Pendidikan Karakter = Kunci Menghasilkan Anak Baik?

Sebuah refleksi dari buku Emotionally Healthy Spirituality.

Baru-baru ini saya membaca buku Emotionally Healthy Spirituality karya Peter Scazzero. Salah satu babnya yang berjudul “Mengenal Diri Sendiri untuk Mengenal Allah – Menjadi Diri Sendiri yang Autentik” menarik perhatian saya untuk merenungkannya lebih jauh tentang pembelajaran karakter yang sering kita dengar.

Di dalam bab tersebut, Peter mengangkat kisah Joe DiMaggio, seorang pemain baseball terbesar yang pernah ada pada abad ke-20 dan sering dipuja sebagai pahlawan olahraga Amerika. Ia menikahi Marilyn Monroe yang dikenal sebagai wanita tercantik pada masa itu. Namun setelah Joe meninggal, biografinya yang ditulis oleh Richard Ben Cramer mengungkap kenyataan yang mengejutkan. Joe secara sengaja hanya menunjukkan sisi yang baik dalam hidupnya saja dan menutupi banyak hal yang sebenarnya. “Kisah Joe DiMaggio sang ikon sangatlah terkenal. Kisah DiMaggio yang sebenarnya telah dikubur,” tulis Richard Ben Cramer.

Ironis sekali membaca kisah ini. Namun sebenarnya, menggunakan “topeng” bukanlah hal yang asing, bahkan dalam hidup orang-orang Kristen.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Saya rasa, banyak faktor yang membentuk manusia menjadi pribadi yang tidak autentik. Salah satunya yaitu pola pikir yang ditanamkan, baik secara langsung atau tidak langsung. Misalnya, ketika anak menangis karena mainannya rusak, tidak jarang orang tua langsung berkata “Sudah, enggak usah nangis, nanti diperbaiki.” Tentu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak selalu tepat karena belum tentu itu yang dibutuhkan anak. Bila terus diulang, anak belajar menekan emosinya. Ia akan berpikir bahwa bersedih itu tidak boleh, dan emosi harus disembunyikan.

Pendidikan Karakter = Kunci Menghasilkan Anak Baik

Menyembunyikan Emosi

Tak bisa dipungkiri bahwa kadang kala, pengajaran di dalam gereja pun menguatkan pola pikir ini. Emosi seperti marah atau kecewa dianggap dosa. Akibatnya, kita mengabaikan banyak emosi dalam diri. Rasanya, tidak berani menilik hasrat, mimpi, kesenangan, dan ketidaksukaan kita karena khawatir hal tersebut akan ‘menempatkan diri saya terlalu tinggi dan menjauhkan saya dari mengutamakan Allah’. Apa dampaknya? Kita berusaha menghindar dan mengabaikan perasaan, berjuang untuk terlihat baik-baik saja, dan ingin selalu menampilkan diri yang baik, ideal, dan saleh.

Saya jadi berpikir, jangan-jangan pendidikan karakter yang selama ini kita dengar juga memiliki gambaran yang sama. Kita melihat karakter sebagai tampilan luar, perilaku, atau kebaikan yang terlihat hingga muncul berbagai stigma seperti:

Orang yang sabar itu tidak pernah marah. Mereka yang rajin akan selalu bersemangat mengerjakan tugas, apa pun kondisinya. Orang yang dapat mengendalikan diri tidak pernah tergoda melakukan sesuatu untuk memuaskan keinginan diri…” dan masih banyak stigma lainnya.

Hal ini membuat kita lebih sering mengenakan tampilan luar atau perilaku yang palsu supaya terlihat baik. Hal yang sama juga kita terapkan ketika mendidik anak-anak untuk memiliki karakter yang baik.

Pendidikan Karakter

Menurut saya, pendidikan karakter tidak sesederhana itu. Pendidikan karakter bukan hanya soal moralitas yang harus dijaga demi nama baik diri, keluarga, maupun sekolah. Mengikuti karakter Kristus seharusnya memanusiakan manusia sebagaimana Kristus sendiri pernah hidup sebagai manusia yang sejati. Pendidikan karakter semestinya menilik lebih dalam ke dalam diri, menyingkap hati, motivasi, dan emosi yang bergejolak, berani melihat keberadaan diri yang sesungguhnya, yang hancur di hadapan Allah.

Peter dalam bukunya menulis, “Ketika kita mengabaikan penderitaan, kehilangan, dan semua perasaan kita selama bertahun-tahun, kemanusiaan kita menjadi semakin berkurang. Kita pelan-pelan berubah menjadi cangkang kosong yang diberi lukisan senyuman di depannya. … Kegagalan untuk menghargai perasaan seperti yang Alkitab lakukan dalam kehidupan Kristen kita yang lebih luas telah menghasilkan kerusakan yang besar, dan membuat manusia yang harusnya bebas dalam Kristus tetap dalam perbudakan.”

Tentu hal ini bukan berarti kita menyerahkan diri kepada perasaan sepenuhnya dan mengikuti ke mana diri ini dibawa—mengingat bahwa kita adalah manusia yang sudah jatuh dalam dosa. Namun, usaha membuka diri untuk merasakan emosi dan jujur kepada diri sendiri adalah langkah awal agar kita bisa merespons dengan benar di hadapan Allah. Justru hal itu mungkin menjadi cara Allah berbicara, merengkuh manusia dengan kasih-Nya, serta membentuk kita makin serupa dengan-Nya. Ia menyingkap diri kita dan berbicara dengan lembut “It’s okay, Aku mengenalmu, Aku mau berjalan bersamamu.

Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Menyampaikan Pesan yang Sama pada Anak

Apa pesan yang kita sampaikan kepada anak saat mereka gagal atau melakukan kesalahan? Ataukah kita mengabaikan dan menghindari hal itu, lalu memaksa mereka untuk menampilkan yang baik-baik saja?

Anak yang jatuh tidak selalu perlu nasihat. Terkadang, mereka hanya butuh pelukan dan penerimaan. Ajak mereka untuk berproses bersama. Karakter bukanlah suatu tempelan ataupun fenomena semata. Membentuk karakter adalah membentuk hati. Pembentukan karakter Kristus adalah bagian dari perjalanan iman; sebuah proses yang berlangsung seumur hidup, yang seharusnya dijalani dengan sukacita di dalam dasar penerimaan dan penebusan Kristus yang sempurna.

Oleh: Bella Kumalasari, staf Pengembangan Karakter Sekolah Athalia.

Manfaatkan Pandemi untuk Mengembangkan Potensi Diri Remaja

Ratu Putri Hiemawan dari kelas X IPS 1.

Mengembangkan Potensi Diri di Masa Pandemi

Pernahkah merasa malas mengembangkan potensi diri, atau merasa masa remaja terbuang sia-sia? Padahal, remaja dan pemuda merupakan penentu masa depan bangsa. Beberapa tahun ke depan, Indonesia akan dipimpin oleh generasi muda yang saat ini sedang tumbuh dan berkembang.

Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, pernah berkata:

“Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.”

Kutipan ini menegaskan besarnya peran pemuda dalam kemajuan bangsa. Terlebih di masa pandemi, kreativitas dan kontribusi generasi muda sangat dibutuhkan untuk menciptakan inovasi baru yang bermanfaat.

Salah satu contoh nyata adalah hadirnya situs Aku Pintar, yang didirikan oleh Lutvianto Pebri Handoko (kelahiran 1993). Platform ini membantu pelajar menemukan minat, bakat, gaya belajar, dan jurusan kuliah secara daring. Hal ini membuktikan bahwa pemuda tetap mampu mengembangkan potensi diri di tengah keterbatasan pandemi.

