Wajib Tahu! Bahasa Kids Zaman Now

Oleh: Marlene Shinta – Staf Research & Development TK Athalia

Lihat, fish-nya lagi bobo.
Mama tunggu di door depan.
Makan banana yang sudah mama cut, ya.

Pernahkah Anda mendengar kalimat seperti itu? Saat ini, banyak anak berbicara dengan bahasa campuran yang dikenal sebagai bahasa kids zaman now. Pola komunikasi ini sering digunakan orang tua untuk mengenalkan bahasa Inggris. Namun, penggunaannya yang kurang tepat dapat memengaruhi perkembangan bahasa anak.

Saat pandemi Covid-19 melanda, mobilitas fisik menjadi sangat terbatas. Banyak anak kehilangan kesempatan untuk belajar di sekolah, berinteraksi dengan orang lain, bermain di taman, dan bertemu dengan anak seusianya. Bagi orang tua yang sibuk, kadangkala anak lebih sering difasilitasi dengan gawai agar tidak mengganggu kesibukan mereka, sehingga anak dapat tetap diam dan tidak berlarian atau membuat keributan. Saat ini banyak sekali video menarik untuk anak-anak dengan menggunakan bahasa asing. Hal ini dapat mengakibatkan kebingungan bahasa pada anak usia dini.

Menurut dr. Tri Gunadi, A.Md.OT., S.Psi., anak yang baru belajar bicara tapi sudah diajari dua bahasa akan membuat anak kesulitan bicara. Hal ini termasuk jika balita yang sedang belajar bicara malah dipaparkan tayangan televisi. Meskipun tontonan tersebut dikhususkan untuk anak, tetapi hal tersebut akan menimbulkan keterlambatan bicara atau speech delay. Apalagi tayangan televisi dan internet yang sifatnya satu arah. Tanpa arahan dan dampingan dari orang tua, tentu anak cenderung lebih banyak menyimak dibandingkan mencoba berbicara.

Pentingnya Bahasa dalam Perkembangan Anak Usia Dini

Mengapa bahasa sangat penting pada anak usia dini? Bahasa merupakan salah satu faktor utama dalam perkembangan anak. Melalui bahasa, anak dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan, bersosialisasi, serta memahami instruksi. Dalam proses pembelajaran, bahasa juga merupakan aspek yang harus dikuasai oleh seorang anak untuk memahami bacaan, mengikuti perintah, dan mengerjakan tugas dengan baik.

Bahasa anak terbagi menjadi dua aspek utama, yaitu bahasa reseptif dan bahasa ekspresif. Kedua aspek ini sangat penting dalam komunikasi sehari-hari. Jika salah satu aspek terganggu, anak akan kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain.

1. Bahasa Reseptif

Bahasa reseptif adalah kemampuan dalam memahami informasi yang didengar atau dibaca. Kemampuan ini bersifat sebagai input atau masukan yang pastinya mendukung kegiatan menyimak maupun membaca. Menyimak adalah suatu proses mendengarkan dengan penuh perhatian, menangkap, dan memahami makna komunikasi yang disampaikan seseorang. Sementara membaca merupakan kegiatan melihat tulisan dan memahami gambar atau kata yang dibaca. Misalnya, ketika seorang anak mendengar instruksi, ia mampu memahami dan mengikuti petunjuk tersebut dengan benar.

Bahasa reseptif biasanya berkembang lebih dahulu dibanding bahasa ekspresif. Anak yang memiliki bahasa reseptif yang baik mampu mengerti makna komunikasi meskipun belum bisa berbicara dengan lancar.

2. Bahasa Ekspresif

Bahasa ekspresif adalah kemampuan dalam mengungkapkan pikiran dan keinginan melalui komunikasi verbal atau nonverbal. Hal ini membutuhkan kemampuan merangkai pemikiran dan menyusunnya ke dalam kalimat sederhana yang masuk akal dan runut. Misalnya, seorang anak yang lapar bisa mengatakan, “Aku mau makan.” Jika bahasa ekspresifnya kurang berkembang, anak bisa mengalami kesulitan berbicara atau merespons pertanyaan dengan kalimat yang tidak sesuai.

Kedua aspek bahasa ini sangatlah penting dalam perkembangan anak usia dini. Kadang, yang terjadi adalah hanya bahasa reseptifnya saja yang berkembang. Hal ini dapat terlihat ketika anak dapat memahami apa yang dikatakan orang lain, tetapi sulit menyusun kata-kata untuk meresponsnya ataupun sulit untuk mengatakan apa yang hendak ia katakan. Sebaliknya, jika kemampuan ekspresifnya saja yang berkembang, maka anak hanya mampu berbicara, tapi tidak sesuai dengan konteks.

