Mundur Selangkah untuk Maju Lima Langkah: Seni Adaptasi

Oleh: Join Silaban – Guru Bahasa Indonesia SMA

Setiap orang menginginkan rencana mereka berjalan sesuai ekspektasi. Namun, ketika realita tidak sejalan, perasaan kecewa dan frustrasi bisa muncul. Akhirnya, situasi yang tidak sesuai ekspektasi itu mungkin akan mencuri damai sejahtera kita dan bisa berakibat fatal hingga depresi.

Namun, kali ini saya harus belajar menerima kenyataan yang tidak sesuai rencana saya. Saya memilih untuk mundur sejenak, mengevaluasi aspek yang perlu diperbaiki, dan berani berinovasi meski ada risiko yang harus saya hadapi. Semua ini saya lakukan dengan tujuan agar dapat melangkah lebih jauh, tidak hanya lima tetapi bahkan sepuluh langkah ke depan.

Hal ini saya alami ketika berhadapan dengan situasi pandemi dan harus beradaptasi dengan sistem belajar online di kelas 10 IPA dan IPS TA 2021/2022.

seni adaptasi

Menguji Fleksibilitas dalam Pembelajaran Online

Kala itu tepat hari Rabu. Saya siap mengajar di kelas 10 IPS 1 di Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di Serpong. Sebelumnya, saya sering mendengar keluhan dari rekan guru tentang siswa yang enggan untuk on camera atau merespons selama pembelajaran daring. Masalah ini menjadi diskusi harian di ruang guru.

“Selamat pagi, Nak! Silakan On Camera!” Saya menyapa kelas dengan penuh semangat. Namun, semangat saya berbanding terbalik dengan suasana kelas online saat itu. Saya seperti berada di kuburan. Dari 24 siswa yang terdaftar di kolom partisipan, hanya ada lima orang yang mengaktifkan kamera, itu pun harus menunggu sekitar lima menit. Lalu satu-satu menyusul sampai akhirnya ada delapan orang.

Sekali lagi, saya sapa mereka. Sahutan “Selamat pagi, Bu!” sayup-sayup terdengar dari salah seorang yang mengaktifkan kamera. Namanya Lola. Lola ini saya percayakan sebagai PIC atau penanggung jawab mata pelajaran di kelas tersebut. Sejenak timbul di pikiran, “Apa mungkin Lola enggan tidak menjawab sapaan saya karena Lola adalah PIC saya?” Saat itu, saya merasa mati gaya.

Sepertinya, saya tidak siap melanjutkan pembelajaran. Namun, saya berpegang pada prinsip lebih baik mundur satu langkah untuk mencapai lima langkah ke depan. Saya memilih berdiam satu menit untuk memikirkan strategi yang dapat membangkitkan semangat kelas dan menciptakan suasana belajar yang lebih merdeka. Dalam momen itu, saya mencoba memahami kondisi para siswa. Saya melihat wajah-wajah mereka di layar laptop—terkurung di ruangan yang sama setiap hari, dengan ruang gerak terbatas akibat kebijakan PPKM darurat level 4. Mereka tidak hanya terjebak secara fisik, tetapi mungkin juga secara mental dan emosional. Apakah mereka merasa jenuh? Lelah? Atau mungkin sedang menghadapi tekanan dari keluarga? Saya menyadari bahwa sebelum menuntut mereka untuk lebih aktif dalam pembelajaran, saya perlu lebih dulu memahami dan berempati terhadap kondisi mereka.

Baca juga : Kunci Berkomunikasi dengan Anak: Buat Lebih Bermakna!

Adaptasi Strategi Baru: Mengubah Metode, Membangun Keterlibatan

Saya menyadari bahwa pendekatan yang terlalu kaku tidak akan efektif dalam situasi ini. Oleh karena itu, saya mengganti strategi. Alih-alih menekan mereka untuk on camera, saya memberi tugas sederhana. Saya meminta mereka mengambil barang favorit di ruangan mereka, serta mencari benda berbentuk segitiga dan lingkaran dari luar ruangan. Saya beri mereka waktu lima menit untuk mencari sebelum nantinya ditunjukkan kepada teman-teman mereka.

Kegiatan ini bermaksud supaya mereka sedikit bergerak dari tempat duduk ataupun ruangan mereka. Setidaknya menepis sedikit gelar untuk anak-anak zaman pandemi, “para kaum rebahan”. Alhasil, mereka refleks mengaktifkan kameranya dan beradu untuk memencet tombol reaksi “raise hand” di fitur google meet yang sedang kami gunakan. Semuanya mengaktifkan kamera.

Ini, Bu. Saya suka bantal, saya suka HP, saya suka biola, saya suka gitar.”

Antusiasme mereka dalam merespons seketika memecahkan keheningan yang ada. Mereka beradu-adu sambil memandangi apa yang dipegang teman-temannya. Hmmm, ternyata seni memberi instruksi juga sangat diperlukan.

Setelah saya menyaksikan api semangat itu ada di wajah mereka, saya berani menyampaikan kegiatan pembelajaran. Mereka akan melaporkan secara live informasi selama PPKM darurat yang telah berlangsung sejak 3 Juli kemarin sampai sekarang. Pertemuan kali ini saya rencanakan untuk mengambil penilaian. Namun, setelah melihat suasana kelas, saya tiba-tiba ada ide untuk mengubah strategi tersebut. Saya sampaikan ke mereka adaptasi rencana tersebut.

