PERUBAHAN dan PERTUMBUHAN

Tema Tapel 2022/2023

Board of Directors (BoD) menetapkan tema besar tahun pelajaran 2022/2023 adalah Back to School: The Year of Recovery. Selama pandemi COVID-19, pembelajaran berubah dari luring menjadi daring. Memasuki tahun ketiga pandemi, seiring menurunnya kasus COVID-19, maka pemerintah membuat kebijakan supaya pembelajaran kembali dilakukan secara luring. Tentunya akan ada banyak hal lagi penyesuaian atau perubahan-perubahan yang perlu dilakukan, supaya pemulihan bisa terjadi.

                Terlebih memasuki tapel 2022/2023 ada beberapa perubahan, yaitu: (1) persiapan menyambut kurikulum baru yaitu kurikulum Merdeka, (2) perubahan kurikulum karakter untuk lebih sistematis, dan (3) perubahan pembelajaran dari daring ke luring. Setiap perubahan perlu dikelola dengan baik, sehingga menghasilkan pertumbuhan iman di setiap individu dan organisasi. Oleh karena itu, pada kesempatan pembukaan tapel 2022/2023 Senin, 4 Juli 2022 sie kerohanian mengadakan pembinaan bertema “Perubahan & Pertumbuhan” yang dibawakan oleh Ev. Fini Chen dari SLH-SDH.

Bertahan di Tengah Perubahan

                Ev. Fini Chen mengawali pemaparan materinya dengan memperkenalkan sebuah buku berjudul “Thank You for Being Late” yang ditulis oleh Thomas L. Friedman. Buku ini ditulis dengan harapan menjadi panduan untuk bertahan di tengah dunia yang semakin cepat berakselerasi. Ada banyak perubahan di bidang teknologi yang semakin cepat yang berdampak pula terhadap globalisasi dan iklim. Perubahan-perubahan itu menimbulkan rasa sukacita menyambut sesuatu yang baru, tetapi juga membawa kepusingan tersendiri mempelajari hal-hal baru tersebut. Buku ini ingin menjawab pertanyaan, bagaimana hidup di masa akselerasi? Bagaimana menjaga agar langkah tetap selaras dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat dan memusingkan?

Hidup dan Melayani Secara Ilahi

                Dalam pembinaan ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan: bagaimana hidup dan melayani secara ilahi di masa akselerasi?

Ada dua prinsip yang perlu dilakukan, adalah:

– Pancang

Galatia 4:19, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.”

Dulu yang menjadi agen budaya yaitu keluarga, sekolah, agama, media, kepemimpinan, dan hukum. Namun kini terjadi perubahan. Yang menjadi agen budaya yaitu media digital. Media digital menjadi penentu rasa, nilai, dan pemikiran (Vanhoozer, 2017).

Di tengah segala perubahan yang terjadi perlu diajukan pertanyaan yang tepat. Di dunia Pendidikan, pertanyaan tersebut harusnya terkait dengan humanitas, karena yang dididik adalah manusia. Mereka perlu dididik untuk mengenal Pencipta/Penebus dan hidup seturut gambar Pencipta-Nya sebagai manusia Allah. Pertanyaan-pertanyaan itu, adalah:

  • Manusia
    seperti apa saya-kamu-kita sebenarnya dan seharusnya?
  • Sudah
    berapa tepatkah saya-kamu-kita berubah?
  • Sudah
    berapa tepatkah saya-kamu-kita bertumbuh?

Setiap orang memiliki perspektif yang berbeda-beda. Namun, sebagai komunitas, saya-kamu-kita perlu memiliki satu titik fokus perhatian yang sama yaitu visi dan misi lembaga/sekolah. Visi sekolah Athalia yaitu “Siswa yang Menjadi Murid Tuhan” sedangkan misinya yaitu “Mendidik siswa menghidupi rencana Tuhan baginya”. Setiap pribadi, saya-kamu-kita perlu melihat perspektif orang lain dan mengacu pada visi dan misi. Dengan demikian setiap pribadi berproses, sehingga bertumbuh menjadi semakin serupa Kristus.

