Pojok Parenting: Menangkap “Golden Moment”

Orang tua menjadi lingkaran terkecil dalam kehidupan anak yang paling memberikan dampak dalam pembentukan karakter dan perilakunya di kemudian hari. Oleh karena itu, usia-usia krusial, yaitu 0–5 tahun menjadi begitu penting dan dapat digunakan orang tua untuk mengajari anak berbagai keterampilan hidup.

Saat di rumah bersama anak seperti sekarang ini dapat dijadikan momentum untuk memberikan sebanyak mungkin ajaran tentang kehidupan. Khususnya untuk anak usia dini, orang tua dapat memanfaatkan masa-masa ini untuk memberikan teladan dan mengajari anak tentang kebaikan dan keburukan.

Mungkin Anda sering tidak sabar dengan polah anak yang sering menumpahkan air minum, membuat rumah berantakan, sulit diatur dan diberitahu, mengajak saudaranya berkelahi, dan lain sebagainya. Kondisi-kondisi tersebut memang menguras emosi dan tenaga, apalagi jika Anda tak memiliki asisten rumah tangga di rumah. Namun, ayolah, kita renungkan kembali: apa yang bisa kita petik dari momen tersebut? Jangan biarkan momen tersebut berlalu begitu saja dan berakhir dengan Anda memarahi anak tanpa memberikannya pelajaran berharga. Apa yang harus anak lakukan saat menumpahkan air minumnya dan membuat rumah berantakan? Konsekuensi apa yang harus dihadapi anak saat tidak taat kepada orang tua dan mengusili saudaranya?

Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Cara Mengenali dan Memanfaatkan Golden Moment Anak

Ubah “momen melelahkan” tersebut menjadi “golden moment”. Jadikan momen tersebut gerbang masuk untuk Anda mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Daripada fokus dengan kejengkelan karena anak menumpahkan minumannya berkali-kali, Anda dapat menjadikan momen ini sebagai pembelajaran bagi anak untuk belajar tanggung jawab. Ajak anak untuk bersihkan tumpahan air minumnya. Ajari anak untuk menjadi pribadi yang lebih hati-hati. Rengkuh momen ini secepat mungkin.

Begitu juga ketika anak terus-menerus membantah dan tak mau mendengarkan orang tua. Apa yang harus anak pelajari tentang ketaatan? Ketika anak mengganggu saudaranya, apa yang dapat dia pelajari tentang mengasihi dan menghormati saudaranya? Orang tua memang memikul tugas besar untuk membentuk karakter anak dan dari momen-momen seperti inilah (hal yang terjadi secara nyata) Anda bisa mengajarkan tentang karakter.

Anak-anak usia dini adalah pembelajar ulung, tetapi mereka juga jiwa-jiwa yang sangat membutuhkan bimbingan langkah per langkah. Syukuri segala hal yang terjadi di rumah dan berikan respons yang dapat “membangun” karakter anak sekaligus mempererat relasi antaranggota keluarga. [DLN]

Kok Bisa Merasa Cukup Padahal Hidup Biasa Aja?

Apakah Anda sering mendengar orang mengeluhkan hal-hal yang belum mereka miliki dalam hidupnya? Kalimat seperti “andai aku punya lebih banyak uang” atau “kalau saja aku punya pekerjaan yang lebih baik” sering kali terdengar dalam percakapan sehari-hari. Hal ini mencerminkan satu hal mendasar dalam diri manusia, yaitu rasa belum cukup atau rasa kurang.

Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang penuh keinginan. Saat sudah memiliki satu hal, muncul keinginan untuk memiliki dua. Begitu mendapat dua, muncul harapan untuk yang ketiga. Tanpa disadari, siklus ini terus berlanjut dan membuat kita merasa tidak pernah cukup. Padahal, rasa cukup sejatinya tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki. Rasa ini justru datang dari sikap hati yang tahu cara bersyukur atas apa yang telah dimiliki.

Bersyukur adalah fondasi dari rasa cukup. Bersyukur akan berkat dan kasih karunia Tuhan akan menuntun kita untuk menghargai hal-hal kecil dalam hidup dan melihat makna di baliknya. Dengan hati yang bersyukur, kita belajar menerima kekurangan tanpa merasa kehilangan.

