Sore itu, seperti biasa saya pulang kantor dengan menggunakan ojek. Beberapa rumah sudah saya lewati, rumah mertua saya sudah tampak. Di balik pagar rumah itu, berdiri manusia kecil kesayangan, yang antusias menunggu saya pulang.
Namun, seperti hari-hari lainnya, yang saya rasakan hanyalah ingin cepat-cepat sampai ke rumah yang berjarak hanya beberapa rumah dari rumah mertua. Saya ingin segera membereskan pekerjaan rumah, seperti mencuci, menyapu, dan lain-lain. Jadi, saya hanya melambaikan tangan kepada anak saya yang sudah menunggu di balik pagar rumah mertua, dan meneruskan perjalanan ke rumah saya sendiri.
Peristiwa itu membuat anak saya bersedih. Dia lari pulang ke rumah dengan terburu-buru, menyusul mamanya. Sampai di rumah, dia melihat mamanya mulai sibuk dengan urusan rumah dan mulai membentak-bentaknya tiap dia mulai mencari perhatian.
Saya tidak bisa menepis tingginya kebutuhan rumah tangga keluarga. Bersama suami, saya bekerja untuk menghidupi keluarga. Kebetulan, suami saya anak tunggal sehingga dia juga harus memenuhi kebutuhan ibunya. Hal itu membuat kami sering pulang kerja sampai malam sehingga putra kami satu-satunya dititipkan ke ibu mertua. Peristiwa itu terus bergulir dari tahun ke tahun sejak anak saya berusia empat tahun sampai dia duduk di sekolah dasar.
Saya mulai merasa sangat gelisah ketika melihat perubahan perilaku anak saya. Ia sering memberontak, berkata kasar, bahkan mudah marah. Hal yang paling mengkhawatirkan, saat duduk di kelas dua SD, ia pernah mengatakan ingin pergi dari rumah dan lebih baik mati saja. Di sekolah, perilakunya juga menjadi masalah. Saya dan suami beberapa kali mendapat laporan dari guru tentang tindakannya yang sering berteriak, memukul, bahkan menendang teman perempuan. Akibatnya, ia harus menjalani disiplin dari pihak sekolah.
Saya mencoba memahami penyebabnya dan menyadari bahwa anak saya terlalu dimanjakan oleh neneknya. Ia sering dibela meskipun melakukan kesalahan, sehingga tumbuh menjadi anak yang kurang menghormati orang tuanya. Sebelumnya, mertua saya tinggal di luar kota, tetapi setelah suaminya meninggal, ia memilih tinggal dekat dengan kami. Sebagai anak tunggal, suami saya merasa bertanggung jawab terhadap ibunya, yang cenderung protektif dan sering mencampuri rumah tangga kami.
Menghadapi situasi ini, saya justru memilih melarikan diri ke pekerjaan. Saya sengaja menyibukkan diri agar anak lebih sering bersama neneknya, berharap mertua saya tidak terlalu ikut campur dalam keluarga kami. Namun, saya akhirnya menyadari bahwa sikap ini adalah kesalahan besar.
Beberapa tahun kemudian, saya akhirnya memutuskan untuk pindah kerja ke Sekolah Athalia. Sistem kerja di Athalia berbeda dengan kantor lama. Di sini, pekerjaan saya lebih teratur dan jam kerjanya manusiawi. Saya bisa sampai rumah pada sore hari. Athalia memang mengutamakan hubungan antaranggota keluarga. Kami diajarkan untuk menjalin relasi yang baik dalam keluarga dan tidak mengorbankan mereka demi pekerjaan.
Di sini, saya juga belajar tentang cara mendidik anak yang baik. Saya juga belajar tentang tanggung jawab sebagai orang tua. Lewat komunitas ini, saya bertumbuh dalam iman dan punya kerinduan untuk menjadi orang tua yang lebih bertanggung jawab. Seorang rekan atasan menyadarkan saya bahwa Tuhan sudah memberikan saya dan suami tanggung jawab untuk mendidik dan membesarkan anak, bukannya dilempar kepada pihak lain.
Memulihkan Hati Anak
Langkah awal yang kami lakukan adalah mengambil jarak dari orang tua. Kami memutuskan untuk mengontrak rumah tak jauh dari tempat kerja saya. Saat itulah saya menyadari bahwa mendidik anak adalah tugas yang sangat menantang. Bekerja sembari full mengurus anak memang tak mudah. Namun, saya mau terus belajar dengan kerendahan hati dan meminta pimpinan Tuhan. Ada kalanya saya kembali merasakan putus asa dan emosional saat melihat anak memberontak, memukul, bahkan menendang saya. Saya menyadari bahwa itu semua adalah buah dari kesalahan saya yang sudah mengabaikannya dan menorehkan luka di hatinya selama bertahun-tahun.
Semenjak punya waktu lebih banyak sepulang kerja, saya sering menemani anak, entah itu bermain bola, naik sepeda, berjalan-jalan di taman, makan es krim, dan lain sebagainya. Saya menikmati tiap waktu bersama dengannya. Dalam kesempatan itulah, saya mengatakan kepadanya bahwa saya mengasihinya, dia begitu berharga di mata saya. Saya pun meminta maaf kepadanya karena sempat mengabaikannya.
Perlahan, hati anak saya mulai tergerak. Perilakunya berubah. Dia menjadi lembut dan mudah dinasehati, serta tidak lagi suka memberontak. Saya melihat perlahan karakternya berubah. Dia jadi lebih peduli terhadap orang lain, punya belas kasihan, dan murah hati. Dia mulai menunjukkan kasih sayangnya terhadap orang tuanya.
Di saat relasi dalam keluarga kami membaik, kami tetap menjaga hubungan baik dengan mertua. Kami menyarankan anak untuk beberapa kali dalam seminggu menengok neneknya. Tak disangka, mertua pun perlahan berubah sikap. Beliau tidak lagi bersikap protektif. Dia akhirnya melepaskan saya dan suami untuk menentukan langkah terbaik bagi rumah tangga kami.
Mengizinkan Tuhan untuk hadir di tengah rumah tangga saya memberikan dampak yang sangat besar. Kalau bukan karena pertolongan Tuhan, entah apa jadinya hubungan saya dan suami dengan anak dan mertua.
Saat ini, anak saya sudah berada di kelas 9. Saya bersyukur tahun ini dia memutuskan untuk menyerahkan hatinya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya untuk lalu dibaptis di gereja tempat kami bertumbuh.
Setiap saya mengingat momen-momen ketika saya hampir kehilangan hati anak saya, saya tidak kuasa menahan air mata. Saya melihat Tuhan bekerja dalam dirinya, “membalikkan hatinya” untuk mau mengasihi orang tuanya dan Tuhan, sungguh suatu anugerah yang luar biasa.
Perjalanan saya dan suami masih panjang untuk mengantar dia ke jenjang kuliah. Saat ini, yang kami bisa kami lakukan adalah terus menabur firman Tuhan setiap hari melalui mezbah keluarga, berdoa, bergantian membaca firman Tuhan, dan menyembah Tuhan. Saya dan suami tidak pernah lupa untuk bertanggung jawab menjadi teladan dan berdoa terus untuk putra kami. Biarlah kehendak Tuhan sepenuhnya digenapi dalam hidupnya.
“Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.” (3 Yohanes 1: 4)
Film Like Arrows merupakan film Kristen yang mengangkat tema parenting berbasis nilai Alkitab, khususnya tentang kerendahan hati orang tua dalam mendidik anak. Film ini menyajikan refleksi mendalam mengenai perjalanan panjang menjadi orang tua dan bagaimana iman memainkan peran penting dalam membentuk keluarga.
Informasi Singkat Film Like Arrows
Judul: Like Arrows
Sutradara: Kevin Peeples
Penulis Naskah: Kevin Peeples, Bob Lepine, Alex Kendrick
Like Arrows adalah film keluarga Kristen yang berfokus pada kehidupan rumah tangga dan dinamika pengasuhan anak. Film ini ditulis oleh Alex Kendrick, sosok yang dikenal luas melalui karya-karya film Kristen populer seperti Facing the Giants, Fireproof, Courageous, War Room, dan Overcomer.
