“Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya; … Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap.” (Ulangan 10:14, 17)
Allah yang Mencipta dan Berotoritas Atas Segala Sesuatu
Ketika kita berbicara tentang Allah yang Mahatinggi, kita sedang membahas tentang Pencipta langit, bumi, dan segala isinya. Dialah Allah yang memiliki otoritas tertinggi atas seluruh ciptaan.
Dalam Alkitab, kuasa Allah kerap dinyatakan melalui peristiwa-peristiwa besar. Salah satu contohnya adalah ketika Allah menunjukkan kuasa-Nya di Mesir melalui Musa. Saat Firaun mengeraskan hati dan menolak membebaskan bangsa Israel, Allah menurunkan berbagai tulah yang dahsyat.
Kuasa-Nya melampaui para allah Mesir dan bahkan mengendalikan unsur alam semesta. Hingga akhirnya, Firaun harus tunduk kepada otoritas Allah dan membiarkan bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan.
Allah yang Mengalahkan Semua Allah dan Berkuasa Atas Segala Berhala
Kisah lain yang menunjukkan kebesaran kuasa-Nya adalah ketika patung Dagon, dewa bangsa Filistin, jatuh tersungkur di hadapan tabut perjanjian—simbol kehadiran Allah. Saat itu, bangsa Filistin telah merebut tabut tersebut dan menempatkannya di kuil mereka. Namun keesokan harinya, patung Dagon ditemukan roboh.
Peristiwa ini menunjukkan dengan jelas bahwa tidak ada allah atau kuasa apa pun yang dapat menandingi Allah Israel. Dialah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan.
Mengalami Allah yang Mahatinggi dalam Kehidupan Pribadi
Kisah tentang Allah yang Mahatinggi tidak hanya tertulis di Alkitab—saya pun mengalaminya sendiri.
Pada bulan Agustus 2021, istri saya, Jessica, berpulang ke rumah Bapa. Peristiwa itu sangat mengguncang hati dan membawa kesedihan mendalam. Dalam doa-doa saya, saya sering berkata kepada Tuhan bahwa sosok yang paling saya rindukan untuk jumpai pertama kali setelah meninggal nanti adalah Jessica.
Namun, suatu saat Tuhan berbicara lembut di hati saya, seolah bertanya:
“Siapakah yang lebih engkau kasihi—Aku atau Jessica?”
Pertanyaan itu menembus hati saya. Tuhan sedang mengingatkan bahwa Dia harus menjadi yang terutama dalam hidup ini.
Sejak saat itu, doa saya berubah. Kini, saya berdoa agar semakin mengenal Tuhan dan mengasihi-Nya lebih dalam. Saya ingin, ketika tiba waktunya bertemu muka dengan-Nya, Dialah sosok pertama yang saya rindukan dan ingin peluk dengan penuh kasih.
Belajar Taat dan Bergantung Penuh kepada Allah yang Mahatinggi
Kini saya belajar untuk hidup taat dan berserah penuh kepada Tuhan. Saya ingin berjalan bersama-Nya dengan kerendahan hati, meninggikan Dia di atas segalanya.
Biarlah Allah yang Mahatinggi memimpin setiap langkah hidup ini, sebab hanya Dia yang layak disembah, diagungkan, dan dipercaya sepenuhnya.
✨ Penutup: Hiduplah di Bawah Otoritas Allah yang Dahsyat
Allah yang Mahatinggi bukan hanya Tuhan yang besar dan dahsyat, tetapi juga Allah yang pribadi dan penuh kasih. Ia berdaulat atas langit dan bumi, namun tetap hadir di hati orang yang mau berserah.
Ketika kita menempatkan Allah sebagai yang terutama, hidup kita akan dipimpin oleh kuasa dan kasih yang tidak tertandingi.
“Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi nama-Mu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancangan-Mu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu. (Yesaya 25:1)
“…panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia, serta mulia, serta mulia…”
Demikianlah bagian lirik lagu yang kerap dinyanyikan di saat seseorang berulang tahun. Ada harapan di dalamnya untuk lanjut usia dan mulia. Lanjut usia, menjadi tua, dan memiliki rambut putih adalah harapan setiap orang. Harapan itu akan terwujud indah bila dijalani bersama pasangan dan anggota keluarga yang lain. Hal ini dikarenakan menjadi tua akan penuh tantangan yang bila dihadapi sendiri akan membuat seseorang berpikir ulang untuk menyanyikan lirik lagu “panjang umurnya.”
