Membimbing Anak Bertanggung Jawab

bertanggung jawab

Menjadi orang tua dengan anak yang memiliki kepribadian bertanggung jawab pasti senang. Bertanggung jawab berarti Anda dipercaya! Bagaimana proses menjadikan anak memiliki karakter tanggung jawab? Eits, ternyata orang tua harus lebih dulu berproses untuk bisa mendidik anak-anak menjadi pribadi bertanggung jawab, lho.

Bagaimana proses dan dinamikanya? Video ini memaparkan banyak hal soal bagaimana membimbing anak agar menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Yuk, menonton dan berproses bersama keluarga!

Baca Juga: 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Belas Kasihan Adalah Kunci

belas kasihan

Belas kasihan sering disamakan dengan rasa kasihan, padahal keduanya berbeda secara mendasar. Perasaan ini berangkat dari pemahaman yang tulus terhadap penderitaan orang lain, lalu diikuti dengan niat untuk membantu dengan cara yang menghargai martabat mereka.

Dalam belas kasihan, kita tidak hanya hadir untuk membantu, tapi juga mendorong orang lain agar bangkit dan mandiri. Ini adalah bentuk empati aktif yang menolak hubungan yang timpang. Seseorang yang berbelas kasih tidak sekadar merasa iba, tapi juga bertindak dengan bijak, tidak merendahkan, dan tidak menciptakan ketergantungan. Misalnya, saat anak kesulitan belajar di rumah, kita bisa memilih untuk memahami tantangan anak, lalu mendukungnya menemukan kekuatan dari dalam dirinya sendiri.

Mari simak video ini!

Baca Juga : Titik Temu Antargenerasi – Terhubung dan Terlibat

Cobalah refleksikan: dalam interaksi harian kita, lebih sering mana kita merasa kasihan, dan kapan terakhir kita benar-benar berbelas kasih?

Baca Juga: Belas Kasihan

 

Kok Bisa Merasa Cukup Padahal Hidup Biasa Aja?

Apakah Anda sering mendengar orang mengeluhkan hal-hal yang belum mereka miliki dalam hidupnya? Kalimat seperti “andai aku punya lebih banyak uang” atau “kalau saja aku punya pekerjaan yang lebih baik” sering kali terdengar dalam percakapan sehari-hari. Hal ini mencerminkan satu hal mendasar dalam diri manusia, yaitu rasa belum cukup atau rasa kurang.

Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang penuh keinginan. Saat sudah memiliki satu hal, muncul keinginan untuk memiliki dua. Begitu mendapat dua, muncul harapan untuk yang ketiga. Tanpa disadari, siklus ini terus berlanjut dan membuat kita merasa tidak pernah cukup. Padahal, rasa cukup sejatinya tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki. Rasa ini justru datang dari sikap hati yang tahu cara bersyukur atas apa yang telah dimiliki.

Bersyukur adalah fondasi dari rasa cukup. Bersyukur akan berkat dan kasih karunia Tuhan akan menuntun kita untuk menghargai hal-hal kecil dalam hidup dan melihat makna di baliknya. Dengan hati yang bersyukur, kita belajar menerima kekurangan tanpa merasa kehilangan.

Namun, bagaimana cara mengajarkan rasa cukup kepada anak-anak di tengah dunia yang serba cepat dan konsumtif? Yuk, simak bersama dan temukan jawabannya di video ini!

Dengan membiasakan anak untuk melihat ke dalam dan mensyukuri apa yang ada, kita sedang membangun pondasi kehidupan yang kuat—bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depannya.

Baca Juga : Penyertaan Tuhan Itu Nyata? Ini Buktinya

tags:

#sekolahathalia #komunitassekolahathalia #sekolahkarakter #sekolahkristen #rightfromthestart #benarsejakawal #characterbasedlearningcommunity #cukup #merasacukup

Kejujuran: Berani Menjadi Diri Apa Adanya

Amsal 20 ayat 11 mencatat bahwa anak-anak pun sudah dapat dikenal dari perbuatannya, apakah bersih dan jujur kelakuannya. Artinya, sejak usia dini, anak sudah menunjukkan karakter dasar yang terlihat melalui tindakannya sehari-hari. Salah satu karakter yang sangat penting untuk dibentuk sejak kecil adalah kejujuran.