Namun, bagaimana cara mengajarkan rasa cukup kepada anak-anak di tengah dunia yang serba cepat dan konsumtif? Yuk, simak bersama dan temukan jawabannya di video ini!

Dengan membiasakan anak untuk melihat ke dalam dan mensyukuri apa yang ada, kita sedang membangun pondasi kehidupan yang kuat—bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depannya.

Baca Juga : Penyertaan Tuhan Itu Nyata? Ini Buktinya

tags:

#sekolahathalia #komunitassekolahathalia #sekolahkarakter #sekolahkristen #rightfromthestart #benarsejakawal #characterbasedlearningcommunity #cukup #merasacukup

Kejujuran: Berani Menjadi Diri Apa Adanya

Amsal 20 ayat 11 mencatat bahwa anak-anak pun sudah dapat dikenal dari perbuatannya, apakah bersih dan jujur kelakuannya. Artinya, sejak usia dini, anak sudah menunjukkan karakter dasar yang terlihat melalui tindakannya sehari-hari. Salah satu karakter yang sangat penting untuk dibentuk sejak kecil adalah kejujuran.

Meskipun begitu, membentuk karakter jujur pada anak tidak selalu mudah dan memerlukan pendekatan yang konsisten serta penuh kesabaran. Anak-anak sering kali memilih untuk berbohong karena rasa takut akan konsekuensi yang mungkin timbul, seperti dimarahi, dihukum, atau dipermalukan.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan pengajar untuk menciptakan lingkungan yang aman dan suportif, di mana anak merasa dihargai saat menyampaikan kebenaran. Memberikan pujian dan penguatan positif ketika anak menunjukkan kejujuran akan membantu mereka memahami bahwa bersikap jujur merupakan nilai yang dihargai dan dibanggakan. Selain itu, kejujuran bukan hanya diajarkan lewat kata-kata, tetapi juga melalui contoh nyata dari orang dewasa. Orang tua dan pengajar perlu membiasakan diri hidup dalam kejujuran, baik hal kecil maupun hal besar.

Bu Charlotte dalam video “Kejujuran: Berani Menjadi Diri Apa Adanya” membahas bagaimana cara melatih karakter jujur anak secara konsisten. Mari simak video di bawah ini!

Semoga video ini dapat menjadi berkat dan membantu membangun karakter jujur dalam keluarga.

Baca Juga : Menjadi Otentik, Kunci Bertumbuh

tags :

#sekolahathalia #komunitassekolahathalia #sekolahkarakter #sekolahkristen #rightfromthestart #benarsejakawal #characterbasedlearningcommunity #jujur #karakter #karakterjujur

Tahun Ajaran Baru “Melangkah dengan Iman”

Oleh: Bella Kumalasari, Staf Karakter – PK3

Mengakhiri dan memasuki tahun ajaran baru dengan situasi bekerja dan belajar dari rumah tentu bukan menjadi kebiasaan kita. Situasi ini terasa asing, mungkin aneh. Di satu sisi, suasana belajar dari rumah bisa terasa nyaman, tetapi di sisi lain juga menyedihkan dan membawa gejolak di dalam hati.

Pandemi Covid-19 seolah membawa kita masuk ke dalam ketidakpastian yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, mudahnya konektivitas global melalui internet, dan hadirnya artificial intelligent, kita justru dihadapkan dengan ‘musuh’ yang bahkan tidak bisa kita lihat. Virus yang sangat kecil ini memorakporandakan seluruh rencana yang mungkin sudah kita susun sejak awal tahun atau bahkan tahun lalu.

Beberapa rencana yang telah disusun sejak lama seperti liburan atau bertemu dengan keluarga di kampung halaman terpaksa harus ditunda. Sementara itu, kebijakan-kebijakan pemerintah yang terus diperbarui membuat sebagian masyarakat kebingungan, tetapi rasanya tidak kunjung menjawab persoalan. Ajakan untuk hidup di ‘normal’ yang baru sudah dicanangkan dengan gamblang. Namun, apakah semudah itu menjalaninya?