Dalam pesannya kepada anak muda untuk menikmati hidup yang kelak akan dibawa ke pengadilan Allah, Pengkhotbah pada pasal 12 memberikan gambaran tantangan menjadi tua, yaitu:
tak ada kesenangan (ay.1);
tua, lemah dan tertekan (ay.2);
tubuh mulai gemetar, gigi ompong dan mata kabur (ay.3);
pendengaran berkurang (ay.4);
takut ketinggian, jalan susah dan impoten (ay.5).
Semua itu merupakan gambaran kehidupan yang tentunya sulit bila tidak dilalui bersama keluarga yang saling melayani didasari karena “cinta”.
Saling melayani karena mencintai syarat utama untuk menjadi tua bersama. Itulah inti dari keluarga. Ingat kata “family” dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Latin “famulus”, yang artinya “servant” (dalam bahasa Indonesia diwakilkan dalam kata “pelayan”). Dalam dinamika untuk tua bersama, keluarga sebagai pelayan harus memiliki dua warisan ilahi yang dituliskan dalam Yesaya 25:1, yaitu kesetiaanyang teguh dan iman akan rancangan Allah yang ajaib.
Kebersamaan, apalagi di saat-saat sulit, hanya bisa dilalui dengan kesetiaan yang berlandaskan kasih. Setia berarti berpegang teguh pada janji, suatu wujud tanggung jawab iman sebagai seorang pelayan. Kasih dan setia harus selalu bersama karena kasih tanpa kesetiaan hanya meninggalkan luka dan kesetiaan tanpa kasih adalah sebuah perbudakan. Untuk menjadi setia (Inggris: faithful), kita butuh “iman”. Iman inilah yang meyakini bahwa Allah melaksanakan rancangan-Nya yang ajaib.
Menjadi tua bersama keluarga tidak sekadar dihiasi masalah kesehatan fisik, tetapi juga masalah ekonomi, dan pergumulan kehidupan yang lain dapat saja mengikutinya. Untuk dapat melalui itu bersama, harus ada keyakinan iman bahwa Allah sedang mengerjakan rancangan-Nya yang ajaib sehingga ketabahan dan kekuatan akan selalu ada. Tidak mudah melihat dan memahami keajaiban rancangan Allah tersebut. Oleh karena itu, kita perlu belajar untuk selalu menjadi penemu hal yang baik.
Kidung Agung mengajarkan bagaimana menjadi penemu barang yang baik itu. Lihat Kidung 4: 1–4, di dalamnya ada tujuh hal yang dipuji di malam pertama: mata, rambut, gigi, bibir, pelipis, leher, buah dada. Bandingkan dengan pujian dalam Kidung Agung 7: 1–5, ada sepuluh hal yang dipuji: langkah, pinggang, pusar, perut, buah dada, leher, mata, hidung, kepala, dan rambut. Seiring bertambahnya waktu, bertambah pula pujian. Ini menandakan bertambahnya pengenalan dan bertambahnya kemampuan melihat yang baik.
Ketika semua anggota keluarga meyakini bahwa di balik apa pun yang terjadi ada rancangan Allah yang baik dan menjadikan kasih setia sebagai wujud nyata iman, menjadi tua akan dapat dilalui bersama dengan sukacita dan semangat saling melayani. Katakan, “TUA: Tuhan Untuk-Mu Aku Ada.” Amin!
“Jangan sedih, dia sudah bahagia di surga…” adalah kalimat
penghiburan yang sering terucap. Apakah orang percaya tidak seharusnya bersedih
ketika menghadapi kematian orang yang dikasihi? Bagaimanakah seorang beriman
seharusnya menghadapi dukacita?
