Kasih Karunia dari Allah

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian PK3

Kasih karunia dari Allah

Lukas 1:30-31
Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.

Apa itu Kasih Karunia Allah?

Maria mendapat kasih karunia di hadapan Allah. Kasih karunia yang dimaksud oleh malaikat adalah mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan menjadi Juru Selamat dunia. Di satu sisi, ini adalah sebuah hak istimewa yang luar biasa, rahim manusia berdosa dipakai untuk hadir-Nya Yesus, Putra Allah. Namun, di sisi lain tentu ini merupakan tugas yang berat karena Maria masih perawan. Saat itu di Israel, jika seorang wanita yang belum menikah mengandung seorang anak maka ia akan mendapatkan hukuman mati. Karena itu, kasih karunia yang diterima Maria adalah sebuah tanggung jawab mulia dari Allah. Ia menjadi rekan sekerja Allah untuk mewujudkan rencana Allah yang mulia yaitu menyelamatkan manusia yang berdosa.

Apa yang kita pikirkan ketika berbicara mengenai kasih karunia? Apakah berkat-berkat jasmani, kemudahan hidup dan kesenangan dunia ini? Kasih karunia Allah jauh melampaui keindahan dan kenikmatan dunia ini, karena kasih karunia Allah adalah ketika kita bisa menjadi bagian dari penggenapan rencana Allah yang mulia. Kasih Karunia adalah ketika kita bersedia dipakai menjadi hamba-Nya, melakukan kehendak-Nya seperti Maria (Lukas 1:38). Dan dalam prosesnya, Allah tidak meninggalkan umat-Nya.

Kasih Karunia Sebagai Orang Tua

Salah satu kasih karunia Allah bagi kita adalah dengan menjadi orang tua. Tidak semua orang punya kesempatan ini, namun jika kita memilikinya, bersyukurlah. Sebab anak adalah hak istimewa sekaligus tanggung jawab yang mulia dari Allah. Adakalanya tanggung jawab ini terasa berat sebab orang tua dan juga anak-anak sama-sama manusia yang terbatas. Namun, itu bukan berarti orang tua di dalam Tuhan tidak akan mampu mengemban tanggung jawab ini. Sebab kasih karunia Allah juga berarti adanya penyertaan Allah bagi mereka yang dipilih Allah untuk melakukan misi-Nya.

Natal Sebagai Kisah Kasih Karunia dari Allah

The story of Christmas is the story of God’s relentless love for us – Kisah Natal adalah kisah kasih Tuhan yang tiada henti bagi kita (Max Lucado). Oleh karena itu, biarlah momen Natal mengingatkan kita bahwa kasih karunia Allah telah dinyatakan bagi kita dengan kehadiran Kristus yang mengasihi dan menyelamatkan kita. Dan kiranya teladan kasih Allah itu mendorong kita untuk menjadi orang tua yang menyatakan kasih Kristus kepada anak-anak yang Tuhan percayakan kepada kita.

PARADIGMA KURIKULUM MERDEKA

Oleh: Elisabeth Lili Herlianah – Research & Development Unit SMP

Penerapan Kurikulum Merdeka di SMP Athalia

Tahun Ajaran 2023-2024, SMP Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong, mulai menerapkan Kurikulum Merdeka. Penerapan ini dilaksanakan secara bertahap, tahun ini diawali di kelas VII. Tentunya sebelum menerapkan kurikulum ini, semua pihak harus menyiapkan banyak hal, baik pihak sekolah, murid, dan orang tua murid.

Pihak sekolah telah memberikan pembekalan kepada pendidik dan tenaga kependidikan berupa pelatihan maupun workshop mengenai Kurikulum Merdeka. Hal yang terpenting untuk dapat memahami dan melaksanakan Kurikulum Merdeka adalah semua pihak harus menyadari akan perubahan paradigma dari yang lama ke yang baru. Paradigma Kurikulum Merdeka menekankan pada pengembangan kemampuan adaptasi dan pembelajaran sepanjang hayat.

Berikut adalah beberapa poin penting dalam paradigma ini:

1. Pembelajaran berpusat pada murid

Kurikulum Merdeka menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada murid. Setiap murid aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Murid diberi kesempatan untuk menggali minat dan bakat mereka sendiri, mengembangkan kekuatan mereka, dan mengatasi kelemahan mereka.

2. Peningkatan keterampilan abad ke-21

Kurikulum Merdeka fokus pada pengembangan keterampilan abad ke-21, seperti keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, pemecahan masalah, dan literasi digital. Murid diajarkan bagaimana menerapkan keterampilan ini dalam berbagai konteks baik dalam pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari.