Awalnya laporan hasil observasi ditampilkan dengan satu tipe, kini bervariatif, berdiferensiasi. Ada yang menampilkan dalam bentuk pantun, talk show, lagu, presenter, infografis, bermain peran, pun musikalisasi puisi. Alhasil, performa mereka di luar ekspektasi saya. Sebelum waktu yang ditentukan, raise hand bertubi-tubi dan teman-teman sekelas menyaksikan penampilan mereka dengan haru dan penuh apresiasi. Emotikon tepuk tangan di layar menandakan mereka sangat menikmati penampilan temannya. Kami sama-sama bahagia. Inikah yang dinamakan merdeka belajar?

Baca Juga : Membangun Ketahanan Diri pada Anak sejak Dini

Fleksibilitas: Kunci Adaptasi dan Perkembangan

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa dalam situasi yang tidak sesuai harapan, adaptasi adalah kunci. Terkadang, mundur selangkah untuk mengevaluasi dan menyesuaikan strategi bisa membawa kita lebih maju di kemudian hari. Kita perlu siap mengubah strategi, keluar dari zona nyaman, dan terlebih belajar tunduk untuk pengendalian Tuhan bahwa semuanya tidak harus berjalan sesuai rencana kita.

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda menerapkan adaptasi dalam menghadapi tantangan?

Catatan: 
Tulisan ini sudah dimuat dalam buku yang berjudul “Mundur Selangkah Maju Lima Langkah, Sebuah Seni Mengubah Mindset Pecundang Menjadi Pemenang”. Penyunting, J. Sumardianta. Maret 2023. Hal. 96.

Apa Arti Kemerdekaan Sejati?

Oleh: Elisa Christanto, Orang tua siswa SMA Kelas XII dan SD Kelas II

Merdeka! Ketika membaca atau mendengar kata ini, yang terpikirkan adalah pekik kemenangan rakyat Indonesia ketika melawan penjajahan. Namun, untuk saya pribadi, “merdeka” memiliki arti yang mendalam. Merdeka adalah momentum ketika saya memutuskan untuk meninggalkan kesenangan duniawi dan kembali merajut kasih mesra dengan Tuhan. Inilah kisah perjalanan hidup saya, bagaimana kemerdekaan sejati hanya bisa ditemukan saat berpihak kepada Tuhan Yesus.

Pergumulan di Masa Kuliah

Saya baru menyadari bahwa keluarga saya adalah keluarga sederhana saat akhir masa SMA, ketika suatu masa gelombang kehidupan terjadi. Gelombang kehidupan tersebut adalah tersendatnya urusan biaya kuliah, hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Empat semester sebagai seorang mahasiswa dengan berat hati saya lalui dengan melewatkan banyak mata kuliah. Hanya kebingungan yang saya rasakan. Di masa itulah, penjajahan iblis atas hidup saya dimulai, ketika saya melihat seorang teman nampak santai menikmati waktu sendiri sambil merokok.

Kok kayaknya asik, ya?” pikir saya. Akhirnya saya mencoba satu batang. Meski tersedak, lusa harinya saya bertemu dengan seorang teman yang merokok dan kembali memutuskan untuk mencoba satu batang lagi. Tanpa sadar, saya mulai membeli rokok sendiri. Selama satu bulan terjadilah peperangan dahsyat di dalam hati dan pikiran saya. Itu nggak baik! Tidak boleh!

Tapi di sisi lain, saya berpikir, “Ah sudahlah! Toh mau jadi anak baik pun hidup tetap sulit.” Pada akhirnya, saat malam hari mata enggan terpejam, saya berbicara kepada Tuhan dalam doa. Esok paginya, muncul tekad untuk menjauhkan diri dari rokok. Sejak hari itu, setiap pulang kuliah saya pergi ke gereja untuk berbicara dan menikmati relasi yang intim dengan Tuhan dalam doa. Sepekan kemudian Tuhan menjawab doa saya.

Baca Juga : Penyertaan Tuhan Itu Nyata? Ini Buktinya

Apa arti kemerdekaan sejati

Tuhan Memberikan Kemerdekaan Sejati

Dalam satu masa, ketika hendak pulang kuliah, staf akademik kampus memanggil dan menawarkan saya tugas sebagai volunteer penerimaan mahasiswa baru. Tak perlu berpikir panjang, saya menjawab, “Ya. Saya bersedia.” Esoknya, saya mulai bertugas sebagai volunteer penerimaan mahasiswa baru selama empat bulan. Merdeka! Saya lepas dari penjajahan rokok. Bonusnya, Tuhan berikan jatah makan siang dan uang saku untuk tambahan bayar kuliah.

Tak berhenti di sana, selepas menjadi volunteer, saya dipanggil bekerja part time di kampus selama setahun. Selesai masa bekerja di kampus, Tuhan terus berkarya dalam hidup saya dengan memberikan pekerjaan baru sebagai operator warnet (tempat yang menyewakan jasa peminjaman komputer dan jaringan internet). Akhirnya pendapatan setiap bulannya pun berhasil membiayai kuliah saya dan adik hingga lulus. Merdeka!

