Hari Kunjung Perpustakaan

Bulan September sangat spesial buat perpustakaan, bagaimana tidak? Ada dua momen yang spesial di bulan ini, yaitu “Bulan Gemar Membaca” dan “Hari Kunjung Perpustakaan”. Dua momen tersebut penting untuk mendongkrak minat baca pengajar, staf, dan siswa Sekolah Athalia.

Untuk memperingati hari spesial tersebut, khususnya “Hari Kunjung Perpustakaan” pada tanggal 14 September, Perpustakaan Sekolah Athalia mengadakan games yang bisa diikuti oleh pengajar, staf, siswa, office boys & girls dan juga pengajar yang sedang mengadakan studi banding ke Sekolah Athalia. Games ini adalah mencari harta karun yang ada di perpustakaan dengan menjawab pertanyaan yang sudah disediakan Pustakawan. Selain itu games ini juga mewajibkan pengunjung perpustakaan untuk meneliti sebuah gambar dan mencari kesalahan pada gambar tersebut. Antusias pengunjung perpustakaan luar biasa untuk mencari harta karun tersebut, karena ada hadiah menarik yang sudah menanti.

Pustakawan menyediakan 25 buah buku fiksi dan nonfiksi, 42 buah topi keren, 20 buah poster dan 2 buah tas. Selain itu setiap pengunjung perpustakaan akan mendapatkan makanan ringan dan juga pembatas buku. Semua hadiah dan makanan ringan yang disediakan sudah habis tidak bersisa :).

Semoga minat baca pengajar, staf, dan siswa tetap terpelihara, semakin antusias ke perpustakaan dan semakin banyak pengunjung Perpustakaan.

(Dihimpun oleh: Hana Kristina Purba, koordinator Perpustakaan Sekolah Athalia)

hari kunjung perpushari kunjung perpushari kunjung perpushari kunjung perpus

Baca juga: Hari Kunjung Perpustakaan

Manfaat Liburan Keluarga

Manfaat Liburan Keluarga

Kenapa Liburan Itu Penting?

“Happy times come and go, but the memories stays forever” (kebahagiaan datang dan pergi, namun kenangan tetap selamanya). Kalimat ini menggambarkan betapa berharganya waktu yang kita habiskan bersama orang yang kita cintai, terutama saat berlibur. Seringkali, kita mendengar kalimat seperti, “Aku butuh piknik, butuh refreshing” atau “Aku kurang liburan, kurang jalan-jalan”, saat merasa lelah dan jenuh dengan rutinitas sehari-hari.

Liburan bukan hanya tentang bersenang-senang atau beristirahat, tetapi juga menjadi sarana untuk mencari keseimbangan hidup kembali. Keinginan untuk berlibur menggambarkan kebutuhan banyak orang untuk menyegarkan pikiran dan emosi setelah beraktivitas intens. Adakah orang yang tidak menyukai liburan? Mungkin ada, namun sebagian besar dari kita menganggap liburan sebagai salah satu cara untuk menyegarkan diri dan mengisi ulang energi.


Manfaat Liburan Keluarga

Liburan ternyata bukan hanya sekadar waktu untuk bersenang-senang, tetapi juga memiliki dampak positif bagi hubungan dalam keluarga. Salah satu kegiatan yang sangat bermanfaat untuk mengisi liburan adalah berlibur bersama keluarga. Ketika seluruh anggota keluarga meluangkan waktu bersama, liburan dapat menjadi sarana untuk mempererat ikatan emosional (bonding) antar anggota keluarga.

Liburan keluarga adalah saat yang tepat bagi orang tua dan anak untuk saling menyediakan waktu dan mengisinya dengan aktivitas menyenangkan bersama, dan memperbaiki hubungan yang mungkin terabaikan akibat kesibukan sehari-hari. Memori indah yang tercipta selama liburan akan menjadi modal berharga bagi masing-masing anggota keluarga, menciptakan kebahagiaan, dan meningkatkan kepuasan dalam hubungan satu sama lain. Oleh karena itu, merencanakan liburan bersama keluarga dengan baik sangat penting untuk menciptakan kenangan yang berarti dan penuh makna.


Membangun Relasi Keluarga: Seperti Merawat Tanaman

Membangun relasi dalam keluarga bisa diibaratkan seperti merawat tanaman. Agar tanaman tumbuh dengan baik, ia membutuhkan air yang cukup, sinar matahari, dan nutrisi yang tepat. Begitu juga dengan anggota keluarga; mereka membutuhkan perhatian dalam berbagai aspek—spiritual, karakter, moral, kognitif, dan lainnya. Agar keluarga bisa bertumbuh bersama dengan baik, dibutuhkan lingkungan yang kondusif.

Kondisi keluarga yang mendukung pertumbuhan emosional dan relasi yang baik tidak terjadi begitu saja. Hal ini perlu direncanakan dan dikelola dengan kesengajaan. Liburan keluarga adalah salah satu cara untuk menciptakan suasana yang kondusif dan memperkuat ikatan antar anggota keluarga. Saat berlibur, setiap anggota keluarga dapat menikmati kehadiran satu sama lain, merasakan cinta, dan mendukung pertumbuhan emosional mereka.


Cara Merencanakan Liburan Keluarga yang Bermakna

Liburan yang menyenangkan dan bermanfaat tidak selalu tergantung pada destinasi atau fasilitas tempat liburan. Sebaliknya, yang lebih penting adalah bagaimana kita merencanakan dan mengisinya. Sebelum pergi berlibur, luangkan waktu untuk berbicara dengan seluruh anggota keluarga tentang rencana liburan. Obrolan ini dapat menjadi kesempatan untuk saling mengenal preferensi dan kesukaan satu sama lain, serta belajar berempati.

Usahakan untuk merancang kegiatan yang melibatkan interaksi antar anggota keluarga. Pilih aktivitas yang bisa dinikmati bersama, seperti bersepeda, bermain di pantai, memasak, atau bermain board game seperti Halma, Ludo, atau Monopoli. Mengunjungi tempat wisata alam seperti gunung, air terjun, dan pantai juga bisa menjadi pilihan liburan yang menyenangkan dan mendekatkan keluarga.