Keterlibatan Kendrick menjadi nilai tambah tersendiri, mengingat sebelumnya ia juga mengangkat tema fatherhood dalam film Courageous. Hal ini menjadikan Like Arrows relevan dan kuat secara pesan, khususnya bagi keluarga Kristen.
Parenting Is a Journey: Menjadi Orang Tua adalah Sebuah Proses
“Parenting is a journey” menjadi tagline utama film ini. Kisah dimulai dari Charlie dan Alice, sepasang muda-mudi berusia 20-an yang memutuskan menikah, hingga perjalanan mereka di usia senja sebagai orang tua dan kakek-nenek.
Film ini menggambarkan bahwa menjadi orang tua bukanlah perjalanan yang selalu mulus. Berbagai tantangan muncul di setiap fase kehidupan, mulai dari:
Tahun ke-5 pernikahan, saat Alice harus mengasuh dua anak sambil bergumul dengan trauma masa lalu
Tahun ke-15 hingga ke-22, saat anak-anak menghadapi krisis iman dan pergaulan
Hingga akhirnya di tahun ke-49, ketika anak-anak mereka menyadari dan bersyukur atas warisan iman yang ditinggalkan orang tua mereka
Masalah-masalah tersebut terasa sangat dekat dengan realitas kehidupan keluarga masa kini.
Makna Mazmur 127:4 dalam Film Like Arrows
Judul film ini diambil dari Mazmur 127:4:
“Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.”
Ayat ini menjadi fondasi utama film, menggambarkan bahwa anak adalah titipan Tuhan, sementara orang tua adalah “pahlawan” yang bertugas mengarahkan mereka ke sasaran yang benar sesuai kehendak Allah.
Parenting Berdasarkan Prinsip Alkitab
Film ini menekankan bahwa tugas orang tua bukan membentuk anak sesuai ambisi pribadi, melainkan menolong anak menemukan tujuan hidup yang Tuhan tetapkan. Hal ini baru disadari Charlie dan Alice setelah anak pertama mereka kehilangan iman dan menjadi ateis, sementara anak kedua hampir terjerumus dalam pergaulan yang salah.
Kesadaran ini membawa mereka pada titik balik: mencari pertolongan Tuhan dan belajar kembali melalui kelas parenting di gereja, berlandaskan firman Tuhan dalam Mazmur 127:4.
Nilai Kerendahan Hati yang Dapat Dipelajari
Salah satu karakter utama yang sangat kuat dalam film ini adalah kerendahan hati (humility). Charlie dan Alice menyadari keterbatasan mereka sebagai orang tua dan memilih untuk bersandar sepenuhnya kepada Tuhan.
Kerendahan hati menurut Alkitab tercermin dalam:
Mau terus belajar (Mazmur 25:9)
Mau mendengarkan nasihat (Amsal 23:9)
Memercayai kehendak Allah (Mazmur 131:1–3)
Menyadari campur tangan Tuhan (Lukas 18:9–14)
Bersabar (1 Petrus 5:6)
Kelima sikap ini terlihat jelas dalam perubahan sikap Charlie dan Alice, termasuk keberanian mereka untuk mendengarkan anak, menerima kritik, dan meminta maaf.
Memercayai Kehendak dan Rencana Allah dalam Keluarga
Kerendahan hati tidak terlepas dari pengenalan akan Tuhan. Keputusan keluarga ini untuk membaca Alkitab dan berdoa bersama menjadi langkah penting dalam membangun iman keluarga.
Yesus berkata:
“Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.” (Matius 11:29)
Meski anak pertama mereka baru kembali kepada Tuhan setelah 30 tahun, Charlie dan Alice tetap setia menunggu, berdoa, dan mempercayai rencana Tuhan. Mereka bahkan mencatat setiap jawaban doa sebagai pengingat nyata akan penyertaan Tuhan.
Kesimpulan: Film Parenting Kristen yang Layak Ditonton
Film Like Arrows sangat direkomendasikan bagi orang tua dari berbagai usia, calon orang tua, maupun pelayan keluarga di gereja. Film ini menjadi pengingat bahwa mendidik anak membutuhkan kerendahan hati, ketekunan, dan ketergantungan penuh kepada Tuhan.
Melalui film ini, kita diajak untuk kembali menyadari bahwa orang tua bukanlah sosok yang serba tahu, melainkan hamba Tuhan yang terus belajar dalam menjalani panggilan sebagai pendidik anak.
“Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi nama-Mu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancangan-Mu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu. (Yesaya 25:1)
“…panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia, serta mulia, serta mulia…”
Demikianlah bagian lirik lagu yang kerap dinyanyikan di saat seseorang berulang tahun. Ada harapan di dalamnya untuk lanjut usia dan mulia. Lanjut usia, menjadi tua, dan memiliki rambut putih adalah harapan setiap orang. Harapan itu akan terwujud indah bila dijalani bersama pasangan dan anggota keluarga yang lain. Hal ini dikarenakan menjadi tua akan penuh tantangan yang bila dihadapi sendiri akan membuat seseorang berpikir ulang untuk menyanyikan lirik lagu “panjang umurnya.”
Dalam pesannya kepada anak muda untuk menikmati hidup yang kelak akan dibawa ke pengadilan Allah, Pengkhotbah pada pasal 12 memberikan gambaran tantangan menjadi tua, yaitu:
tak ada kesenangan (ay.1);
tua, lemah dan tertekan (ay.2);
tubuh mulai gemetar, gigi ompong dan mata kabur (ay.3);
pendengaran berkurang (ay.4);
takut ketinggian, jalan susah dan impoten (ay.5).
Semua itu merupakan gambaran kehidupan yang tentunya sulit bila tidak dilalui bersama keluarga yang saling melayani didasari karena “cinta”.
Saling melayani karena mencintai syarat utama untuk menjadi tua bersama. Itulah inti dari keluarga. Ingat kata “family” dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Latin “famulus”, yang artinya “servant” (dalam bahasa Indonesia diwakilkan dalam kata “pelayan”). Dalam dinamika untuk tua bersama, keluarga sebagai pelayan harus memiliki dua warisan ilahi yang dituliskan dalam Yesaya 25:1, yaitu kesetiaanyang teguh dan iman akan rancangan Allah yang ajaib.
Kebersamaan, apalagi di saat-saat sulit, hanya bisa dilalui dengan kesetiaan yang berlandaskan kasih. Setia berarti berpegang teguh pada janji, suatu wujud tanggung jawab iman sebagai seorang pelayan. Kasih dan setia harus selalu bersama karena kasih tanpa kesetiaan hanya meninggalkan luka dan kesetiaan tanpa kasih adalah sebuah perbudakan. Untuk menjadi setia (Inggris: faithful), kita butuh “iman”. Iman inilah yang meyakini bahwa Allah melaksanakan rancangan-Nya yang ajaib.
Menjadi tua bersama keluarga tidak sekadar dihiasi masalah kesehatan fisik, tetapi juga masalah ekonomi, dan pergumulan kehidupan yang lain dapat saja mengikutinya. Untuk dapat melalui itu bersama, harus ada keyakinan iman bahwa Allah sedang mengerjakan rancangan-Nya yang ajaib sehingga ketabahan dan kekuatan akan selalu ada. Tidak mudah melihat dan memahami keajaiban rancangan Allah tersebut. Oleh karena itu, kita perlu belajar untuk selalu menjadi penemu hal yang baik.
Kidung Agung mengajarkan bagaimana menjadi penemu barang yang baik itu. Lihat Kidung 4: 1–4, di dalamnya ada tujuh hal yang dipuji di malam pertama: mata, rambut, gigi, bibir, pelipis, leher, buah dada. Bandingkan dengan pujian dalam Kidung Agung 7: 1–5, ada sepuluh hal yang dipuji: langkah, pinggang, pusar, perut, buah dada, leher, mata, hidung, kepala, dan rambut. Seiring bertambahnya waktu, bertambah pula pujian. Ini menandakan bertambahnya pengenalan dan bertambahnya kemampuan melihat yang baik.