Peran Teknologi Digital dalam Pengembangan Potensi Diri

Saat ini, Indonesia berada di era revolusi industri 4.0, di mana teknologi menjadi kunci utama kemajuan bangsa. Menurut data Tekno Kompas (2021), jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta jiwa, dan 49,5% di antaranya berusia 19–34 tahun.

Fakta ini menunjukkan bahwa remaja dan pemuda adalah generasi yang paling akrab dengan teknologi. Oleh karena itu, sudah seharusnya teknologi dimanfaatkan secara maksimal untuk mengembangkan potensi diri selama pandemi, bukan hanya untuk hiburan semata.

Setiap Orang Memiliki Potensi yang Unik

Setiap individu memiliki potensi yang berbeda-beda. Ada yang unggul di satu bidang, ada pula yang memiliki banyak bakat. Namun, setiap orang memiliki peluang yang sama untuk sukses, tergantung pada kemauan untuk menemukan dan mengembangkan potensinya.

Sayangnya, masih banyak siswa yang:

  • Belum menemukan potensi dirinya
  • Sudah menemukan potensi, tetapi malas mengembangkannya
  • Menjadikan pandemi sebagai alasan untuk berhenti berkembang

Padahal, keterbatasan bukanlah alasan untuk menyerah.

Kendala Mengembangkan Potensi Diri di Masa Pandemi

1. Kendala Pembelajaran Daring dan Akses Teknologi

Pembelajaran daring dinilai kurang efektif oleh sebagian siswa karena:

  • Minimnya interaksi langsung
  • Keterbatasan akses internet di beberapa daerah
  • Adaptasi yang belum maksimal

Indonesia yang memiliki wilayah luas masih menghadapi kesenjangan akses teknologi, sehingga menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan potensi diri.

2. Faktor Internal yang Menghambat

Beberapa faktor internal yang sering menghambat pengembangan potensi diri antara lain:

  • Tidak memiliki tujuan hidup yang jelas
  • Kurangnya rasa percaya diri
  • Minimnya motivasi
  • Terjebak dalam zona nyaman
  • Trauma terhadap kegagalan

Rasa takut gagal memang wajar, tetapi jangan sampai kegagalan menghentikan proses belajar dan berkembang.

3. Faktor Eksternal dari Lingkungan

Selain faktor internal, faktor eksternal juga berpengaruh besar, seperti:

  • Stigma masyarakat (misalnya seni dianggap tidak menjanjikan)
  • Stereotip gender (tari dan kecantikan hanya untuk perempuan)
  • Kurangnya apresiasi dari lingkungan sekitar

Padahal, apresiasi sekecil apa pun dapat meningkatkan motivasi, terutama bagi mereka yang baru memulai.

Masa Remaja sebagai Waktu Terbaik Mengembangkan Potensi Diri

Masa remaja bukan hanya waktu untuk bersenang-senang, tetapi juga masa penting untuk:

  • Mengenali bakat dan minat
  • Menentukan jurusan kuliah
  • Mempersiapkan masa depan

Salah memilih arah karena tidak mengenal potensi diri dapat berdampak besar di kemudian hari.

Cara Menemukan dan Mengembangkan Potensi Diri

1. Mengenali Diri Sendiri

Luangkan waktu untuk:

  • Mendengarkan suara hati
  • Jujur pada diri sendiri
  • Merefleksikan hal-hal yang disukai sejak dulu

Pandemi justru memberikan lebih banyak waktu untuk introspeksi diri.

2. Berani Mencoba Hal Baru

Cobalah:

  • Webinar
  • Lomba daring
  • Kegiatan online lainnya

Jangan takut gagal, karena kegagalan adalah bagian dari proses menuju versi terbaik diri sendiri.

3. Mengembangkan Potensi secara Daring

Manfaatkan teknologi untuk:

  • Mencari sumber belajar
  • Menonton video edukatif
  • Mengikuti seminar dan perlombaan online

Internet membuka peluang tanpa batas bagi siapa pun yang mau berusaha.

Webinar, Lomba, dan Komunitas sebagai Sarana Pengembangan Diri

Mengikuti webinar memberikan banyak manfaat, seperti:

  • Materi pengembangan diri
  • Wawasan baru
  • Tips praktis dari para ahli

Selain itu, perlombaan daring memberikan kesempatan lebih luas karena tidak terhambat jarak dan biaya perjalanan.

Bergabung dengan komunitas sesuai minat melalui media sosial juga penting untuk:

  • Bertukar informasi
  • Belajar dari pengalaman orang lain
  • Mendapatkan dukungan dan motivasi

Tips Menghadapi Kesulitan dalam Mengembangkan Potensi Diri

Beberapa hal yang dapat dilakukan saat menghadapi kesulitan:

  • Menanamkan komitmen dan tujuan yang jelas
  • Menjadikan orang tua atau cita-cita sebagai motivasi
  • Tetap konsisten meskipun kondisi tidak ideal

Saya sendiri mengalami kesulitan saat les piano daring karena delay dan koneksi internet. Namun, dengan motivasi untuk cepat lulus dan membanggakan orang tua, saya tetap berusaha maksimal.

Bahkan, saya memanfaatkan pandemi dengan mengikuti ujian ABRSM secara daring, yang justru memberikan banyak keuntungan dibandingkan ujian tatap muka.

Kesimpulan: Pandemi Bukan Penghalang untuk Berkarya

Pandemi memang membawa banyak keterbatasan, tetapi juga membuka peluang baru. Dengan motivasi yang tepat, kemauan beradaptasi, dan pemanfaatan teknologi, kita tetap bisa mengembangkan potensi diri secara optimal.

Ingatlah, pandemi bukan alasan untuk berhenti berkarya.
Mari manfaatkan masa pandemi ini sebaik mungkin untuk mengembangkan potensi diri dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Daftar Pustaka:

Riyanto, G. P. (2021). Jumlah Pengguna Internet Indonesia 2021 Tembus 202 Juta. Diakses pada 11 Oktober 2021, dari https://tekno.kompas.com/read/2021/02/23/16100057/jumlah-pengguna-internet-indonesia-2021-tembus-202-juta

Anwar, Fahrul. (2021). Lutvianto Pebri Handoko : Bantu Pelajar Dalam Memilih Minat dan Jurusan. Diakses pada 11 Oktober 2021, dari https://youngster.id/technopreneur/lutvianto-pebri-handoko-bantu-pelajar-dalam-memilih-minat-dan-jurusan/

Value vs. Belief, Apakah yang Kita Pegang Benar-Benar Tulus?

Erika Kristianingrum, Orang Tua Siswa.

Bulan November 2021 yang lalu, saya berkesempatan mengikuti program CARE (Connect – Accept – Restore – Equipt). Program ini merupakan inisiatif dari Bu Charlotte yang bertujuan membantu peserta menemukan jati diri serta menyembuhkan luka batin. Diharapkan, setelah mengikuti program ini, peserta mampu menolong orang lain.

Untuk sementara, program ini berupa pilot project, sehingga pesertanya ditujukan hanya untuk CPR dan CC Sekolah Athalia. Salah satu pertemuan yang paling membekas bagi saya adalah pertemuan ketiga, yang membahas tentang value, belief, dan attitude. Saat itu, kami diminta untuk merenungkan ketiga aspek tersebut dalam kehidupan masing-masing. Saya dengan yakin menyatakan bahwa value utama saya adalah keluarga. Dalam pandangan saya, keluarga adalah prioritas utama, tempat berlindung, dan ruang yang nyaman untuk kembali. Belief yang saya pegang erat adalah bahwa keluarga merupakan tempat berbagi suka dan duka tanpa perlu berpura-pura menjadi orang lain. Salah satu contoh attitude yang mencerminkan keyakinan tersebut adalah keputusan saya untuk tidak pernah pergi berlibur hanya bersama teman-teman. Saya meyakini bahwa liburan adalah momen berharga yang seharusnya dinikmati bersama keluarga.