3. Integrasi teknologi

Paradigma ini mengakui pentingnya teknologi dalam kehidupan murid saat ini. Oleh karena itu, teknologi digunakan sebagai alat untuk memfasilitasi pembelajaran yang aktif, kolaboratif dan kreatif. Murid diajarkan tentang penggunaan teknologi dengan bijak dan bertanggung jawab.

4. Pembelajaran lintas disiplin

Kurikulum Merdeka mendorong pembelajaran lintas disiplin, setiap murid dapat mempelajari berbagai bidang pengetahuan dan mengintegrasikan konsep-konsep yang diajarkan bukan untuk satu disiplin ilmu saja melainkan dapat dihubungkan lebih holistik.

5. Pengembangan karakter dan etika

Selain pengetahuan akademik, Kurikulum Merdeka juga menekankan pada pengembangan karakter dan etika murid. Murid diajarkan nilai-nilai seperti integritas, empati, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Paradigma ini berusaha menciptakan individu yang tidak hanya pintar secara akademik tetapi juga berkepribadian baik.

6. Keterlibatan komunitas

Paradigma Kurikulum Merdeka mendorong keterlibatan komunitas dalam pembelajaran. Murid diajak untuk terlibat dalam proyek-proyek yang relevan dengan komunitas mereka sehingga mereka dapat mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam konteks yang nyata.

Tujuan Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka bertujuan untuk mempersiapkan murid menjadi individu yang siap menghadapi dunia yang terus berubah. Paradigma ini memberikan murid kebebasan untuk mengembangkan potensi mereka sendiri dan mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran.

Dukungan Penerapan Kurikulum Merdeka

Dalam penerapan Kurikulum Merdeka ini, bagi para murid di usia remaja ini mereka masih sangat membutuhkan dukungan terutama dari pihak orang tua, yang bisa dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. Dukungan secara langsung misalnya orang tua mendampingi putra-putrinya saat sedang belajar di rumah ataupun saat membuat proyek yang sedang mereka kerjakan. Dukungan secara tidak langsung misalnya orang tua memberikan kesempatan kepada putra-putrinya untuk mencari informasi yang dibutuhkan dalam menyelesaikan tugasnya dengan memberikan fasilitas yang diperlukan dalam pencarian informasi. Selain itu, hal yang tidak kalah penting adalah dukungan orang tua dalam bentuk terus mendoakan dan memberikan semangat untuk putra-putrinya agar menjadi pribadi yang berkarakter dan mandiri.

Demikianlah sekilas informasi mengenai paradigma Kurikulum Merdeka. Tetap semangat untuk pendidik, tenaga kependidikan, murid, dan orang tua dalam menerapkan Kurikulum Merdeka. Kerja sama yang harmonis dari semua pihak sangat diperlukan, terutama orang tua dan pihak sekolah demi generasi muda menyongsong masa depan yang lebih gemilang.

Catatan: 
Poin-poin tentang paradigma Kurikulum Merdeka diambil dari sumber di bawah ini dengan beberapa perubahan redaksi kalimat.
https://dikbudbanggai.id/read/183/paradigma-baru-kurikulum-merdeka-menghadapi-abad-21

Baca juga: Kurikulum Merdeka

Perbedaan yang Indah

Oleh: Erika Kristianingrum – Orang tua murid kelas IXEr dan VW

Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar mengenai MBTI (Myers–Briggs Type Indicator), sebuah tes kepribadian yang mengidentifikasi kecenderungan seseorang dalam berpikir, berperilaku, dan mengambil keputusan. MBTI dikembangkan oleh Katharine Cook Briggs dan Isabel Briggs Myers untuk memahami bagaimana individu melihat dunia dan merespons berbagai situasi. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Myers-Briggs_Type_Indicator).

Dalam MBTI, kepribadian seseorang dikategorikan berdasarkan empat dimensi utama:

Setiap individu memiliki kombinasi dari keempat kategori ini, yang membentuk kepribadian unik mereka dengan kelebihan serta tantangan masing-masing.

Perbedaan Extrovert dan Introvert dalam Keluarga

Dalam keluarga saya, perbedaan kepribadian ini sangat nyata. Saya dan anak pertama memiliki kepribadian extrovert, yang berarti kami memperoleh energi dengan berbicara dan berinteraksi. Sebaliknya, suami dan anak kedua adalah introvert yang justru mendapat energinya dengan berdiam menyendiri. Bagi orang introvert, melelahkan berada di kerumunan orang yang banyak bicara.