Meskipun begitu, membentuk karakter jujur pada anak tidak selalu mudah dan memerlukan pendekatan yang konsisten serta penuh kesabaran. Anak-anak sering kali memilih untuk berbohong karena rasa takut akan konsekuensi yang mungkin timbul, seperti dimarahi, dihukum, atau dipermalukan.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan pengajar untuk menciptakan lingkungan yang aman dan suportif, di mana anak merasa dihargai saat menyampaikan kebenaran. Memberikan pujian dan penguatan positif ketika anak menunjukkan kejujuran akan membantu mereka memahami bahwa bersikap jujur merupakan nilai yang dihargai dan dibanggakan. Selain itu, kejujuran bukan hanya diajarkan lewat kata-kata, tetapi juga melalui contoh nyata dari orang dewasa. Orang tua dan pengajar perlu membiasakan diri hidup dalam kejujuran, baik hal kecil maupun hal besar.

Bu Charlotte dalam video “Kejujuran: Berani Menjadi Diri Apa Adanya” membahas bagaimana cara melatih karakter jujur anak secara konsisten. Mari simak video di bawah ini!

Semoga video ini dapat menjadi berkat dan membantu membangun karakter jujur dalam keluarga.

Baca Juga : Menjadi Otentik, Kunci Bertumbuh

tags :

#sekolahathalia #komunitassekolahathalia #sekolahkarakter #sekolahkristen #rightfromthestart #benarsejakawal #characterbasedlearningcommunity #jujur #karakter #karakterjujur

Berbagi: Ajarkan Anak Hidup Hemat dan Peduli Sesama

Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak besar bagi berbagai aspek kehidupan, tak terkecuali dalam hal ekonomi. Banyak orang yang menghadapi tantangan finansial, mulai dari pengurangan pendapatan, kehilangan pekerjaan, hingga meningkatnya kebutuhan sehari-hari. Di tengah situasi yang serba tidak pasti ini, justru terbuka peluang berharga untuk mengajarkan nilai-nilai penting kepada anak, salah satunya adalah bagaimana bijak dalam menggunakan uang dan sumber daya yang lain. Selain itu, yang tak kalah penting adalah belajar berbagi.

Bagaimana cara memulainya? Salah satu triknya adalah dengan menggunakan pendekatan yang menyenangkan dan penuh makna akan lebih efektif. Misalnya, melibatkan anak dalam menyusun anggaran belanja keluarga, tantang mereka menabung untuk barang impian, dan ajak berdiskusi tentang pentingnya berbagi. Kegiatan seperti mendaur ulang barang lama untuk dijadikan hadiah atau proyek kreatif juga bisa memperkuat nilai hemat sekaligus melatih empati.

Ingin tahu lebih banyak cara kreatif dan inspiratif untuk mengajarkan hidup hemat pada anak?

Yuk, tonton video ini bersama keluarga dan temukan inspirasinya!

Dengan membiasakan anak untuk hemat dan berbagi, kita tidak hanya menanamkan nilai finansial, tetapi juga membentuk karakter yang bijak, peduli, dan bertanggung jawab sejak dini.

Sudahkah kita memberi contoh hidup bijak dan peduli kepada anak-anak kita? Karena sejatinya, anak belajar bukan dari kata-kata, tetapi dari apa yang mereka lihat dan rasakan setiap hari. Mari jadikan momen ini sebagai langkah awal membangun kebiasaan baik dalam keluarga!

Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

tags:

#sekolahathalia #komunitassekolahathalia #sekolahkarakter #sekolahkristen #rightfromthestart #benarsejakawal #characterbasedlearningcommunity #hemat #hiduphemat #memberi #sharing

Tabah: Bertahan dan Berjuang Hingga Akhir

tabah

Setiap orang tua tentu ingin membesarkan anak mereka menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah menyerah, dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan kepala tegak. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian ini, membangun karakter tabah menjadi sangat penting. Dengan karakter ini, kita akan tetap bertahan dalam situasi sulit dan menyelesaikannya sampai akhir. Namun, bagaimana cara terbaik dalam membentuk anak-anak menjadi sosok yang tabah?