Bersama Berlibur vs. Berlibur Bersama

Ada perbedaan besar antara berlibur bersama dan bersama berlibur. Jika masing-masing anggota keluarga hanya melakukan kegiatan favoritnya sendiri meskipun berada di tempat yang sama, maka liburan tersebut tidak akan membangun hubungan yang erat. Contohnya, sebuah keluarga pergi ke mall bersama, namun ayah duduk di kedai kopi, ibu berbelanja, dan anak-anak bermain di arena bermain. Ini adalah contoh bersama berlibur, bukan berlibur bersama.

Berlibur bersama artinya seluruh anggota keluarga menghabiskan waktu berkualitas yang melibatkan interaksi, berbagi kebahagiaan, dan saling mendukung. Liburan yang seperti ini menciptakan kepuasan bersama dan memperkuat ikatan keluarga. Kenangan indah yang tercipta selama liburan ini akan melekat dalam ingatan dan menjadi modal bagi hubungan yang lebih harmonis dan penuh kasih.


Merencanakan Liburan Keluarga yang Penuh Makna

Untuk mendapatkan liburan keluarga yang penuh makna, penting untuk merencanakan dengan baik. Ingatlah bahwa liburan yang sukses bukanlah tentang destinasi atau fasilitas semata, tetapi tentang bagaimana kita mengisinya dengan kegiatan yang mempererat hubungan dalam keluarga. Buatlah liburan sebagai kesempatan untuk mengisi tangki emosi keluarga dengan perasaan positif, cinta, dan kedekatan yang akan bertahan lama.

Selamat menikmati liburan bersama keluarga Anda. Semoga liburan keluarga ini membawa manfaat kedamaian, kebahagiaan, dan memperkuat relasi dalam keluarga. Tuhan menyertai kita.

Belas Kasihan

belas kasihan

Oleh: Bapak Presno Saragih, Kabid. Pendidikan

Yesus yang Penuh Belas Kasihan

Dalam Markus 6:30 kita membaca bahwa para murid melaporkan apa yang sudah mereka kerjakan dan ajarkan kepada orang-orang yang mereka jumpai. Pasti terjadi diskusi yang menarik antara mereka dengan Tuhan Yesus. Mungkin ada pujian, koreksi, dan lain-lain yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Pendek kata ada evaluasi yang Tuhan Yesus sampaikan kepada mereka.

Lalu pada ayat 31 kita membaca adanya ajakan Tuhan Yesus kepada mereka untuk pergi ke tempat yang sunyi untuk beristirahat di sana karena mereka baru saja melakukan pelayanan yang sangat melelahkan. Namun ketika Tuhan Yesus melihat orang banyak yang mencari-cari (membutuhkan) Dia, niat-Nya untuk beristirahat diurungkan-Nya (Markus 6:33,34). Ayat 34 mencatat bahwa hati-Nya tergerak oleh “belas kasihan” kepada mereka.

Makna Belas Kasihan

Belas kasihan adalah perasaan kasih yang ditunjukkan lewat perbuatan nyata. Markus 6:34b mencatat bahwa Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Mereka membutuhkan pengajaran Tuhan Yesus karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala (Markus 6:34a).

Perasaan belas kasihan-Nya tidak berhenti pada perasaan simpati dan atau empati saja tapi dilanjutkan dengan perbuatan memberi pengajaran kepada orang banyak yang terlantar tersebut. Bahkan ketika hari mulai malam Tuhan Yesus meminta murid-murid-Nya untuk memberi makanan kepada orang banyak yang baru menerima pengajaran-Nya. Orang banyak membutuhkan makanan jasmani setelah mereka menerima makanan rohani dari Tuhan Yesus. Perasaan belas kasihan-Nya kembali mewujud nyata dalam bentuk perbuatan yaitu memberi orang banyak makanan yang mereka butuhkan.

Ada banyak hal yang sangat menarik berkaitan dengan mujizat 5 ketul roti dan 2 ekor ikan. Ketika diberitahukan kepada Tuhan Yesus bahwa “modal” makanan yang mereka miliki hanyalah 5 ketul roti dan 2 ekor ikan, Tuhan Yesus tidak berkomentar negatif melihat perbandingan yang sangat tidak seimbang antara jumlah makanan dan jumlah orang yang butuh makanan, yang membutuhkan makanan ada lebih dari 5.000 orang (Markus 6:44).

Alkitab mencatat ada 5.000 orang laki-laki yang mendengarkan khotbah Tuhan Yesus pada waktu itu. Jumlah perempuan dan anak-anak yang hadir tidak ditulis. Mungkin ada 5.000 perempuan dan 5.000 anak-anak yang juga hadir menerima pengajaran Tuhan Yesus. Berarti totalnya ada +/- 15.000 orang yang membutuhkan makanan. Lalu Tuhan Yesus mengucap syukur dan membagi-bagikan roti dan ikan itu kepada mereka (Yohanes 6:11). Dan terjadilah mujizat. Roti dan ikan itu tidak kunjung habis. Semua orang mendapat makanan dan makan sampai kenyang (Markus 6:42). Bahkan masih tersisa 12 bakul penuh (Markus 6:43). Belas kasihan Tuhan Yesus yang disertai ucapan syukur menghasilkan mujizat yang mencukupi kebutuhan jasmani dan rohani 15.000 orang.

Refleksi

Bagaimana dengan perasaan belas kasihan yang kita miliki? Apakah perasaan tersebut mewujud nyata dalam bentuk perbuatan? Atau hanya berhenti pada perasaan simpati dan atau empati saja? Hanya berputar-putar pada poros perasaan kasihan semata. Kita cuma berkata, ”Kasihan ya bapak itu?” Namun tidak ada perbuatan nyata yang kita lakukan. Bahkan mungkin kemudian menggosipkan orang yang kita kasihani itu panjang lebar dengan teman kita. Ironis, bukan?!