Ketika semua anggota keluarga meyakini bahwa di balik apa pun yang terjadi ada rancangan Allah yang baik dan menjadikan kasih setia sebagai wujud nyata iman, menjadi tua akan dapat dilalui bersama dengan sukacita dan semangat saling melayani. Katakan, “TUA: Tuhan Untuk-Mu Aku Ada.” Amin!
Athalia Parent Community (APC) merupakan komunitas orang tua siswa Athalia, sebuah sekolah di Serpong, dari Batita–SMA. Seluruh orang tua siswa merupakan anggota APC. Dibentuk pada 2002, APC digagas oleh para orang tua yang rutin mengikuti kelas parenting yang dibawakan oleh Ibu Charlotte Priatna. Fungsi utama APC, yaitu menjembatani komunikasi antara orang tua dengan sekolah sehingga terjalin kemitraan yang baik.
Berikut adalah struktur BPH (Badan Pengurus Harian) APC periode 2020-2022.
APC memiliki struktur organisasi yang terdiri atas BPH, CPR (Coordinator Parents Relation), CC (Class Coordinator), dan orang tua. BPH, CPR, dan CC merupakan pengurus sukarela yang memiliki hati melayani demi kepentingan siswa dan orang tua. CPR, bersama para CC, melakukan fungsi-fungsi konkret untuk mempererat relasi di antara orang tua siswa, serta relasi dengan sekolah.
Program APC
PIT (Parent in Touch). Ini merupakan kegiatan persekutuan doa mingguan yang dihadiri orang tua, guru, dan staf. Saat ini, karena kondisi pandemi, PIT diadakan secara daring setiap Rabu pukul 14.00-15.00.
GBK (Gerakan Berbagi Kasih). Ini merupakan gerakan berbagi yang dilakukan dengan sukacita dan sukarela oleh siswa, orang tua, guru, staf, bahkan Yayasan, kepada siswa yang orang tuanya sedang mengalami kesulitan keuangan agar bisa tetap bersekolah. Laporan rutin GBK bisa disimak di ALC News yang terbit setiap bulan.
Teacher’s Day. Ini merupakan kegiatan tahunan yang dipersiapkan oleh siswa dan orang tua bagi para guru dan staf.
Seminar. Berbagai kegiatan seminar bagi orang tua dilakukan untuk meningkatkan awareness, baik dalam hal parenting maupun relasi dengan pasangan (seminar pasangan, seminar parenting).
ABC (Athalia Book Club)*. Kegiatan bulanan yang diadakan oleh para orang tua yang memiliki kegemaran membaca.
Family day. Kegiatan kebersamaan yang diadakan tahunan bagi siswa dan orang tua, serta melibatkan guru dan staf*.
Kegiatan sosial. Pada umumnya, APC mengadakan kegiatan buka puasa bersama atau halal bihalal untuk para OB, CS, dan security.*
*Untuk sementara tidak ada kegiatan.
Kami menyambut para orang tua yang baru bergabung ke dalam Komunitas Athalia. Selamat datang di APC! Kami berharap semakin banyak orang tua yang terpanggil untuk melayani dalam wadah APC ini, membuat komunitas ini semakin solid sehingga kemitraan dengan sekolah senantiasa berjalan dengan baik.
Oleh: Benny Dewanto, Kepala Bagian PK3 Sekolah Athalia
Tujuan Keluarga Kristen
Gary Thomas, penulis buku-buku pernikahan, mengutarakan pandangan yang jarang dipikirkan oleh banyak orang, yaitu makna keluarga adalah tentang kekudusan, bukan semata kebahagiaan. Thomas berkata bahwa keluarga Kristen perlu memikirkan dan mengarahkan tujuan perjalanan bahteranya pada tujuan kekudusan. Bagi Thomas, makna kekudusan memiliki nilai keutamaan ketimbang kebahagiaan. Sekalipun pandangan ini tidak populer di telinga banyak pasangan, sebagai keluarga yang perlu memikirkan warisan iman bagi setiap anak-anak, pandangan ini penting untuk direnungi.
Mari kita ikuti pemikiran Gary Thomas yang mendorong bahwa setiap keluarga Kristen seharusnya mengutamakan kekudusan ketimbang “kebahagiaan saja”. Dimulai dari pendalaman 1Korintus 7:1 yang berkata: “Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin.” Kutipan ayat ini mendorong kita untuk mengetahui mengapa Paulus menyarankan laki-laki tidak kawin. Bukankah nasihat ini terkesan bertentangan dengan pemeo pria bahwa mereka adalah mahluk yang memiliki hasrat besar untuk kawin? Rupanya Paulus hendak menyampaikan pesan tentang hasrat yang terkelola melalui kekudusan, bukan hasrat liar percabulan. Bila tidak mampu hidup dalam konsep kudus, lebih baik tidak kawin atau tidak menikah. Di luar konsep kudus, perkawinan menjadi perjalanan hasrat yang nyaris sama dengan percabulan. Kekudusanlah yang membedakan perkawinan yang benar dan dengan yang tidak benar.
Dari sisi inilah Gary Thomas memberikan perenungan bahwa sasaran kekudusan menjadi hal yang penting dalam kehidupan keluarga Kristen. Kudus adalah berbeda. Kudus adalah kekhususan, tidak serupa dengan dunia, tetapi serupa dengan Kristus. Keluarga Kristen yang berpusat pada Kristus seharusnya menjadi keluarga yang mengutamakan pertumbuhan melalui nilai-nilai Kristus. Keluarga Kristen adalah pelaku penuh hasrat tentang nilai-nilai Kristus. Sedemikian besar hasrat tersebut sehingga sekalipun harus berhadapan dengan kesulitan, sasaran kekudusan tetap dikejar ketimbang sekadar merasa bahagia. Membangun keluarga yang berpusat pada Kristus adalah keluarga yang hidup setia di dalam kuk bersama Kristus dan itulah sasaran nilai kebahagiaannya!
“Jangan sedih, dia sudah bahagia di surga…” adalah kalimat
penghiburan yang sering terucap. Apakah orang percaya tidak seharusnya bersedih
ketika menghadapi kematian orang yang dikasihi? Bagaimanakah seorang beriman
seharusnya menghadapi dukacita?
Sejak masa Perjanjian Lama sebenarnya sudah dikenal tradisi ratapan ketika seseorang meninggal. “Kemudian matilah Sara…lalu Abraham datang meratapi dan menangisinya (Kejadian 23:2). Penelitian empiris dalam dunia psikologi menemukan bahwa seorang yang mengalami kehilangan akan lebih mampu mengatasi dukacitanya bila kepedihan hati diberi ruang dan dibiarkan berproses (baca artikel berjudul “Memahami Dukacita”). Kehilangan bukanlah peristiwa sehari-hari yang bisa dihadapi dengan hati ringan, karena hidup tidak lagi sama. Maka wajar bila kita berduka.
Dukacita dalam Kehidupan Orang Beriman
Dalam Roma 12:15, Rasul Paulus menulis, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Paulus mengetahui bahwa dalam kondisi tertentu dukacita tidak bisa dihindari dan menangis adalah respons natural. Orang percaya diperbolehkan menangis. Orang percaya juga diminta untuk menopang mereka yang berduka, dengan cara menangis bersama mereka.
Di sisi lain, Paulus mengingatkan bahwa dukacita orang beriman berbeda karena orang Kristen memiliki harapan. “Selanjutnya kami tidak mau saudara-saudara bahwa kamu tidak mengetahui mengenai mereka yang meninggal, supaya kamu tidak berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan” (1 Tesalonika 4:13). Dalam teks asli Alkitab, Paulus menggunakan kata yang bermakna “tertidur” untuk menggambarkan seseorang yang telah meninggal. Paulus ingin menekankan bahwa orang percaya hidup dalam penantian akan kedatangan Yesus yang kedua kali. Mereka yang meninggal tidak hilang begitu saja, melainkan akan dibangkitkan kembali saat Yesus datang, bagai orang yang sedang tertidur kemudian akan bangun kembali. Bila saat itu tiba, kita akan bergabung bersama mereka dan tinggal selamanya bersama Tuhan dalam kemuliaan-Nya.