Perbedaan ini membuat saya sering sekali uring-uringan dengan suami dan anak saya. Misalnya saat suami pulang kerja, saya yang merasa lelah harus mendapatkan energi dengan menceritakan keseharian saya. Mendapatkan tanggapan dengan jawaban seadanya dari suami sering membuat saya jengkel. Padahal saat itu suami saya juga lelah karena teman satu timnya sebagian besar adalah orang extrovert sehingga dia membutuhkan waktu untuk me-recharge energinya dengan berdiam sebentar.

Setelah saya sadar bahwa kami berbeda, saya mengajak suami berdiskusi tentang perbedaan sifat kami. Akhirnya, saya mengerti ketika saya mulai berdiam diri sejenak, saya dapat merefleksikan makna hidup ini.

Judging vs. Perceiving: Diferensiasi Gaya Hidup yang Menantang

Perbedaan lain yang cukup mencolok adalah dalam hal gaya hidup. Saya adalah tipe judging yang berarti saya menyukai keteraturan, perencanaan, dan kepastian. Sebaliknya, suami dan kedua anak saya adalah tipe perceiving yang lebih fleksibel dan spontan.

Perbedaan ini paling terasa saat kami merencanakan perjalanan liburan. Saya terbiasa memikirkan “nanti bagaimana” dan merencanakan hal-hal yang akan kami lakukan untuk memastikan liburan kami berjalan dengan baik dan berkesan. Namun, suami dan anak-anak seringkali tidak mengindahkan jadwal yang sudah saya buat. Hal itu menjengkelkan bagi saya. Sifat santai mereka pernah membuat kami berangkat melebihi waktu yang sudah saya rencanakan. Namun, keterlambatan itu justru membuat kami terhindar dari kemacetan luar biasa karena sebelumnya terjadi kecelakaan di jalan yang akan kami lewati.

Setelah kejadian itu saya menyadari bahwa sesekali menjadi fleksibel itu menyenangkan. Saya mulai belajar untuk menerima hal-hal yang tidak prinsip dan anak-anak serta suami belajar untuk teratur terhadap hal-hal yang prinsip. Perubahan kecil dalam cara kami menyesuaikan diri membuat perbedaan itu tidak lagi menjadi konflik, melainkan sebuah harmoni yang memperkaya kehidupan keluarga kami.

Menghadapi perbedaan kepribadian dalam keluarga tentu tidak selalu mudah. Kadang kala, perbedaan ini memicu kesalahpahaman, bahkan menimbulkan kekecewaan. Namun, Tuhan mengijinkan perbedaan itu ada supaya saya belajar untuk bisa menerima diri sendiri dan menerima suami serta anak-anak saya apa adanya, agar kami bisa berjalan bersama dengan perbedaan itu. Perbedaan itu tetap ada hingga saat ini tetapi cara merespon yang berbeda membuat perbedaan itu menjadi sebuah harmoni yang indah sehingga menjadikan saya pribadi yang semakin baik.

Bagaimana dengan Anda? Pernahkah perbedaan dalam keluarga membuat Anda frustrasi atau justru perbedaan tersebut memberi Anda pelajaran berharga?

Kunci Berkomunikasi dengan Anak: Buat Lebih Bermakna!

Oleh: Marcelina Denise Lahenda – Staf Konselor SD

Bulan Bahasa diperingati setiap bulan Oktober di Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen yang berbasis pendidikan karakter di BSD, Serpong. Kegiatan ini menjadi momen refleksi akan peran krusial bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi antarindividu, tetapi juga sebagai sarana utama dalam membangun interaksi sosial yang efektif. Selain itu, komunikasi dengan anak secara efektif merupakan fondasi penting dalam membentuk hubungan yang sehat dan keterikatan emosi antara orangtua dan anak.

Komunikasi yang efektif berperan penting dalam membantu anak merasa dipahami, dihargai, dan didukung. Ketika anak merasa bahwa perasaan dan kebutuhannya diakui, mereka akan lebih mudah mengembangkan rasa percaya, serta merasa aman dan nyaman dalam lingkungannya. Kondisi ini secara tidak langsung mendukung perkembangan sosial dan emosional mereka.

Komunikasi yang berkualitas mencakup kemampuan untuk mendengarkan dengan empati, memahami perspektif anak, serta memberikan respons yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Meskipun komunikasi antara orang tua dan anak terlihat sederhana, pada praktiknya dibutuhkan kesabaran, keterampilan, serta kesiapan untuk menyediakan waktu yang cukup agar komunikasi dapat berjalan secara efektif.