Mengapa banyak orang hanya memiliki perasaan simpati dan atau empati saja tanpa disertai perbuatan nyata? Mungkin karena mereka sendiri belum pernah mengalami kasih ilahi dalam kehidupan mereka yaitu kasih Allah yang membawa-Nya naik ke bukit Golgota. Sehingga mereka tidak dapat membagikan kasih ilahi kepada orang lain karena kantong kasih mereka kosong melompong. Alkitab berkata bahwa Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita melalui kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib ketika manusia (kita) masih berdosa (Roma 5:8). Dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi, kita menerima kasih ilahi yang menyucikan kita dari segala dosa dan pelanggaran kita. Dengan modal kasih Allah tersebut kita dimampukan untuk mewujudnyatakan kasih kita kepada orang lain melalui perbuatan kita.

Ada banyak orang di sekitar kita membutuhkan injil Kristus. Ada banyak orang di sekitar kita membutuhkan uang kita, tenaga kita, telinga kita, waktu kita, nasehat kita, dan lain-lain. Maukah kita berbelas kasihan kepada mereka dengan memberitakan injil Kristus? Maukah kita berbelas kasihan kepada mereka dengan memberikan uang kita, tenaga kita, telinga kita, waktu kita, nasehat kita? Mari kita menjawabnya di hadapan Tuhan secara pribadi…

Baca Juga: Belas Kasihan Adalah Kunci

Penerimaan siswa baru untuk siswa dalam di Sekolah Athalia

Sosialisai Penerimaan Siswa Baru

Sosialisasi penerimaan siswa baru dan pembelian formulir untuk siswa dalam, tahun pelajaran 2018/2019, diselenggarakan pada Sabtu, 7 Oktober 2017 di Aula F gedung SMA Athalia. Acara ini dimulai dengan pemutaran video clip tentang profil Sekolah Athalia yang dilanjutkan dengan doa pembuka oleh kepala SMA bapak Anton Tamal.

Berikutnya acara ini disemarakkan oleh penampilan siswa yaitu fancy drill dari Boys’ Brigade Athalia dan paduan suara siswa Athalia. Setelah itu, John C, seorang alumnus Sekolah Athalia memberikan kesaksian tentang pengalamannya selama belajar di Sekolah Athalia, tentang karakter baik yang telah dipelajarinya selama bersekolah di tempat ini, dan bagaimana hal tersebut berpengaruh dalam dirinya bahkan setelah ia meninggalkan Sekolah Athalia untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Pengenalan Proses Pembelajaran di Sekolah Athalia

Selanjutnya acara diteruskan dengan pengenalan proses pembelajaran di Sekolah Athalia oleh Bapak Presno Saragih. Ibu Charlotte Priatna selaku direktur Sekolah Athalia juga menyampaikan tentang program kemitraan sekolah, dimana Sekolah Athalia mengharapkan kerja sama yang baik antara sekolah, pendidik, dan orang tua dalam mendidik para siswa sehingga terjalin sinergi yang akan mampu memaksimalkan proses belajar siswa dalam mengembangkan dirinya. Diharapkan setiap siswa dapat menemukan dan menghidupi rencana Tuhan dalam diri mereka. Prosedur penerimaan siswa baru disampaikan oleh Bapak Daniel sebagai salah satu anggota Yayasan Athalia kilang berikut tanya jawab mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pendaftaran siswa baru tersebut. Acara diakhiri dengan pembelian dan pengembalian formulir pendaftaran. (Indri).

Pendataan daftar hadir orang tua siswa

Pendataan daftar hadir orang tua siswa

Bapak Anton Tamal, Kepala SMA Athalia

Bapak Anton Tamal, Kepala SMA Athalia

Fancy Drill oleh Boys' Brigade

Fancy Drill oleh Boys’ Brigade

Paduan Suara Siswa Athalia

Paduan Suara Siswa Athalia

John C, alumnus Sekolah Athalia

John C, alumnus Sekolah Athalia

Bapak Presno Saragih, Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Athalia

Bapak Presno Saragih, Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Athalia

Ibu Charlotte Priatna, Direktur Sekolah Athalia.

Ibu Charlotte Priatna, Direktur Sekolah Athalia.

Bapak Daniel L, anggota Yayasan Pendidikan Kristen Athalia Kilang.

Bapak Daniel L, anggota Yayasan Pendidikan Kristen Athalia Kilang.

Proses pembelian dan pengembalian formulir pendaftaran siswa baru dari siswa dalam Sekolah Athalia.

Proses pembelian dan pengembalian formulir pendaftaran siswa baru dari siswa dalam Sekolah Athalia.

Hidup Bijaksana Menurut Alkitab: Takut Akan Tuhan sebagai Dasar Hikmat Sejati

Hidup Bijaksana Menurut Alkitab Takut Akan Tuhan sebagai Dasar Hikmat Sejati

Makna Hidup yang Sesungguhnya

Hidup manusia dikatakan bermakna bukan dari seberapa panjang usianya, tetapi dari nilai-nilai yang ia hidupi selama di dunia. Pertanyaannya: Apakah kita sudah mengisi hidup dengan bijaksana selama di dunia?


Kisah Dua Anak dan Pesan Kebijaksanaan Ayah

Ada sebuah kisah tentang seorang ayah dengan dua anak laki-laki. Sebelum meninggal, ia memberikan sejumlah uang kepada keduanya sambil berpesan:

“Gunakan uang ini baik-baik! Jadikan uang ini sebagai modal usaha, supaya engkau menjadi orang berhasil. Tetapi ingat pesanku ini: jangan sampai kepalamu terkena sinar matahari.”

Setelah sang ayah meninggal, kedua anak itu memulai usaha masing-masing. Anak pertama mengartikan pesan itu secara harfiah — setiap hari ia pergi dan pulang dengan membawa payung agar kepalanya tidak terkena matahari. Namun, meskipun berusaha keras melindungi diri dari panas, usahanya justru bangkrut.

Anak kedua memiliki pemahaman berbeda. Ia tidak membeli payung, tetapi datang lebih pagi ke tempat usaha dan bekerja sampai malam. Ia memahami pesan ayahnya secara bijak: jangan bermalas-malasan hingga matahari tinggi, tetapi bekerjalah rajin sejak pagi. Hasilnya, usahanya berhasil dan berkembang. Ia berhasil karena bijaksana memaknai pesan ayahnya.