Paulus tidak mengabaikan atau menyangkal kebutuhan akan ruang untuk
emosi negatif. Paulus menekankan bahwa kematian bagi orang Kristen bersifat
sementara. Tak seharusnya orang Kristen berduka tanpa batas. Dukacita orang
Kristen adalah duka yang diwarnai oleh harapan. Ketika orang Kristen memahami
bahwa kematian orang percaya berarti dia pulang kepada Bapa, maka di tengah
dukacita tetap terpancar harapan yang memberi penghiburan sejati.
Cara Pandang Kristiani Terhadap Kehidupan dan Kematian
Yang sering kali menjadi persoalan adalah cara kita memandang
kehidupan ini. Di manakah fokus kita? Bagi Paulus, hidup adalah Kristus dan
mati adalah keuntungan. Namun, jika dia harus hidup di dunia ini, itu berarti
bekerja memberi buah (Filipi 1:21). Paulus menjalani hidupnya sebagai sesuatu
yang bersifat sementara dan harus diisi dengan bekerja bagi Kristus. Dia
menyadari bahwa hidupnya bukanlah miliknya, melainkan milik Kristus. Oleh
karena itu, pulang ke rumah Bapa dan berada bersama-sama Dia dalam kekekalan
adalah hal yang dirindukannya.
Dalam buku Grief Obeserved,
C.S. Lewis melukiskan bahwa seseorang bisa dengan santai terlibat dalam
permainan menyusun kartu bridge
hingga setinggi mungkin… satu demi satu kartu disusun ke atas diselingi tawa
dan canda di antara yang bermain bersama. Suasana akan berubah drastis ketika
seseorang harus bermain dengan mempertaruhkan nyawanya atau nyawa orang yang
dikasihinya. Setiap kesalahan kecil yang dibuat akan menyebabkan tumpukan kartu
jatuh dan konsekuensi fatal terjadi.
Memproses Dukacita
Demikian juga kita sering kali tidak sungguh-sungguh serius
menghadapi hidup. Lewis menuliskan bahwa seseorang memang kadang harus
mengalami kejatuhan fatal agar bisa menemukan akal sehatnya. Jadi, bila saat
ini kita menghadapi dukacita atau bergumul bersama mereka yang sedang berduka,
mungkin ini momen yang dianugerahkan bagi kita untuk berhenti sejenak dan
merenung… “Apa sebenarnya hakekat hidup
ini?”
Dalam jurnal yang berjudul “Saint Paul’s Approach to Grief: Clarifying the Ambiguity”, R. Scott Sullender, seorang psikolog, penulis buku, sekaligus profesor di sebuah seminari, menuliskan bahwa dalam konteks dukacita, tiap orang membutuhkan ruang untuk mengekspresikan emosinya. Namun, dalam proses itu kita membutuhkan struktur sehingga bisa mendapatkan jeda dan penghiburan yang kita butuhkan. Struktur itu bisa kita temukan misalnya dalam ritual ibadah dan pemahaman doktrin agama. Sebagai contoh, iman akan menimbulkan kebutuhan untuk berelasi dengan Tuhan walau mungkin hanya dengan berdiam diri dan menangis dalam doa. Pemahaman doktrinal akan membuat seseorang mulai mampu berdialog dengan diri sendiri atau mungkin mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Tuhan untuk mendapatkan peneguhan iman. Ritual ibadah juga akan memberi struktur yang serupa sehingga seseorang tertuntun dalam mengelola dukacitanya (lihat five stages of grief dalam “Memahami Dukacita”).
Tokoh yang Berduka dalam Kisah Alkitab
Kisah Ayub adalah contoh penggambaran keterpurukan seseorang akibat dukacita yang mendalam. Bahkan, Ayub berkata lebih baik dia tidak pernah dilahirkan ke dunia ini (Ayub 3:10-11). Dalam kepedihan hati dan kesakitan fisik, Ayub meneriakkan begitu banyak pertanyaan, bahkan menggugat Allah karena dia tidak paham alasan Tuhan menimpakan banyak musibah kepadanya. Dengan jujur Ayub mengungkapkan emosinya dan Allah membiarkannya. Namun dalam ayat-ayat yang begitu panjang dengan keluh kesah terlihat bagaimana Ayub tidak lari dari imannya pada Tuhan. Iman yang tak meredup membuat dia mengejar Tuhan untuk menemukan jawaban. Di akhir kisah Ayub, kita tahu bahwa Allah tidak menjawab pertanyaan Ayub, tetapi memberi respons yang sesungguhnya dibutuhkan Ayub. Dia membuka pengertian Ayub dan memberi diri-Nya dikenal hingga Ayub pun berkata, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”
Ayub bertumbuh melalui penderitaan karena iman. Bukan ketika kondisinya dipulihkan Tuhan, melainkan ketika dia bisa memandang Tuhan dengan pemahaman yang sejati. Iman menjadi mitigasi yang menghibur dan menguatkan dalam dukacita dan memberi jeda yang melegakan saat kita mengalami naik turun badai emosi. Sungguh sebuah eureka rohani ketika akhirnya kita bisa klik dengan apa yang Tuhan ingin ajarkan melalui berbagai misteri kehidupan.
Penghiburan di Antara Sesama Orang Percaya
Dalam pelayanannya, Paulus beberapa kali menunjukkan pentingnya penghiburan di antara sesama orang percaya. Hal itu dilakukan dengan beberapa cara.
Paulus memberi dasar pengertian yang benar mengenai natur dukacita, yaitu bahwa dukacita orang Kristen adalah sementara dan ada harapan akan sukacita mendatang.
Paulus mendorong agar sesama orang percaya menghibur dengan kata-kata yang memberi pengharapan dalam pengetahuan tentang kebenaran.
Paulus menekankan pentingnya interaksi langsung antarsesama orang percaya dalam memberi penghiburan. Ketika sedang berbeban berat, Paulus sendiri merasakan bagaimana kunjungan Titus dan Timotius sangat menguatkan dirinya. Dia pun sebisa mungkin berupaya mengunjungi jemaatnya untuk menghibur dan menunjukkan kasihnya yang besar kepada mereka.
Sekiranya tauratMu tidak menjadi kegemaranku maka aku telah binasa dalam sengsaraku (Mazmur 119:92)
“Andaikan aku memintanya untuk tetap di rumah saja…”
“Ini RS pasti gak menangani dengan benar…”
“Aku gagal… aku ga mampu menyelamatkan nyawanya… mestinya aku lebih
cepat membawanya ke RS…”
Kehilangan seseorang yang dikasihi, apalagi yang selama ini menjadi
belahan jiwa, akan menimbulkan dukacita yang mendalam. Ini adalah emosi yang
bisa sangat menguasai seseorang dan tidak mudah untuk dihadapi, apalagi bila
terjadi secara mendadak. Respons yang muncul umumnya adalah penyesalan,
kegundahan yang besar karena meyakini bahwa seharusnya kehilangan ini bisa
dihindari, andai saja…
Elizabeth Kübler-Ross dan David Kessler dalam bukunya On Grief and Grieving menuliskan bahwa
seseorang yang mengalami grief atau
dukacita umumnya akan masuk dalam lima tahap. Tahapan ini tidaklah baku karena
manusia adalah individu yang unik. Duka yang dialami atas peristiwa yang sama
bisa menimbulkan respons emosi yang berbeda antara satu individu dengan yang
lain. Grief bersifat individual
sehingga tidak semua orang menjalani pola yang sama dan dalam jangka waktu yang
sama. Teori mengenai Five Stages of Grief
ini diberikan sebagai upaya menolong seseorang yang mengalami dukacita untuk
setidaknya memiliki gambaran tentang apa yang akan dilaluinya, dan untuk
mengenali emosi-emosi yang mungkin akan dialami saat berduka.