Baca Juga : Athalia Learning Community News – Edisi Januari Februari 2025

Satu firman Tuhan yang meneguhkan hati saya waktu itu adalah “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10).

Sungguh pengampunan-Nya nyata. Setitik harapan tidak ada yang luput dari pandangan mata-Nya.

Merdeka dari Dosa VS Merdeka Berbuat Dosa

Merdeka dari Dosa VS Merdeka Berbuat Dosa

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian (PK3)

Galatia 5:13
Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.

Keselamatan Adalah Anugerah

Ajaran Yudaisme yang berkembang di Galatia mengajarkan bahwa untuk mendapat keselamatan, seseorang harus menaati hukum Taurat. Hal ini jelas bertentangan dengan apa yang Yesus ajarkan. Oleh sebab itu, Rasul Paulus menegaskan bahwa keselamatan itu adalah anugerah Allah, bukan usaha atau perbuatan baik manusia. Orang percaya telah dibebaskan dari kutuk dosa dan menerima hidup yang kekal karena anugerah Allah. Orang percaya adalah orang-orang yang merdeka dari dosa dan tidak berada di bawah hukum Taurat melainkan di dalam kasih karunia Allah.

Merdeka dari Dosa

Jika kita tidak memerlukan perbuatan baik untuk mendapat keselamatan, apakah itu berarti kita boleh hidup semau kita termasuk berbuat dosa? Tentu tidak. Paulus menuliskan bahwa memang orang percaya telah dimerdekakan dari dosa tetapi jangan menggunakan kemerdekaan itu untuk hidup dalam dosa. Kita sudah dibebaskan dari kutuk dosa dan diselamatkan dengan darah Kristus, mengapa kita mau kembali hidup di dalam dosa lagi? Merdeka dari dosa bukan berarti merdeka berbuat dosa. Sebaliknya, hal ini berarti tidak lagi berbuat dosa sebagai wujud syukur serta kasih kita kepada Allah dan agar nama-Nya dimuliakan melalui kesaksian hidup kita.

Hidup Menjadi Berkat

Mari kita menjadi saksi Tuhan dan menyatakan kasih kita kepada Tuhan melalui kehidupan yang merdeka dari dosa, hidup yang menjadi terang dan garam di mana pun kita berada dan juga dengan mengasihi dan menjadi berkat bagi sesama. Kiranya Tuhan menolong setiap kita. Tuhan Yesus memberkati.

Di Balik Kemeriahan Lomba 17 Agustus 2023 di Unit TK

Oleh: Lita Desiana, guru TK B1

Lomba 17 Agustus di KB-TK Athalia

Kali ini redaksi mewawancarai salah satu guru dari KB-TK Athalia terkait kemeriahan lomba 17 Agustus pada perayaan HUT ke-78 RI. Manfaat apa saja yang akan didapat oleh setiap murid saat mereka ikut serta pada kegiatan tersebut? Mari kita simak penjelasan dari Ibu Lita.

Redaksi: Pembelajaran apa yang didapat para murid saat ikut lomba?

Bu Lita: Pembelajaran yang didapat oleh para murid yang setiap tahun dirayakan, adalah:

  • Menumbuhkan semangat juang dan pantang menyerah, karena untuk meraih sebuah kemenangan, murid harus mau berusaha dan bekerja keras.

Hal ini terlihat ketika para murid memiliki semangat dalam memberikan usaha terbaiknya dengan segenap kemampuan dalam setiap lomba. Contohnya adalah saat murid mengikuti lomba memasukkan ring (simpai kecil) ke cone dengan menggunakan kaki. Pasti perlu semangat untuk berusaha dan tekun melakukannya sampai semua ring (simpai kecil) masuk ke cone dengan cepat.

  • Murid dapat menerima kekalahan dengan lapang dada saat mengikuti lomba dan tidak membenci yang menang. Walaupun mereka mungkin merasa sedih karena kalah, mereka diajak untuk tidak marah-marah. Murid belajar untuk tetap memiliki karakter sukacita, yaitu bersikap benar termasuk di situasi yang tidak nyaman. Saat murid menang, mereka juga belajar untuk tidak sombong tetapi tetap memberikan semangat buat teman yang kalah.
  • Melatih para murid untuk belajar mengambil keputusan ketika ingin memenangkan lomba. Caranya yaitu dengan memiliki sikap yang fokus dalam perlombaan dan menjunjung tinggi sportivitas.
  • Membantu merangsang kecerdasan dan tumbuh kembang kemampuan motorik murid, misalnya: dalam lomba makan kerupuk, memindahkan bendera, balap karung, dan lain-lain. Lomba-lomba ini memerlukan koordinasi mata, kaki, dan tangan, sehingga pada saat yang sama menstimulasi kemampuan motoriknya.
  • Murid belajar untuk mampu menerima tantangan yang ada. Misalnya adalah ketika lomba memindahkan belut dari satu ember ke ember yang lain, pasti memerlukan keberanian untuk melakukannya.
  • Belajar bekerja sama untuk memupuk persahabatan dan kekompakan di antara rekan-rekan satu tim. Contohnya adalah pada saat lomba tarik tambang dan lari estafet. Lomba-lomba ini memerlukan kerja sama dan komunikasi dalam tim untuk mendengarkan pendapat dari orang lain. Juga untuk menerima instruksi supaya dapat melakukannya dengan tepat dan bisa memperoleh kemenangan.
  • Murid belajar mendengarkan dengan penuh perhatian aturan dan instruksi dalam perlombaan.
  • Meningkatkan rasa percaya diri sehingga murid menjadi berani ketika harus tampil di depan umum.
  • Yang terpenting adalah menumbuhkan semangat cinta tanah air Indonesia. Guru bisa menceritakan makna di balik lomba-lomba. Misalnya lomba makan kerupuk, yang mewakili susahnya makan dalam masa penjajahan, semangat gotong-royong dan persatuan saat lomba tarik tambang.