Apa Itu Bijaksana?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bijaksana berarti:

“Selalu menggunakan akal budi (pengalaman dan pengetahuan); arif; tajam pikiran; serta hati-hati dalam menghadapi kesulitan.”

Tuhan menghendaki agar umat-Nya memiliki hati yang bijaksana dalam menjalani hidup. Namun, orang bijaksana tidak selalu sama dengan orang berpengetahuan tinggi. Banyak orang berilmu belum tentu bijak, tetapi orang bijaksana tahu bagaimana bersikap benar dalam setiap keadaan.

Orang bijaksana adalah orang yang melihat hidup dari sudut pandang Allah dan mengetahui tindakan terbaik sesuai kehendak-Nya. Ia mengenal isi hati Tuhan dan berusaha hidup sesuai Firman-Nya.


Menjadi Bijaksana Menurut Alkitab

Alkitab mengajarkan prinsip penting dalam Amsal 1:7:

“Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.”

Takut akan Tuhan berarti menghormati Tuhan, mengakui bahwa Dialah sumber hikmat sejati, serta menjauhi dosa dan kejahatan. Orang yang takut akan Tuhan akan membenci dosa dan memilih hidup dalam kebenaran.

Contoh nyata dapat dilihat dari tokoh-tokoh Alkitab seperti Henokh, Nuh, dan Ayub. Mereka menjauhi kejahatan bukan karena kesempurnaan diri, tetapi karena mereka menghormati Tuhan di atas segalanya.
Sebaliknya, orang yang tidak takut akan Tuhan — betapapun pandainya — pada akhirnya akan binasa.


Contoh Salomo: Hikmat Tanpa Takut akan Tuhan Membawa Kejatuhan

Raja Salomo dikenal sebagai raja paling bijaksana dalam Perjanjian Lama. Ia memohon hikmat dari Tuhan agar dapat memimpin rakyat dengan benar, dan Tuhan mengabulkan permohonannya.
Namun, di kemudian hari, Salomo kehilangan hati yang takut akan Tuhan. Ia menikahi banyak perempuan asing yang tidak mengenal Allah dan akhirnya ikut menyembah berhala.
Salomo mulai mengandalkan dirinya sendiri, tidak lagi melekat kepada Tuhan. Ia lupa bahwa hikmat sejati berasal dari takut akan Tuhan, bukan dari kepandaian manusia. Akibatnya, hidupnya berakhir dalam kehancuran.


Melekat pada Tuhan dan Mencintai Firman-Nya

Orang yang bijaksana memiliki hati yang melekat kepada Tuhan dan mencintai Firman-Nya. Saat hati Salomo menjauh dari Tuhan, ia berhenti mencintai titah Tuhan dan hidupnya mulai jatuh dalam dosa.
Melekat kepada Tuhan berarti tinggal di dalam Tuhan dan membiarkan Tuhan tinggal di dalam kita.

Daud menulis dalam Mazmur 119:99-100:

“Aku lebih berakal budi dan aku lebih mengerti, sebab aku merenungkan peringatan-peringatan-Mu dan memegang titah-titah-Mu.”

Daud menjadikan Firman Tuhan sebagai isi pikirannya dan gaya hidupnya. Karena itu, untuk menjadi bijaksana, Firman Tuhan harus menjadi pelita bagi kaki kita (Mazmur 119:105).

Alkitab adalah Firman Allah yang mengajarkan mengapa kita hidup, bagaimana menjalani hidup, dan apa yang harus dihindari agar kita bisa hidup dengan bijaksana di hadapan Tuhan.


Kebijaksanaan Sejati Berasal dari Tuhan

Kebijaksanaan sejati tidak berasal dari ide manusia, tetapi dari Tuhan. Orang yang bijaksana adalah mereka yang takut akan Tuhan, melekat kepada-Nya, dan mencintai serta melakukan Firman-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaannya sekarang:

Maukah kita menjadi orang yang bijaksana sesuai kehendak Tuhan?

Shepherding Time, Melihat dan Meniru Cara Yesus Mengajar (Markus 4:1, 33-34)

 

Cara Yesus Mengajar

Terlihat dan Terdengar Jelas dan Memberikan Jawaban

Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. (Markus 4:1)

Pada suatu saat, Yesus hendak mengajar kembali di Danau Galilea. Banyak orang berkerumun untuk mendengar pengajaran Yesus. Saat itu Yesus memandang penting, bahwa setiap orang harus bisa melihat diri-Nya dengan jelas. Hal tersebut agar apa yang diajarkan-Nya dapat didengar dan diperhatikan oleh orang-orang tersebut. Yesus ingin memastikan bahwa kesempatan untuk mendengar kebenaran pada saat itu, haruslah menjadi kesempatan yang menjawab. Artinya, ketika kebenaran disampaikan, maka setiap orang yang mendengarnya akan mendapatkan jawaban atas setiap pergumulannya masing-masing. Yesus mengerti benar, bahwa kebenaran-Nya adalah jawaban yang paling tepat bagi setiap manusia.

Yesus memutuskan untuk berkhotbah menyampaikan pengajaran-Nya dengan cara berdiri di atas perahu yang sengaja ditempatkan agak jauh dari tepi danau. Hal ini bertujuan agar semua orang mendapatkan arah pandang yang sama untuk melihat dan sekaligus mendengar Yesus mengajar. Mungkin saja dengan arah angin yang berhembus dari danau menuju daratan, maka suara Yesus akan menjadi terdengar lebih jelas. Sehingga, dapat dipastikan bahwa Yesus telah memikirkan tehnik penyampaian yang tepat.

 Memiliki Kehendak yang Tetap

Kerumunan orang yang begitu banyak, tidak menjadi hambatan bagi Yesus untuk tetap menyampaikan isi hati Bapa. Kehendak-Nya untuk memberikan kebutuhan rohani bagi setiap orang, terlepas mereka menyadari atau tidak akan kebenaran Allah, adalah kehendak yang tetap. Kehendak yang tetap adalah kehendak yang tidak dipengaruhi oleh situasi atau kondisi. Kehendak yang tetap adalah kehendak yang didorong oleh kasih yang membuat-Nya tidak lagi fokus pada kenyamanan diri. Kenyamanan-Nya adalah ketika dipastikan setiap orang dapat mendengar isi hati Bapa, dan hidup di dalamnya.