Dapat dikatakan bahwa pandemi ini menimbulkan penderitaan bagi umat manusia. Mungkin kita mulai meragukan Allah, jiwa kita lelah dan terkuras, atau kita sangat khawatir dan mulai bertanya, “Sampai kapan kita akan bertahan?” Namun, alih-alih menjadi semakin terpuruk karena kondisi ini (atau kondisi lainnya kalaupun bukan virus corona), mari kita datang kepada Allah, Sang Batu Karang yang teguh.

Allah Berdaulat dalam Setiap Tahun Ajaran Baru

Allah adalah Allah yang berdaulat atas segala sesuatu—termasuk dalam kesulitan yang kita anggap pahit. Ia mengizinkan segala sesuatu terjadi dalam kendali-Nya, bukan karena Ia gemar melihat manusia menderita, melainkan karena hikmat-Nya yang sempurna dan kasih-Nya yang tidak berubah. Allah tidak bertindak secara plin-plan. Ia tidak dikuasai oleh kebingungan atau perubahan. Dalam segala penderitaan, penyakit, bencana, atau krisis, Tuhan tetap memegang kendali. Justru karena kita tidak mampu memahami-Nya sepenuhnya, maka Ia layak dipercaya.

John Piper (2020) menyampaikan bahwa, “Kedaulatan yang memerintah atas penyakit adalah juga kedaulatan yang menopang dalam masa kehilangan. Kedaulatan yang mencabut nyawa adalah kedaulan yang juga mampu menaklukkan maut dan membawa orang-orang percaya ke surga dan kepada Kristus. Kedaulatan yang dapat menghentikan wabah virus corona. Meski sekarang tidak melakukannya, adalah kekuatan yang sama yang memelihara jiwa-jiwa yang sekarang ada di dalamnya”.

Kita mungkin tidak memahami jalan pikiran-Nya. Namun, firman-Nya mengajarkan bahwa tidak seekor burung pipit pun jatuh tanpa izin-Nya. Bahkan rambut di kepala kita pun terhitung. Maka, kita dapat yakin bahwa tidak ada virus pun hadir tanpa sepengetahuan-Nya. Kabar baiknya, kita jauh lebih berharga dibanding banyak burung pipit (Mat. 10:29–31).


Baca Juga : Athalia Learning Community News Edisi Juni – Juli Tahun 2020

Allah yang Mengasihi Kita

Lebih dari sekadar berdaulat, Allah juga adalah Pribadi yang mengasihi kita. Roma 8:32 menyatakan, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakan mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?

Kerelaan Allah menyerahkan Anak-Nya yang tunggal telah membuktikan kasih-Nya kepada kita sekaligus menegaskan betapa Ia akan memakai seluruh kedaulatan-Nya untuk “mengaruniakan segala sesuatu kepada kita”. Ya, segala sesuatu, termasuk ketika “… kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari …” (Roma 8:36) demi kemuliaan-Nya—entahkah membawa kita melewati bahaya maut ini dengan selamat ataupun seperti yang dikatakan Paulus dalam ayat-ayat selanjutnya, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup … tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 8:38-39).

Keberadaan Allah yang berdaulat sekaligus mengasihi saya membuat kita dapat melangkah dengan yakin bahwa ada tangan yang memegang hidup kita dengan sempurna meskipun kita tidak dapat melihat berpuluh-puluh langkah ke depan. Kedaulatan-Nya dalam menciptakan dunia ini, kasih-Nya dalam kisah penebusan di kayu salib dan kubur yang kosong, tidak berhenti sebagai kisah klasik beribu-ribu tahun yang lalu ataupun suatu kisah “dongeng” yang indah dalam kekekalan kelak. Ia ada saat ini, di sisi Anda dan saya, terlibat dan menentukan ini dan itu dalam setiap detik kehidupan kita, “… supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia” (1 Tes. 5:10).


Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Menghidupi Tahun Ajaran Baru dalam Rengkuhan Kasih-Nya

Di tengah semua perubahan, marilah kita menyambut tahun ajaran baru dengan iman yang diperbarui. Kita memiliki Tuhan yang tidak pernah keliru dan senantiasa menyertai. Kedaulatan dan kasih-Nya bukanlah teori, melainkan kenyataan yang bisa kita alami setiap hari.

Mari mengarahkan hati kepada-Nya. Selamat memulai tahun ajaran baru di dalam rengkuhan kasih dan kedaulatan-Nya yang tak pernah berubah.