Redaksi: Bagaimana cara menentukan lomba 17 Agustus yang tepat untuk unit KB (Batita dan Pra-TK) dan TK (TK A-TK B)?

Bu Lita:

  • Memilih lomba sesuai dengan usia dan tingkat pencapaian murid. Misalnya lomba memasukkan bola sesuai dengan pola, untuk KB hanya pola AB-AB, sedangkan untuk TK pola AB-AB, ABC-ABC, atau ABCD-ABCD. Contoh lainnya, pada lomba memindahkan bendera untuk usia KB/Batita (2 atau 3 bendera) dalam jarak yang lebih pendek. Juga untuk siswa TK (4 bendera) dalam jarak yang lebih jauh.
  • Memperhatikan durasi lomba dan disesuaikan dengan usia murid karena kemampuan murid KB-TK dalam menyelesaikan lomba berbeda-beda. Misalnya usia KB memerlukan waktu yang sedikit lebih lama dibanding usia TK.
  • Menumbuhkan dan menstimulasi kematangan emosi, keterampilan sosial, kematangan kognitif. Melatih berkonsentrasi saat bermain dan belajar, dan mengembangkan keterampilan motorik.

Redaksi: Apa saja lomba 17 Agustus yang diadakan dari KB (Batita-Pra TK) dan TK (TK A dan TK B)?

Bu Lita: Lomba yang diadakan untuk KB dan TK adalah:

  • Batita
    Lomba memindahkan bendera, mengelompokkan benda sesuai warna, menyusun balok.
    Tujuan dari lomba ini adalah untuk melatih koordinasi mata, tangan, dan melatih fokus. Juga untuk menumbuhkan keberanian murid, interaksi dengan teman, dan merangsang kemampuan motorik kasar murid.
  • Pra-TK
    Lomba meronce dan memindahkan bendera.
    Tujuannya adalah untuk melatih rasa percaya diri anak, melatih kemampuan kognitif, fokus, dan meningkatkan kemampuan motorik kasar murid. Juga untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air, menumbuhkan sikap penuh semangat, sportif saat berkompetisi mengikuti lomba bersama teman sebaya.
  • TK A
    Lomba menyusun gelas warna putih dan bentuk geometri warna merah dengan pola AB-AB. Lomba menyusun bola sesuai warna (merah, kuning, biru, hijau).
    Tujuannya adalah agar murid dapat mengenal warna bendera merah-putih dan warna-warna dasar, seperti merah, hijau, biru, dan kuning. Selain itu juga untuk mengembangkan motorik kasar dan halus murid. Tujuan lainnya adalah agar mereka bersyukur dan bangga menjadi anak Indonesia lewat lomba perayaan hari Kemerdekaan Indonesia. Mereka juga dilatih untuk bisa bersikap sportif dalam permainan kompetitif, dan mengembangkan rasa percaya diri.
  • TK B
    Lomba membalikkan gelas dan mengisi bola sesuai pola ABC-ABC. Lomba memasukkan ring (simpai kecil) ke dalam cone menggunakan kaki.
    Tujuannya adalah untuk menumbuhkan sikap percaya diri, menstimulasi kemampuan motorik murid, melatih kecerdasan kognitif, dan menumbuhkan daya juang. Saat murid mengikuti aturan lomba, mereka akan berlatih memecahkan masalah sederhana berdasarkan prioritas atau urutan.

Kesimpulan

Ternyata melalui wawancara ini kita mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang manfaat yang didapat oleh para murid saat mengikuti perlombaan. Selain dari segi sosial emosional, sensorik motorik, juga melatih perkembangan kognitif murid. Jadi mereka tak sekadar bermain tetapi juga sambil belajar dengan penuh sukacita. Terlebih KB-TK Athalia tidak asal pilih kegiatan lomba tetapi benar-benar disesuaikan dengan kondisi dan tahapan tumbuh kembang murid.

Kurikulum Merdeka

Oleh: Presno Saragih, Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Athalia

Kurikulum nasional tiap periode tertentu diubah oleh para pembuat kebijakan. Ada yang perubahannya signifikan, ada yang tidak. Sejauh ini, kurikulum nasional kita bersifat sangat mengikat dan menjadi acuan minimal bagi sekolah/satuan penyelenggara pendidikan. Namun, jika ada penambahan/improvisasi yang akan dilakukan oleh satuan pendidikan berdasarkan kebutuhan sekolah itu sendiri pun tidak bisa serta-merta diterapkan. Pengawas sekolah belum tentu menyetujui penambahan/improvisasi yang dirancang oleh sekolah.