Dampak Bahasa Kids Zaman Now terhadap Perkembangan Anak

Saat ini, banyak orang tua bangga melihat anaknya mengerti bahasa asing, termasuk salah satunya adalah bahasa Inggris. Namun, tanpa disadari, hal ini mengakibatkan anak berbicara dengan bahasa campur-campur. Orang tua pun akhirnya mengikuti pola ini dan menjadikan kebiasaan dalam percakapan sehari-hari dengan sang anak.

Ketika hal ini dilakukan oleh anak sejak dini, ada kemungkinan bahwa mereka akan sulit membedakan bahasa yang benar. Mereka mungkin mengenal banyak kosakata dalam bahasa asing, tetapi tidak memahami maknanya secara utuh. Akibatnya, anak kesulitan merangkai kalimat yang benar saat berbicara.

Dikutip dari detikcom, dr. Meta Hanindita, Sp.A menyatakan bahwa anak yang bingung dengan beberapa bahasa dapat mengalami keterlambatan bicara. Mereka lebih memilih diam karena tidak yakin dengan kata-kata yang ingin diucapkan.

Baca Juga : Kunci Berkomunikasi dengan Anak: Buat Lebih Bermakna!

Kapan Anak Bisa Dikenalkan dengan Bahasa Asing?

Menurut psikolog anak Dr. Seto Mulyadi**), anak sebaiknya diajarkan bahasa ibu terlebih dahulu. Bahasa ibu, seperti bahasa Indonesia, harus dikuasai secara penuh terlebih dahulu sebelum mengenalkan bahasa kedua.

Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dipelajari anak sejak lahir. Jika anak sudah lancar dalam bahasa ibu, baik secara reseptif maupun ekspresif, barulah ia bisa belajar bahasa asing.

Setiap orang tua ingin anaknya memiliki kemampuan bahasa yang baik. Oleh karena itu, penting untuk memberikan fondasi yang kuat dengan mengajarkan satu bahasa terlebih dahulu sebelum mengenalkan bahasa lain.

Bahasa kids zaman now memang terdengar menggemaskan. Namun, jika digunakan terus-menerus tanpa kontrol, hal ini bisa berdampak negatif pada kemampuan komunikasi anak. Mari kita ajarkan bahasa dengan benar agar anak dapat tumbuh dengan kemampuan komunikasi yang optimal.

Sumber : 
*Indriani, N. (21 Des 2015). Balita Sering Nonton Program TV Anak Berbahasa Asing, Bagus atau Tidak Ya?. https://health.detik.com/anak-dan-remaja/d-3101347/balita-sering-nonton-program-tv-anak-berbahasa-asing-bagus-atau-tidak-ya
**kutipan asli. Hafadzoh, S. (1 Nov 2018). Saran Kak Seto Jika Ajari Anak 2 Bahasa Sejak Dini. https://www.haibunda.com/parenting/20181031202514-61-28288/saran-kak-seto-jika-ajari-anak-2-bahasa-sejak-dini

Kenali Bahasa Kasih Pasangan: Kunci Hubungan Harmonis

Oleh: Tirza Naftali – Staf Chaplain

Ketika kita tinggal di negeri asing, kita pasti akan mati-matian belajar bahasa negara tersebut, bukan? Jika tidak, kita akan kesulitan memahami budaya, cara pikir, bahkan obrolan sederhana. Relasi pun terasa sulit, meski hanya untuk sekadar membeli ikan di pasar.

Begitu pun dengan pernikahan. Namun, kali ini bukan soal belajar bahasa asing, melainkan bahasa kasih. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menunjukkan dan menerima kasih. Jika pasangan tidak memahami bahasa kasih satu sama lain, komunikasi bisa menjadi hambatan besar dalam hubungan.

Ketidaksesuaian bahasa kasih dapat menyebabkan perasaan tidak dimengerti, bahkan berujung pada konflik. Oleh karena itu, memahami bahasa kasih pasangan adalah kunci dalam membangun pernikahan yang sehat dan penuh cinta.

Kenali Bahasa Kasih Pasangan Kunci Hubungan Harmonis

Perbedaan Bahasa Kasih: Konflik atau Kekuatan?