Sejak masa Perjanjian Lama sebenarnya sudah dikenal tradisi ratapan ketika seseorang meninggal. “Kemudian matilah Sara…lalu Abraham datang meratapi dan menangisinya (Kejadian 23:2). Penelitian empiris dalam dunia psikologi menemukan bahwa seorang yang mengalami kehilangan akan lebih mampu mengatasi dukacitanya bila kepedihan hati diberi ruang dan dibiarkan berproses (baca artikel berjudul “Memahami Dukacita”). Kehilangan bukanlah peristiwa sehari-hari yang bisa dihadapi dengan hati ringan, karena hidup tidak lagi sama. Maka wajar bila kita berduka.
Dukacita dalam Kehidupan Orang Beriman
Dalam Roma 12:15, Rasul Paulus menulis, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Paulus mengetahui bahwa dalam kondisi tertentu dukacita tidak bisa dihindari dan menangis adalah respons natural. Orang percaya diperbolehkan menangis. Orang percaya juga diminta untuk menopang mereka yang berduka, dengan cara menangis bersama mereka.
Di sisi lain, Paulus mengingatkan bahwa dukacita orang beriman berbeda karena orang Kristen memiliki harapan. “Selanjutnya kami tidak mau saudara-saudara bahwa kamu tidak mengetahui mengenai mereka yang meninggal, supaya kamu tidak berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan” (1 Tesalonika 4:13). Dalam teks asli Alkitab, Paulus menggunakan kata yang bermakna “tertidur” untuk menggambarkan seseorang yang telah meninggal. Paulus ingin menekankan bahwa orang percaya hidup dalam penantian akan kedatangan Yesus yang kedua kali. Mereka yang meninggal tidak hilang begitu saja, melainkan akan dibangkitkan kembali saat Yesus datang, bagai orang yang sedang tertidur kemudian akan bangun kembali. Bila saat itu tiba, kita akan bergabung bersama mereka dan tinggal selamanya bersama Tuhan dalam kemuliaan-Nya.
Paulus tidak mengabaikan atau menyangkal kebutuhan akan ruang untuk
emosi negatif. Paulus menekankan bahwa kematian bagi orang Kristen bersifat
sementara. Tak seharusnya orang Kristen berduka tanpa batas. Dukacita orang
Kristen adalah duka yang diwarnai oleh harapan. Ketika orang Kristen memahami
bahwa kematian orang percaya berarti dia pulang kepada Bapa, maka di tengah
dukacita tetap terpancar harapan yang memberi penghiburan sejati.
Cara Pandang Kristiani Terhadap Kehidupan dan Kematian
Yang sering kali menjadi persoalan adalah cara kita memandang
kehidupan ini. Di manakah fokus kita? Bagi Paulus, hidup adalah Kristus dan
mati adalah keuntungan. Namun, jika dia harus hidup di dunia ini, itu berarti
bekerja memberi buah (Filipi 1:21). Paulus menjalani hidupnya sebagai sesuatu
yang bersifat sementara dan harus diisi dengan bekerja bagi Kristus. Dia
menyadari bahwa hidupnya bukanlah miliknya, melainkan milik Kristus. Oleh
karena itu, pulang ke rumah Bapa dan berada bersama-sama Dia dalam kekekalan
adalah hal yang dirindukannya.
Dalam buku Grief Obeserved,
C.S. Lewis melukiskan bahwa seseorang bisa dengan santai terlibat dalam
permainan menyusun kartu bridge
hingga setinggi mungkin… satu demi satu kartu disusun ke atas diselingi tawa
dan canda di antara yang bermain bersama. Suasana akan berubah drastis ketika
seseorang harus bermain dengan mempertaruhkan nyawanya atau nyawa orang yang
dikasihinya. Setiap kesalahan kecil yang dibuat akan menyebabkan tumpukan kartu
jatuh dan konsekuensi fatal terjadi.
Memproses Dukacita
Demikian juga kita sering kali tidak sungguh-sungguh serius
menghadapi hidup. Lewis menuliskan bahwa seseorang memang kadang harus
mengalami kejatuhan fatal agar bisa menemukan akal sehatnya. Jadi, bila saat
ini kita menghadapi dukacita atau bergumul bersama mereka yang sedang berduka,
mungkin ini momen yang dianugerahkan bagi kita untuk berhenti sejenak dan
merenung… “Apa sebenarnya hakekat hidup
ini?”