*Artikel ini merupakan sebuah refleksi dari beberapa referensi buku dan webinar, meliputi Coronavirus and Christ (John Piper, 2020), Where Is God in A Coronavirus World? (John Lennox, 2020), serta webinar apologetika mengenai kejahatan dan penderitaan oleh Bedjo Lie, M.Th.

Protokol Kesehatan di Masa New Normal

Sangat penting untuk kita memahami protokol kesehatan. Tidak hanya memahami tapi juga menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari, karena cepat atau lambat sepertinya kita mesti membiasakan diri dengan tatanan baru dalam menjalani keseharian dan berinteraksi dengan sesama berkaitan dengan pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan akan berakhir. Untuk mempersiapkan diri menghadapi masa new normal, berikut infografis panduan protokol kesehatan yang bisa dijadikan panduan bagi kita bersama.

poster protokol kesehatan

Dengan memahami dan menerapkan panduan ini dengan baik dan benar, diharapkan kita dapat tetap hidup sehat di tengah akivitas kita sehari-hari. Saling menjaga keselamatan baik diri sendiri maupun orang lain yang kita temui.

Baca Juga: Tips agar Vaksinasi Anak Berjalan Lancar

Berbagi: Ajarkan Anak Hidup Hemat dan Peduli Sesama

Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak besar bagi berbagai aspek kehidupan, tak terkecuali dalam hal ekonomi. Banyak orang yang menghadapi tantangan finansial, mulai dari pengurangan pendapatan, kehilangan pekerjaan, hingga meningkatnya kebutuhan sehari-hari. Di tengah situasi yang serba tidak pasti ini, justru terbuka peluang berharga untuk mengajarkan nilai-nilai penting kepada anak, salah satunya adalah bagaimana bijak dalam menggunakan uang dan sumber daya yang lain. Selain itu, yang tak kalah penting adalah belajar berbagi.

Bagaimana cara memulainya? Salah satu triknya adalah dengan menggunakan pendekatan yang menyenangkan dan penuh makna akan lebih efektif. Misalnya, melibatkan anak dalam menyusun anggaran belanja keluarga, tantang mereka menabung untuk barang impian, dan ajak berdiskusi tentang pentingnya berbagi. Kegiatan seperti mendaur ulang barang lama untuk dijadikan hadiah atau proyek kreatif juga bisa memperkuat nilai hemat sekaligus melatih empati.

Ingin tahu lebih banyak cara kreatif dan inspiratif untuk mengajarkan hidup hemat pada anak?

Yuk, tonton video ini bersama keluarga dan temukan inspirasinya!

Dengan membiasakan anak untuk hemat dan berbagi, kita tidak hanya menanamkan nilai finansial, tetapi juga membentuk karakter yang bijak, peduli, dan bertanggung jawab sejak dini.

Sudahkah kita memberi contoh hidup bijak dan peduli kepada anak-anak kita? Karena sejatinya, anak belajar bukan dari kata-kata, tetapi dari apa yang mereka lihat dan rasakan setiap hari. Mari jadikan momen ini sebagai langkah awal membangun kebiasaan baik dalam keluarga!

Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

tags:

#sekolahathalia #komunitassekolahathalia #sekolahkarakter #sekolahkristen #rightfromthestart #benarsejakawal #characterbasedlearningcommunity #hemat #hiduphemat #memberi #sharing

Tabah: Bertahan dan Berjuang Hingga Akhir

tabah

Setiap orang tua tentu ingin membesarkan anak mereka menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah menyerah, dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan kepala tegak. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian ini, membangun karakter tabah menjadi sangat penting. Dengan karakter ini, kita akan tetap bertahan dalam situasi sulit dan menyelesaikannya sampai akhir. Namun, bagaimana cara terbaik dalam membentuk anak-anak menjadi sosok yang tabah?

Melalui video “Tabah: Bertahan dan Berjuang Hingga Akhir“, Ibu Charlotte Priatna mengupas soal karakter tabah. Beliau mengatakan bahwa dalam karakter ini, ada proses pembelajaran yang konsisten dan penuh keteladanan yang perlu dilakukan oleh orang dewasa, khususnya orang tua.