Menyelami Makna Value dalam Keseharian

Setelah pertemuan itu, pikiran saya terusik. Saya mulai mempertanyakan kembali apakah benar keluarga adalah value utama saya, atau ada faktor lain yang lebih mendalam yang belum saya sadari. Saya teringat pesan fasilitator yang menyarankan agar setiap peserta terus menggali lebih dalam tentang keyakinan yang dimiliki.

Malam itu, saya merenungkan banyak hal, terutama dalam hal mendidik dan membesarkan anak-anak. Sejak awal, saya berusaha mengajarkan mereka untuk memiliki hati yang mau melayani, menjadi berkat bagi orang lain, serta menjunjung tinggi sopan santun dalam pergaulan. Saya juga selalu mendampingi mereka saat belajar agar mereka merasa diperhatikan dan didukung. Begitu juga terhadap suami. Saya selalu menyiapkan segala keperluannya, mengantarnya sampe ke pintu pagar saat dia akan berangkat kerja, dan mengingatkannya untuk makan saat sedang di kantor.

Semua ini saya lakukan dengan keyakinan bahwa keluarga adalah hal terpenting dalam hidup saya. Namun, seiring dengan perenungan yang lebih dalam, saya mulai melihat sudut pandang lain yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Baca Juga : Hati Sejuk di Zaman Penuh Tekanan: Renungan Amsal 24:10–12

Mengungkap Motivasi di Balik Value

Tuhan perlahan menyingkapkan sesuatu yang selama ini tersembunyi di dalam hati saya. Saya mulai menyadari bahwa tindakan yang saya lakukan terhadap anak dan suami bukan sepenuhnya karena keluarga adalah prioritas utama saya. Ada faktor lain yang lebih dominan, yang selama ini tidak saya sadari—yaitu keinginan untuk mendapatkan reputasi yang baik. Ternyata, value saya adalah REPUTASI.

Dalam mendidik anak, saya ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang sopan dan berakhlak baik agar orang lain melihat saya sebagai ibu yang berhasil dalam membesarkan anak sesuai ajaran Tuhan. Dalam hubungan dengan suami, saya ingin orang lain melihat saya sebagai istri yang baik dan berbakti. Saya ingin citra diri saya sebagai seorang ibu dan istri mendapat pengakuan dari lingkungan sekitar.

Tak sadar, air mata saya menetes. Saya sadar bahwa menanggapi panggilan menjadi seorang ibu tidak mudah. Jika anak-anak bersikap tidak baik, orang akan bertanya, “Siapa ibunya?”. Jika terjadi sesuatu terhadap suami, orang akan berpendapat istrinya pasti kurang melayani suaminya dengan baik. Tidak ada penghargaan khusus atau promosi jabatan untuk seorang ibu terutama ibu rumah tangga seperti yang didapat wanita yang mendapatkan promosi jabatan di sebuah perusahaan.

Seorang ibu tidak akan pernah mendapat penghargaan sebagai ibu terbaik dari orang lain selain dari keluarganya sendiri. Setidaknya, hal-hal itulah yang saya percaya selama ini. Oleh karena itu, saya menganggap keluarga begitu penting karena dari keluargalah saya bisa mendapatkan reputasi yang baik. Hal inilah yang ingin saya capai: orang lain harus menilai saya baik.

Mengubah Perspektif: Dari Reputasi ke Rasa Syukur

Namun, akhirnya saya sadar bahwa semua itu pemikiran yang salah. Saya mulai belajar mengubah semua motivasi dalam menanggapi panggilan sebagai ibu rumah tangga dan istri. Saya seharusnya meresponsnya sebagai wujud syukur karena Tuhan sudah begitu besar mengasihi dan memberikan anugrah yang besar kepada saya: seorang suami yang baik dan anak-anak yang manis. Sudah sewajarnya saya melayani mereka sesuai dengan yang Tuhan mau, bukan sebagai alat agar orang melihat dan menilai saya sebagai ibu dan istri yang baik.

Saat ini, saya masih terus belajar memiliki motivasi yang benar, yaitu sebagai ucapan syukur kepada Tuhan agar hanya nama Tuhan yang dipermuliakan. Saya ingin Tuhan berkenan atas saya karena telah mendengar panggilan sebagai ibu rumah tangga sesuai dengan yang Dia kehendaki sehingga hanya nama-Nya yang dipermuliakan.

Rahasia Hubungan yang Baik dan Harmonis

Oleh: Tirza Naftali, orang tua siswa.

Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan (1 Tesalonika 5: 11).

“Kaulah yang terbaik.”

Ketika mendengar frasa ini, kita langsung tahu bahwa frasa ini diucapkan untuk memberikan dukungan/peneguhan. Ketika frasa ini disampaikan kepada orang lain, bisa memberikan dukungan dan bersifat membangun. Kita bisa mengucapkan frasa ini dengan tulus jika memiliki unconditional love (kasih tanpa syarat) dan penerimaan terhadap orang lain.

Bagi orang percaya, dua hal tersebut bisa kita peroleh melalui Kristus karena melalui-Nya Allah mengasihi dan menerima kita tanpa syarat: “…
Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa
.” (Roma 5: 8)

Gambar oleh Bpk. Rizal & Ibu Rina Badudu.

Kasih tanpa syarat ini idealnya kita praktikkan kepada orang lain
sebagai dasar dalam berelasi,
terutama kepada pasangan dan anak. Ketika hal ini terus-menerus dipraktikkan, akan membentuk sebuah siklus yang dapat semakin memperkuat relasi dengan orang lain.

Pada kesempatan ini, saya akan membagikan penerapan kasih tanpa syarat antara saya dan suami. Saya dan suami memiliki bahasa kasih terkuat yang sama, yaitu sentuhan fisik. Bahasa kasih kedua kami yang berbeda—saya membutuhkan kata-kata penghargaan, sedangkan suami menunjukkan kasih melalui pelayanan. Perbedaan ini kerap menjadi sumber konflik.

Baca Juga : Penyertaan Tuhan Itu Nyata? Ini Buktinya

Valentines Day concept isolated person situations. Collection of scenes with people celebrating romantic holiday, couples on date, love relationship. Mega set. Vector illustration in flat design

Menerapkan Kasih Tanpa Syarat dalam Hubungan Pasangan

Saya tumbuh dalam lingkungan yang minim kata-kata dorongan, sehingga merasa kekurangan dan berharap pasangan serta anak mengisinya. Sementara itu, suami dididik dalam budaya keluarga yang irit berbicara, mengutamakan kesopanan kepada orang lain, dan menghindari konflik demi ketenangan rumah. Latar belakang pola asuh kami ini juga terbawa ke dalam relasi kami sebagai suami istri.

Ketika konflik muncul, suami saya cenderung untuk diam. Suami saya bahkan bisa dalam beberapa hari “membiarkan” saya yang juga sedang diam. Padahal, di dalam pikiran, saya sangat gelisah. Saya berburuk sangka, merasa tidak dikasihi, karena tidak ada penyelesaian atas masalah kami (bahkan kata “maaf). Selain itu, suami juga kurang mengekspresikan penghargaan kepada saya. Padahal kepada orang lain, dia sangat sopan, tetapi kepada saya, kata-katanya terasa lebih lugas seperti, “Eh, lempar kunci, dong!” atau “Ma, piring, dong!” Padahal, saya sangat membutuhkan kata-kata seperti “maaf,” “tolong,” dan “terima kasih.”