1. Denial (Penyangkalan)
“Rasanya gak percaya dia tidak akan pernah duduk di kursi itu lagi…”
“Dia seperti hanya sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota
seperti biasa, dan sebentar lagi akan menelepon saya…”
Tahap pertama ini tidak berarti seseorang sengaja mengingkari
realitas yang ada. Namun kabar yang begitu tiba-tiba bisa membuatnya diserang shock yang hebat dan tak mampu lagi
merasa. Bagai terputus dari ruang dan waktu. Respons seperti ini sering kali
muncul karena realitas itu terlalu berat untuk ditanggung oleh jiwa. Berita
kematian terasa tidak nyata, seperti mimpi, karena otak tidak mampu
memrosesnya. Dalam tahap ini, tanpa disadari denial sedang menolong seseorang yang berduka untuk mengelola
perasaan, memberinya waktu untuk sedikit berjarak dengan dukacitanya. Tahap ini
membawa anugerah tersendiri karena secara natural seseorang akan mampu menerima
tekanan hanya sebatas kekuatannya saja. Bila tahap ini tidak hadir, munculnya
emosi yang membludak dengan begitu tiba-tiba bisa sangat mengguncangkan.
Di tahap ini mereka yang berduka akan banyak bercerita tentang orang yang dikasihi tersebut, tentang masa akhir hidupnya, rencana yang belum tercapai, dan cerita lain. Ini adalah cara pikiran beradaptasi dengan realitas. Dengan melakukan hal ini, penyangkalan perlahan mulai hilang dan realitas muncul dengan jelas di depan mata, membawa orang masuk ke tahap berikutnya: mencari jawaban. “Mengapa ini semua terjadi, apakah sebenarnya bisa dicegah?”, atau “Apa salahku sehingga pantas menerima ini?” Pada akhirnya, dengan banyaknya pertanyaan yang mulai bermunculan, makin menguat kesadaran bahwa kehilangan itu nyata. Penyangkalan mulai reda seiring dengan proses ini. Berbagai emosi mulai muncul ke permukaan.
Setelah melalui tahap penolakan, seseorang mulai menyadari bahwa mereka mampu bertahan. “Aku masih di sini… Aku masih bisa menghadapi semuanya…” Namun, di balik kesadaran itu, muncul berbagai emosi yang menyakitkan seperti marah, sedih, panik, kecewa, dan kesepian. “Kenapa ini terjadi padaku? Aku tidak pantas menerima ini! Aku belum siap!”
Kemarahan bisa tertuju ke mana saja—pada orang yang telah pergi, pada diri sendiri yang merasa tidak berdaya, atau bahkan pada Tuhan. “Kenapa kamu pergi dan meninggalkanku? Kenapa tidak lebih berhati-hati?” Amarah juga bisa muncul sebagai bentuk protes kepada Tuhan, mempertanyakan kehadiran-Nya di tengah penderitaan.
C.S. Lewis dalam A Grief Observed menggambarkan rasa kehilangan dengan begitu jujur: Ketika kita bahagia, Tuhan terasa dekat. Namun, saat kita dilanda duka dan mengetuk pintu-Nya, justru kita merasakan keheningan yang menyakitkan. Tahap kemarahan adalah bagian dari proses berduka yang perlu diterima. Luapkan kemarahan dengan cara yang sehat. Misalnya seperti berbicara dengan orang terdekat, menulis, berteriak di tempat yang aman, atau menyalurkannya melalui aktivitas fisik. Semakin kita mengizinkan diri merasakannya, semakin cepat kemarahan mereda.
Menurut Dr. Jill Bolte Taylor, reaksi kimia akibat emosi hanya bertahan 90 detik. Namun, jika seseorang terus merasa marah atau sedih berkepanjangan, itu sering kali disebabkan oleh pikirannya sendiri yang terus menghidupkan kembali perasaan itu. Dengan mengelola emosi, kemarahan akan berlalu. Ketika amarah mereda, muncul emosi lain—kesedihan, frustrasi, atau bahkan iri pada mereka yang tidak mengalaminya. Menghadapi setiap emosi dengan kesadaran akan membantu kita perlahan pulih.
3. Bargaining (Tawar-menawar)
Fase berikutnya yang umum terjadi adalah pikiran yang terus melayang ke masa sebelum dukacita… “Kalau aku lebih banyak berbuat baik, akankah semua ini berubah jadi sekadar sebuah mimpi buruk?” atau “Kalau saja aku lebih memahami dirinya, mungkinkah dia akan lebih sehat danlebih kuat bertahan…?” Rasa bersalah adalah emosi yang umumnya mendasari fase ini. Kalimat seperti “Tuhan, tolonglah…aku akan lakukan apa pun agar dia kembali…” merupakan respons khas yang dapat muncul juga di fase ini. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, Kübler-Ross dan Kessler menuliskan bahwa tahap demi tahap tidak selalu bersifat linear. Seseorang yang berdukacita dapat kembali lagi ke fase sebelumnya, atau bahkan melewati salah satu fase.
Sama seperti pada fase yang lain, penting untuk menerima emosi yang
muncul. Rasa bersalah dan tawar-menawar yang dilakukan adalah bagian upaya
untuk keluar dari rasa sakit akibat kehilangan, upaya mengalihkan diri dari
kepedihan yang sebenarnya. Mereka yang berduka tahu bahwa tawar-menawar tak
akan mengembalikan orang yang dikasihinya, tetapi tetap melakukannya selama
beberapa waktu karena dapat memberi kelegaan walau sesaat. “Tuhan, bagaimana bila aku saja yang mati dan
jangan dia?” Pikiran-pikiran semacam
ini akan terus muncul. Seiring
pikiran memproses seluruh tawar-menawar itu, akan muncul kesadaran mengenai
realitas yang sesungguhnya: orang terkasih sudah benar-benar pergi selamanya!
4. Depression (Depresi)
Perasaan hampa mulai muncul, sementara dukacita semakin mendalam. Namun, penting untuk memahami bahwa perasaan ini bukan gangguan mental, melainkan respons alami terhadap kehilangan yang besar. Ada keengganan menjalani hari, keinginan untuk tetap berada dalam kesedihan, dan pertanyaan tentang makna hidup. “Mengapa harus bangun? Untuk apa makan? Apa gunanya semua ini jika harus dijalani sendirian?”
Banyak orang berusaha mencegah mereka yang berduka agar tidak tenggelam dalam depresi. Kondisi ini sering dianggap tidak wajar dan perlu segera diatasi. Padahal, dalam proses berduka, depresi adalah bagian yang alami. Justru aneh jika kesedihan mendalam tidak menimbulkan perasaan tersebut.
Dalam konteks dukacita, depresi berfungsi sebagai mekanisme perlindungan. Sistem saraf secara alami menutup diri agar seseorang tidak langsung menghadapi emosi yang terlalu berat. Oleh karena itu, mendesak seseorang untuk segera pulih justru bisa memperburuk keadaan. Ibarat badai yang sedang mengamuk, memaksanya “keluar” terlalu cepat sama dengan memaksanya menghadapi gelombang besar tanpa persiapan.
Depresi bukan perasaan yang nyaman, tetapi cara terbaik menghadapinya adalah dengan menerimanya. Mengabaikannya hanya akan membuatnya terus menghantui. Seiring waktu, perasaan ini akan mereda, dan kehidupan perlahan berjalan kembali. Namun, dukacita tidak benar-benar hilang. Dari waktu ke waktu, rasa pedih itu mungkin datang lagi.
Seorang ibu yang kehilangan anaknya berkata, “Saya pikir sudah lebih baik, tetapi depresi itu kembali menghantam saya. Saya tahu, satu-satunya cara menghadapi badai ini adalah dengan melaluinya.”