– Pegang

Galatia 4:19, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.”

Setelah komunitas memiliki fokus yang sama, yaitu visi dan misi, maka perlu saling berpegangan tangan untuk meraih tujuan, karena perubahan-perubahan bisa membuat gamang yang menimbulkan rasa seperti sakit bersalin, namun pada akhirnya akan melahirkan pertumbuhan.

Kurva perubahan Kubler-Ross menunjukkan bahwa, perubahan berpotensi adanya pengalaman baru, keputusan-keputusan baru, dan pembaharuan tiap individu karena adanya integrasi.

Namun, jika saya-kamu-kita tidak saling memahami perspektif masing-masing orang, maka hanya akan bertahan di fase depresi dan tidak menghasilkan pertumbuhan karena menghasilkan tingkah laku organisasi yang tidak sehat. Setiap pribadi perlu memahami posisi orang lain di kurva perubahan dan berhati-hati supaya setiap perkataan maupun tindakan tidak membuat orang lain stuck.

Untuk menuju permulaan yang baru ada hal-hal yang perlu diubah atau dihilangkan, apa yang perlu dipertahankan. Selain itu hal yang perlu dilakukan lainnya yaitu membangun jembatan dengan melakukan diskusi dan argumentasi yang bernalar. Saya-kamu-kita perlu berpegangan tangan untuk bersama-sama bertumbuh dengan mengakhiri hal-hal yang tidak baik dan menuju memulai yang baik.

Acara pembinaan diakhiri dengan kegiatan refleksi pribadi kemudian saling berbagi di dalam kelompok devosi. Peserta mengendapkan dan merenungkan materi yang disampaikan lalu mengambil langkah nyata untuk siap menghadapi perubahan dan bertumbuh dengan mengandalkan kekuatan Tuhan.

Setelah mengikuti pembinaan ini, diharapkan komunitas Athalia semakin siap menghadapi berbagai perubahan yang menanti di tapel 2022-2023 dengan terus belajar memahami perspektif yang berbeda-beda. Namun tetap fokus pada visi dan misi sekolah dan berpegangan tangan sebagai sebuah komunitas, bersedia menanggung benefit & risk dari setiap perubahan, dan bertumbuh bersama-sama menuju awal yang baru. Dengan tekun menanggung rasa sakit bersalin, maka rupa Kristus menjadi nyata di setiap pribadi dan komunitas.

Melangkah Dengan Iman

Oleh: Naomi Fransisca Halim, S.Th

“I am not quite sure—but I am going to trust, and I am going to obey”
Saya tidak begitu yakin—tetapi saya akan tetap percaya dan saya akan tetap taat.

Penggalan kalimat ini diucapkan oleh seorang pemuda yang hadir dalam sebuah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang berlangsung di Brockton, Massachusetts. Ketika Daniel Towner seorang pemimpin pujian, mendengar kalimat ini ia menuliskannya dan mengirim tulisannya itu kepada seorang penulis syair, bernama J.H. Sammis. Dari kalimat itulah, Sammis menulis sebuah hymn yang kita kenal dengan judul “Trust and Obey (Percaya dan Taat).”

Melangkah dengan Iman

Perjalanan mengikut Tuhan adalah proses belajar mempercayai dan menaati Tuhan tiada henti. Hal ini dialami oleh Abraham, Bapa orang beriman. Dalam Kejadian 22: 2, Allah berfirman, “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Dalam ayat ini, permintaan Allah kepada Abraham sangat jelas. Allah meminta anaknya yang tunggal, yang ia kasihi sebagai korban persembahan (terj. Bahasa Inggris “your son,” “your only son,” “Isaac,” “whom you love”). Padahal Allah berjanji bahwa keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut dengan keturunanmu (Ibr. 11:18).