Selain keteladanan, proses mendidik anak agar memiliki karakter ini juga membutuhkan ruang untuk mereka menghadapi kesulitan sendiri. Memberikan mereka kesempatan untuk menyelesaikan masalah, mengelola emosi, dan bangkit dari kegagalan akan memperkuat jiwa dan mental mereka.

Kiranya video ini tidak hanya mengajak kita merenung, tetapi juga mendorong kita untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh dan lembut dalam membentuk karakter anak. Karena dalam setiap proses belajar bertahan, kita pun sedang diproses untuk menjadi lebih tabah.

Baca Juga : Rahasia 30 Tahun Perjalanan Karakter

tags:

#sekolahathalia #komunitassekolahathalia #sekolahkarakter #sekolahkristen #rightfromthestart #benarsejakawal #characterbasedlearningcommunity #karakter #tabah #endurance

6 Cara Seru Mendampingi Anak Belajar di Rumah

Tiga bulan sudah anak-anak belajar di rumah, berinteraksi dengan pengajar mereka secara virtual. Orang tua menjadi pihak yang paling berperan dalam pembelajaran sekolah anak belakangan ini. Dengan bimbingan dan panduan orang tua, anak dapat melanjutkan proses belajar dengan berbagai materi yang tersedia di rumah.

Namun, banyak yang mengakui bahwa menemani anak belajar di rumah menjadi tantangan tersendiri, khususnya anak usia TK dan SD yang membutuhkan pendampingan penuh. Lantas, adakah trik khusus dalam mendampingi anak belajar tanpa hambatan berarti?

Tips & Trik Mendampingi Anak Belajar

1. Pahami kondisi saat ini

Untuk dapat memahami sesuatu, Anda harus menerimanya secara sadar. Saat ini, kondisi memang sedang tidak ideal untuk siapa pun: untuk Anda yang harus mendampingi anak belajar di sela-sela kesibukan bekerja dan mengurus rumah tangga, untuk anak yang tak dapat bertatap muka dengan pengajarnya, juga untuk para pengajar yang harus menyiapkan materi belajar di rumah.

Anda tak perlu meminta anak untuk menjadi ideal. Maklumilah jika anak belum memahami materi walau Anda sudah mengulangnya, pahami jika anak meminta istirahat sebentar setelah mengerjakan beberapa soal.

Ketika Anda menyadari kondisi dan kemampuan anak, Anda akan menjalani hari-hari dengan lebih santai.

2. Ciptakan suasana nyaman saat mendampingi anak belajar

Suasana apa yang membuat anak merasa nyaman melakukan sesuatu? Tentu saja suasana santai, “cair”, dan penuh sukacita! Bagaimana Anda dapat berharap anak mampu mengikuti instruksi dan belajar sesuatu jika dia berada di dalam suasana yang tidak menyenangkan, menegangkan, dan terus-menerus diomeli? Justru situasi ini rentan membuat anak stres dan enggan belajar lagi di kemudian hari.

Ciptakan suasana nyaman agar anak “ketagihan” belajar bersama Anda dan menunggu-nunggu momen belajar tiap harinya.

3. Suasana positif

Banyak orang tua yang berfokus pada progres yang besar dan tak menganggap progres kecil. Seberapa pun kecilnya, progres tetaplah sebuah kemajuan. Jangan lupa untuk terus memuji anak ketika dia berhasil menyelesaikan satu atau dua soal atau berhasil menghafal rumus. Berikan semangat dan afirmasi positif agar semangatnya terjaga terus sampai sesi belajar berakhir.

Hindari memaksa anak untuk belajar terus-menerus. Ketika suasana sudah mulai terasa negatif, Anda dapat menghentikan sesi belajar sejenak dan menggantinya dengan melakukan hal-hal menyenangkan untuk mengembalikan mood Anda dan anak. Anda bisa mengajak anak untuk belajar kembali ketika suasana sudah kembali positif.

