Oleh: Join Silaban – Guru Bahasa Indonesia SMA
Setiap orang menginginkan rencana mereka berjalan sesuai ekspektasi. Namun, ketika realita tidak sejalan, perasaan kecewa dan frustrasi bisa muncul. Akhirnya, situasi yang tidak sesuai ekspektasi itu mungkin akan mencuri damai sejahtera kita dan bisa berakibat fatal hingga depresi.
Namun, kali ini saya harus belajar menerima kenyataan yang tidak sesuai rencana saya. Saya memilih untuk mundur sejenak, mengevaluasi aspek yang perlu diperbaiki, dan berani berinovasi meski ada risiko yang harus saya hadapi. Semua ini saya lakukan dengan tujuan agar dapat melangkah lebih jauh, tidak hanya lima tetapi bahkan sepuluh langkah ke depan.
Hal ini saya alami ketika berhadapan dengan situasi pandemi dan harus beradaptasi dengan sistem belajar online di kelas 10 IPA dan IPS TA 2021/2022.

Menguji Fleksibilitas dalam Pembelajaran Online
Kala itu tepat hari Rabu. Saya siap mengajar di kelas 10 IPS 1 di Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di Serpong. Sebelumnya, saya sering mendengar keluhan dari rekan guru tentang siswa yang enggan untuk on camera atau merespons selama pembelajaran daring. Masalah ini menjadi diskusi harian di ruang guru.
“Selamat pagi, Nak! Silakan On Camera!” Saya menyapa kelas dengan penuh semangat. Namun, semangat saya berbanding terbalik dengan suasana kelas online saat itu. Saya seperti berada di kuburan. Dari 24 siswa yang terdaftar di kolom partisipan, hanya ada lima orang yang mengaktifkan kamera, itu pun harus menunggu sekitar lima menit. Lalu satu-satu menyusul sampai akhirnya ada delapan orang.
Sekali lagi, saya sapa mereka. Sahutan “Selamat pagi, Bu!” sayup-sayup terdengar dari salah seorang yang mengaktifkan kamera. Namanya Lola. Lola ini saya percayakan sebagai PIC atau penanggung jawab mata pelajaran di kelas tersebut. Sejenak timbul di pikiran, “Apa mungkin Lola enggan tidak menjawab sapaan saya karena Lola adalah PIC saya?” Saat itu, saya merasa mati gaya.
Sepertinya, saya tidak siap melanjutkan pembelajaran. Namun, saya berpegang pada prinsip lebih baik mundur satu langkah untuk mencapai lima langkah ke depan. Saya memilih berdiam satu menit untuk memikirkan strategi yang dapat membangkitkan semangat kelas dan menciptakan suasana belajar yang lebih merdeka. Dalam momen itu, saya mencoba memahami kondisi para siswa. Saya melihat wajah-wajah mereka di layar laptop—terkurung di ruangan yang sama setiap hari, dengan ruang gerak terbatas akibat kebijakan PPKM darurat level 4. Mereka tidak hanya terjebak secara fisik, tetapi mungkin juga secara mental dan emosional. Apakah mereka merasa jenuh? Lelah? Atau mungkin sedang menghadapi tekanan dari keluarga? Saya menyadari bahwa sebelum menuntut mereka untuk lebih aktif dalam pembelajaran, saya perlu lebih dulu memahami dan berempati terhadap kondisi mereka.
Baca juga : Kunci Berkomunikasi dengan Anak: Buat Lebih Bermakna!
Adaptasi Strategi Baru: Mengubah Metode, Membangun Keterlibatan
Saya menyadari bahwa pendekatan yang terlalu kaku tidak akan efektif dalam situasi ini. Oleh karena itu, saya mengganti strategi. Alih-alih menekan mereka untuk on camera, saya memberi tugas sederhana. Saya meminta mereka mengambil barang favorit di ruangan mereka, serta mencari benda berbentuk segitiga dan lingkaran dari luar ruangan. Saya beri mereka waktu lima menit untuk mencari sebelum nantinya ditunjukkan kepada teman-teman mereka.
Kegiatan ini bermaksud supaya mereka sedikit bergerak dari tempat duduk ataupun ruangan mereka. Setidaknya menepis sedikit gelar untuk anak-anak zaman pandemi, “para kaum rebahan”. Alhasil, mereka refleks mengaktifkan kameranya dan beradu untuk memencet tombol reaksi “raise hand” di fitur google meet yang sedang kami gunakan. Semuanya mengaktifkan kamera.
“Ini, Bu. Saya suka bantal, saya suka HP, saya suka biola, saya suka gitar.”
Antusiasme mereka dalam merespons seketika memecahkan keheningan yang ada. Mereka beradu-adu sambil memandangi apa yang dipegang teman-temannya. Hmmm, ternyata seni memberi instruksi juga sangat diperlukan.
Setelah saya menyaksikan api semangat itu ada di wajah mereka, saya berani menyampaikan kegiatan pembelajaran. Mereka akan melaporkan secara live informasi selama PPKM darurat yang telah berlangsung sejak 3 Juli kemarin sampai sekarang. Pertemuan kali ini saya rencanakan untuk mengambil penilaian. Namun, setelah melihat suasana kelas, saya tiba-tiba ada ide untuk mengubah strategi tersebut. Saya sampaikan ke mereka adaptasi rencana tersebut.
Awalnya laporan hasil observasi ditampilkan dengan satu tipe, kini bervariatif, berdiferensiasi. Ada yang menampilkan dalam bentuk pantun, talk show, lagu, presenter, infografis, bermain peran, pun musikalisasi puisi. Alhasil, performa mereka di luar ekspektasi saya. Sebelum waktu yang ditentukan, raise hand bertubi-tubi dan teman-teman sekelas menyaksikan penampilan mereka dengan haru dan penuh apresiasi. Emotikon tepuk tangan di layar menandakan mereka sangat menikmati penampilan temannya. Kami sama-sama bahagia. Inikah yang dinamakan merdeka belajar?
Baca Juga : Membangun Ketahanan Diri pada Anak sejak Dini
Fleksibilitas: Kunci Adaptasi dan Perkembangan
Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa dalam situasi yang tidak sesuai harapan, adaptasi adalah kunci. Terkadang, mundur selangkah untuk mengevaluasi dan menyesuaikan strategi bisa membawa kita lebih maju di kemudian hari. Kita perlu siap mengubah strategi, keluar dari zona nyaman, dan terlebih belajar tunduk untuk pengendalian Tuhan bahwa semuanya tidak harus berjalan sesuai rencana kita.
Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda menerapkan adaptasi dalam menghadapi tantangan?
Catatan:
Tulisan ini sudah dimuat dalam buku yang berjudul “Mundur Selangkah Maju Lima Langkah, Sebuah Seni Mengubah Mindset Pecundang Menjadi Pemenang”. Penyunting, J. Sumardianta. Maret 2023. Hal. 96.