Baca juga : Titik Temu Antargenerasi – Terhubung dan Terlibat

Tips Berkomunikasi dengan Anak Secara Efektif

Berikut beberapa strategi yang dapat diterapkan orang tua untuk membangun komunikasi yang lebih bermakna dengan anak:

  1. Active listening
    Saat berbicara dengan anak, pastikan Anda benar-benar hadir dalam percakapan. Hindari distraksi seperti ponsel atau pekerjaan lain, sehingga anak merasa dihargai dan didengar sepenuhnya. Mendengarkan secara aktif membantu anak-anak merasa didengar dan dipahami.
  2. Reflective listening
    Salah satu cara untuk menunjukkan bahwa kita memperhatikan dan menangkap apa yang mereka katakan adalah dengan mengulangi apa yang mereka katakan dengan menggunakan frase yang berbeda. Misalnya, jika anak berkata, “Saya tidak mau bermain dengan Tono lagi.” Kita dapat merespons dengan, “Kamu sedang tidak mau main ya. Kelihatannya kamu sedang kesal.” Dengan ini, anak akan merasa dimengerti dan tidak dihakimi, sehingga anak dapat mengekspresikan emosi mereka tanpa penilaian.
  3. Speaking clearly
    Gunakan bahasa yang dapat dimengerti untuk anak dan sesuai dengan usia mereka. Pemilihan kata harus jelas, spesifik, dan tidak menggunakan kata-kata yang kasar atau menghina. Menggunakan bahasa yang baik akan membantu memberikan contoh positif bagi anak-anak.
  4. Explaining feelings
    Untuk membantu anak mengembangkan kecerdasan emosional, penting bagi mereka untuk belajar bagaimana memberi nama perasaan mereka. Ketika anak mengekspresikan perasaan mereka secara verbal, dengarkan apa yang mereka katakan dengan empati dan tanpa penilaian. Jika anak mengekspresikan perasaan mereka dengan cara nonverbal – misalnya melalui amarah atau tertawa dan bersenang-senang melakukan aktivitas yang mereka sukai, kita perlu membahasakan bagaimana perasaan mereka, seperti bahagia, sedih, santai, terluka, takut, lapar, bangga, mengantuk, marah, tidak berdaya, jengkel, malu atau gembira, dll.

Bangun Hubungan Lebih Dekat Lewat Komunikasi yang Positif

Berkomunikasi dengan anak secara efektif bukanlah hal yang instan, tetapi merupakan proses yang perlu dengan sengaja diciptakan dan dibangun karena sangat mempengaruhi hubungan orangtua dengan anak. Dengan memberikan waktu, perhatian, dan mendengarkan dengan baik, kita dapat membantu anak tumbuh dan berkembang secara positif. Semua ini membantu mereka merasa dicintai dan diperhatikan sebagai dasar yang kuat untuk setiap tahap perkembangan di masa depan.

Sumber: https://www.unicef.org/parenting/child-care/9-tips-for-better-communication

Merajut Keharmonisan dalam Warna-Warni Perbedaan

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian (PK3)

“Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion.” – Mazmur 133:1,3a

Gunung Hermon adalah pegunungan yang diliputi salju, sedangkan tanah di sekitarnya cenderung tandus. Karena itu, kesuburan tanah di sekitar Gunung Hermon bergantung pada embun dan lelehan es dari Gunung Hermon. Sungai es Gunung Hermon juga menjadi sumber utama air Sungai Yordan dan airnya mengalir ke Laut Mati. Daud mengumpamakan kerukunan seperti embun Gunung Hermon. Kerukunan di antara orang percaya dapat menjadi berkat dan sukacita bagi komunitas di mana kita berada, seperti embun Hermon yang memberikan keuntungan bagi daerah sekitarnya.

Sayangnya, kerukunan tidak mudah terjadi dalam sebuah komunitas. Mengapa? Charles Swindoll menulis renungan dalam Insight for Living, “Do you realize how closely unity and humility are tied together? One breeds the other; neither can exist without the other.” Kerukunan tidak bisa dilepaskan dari kerendahan hati. Sebaliknya, musuh kerukunan adalah kesombongan. Hal ini berlaku bukan hanya dalam komunitas yang besar, tetapi juga dalam setiap keluarga. Tanpa kerendahan hati, kita akan cenderung menghakimi daripada memahami perbedaan yang ada. Tanpa memiliki kesadaran bahwa kita adalah manusia yang lemah dan rapuh, kita cenderung akan cepat marah dan mengeluh daripada menerima dan menolong sesama. Akibatnya, kita terus bertengkar bukan hidup rukun.