Kurikulum Merdeka adalah kabar gembira bagi satuan pendidikan dari TK sampai SMA. Kehadiran kurikulum ini diharap dapat memberi keleluasaan kepada tiap sekolah (pendidik dan tenaga kependidikan) untuk dapat menciptakan pembelajaran berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar siswanya. Pendidikan di dalam Kurikulum Merdeka berorientasi kepada kebutuhan para siswa (student-centered). Berbagai upaya akan dilakukan oleh pemangku kepentingan dalam sistem pendidikan untuk menjadikan siswa sebagai pelajar yang memiliki kompetensi sesuai dengan bidangnya dan berkarakter baik demi terwujudnya tujuan pendidikan nasional.

Kurikulum Merdeka dan P5

Dalam Kurikulum Merdeka, ada yang menarik untuk kita perhatikan bersama, yaitu Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau bisa disebut dengan P5. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila memiliki porsi yang cukup besar dalam proses pembelajaran selama 1 tahun ajaran yaitu 20-25%. Melalui proyek ini, para siswa akan dibentuk menjadi pelajar yang bukan saja memiliki pengetahuan yang komprehensif tentang ke-Pancasila-an tetapi juga belajar menghidupi nilai-nilai Pancasila di tengah kehidupan masyarakat yang beraneka ragam dimanapun mereka berada. Di perguruan tinggi “upaya sengaja” yang sama juga akan diterapkan. Maka diharapkan lahirlah manusia Indonesia yang Pancasilais dalam arti sesungguhnya yang akan membangun bangsa ini.

Persiapan Pelaksanaan

Merdeka? Apakah artinya Kurikulum Merdeka lebih mudah disusun dan diterapkan? Jawabannya justru jauh lebih sulit karena sekolah/satuan pendidikan tidak terbiasa merancang kurikulumnya sendiri. Semua sekolah (termasuk Sekolah Athalia) harus berjuang keras dalam mempersiapkan diri untuk melaksanakan Kurikulum Merdeka ini. Dibutuhkan bantuan dan doa dari para orang tua/wali siswa untuk mendukung penerapan kurikulum ini. Ada sejumlah perbedaan yang akan diterapkan dalam Kurikulum ini. Contoh: tidak ada KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) dan tidak ada penjurusan/peminatan, ada penerapan pembelajaran diferensiasi, rapor yang berbeda, dan masih banyak yang lain.

Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong, akan menerapkan Kurikulum Merdeka pada tahun ajaran 2023/2024 dimulai dengan kelas KB-TK, SD kelas 1, 7, dan kelas 10. Sebagai praktisi pendidikan yang sudah bergelut di dunia pendidikan selama 37 tahun, saya optimis bahwa Kurikulum Merdeka akan berdampak optimal bagi siswa Athalia (secara khusus dan secara holistik baik dalam bidang intelektual, spiritual, dan karakter) ketika sekolah dan orang tua siswa saling mendukung.

Coram Deo (hidup dalam hadirat Tuhan). Tuhan Yesus memberkati.

Baca Juga: Paradigma Kurikulum Merdeka

Pembinaan Karyawan YPK Athalia Kilang Being Firmly Rooted, Being Build Up In Christ

Oleh: Sie Kerohanian (PK3)

Pembinaan Karyawan di Sekolah Athalia

Pembinaan karyawan Sekolah Athalia (YPK Athalia Kilang), sebuah sekolah di Serpong, tahun ini mengundang Ev. Hellen Pratama untuk menolong peserta kembali mengevaluasi kehidupan pribadi-Nya dengan Tuhan.

Kolose 2:6-7 mengingatkan peserta bahwa perjalanan sebagai murid Kristus adalah sebuah perjalanan yang progresif dan harus didasari oleh pengenalan yang benar tentang Tuhan serta adanya relasi yang intim dengan Tuhan. Perjalanan spiritualitas atau pembentukan spiritualitas (spiritual formation) yang demikian, bukanlah hal yang bisa terjadi secara alami melainkan harus dilakukan secara sengaja dan dalam sebuah komunitas dengan pertolongan Roh Kudus. Sehingga dengan demikian pada akhirnya orang percaya dapat menjadi makin serupa Kristus, memuliakan Tuhan dan menjadi berkat buat sesama.


Formasi spiritual terjadi dalam keseharian orang percaya. Setiap hari orang percaya diperhadapkan pada pilihan dan pilihan-pilihan yang dibuat menentukan apakah seseorang akan makin mendekat kepada Tuhan atau menjauh dari Tuhan. Hal yang ingin dicapai dalam formasi spiritualitas adalah seseorang yang mengasihi Tuhan, diri dan sesama dengan benar. Selain itu juga dapat bertumbuh menjadi seorang yang makin utuh dan kudus, hidup dengan jati diri yang sejati dalam Kristus (David Benner).


Berikut Empat Krisis dalam Kerohanian dan Penyebabnya:

  • Narsisisme (lebih mencintai diri sendiri daripada Tuhan),
  • Pragmatisme (mengutamakan hasil yang menguntungkan daripada apa yang benar di mata Tuhan),
  • Konsumerisme (mendorong kita untuk membeli apa yang tidak perlu dan menuntut situasi untuk selalu memuaskan diri)
  • Burn-out (kelelahan, terus melakukan aktivitas dan tidak beristirahat dengan benar).