5. Acceptance (Penerimaan)
Banyak yang mengira acceptance
terjadi ketika kita bisa menerima kehilangan dan menganggapnya sebagai peristiwa
yang biasa saja. Namun, acceptance
bukanlah seperti itu. Tahap ini adalah tentang menerima kenyataan bahwa dia
yang kita kasihi telah meninggalkan kita selamanya. Kita tak akan pernah
menyukai realitas ini atau merasa baik-baik saja. Namun, pada akhirnya kita
akan menerimanya dan belajar untuk hidup berdampingan dengan rasa kehilangan
ini. Kita mungkin akan berhenti marah kepada Tuhan, berhenti mencari jawaban,
dan menerima bahwa memang sudah waktunya kekasih hati kita pergi. Sementara
bagi kita, inilah waktunya untuk sembuh.
Dengan berjalannya waktu, ketika kita sedikit demi sedikit belajar hidup berdampingan dengan realitas, kita akan melihat bahwa ada hal-hal yang perlu diselaraskan karena hidup telah berubah selamanya. Kita perlu mengatur ulang peran kita, melepaskan tanggung jawab yang tak bisa kita pikul, dan melakukan penyesuaian lainnya. Acceptance adalah proses yang membutuhkan waktu. Griefing antara satu orang dengan yang lainnya berbeda karena sifatnya yang sangat personal.
Sedikit demi sedikit, energi yang kita curahkan pada kepedihan akan teralih pada hidup yang ada di hadapan kita. Kita mulai membangun perspektif baru, menemukan cara untuk mengenang dia yang telah pergi, dan menyelaraskan diri. Dalam proses ini, kita semakin mengenal diri. Anehnya, seiring dengan proses melewati dukacita ini, kita merasa makin dekat dengan kekasih yang telah pergi. Berbagai kenangan tentangnya mulai memberi kehangatan dan bukan lagi luka. Kita mulai belajar menyatukan lagi pecahan-pecahan hidup kita. Kita memulai relasi dan kisah baru, memberi perhatian kepada apa yang kita butuhkan. Selain itu, kita juga bergerak, berubah, bertumbuh…. kita mulai hidup lagi.
Itu semua akan terjadi bila kita memberi waktu pada diri kita untuk berduka.
Tips Mendukung Seseorang yang Sedang Mengalami Dukacita
1. Pahami tahap-tahap yang umumnya terjadi pada seseorang yang sedang mengalami kedukaan.
2. Kedukaan bersifat personal. Oleh karena itu, penanganannya bisa berbeda antara satu individu dengan yang lain. Bersabarlah bersama mereka untuk melalui tahap demi tahap sesuai kondisi masing-masing.
3. Seorang yang berduka perlu diberi kesempatan untuk berproses dan mengalami kesedihannya. Umumnya kita ingin menolong agar dia kembali bahagia, tetap melihat sisi positif, dan fokus pada berbagai hal baik yang hadir di sekelilingnya. Namun, sikap seperti itu bila terlalu cepat dikomunikasikan hanya akan membuat yang berduka makin terluka karena merasa kesedihannya dianggap tidak penting.
4. Tawarkan bantuan. Kita bisa menemani, memberi informasi, memberi dukungan dana, memberi bantuan transportasi, membelikan kebutuhan sehari-hari, membelikan mainan untuk anak, dan lain-lain.
Berduka dan Beriman
“Jangan sedih, dia sudah bahagia di surga…” adalah ungkapan penghiburan yang umum. Namun, apakah orang beriman tidak boleh bersedih saat kehilangan orang terkasih? Bagaimana seharusnya seorang beriman menghadapi dukacita?
Penelitian empiris menunjukkan bahwa individu lebih mampu mengatasi dukacita ketika diberikan ruang untuk berproses. Dukacita bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. Kehilangan orang terkasih mengubah hidup secara signifikan. Oleh karena itu, wajar jika seseorang merasakan kesedihan mendalam.
Roma 12:15 menegaskan, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Paulus memahami bahwa menangis adalah respons alami terhadap kehilangan. Orang beriman boleh menangis dan diminta untuk mendukung sesama yang berduka dengan empati.
Dukacita Orang Beriman
Paulus menulis dalam 1 Tesalonika 4:13 bahwa orang beriman tidak berdukacita seperti mereka yang tidak memiliki pengharapan. Dalam teks aslinya, Paulus menggunakan kata “tertidur” untuk menggambarkan kematian. Ia menekankan bahwa orang percaya menantikan kedatangan Yesus kembali.
Orang yang telah meninggal tidak hilang selamanya. Mereka akan dibangkitkan ketika Kristus datang kembali. Pada saat itu, orang percaya akan bersatu kembali dengan mereka dalam kemuliaan Tuhan. Oleh karena itu, dukacita bagi orang beriman bukan tanpa batas, melainkan tetap diiringi pengharapan.
Paulus tidak mengabaikan kebutuhan emosional seseorang. Namun, ia menekankan bahwa kematian bersifat sementara. Kesedihan tetap ada, tetapi tidak boleh menjadi kesedihan yang tanpa harapan. Penghiburan sejati ditemukan dalam iman kepada Tuhan.
Makna Hidup dalam Menghadapi Dukacita
Pandangan terhadap hidup sangat memengaruhi cara seseorang menghadapi dukacita. Paulus berkata, “Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Ia menganggap hidup sebagai kesempatan untuk melayani Kristus.
Bagi Paulus, kehidupan di dunia ini bersifat sementara. Oleh karena itu, ia tidak takut menghadapi kematian. Justru, ia merindukan saat bersama Tuhan. Perspektif ini membantu orang beriman dalam menghadapi kehilangan.
C.S. Lewis dalam A Grief Observed menggambarkan hidup seperti permainan menyusun kartu. Kita bisa tertawa saat menyusunnya, tetapi situasi berubah jika setiap kartu menyangkut hidup dan mati seseorang. Kesadaran akan kefanaan membuat kita lebih serius dalam menjalani hidup.
Dukacita dapat menjadi momen refleksi. Ini adalah kesempatan untuk bertanya, “Apa makna hidup yang sejati?” Ketika menghadapi kehilangan, kita diajak untuk merenungkan tujuan hidup dalam terang iman kepada Tuhan.
Proses dalam Dukacita : Perspektif Psikologi dan Iman
R. Scott Sullender dalam Saint Paul’s Approach to Grief: Clarifying the Ambiguity menyebutkan bahwa setiap orang membutuhkan ruang untuk mengekspresikan emosi mereka. Namun, banyak orang justru menekan emosinya dan mengalihkannya ke hal lain.
Studi Cambridge University menemukan bahwa dukacita sehat mencapai puncaknya dalam 4-6 bulan. Setelah itu, kesedihan perlahan mereda. Proses ini sejalan dengan tahapan grief yang umum dialami seseorang.
Dalam menghadapi kehilangan, kita membutuhkan struktur, jeda, dan penghiburan. Struktur ini dapat ditemukan dalam ibadah dan pemahaman doktrin agama. Iman menuntun seseorang untuk tetap terhubung dengan Tuhan. Ibadah juga membantu seseorang dalam mengelola emosinya dengan lebih baik.
Kisah Ayub memberikan gambaran tentang keterpurukan akibat dukacita. Ia bahkan berharap tidak pernah dilahirkan (Ayub 3:10-11). Dalam penderitaannya, Ayub mempertanyakan Tuhan dan mengungkapkan emosinya dengan jujur.
Allah tidak langsung menjawab pertanyaannya, tetapi memberi respons yang dibutuhkan Ayub. Di akhir kisah, Ayub berkata, “Sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” Ayub bertumbuh melalui penderitaan, bukan saat kondisinya pulih, tetapi ketika ia memahami Tuhan dengan lebih dalam.
Iman menjadi kekuatan bagi Ayub dalam menghadapi penderitaan. Ini juga berlaku bagi setiap orang percaya. Dalam dukacita, iman menjadi sumber penghiburan dan keteguhan hati.
Paulus menekankan pentingnya penghiburan dalam komunitas orang percaya. Penghiburan ini dapat dilakukan dengan tiga cara:
Memberikan pemahaman yang benar tentang dukacita, bahwa kesedihan orang Kristen bersifat sementara dan ada harapan akan sukacita mendatang.