Kebenaran Pengajaran yang Memberikan Kepuasan Hidup

Dikatakan bahwa: “datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia,”. Hal ini memberikan kenyataan bahwa ada kebutuhan yang sangat besar mengenai kebenaran. Tidak ditulis bahwa orang banyak itu mendapat undangan atau tidak untuk datang di danau Galilea untuk mendengar khotbah Yesus. Diperkirakan bahwa orang banyak tersebut memang mengikuti Yesus. Jumlahnya semakin banyak oleh karena orang-orang di sekitarnya menjadi penasaran untuk mengetahui seperti apakah pengajaran Yesus itu. Sementara, orang-orang lain yang sudah pernah mendengar pengajaran Yesus, dan tetap terus setia mengikuti Yesus berkeliling. Dapat dipastikan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah mendapatkan kepuasan hidup atas kebenaran yang didengarnya dari Yesus. Kepuasan tersebut pada akhirnya bisa menjadi materi promosi yang ampuh mengenai indahnya kebenaran hati Bapa. Orang-orang yang telah dipuaskan oleh kebenaran pengajaran Yesus, menjadi kesaksian hidup yang tak henti-hentinya mengajak orang lain untuk ikut serta hidup sebagai pendengar dan pelaku Firman Tuhan.

Mengenal Audiens dan Berbicara Sesuai Latar Belakang Pendengar

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Markus 4:33-34)

Yesus tidak menyia-nyiakan kesempatan pada saat itu. Dia sungguh mengenal profile jemaat yang berkumpul pada waktu itu. Orang-orang Galilea yang dikenal sebagai penduduk yang sederhana membutuhkan penuturan yang pas sesuai dengan kemampuan edukasinya. Setidaknya, pendekatan yang dipakai Yesus untuk menyampaikan ajaran-Nya adalah melalui konteks kehidupan sehari-hari penduduk di sana. Penyampaian ilustrasi tentang dunia perkebunan, bercocok tanam, menjadi jembatan yang ampuh untuk membuat jemaat menjadi celik dan mengerti.

Yesus menyampaikan ajaran-Nya melalui pengertian yang dapat diterima oleh orang-orang. Markus mengatakan, bahwa: Yesus menguraikan segala sesuatu dengan cara tersendiri. Yesus sungguh-sungguh berusaha mencari segala cara untuk menyampaikan isi hati Bapa kepada setiap orang.

Shepherding Time

Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di Serpong, memandang hal ini sebagai bagian yang perlu diterapkan, dan dijadikan sebagai keseharian antara guru dengan murid. Shepherding time adalah bentuk konkrit bahwa Athalia ingin merespon setiap murid harus mendapatkan jawaban bagi kebutuhan rohaninya, sebagai fondasi pembentukan karakter. (karakter adalah buah Roh, yang hanya akan dapat bertumbuh jika anak hidup dekat dengan Tuhan).

Shepherding time adalah bentuk pertemuan khusus antara murid dengan guru, sebagai gembala kelas. Kekhususan tersebut sama seperti secara khusus Yesus menempatkan diri-Nya agar dengan jelas dapat dilihat dan didengar oleh orang-orang yang mengerumuni-Nya. Demikian pula guru akan menempatkan dirinya secara khusus, dalam kesempatan  shepherding time,  sebagai pribadi yang hendak berbagi hidup, menceritakan bagaimana Yesus bertindak sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Shepherding time adalah waktu yang secara khusus dipersiapkan untuk mempertemukan murid pada Yesus melalui pengalaman hidup anak, sesuatu yang dekat dengan hidup anak sehari-hari. Diharapkan melalui hal itu, murid bisa melihat lebih jelas lagi tentang Yesus. Bahkan, murid bertumbuh menjadi pribadi yang haus mencari kebenaran. Sehingga mau terus berduyun-duyun mengikut Yesus. Murid menjadi pribadi yang tak segan untuk bertanya dan berdiskusi dengan gurunya mengenai Yesus. Lebih dari itu, murid juga menjadi pribadi yang puas akan anugerah-Nya. Sehingga, dia akan menjadi pribadi kokoh, berkarakter ilahi (godly character). Setiap kesulitan hidup yang akan menghadangnya, tidak lagi menjadi bagian yang mengejutkan kehidupannya. Oleh karena dia memiliki karakter sebagai anak Tuhan, yaitu pribadi yang selalu merespon hidup ini sesuai dengan kehendak-Nya saja.

 

(Oleh: BD/ Tim karakter)

PIT (Parents in Touch)

parents in touch

Apa itu PIT (Parents in Touch)?

Sekolah Athalia percaya bahwa anak-anak adalah karunia yang Tuhan titipkan pada orang tua dan sekolah agar mereka dapat bertumbuh di dalam pengenalan akan Tuhan dan kasih karunia-Nya. Segala usaha yang dilakukan untuk membuat anak-anak ini bertumbuh dalam iman dan kerohanian akan lebih terberkati jika disertai dengan topangan doa yang tak pernah putus. Orang beriman setuju, bahwa ada kuasa dalam doa. Demikian juga dengan Sekolah Athalia. Untuk itulah, PIT (Parents in Touch) dibentuk. Lalu, apakah PIT itu?

PIT yang merupakan singkatan dari Parents in Touch merupakan persekutuan doa yang dibentuk oleh pihak Sekolah Athalia bersama-sama dengan orang tua siswa yang terbeban dan yang percaya bahwa ada kuasa dalam doa. Mereka bertemu untuk berdoa bersama dalam satu jam satu kali dalam seminggu untuk putra-putri mereka dan Sekolah Athalia.

Tujuan PIT

Adapun tujuan dari dibentuknya PIT (Parents in Touch) adalah:

  • menjadi perisai bagi anak-anak melalui doa.
  • mendoakan anak-anak agar mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka dan agar setia dalam iman mereka.
  • mendoakan para pendidik, staf, karyawan dan murid agar percaya dan beriman kepada Yesus Kristus.
  • mendoakan agar sekolah-sekolah dijalankan sesuai dengan nilai-nilai alkitabiah dan standar moral yang tinggi.
  • menjadi pendorong dan pendukung yang positif bagi Sekolah Athalia.
  • menyediakan dukungan doa dan dorongan untuk para orang tua yang memiliki masalah dengan anak-anak mereka.