Hal yang mendorong munculnya krisis kerohanian adalah hidup dalam manusia lama yang dibentuk oleh dunia ini. Dunia melihat manusia dari apa yang saya punya, apa yang saya lakukan dan apa kata orang sehingga manusia berusaha tampil seperti yang dunia inginkan.

Cara Mengatasi Krisis

Cara mengatasi krisis rohani adalah dengan sengaja menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru (Efesus 4:22,24). Untuk itu peserta perlu belajar lebih mengenal diri dan mengenal Tuhan sebab makin seseorang mengenal Tuhan, ia akan mampu makin mengenal diri, demikian sebaliknya. Peserta juga harus mendisiplin diri dan terus berlatih hidup sebagai manusia baru. Peserta perlu terus mengevaluasi diri, jujur di hadapan Tuhan dan izinkan Tuhan memproses kehidupannya.

Demikianlah pembinaan kali ini menolong setiap karyawan Athalia melihat relasinya dengan Tuhan lebih penting dari hanya sekadar menjadi pengikut saja. Relasi yang makin dekat dengan Tuhan menolong setiap karyawan untuk hidup terus diubahkan oleh Roh Kudus. Juga makin hari makin menjadi murid Kristus yang menyerupai Dia dalam setiap aspek kehidupan, sehingga nama Tuhan dimuliakan dan setiap karyawan hidupnya bertumbuh dan menjadi berkat.

Soli Deo Gloria. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.

Tetap Melangkah Bersama Tuhan

Tetap Melangkah Bersama Tuhan

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian (PK3)

Yosua 1:9
Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.

Frasa kuatkan dan teguhkanlah hatimu serta janji penyertaan Tuhan tertulis beberapa kali dalam bagian ini. Mengapa? Mungkin karena kegentaran yang dirasakan Yosua sangatlah besar. Sebagai orang yang ditunjuk untuk menggantikan Musa, ia harus memimpin bangsa yang besar dan keras kepala. Di zaman Musa saja, ada begitu banyak pemberontakan sehingga Musa yang terkenal lembut hatinya bisa sangat marah menghadapi Israel. Di saat yang sama, ia juga harus memimpin peperangan melawan bangsa asing untuk menduduki tanah perjanjian. Orang Israel tidak ahli berperang karena mereka dulunya adalah budak di Mesir dan peralatan perang mereka pun sederhana sedangkan musuh yang dihadapi sangat kuat.

Melalui firman-Nya, Tuhan berulang kali meneguhkan Yosua bahwa dia tidak sendiri. Tuhan mau Yosua ingat bahwa Ia hadir dan menyertai Yosua dan bangsa Israel. Jika Tuhan yang ada di pihak mereka, tidak akan ada yang dapat mengalahkan mereka. Asal mereka tetap melakukan firman Tuhan dengan sungguh-sungguh dan setia, Tuhan berjanji tidak akan meninggalkan mereka. Dan janji penyertaan Tuhan ini juga berlaku bagi setiap anak-anak Tuhan hari ini.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk tidak takut menghadapi apa pun yang akan terjadi di depan sebab Ia berjanji akan menyertai kita. Adapun yang Ia minta dari kita adalah tetap hidup dalam firman-Nya dan mengandalkan Dia. Karena itu tetaplah melangkah bersama dengan Tuhan dan jangan bersandar pada hikmat dan kekuatan kita sendiri. Ia, Allah yang setia akan terus menopang kita senantiasa.

Parents Meeting: Membangun Kemitraan Orang Tua dan Sekolah

Oleh: Chandria Wening Krisnanda, Staf Parenting (PK3)

Apa Itu Parents Meeting?

Parents Meeting adalah kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap awal tahun ajaran baru di Sekolah Athalia dan Sekolah PINUS, dua sekolah yang berlokasi di BSD, Serpong. Acara ini mencakup seluruh jenjang pendidikan, mulai dari KB-TK hingga SMA.
Setiap level memiliki jadwal pelaksanaan berbeda, dan sekolah mengharapkan kehadiran orang tua sesuai dengan tingkat pendidikan anaknya.

Tujuan dan Isi Kegiatan Parents Meeting

Melalui kegiatan ini, sekolah menyampaikan berbagai informasi penting, di antaranya:

  • Pengenalan budaya Athalia.
  • Pelaksanaan Kurikulum Merdeka untuk level KB, TK, kelas 1, kelas 7, dan kelas 10.
  • Program pembelajaran karakter.
  • Program Athalia Parents Community (APC).
  • Program kelas parenting khusus bagi orang tua murid.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah perjumpaan antara pihak sekolah dan orang tua, agar kemitraan dalam pendampingan anak dapat berjalan sejalan dengan visi dan misi sekolah.

Prinsip 5 Beliefs: Nilai Dasar Komunitas Athalia

Ketua Yayasan Athalia Kilang, Ibu Charlotte Priatna, menyampaikan kembali prinsip 5 Beliefs yang dihidupi oleh komunitas Athalia, yaitu bahwa setiap anak:

  1. Adalah titipan Tuhan,
  2. Berharga,
  3. Unik,
  4. Cerdas, dan
  5. Memiliki tujuan khusus.

Sebagai bentuk kemitraan antara orang tua dan sekolah, pengurus APC juga mengajak orang tua untuk berperan aktif dalam berbagai program yang diselenggarakan.