Melalui video “Tabah: Bertahan dan Berjuang Hingga Akhir“, Ibu Charlotte Priatna mengupas soal karakter tabah. Beliau mengatakan bahwa dalam karakter ini, ada proses pembelajaran yang konsisten dan penuh keteladanan yang perlu dilakukan oleh orang dewasa, khususnya orang tua.

Selain keteladanan, proses mendidik anak agar memiliki karakter ini juga membutuhkan ruang untuk mereka menghadapi kesulitan sendiri. Memberikan mereka kesempatan untuk menyelesaikan masalah, mengelola emosi, dan bangkit dari kegagalan akan memperkuat jiwa dan mental mereka.

Kiranya video ini tidak hanya mengajak kita merenung, tetapi juga mendorong kita untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh dan lembut dalam membentuk karakter anak. Karena dalam setiap proses belajar bertahan, kita pun sedang diproses untuk menjadi lebih tabah.

Baca Juga : Rahasia 30 Tahun Perjalanan Karakter

tags:

#sekolahathalia #komunitassekolahathalia #sekolahkarakter #sekolahkristen #rightfromthestart #benarsejakawal #characterbasedlearningcommunity #karakter #tabah #endurance

Pengendalian Diri: Tembok Pertahanan Diri

Selama masa pandemi, banyak kebiasaan yang harus ditunda demi menjaga kesehatan bersama. Tidak sedikit orang merasa rindu untuk kembali menghabiskan waktu akhir pekan di restoran favorit atau berjalan-jalan di mal bersama keluarga. Keinginan untu kembali ke rutinitas itu sangat manusiawi, tapi di saat yang sama, situasi ini mengajarkan kita satu hal penting : pengendalian diri. Di tengah berbagai keterbatasan, kita ditantang untuk menahan diri kemudian menjadi teladan bagi anak-anak.

Pengendalian diri bukanlah sesuatu yang muncul secara instan, melainkan keterampilan yang perlu diasah secara konsisten. Bagaimana cara membangun dan melatih karakter ini secara efektif, terutama dalam siuasi yang penuh tantangan seperti masa pandemi? Apa langkah-langkah konkret yang dapat diambil?

Untuk memahami lebih dalam mengenai pentingnya pengendalian diri serta strategi praktis dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, mari simak video singkat berikut ini:

Kita dapat menjadikan masa sulit ini sebagai momen untuk belajar, baik bagi diri sendiri maupun anak-anak. Setiap keputusan kecil yang kita ambil hari ini, seperti menunda bepergian atau memiliki aktivitas aman di rumah, adalah bentuk nyata dari pengendalian diri yang berdampak besar.

Yuk, bersama-sama kita tumbuhkan karakter ini agar kelak anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang kuat, bijak, dan penuh tanggung jawab.

Baca Juga : Berbagi: Ajarkan Anak Hidup Hemat dan Peduli Sesama

Tags :

#pengendaliandiri#buahroh#sekolahathalia#komunitassekolahathalia #sekolahkarakter#sekolahkristen#rightfromthestart#benarsejakawal #characterbasedlearningcommunity

Bersihkan Hati dengan Mengampuni

mengampuni

Konflik yang terjadi di rumah memang tidak dapat dihindari, baik konflik antara suami dengan istri, orang tua dengan anak, atau kakak dengan adik. Lalu, ketika konflik itu memburuk, ada pihak-pihak yang sakit hati dan akhirnya konflik menjadi berkepanjangan. Di dalam hati, kita menyimpan dendam. Rasanya sulit sekali memaafkan kesalahan orang yang sudah menyakiti hati kita. Padahal, kita diajarkan oleh Tuhan untuk mengampuni mereka yang bersalah kepada kita. Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa melepaskan “ganjalan” yang ada di dalam hati dan mengampuni orang yang telah menyakiti kita?