Saya dan suami memiliki bahasa kasih utama yang sama, yaitu sentuhan fisik. Pelukan dan ciuman menjadi bagian dari keseharian kami untuk menunjukkan kasih sayang. Namun, di awal-awal pernikahan, kami kerap memiliki konflik yang berkaitan dengan bahasa kasih kedua kami yang berbeda.

Saya sangat membutuhkan kata-kata penghargaan. Saya merasa dikasihi jika mendapat pujian, apresiasi, atau sekadar ucapan terima kasih. Hal ini dipengaruhi oleh pola asuh keluarga saya sebelumnya yang penuh kritik. Sebaliknya, suami saya menunjukkan kasihnya melalui tindakan pelayanan. Tuhan menganugerahkan saya seorang suami yang betul-betul irit dalam berkata-kata.

Ketika Bahasa Kasih Tidak Dipahami

Di awal pernikahan, komunikasi kami terasa berat. Saya ingin berdiskusi saat konflik terjadi, tetapi suami justru memilih diam. Ada perasaan bahwa saya ingin dipahami, sedangkan dia merasa cukup dengan melayani saya melalui tindakan.

Saya sering merasa frustrasi ketika suami lebih banyak diam saat kami bertengkar. Bahkan, ia bisa tertidur pulas dan berangkat ke kantor esok harinya tanpa berkata apa-apa. Baginya, diam adalah cara menenangkan diri. Namun, bagi saya, diam terasa seperti mengabaikan perasaan saya. Konflik yang tidak segera diselesaikan membuat saya semakin resah.

Suatu kali, setelah satu atau dua hari berlalu, suami baru mendekat, memeluk, dan meminta maaf. Barulah saat itu, saya menangis dan mengungkapkan isi hati. Kami pun berdamai. Terkadang hal itu terjadi karena di siang hari, pada saat kami berada di kantor masing-masing, saya tidak tahan untuk menumpahkan seluruh pikiran pada suami via WA. Saya berpikir bahwa tulisan dapat mengungkapkan pikiran dengan lebih terstruktur dan minim emosi, sehingga suami dapat mengerti dengan lebih baik.

Baca Juga : Athalia Learning Community News Edisi Oktober 2023

Belajar Bahasa Kasih

Kami berkesempatan mengikuti retreat persekutuan pasangan suami istri di gereja. Di sana, kami diberi waktu untuk berbicara dari hati ke hati. Saya akhirnya bertanya langsung kepada suami:

Apa yang sebenarnya kamu rasakan terhadap saya? Kenapa konflik soal kata-kata ini selalu berulang? Kenapa ya kira-kira konflik terkait kata-kata itu sering berulang? Lalu, mengapa kamu begitu sopan dan berkata-kata baik untuk orang lain, tapi sering terkesan ketus kepadaku?”

Suami saya akhirnya mengungkapkan bahwa dalam keluarganya, ia diajarkan untuk sopan di depan orang lain. Namun, kepada keluarga sendiri, ia merasa tidak perlu menjaga tutur kata. Bagi dia, saya adalah bagian dari dirinya, sehingga berbicara dengan singkat dan lugas adalah hal yang wajar. Pada titik ini, saya menyadari bahwa bukan berarti dia tidak peduli. Dia hanya menunjukkan kasih dengan cara yang berbeda.

Selain memahami alasan di balik kebiasaannya, saya juga menyadari sesuatu yang lebih dalam. Suami saya sudah menunjukkan kasih dengan caranya sendiri, tetapi saya terlalu fokus pada keinginan saya. Dia mengganti lampu yang rusak tanpa saya minta dan memasang cantelan di dapur agar saya lebih nyaman memasak. Dia pergi ke minimarket dengan sigap ketika saya butuh sesuatu. Sayangnya, saya buta terhadap semua itu.

Ternyata, luka batin masa lalu saya membuat saya haus akan kasih dengan cara yang spesifik. Saya lebih banyak menuntut daripada menerima. Padahal, suami saya sudah menunjukkan kasih dengan begitu banyak tindakan kecil yang bermakna.

Baca Juga : Perbedaan yang Indah

Mengenali Pasangan: Perubahan yang Dibutuhkan

Saat terjadi konflik, saya mulai menyadari pola yang terus berulang antara saya dan suami. Di satu sisi, suami membiarkan saya untuk meredakan ledakan emosi saya. Dia tidak ingin memperburuk situasi dengan respons yang impulsif. Namun, di sisi lain, sifatnya yang sangat rasional membuatnya takut untuk berkata-kata atau bertindak. Dia khawatir jika salah bicara, itu justru akan memperkeruh suasana.