Situasi seperti demikian membuat saya merasa tidak nyaman. Bersyukur kepada Tuhan, pada 2018 yang lalu gereja kami mengadakan retret pasutri yang dibawakan oleh GI. Julimin dan alm. GI. Wei Tjen. Di acara tersebut, kami diberi kesempatan mengobrol berdua dan di situ kami saling mengungkapkan isi hati satu sama lain.

Suami saya tumbuh dalam lingkungan yang menekankan kesopanan kepada orang lain, tetapi kurang dalam penerimaan diri. Setelah menikah, ia menganggap saya bagian dari dirinya, sehingga merasa tidak perlu menjaga kesopanan seperti kepada orang lain. Suami saya merasa sudah memberikan seluruh cintanya melalui tindakan pelayanan yang dia lakukan kepada saya, tetapi saya tidak bisa merasakan kasihnya karena tidak sesuai dengan bahasa kasih saya. Bagi suami saya, mengucapkan kata “maaf”, “terima kasih”, “tolong” kepada inner circle, termasuk dirinya sendiri, bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Saat konflik, ia lebih memilih diam, bukan karena tidak peduli, tetapi karena takut ucapannya justru memperburuk keadaan.

Langkah Praktis dalam Membangun Hubungan yang Lebih Baik

Ketika mendengarkan isi hati suami, saya merasa sedih karena selama ini saya kesulitan memahami dan menerima dia apa adanya. Padahal, dia sudah begitu berjuang menunjukkan kasihnya kepada saya. Setelah itu, kami bersama-sama mengambil langkah praktis yang terus-menerus dipraktikkan hingga sekarang dan harapannya bisa kami lakukan terus ke depannya.

Berikut beberapa hal yang kami sepakati.

  1. Berjuang bersama Roh Kudus untuk memulihkan diri dari luka masa lalu dengan cara memulihkan relasi saya dengan orangtua. Ketika saya bersedia diproses oleh Tuhan, saya semakin dipulihkan. Relasi saya dengan suami dan anak pun menjadi jauh lebih baik.
  2. Bersedia untuk terus belajar mengasihi satu sama lain dengan bahasa kasih yang sesuai dengan yang diharapkan pasangan.
  3. Berlatih untuk tidak menghakimi pasangan. Ketika sisi gelap salah satu dari kami muncul, pasangan tidak menghakimi dengan berkata, “Tuh,
    kan gua bilang juga apa, kebiasaan sih!”, “Kamu kok, gitu terus, sih”, dan lain-lain.
  4. Mendisiplinkan diri dengan bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan untuk kamu/kita dalam menghadapi kelemahan/konflik ini?” Tidak ada lagi “saya vs kamu”. Yang ada adalah “kita vs masalah”.
  5. Menjadi penolong, bukan perongrong. Setiap pagi sebelum beraktivitas, kami akan bertanya, “Mau didoakan apa?” Selain itu, kami terus memegang prinsip: “Kamu memang tidak sempurna, saya pun begitu. Namun, kamu tetaplah yang terbaik yang Tuhan berikan kepada saya.”

Baca Juga : Athalia Leaning Community Nomor 5 Tahun 2021

Ketika kita sedang berada di titik rapuh, kita pasti rindu untuk direngkuh. Oleh karena itu, dari pada memberikan respons berupa penolakan, penghakiman, atau ketidakmengertian, sudahkah kita merangkul sesama, memberinya yang terbaik dalam ketenangan, hiburan, dan penguatan?

Dibentuk dengan Berbagi Hidup

oleh: Merry David

Dari buku Sacred Marriage karya Gary Thomas.

Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu (Matius 7: 1–2).

Gary Thomas dalam bukunya menekankan bahwa pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan dalam satu rumah, tetapi juga menjadi sarana pembentukan diri. Ketika dua individu berbagi hidup dalam pernikahan, mereka secara alami akan mengalami berbagai tantangan yang dapat memperkuat atau justru melemahkan hubungan. Salah satu tantangan terbesar dalam pernikahan adalah kecenderungan untuk menghakimi pasangan dan menolak untuk mendengarkan.

Tidak ada manusia yang sempurna, begitu pula pasangan kita. Jika kita hanya berfokus pada kekurangan pasangan, kita akan kehilangan kesempatan untuk melihat kelebihan dan kekuatan yang bisa menjadi inspirasi bagi kita. Oleh karena itu, dalam perjalanan pernikahan, penting bagi kita untuk saling menerima, memahami, dan bertumbuh bersama, bukan saling menghakimi.

Baca Juga : Athalia Learning Community Nomor 6 Tahun 2021

Berbagi Hidup: Proses Pembelajaran dan Perubahan Diri

Berdasarkan pengalaman pribadi, saya menyadari bahwa kehidupan pernikahan tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan, apalagi seperti yang sering ditampilkan dalam drama Korea yang penuh dengan keindahan dan romansa. Ketika merenungi tema PIT dengan judul “Dibentuk dengan Berbagi Hidup”, saya mulai berpikir, apa saja yang sudah saya dan suami lalui sebagai pasangan? Di usia pernikahan kami yang baru 13 tahun, kami tidak hanya memiliki banyak persamaan, melainkan juga perbedaan.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Gary Thomas, kita bisa belajar dan dibentuk oleh pasangan, saya pun mengalaminya. Contoh beberapa hal yang saya pelajari dari suami saya, yaitu dalam hal percaya kepada orang lain, berani berpendapat, humble, dan lain sebagainya.

Dulunya saya tidak mudah percaya dengan orang lain sehingga saya selektif dalam memilih teman. Hal ini karena saya pernah dikecewakan oleh orang yang saya percayai sehingga tidak mudah bagi saya untuk percaya kepada orang lain lagi. Namun, suami saya mengajarkan saya untuk mau belajar memercayai orang. Misalnya di dalam pekerjaan, saya mulai bisa berbagi tugas dengan rekan kerja ketika saya bekerja sebagai sekretaris. Sebelumnya, semua pekerjaan saya tangani sendiri dan rekan saya hanya melakukan pekerjaan yang ringan-ringan saja. Dampaknya, saya sering kali kerja lembur untuk menyelesaikan pekerjaan. Ketika saya mulai belajar untuk memercayai orang lain, hidup saya tentunya menjadi lebih ringan. Dengan demikian, saya juga belajar untuk lebih rendah hati.

Baca Juga : Kenali Bahasa Kasih Pasangan: Kunci Hubungan Harmonis

Dibentuk dengan Berbagi Hidup

Belajar Mempercayai Orang Lain

Dahulu, saya adalah orang yang tertutup atau antisosial. Namun, kemudian saya belajar bersedia membuka diri. Perubahan ini memungkinkan saya untuk melayani Tuhan bersama banyak orang. Apalagi ketika saya sudah menjadi orang tua dan anak saya bersekolah di Athalia. Mau tidak mau saya harus bersosialisasi dengan banyak orang tua lainnya karena di Athalia ada komunitas orang tua. Ketika saya bersedia diubah, saya merasa sangat terbantu dalam bersosialisasi dan berani ketika diminta melayani menjadi CPR lalu sekarang di BPH APC, serta berani melayani di gereja lokal kami.

Saya bersyukur suami tidak pernah menghakimi kekurangan saya ini. Dia membantu saya untuk terus memperbaiki diri. Begitu juga sebaliknya, saya juga belajar untuk tidak menghakimi kekurangan suami. Saya sadar, ketika saya menunjukkan jari telunjuk ke orang lain, sesungguhnya ada empat jari lainnya yang menunjuk ke diri saya.

Demikian sharing dari saya, kiranya Tuhan Yesus memberkati. Terima kasih.