Dalam jurnal yang berjudul “Saint Paul’s Approach to Grief: Clarifying the Ambiguity”, R. Scott Sullender, seorang psikolog, penulis buku, sekaligus profesor di sebuah seminari, menuliskan bahwa dalam konteks dukacita, tiap orang membutuhkan ruang untuk mengekspresikan emosinya. Namun, dalam proses itu kita membutuhkan struktur sehingga bisa mendapatkan jeda dan penghiburan yang kita butuhkan. Struktur itu bisa kita temukan misalnya dalam ritual ibadah dan pemahaman doktrin agama. Sebagai contoh, iman akan menimbulkan kebutuhan untuk berelasi dengan Tuhan walau mungkin hanya dengan berdiam diri dan menangis dalam doa. Pemahaman doktrinal akan membuat seseorang mulai mampu berdialog dengan diri sendiri atau mungkin mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Tuhan untuk mendapatkan peneguhan iman. Ritual ibadah juga akan memberi struktur yang serupa sehingga seseorang tertuntun dalam mengelola dukacitanya (lihat five stages of grief dalam “Memahami Dukacita”).
Tokoh yang Berduka dalam Kisah Alkitab
Kisah Ayub adalah contoh penggambaran keterpurukan seseorang akibat dukacita yang mendalam. Bahkan, Ayub berkata lebih baik dia tidak pernah dilahirkan ke dunia ini (Ayub 3:10-11). Dalam kepedihan hati dan kesakitan fisik, Ayub meneriakkan begitu banyak pertanyaan, bahkan menggugat Allah karena dia tidak paham alasan Tuhan menimpakan banyak musibah kepadanya. Dengan jujur Ayub mengungkapkan emosinya dan Allah membiarkannya. Namun dalam ayat-ayat yang begitu panjang dengan keluh kesah terlihat bagaimana Ayub tidak lari dari imannya pada Tuhan. Iman yang tak meredup membuat dia mengejar Tuhan untuk menemukan jawaban. Di akhir kisah Ayub, kita tahu bahwa Allah tidak menjawab pertanyaan Ayub, tetapi memberi respons yang sesungguhnya dibutuhkan Ayub. Dia membuka pengertian Ayub dan memberi diri-Nya dikenal hingga Ayub pun berkata, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”
Ayub bertumbuh melalui penderitaan karena iman. Bukan ketika kondisinya dipulihkan Tuhan, melainkan ketika dia bisa memandang Tuhan dengan pemahaman yang sejati. Iman menjadi mitigasi yang menghibur dan menguatkan dalam dukacita dan memberi jeda yang melegakan saat kita mengalami naik turun badai emosi. Sungguh sebuah eureka rohani ketika akhirnya kita bisa klik dengan apa yang Tuhan ingin ajarkan melalui berbagai misteri kehidupan.
Penghiburan di Antara Sesama Orang Percaya
Dalam pelayanannya, Paulus beberapa kali menunjukkan pentingnya penghiburan di antara sesama orang percaya. Hal itu dilakukan dengan beberapa cara.
Paulus memberi dasar pengertian yang benar mengenai natur dukacita, yaitu bahwa dukacita orang Kristen adalah sementara dan ada harapan akan sukacita mendatang.
Paulus mendorong agar sesama orang percaya menghibur dengan kata-kata yang memberi pengharapan dalam pengetahuan tentang kebenaran.
Paulus menekankan pentingnya interaksi langsung antarsesama orang percaya dalam memberi penghiburan. Ketika sedang berbeban berat, Paulus sendiri merasakan bagaimana kunjungan Titus dan Timotius sangat menguatkan dirinya. Dia pun sebisa mungkin berupaya mengunjungi jemaatnya untuk menghibur dan menunjukkan kasihnya yang besar kepada mereka.