Pembinaan Karakter dan Program Akademik

Selanjutnya, Bapak Presno Saragih, Kepala Bidang Pendidikan, menjelaskan tentang program pembinaan karakter yang dilakukan secara berkesinambungan mulai dari jenjang KB-TK hingga SMA.
Pada kesempatan yang sama, masing-masing kepala sekolah juga memaparkan program kurikulum akademik yang akan dijalankan selama tahun ajaran 2023/2024, serta memperkenalkan seluruh pengajar/pendidik dan staf pendidik yang akan mendampingi peserta didik.

Jadwal Pelaksanaan Parents Meeting 2023/2024

Beberapa unit yang telah menyelesaikan kegiatan Parents Meeting antara lain:

  • KB-TK
  • SD
  • PINUS

Kegiatan selanjutnya dijadwalkan sebagai berikut:

  • SMP: Sabtu, 5 Agustus
  • SMA: Sabtu, 12 Agustus

Harapan dari Kegiatan Parents Meeting

Sekolah berharap Parents Meeting tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi sarana untuk menyampaikan maksud Tuhan bagi orang tua, pendidik, dan peserta didik. Dengan demikian, seluruh proses pendidikan dapat berjalan sesuai dengan nilai-nilai Kristiani, dan nama Tuhan semakin dipermuliakan melalui kemitraan yang terbangun.

Ingin Berpikir Lebih Kritis dan Kreatif? Coba Latihan Ini!

Oleh: Dra. Corrina Anggasurjana, MA, staf Research & Development SMA Athalia

Apakah contoh pembicaraan di atas sudah terjadi dalam komunikasi antara orang tua dan anak? Sudahkan komunikasi antara orang tua dan anak mencakup percakapan yang mendorong anak untuk berpikir? Apakah anak diajak mempertimbangkan berbagai aspek sebelum mengambil keputusan?

Diskusi yang didasarkan pemikiran yang kritis akan menghasilkan kesimpulan yang matang. Proses ini membantu anak belajar mengambil keputusan dengan bijak. Oleh karena itu, orang tua perlu melatih dan membiasakan anak mengembangkan proses berpikir kritis yang benar. Hal ini juga menjadi fokus dalam pendidikan di Indonesia. Salah satu ciri ‘Pelajar Pancasila’ adalah kemampuan bernalar kritis. Apa itu berpikir kritis?

Berpikir kritis atau critical thinking merupakan keterampilan yang memungkinkan seseorang memproses informasi secara objektif, baik kualitatif maupun kuantitatif. Kemampuan ini melibatkan :

  1. Menghubungkan berbagai informasi untuk menemukan pola atau kesimpulan.
  2. Menganalisis dan mengevaluasi informasi sebelum menerima atau menolaknya.
  3. Merefleksikan dan mengevaluasi pemikiran sendiri, sehingga tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan.

Pelajar yang memiliki kemampuan berpikir kritis tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga meneliti, menilai, dan mempertimbangkan berbagai perspektif sebelum mengambil kesimpulan.

Bagaimana Melatih Anak Berpikir Kritis?

Agar anak terbiasa berpikir kritis, mereka perlu mengembangkan beberapa keterampilan penting, misalnya:

  1. Menubuhkan rasa ingin tahu. Sebagai orang tua, kita bisa merangsang keingintahuan anak dengan pertanyaan-pertanyaan yang menantang, seperti “Apakah ada cara pandang lain untuk menyikapi hal ini?”, “Bila kamu yang jadi menteri keuangan, kira-kira solusi apa yang akan kamu ambil?”, dan lain sebagainya. Pertanyaan terbuka ini mendorong anak untuk berpikir lebih dalam dan melihat berbagai sudut pandang.
  2. Kreatif dalam Berpikir. Kreativitas dapat diasah dengan latihan sederhana, misalnya beri satu kata dan minta anak mengajukan tiga pertanyaan yang dimulai dengan kata “jika….”.
  3. Tekun dalam Berpikir. Ketekunan penting agar anak tidak mudah menyerah dalam memecahkan masalah. Ajarkan mereka untuk memikirkan hal-hal yang ada di sekitar situasi tersebut untuk memperluas pemahaman dan wawasan.

Membiasakan anak untuk berpikir kritis akan membuat mereka siap dan mau untuk berusaha mencari informasi yang relavan ketika menghadapi suatu persoalan. Selain itu, anak juga akan lebih percaya diri dalam mengambil keputusan, terlatih menanyakan pertanyaan yang bermakna, mempertimbangkan berbagai alternatif sudut pandang, menggunakan logikanya, menghindari asumsi, dan mempertimbangkan berbagai peluang.

Orang tua harus mendorong anak-anak untuk mencari kebenaran dengan belajar bernalar dan berdebat secara sehat sehingga anak-anak tidak akan hanya menelan apa saja yang ditawarkan kepada mereka tanpa mempertimbangkannya. Anak-anak remaja yang terbiasa berdebat secara sehat dengan orang tuanya akan mengembangkan kemandirian dan keteguhan yang membuat mereka lebih tahan terhadap tekanan teman sebaya, termasuk yang berkaitan dengan narkoba, alkohol, atau pun isu-isu negatif yang mewarnai dunia para remaja.