Baca Juga : Hati Sejuk di Zaman Penuh Tekanan: Renungan Amsal 24:10–12

Perbedaan tentu akan selalu kita temukan di mana saja. Namun, bagaimana kita merespons perbedaan itulah yang menentukan apakah kerukunan itu dapat terjadi atau tidak. Karena itu, pilihlah untuk tetap rendah hati, buanglah kesombongan, belajarlah saling menerima, dan menolong. Dengan demikian, kehidupan kita akan seperti Gunung Hermon yang membawa berkat bagi sekitarnya, menghadirkan kerukunan beserta damai sejahtera dan sukacita dalam setiap komunitas di mana pun kita ditempatkan.

Belajar Karakter di Sekolah Athalia

Oleh: Grace Maharani Eraputri – Alumni SMA Athalia Angkatan XI

Perkenalan

Halo perkenalkan namaku Grace Maharani Eraputri alumni Sekolah Athalia, sebuah sekolah di Serpong. Aku alumni tahun 2023 dan sekarang aku sedang berkuliah di Universitas Indonesia jurusan Teknologi Bioproses. Puji Tuhan, aku bisa masuk ke jurusan impianku dan ikut bahagia dengan teman-teman lulusan Athalia yang lulus ke PTN (Perguruan Tinggi Negeri) dan jurusan yang mereka minati juga. Aku sangat bersyukur diberikan teman-teman seperjuangan, komunitas, dan sekolah yang sangat baik.


Siap masuk ke dunia perkuliahan tidak terlepas dari apa yang telah Athalia ajarkan dan bekalkan padaku. Nyatanya, iman dan karakter teguhlah yang menguatkanku selama berkuliah. Sekarang, aku mau sharing perjalananku bersama Tuhan selama bersekolah di Athalia.

Kisah Berjalan Bersama Tuhan Selama Belajar Karakter di Sekolah Athalia

Perjalanan yang cukup panjang aku habiskan di Athalia. Aku belajar dan bertumbuh di Sekolah Athalia sejak berumur 3 tahun, alias masih imut di play group. Awal play group aku sangat penakut, banyak anak-anak yang asik bermain tetapi aku cuma duduk mengamati. Tapi menariknya, aku tidak pernah sendiri. Tahukah mengapa? Karena selalu ada Bu Guru yang menggandengku, sama seperti Allah yang menyertai dari awal hidupku. Jadi, kalau kami lagi keluar dari kelas, pasti aku ada di paling depan karena digandeng oleh Bu Guru. Aku merasa diterima dan ketika satu tahun lewat, aku sudah jadi anak paling riang gembira di sekolah menyanyikan lagu-lagu karakter dan beraktivitas bersama teman-teman. Jadi dari cerita tersebut, aku jadi mengenali dan mempelajari karakter kasih. Ketika di Sekolah Dasar, aku dididik tentang penguasaan diri, tentang bagaimana menjadi anak yang taat, sabar, murah hati, setia, dan lain-lain.

Lalu bagaimana aku belajar karakter di Sekolah Athalia ketika di jenjang SMP dan SMA? Pengertian yang jauh lebih berharga lagi ada di SMP dan SMA, karena di sinilah aku mulai belajar peduli dan berkontribusi bagi sesama. Pak Jefry, Captain BB mengajarkanku menjadi orang yang bersandar pada Tuhan meski kondisi menakutkan dan meragukan. Meski mendaki ke gunung saat itu merupakan keputusan yang sulit buat aku, beliau yang meneguhkanku sampai akhirnya terbukti bahwa Tuhan menyertai kami. Jadi, sampai sekarang aku belajar untuk mengandalkan Tuhan dan bukan pengertian sendiri, caranya dengan berdaya tahan, sabar, dan tekun menghadapi segala sesuatu. Aku juga jadi memahami tujuan Tuhan dalam hidupku dan menurutku itu ajaib dan menarik.

Aku berterima kasih pada Athalia karena telah mendidikku jadi anak Tuhan yang bisa mengimplementasikan karakter-karakter Allah. Semua pengajaran ini akan sangat berguna di masa hidupku. Sekian, terima kasih sudah diberi kesempatan untuk berbagi lewat tulisan ini. Tuhan memberkati.

Pembinaan Karakter di Sekolah Athalia

Oleh: Bella Kumalasari – Plt. Kasie Karakter Sekolah Athalia

Visi Sekolah Athalia

Pembinaan karakter di Sekolah Athalia – sebuah sekolah Kristen di Serpong, dilakukan demi tercapainya visi Sekolah Athalia, yaitu “Siswa yang menjadi murid Tuhan”. Seorang murid mengikuti gurunya dan meniru apa yang dilakukan oleh guru tersebut. Dalam Yohanes 13:34-35, Tuhan Yesus memberikan perintah kepada para murid-Nya agar saling mengasihi sama seperti Tuhan telah mengasihi mereka. Dengan demikian, semua orang akan tahu kalau mereka adalah murid-murid-Nya. Oleh sebab itu, dasar dari semua karakter yang diajarkan di Sekolah Athalia adalah kasih. Kasih yang sempurna telah dianugerahkan melalui kematian Tuhan Yesus di kayu salib dan itulah yang mendorong setiap kita untuk juga mau mengasihi-Nya dengan hidup makin serupa dengan-Nya.