Sekiranya tauratMu tidak menjadi kegemaranku maka aku telah binasa dalam sengsaraku (Mazmur 119:92)
Konflik yang terjadi di rumah memang tidak dapat dihindari, baik konflik antara suami dengan istri, orang tua dengan anak, atau kakak dengan adik. Lalu, ketika konflik itu memburuk, ada pihak-pihak yang sakit hati dan akhirnya konflik menjadi berkepanjangan. Di dalam hati, kita menyimpan dendam. Rasanya sulit sekali memaafkan kesalahan orang yang sudah menyakiti hati kita. Padahal, kita diajarkan oleh Tuhan untuk mengampuni mereka yang bersalah kepada kita. Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa melepaskan “ganjalan” yang ada di dalam hati dan mengampuni orang yang telah menyakiti kita?
Mengampuni atau memaafkan bukan berarti melupakan luka atau membenarkan perbuatan orang lain. Justru, itu adalah langkah penyembuhan bagi diri sendiri. Dalam video “Bersihkan Hati dengan Mengampuni“, Ibu Charlotte Priatna kembali mengajak kita merenung dan mengambil sikap dalam proses “mengobati” hati kita agar terbebas dari dendam dan mampu memaafkan orang yang bersalah kepada kita.
Menghadapi konflik dan luka hati memang tak mudah. Tapi dengan kesadaran penuh, kita bisa memilih untuk tidak terus hidup dalam bayang-bayang dendam. Ketika kita berani berdamai dengan rasa sakit, kita membuka ruang bagi hati untuk dipulihkan. Melalui doa, refleksi, dan niat yang tulus, kita bisa perlahan-lahan melepaskan beban dan belajar mengampuni dengan kasih. Mari ambil waktu untuk merenung dan mengambil langkah kecil menuju pemulihan.
Dalam masa penuh tantangan seperti sekarang, peran orang tua sangatlah krusial. Anak-anak akan mengamati dan meniru perilaku kita setiap hari. Pertanyaannya, sudahkah kita menjadi teladan dalam bersikap? Apakah kita sudah menunjukkan ketaatan pada aturan dan yang terpenting pada kehendak Tuhan? Anak-anak butuh figur yang konsisten dan bertanggung jawab. Di sinilah kesempatan kita sebagai orang tua menjadi figur dalam tindakan nyata—baik di rumah maupun dalam kehidupan rohani.
Menjadi Teladan bagi Anak
Ketaatan bukan sekadar kata, tetapi sikap yang ditunjukkan lewat tindakan sehari-hari. Saat orang tua taat mengikuti protokol kesehatan, disiplin menjalani aktivitas, dan terus bersandar pada nilai-nilai iman, anak-anak pun belajar hal yang sama. Dalam video “Menjadi Teladan dalam Ketaatan“, Bu Charlotte mengingatkan bahwa anak-anak lebih peka terhadap perilaku dibandingkan perkataan. Maka, mari ajarkan ketaatan dengan cara yang hidup, yaitu dengan hati yang tunduk dan sikap yang konsisten.
Apakah selama ini kita sudah benar-benar menjadi teladan dalam ketaatan dan iman? Atau justru kita masih abai terhadap peran penting ini? Mari gunakan waktu ini untuk merenung dan memperbaiki diri. Tuhan mempercayakan anak-anak pada kita bukan tanpa alasan. Saat kita meneladani kebenaran, kita sedang menyiapkan generasi yang kuat dalam karakter dan iman. Tonton video reflektif di atas bersama keluarga dan biarkan Tuhan bekerja dalam setiap hati. Tuhan memberkati.
Sukacita sejati tidak ditentukan oleh kondisi luar. Baik dalam kelimpahan maupun dalam pergumulan, sukacita tetap bisa hadir dalam hati kita. Dalam masa yang penuh tantangan ini, sukacita menjadi kekuatan yang menjaga hati tetap tenang dan penuh harapan. Alih-alih melihat suatu hal dari sisi negatifnya, kita akan melihat sisi positifnya. Dalam video “Menabur Sukacita” ini, Bu Charlotte memberikan inspirasi agar kita dapat menumbuhkan sukacita di dalam keluarga.