Menyampaikan kata-kata penghiburan yang memberi harapan berdasarkan kebenaran firman Tuhan.
Melakukan interaksi langsung dengan mereka yang berduka. Paulus sendiri pernah merasakan penghiburan dari kunjungan Titus dan Timotius.
Ketika seseorang mengalami dukacita, kehadiran dan empati dari sesama orang beriman sangatlah berarti. Penghiburan bukan sekadar kata-kata, tetapi juga tindakan nyata dalam mendampingi mereka yang berduka.
Mazmur 119:92 berkata, “Sekiranya Taurat-Mu tidak menjadi kegemaranku, maka aku telah binasa dalam sengsaraku.” Dalam dukacita, iman kepada Tuhan memberi kekuatan dan penghiburan sejati bagi setiap orang percaya.
Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. (Amsal 3: 5)
Saat kelas X, saya mendapat kesempatan menjadi pengurus OSIS. Awalnya, saya ragu karena jadwal sekolah sangat padat. Namun, dengan pengalaman di OSIS SMP, saya percaya dan memberanikan diri untuk menerima tawaran itu.
Masuk ke kepengurusan OSIS SMA, saya belajar banyak hal baru. Saya belajar mengatur waktu, menentukan prioritas, dan memahami organisasi lebih dalam. Selain itu, saya juga belajar membangun hubungan baik dengan pengajar dan teman-teman.
Setahun berlalu, kepengurusan OSIS berganti. Saya dipercaya teman-teman menjadi ketua OSIS. Saya sadar bahwa semua terjadi karena jalan-Nya. Sejak awal, saya menjadikan Tuhan sebagai fondasi kepemimpinan saya. Setiap kegiatan OSIS selalu saya bawa dalam doa. Saya meminta tuntunan dan penyertaan Tuhan agar bisa menjalankan tugas dengan baik.
Namun, pada suatu waktu, ada rencana kegiatan OSIS yang tidak mendapat izin karena bentrok dengan kegiatan yang diadakan oleh sekolah. Gejolak pun muncul di dalam pengurus OSIS. Banyak yang mempertanyakan keputusan sekolah pada waktu itu. Saya pun pada waktu itu mencoba untuk bernegosiasi dengan pembimbing OSIS dan beberapa pengajar yang bersangkutan, tetapi tidak membuahkan hasil. Hal yang lebih mengesalkan lagi, kami tidak terlalu dilibatkan di dalam kegiatan sekolah yang bisa dibilang berskala besar.
Saya bergumul. Saya mulai mempertanyakan Tuhan. Kenapa pada waktu
itu Tuhan seperti tidak campur tangan? Kenapa pada waktu itu Tuhan tidak
membuka jalan untuk kegiatan OSIS SMA? Karena merasa seperti Tuhan tidak pernah
bertindak, pada akhirnya saya kecewa dengan Tuhan.
Kekecewaan saya terhadap Tuhan berdampak hampir ke seluruh aspek hidup saya. Saya jadi jarang baca Alkitab dan saat teduh. Kepribadian saya juga mulai berubah menjadi lebih temperamental. Saya mengatakan apa saja yang ingin saya katakan tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Saya menjadi congkak dan egois. Cara pandang saya dalam mengambil keputusan rapat yang biasa didasari dengan hati yang tenang dan damai berubah menjadi penuh kekesalan dan hati yang gundah. Hal ini berdampak pada pengambilan keputusan yang tidak memuaskan.
Masalah demi masalah terus datang dan selalu selesai dengan tidak memuaskan. Rasanya ada yang kurang dan selalu menghalangi kebahagiaan di dalam diri. Hal ini juga terasa di dalam lingkungan OSIS. Kami, yang biasanya selalu menanggapi ledekan dan kata-kata “manis” sebagai sebuah candaan, berubah jadi lebih mudah tersulut emosinya. Waktu terus berjalan dan saya masih menyimpan rasa kecewa. Rasanya tidak mungkin pada waktu itu berdamai dengan Tuhan.
Berserah dan Percaya: Menyerahkan Segala Masalah kepada Tuhan
Hingga pada suatu saat di kegiatan OSIS yang diadakan di sekolah, saya menerima pesan dari ibu saya. Isi pesannya pada waktu itu: “Nak, baca Amsal 16, ya.” Dalam hati, saya bertanya-tanya maksudnya. Namun, saya mengikuti saran ibu saya dan membaca kitab yang dimaksud. Saat membacanya, beberapa ayat terngiang-ngiang terus di kepala saya yang membuat saya akhirnya kembali kepada Tuhan.
Namun, pergumulan yang dihadapi setelah itu adalah “memperbaiki” kondisi pribadi dan kondisi di dalam kepengurusan OSIS yang pada waktu itu kian memanas. Banyak hal yang menjadi beban pikiran kami. Kami hanya mengandalkan kepintaran sendiri sehingga masalah-masalah yang ada sulit sekali untuk diselesaikan. Saya akhirnya menyadari kalau ada yang salah. Setelahnya, saya mencoba untuk mendamaikan diri dengan berdoa dan membaca Alkitab.
Saya menemukan satu ayat yang saya percaya menjadi pedoman yang menguatkan saya. Amsal 3: 5 yang berbunyi, “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”
Akhirnya, saya berdoa dan mencoba menyerahkan semua masalah yang
saya hadapi, termasuk OSIS. Puji Tuhan, masalah yang ada Tuhan selesaikan
dengan cara-Nya. Saya kembali menjadi pribadi yang tenang dan tidak mudah
marah. Puji Tuhan, kondisi di OSIS pun lebih kondusif. Aura persahabatan
kembali terasa kental di antara pengurus OSIS.
Masalah di atas membuat saya belajar untuk bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dan tidak kecewa kepada-Nya. Berdasarkan pengalaman saya, kekecewaan tersebut justru menimbulkan masalah-masalah baru yang membuat hidup menjadi tidak damai. Dengan kita percaya, berserah, dan bergantung kepada Tuhan, Dia akan membantu kita dan menuntun kita di jalan-Nya.
Saya seorang ibu dengan tiga orang anak. Dua orang putri dan satu anak laki-laki. Ketiganya saya rawat dan besarkan seorang diri karena ayahnya bekerja jauh yang pulang beberapa kali dalam satu tahun. Meskipun sangat repot, ada rasa sukacita manakala melihat anak-anak bertumbuh dengan baik.
Dalam
mendidik anak, saya berusaha untuk tidak mendikte mereka. Untuk urusan yang
berhubungan dengan kegiatan mereka, saya selalu mendiskusikannya, bahkan sejak
mereka masih balita. Mereka boleh mengajukan pendapat meskipun saya yang
memutuskan. Saya akan menjelaskan alasannya jika ternyata keputusan berbeda
dengan pilihan mereka. Begitu pula bila mereka melakukan kesalahan, bukan saja
menegurnya, saya harus menerangkan alasan saya marah sampai mereka paham.
Anak-anak
juga tidak ada yang mengikuti les mata pelajaran. Saya mendampingi mereka saat
belajar di rumah. Namun, ketika mereka kelas tiga SD, saya mulai melepaskan
perlahan. Mereka sudah mulai belajar secara mandiri, dan saya hanya memantau.
Pada awalnya, nilai agak turun (memang tidak sampai di bawah KKM), tetapi itu
tidak apa-apa. Biar mereka belajar bagaimana harus berjuang untuk meraih
sesuatu sesuai yang diharapkan.
Hebatnya,
ternyata mereka memiliki standar untuk diri mereka sendiri, tanpa saya perlu memintanya.
Mereka begitu bersemangat, sementara saya hanya mengawal dan mendampingi,
sambil menggali dan mencari tahu potensi yang ada di dalam diri tiap anak. Ketika saya mulai melihat
talenta yang Tuhan karuniakan, saya berusaha untuk mendukung dan terus
mengembangkannya.