Saya pun menyadari bahwa mengajak suami untuk langsung berdebat saat konflik memuncak bukanlah solusi yang tepat. Saya juga tidak adil jika memaksanya untuk berbicara ketika dia masih membutuhkan waktu untuk memahami situasi. Faktanya, bukan hanya saya yang perlu waktu untuk meredakan emosi, tetapi suami juga membutuhkan ruang untuk meregulasi pikirannya.

Kami akhirnya menyadari bahwa kami tidak bisa terus-menerus berjalan dengan cara masing-masing. Saya belajar untuk lebih peka terhadap bahasa kasih pelayanan suami. Dia, di sisi lain, mulai berusaha mengungkapkan perasaan dengan kata-kata. Saat konflik, kami mulai membangun kebiasaan baru. Jika suasana memanas, kami berusaha tidak langsung berbicara dengan emosi. Kami belajar untuk berhenti sejenak, memeluk, atau sekadar bertanya dengan lembut: “Apa yang bisa aku lakukan untukmu?

Perbedaan ini menyadarkan kami, sampai maut memisahkan pun, kami harus terus mengenal dan mempelajari pasangan kami. Meski orang berkata “Ah, kalau sudah bertahun-tahun menikah kedip mata saja sudah tahu maksud dia apa”.

Pernikahan bukan soal saling memahami dalam setahun atau dua tahun. Bahkan setelah puluhan tahun, pasangan tetap perlu terus belajar mengenal satu sama lain.

Seperti belajar bahasa asing, jika tidak digunakan, kita bisa melupakannya. Begitu pula dengan bahasa kasih pasangan. Jika tidak dipraktikkan, hubungan bisa terasa hambar dan tanpa makna.

Maka, mari kita terus berjuang untuk memahami dan menggunakan bahasa kasih pasangan kita. Terlebih lagi, mari kita doakan dan serahkan pasangan kita kepada Tuhan, Sang Ahli dari semua bahasa kasih. Karena kasih yang sejati berasal dari-Nya.

Kasih Sejati

Kasih Hal Terbesar dalam Kehidupan Orang Percaya (1 Korintus 1313)

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian PK3

Firman Tuhan Tentang Kasih

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”
1 Korintus 13:13

Ayat ini ditulis oleh Rasul Paulus untuk menjelaskan pentingnya kasih dalam kehidupan orang percaya. Paulus menegaskan bahwa kasih adalah yang paling besar di antara iman dan pengharapan.
Namun, bukan berarti iman dan pengharapan tidak penting. Sebaliknya, tanpa kasih, semua hal itu menjadi sia-sia di hadapan Tuhan.


Kasih: Dasar dari Ibadah dan Kehidupan Sehari-hari

Ketekunan kita beribadah, berdoa, dan melayani akan kehilangan makna bila dilakukan tanpa kasih kepada Tuhan.
Tanpa kasih, ibadah menjadi sekadar kewajiban dan formalitas rohani.

Demikian juga dalam kehidupan keluarga. Jika kita menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua, pasangan, atau anak tanpa kasih, maka kehadiran orang lain bisa terasa sebagai beban, bukan sukacita.
Kasih Kristus seharusnya menjadi dasar dan motivasi utama dalam setiap aspek kehidupan kita.


Kasih Sejati Menurut Henry Drummond

Dalam bukunya The Greatest Thing in the World, Henry Drummond menuliskan bahwa ujian terakhir dalam kehidupan rohani bukanlah seberapa benar atau suci kita di hadapan Tuhan, melainkan seberapa besar kita mengasihi Tuhan dan sesama.

Ia juga menjelaskan bahwa kasih sejati memiliki sembilan ciri penting:

  1. Sabar
  2. Baik hati
  3. Murah hati
  4. Rendah hati
  5. Tidak egois
  6. Tidak mudah marah atau terprovokasi
  7. Tidak dendam dan tidak memperhitungkan kesalahan orang lain
  8. Tulus dan jujur
  9. Menegakkan kebenaran

Melalui sifat-sifat ini, kasih sejati membawa kebaikan dan kebenaran, baik bagi kita sendiri maupun bagi mereka yang kita kasihi.
Inilah kasih yang Tuhan ingin kita nyatakan dalam kehidupan setiap hari.