Jadwal PIT

Kapan PIT (Parents in Touch) biasanya diadakan?

PIT diselenggarakan setiap hari Rabu, bertempat di aula E gedung F Sekolah Athalia,  pukul 07.30 WIB sampai dengan selesai. Kami mengundang para orang tua siswa, para pendidik, dan staf Sekolah Athalia untuk meluangkan waktu satu jam tiap minggu hadir dalam PIT. Setelah mengantar putra-putri ke sekolah, Bapak/Ibu dapat langsung bergabung di aula E gedung F Sekolah Athalia, atau untuk karyawan Sekolah Athalia setelah berdevosi di kelompok masing-masing. Mari, ditunggu kehadirannya Bapak/Ibu anggota Komunitas Sekolah Athalia! (Ind).

Baca artikel lainnya tentang PIT:

https://sekolahathalia.sch.id/perjalanan-mencari-komunitas-yang-bertumbuh-2/

https://www.instagram.com/share/reel/BAQ8iidWJ5

Membangun Daya Juang Remaja

Oleh : CHarlotte Priatna

Mungkin lebih tepat bila judul di atas dibaca sebagai sebuah pertanyaan skeptis. Masih ada kah daya juang remaja kita? Remaja sekarang lebih terkesan memble alias melempem. Dimana api roh atau kobaran spirit mereka? Nyaris tak bersinar? Apa yang menyebabkan keadaan mereka seperti itu? Lain dengan remaja dan pemuda tempo dulu yang menyingsingkan lengan baju untuk turut berjuang memperebutkan kemerdekaan dari tangan penjajah. Masih jelas dalam ingatan kita sejarah bangsa yang diwarnai oleh gelora semangat kaum muda.

Tentu saja pergeseran yang terjadi sekarang ini bukan tanpa sebab. Pola atau gaya hidup masyarakat berubah, ditambah lagi fenomena tantangan hidup sekarang berbeda dari masa lalu. Semua ini perlu diantisipasi dan disikapi dengan cara yang berbeda namun bijak.

I. Mengapa remaja sekarang kehilangan daya juang?

Jawaban atas pertanyaan ini dapat dilihat berdasarkan tiga kondisi:

  • zaman
  • orang tua
  • anak

1. Kondisi Jaman

Tantangan hidup sekarang ini berbeda. Kesulitan yang ada bukan yang terlihat tapi lebih banyak yang tidak terlihat. Secara faktual hidup sekarang jauh lebih mudah dibanding prakemerdekaan. Tidak ada himpitan penjajah yang memaksa kita untuk berjuang lebih keras, tidak ada ancaman terhadap keselamatan jiwa, tak perlu mengungsi, hukum pun berlaku dengan jelas. Berbagai fasilitas kian menyerbu, apa pun mudah didapat, asal punya uang. Berbagai perangkat elektronik canggih, hiburan, bahkan mainan pun tidak ketinggalan. Para pencipta mainan seolah berlomba mengisi waktu luang anak, memanfaatkan sekaligus merogoh kocek orang tua yang rela menyenangkan hati anak sebagai ganti waktu yang terhilang akibat kesibukan mengejar tuntutan karir. Tantangan yang tak kelihatan itu membuat remaja tidak sadar bahwa mereka juga sedang di bawah penjajahan, dikuasai berbagai keinginan yang membuat mereka menyimpang dari fokus hidup yang seharusnya.

Gaya hidup hedonis yang mengacu kepada materialisme juga turut memberi andil dalam mereduksi daya juang remaja saat ini. Segala sesuatu tidak lagi dinilai dari sebuah perjuangan. Usaha yang ditunjukkan seseorang tidak dihargai, bahkan dianggap absurd. Otak dan uang menjadi prioritas dalam ”membeli” harga diri. Seseorang yang pandai, kaya, cantik akan lebih dihargai dari pada yang sederhana, rajin, tekun tapi jujur! Demi uang remaja rela melakukan apa pun, bahkan menjual dirinya sekali pun.

2. Kondisi Orang Tua

Orang tua makin fokus pada karir demi memenuhi kebutuhan ekonomi. Makin banyak remaja yang tumbuh dalam asuhan babysitter/pembantu rumah tangga. Anak tidak diajar mandiri, semua dilakukan oleh pembantu. Orang tua jarang berada di rumah, tidak cukup memberi arahan dan didikan, baik pada pembantu maupun si anak, sehingga semua hal dikerjakan pembantu. Anak tidak dilatih untuk melakukan sesuatu sesuai usia dan kekuatannya.

Tuntutan karir dan ekonomi mengkondisikan orang tua untuk tidak memiliki banyak anak. Makin banyak keluarga yang hanya punya satu atau dua anak. Kondisi ini memicu orang tua memiliki sayang yang berlebihan pada anak. Namun karena orang tua harus fokus pada karir, rasa sayang digantikan dengan hal lain. Anak diberi kemudahan dan berbagai fasilitas. Orang tua berusaha semaksimal mungkin agar anak tidak mengeluarkan keringat maupun air mata. Anak tidak lagi memiliki rasa lapar, karena belum sempat lapar mereka sudah dijejali dengan berbagai hal yang mengenyangkan, bahkan sampai berlebih hingga ”luber”. Sebenarnya kondisi ini membuat anak kehilangan ”nafsu”, tidak mengenal rasa nikmat dan puas karena segala sesuatu diperoleh tanpa perjuangan, bahkan tanpa perlu meminta. Anak tidak dapat lagi membedakan antara keinginan dan kebutuhan.

Orang tua juga merasa bersalah jika anaknya ”menderita”. Ada sebagian orang tua yang ingin balas dendam akan kehidupannya yang susah di masa lampau, tanpa menyadari bahwa berbagai kesulitan itu lah yang membuatnya berhasil mencapai apa yang dicapainya sekarang.