Mengampuni atau memaafkan bukan berarti melupakan luka atau membenarkan perbuatan orang lain. Justru, itu adalah langkah penyembuhan bagi diri sendiri. Dalam video “Bersihkan Hati dengan Mengampuni“, Ibu Charlotte Priatna kembali mengajak kita merenung dan mengambil sikap dalam proses “mengobati” hati kita agar terbebas dari dendam dan mampu memaafkan orang yang bersalah kepada kita.

Menghadapi konflik dan luka hati memang tak mudah. Tapi dengan kesadaran penuh, kita bisa memilih untuk tidak terus hidup dalam bayang-bayang dendam. Ketika kita berani berdamai dengan rasa sakit, kita membuka ruang bagi hati untuk dipulihkan. Melalui doa, refleksi, dan niat yang tulus, kita bisa perlahan-lahan melepaskan beban dan belajar mengampuni dengan kasih. Mari ambil waktu untuk merenung dan mengambil langkah kecil menuju pemulihan.

Baca Juga : Penyertaan Tuhan Itu Nyata? Ini Buktinya

tags :

#videokarakter #videoparenting #belajarparenting#parenting #belajarkarakter #mengampuni #sekolahathalia #rightfromthestart #characterbasedlearningcommunity #charlottepriatna #tipsparenting #dirumahaja #stayathome #family #keluarga

Keuntungan Bermain Board Game

Keuntungan Bermain Board Game

Mengajak anak bermain board game dapat sekaligus mengajarkannya berbagai hal, lho! Dalam video berikut, Ibu Marlene, salah satu orang tua siswa Athalia, berbagi tentang keuntungan bermain board game. Apakah Anda tertarik untuk juga mengajak anak bermain board game di rumah?

Baca Juga: Berlibur Bersama

#aktivitasdirumah#bermain#boardgame#qualitytime#familytime

#manfaatboardgame#dirumahaja#homelearning#aktivitasseru

#permainananak#keluarga#sekolahathalia#rightfromthestart

#characterbasedlearningcommunity

Menjadi Teladan dalam Ketaatan

Dalam masa penuh tantangan seperti sekarang, peran orang tua sangatlah krusial. Anak-anak akan mengamati dan meniru perilaku kita setiap hari. Pertanyaannya, sudahkah kita menjadi teladan dalam bersikap? Apakah kita sudah menunjukkan ketaatan pada aturan dan yang terpenting pada kehendak Tuhan? Anak-anak butuh figur yang konsisten dan bertanggung jawab. Di sinilah kesempatan kita sebagai orang tua menjadi figur dalam tindakan nyata—baik di rumah maupun dalam kehidupan rohani.

Menjadi Teladan bagi Anak

Ketaatan bukan sekadar kata, tetapi sikap yang ditunjukkan lewat tindakan sehari-hari. Saat orang tua taat mengikuti protokol kesehatan, disiplin menjalani aktivitas, dan terus bersandar pada nilai-nilai iman, anak-anak pun belajar hal yang sama. Dalam video “Menjadi Teladan dalam Ketaatan“, Bu Charlotte mengingatkan bahwa anak-anak lebih peka terhadap perilaku dibandingkan perkataan. Maka, mari ajarkan ketaatan dengan cara yang hidup, yaitu dengan hati yang tunduk dan sikap yang konsisten.

Apakah selama ini kita sudah benar-benar menjadi teladan dalam ketaatan dan iman? Atau justru kita masih abai terhadap peran penting ini? Mari gunakan waktu ini untuk merenung dan memperbaiki diri. Tuhan mempercayakan anak-anak pada kita bukan tanpa alasan. Saat kita meneladani kebenaran, kita sedang menyiapkan generasi yang kuat dalam karakter dan iman. Tonton video reflektif di atas bersama keluarga dan biarkan Tuhan bekerja dalam setiap hati. Tuhan memberkati.

Baca Juga : Kiat-Kiat Mendampingi Remaja Saat Menghadapi Masalah

tags :

#sekolahathalia #sekolahkarakter #belajarkarakter #benarsejakawal

 #characterbasedlearbingcommunity #komunitassekolahathalia #parenting

 #belajarparenting #tipsparenting #charlottepriatna #praktisipendidikan