Mengapa Menjaga Hati Itu Penting untuk Melakukan Hal Baik?

Oleh: Elisa Christantio, Orang tua siswa.

Firman Tuhan yang direnungkan pada Rabu, 6 Oktober 2021 diambil dari Amsal 4: 23, berbunyi:

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (TB)

Ketika mendengar kata “menjaga,” umumnya kita akan berpikir tentang sesuatu yang tampak secara fisik. Namun, kita sering lupa bahwa menjaga juga mencakup hal-hal yang tidak kasatmata. Jadi, ketika Alkitab berbicara tentang hati, tentu tidak berbicara tentang fisik. Hati yang dimaksud bukanlah sekadar organ tubuh, tetapi melambangkan pikiran, kehendak, dan batiniah seseorang. Pikiran dan kemauan adalah pusat pengambilan keputusan, tempat di mana setiap pilihan dibuat. Segala sesuatu yang kita putuskan untuk dilakukan berasal dari sana. Lantas, mengapa penting untuk menjaga hati kita?

Baca Juga : Menjadi Otentik, Kunci Bertumbuh

1. Karena kita mencintai Tuhan yang sudah lebih dulu mencintai kita.

Salah satu motivasi terbesar untuk menjaga hati karena kita mencintai Tuhan. Mengasihi Tuhan dan memelihara persekutuan yang erat dengan-Nya harus menjadi landasan utama dalam menjaga hati.

Sebelum pandemi, tugas dan pelayanan mengharuskan saya dan suami bepergian ke luar kota. Kami sudah sepakat walau melayani Tuhan, kami ingin selalu bersama dengan anak-anak. Akhirnya, kami memilih jadwal saat anak-anak libur sekolah agar mereka bisa ikut. Ini bukan keterpaksaan, tetapi hal yang dilakukan dengan sukacita. Kami memilih untuk melakukannya karena rasa sayang. Kami saling mengasihi sehingga kami menempatkan perlindungan untuk hati kami dengan cara seperti ini.

2. Rencana Tuhan

Ketika semua yang kita lakukan mengalir dari hati, mungkin saja rencana Tuhan sedang terjadi dalam hidup kita. Tidak ada yang lebih memuaskan di bumi ini selain melakukan kehendak Tuhan.

Baca Juga : Athalia Learning Community Nomor 4 Tahun 2021

3. Menyelesaikannya dengan baik

Banyak di antara kita yang memulai dengan baik, tetapi mengakhiri dengan buruk. Amsal mengingatkan agar kita memulai dan mengakhiri dengan baik pula.

Menjalani pekerjaan yang harus sering keluar kota, mewartakan kabar baik, dan melayani bersama-sama keluarga tentu tidak mudah. Namun, kami ingin menyelesaikannya dengan baik. Suatu kali, kami melayani di Desa Pulutan, Wonosari, Gunungkidul. Kami tidak memberi tahu anak-anak tentang kegiatan hari itu. Sesampainya di lokasi, anak kami yang besar bertanya, “Kenapa kita disambut seperti presiden?” Dia bingung karena kehadiran kami disambut meriah. Singkat cerita, kami beramah tamah. Anak kami yang besar waktu itu masih kelas 4 SD, ditanya oleh salah seorang murid lokal tentang bahasa yang dikuasai. Lalu anak kami berkata, “Aku bisa bahasa Mandarin. Wo jiào Nathanael. Nǐ jiào shénme míngzì?” Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa. Kemudian, anak kami berkata, “Kamu juga bisa, makanya kamu harus rajin belajar.” Lalu, semua orang di sana bertepuk tangan.

Mengapa Menjaga Hati Itu Penting untuk Melakukan Hal Baik

Melakukan Hal Baik dalam Rencana Tuhan

Hari itu, kami pulang dengan hati bersyukur karena kami mengalami liburan yang luar biasa. Anak-anak mengerti tentang menjaga sekaligus memberi hati untuk orang lain. Kami sekeluarga pun menyelesaikan misi/tujuan Tuhan dalam hidup kami, walau dengan cara yang sederhana.

Menjaga hati bahkan juga dialami tokoh misionaris terhebat sepanjang masa dalam Filipi 3: 12–14. Paulus menyadari bahwa pekerjaannya belum selesai dan dia ingin memastikan bisa menyelesaikannya dengan kuat.

Saya yakin Paulus pun menjaga hatinya. Saya dan kita semua harus melakukan hal baik yang sama.

Sebagai penutup, saya bagikan satu ayat yang merangkum cara menjaga hati: “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”– Filipi 4: 8

Selamat merenung. Tuhan Yesus memberkati!

Pantang Menyerah

Oleh: Dwi Handayani, Orang Tua Siswa.

Anak adalah titipan Tuhan yang sangat berharga. Sebagai orang tua, kita pasti ingin menanamkan nilai-nilai kebaikan di hidupnya agar menjadi generasi yang tangguh dan mandiri di masa depannya.

Saya ingin berbagi cerita tentang putri pertama kami. Dia merupakan anak yang patuh dan penyayang, tetapi memiliki sifat pemalu serta cenderung manja. Ketika teman sebayanya mengajaknya bermain, ia lebih memilih lari pulang ke rumah dan hanya mau bermain jika saya menemaninya. Selain itu, daya juangnya masih lemah. Misalnya, saat mencoba membuat benda dari origami dan hasilnya tidak sesuai harapan, ia langsung menyerah dan enggan mencoba kembali.

Sebagai orang tua, kami selalu berusaha membimbing dan menyemangatinya agar lebih percaya diri serta mau berusaha. Kami terus mengingatkan bahwa tidak semua keinginannya dapat langsung terwujud tanpa usaha. Ada kalanya ia harus bekerja keras dan berjuang untuk mencapai sesuatu. Selain itu, kami juga menanamkan nilai syukur atas segala nikmat yang sudah Tuhan berikan. Kami ingin ia memahami bahwa menghargai apa yang dimiliki lebih penting daripada terus meminta lebih, karena masih banyak orang lain yang hidup dalam keterbatasan.

Pantang Menyerah

Pelajaran Berharga dari Sebuah Keinginan

Suatu hari, saat usia anak kami lima tahun, dia minta dibelikan mainan yang cukup mahal bagi kami, yaitu satu set mainan Plants vs Zombies. Kami pun tidak membelikannya karena mainannya sudah cukup banyak di rumah. Beberapa hari kemudian, ketika sedang mengikuti sekolah daring, ia memanggil saya dan menunjukkan layar laptop. Rupanya, ada teman laki-lakinya yang memegang mainan yang ia inginkan. Dengan penuh harap, ia kembali meminta hal yang sama. Namun, jawaban kami tetap tidak berubah. Kami menjelaskan alasan yang sama agar ia belajar memahami bahwa tidak semua keinginan bisa langsung terpenuhi.

Beberapa minggu kemudian, terjadi sesuatu yang sangat membekas dalam hati saya. Suatu siang, ia tiba-tiba berkata ingin berjualan. Awalnya, saya mengira ini hanyalah bagian dari permainan jual-jualan seperti biasanya. Saya mengiyakan saja karena dia suka mainan jual-jualan dan mama papanya disuruh menjadi pembeli. Namun, ternyata kali ini berbeda. Ia meminta saya membawakan meja belajar kecilnya ke teras depan rumah. Tidak lama kemudian, ia menempelkan kertas HVS bertuliskan “Mainan ini dijual, ya!” dengan hiasan warna-warni.

Ketika saya bertanya tujuannya, ia dengan penuh semangat menjawab, “Aku mau jualan karena aku mau dapet duit biar bisa beli mainan Zombie.”