Ketika orang tua bersikap positif dan penuh syukur, anak-anak pun ikut merasakan damainya suasana rumah. Sukacita yang terpancar bukan hanya mencerahkan hari diri sendiri, tetapi juga menularkan semangat kepada orang-orang di sekitar kita. Meski menghadapi tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau situasi tak menentu, kita tetap bisa memberikan sukacita dengan kata-kata penguatan, senyuman, dan tindakan kasih yang sederhana. Mari simak 3 tips dan trik menciptakan sukacita di rumah melalui video ini!
Menabur sukacita bukanlah perkara mudah, namun hal ini dapat dilatih. Ajak keluarga untuk memulai hari dengan doa, pujian, atau mengingat hal-hal yang bisa disyukuri. Jadikan sukacita sebagai budaya dalam rumah. Ingat, hati yang bersukacita adalah sumber kekuatan. Sudahkah Anda menabur sukacita hari ini?
Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! (Filipi 4:4)
Orang tua yang memiliki anak remaja sering kali menghadapi masa-masa sulit dalam membangun komunikasi dengan anaknya. Masa remaja dikenal sebagai fase terjadinya perubahan besar, baik secara emosional, psikologis, maupun sosial. Sikap remaja yang cenderung cuek, lebih suka bergaul dengan teman sebaya, dan tampak enggan mendengarkan nasihat orang tua kerap memicu ketegangan di rumah. Kondisi ini semakin terasa di masa kini, ketika situasi membuat anak dan orang tua harus menghabiskan lebih banyak waktu bersama di rumah, bahkan hingga 24 jam penuh.
Dalam situasi seperti itu, friksi kecil dapat dengan cepat berubah menjadi konflik yang lebih besar. Ketika orang tua merasa tidak dihargai dan anak merasa dikekang, jarak emosional di antara keduanya bisa semakin melebar. Jika tidak ditangani dengan bijak, hubungan yang seharusnya menjadi tempat bertumbuh bagi anak justru bisa menjadi sumber luka batin. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mencari pendekatan yang tidak hanya memperbaiki perilaku anak, tetapi juga membangun hubungan yang lebih sehat dan kuat.
Lantas, apa yang dapat dilakukan oleh orang tua agar relasi dengan anak tetap terjaga, bahkan bertumbuh, tanpa harus merusak kepercayaan yang sudah ada?
Rendah Hati, Kunci Utama Membangun Relasi
Dalam video singkat ini, Ibu Charlotte Priatna mengajak para orang tua untuk mengasah karakter rendah hati. Rendah hati bukan berarti menyerah atau mengabaikan prinsip yang benar. Sebaliknya, rendah hati adalah kesiapan untuk membuka diri, mengakui kelemahan, dan bersedia belajar dari kesalahan, termasuk dalam berelasi dengan anak. Dengan sikap rendah hati, orang tua tidak lagi hanya fokus menuntut anak untuk berubah atau introspeksi. Orang tua pun mau melakukan evaluasi diri: apakah cara berkomunikasi yang diterapkan sudah membangun? Apakah sikap kita sudah cukup memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh mandiri? dan lain sebagainya.
Siapkah kita, sebagai orang tua, untuk terus belajar dan bertumbuh?
Dalam Markus 6:30 kita membaca bahwa para murid melaporkan apa yang sudah mereka kerjakan dan ajarkan kepada orang-orang yang mereka jumpai. Pasti terjadi diskusi yang menarik antara mereka dengan Tuhan Yesus. Mungkin ada pujian, koreksi, dan lain-lain yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Pendek kata ada evaluasi yang Tuhan Yesus sampaikan kepada mereka.
Lalu pada ayat 31 kita membaca adanya ajakan Tuhan Yesus kepada mereka untuk pergi ke tempat yang sunyi untuk beristirahat di sana karena mereka baru saja melakukan pelayanan yang sangat melelahkan. Namun ketika Tuhan Yesus melihat orang banyak yang mencari-cari (membutuhkan) Dia, niat-Nya untuk beristirahat diurungkan-Nya (Markus 6:33,34). Ayat 34 mencatat bahwa hati-Nya tergerak oleh “belas kasihan” kepada mereka.
Makna Belas Kasihan
Belas kasihan adalah perasaan kasih yang ditunjukkan lewat perbuatan nyata. Markus 6:34b mencatat bahwa Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Mereka membutuhkan pengajaran Tuhan Yesus karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala (Markus 6:34a).