Menghidupi Kasih Kristus dalam Kehidupan Sehari-hari

Melalui renungan ini, mari kita mengevaluasi kehidupan rohani kita:

  • Apakah kita sudah mengasihi Tuhan dengan segenap hati?
  • Apakah kasih Kristus nyata dalam relasi kita dengan keluarga, teman, dan sesama?

Kasih bukan hanya perasaan, tetapi tindakan nyata yang mencerminkan pengorbanan Kristus.
Sebagaimana Allah telah mengasihi kita dengan memberikan yang paling berharga — yaitu Yesus Kristus — demikian juga kita dipanggil untuk mengasihi Allah dan sesama dengan segenap hati, jiwa, dan kehidupan.


Kesimpulan: Kasih Adalah Puncak Kehidupan Rohani

Kasih adalah inti dari kekristenan dan puncak dari segala kebajikan.
Tanpa kasih, pelayanan kehilangan makna; dengan kasih, setiap tindakan menjadi ibadah sejati kepada Tuhan.

Kiranya kita terus belajar menghidupi kasih Kristus setiap hari — mengasihi Tuhan sepenuh hati dan menyalurkan kasih itu kepada sesama, agar hidup kita menjadi berkat dan memuliakan nama Tuhan.

Belajar dari Henokh yang Hidup Bergaul Dengan Allah

Oleh: Naomi Fransisca Halim – guru agama SMA Athalia

Renungan Ibadah Berdasarkan Kitab Kejadian 5:1-32

Pada tanggal 4 Januari 2023, Sekolah Athalia dan Pinus, telah mengawali tahun dan semester baru dengan ibadah secara onsite di aula C. Dengan suasana ruangan yang dipenuhi dengan lilin menyala, kami diajak untuk merenungkan kembali perjalanan kehidupan di sepanjang tahun 2022. Selain itu juga diajak memantapkan hati untuk perjalanan di 2023. Ibadah kali ini, dipimpin oleh Bapak Ishak Sukamto dan didasari dari Kitab Kejadian 5:1-32.


Dalam pembacaan silsilah ini, Pak Ishak mengajak kami melihat bahwa setelah manusia jatuh dalam dosa, maka pekerjaan manusia adalah hidup selama beberapa tahun, menikah, memperanakkan, mencapai usia sekian dan meninggal. Begitu seterusnya siklus ini terus berlangsung bahkan sampai zaman sekarang.


Menariknya, dalam perikop yang dibaca, Henokh, salah satu tokoh dalam cerita tersebut, merupakan tokoh yang memiliki umur yang terbilang lebih singkat dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain dalam kisah tersebut. Namun pertanyaan pentingnya bukan seberapa lama seseorang hidup tetapi seberapa berkualitas hidup itu atau bagaimana seseorang mengisi kebermaknaan eksistensi dirinya?

Kehidupan Henokh yang Singkat

Dalam perenungan ini, Pak Ishak memberikan satu frasa yang menarik, yaitu “No More.” Istilah ini merujuk kepada salah satu tokoh, Henokh yang pada akhir hidupnya tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah. Di tengah “singkat” hidupnya, Henokh menikmatinya dengan hidup bergaul dengan Allah. Dalam beberapa terjemahan lain Henokh berjalan bersama dengan Allah dan setelah itu, Henokh no more.

Belajar dari Henokh yang Hidup Bergaul dengan Tuhan dalam Masa Kehidupannya yang Singkat

Pada bagian ini, saya menyadari bahwa kematian merupakan sebuah keniscayaan. Walaupun Henokh dikisahkan tidak meninggal namun ia sudah tiada. Dalam ibadah ini ketiadaan ini disimbolkan dengan para guru dan staf merobek kain hitam yang sudah disediakan. Juga sebagai simbol komitmen kita untuk mau hidup seperti Henokh yang bergaul dengan Allah. Supaya bisa demikian, maka kita harus meninggalkan kehidupan lama kita yang disimbolkan dengan kain hitam yang disobek. Dalam perenungan saya, ketika merobek kain hitam tersebut dengan kuat, saya menyadari bahwa tangan saya terbuka. Bersamaan dengan saat itu, cuplikan lirik lagu yang dinyanyikan pun seakan menjadi doa saya. Ketika menyadari bahwa siklus kehidupan manusia sangat singkat, lagu tersebut mengingatkan saya untuk selalu “bersujud di hadapan-Nya. Juga untuk meminta Tuhan agar memenuhkan bejana diri saya dengan air sungai-Nya.”