Tidak semua anak memiliki pola perkembangan yang sama. Anak pertama kami lebih membutuhkan perhatian khusus, tapi kami berhasil melewatinya. Saya percaya semua ini adalah campur tangan Tuhan. Roh Kudus yang memberikan kepada mereka hati yang bertanggung jawab, mandiri, dapat membedakan yang baik dan tidak, mana yang boleh dan tidak. Bahkan jika melakukan kesalahan, mereka terbuka mau bercerita kepada saya. Sebagai orang tua, kami tidak mengalami kesulitan dalam mendidik mereka. Sukacita itu selalu ada dalam perjalanan kami.
Berbeda
dengan kedua kakaknya (jaraknya cukup jauh), putra kami yang bungsu setiap hari
belajar bersama kelompoknya, tapi tetap di rumah masing-masing. Tentu saja
awalnya saya bingung karena saya kira dia cuma sedang mengobrol. Ternyata, dia
sedang berdiskusi secara online bersama tiga orang temannya. Di
situ saya merasa bangga karena
dia memanfaatkan teknologi dengan tujuan baik. Meskipun jika ada waktu, mereka
juga bermain game bersama.
Di sinilah saya belajar bahwa beda generasi, beda pula cara asuhnya. Semakin ke sini, mau tidak mau anak akan tumbuh berdampingan dengan teknologi. Karena itu, modal yang saya tanamkan kepada mereka adalah bahwa dalam menjalani hidup, mereka bertanggung jawab kepada Tuhan. Orang tua tidak selalu ada untuk mereka, tetapi ada Tuhan yang menjaga sekaligus mengamati. Saat ini, kedua putri kami sedang menempuh kuliah, dan saat tulisan ini ditulis, keduanya sudah di akhir semester.
Sementara putra bungsu kami duduk di kelas sepuluh. Walaupun ada sedikit riak-riak, segala sesuatu termasuk berjalan dengan lancar. Dalam perjalanan mendidik anak-anak, ada banyak tantangan, tetapi lebih banyak lagi sukacita yang saya rasakan. Kami juga merasakan penyertaan Tuhan dalam setiap langkah kami. Tuhan telah mempertemukan kami dengan orang-orang dan kondisi yang tepat, seperti salah satunya dengan sekolah dan pengajar Athalia. Dia selalu ada, serta menolong tepat di saat kami membutuhkan pertolongan.
Peribahasa “Tak Kenal, maka Tak Sayang” tampaknya tepat untuk menggambarkan perjalanan anak kami saat pertama kali masuk sekolah dasar. Awalnya, kami berharap ia akan menikmati suasana sekolah. Namun, harapan tersebut bertolak belakang dengan kenyataan. Setiap hari, ia menangis dan menolak masuk kelas. Terus terang, sebagai orang tua, kami berharap anak akan senang ketika berada di sekolah. Namun, harapan itu ternyata jauh dari kenyataan. Saya sempat kaget melihat anak saya menolak masuk kelas dan terus menangis.
Sementara itu, temannya dengan santai dan percaya diri melenggang masuk ke kelas. Anak saya terus menangis, berkata bahwa dia tidak mau sekolah dan mau pulang saja. Saya shock sampai menelepon istri dan berkata, “Apa perlu kita pindahkan sekolahnya?” Padahal, sewaktu mengikuti tes penerimaan siswa baru, anak kami mampu menjawab pertanyaan dengan baik. Dia juga terlihat senang dan mau sekolah di Athalia. Mungkin anak kami kaget melihat suasana sekolah yang ramai. Saat TK, memang lingkungannya lebih kecil dengan sedikit teman.
Saat pulang ke rumah, terus terang pikiran saya tidak tenang. Saya mengingat kembali ketika dia berusia 2,5 tahun. Dengan riang gembira, dia selalu mengikuti Sekolah Minggu. Begitu juga ketika dia masuk TK. Bahkan, dia kami ikutkan jemputan dan tidak pernah ada masalah sama sekali. Mungkin inilah yang terjadi, ekspektasi orang tua terhadap anak tidak sesuai kenyataan.
Setelah satu minggu mengantar-jemput anak selesai, kami melimpahkan tugas tersebut kepada mobil
jemputan. Kami pikir semuanya sudah berlalu. Namun, ternyata kami salah.
Menghadapi Tantangan Awal Sekolah dengan Kesabaran
Suatu pagi, terjadi kehebohan karena anak saya
menolak ikut mobil jemputan. Istri saya mengantarnya sampai ke dalam mobil, tetapi
anak kami berteriak-teriak tidak mau sekolah. Dia menangis dan memberontak,
ingin lompat ke luar mobil. Saya sampai tepok
jidat. Kenapa
lagi anak ini? Setelah
melakukan pembicaraan dengan anak dan sopir jemputan, akhirnya
dia mau berangkat sekolah.
Kami bersyukur bahwa fase tersebut akhirnya berakhir. Seiring berjalannya waktu, anak kami mulai menikmati sekolahnya. Dia bercerita teman-temannya ternyata sangat baik, sangat welcome. Meskipun teman-temannya sebagian besar merupakan siswa Athalia sejak TK, mereka mau mengajaknya bermain dan tidak pernah mengejeknya.
Bahkan, setelahnya, anak kami tidak pernah mau izin tidak masuk sekolah. Ketika dia sakit, dia tidak mau izin. Pernah suatu hari karena lupa dia makan ikan laut sehingga alerginya kumat, di badannya tampak bentol-bentol dan dia merasa kurang sehat. Namun, ketika disuruh pulang oleh wali kelas, dia tidak mau, saking cintanya dengan Sekolah Athalia dia memilih tetap belajar hingga selesai jam sekolah.
Dia bilang kepada mamanya, “Aku tidak mau ketinggalan pelajaran di sekolah.” Bahkan, ketika sedang demam pun di rumah tetap belajar agar bisa ikut ulangan. Kami terharu ketika melihat perjuangannya mengenal sekolah, lingkungan, teman, dan segala hal baru. Kami menyadari bahwa dengan dukungan dan sayang yang tulus, anak kami dapat melewati tantangan yang awalnya terasa berat.
Anak kami berhasil naik ke kelas 3 dengan mendapatkan piala hasil kumulatif dari piagam top score yang dia kumpulkan dari kelas 1 sampai kelas 2. Itu adalah momen terindah baginya dan suatu kejutan bagi kami. Bahkan, malam sebelum dia terima rapor, saya bilang, “Ahhh…sepertinya kamu tidak mungkin deh dapat banyak nilai bagus karena agak malas belajar kelas 3 ini. Kalo sampai kamu dapat nilai bagus yang banyak, akan papa belikan jam tangan yang tahan air deh…”
Sekali lagi, ekspetasiorang tua tidak sesuai kenyataan. Ternyata, anak kami malah membawa pulang piala. Saya pun harus memenuhi janji membelikan sebuah jam tangan yang tahan air agar bisa dipakai berenang. Ini adalah momen tepok jidat yang kedua.
Saat anak kami berada di kelas 3, dia mendapatkan rujuan dari RS untuk berobat dan menjalani serangkaian tes di RS Siloam Karawaci. Kami berangkat dari rumah jam 6 pagi karena jarak yang lumayan jauh. Dia berpesan untuk dibawakan seragam dan tas sekolah. Dia berharap proses tes tidak terlalu lama sehingga bisa lanjut pergi ke sekolah. Namun, ternyata proses tes berjalan lama sampai lewat jam makan siang sehingga hari itu dia tidak bisa masuk sekolah.
Puji Tuhan, akhirnya anak kami menemukan dunia yang indah di masa kecilnya untuk belajar banyak hal dan bermain. Kami sebagai orang tua mencoba mengajarkan kepada anak kami dengan memberikan keteladanan hidup, moral, dan iman untuk masa depannya. Dengan luar biasa, Sekolah Athalia membentuknya dengan cara mendidik karakternya untuk menjadi anak yang takut akan Tuhan dan berguna bagi bangsa dan negara, seperti moto sekolah ini “Right From The Start”, benar sejak awal. Kami percaya bahwa dengan kasih sayang, anak-anak dapat berkembang menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab, siap menghadapi masa depan dengan percaya diri.