Baca Juga : Kiat-Kiat Mendampingi Remaja Saat Menghadapi Masalah

4. Atur waktu fleksibel untuk mendampingi anak belajar

Tidak apa-apa jika anak belajar tidak sesuai jadwal sekolah. Untuk anak yang lebih kecil, orang tua harus pintar menangkap momen. Ajak anak beraktivitas saat mood-nya sedang baik dan dia sedang bersemangat untuk melakukan aktivitas sekolah. Jadi, tidak masalah jika anak memang belum mau diajak “sekolah” pada pagi hari. Anda dapat mencobanya saat siang atau sore hari.

Hindari mengajak anak belajar saat sedang lapar, mengantuk, atau saat suasana hatinya sedang tidak baik. Ini justru akan semakin membuat anak rewel, marah, dan Anda pun akan ikut-ikutan frustrasi.

Sementara itu, untuk anak yang lebih besar, tidak ada salahnya Anda memberikan keleluasaan untuk anak memilih waktu belajarnya sendiri. Tentu saja Anda tetap harus memberikan batasan waktu kepada anak agar tidak belajar hingga larut malam. Tugas Anda adalah mengawasi aktivitas belajar anak dan mengajarinya bijak dalam mengatur waktu.

5. Penuhi “tangki emosi” Anda sebelum mendampingi anak belajar

Sebagai pendamping anak, Anda pun harus memastikan suasana hati sedang baik saat menemani anak belajar. Jika mood Anda sedang tidak baik, emosi Anda akan lebih mudah terpancing. Jika sudah begini, suasana belajar pun akan tidak menyenangkan. Output yang diharapkan pun tak tercapai.

Persiapkan diri sebelum menemani anak belajar. Pilih waktu-waktu tenang agar kedua belah pihak menjalani sesi ini dengan suasana hati dan semangat yang sama.

6. Tetap terapkan disiplin

Walau anak belajar di rumah, bukan berarti dia bisa melakukan banyak hal sekehendaknya. Anda tetap harus memberikan batasan-batasan. Misalnya, anak tetap harus bangun pagi—untuk membiasakannya ketika nanti kembali masuk sekolah, sarapan sesuai jamnya, dan lain sebagainya. Anda bisa memberikan jadwal, misalnya memberikan rentang waktu untuk anak belajar (yang dapat dia pilih sendiri), misalnya, pukul 10–12, 14–16, 20–22, atau waktu-waktu lain untuk anak yang usianya lebih kecil.

Momen mendampingi anak belajar di rumah menjadi momen langka yang belum tentu terulang lagi ke depannya. Jadi, berikan kenangan baik untuk anak mengingat bahwa ada masanya orang tua mereka menjadi pengajar yang asyik selama mereka belajar di rumah. [DLN]

Pengendalian Diri: Tembok Pertahanan Diri

Selama masa pandemi, banyak kebiasaan yang harus ditunda demi menjaga kesehatan bersama. Tidak sedikit orang merasa rindu untuk kembali menghabiskan waktu akhir pekan di restoran favorit atau berjalan-jalan di mal bersama keluarga. Keinginan untu kembali ke rutinitas itu sangat manusiawi, tapi di saat yang sama, situasi ini mengajarkan kita satu hal penting : pengendalian diri. Di tengah berbagai keterbatasan, kita ditantang untuk menahan diri kemudian menjadi teladan bagi anak-anak.

Pengendalian diri bukanlah sesuatu yang muncul secara instan, melainkan keterampilan yang perlu diasah secara konsisten. Bagaimana cara membangun dan melatih karakter ini secara efektif, terutama dalam siuasi yang penuh tantangan seperti masa pandemi? Apa langkah-langkah konkret yang dapat diambil?

Untuk memahami lebih dalam mengenai pentingnya pengendalian diri serta strategi praktis dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, mari simak video singkat berikut ini:

Kita dapat menjadikan masa sulit ini sebagai momen untuk belajar, baik bagi diri sendiri maupun anak-anak. Setiap keputusan kecil yang kita ambil hari ini, seperti menunda bepergian atau memiliki aktivitas aman di rumah, adalah bentuk nyata dari pengendalian diri yang berdampak besar.

Yuk, bersama-sama kita tumbuhkan karakter ini agar kelak anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang kuat, bijak, dan penuh tanggung jawab.