Ternyata, tanpa kami sadari, ia mulai memahami pentingnya usaha untuk mendapatkan sesuatu. Ia tidak lagi sekadar meminta, melainkan mulai menunjukkan sikap pantang menyerah dengan mencari cara sendiri untuk mewujudkan keinginannya.

Baca Juga : Dibentuk dengan Berbagi Hidup

Sikap Pantang Menyerah dalam Berusaha

Tak lama setelah itu, ia masuk ke dalam rumah dan kembali membawa sekantong mainan serta beberapa camilan dari rak makanan. Dia letakkan berbagai cemilan tersebut, kemudian dia mengambil kertas, gunting, dan selotip. Dengan penuh antusiasme, ia menuliskan harga dan menempelkannya ke bungkus cemilan.

Saat dia meletakkan cemilan ke meja, saya lihat harga satu Beng-Beng Rp1.000.000 dan Nyam-Nyam Rp1.000.000.000. Hampir semua cemilan dia kasih harga fantastis. Saya hanya tertawa dalam hati. Ya… tentunya dia belum paham arti nol sebanyak itu. Walau geli melihat hal itu, saya terharu sekali. Saya tidak menyangka dia akan seniat itu untuk berjualan demi mendapatkan mainan yang dia mau. Entah dari mana asal ide itu, yang pasti saya dan suami cukup kaget melihatnya. Saat itu, saya mengelus rambutnya sambil berkata, “Jadi kamu mau jualan beneran, ya?”

Dia pun menjawab dengan semangat, “Iyaa… nih aku udah tulis harga makanannya, terus aku juga mau jualin mainan yang di kantong yang udah nggak aku suka.”

Melihat semangatnya, saya setuju untuk membantunya. Namun, karena saat itu siang hari dan matahari sangat terik, saya menyarankan untuk berjualan sore saja. Namun, ia tetap bersikeras ingin melanjutkan. Ia bahkan membuka pagar rumah lebar-lebar dan menggeser meja ke depan agar lebih terlihat oleh orang-orang. Dengan penuh semangat, ia duduk menunggu pembeli datang.

Setelah 15 menit berlalu tanpa ada satu pun pembeli, saya hanya bisa mengawasinya dari dalam rumah. Ia tetap duduk diam, mungkin sedang berpikir apakah usahanya akan berhasil atau tidak. Setelah lebih dari 20 menit, akhirnya saya berhasil membujuknya masuk dan berjanji untuk berjualan kembali di sore hari.

Buah dari Sikap Pantang Menyerah

Sore hari pun tiba. Sekitar pukul 4, ia kembali semangat untuk berjualan. Kami berdiskusi mengenai harga yang lebih masuk akal dan memilih mainan yang layak dijual. Mainan kecil diberi harga Rp1.000 atau Rp2.000 agar lebih mudah dibeli oleh anak-anak lain. Kebetulan, di dekat rumah ada musala yang ramai dengan anak-anak mengaji pada sore hari. Kami berharap ada beberapa anak yang tertarik membeli dagangannya.

Setelah mencoba berjualan selama tiga hari, uang yang terkumpul sebanyak 22 ribu rupiah. Dia senang bukan main. Kami berniat mau menambahkan uang untuk membelikan mainan yang dia mau. Saya pun bertanya, “Kamu jadi mau beli mainan Plants vs Zombies?”

Secara mengejutkan, dia menjawab, “Enggak jadi. Aku mau beli mainan makeup-makeupan aja!” sambil menunjukkan gambarnya di Tokopedia.

Apa pun akhirnya, kami salut atas usahanya, kami pun bersyukur karena anak kami akhirnya dapat memahami jika ingin mendapatkan sesuatu harus berusaha dan tidak pantang menyerah. Oh ya, ternyata dari hasil usaha berjualannya itu pula dia akhirnya belajar bersosialisasi dan lebih percaya diri, bahkan akhirnya mendapatkan teman baru untuk bermain setiap sore hari.

Pemuridan di Masa Pandemi: Be With and Befriend

Oleh: Bella Kumalasari, staf Pengembangan Karakter Sekolah Athalia

Billy Graham1 pernah berkata, “Salvation is free, but discipleship costs everything we have.” Kutipan ini sejalan dengan 2 Timotius 4:2 yang berbunyi, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya….”. Firman ini menegaskan pentingnya memberitakan firman Tuhan dalam segala situasi. Jujur, pesan-pesan semacam ini meneguhkan, sekaligus menggelisahkan kita yang melakukan pemuridan.

Pemuridan merupakan amanat agung dari Tuhan Yesus sendiri, yang Dia sampaikan sebelum naik ke surga. Bayangkan seseorang yang hendak pergi untuk selamanya, tentu pesan terakhirnya bukanlah hal remeh seperti, “Jangan lupa matiin kompor!” atau “Ganti gorden ruang tamu”. Pesan terakhir tentu sangat penting. Demikian pula pesan terakhir Tuhan Yesus yaitu pemuridan. Artinya, ini merupakan sebuah keharusan bagi setiap orang percaya, bukan pilihan.

Namun, semudah itukah melakukannya? Mari kita mengingat aspek yang lain, yaitu bahwa pemuridan juga adalah sebuah privilege atau hak istimewa. Sejak penciptaan, kita dipercaya Allah menjadi kawan sekerja-Nya (Kejadian 1: 28). Apakah Allah membutuhkan bantuan kita? Tentu tidak. Oleh sebab itu, kita mengenalnya sebagai anugerah karena sesungguhnya siapakah kita sehingga dipercayakan hal sebesar itu?

Pemuridan di Masa Pandemi Be With and Befriend

Pemuridan: Anugerah yang Harus Dibagikan

Anugerah Allah tidak berhenti saat penciptaan. Anugerah terbesar dari Allah adalah Putra-Nya yang tunggal yang mengosongkan diri-Nya, berinkarnasi menjadi manusia, mengambil rupa seorang hamba, merendahkan diri-Nya, dan taat bahkan sampai mati di kayu salib (Filipi 2: 7–8). Ya, untuk Anda dan saya. Pelayanan yang kita lakukan diawali oleh pelayanan Tuhan Yesus kepada kita. Ketika kita pernah mencicipi anugerah-Nya, tentu kita ingin membawa orang lain untuk juga mencicipinya.

Seperti kalimat D. T. Niles yang sangat terkenal, “Evangelism is just one beggar telling another beggar where to find bread2 atau jika diterjemahkan secara bebas dalam bahasa Indonesia: “Pemberitaan injil seperti seorang pengemis yang memberi tahu pengemis lainnya di mana mendapatkan roti”. Betul, Injil seharusnya benar-benar senikmat itu. Kasih karunia itu mengalir; kita bukan hanya menerimanya, melainkan juga membagikannya kepada orang lain. Kita tidak pernah diminta memberi kasih karunia lebih dari yang pernah kita terima.3

Baiklah, sekarang mari kita bahas secara praktis.

Baca Juga : Hati Sejuk di Zaman Penuh Tekanan: Renungan Amsal 24:10–12

Pemuridan di Masa Pandemi: Tantangan dan Adaptasi

Tidak disangkal bahwa masa pandemi telah mengubah banyak hal, termasuk cara kita beribadah dan bersekutu. Tiba-tiba, semua aktivitas tatap muka harus dihentikan, memaksa kita untuk beradaptasi. Namun, apakah pemuridan benar-benar harus terhenti? Atau kita harus tetap maju dengan beradaptasi? Ya, kita tetap maju dengan beradaptasi, menyesuaikan diri dengan segala kondisi yang tidak pernah kita jumpai sebelumnya.