Pembinaan Karakter di Sekolah Athalia
Gambar 1

Proses Pembinaan Karakter

Sekolah Athalia memberikan pembinaan karakter secara intensional kepada para murid. Ada kesinambungan yang diharapkan terjadi dari TK hingga SMA (gambar 1). Di TK, karakter mulai ditumbuhkan (growing) dan terus dibentuk di masa SD (shaping) sehingga mereka menjadi pribadi-pribadi yang kokoh (steadfast person). Di SMP dan SMA mereka mulai diajak untuk memperhatikan sekitar mereka. Karakter-karakter yang dipelajari mendorong mereka untuk peduli dan berbagi (caring and sharing) bahkan berdampak dan berkontribusi (influencing and contributing) bagi sekitar sehingga mereka menjadi pemimpin-pemimpin yang melayani (servant leader). Karakter yang dipelajari juga tidak hanya diajarkan pada 1 level saja tetapi ada yang diulang di level-level selanjutnya agar murid terus menghidupinya.

Dalam pembinaan karakter yang didasari oleh kasih kepada Tuhan, murid-murid tidak hanya diajar secara kognitif atau teoritis, tetapi juga diberikan contoh-contoh melalui kisah nyata, tokoh, ilustrasi, cerita dongeng, ataupun sharing langsung dari guru dan teman. Lebih dari itu, mereka juga diajak untuk menerapkan karakter yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Setiap murid memiliki “proyek karakter” yang harus dikerjakan baik di rumah maupun di sekolah. Proyek karakter diberikan sesuai dengan usia murid, misalnya: murid TK belajar karakter penuh perhatian dengan cara segera menjawab ketika dipanggil guru/orang tua, murid SD belajar karakter ketertiban dengan melakukan kegiatan sesuai jadwal, murid SMP belajar karakter tanggung jawab dengan membereskan kamar sendiri, murid SMA belajar karakter keberanian untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik.

Penerapan

Penerapan karakter dalam keseharian sangat membutuhkan keterlibatan orang tua. Apa saja yang dapat orang tua lakukan untuk mendukung perkembangan karakter anak?

  • Beri ruang untuk berproses.

Untuk dapat melatih karakternya, anak butuh ruang untuk mencoba dan kemungkinan melakukan kesalahan. Orang tua perlu mendukung dengan mengizinkan dan memaklumi hal tersebut.

  • Beri pujian dan respons yang meneguhkan.

Ketika anak melatih karakternya, orang tua dapat memberikan pujian dan peneguhan. Hindari respons yang menghakimi dan membuat anak tidak lagi berani mencoba. Apresiasi setiap perubahan kecil.

  • Beri teladan.

Salah satu cara anak belajar adalah dengan meniru. Orang tua perlu menjadi teladan bagi anak dalam praktik karakter sehari-hari. Dengan demikian, anak mengerti apa yang benar dan salah serta bagaimana melakukannya.

  • Berjalan bersama dalam proyek karakter anak.

Di TK dan SD, orang tua dapat mengingatkan dan memonitor proyek karakternya setiap hari. Di SMP dan SMA, orang tua dapat menjadi teman seperjalanan anak-anaknya dengan berdiskusi mengenai proyek yang sedang dikerjakan anaknya tanpa menghakimi dan menuntut.

Pembinaan karakter di Sekolah Athalia tidak dapat berjalan sendiri tanpa kerja sama dan keterlibatan orang tua. Mari bergandengan tangan membina karakter anak-anak kita agar mereka dapat bertumbuh makin serupa Kristus dan menjadi berkat bagi sekitarnya.

Soft Skill vs Hard Skill, Mana yang Lebih Penting?

Oleh: Elisa Sri Indahati – Research & Development Unit SD

Kita mungkin pernah mengenal seseorang yang nilai akademiknya tidak menonjol di masa sekolah, tetapi berhasil membangun karier yang cemerlang dan mencapai kesuksesan. Hal ini bukan tanpa sebab, melainkan mereka memiliki kelebihan lainnya di luar nilai akademis.

Nilai atau kemampuan akademik seseorang atau yang disebut dengan hard skill (keahlian yang bisa diukur dan bisa dinilai) tidak bisa begitu saja membuat seseorang berhasil atau sukses. Diperlukan juga kemampuan yang disebut dengan soft skill. Apa itu soft skill?