Perasaan belas kasihan-Nya tidak berhenti pada perasaan simpati dan atau empati saja tapi dilanjutkan dengan perbuatan memberi pengajaran kepada orang banyak yang terlantar tersebut. Bahkan ketika hari mulai malam Tuhan Yesus meminta murid-murid-Nya untuk memberi makanan kepada orang banyak yang baru menerima pengajaran-Nya. Orang banyak membutuhkan makanan jasmani setelah mereka menerima makanan rohani dari Tuhan Yesus. Perasaan belas kasihan-Nya kembali mewujud nyata dalam bentuk perbuatan yaitu memberi orang banyak makanan yang mereka butuhkan.
Ada banyak hal yang sangat menarik berkaitan dengan mujizat 5 ketul roti dan 2 ekor ikan. Ketika diberitahukan kepada Tuhan Yesus bahwa “modal” makanan yang mereka miliki hanyalah 5 ketul roti dan 2 ekor ikan, Tuhan Yesus tidak berkomentar negatif melihat perbandingan yang sangat tidak seimbang antara jumlah makanan dan jumlah orang yang butuh makanan, yang membutuhkan makanan ada lebih dari 5.000 orang (Markus 6:44).
Alkitab mencatat ada 5.000 orang laki-laki yang mendengarkan khotbah Tuhan Yesus pada waktu itu. Jumlah perempuan dan anak-anak yang hadir tidak ditulis. Mungkin ada 5.000 perempuan dan 5.000 anak-anak yang juga hadir menerima pengajaran Tuhan Yesus. Berarti totalnya ada +/- 15.000 orang yang membutuhkan makanan. Lalu Tuhan Yesus mengucap syukur dan membagi-bagikan roti dan ikan itu kepada mereka (Yohanes 6:11). Dan terjadilah mujizat. Roti dan ikan itu tidak kunjung habis. Semua orang mendapat makanan dan makan sampai kenyang (Markus 6:42). Bahkan masih tersisa 12 bakul penuh (Markus 6:43). Belas kasihan Tuhan Yesus yang disertai ucapan syukur menghasilkan mujizat yang mencukupi kebutuhan jasmani dan rohani 15.000 orang.
Refleksi
Bagaimana dengan perasaan belas kasihan yang kita miliki? Apakah perasaan tersebut mewujud nyata dalam bentuk perbuatan? Atau hanya berhenti pada perasaan simpati dan atau empati saja? Hanya berputar-putar pada poros perasaan kasihan semata. Kita cuma berkata, ”Kasihan ya bapak itu?” Namun tidak ada perbuatan nyata yang kita lakukan. Bahkan mungkin kemudian menggosipkan orang yang kita kasihani itu panjang lebar dengan teman kita. Ironis, bukan?!
Mengapa banyak orang hanya memiliki perasaan simpati dan atau empati saja tanpa disertai perbuatan nyata? Mungkin karena mereka sendiri belum pernah mengalami kasih ilahi dalam kehidupan mereka yaitu kasih Allah yang membawa-Nya naik ke bukit Golgota. Sehingga mereka tidak dapat membagikan kasih ilahi kepada orang lain karena kantong kasih mereka kosong melompong. Alkitab berkata bahwa Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita melalui kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib ketika manusia (kita) masih berdosa (Roma 5:8). Dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi, kita menerima kasih ilahi yang menyucikan kita dari segala dosa dan pelanggaran kita. Dengan modal kasih Allah tersebut kita dimampukan untuk mewujudnyatakan kasih kita kepada orang lain melalui perbuatan kita.
Ada banyak orang di sekitar kita membutuhkan injil Kristus. Ada banyak orang di sekitar kita membutuhkan uang kita, tenaga kita, telinga kita, waktu kita, nasehat kita, dan lain-lain. Maukah kita berbelas kasihan kepada mereka dengan memberitakan injil Kristus? Maukah kita berbelas kasihan kepada mereka dengan memberikan uang kita, tenaga kita, telinga kita, waktu kita, nasehat kita? Mari kita menjawabnya di hadapan Tuhan secara pribadi…