Harus diakui, adaptasi bukanlah hal yang mudah. Kehidupan bergereja di masa pandemi bukan sekadar memindahkan yang luring menjadi daring. Kebutuhan kita sebagai makhluk sosial untuk berinteraksi secara langsung rasanya sulit sekali digantikan dengan hal-hal yang serbavirtual. Namun, apa iya tidak mungkin? Saya pun awalnya berpikir demikian.

Komisi pemuda di gereja saya memiliki persekutuan per wilayah yang dinamakan “dobar”, alias “doa bareng”. Dahulu kami biasa berkumpul di salah satu rumah ataupun tempat makan atau tempat nongkrong. Namun, sejak pandemi, pertemuan kami dibatasi dengan layar dan koneksi internet. Kondisi ini membuat beberapa dobar merosot. Keterbatasan berbicara, kendala koneksi internet, dan kendala lainnya membuat senda gurau serta percakapan ngalor ngidul dari yang penting hingga yang tidak penting sangat dirindukan.

Namun, justru dalam kondisi ini, pemuridan tetap berjalan dan bahkan bertumbuh. Beberapa anggota yang sebelumnya sulit hadir kini lebih leluasa bergabung. Jarak geografis pun bukan lagi hambatan; bahkan seorang teman dari Los Angeles bisa ikut serta sebagai fasilitator. Pengalaman ini mengajarkan bahwa pemuridan bukan sekadar kebersamaan fisik, tetapi tentang relasi dan pertumbuhan iman. Pandemi menantang kita untuk melihat apa yang benar-benar esensial dalam pemuridan—bukan hanya kebiasaan sosial, tetapi juga hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan dan sesama.

Hadir dan Peduli di Saat Sulit

Sulit bukan berarti mustahil. Justru di saat seperti ini, ketika makin banyak orang yang membutuhkan pertolongan baik secara dukungan moral, ekonomi, spiritual, maupun kesehatan mental, kelompok persekutuan/pemuridan sangat dibutuhkan. Pandemi tidak hanya membawa dampak secara fisik, tetapi juga secara psikologis dan spiritual. Banyak orang mengalami gangguan kecemasan dan depresi.4 Semakin banyak orang yang mencari Tuhan dan membaca Alkitab untuk mendapatkan kekuatan, kedamaian, dan harapan.5 Di saat makin banyak orang yang tertekan dan mencari dukungan, janganlah kita lengah untuk hadir bagi mereka. Mungkin yang mereka butuhkan hanyalah kehadiran dan perhatian yang tulus, seperti kisah yang saya alami berikut ini.

Bagi sekolah, masa pandemi membawa tantangan bagi guru baik dalam menyiapkan materi pelajaran yang menarik, beradaptasi dengan teknologi, maupun berelasi dengan para siswa. Pun bagi siswa itu sendiri. Mereka yang biasanya begitu aktif dipaksa harus di rumah saja. Mungkin tidak terlalu masalah jika lingkungan rumah cukup kondusif dan mendukung kenyamanan dan keamanan anak. Namun, jika tidak, siapa lagi yang mereka harapkan di luar keluarga mereka? Apakah guru dan pembimbing sekolah minggu/remaja hanya bertugas memberikan informasi dan pengetahuan? Tentu tidak. Di sinilah peran guru sebagai gembala dibutuhkan.

Kehadiran dan Perhatian dalam Pemuridan di Masa Pandemi

Suatu hari di masa pembelajaran jarak jauh (PJJ), saya ikut dalam kelas virtual kelas 1 SD saat Shepherding Time. Seorang siswi tampak murung dan mengungkapkan rasa sedihnya kepada pengajar. Karena ada materi yang harus disampaikan, pengajar menunda percakapan lebih lanjut, namun anak itu tetap terlihat kecewa. Saya hanya bertanya-tanya di dalam hati sambil kasihan: ada apa dengan anak ini?

Akhirnya, Shepherding Time selesai dan anak ini tetap tinggal di ruang virtual bersama pengajar, beberapa asisten pengajar, juga saya. Anak tersebut mengungkapkan bahwa ia sedih karena ingin kembali ke sekolah.

Kami para pendidik mengeluarkan reaksi beragam. Di benak saya terpikir, ya
ampun, karena pengin sekolah
. Saya geli sekaligus iba. Namun, para pengajar menanggapi dan menghibur dengan memberi semangat. Anak itu menjadi antusias sambil memainkan origami kapal yang baru saja dibuatnya saat Shepherding Time. Topik pembicaraan pun beralih karena dengan gembira dia bercerita tentang sudah pernah membuat kapal origami sebelumnya.

Kejadian ini sederhana, tetapi membuat saya berefleksi. Kepolosan seorang anak membuat dia dengan mudah menceritakan kesedihannya dan dengan mudah pula dihiburkan. Yang dia butuhkan hanyalah hal sesederhana itu – kehadiran dan perhatian yang tulus.

Tidak hanya anak kecil, saya juga menyadari bahwa beberapa remaja yang mengikuti KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) daring mencari persahabatan dan perhatian. Mereka berharap bisa merasa lebih terhubung, bukan hanya karena keseruan atau kebosanan. Dalam pengalaman pribadi, perhatian tulus dari teman-teman saya selama masa pandemi sangat membantu saya untuk tetap kuat. Kehadiran dan kasih sayang mereka benar-benar memberi kekuatan yang nyata, yang mengingatkan saya bahwa dalam situasi sulit, kehadiran dan perhatian adalah hal yang sangat berharga.

Memberi Apa yang Telah Diterima

Sering kali kita berpikir dengan rumit: apa yang harus kita lakukan dalam melakukan pemuridan di masa pandemi seperti ini: program, metode, teknologi, acara yang menarik, dan lain sebagainya. Alih-alih sukacita dan berpengharapan, kita justru digerakkan oleh kekhawatiran. Mari berhenti sejenak dan renungkan, sebenarnya apa esensi dari pelayanan ini? Seperti apa hati Tuhan bagi jiwa-jiwa yang kita layani?

Tuhan Yesus datang ke dunia memberikan diri-Nya sendiri. Dia memberikan kehadiran dan perhatian yang nyata kepada semua kaum. Demikian juga seharusnya kita. Meskipun pemuridan di masa pandemi bukanlah suatu hal yang mudah dan membutuhkan harga yang besar, ingatlah: kita tidak dapat memberikan apa yang tidak kita miliki, sebaliknya, kita hanya dapat memberikan apa yang sudah kita terima dari Tuhan. Be with and befriend! Bagikan kehadiran dan perhatian/persahabatan yang tulus kepada mereka yang kita muridkan, sebagaimana Allah telah hadir dan memperhatikan kita terlebih dahulu.

Referensi.

  1. Billy Graham, “Billy Graham: What’s the Cost of Following Jesus Christ?,” Billy Graham Evangelistic Association, 2 Agustus 2017, https://billygraham.org/audio/billy-graham-whats-the-cost-of-following-jesus-christ/.
  2. Evangelism Coach, “Evangelism Quotes and Quotations,” Evangelism Coach, 20 April 2019, https://www.evangelismcoach.org/evangelism-quotes-and-quotations/.
  3. Kyle Idleman, Grace Is Greater, trans. Tim Literatur Perkantas Jatim (Grand Rapids: Baker Books, 2017), 66.
  4. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, “Masalah Psikologis di Era Pendemi Covid-19,” Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, 14 Mei 2020, http://pdskji.org/home.
  5. Kate Shellnutt, “2020’s Most-Read Bible Verse: ‘Do Not Fear’,” Christianity Today, 3 Desember 2020, https://www.christianitytoday.com/news/2020/december/most-popular-verse-youversion-app-bible-gateway-fear-covid.html.

Makna Sejati Takut Akan Tuhan

makna takut akan tuhan

Oleh: Sylvia Radjawane

Apa yang Kita Pikirkan Saat Mendengar Kata “Takut”?