Ada juga yang ingin menaikkan gengsinya di mata orang lain melalui keberadaan si anak. Maka anak menjadi simbol gengsi orang tua, hanya menjadi ”boneka pajangan” yang siap didandani tanpa memiliki otoritas atas dirinya. Orang tua lebih menekankan pada prestasi akademis anak, dan mengabaikan sisi keahlian hidup anak, yang menyangkut cara anak menghadapi masalah, menghindari godaan, menyelesaikan perselisihan, meredam nafsu, dll.

3. Kondisi Anak

Bisa juga kondisi anak stress dan tertekan karena tuntutan jaman yang kian hari kian memaksa anak-anak kita menjadi idola atau sang juara dalam berbagai perlombaan, turnamen, dan olimpiade. Orang tua rela merogoh kocek mereka untuk mengikutsertakan anaknya dalam berbagai kegiatan perlombaan dimana-mana setiap minggunya. Piala dan piagam seolah menumpuk hanya untuk membeli sebuah prestise atau harga diri.

Anak-anak pun mudah mendapat apa yang diinginkan, tanpa perlu bersusah payah untuk mendapatkannya. Hal ini pula yang memicu anak untuk kurang menghargai apa yang dimilikinya. Anak kurang merawat barang-barangnya, tidak menghargai kepemilikan orang lain, bahkan tidak menghargai orang lain! Easy come, easy go kata orang. Anak tidak terganggu bila barang miliknya ada yang rusak, apakah itu pensil yang hanya ribuan perak hingga handphone jutaan rupiah. Apa pun bisa dengan mudahnya raib dari tangan atau tas miliknya, dan tragisnya, mudah pula memperoleh kembali (yang baru tentunya) ketika mereka mengeluarkan jurus rengek memelas kepada orang tua mereka yang hatinya lembek alias gampang dimanipulasi.

Tidak memiliki goal, tujuan dan cita-cita. Kalau pun ada, selalu dilihat dari sisi keuntungannya. Berapa banyak yang bisa diperoleh? Hukum ekonomi pun berlaku: mengeluarkan modal yang sekecil-kecilnya untuk mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya. Nilai-nilai hidup dianggap usang. Budi pekerti dan karakter pun terbuang. Orang tua dan anak remajanya sudah tergerus oleh gaya hidup seperti sekarang ini.

Pola hidup instant. Pentas ’idola’ marak di mana-mana dan menjadi jalan pintas untuk cepat kaya dan terkenal. Bagaimana cara cepat jadi pintar, mudah bisa lulus, cepat banyak uang? Dan lain sebagainya. Proses tidak lagi menjadi unsur yang dipentingkan. Itu lah yang dunia tawarkan pada remaja kita. Yang penting ada duitnya. Hal ini juga berkaitan dengan orang tua yang berpikir bahwa anak adalah investasi, jadi yang penting anak bisa cari duit. Mau jadi apa terserah.

II. Apakah benar remaja sudah kehilangan daya juang atau justru mereka sedang memperjuangkan hal lain ?

Tentu saja gaya hidup mengubah tujuan dan sasaran perjuangan remaja. Sering kita dengar ”Hidup enjoy aja lageee…” (sukses=enjoy, kegagalan adalah enjoy yang tertunda). Buat apa susah? Hidup untuk kesenangan dan kesenangan untuk hidup. Kesuksesan hidup tidak lagi dilihat sebagai perjuangan tapi kenikmatan. Asal nikmat, itu sudah pasti sukses. Jadi anak-anak kita sedang berjuang mencari kenikmatan, hiburan, just for fun, entertainment, game dll.
Berjuang tapi sambil jalan santai. Kalau dapat ya syukur, kalau tidak juga tidak apa-apa. Tentu saja ini bukan berserah seperti yang Tuhan inginkan tapi lebih kepada menyerah.

III. Bagaimana supaya remaja memiliki daya juang ? Filipi 3 : 14

  • Berlari, bukan berjalan apalagi merangkak. Kaki mereka sudah kuat untuk berlari. Tubuhnya pun sudah cukup mampu untuk diajak berlari
  • Memiliki tujuan, dan fokus pada tujuan itu. Sekarang ini ada terlalu banyak fokus sehingga remaja kita kehilangan fokus yang sesungguhnya
  • Bukan kemudahan yang diberikan pada remaja, tapi latihan yang keras supaya ”tubuh” siap untuk diajak berlari. Untuk hidup senang dan enak tidak perlu latihan, tapi untuk sanggup hidup susah remaja perlu dilatih dan dipersiapkan. Supaya, jika mengalami kesulitan, mereka justru tambah kuat, bukan bunuh diri!
  • Hidup adalah perlombaan, hidup adalah perjuangan. Harus diselesaikan hingga tuntas. Setiap orang tanpa kecuali. Mau tidak mau. Tidak ada kata mundur, yang ada hanya maju.
  • 1 Yoh 2 : 15 – 17 menjelaskan kepada kita bahwa dunia menawari kita, dan remaja – remaja kita khususnya, pemenuhan atas segala keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup. Padahal dunia ini sedang lenyap dengan segala keinginannya.

Jadi, untuk membuat remaja memiliki daya juang, harus dimulai dari Anda sebagai orang tuanya. Anda bisa memilih, mau bayar di muka atau bayar di belakang. Pikirkan lah itu!

Dampak Pola Asuh pada Karakter Anak

Oleh: Sinsi dan Aegis, Orang Tua Siswa

Kami mengingat kembali saat anak kami masih duduk di bangku TKB dan harus mengikuti tes kematangan sebagai salah satu syarat masuk SD Athalia. Masa itu merupakan pengalaman iman yang luar biasa bagi kami dalam hal tumbuh kembang anak.

Aegis dan Sinsi memiliki latar belakang keluarga yang berbeda. Aegis bertumbuh dalam keluarga yang seperti broken home, tetapi orang tuanya tidak bercerai. Sementara itu, Sinsi tumbuh dalam keluarga yang penuh kasih, harmonis, dan sangat kekeluargaan. Orang tua Sinsi biasa menunjukkan kasih dengan cara memanjakan anak-anaknya. Bisa dibilang level memanjakan kebanyakan orang kepada cucunya sudah diterapkan kepada anak-anaknya.