Di tengah penyanderaan rutinitas kehidupan manusia, maukah kita mendisrupsi hidup kita dengan menjawab undangan Tuhan untuk datang, hidup bergaul dan berjalan bersama-Nya supaya tidak hanya kuantitas umur kita saja yang bertambah tetapi juga kualitas hidup kita. Biarlah pesan singkat ini menjadi rhema dalam kehidupan kita saat memasuki tahun yang baru ini sampai kita bertemu dengan Tuhan dan menikmati persekutuan sesungguhnya dengan Sang Pencipta Agung itu. Amin.

Mampukah Kita Tetap Mengasihi Meskipun Sulit?

Oleh: Kenneth Girvan – Alumni SMA Athalia Angkatan 6

Kehidupan tidak pernah lepas dari konflik. Kita tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang atau membuat semua orang suka terhadap kita. Dalam perjalanan hidup, terutama dalam pergaulan sosial, pasti ada orang-orang yang sulit untuk kita dekati atau yang tidak bisa menerima kita sepenuhnya.

Saya mengingat masa sekolah sebagai sebuah periode yang penuh dengan eksplorasi dalam pertemanan. Saya berusaha berteman dengan semua orang, tanpa pilih-pilih atau membatasi diri dalam kelompok tertentu. Namun, di tengah usaha tersebut, saya menemukan bahwa tidak semua orang dapat menerima saya. Ada teman-teman yang enggan berteman dengan saya karena kami tidak memiliki hobi yang sama, tidak bisa bepergian dengan cara yang mereka inginkan, atau karena karakter dan kepribadian saya tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Dikarenakan hal-hal tersebut, seringkali saya mendengar ejekan dan sindiran dari teman-teman.

Bukankah sulit sekali untuk mengasihi orang-orang tersebut? Di saat saya mencoba untuk berteman baik dengan semua orang, tetapi malah respons kurang mengenakkan yang saya dapatkan. Mengasihi mereka yang sulit dikasihi sangat tidak mudah. Sebagai manusia, kita cenderung bereaksi secara emosional terlebih dahulu, seperti kesal atau marah ketika ada yang memperlakukan kita dengan buruk dan memberikan label kepada kita yang memiliki penampilan kurang baik atau bersikap tidak pantas.

Baca Juga : Mengasihi Orang yang Menyakitimu? Ternyata Bisa, Lho!

Mengapa Kita Perlu Mengasihi?

Kasih merupakan perasaan atau emosi, tetapi dalam kekristenan, kita mengenal kasih juga memerlukan reasoning. Mungkin pertanyaan terbesar dalam hati kita adalah, Mengapa kita harus mengasihi mereka yang sulit dikasihi dalam hidup kita? Jawabannya cukup sederhana, namun seringkali sulit diresapi. Ya, karena Tuhan terlebih dahulu mengasihi kita.

Ketika kita melihat kembali kehidupan kita, baik di masa lalu maupun saat ini, betapa sering kita hidup dalam dosa dan membuat hati Tuhan terluka. Sadarkah kita bahwa kita juga termasuk orang yang sulit dikasihi, lho? Tetapi, kok, Tuhan mau, ya, memberi kita keselamatan dan memilih tetap sayang sama kita meskipun kita adalah orang yang seumur hidup mendukakan hati Tuhan? Menyadari hal ini membuat saya berpikir bahwa mengasihi sesama bukan karena suka atau tidak suka. Seberapa sulit pun seseorang untuk dikasihi, saya ingin belajar memilih untuk mengasihi dan menerima mereka, sebagaimana Tuhan telah lebih dahulu mengasihi dan menerima saya.

Baca Juga = Athalia Learning Community News Edisi Februari 2023

Tidak masalah jika Anda merasa sulit mengasihi mereka saat ini. Memang dibutuhkan waktu untuk berproses. Anda bisa mulai bawa dalam doa dan minta kepada Tuhan untuk dimampukan mengasihi mereka yang sulit dikasihi, serta minta Tuhan untuk memulihkan emosi Anda sehingga dapat mengasihi mereka dengan lebih tulus. Hal tersebut tidak hanya mengubah orang lain, tetapi juga diri kita sendiri dan membuat kita semakin serupa dengan Kristus. Kiranya kebenaran ini bukan hanya diingat dan dimengerti, namun juga dapat dialami dalam perjalanan iman Anda bersama dengan Tuhan.