Baca Juga : Inilah Pesona Matematika yang Tak Banyak Orang Sadari!

Dengan melatih berpikir kritis, anak tidak hanya tumbuh menjadi individu yang cerdas dan logis, tetapi juga memiliki keteguhan dan kepedulian yang akan membawa dampak positif bagi dirinya dan masyarakat.

The simple believes everything, but the prudent gives thought to his steps. Proverbs 14:15 (ESV)

Hati Ayah bagi Keluarga

Oleh: Erika Kristianingrum, peserta Gathering Daddy n Me Day

Seorang ayah memiliki peran besar dalam kehidupan anak-anaknya. Bagi anak perempuan, ayah adalah cinta pertama mereka. Sedangkan bagi anak laki-laki, ayah adalah teladan utama dalam menjadi seorang pria kelak. Namun terkadang, banyak ayah yang tidak menjalankan fungsinya sebagai seorang ayah karena tidak bisa menikmati perannya sebagai seorang ayah. Akibatnya, banyak anak-anak tumbuh tanpa figur ayah yang kuat, sekalipun ayah ada di rumah setiap harinya.

Melihat fenomena ini maka kami berinisiatif untuk mengadakan acara gathering Daddy n Me Day agar relasi ayah dan anak yang renggang dapat diperbaiki.

Gathering Daddy n Me Day

Acara ini dibawakan oleh Bapak Rizal Badudu dan istrinya ibu Rina Badudu. Beliau adalah seorang pembicara sekaligus penulis buku Service Excellence dan Character Excellence. Melalui pengalaman mereka berdua saat mengasuh keempat buah hatinya yang kini sudah beranjak dewasa, mereka berdua berbagi tentang bagaimana seharusnya peran ayah dan bagaimana peran ibu sebagai penolong yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Acara ini dibawakan bukan dalam bentuk pengajaran atau seminar tapi lebih ke praktek-praktek sehingga lebih mengena dan mudah dipahami untuk mengaplikasikannya di dalam keluarga. Ada 4 sesi dalam acara ini, meliputi sesi struktur keluarga, identitas keluarga, bermain bersama, dan perekat keluarga.

Sesi 1 Struktur Keluarga

Dalam sesi pertama, Bapak Rizal dan Ibu Rina mengajak keluarga untuk kembali kepada struktur keluarga yang benar, yaitu Tuhan yang berada di atas keluarga. Struktur ini dilanjutkan dengan peran ayah sebagai pelindung dan penyedia kebutuhan keluarga, lalu ibu sebagai pengelola di rumah, serta anak-anak yang taat dan mengasihi orang tuanya.

Untuk menerapkan konsep ini, setiap anggota keluarga diminta menuliskan hal-hal yang perlu diperbaiki dan dilakukan. Proses ini membantu ayah memahami bahwa hati ayah adalah fondasi utama dalam membangun keluarga yang harmonis.

Sesi 2 Identitas Keluarga

Dalam sesi ini tiap-tiap keluarga diminta untuk membuat poster yang menggambarkan identitas dari keluarga tersebut. Yang dinilai dalam pembuatan poster ini adalah kerjasama dari tiap-tiap anggota keluarga dalam proses pembuatannya. Ada perdebatan, penyampaian pendapat, bekerja sama dan bahagia lagi untuk sebuah tujuan. Proses pembuatan poster ini menggambarkan keseharian masing-masing keluarga dalam menghadapi pergumulan.

Sesi 3 Bermain Bersama

Dalam sesi ini seluruh anggota keluarga diajak untuk bermain games. Ada 5 games yang dimainkan yaitu permainan know your daddy, where is it, merapat yuk, telepati, dan treasure hunt. Selain bekerja sama ada hal yang dipelajari dalam sesi ini yaitu bermain bersama, karena jarang sekali orang tua mau bermain bersama anaknya Dengan bermain bersama masing-masing anggota keluarga bisa saling mengenal satu dengan yang lain.

Sesi 4 Perekat keluarga

Di terakhir ini, masing-masing anggota keluarga diminta untuk menuliskan perasaan dan ucapan terima kasih kepada anggota keluarga yang lain. Kemudian, mereka akan membacakan isi tulisan tersebut.

Bagi sebagian keluarga, mengungkapkan perasaan bukanlah hal yang mudah. Namun, sesi ini membuka kesempatan bagi mereka -terlebih ayah, untuk menunjukkan kasih sayang kepada anak dan pasangan mereka. Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh ayah, memperkuat kembali peran hati ayah dalam keluarga.

Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Menghidupkan Hati Ayah dalam Keluarga

Kami bersyukur acara yang diikuti oleh 110 keluarga dari Komunitas Athalia dapat menjadi berkat bagi mereka. Walaupun lelah karena acara berlangsung dari pagi hingga siang, acara ini cukup berkesan dengan terlihat dari peserta yang menyadari pentingnya untuk mengembalikan struktur yang benar di dalam keluarga sesuai dengan kehendak Tuhan. Setelah mengikuti acara ini, banyak ayah berkomitmen untuk lebih meluangkan waktu bersama anak-anak, terus saling mengenal, dan menerima kelemahan masing-masing anggota keluarga.

“Others things may change us, but we start and end with the family”