Soft skill adalah kemampuan yang tidak terlihat seperti berpikir kritis, mampu beradaptasi, percaya diri, pantang menyerah, daya juang tinggi, dan lain sebagainya. Lalu, apakah soft skill lebih unggul daripada hard skill atau justru sebaliknya? Tentu saja tidak, keduanya seharusnya memiliki porsi yang sama dalam diri seseorang. Hard skill dan soft skill sama-sama penting.

 

 

Mengapa Soft Skill dan Hard Skill Sama Pentingnya?

Menurut Rhenald Kasali, sudah saatnya orang tua sadar untuk memperhatikan karakter anak sedari dini. Pendidikan bukan hanya sekadar kompetensi kognitif, anak juga memerlukan kemampuan lain seperti survival skills di lingkungan.

Dalam berbagai profesi, hard skill memang menjadi syarat utama untuk masuk ke dunia kerja. Namun, tanpa soft skill yang baik, seseorang akan kesulitan dalam berkolaborasi, menyelesaikan masalah, atau bahkan mempertahankan pekerjaannya. Karena itu, pendidikan karakter sejak dini sangatlah krusial. Anak-anak tidak hanya perlu didorong untuk meraih nilai akademik yang baik, tetapi juga untuk memiliki ketahanan mental, percaya diri, dan kemampuan menyelesaikan tantangan secara mandiri.

Mengharapkan nilai rapor yang baik memang penting, tetapi menolong anak-anak kita untuk tetap memiliki daya juang dan tidak putus asa dalam mengerjakan semua tugas sekolah adalah tugas mulia kita sebagai orang tua.

Pentingnya Soft Skill dalam Pendidikan Anak

Sekolah Athalia terus berusaha untuk mengajarkan ilmu, tetapi juga tetap konsisten untuk membimbing anak-anak untuk memiliki karakter yang akan menolong mereka hidup di tengah masyarakat. Pendidikan karakter tidak saja diberikan dalam bentuk pemahaman, tetapi juga dalam bentuk proyek nyata dalam setiap kegiatan seperti kamp karakter dan kelas shepherding.

Dalam kegiatan-kegiatan ini, siswa diberikan proyek karakter sederhana seperti mencuci piring setelah makan atau merapikan tempat tidur sendiri. Namun, tantangan muncul ketika anak-anak terbiasa dilayani di rumah oleh orang tua atau asisten rumah tangga. Beberapa anak bahkan mengeluhkan bahwa melakukan tugas-tugas ini terasa sulit dan tidak nyaman.

Ketika Kamp Karakter siswa SD menginap di sekolah, ada aktivitas mencuci gelas dan sendok setelah makan malam. Tiba-tiba ada anak yang menggerutu, ”enakan tidur di rumah daripada tidur di sekolah. Kalau di rumah apa-apa sudah disiapin, diambilin, di sini semua disuruh lakuin sendiri, ambil sendiri, nyuci sendiri.”

Pengalaman-pengalaman ini membuktikan bahwa membangun soft skill memerlukan latihan dan konsistensi. Anak-anak perlu diberi kesempatan untuk bertanggung jawab atas tugas-tugas kecil agar mereka terbiasa menghadapi tantangan di masa depan.

Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Peran Orang Tua

Sebagai orang tua, peran kita bukan hanya mendampingi anak dalam mengejar prestasi akademik, tetapi juga membimbing mereka dalam membangun soft skill yang akan membantu mereka bertahan di dunia nyata. Berikan anak-anak kepercayaan untuk melakukan sesuatu khususnya tugas atau proyek yang diberikan sekolah.

Jangan takut bila anak mengalami kegagalan. Bersabarlah ketika mereka mencoba mandiri, meskipun awalnya berantakan atau belum sempurna. Tidak masalah jika mereka kesulitan dalam melakukan sesuatu atau belum berhasil pada percobaan pertama. Yang terpenting, ajarkan mereka untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka dan siap menghadapi konsekuensi dari setiap kesalahan. Orang tua dapat terus mendampingi anak dan membiarkan mereka mengerjakan bagian mereka.

Sudahkan Anda membantu anak mengembangkan soft skill mereka hari ini?

Kita Berharga di Mata Tuhan

Kita Berharga di Mata Tuhan

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian (PK3)

Yesaya 43:4
Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi Engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu

Firman Tuhan ini disampaikan oleh Yesaya kepada orang Israel yang saat itu berada dalam pembuangan. Pembuangan adalah masa di mana Israel dihancurkan oleh Babel dan orang-orang Israel diangkut keluar dari negerinya untuk menjadi budak di Babel. Hal ini terjadi sebagai hukuman atas dosa yang Israel lakukan. Namun, di tengah hukuman yang mereka rasakan, Tuhan tetap baik dan mengasihi mereka.