Alkitab tidak mencatat perasaan Abraham pada saat itu. Alkitab melanjutkan kisah ini dengan memperlihatkan tindakan Abraham. Dengan hati yang taat, Abraham segera/keesokan harinya bangun, memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya. Kemudian berangkatlah Abraham ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Sungguh suatu teladan ketaatan yang luar biasa. Abaraham melangkah dengan iman. Ketaatan Abraham adalah ketaatan yang tidak masuk akal. Bagaimanakah mungkin seseorang dapat dengan segera memilih untuk taat kepada Allah ketika diminta untuk menyerahkan anaknya?

PENGALAMAN IMAN BERSAMA ALLAH DI MASA LAMPAU

Abraham memiliki sejarah hubungan yang kaya dengan Allah. Kisah Allah menguji Abraham di perikop ini bukanlah ujian pertama baginya. Ini adalah ujian terakhir dalam kehidupannya. Menurut tradisi Yahudi, Abraham mengalami sepuluh pencobaan termasuk kisah ini. Namun dalam pencobaan-pencobaan tersebut, tidak pernah ia mendapati Allah lalai menepati janji-Nya dan mengecewakan dirinya. Pengalaman imannya di masa lampau inilah yang membuat ia dapat mempersiapkan segala sesuatu, melayangkan pandangannya ke gunung Moria dan rela mempersembahkan Ishak, anaknya yang tunggal (Ibr. 11:17).

Adakah pengalaman iman dalam hidup kita? Setiap orang percaya dapat memiliki pengalaman iman dengan Allah. Pengalaman ini dapat terjadi apabila kita mulai melangkah dengan hati yang taat berlandaskan Firman Tuhan. Mungkin sekarang Allah sedang berbicara kepada diri kita mengenai pekerjaan, mengenai uang, mengenai anak, atau sesuatu hal yang lain. Beranikan dirimu melangkah dengan hati yang penuh ketaatan. Sekalipun kelihatannya mustahil, beranikanlah diri untuk melangkah dalam hal apa pun yang diperintahkan-Nya, baik kepada kita sekeluarga maupun secara pribadi.

PENGENALAN YANG BENAR TERHADAP PRIBADI ALLAH

Setelah tiga hari perjalanan, Abraham meminta bujangnya untuk tinggal dan menunggu. Dalam ayat 5, Abraham berkata kepada dua bujangnya, “…kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu” (penekanannya pada kata “sesudah itu kami kembali kepadamu”).

Kepastian bahwa Ishak dan Abraham akan datang kembali dari sembahyang bukanlah sebuah ungkapan kosong. Ini adalah pengenalannya dan keyakinannya terhadap Pribadi Allah yang tidak mengingkari janji-Nya. Allah berjanji bahwa yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak (21:12). Walaupun, dalam perikop ini tidak dijelaskan mengapa Abraham berkata seperti itu, tetapi Ibrani 11:17-19 membantu para pembacanya memahami kata-katanya. Pada ayat 19 “Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali ”.

Pengenalan yang benar terhadap Allah adalah salah satu hal penting dalam mengikut Yesus. Kita harus mengetahui siapa Dia agar iman yang kita miliki bukanlah iman yang melompat dalam gelap. Satu-satunya cara memiliki pengenalan yang benar adalah dengan membaca dan merenungkan firman-Nya setiap hari dan meminta Allah berbicara kepada kita secara pribadi. Dengan begitu, walaupun pencobaan menghampiri kita, kita akan dikuatkan oleh firman-Nya.

Penutup

Abraham, Bapa orang beriman, mengalami berbagai situasi yang jauh dari jangkauan logika manusia. Tetapi ia tidak bimbang karena ketidakpercayaannya, melainkan terus diperkuat dalam imannya dan tetap memuliakan Allah (Rm. 4:20). Demikian juga kita harus melatih diri kita agar memiliki pengalaman iman dan pengenalan yang benar terhadap Pribadi Allah. Yakinkanlah diri kita bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi diri kita yang mengasihi Dia. Ia menuntun kita untuk melangkah dengan iman.