Begitu Sinsi hamil hingga melahirkan, keluarganya sangat bersukacita. Kami diminta tinggal di rumah Sinsi. Anak kami mendapatkan curahan perhatian dan kasih sayang dari kakek dan neneknya. Apa pun yang diminta selalu dituruti bahkan ditawari segala hal karena itulah bahasa kasih mereka dan mereka ingin cucunya senang. Ada beberapa kebiasaan yang tumbuh dalam diri anak kami, yang kalau menurut pandangan orang mungkin terlalu berlebihan. Begitulah cara orang tua Sinsi menunjukkan kasih sayang mereka terhadap cucunya.

Baca Juga : Athalia Learning Community News Nomor 2 Tahun 2021

Dampak Pola Asuh pada Karakter Anak

Konflik dalam Pola Asuh

Sayangnya, pola asuh orang tua Sinsi ini membuat kami sebagai suami istri sering bertengkar. Aegis tidak setuju dengan perlakuan yang diterima anak kami. Sinsi, sebagai anak, merasa tidak berdaya melawan orang tuanya yang sangat mengasihi cucu mereka. Sinsi sempat bertanya-tanya, apakah benar memanjakan cucu akan sampai “merusak” anak itu? Bukankah anak itu akan berubah dengan sendirinya kalau sudah beranjak besar (bisa mandiri dan lain sebagainya)?

Pertengkaran kami semakin intens dan kami jarang merasakan damai dan sukacita. Akhirnya, kami memutuskan untuk pindah rumah, memisahkan diri dari keluarga Sinsi. Dalam proses ini, terjadi perdebatan yang cukup intens dengan orang tua Sinsi. Namun, kami sudah sepakat untuk menyelamatkan rumah tangga kami.

Ternyata, pindah rumah tidak menyelesaikan masalah. Orang tua Sinsi tetap ingin dekat dengan cucunya dan datang ke rumah hampir tiap hari. Puncak dari isu di keluarga kami muncul ketika kami dipanggil Kepala TK Athalia. Pada pertemuan tersebut, Bu Risna dan Bu Elita menyampaikan bahwa anak kami tidak lulus tes kematangan. Mereka juga menceritakan, ketika menjalani tes tersebut, anak kami berperilaku sangat buruk. Dia tidak mau mengikuti instruksi yang diberikan, bahkan sampai memarahi pengajar yang sedang mengobservasinya.

Mendengar informasi tersebut, kami kaget sekali. Di rumah, anak ini tidak pernah berkata kasar. Namun, ternyata dia bisa sampai marah-marah dan berucap kasar kepada pengajar di sekolah. Hati kami hancur. Namun, di titik ini, Sinsi menyadari bahwa efek pola asuh yang salah sangat memengaruhi perkembangan seorang anak. Sejak saat itu, kami kembali bersatu, bertekad mengubah pola asuh selama ini dan memperbaiki perilaku dan karakternya.

Perubahan dan Tantangan

Kami bersyukur Athalia masih memberikan kesempatan kepada anak kami untuk mengikuti tes kematangan kedua. Tak mau buang waktu, kami melakukan langkah nyata. Kami berbicara kepada orang tua Sinsi mengenai kondisi anak kami dan meminta pengertian mereka tentang beberapa hal yang sudah kami sepakati. Memang tidak mudah menyampaikan ini kepada orang tua, tetapi kami harus melakukannya demi kebaikan anak kami.

Kami membuat aturan yang jelas dan memberlakukan rutinitas harian yang harus diikuti. Selain itu, kami juga memberikan konsekuensi jika anak kami menunjukkan ketidaktaatan. Kami juga mengajak anak untuk berbicara dari hati ke hati. Melalui percakapan dari hati ke hati, kami juga menjelaskan bahwa selama ini pola asuh yang kami terapkan tidaklah tepat. Kami mengajak anak untuk memahami bahwa hidup tidak bisa sesuka hati, sebagaimana diajarkan dalam firman Tuhan. Tanggung jawab dan kebaikan kepada orang lain harus dimulai dengan belajar untuk taat dan berlaku baik.

Proses itu kami jalani, tetapi harus diakui sangat tidak mudah. Sekalipun sekolah dan kami sudah berusaha keras untuk memperbaiki karakter anak kami, kemajuannya sangat lambat karena sisa-sisa pola asuh terdahulu.

Kemudian, Tuhan menunjukkan kasih-Nya yang begitu besar kepada keluarga kami dengan membukakan jalan lain yang tidak pernah kami duga. Waktu itu, pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia. Kami pun bisa fokus mendidik anak berdua saja. Anak kami dapat menghabiskan waktu lebih banyak bersama orang tuanya dan jarang berinteraksi dengan kakek-neneknya. Kesempatan ini kami pakai semaksimal mungkin untuk menanamkan nilai-nilai baru dan karakter baik kepadanya. Pada saat itu, kami merasakan belas kasihan Tuhan karena anak kami mampu mengerti dan memahami didikan dan teguran yang kami berikan kepadanya.

Baca Juga : Waspada! Ini 10 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua

Kasih Tuhan dalam Perjalanan Kami

Proses yang kami alami masih berlangsung hingga saat ini. Ada kalanya kami masih menghadapi riak-riak kecil dalam perjalanan ini. Namun, kami bersyukur karena Tuhan tidak pernah meninggalkan kami sendirian menjalani ini semua.

Tuhan memperkenalkan kami kepada Sekolah Athalia. Kami merasakan perhatian yang begitu besar dari pihak sekolah melalui diskusi dan percakapan dengan kami. Juga, dengan perhatian yang mereka berikan kepada anak kami.

Saat ini, anak kami sudah duduk di kelas 2 SD dan mulai memahami tugas dan tanggung jawabnya. Perilakunya sudah jauh lebih baik dibandingkan dua tahun lalu. Kami sekeluarga masih terus berproses bersama Tuhan dan Sekolah Athalia. Kiranya kisah kami dapat menjadi berkat bagi kemuliaan Tuhan. Amin.