Sekalipun saat itu Israel belum bertobat, Ia tetap menjanjikan keselamatan kepada umat-Nya. Ia berjanji akan melepaskan mereka dari Babel dan mengembalikan mereka ke negerinya. Keselamatan Tuhan berikan kepada umat-Nya bukan karena Israel baik atau sempurna melainkan karena anugerah Tuhan semata. Tuhan memberikan keselamatan kepada umat-Nya karena di mata-Nya mereka berharga, mulia, dan Ia mengasihi umat-Nya.

Kiranya pengalaman Israel bersama Tuhan menjadi pengingat bahwa saat ini kita pun dikasihi-Nya. Tuhan memandang setiap anak-Nya berharga dan mulia sehingga memberikan yang paling berharga untuk menyelamatkan kita, yaitu nyawa Putra Tunggal-Nya, Yesus Kristus. Meskipun kita lemah dan terbatas, Ia tidak membuang kita. Sebaliknya, Ia mau terus merangkul dan menopang kita karena Ia mengasihi kita dengan anugerah-Nya. Percayalah dan bersyukurlah untuk kasih-Nya. Lebih daripada itu, Ia pun rindu, kita memiliki cara pandang dan sikap yang sama kepada sesama kita terutama pasangan dan anak-anak kita. Mari belajar menghargai kehadiran mereka, menerima dan mengasihi mereka dengan segala keunikannya sebagaimana Tuhan memandang kita berharga dan mengasihi kita.

Baca juga: Kita Berharga di Mata Tuhan

Partnership Program SMP Athalia 2023

Oleh: Beryl Sadewa – Wakasek Kesiswaan SMP Athalia

Partnership Program di SMP Athalia

Belum lama ini, SMP Athalia, sebuah sekolah di BSD, Serpong, menyelenggarakan kegiatan Partnership Program yang berlangsung dalam dua gelombang. Gelombang pertama 29 Agustus 2023 dan gelombang kedua pada 12 September 2023. Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan murid-nurid  kelas VI SD Athalia kepada kegiatan belajar mengajar di SMP pada umumnya dan SMP Athalia pada khususnya. Setelah mengikuti kegiatan ini, diharapkan mereka memiliki sedikit gambaran mengenai proses belajar mengajar di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu SMP.
 
Dalam kegiatan Partnership Program ini, peserta diperkenalkan kepada SMP Athalia, khususnya  melalui perpustakaan dan kegiatan pembelajaran. Di perpustakaan, mereka dijelaskan prosedur peminjaman buku maupun pemakaian fasilitas lain yang ada di perpustakaan. Mereka juga berkesempatan mengikuti kegiatan pembelajaran bersama guru-guru SMP Athalia, seperti mata pelajaran IPA, Matematika, Bahasa Inggris, Seni Tari, Seni Lukis, dan Olahraga. 
 

Memperkenalkan Kegiatan Berorganisasi di SMP Athalia

Selain kegiatan pembelajaran, hal yang cukup berbeda di SMP adalah belajar berorganisasi. SMP Athalia memiliki dua wadah untuk memfasilitasi murid-murid dalam berorganisasi, yaitu OSIS dan Boys’ Brigade (BB). Sepintas, peserta mendapat informasi berkaitan dengan kegiatan-kegiatan OSIS dan BB yang dapat mereka ikuti nantinya. Mereka juga dapat berinteraksi langsung dengan pengurus OSIS dan NCO*) dalam kelompok kecil.
 

Konsep Kegiatan Partneship Program

Kegiatan ini dikemas sedemikian rupa menyerupai konsep Amazing Race. Hal ini dilakukan untuk menambah minat dan semangat peserta. Misalnya, peserta diharapkan mampu bekerja sama untuk menemukan petunjuk-petunjuk tersembunyi yang dipersiapkan sebelumnya agar mereka dapat masuk ke aktivitas berikutnya. 
 
Jumlah murid yang mengikuti kegiatan ini sebanyak 110 murid yang didampingi oleh guru-guru SD. Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan guru-guru SMP yang kreatif, 12 orang pengurus OSIS, dan 8 orang NCO.
 
 
 

*) NCO (Non Commisioned Officer) adalah anggota BB yang telah mengikuti latihan kepemimpinan dan diangkat menjadi pemimpin bagi anggota-anggota BB lainnya. Pada dasarnya mereka adalah kepanjangan tangan para officer (Pembina BB) dalam menjalankan kegiatan BB di cabangnya.