Setiap mendengar kata takut, apa yang kita pikirkan?
Bagi banyak orang, kata ini sering diasosiasikan dengan hal-hal yang negatif. Namun, ada satu jenis rasa takut yang justru paling positif di dunia ini — yaitu takut akan Tuhan.

Rasa takut yang satu ini membawa saya untuk mengalami hubungan yang semakin akrab dan indah dengan Tuhan. Mengapa demikian? Karena dalam hubungan yang terjalin itu, saya mengenal Tuhan bukan sebagai pribadi yang menakutkan, melainkan sebagai Pribadi yang penuh kasih karunia dan kuasa, yang setia menemani setiap langkah hidup saya.


Belajar dari Kehidupan Musa

Saya belajar dari kehidupan Nabi Musa, yang ucapannya tercantum dalam Ulangan 9:19. Musa adalah tokoh Alkitab yang memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir.
Namun, perjalanan hidupnya yang fenomenal tidak terjadi seketika. Awalnya, Musa menolak tanggung jawab yang Tuhan berikan dengan alasan, “Aku tidak pandai berkata-kata.” Ia merasa tidak layak diutus untuk memimpin bangsa Israel menuju tanah perjanjian.

Ketika akhirnya Musa memutuskan untuk menjalani panggilan Tuhan, perjalanan itu membawanya kepada hubungan yang semakin karib dengan Tuhan.
Ia bahkan berani berkata, “Walau aku tahu Tuhan murka dengan apa yang sudah dilakukan bangsa Israel, tapi aku kenal Tuhanku dan Ia akan mendengarkan permohonanku.”
Pernyataan ini menunjukkan adanya hubungan yang istimewa antara Musa dan Tuhan — hubungan yang hanya bisa dialami oleh seseorang yang benar-benar takut akan Tuhan.


Pengalaman dalam Kehidupan Pribadi

Dalam pengalaman pribadi saya, takut akan Tuhan bukan berarti saya harus melakukan segala sesuatu yang baik hanya karena takut akan hukuman Tuhan. Saya bisa saja patuh kepada Tuhan, tetapi tanpa memiliki hubungan yang akrab dengan-Nya.

Namun, Tuhan menginginkan hubungan yang berkualitas dengan saya. Karena itu, saya memilih untuk hidup dalam takut akan Tuhan.

Saat saya hidup dalam rasa takut yang benar kepada Tuhan, hubungan yang karib dan istimewa dengan-Nya membuat saya memiliki kesadaran untuk tetap dekat dengan Tuhan — dan justru takut untuk menjauh dari-Nya.


Hidup Berkenan di Hadapan Tuhan

Perspektif ini membawa saya pada keputusan hidup seperti berikut:

“Saya memutuskan dengan sadar untuk memilih cara hidup yang berkenan dan menyenangkan hati Tuhan, karena hubungan kami sangat istimewa. Saya ingin mempertahankannya demi kebaikan saya sendiri, yaitu pertumbuhan iman saya.”

Apakah mudah melakukan komitmen seperti ini? Mungkin tidak.
Namun, saya percaya hanya Tuhan yang sanggup memperbesar kapasitas hati saya untuk memiliki dan menjalankan komitmen seperti ini.


Hadiah dari Tuhan

Tuhan berkenan kepada orang yang hidupnya takut akan Dia.
Selalu ada berkat dan hadiah yang menanti bagi mereka yang memiliki rasa takut yang benar — bukan karena rasa terpaksa, tetapi karena kasih dan penghormatan yang tulus.

“Fear ensures compliance; Fear of God inspires commitment.”
Rasa takut biasa menuntut kepatuhan; takut akan Tuhan menumbuhkan komitmen.

Bertumbuh di dalam Panggilan Sebagai Orang Tua

Bertumbuh di dalam Panggilan Sebagai Orang Tua

Tuhan memanggil tiap kita untuk melayani-Nya dengan berbagai cara. Ada yang dipanggil melayani di gereja sebagai Hamba Tuhan. Ada yang dipanggil melayani di dunia profesional, dan ada yang dipanggil untuk melayani keluarga di rumah. Setiap orang lahir di dunia dengan perannya masing-masing dan Tuhan sudah merancangkannya dengan indah bagi kita. 

Misi Tuhan dalam Panggilan Orang Tua

Begitu juga dengan menjadi orang tua. Kita tidak pernah memilih untuk menjadi orang tua, melainkan Tuhanlah yang memanggil kita untuk menjadi orang tua. Sebagai orang percaya, kita mengimani bahwa rancangan Allah adalah yang paling baik. Kita memilih untuk mengikuti jalan Allah—yang tentu tak pernah mudah—dan menjadikan keimanan kita sebagai pelita untuk menerangi jalan kita. Begitu kita dipanggil untuk menjadi orang tua, Tuhan memastikan tidak akan membiarkan kita berproses sendirian dalam perjalanan panjang itu.

Lalu, apa misi Tuhan menitipkan seorang anak kepada kita? Apakah semata-mata hanya untuk mengasuh dan mendidik anak itu? Ternyata tidak hanya untuk itu. Ada rancangan yang lebih besar yang Tuhan mau kita lakukan, yaitu bertumbuh. 

Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Bertumbuh dalam Karakter Sebagai Orang Tua

Sebagai manusia, kita diminta untuk terus bertumbuh dan berkembang. Setiap waktu yang berlalu seharusnya membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Anak menjadi salah satu prasarana bagi kita untuk menjadi versi yang lebih baik dari diri sendiri. Pernahkah Anda merenungkan siapa Anda 10 tahun yang lalu dibandingkan dengan sekarang? Mungkin, dulu Anda adalah seseorang yang mudah marah atau impulsif. Namun, ketika anak hadir dalam kehidupan Anda, banyak hal yang memaksa Anda untuk menahan diri. Ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan sebelum mengucapkan atau melakukan sesuatu. 

Bertumbuh bersama anak bukan hanya tentang mereka yang belajar dari kita, tetapi juga tentang kita yang belajar dari mereka. Anak membentuk kita menjadi orang yang lebih baik. Bersama anak, kita bertumbuh bersama mereka. Tidak hanya mereka yang belajar dari kita. Justru, kita “dididik” oleh anak dengan cara yang sudah Tuhan rancangkan!

Menjadi Orang Tua yang Bertumbuh dalam Kasih Tuhan

Menjadi orang tua adalah proses yang tidak pernah berhenti. Di setiap tahap kehidupan anak, kita juga mengalami perubahan dan perkembangan. Anak-anak adalah sarana Tuhan untuk mendidik kita, sementara kita juga memiliki peran penting dalam mendidik mereka.

Setiap hari adalah kesempatan baru untuk bertumbuh dalam kasih, kesabaran, dan pengertian. Kita diajar untuk taat dan berserah saat kehabisan kata-kata menghadapi tingkah anak yang menjengkelkan. Kita diajarkan untuk bersabar dan menggunakan kasih dalam mendidik anak. Kristus menjadi satu-satunya teladan kita dalam menjalani parenting. Kita “dipaksa” untuk bertumbuh di dalam Allah melalui kehadiran seorang anak.

Baca Juga : Athalia Learning Community News Nomor 2 Tahun 2021

Selamat bertumbuh dalam karakter melalui peran kita sebagai orang tua. Anak-anak bisa menjadi salah satu sarana Tuhan mendidik kita, tetapi di sisi lain juga merupakan bagian dari peran kita sebagai orang tua. Mari terus belajar, membiarkan Tuhan mendidik kita, sambil mendidik anak-anak kita. Semuanya demi kemuliaan Allah!