Baca Juga : Berbagi: Ajarkan Anak Hidup Hemat dan Peduli Sesama

Tags :

#pengendaliandiri#buahroh#sekolahathalia#komunitassekolahathalia #sekolahkarakter#sekolahkristen#rightfromthestart#benarsejakawal #characterbasedlearningcommunity

“Quality Time” bersama Keluarga dengan Bermain Ular Tangga

Pandemi Covid-19 membuat banyak keluarga harus di rumah saja. Orang tua bekerja di rumah, sedangkan anak belajar di rumah. Situasi ini tentu tidak mudah, baik bagi orang tua maupun anak. Sebagian anak mungkin mulai merasa jenuh karena kehilangan momen bersosialisasi, bermain bersama teman, atau sekadar beraktivitas di luar ruangan.

Di tengah kondisi ini, muncul pertanyaan penting: kira-kira, apa yang bisa dilakukan orang tua untuk membuat anak selalu bersemangat menjalani hari-hari setelah belajar di rumah?

Praktisi homeschooling, Aar Sumardiono, dalam artikelnya berjudul “Sekolah Libur karena Virus Corona, Ini Tips untuk Orangtua Temani Anak Belajar di Rumah” (Kompas.com, 16 Maret 2020), menyampaikan pendapatnya soal kondisi di rumah saja. Menurutnya, kondisi ini bisa dimaknai sebagai kesempatan untuk menjalin relasi yang lebih dalam dengan anak.

Quality Time Lewat Cerita dan Aktivitas Bermakna

Di hari-hari biasa, interaksi antara orang tua dan anak seringkali terbatas. Sarapan pagi mungkin menjadi satu-satunya waktu bercengkerama sebelum semua berpencar menjalani rutinitas masing-masing. Ketika malam tiba, tubuh sudah lelah dan hanya ingin beristirahat. Rutinitas semacam ini, meski wajar, membuat ruang untuk menjalin kedekatan jadi sangat sempit.

Namun, pandemi memberi kita waktu. Waktu yang bisa dimaknai sebagai peluang untuk mempererat hubungan antaranggota keluarga. Setelah menyelesaikan tugas dan pekerjaan, sisa hari bisa diisi dengan aktivitas yang menyenangkan dan bermakna—seperti mengobrol, bercerita, atau sekadar tertawa bersama. Ini adalah bentuk quality time.

Beberapa orang tua mengaku bingung cara memulai interaksi dengan anak. Media apa yang bisa digunakan sebagai ice breaker? “Masa hanya duduk bareng di ruang TV dan meminta anak bercerita tentang kesehariannya?”

Tentu Anda perlu kreatif! Pikirkan media yang bisa digunakan untuk seru-seruan dengan anak. Salah satu caranya, yaitu dengan bermain! Yes! Pilih permainan yang memungkinkan anak dan orang tua menjalin relasi lebih dekat. Salah satunya melalui permainan ular tangga.

Ular Tangga Bercerita: Permainan Sederhana, Makna Mendalam

Ada yang menarik dari permainan yang satu ini. Permainan ini berisi angka-angka sehingga kita bisa memodifikasi ketentuan bermain. Mari coba bermain ular tangga bercerita! Setiap pemain mengocok dadu, menjalankan pion, dan menganggap angka-angka yang dilaluinya sebagai hitungan usia. Misalnya, jika pion pemain berhenti di angka 17, pemain harus menceritakan pengalaman mengesankan saat berumur 17 tahun. Saat pion anak menyentuh angka 40, anak bisa menceritakan “bayangannya” saat ia nanti berusia 40 tahun. Saat pion bertemu dengan ular dan harus turun ke bawah, orang tua maupun anak bisa bercerita tentang kegagalannya. Lalu, saat pion anak merangkak naik karena melalui tangga, anak juga diminta menyebutkan karakter apa saja yang harusnya dimiliki untuk mencapai kesuksesan.

Orang tua bisa menggunakan media permainan ular tangga untuk berkisah, mendengarkan cerita anak, sampai menanamkan karakter. Permainan ini sederhana, mudah, dan tidak memerlukan biaya besar. Orang tua dan anak bisa belajar bersama lewat kisah-kisah yang dibagikan atau “menikmati” satu kisah untuk dibahas lebih dalam untuk diambil hikmahnya. Bukankah ini media terbaik untuk menjalin relasi?

Apakah Anda punya ide permainan lain yang sama serunya? [SO]