuk anak yang berusia lebih kecil, kita dapat melakukan role play di rumah yang menggambarkan situasi “back to school”. Orang tua juga bisa mengajak anak menggambar bersama untuk setiap tahapan yang harus mereka lakukan nantinya saat kembali ke sekolah.

2. Membantu anak membuat persiapan

Dampingi anak untuk mempelajari aturan-aturan baru saat mereka kembali ke sekolah. Jangan lupa untuk mendiskusikan tentang apa yang mereka rasakan. Jika ada hal penting yang diceritakan anak, maka kita dapat mengomunikasikannya dengan guru mereka.

3. Tetap tenang

Ingatlah bila anak usia TK dan SD sangat mudah menyerap dan meniru respons orang tuanya terhadap suatu peristiwa. Kita perlu tetap bersikap tenang agar anak dapat merasa lebih nyaman dan aman.

4. Buatlah rencana perpisahan

Untuk anak yang berusia lebih besar, kita dapat mencoba beberapa cara berikut jika ia kesulitan menghadapi perpisahan dengan orang tua.

  • Berikan kesan perpisahan yang positif.
  • Beri tahu anak bahwa akan ada momen “perpisahan sementara”.
  • Ceritakan dengan kata-kata yang jelas dan mudah dipahami.
  • Ingatkan ke anak bahwa kita akan bertemu kembali dengan mereka.
  • Jangan terlihat ragu-ragu saat melakukan perpisahan.
  • Jemput mereka tepat waktu dan sesuai dengan rencana.
  • Lakukan kebiasaan yang sama setiap kali akan mengantar dan menjemput anak.

Kita bisa menjadikan momen kembali ke sekolah sebagai proses belajar bagi anak untuk lebih dewasa dalam menghadapi “perpisahan”. Yang perlu diperhatikan orang tua adalah cara berkomunikasi dengan anak sesuai dengan usianya. Jika anak berhasil melalui proses ini, maka ia akan belajar lebih mandiri dan cepat beradaptasi untuk hal atau kebiasaan baru lainnya.

Referensi:

Nugraheny. (2022). Jokowi Bolehkan Warga Lepas Masker di Area Terbuka. Diakses pada tanggal 19 Mei 2022, https://nasional.kompas.com/read/2022/05/17/17235791/jokowi-bolehkan-warga-lepas-masker-di-area-terbuka.

UNICEF.  (n.d.). How to Support Your Child through Reopening. Diakses pada tanggal 10 Mei 2022, https://www.unicef.org/coronavirus/support-child-covid-reopening.

Allah yang Tidak Berubah

Oleh: Ngatmiati, Staf Kerohanian Sekolah Athalia.

“Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan mereka berubah; tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan. Anak hamba-hamba-Mu akan diam dengan tenteram, dan anak cucu mereka akan tetap ada di hadapan-Mu.
(Mazmur 102:26–28)


Allah yang Tetap Sama dari Dahulu, Sekarang, dan Selamanya

Ketidakberubahan adalah salah satu atribut Allah yang luar biasa. Sifat, kuasa, dan otoritas-Nya tetap sama dari masa ke masa.

Segala sesuatu di dunia akan menjadi usang dan binasa seiring waktu—namun Allah tidak pernah berubah. Ia tetap Allah yang sama dari dahulu kala hingga selama-lamanya.

Kesadaran akan hal ini membawa ketenteraman bagi orang percaya. Fakta bahwa Allah tidak berubah membuat kita mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan kehidupan, karena kita tahu bahwa kasih setia dan kuasa-Nya tidak pernah berkurang.


allah yang tidak berubah

Refleksi dari Sebuah Peristiwa di Pantai

Saya mendapat pengalaman berharga tentang hal ini ketika berlibur ke rumah keponakan pada akhir tahun lalu. Pada hari terakhir tahun itu—31 Desember 2021—saya menemani cucu keponakan bermain di pantai.

Pagi itu sedikit mendung, dan tidak lama kemudian hujan turun. Saya sempat bimbang: apakah sebaiknya tetap bermain di pantai atau kembali ke rumah? Akhirnya, kami memutuskan untuk tetap bermain sambil hujan-hujanan. Tak lama kemudian, hujan berhenti dan matahari kembali bersinar.

Tiba-tiba, cucu saya berteriak gembira, “Pelangi! Pelangi!”

Saya mendongak, dan benar—pelangi yang indah membentang di langit. Saat itu hati saya tersentuh. Rasanya seperti pesan pribadi dari Tuhan di penghujung tahun: saya akan menjalani tahun yang baru bersama Allah yang setia pada janji-Nya.

Keyakinan ini membawa ketenangan mendalam, sebab saya tahu bahwa kasih setia dan kuasa Allah tidak pernah berubah. Seperti Ia telah menyertai dan menolong saya di tahun-tahun sebelumnya, demikian pula anugerah-Nya akan terus nyata di tahun yang baru.


Pelajaran dari Seekor Anak Kucing

Masih di pantai yang sama, saat saya duduk santai, seekor anak kucing tiba-tiba mendekat dan duduk di pangkuan saya. Tak lama, ia tertidur dengan tenang. Ketika saya mencoba mengangkat tangan, kucing kecil itu menariknya kembali, seolah takut kehilangan kehangatan.

Momen sederhana itu membuat saya merenung:

Apakah saya juga seperti anak kucing itu terhadap Allah?
Apakah saya ingin selalu dekat dan tidak menjauh dari-Nya?

Karena hanya bersama Allah yang tidak berubah, saya dimampukan untuk menghadapi setiap tantangan hidup dengan tenang.

Kasih setia dan kuasa-Nya tidak lekang oleh waktu — tetap sama dari generasi ke generasi.


🌈 Penutup

Melalui pelangi dan kehadiran seekor anak kucing, Allah seakan mengingatkan bahwa Dia tetap setia dan tidak berubah. Di tengah dunia yang terus berganti, satu hal yang pasti:

Tuhan yang sama yang menolong kemarin, adalah Tuhan yang juga akan memelihara kita hari ini dan selamanya.