ICON Camp SMA Athalia 2022

Oleh: Bella Kumalasari, staf Pengembangan Karakter Sekolah Athalia

Pendidikan Karakter di Sekolah Athalia

Pendidikan karakter di Sekolah Athalia, sebuah sekolah di Serpong, telah dimulai sejak dini. Siswa dibentuk untuk menjadi pribadi yang bersukacita, bertanggung jawab atas kewajibannya, serta peduli dengan sekitar. Semua itu bertujuan mempersiapkan siswa agar dapat memberi dampak dan berkontribusi secara lebih luas bagi masyarakat. Apalagi sebentar lagi mereka juga akan memasuki dunia perguruan tinggi. Oleh sebab itu, profil karakter siswa SMA Athalia adalah Influencing and Contributing.

Kamp Karakter di SMA Athalia

ICON Camp (Influencing and Contributing Camp) menjadi salah satu sarana pembentukan karakter siswa SMA Athalia. Acara ini diadakan secara khusus di kelas 11. Melalui kamp ini, siswa diingatkan kembali mengenai karakter yang mereka pelajari selama di jenjang SMA. Mereka diberi ruang untuk mengevaluasi diri sudah sejauh mana belajar dan menghidupi karakter-karakter yang dibinakan. Juga untuk mengembangkan karakter-karakter tersebut di masa mendatang dengan lebih baik.

Tema ICON Camp Tahun Ini

ICON Camp SMA Athalia tahun ini mengangkat tema “Be You Till Full”. Para guru mencermati, pembelajaran di masa pandemi memang dilakukan secara terbatas. Namun, di sisi lain siswa memiliki ruang yang luas untuk mengeksplorasi minat dan bakatnya. Bukankah hal ini dapat menjadi kesempatan untuk mendorong siswa memaksimalkan minat dan bakatnya untuk berdampak dan berkontribusi secara lebih luas?

Sebelum pelaksanaan ICON Camp, siswa menjalani tes psikologi untuk mengenal bakat dan minatnya. Setelah itu mereka dibagi ke dalam kelompok dengan anggota yang memiliki kecerdasan berbeda-beda. Mereka diminta untuk merancang sebuah proyek ICON yang akan disayembarakan pada hari H. Di sini, setiap siswa belajar untuk bekerja sama dan mengambil bagian dalam melakukan proyek ICON.

Acara ICON Camp

Ketika hari ICON Camp tiba, siswa mengikuti acara selama dua hari. Di hari pertama mereka dipandu untuk mengenal diri. Selain itu juga memaksimalkan kelebihan untuk menjadi berkat bagi orang lain melalui materi, permainan, dan diskusi. Di hari kedua, siswa diberi kesempatan untuk mendengarkan pemaparan dari beberapa narasumber. Para narasumber ini adalah mereka yang sudah menunjukkan influencing and contributing dalam hidupnya. Contohnya seperti mendirikan rumah baca di daerah terpencil serta membuka usaha pengolahan sampah.

Kisah ICON dari para narasumber ditutup dengan presentasi siswa mengenai proyek ICON yang sudah mereka rancang. Dari lima belas kelompok, terpilih tiga kelompok dengan rancangan proyek terbaik.

Proyek-proyek terbaik:

  • Pertama adalah Thrift It, yaitu penjualan baju bekas layak pakai ataupun baju-baju sisa ekspor sebagai salah satu cara mencari dana. Nnantinya dana yang terkumpul didonasikan kepada orang yang membutuhkan.
  • Kedua adalah Ecomplex, yaitu pengolahan sampah dapur (sisa kulit buah dan sayuran busuk). Sampah organik ini diolah menjadi produk daur ulang berupa pupuk cair.
  • Ketiga, Maskerin (masker kain), merupakan proyek mengampanyekan gerakan memakai masker kain daripada masker sekali pakai.

Harapan untuk Peserta ICON Camp

Kiranya melalui proyek-proyek yang akan direalisasikan ini, siswa dapat berlatih untuk merencanakan, mengelola, serta memperjuangkan sesuatu yang dapat membawa pengaruh dan dampak bagi sesama dan lingkungan. Proyek ICON menjadi miniatur proyek-proyek nyata yang dapat dilakukan oleh siswa di masa yang akan datang dalam lingkup yang lebih luas. Karena sesungguhnya setiap siswa dipanggil untuk menjadi murid Tuhan yang menjadi terang dan garam bagi dunia (Matius 5:13-16).

Tips Mendampingi Anak TK dan SD Kembali Sekolah Onsite

Oleh: Chandria Wening Krisnanda (Konselor Bina Karir Sekolah Athalia)

Situasi Saat Ini

Belakangan, kasus harian orang yang terpapar COVID-19 tidak sebanyak dulu. Bahkan, per 17 Mei 2022 Jokowi mengumumkan bahwa masyarakat diperbolehkan tidak menggunakan masker ketika berkegiatan di luar ruangan atau di area terbuka yang tidak padat orang (Nugraheny, 2022). Kondisi ini mendorong sekolah-sekolah mulai memberlakukan sistem pembelajaran onsite di semester depan.

Bagi beberapa anak TK dan SD, kembali belajar di sekolah setelah lebih dari dua tahun menjalani PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) membutuhkan proses penyesuaian. Orang tua perlu membantu anak agar merasa nyaman ketika menjalani masa transisi ini. Bagaimana caranya? Dalam laman resminya, UNICEF menyebutkan beberapa tips yang dapat dilakukan orang tua.

Tips Bagi Orang Tua Mempersiapkan Anak Kembali Belajar Secara Onsite

1. Dengarkan anak

Dengarkan dengan saksama ketika anak bercerita tentang kekhawatirannya. Untuk anak yang berusia lebih kecil, kita dapat melakukan role play di rumah yang menggambarkan situasi “back to school”. Orang tua juga bisa mengajak anak menggambar bersama untuk setiap tahapan yang harus mereka lakukan nantinya saat kembali ke sekolah.

2. Membantu anak membuat persiapan

Dampingi anak untuk mempelajari aturan-aturan baru saat mereka kembali ke sekolah. Jangan lupa untuk mendiskusikan tentang apa yang mereka rasakan. Jika ada hal penting yang diceritakan anak, maka kita dapat mengomunikasikannya dengan guru mereka.

3. Tetap tenang

Ingatlah bila anak usia TK dan SD sangat mudah menyerap dan meniru respons orang tuanya terhadap suatu peristiwa. Kita perlu tetap bersikap tenang agar anak dapat merasa lebih nyaman dan aman.

4. Buatlah rencana perpisahan

Untuk anak yang berusia lebih besar, kita dapat mencoba beberapa cara berikut jika ia kesulitan menghadapi perpisahan dengan orang tua.

  • Berikan kesan perpisahan yang positif.
  • Beri tahu anak bahwa akan ada momen “perpisahan sementara”.
  • Ceritakan dengan kata-kata yang jelas dan mudah dipahami.
  • Ingatkan ke anak bahwa kita akan bertemu kembali dengan mereka.
  • Jangan terlihat ragu-ragu saat melakukan perpisahan.
  • Jemput mereka tepat waktu dan sesuai dengan rencana.
  • Lakukan kebiasaan yang sama setiap kali akan mengantar dan menjemput anak.

Kita bisa menjadikan momen kembali ke sekolah sebagai proses belajar bagi anak untuk lebih dewasa dalam menghadapi “perpisahan”. Yang perlu diperhatikan orang tua adalah cara berkomunikasi dengan anak sesuai dengan usianya. Jika anak berhasil melalui proses ini, maka ia akan belajar lebih mandiri dan cepat beradaptasi untuk hal atau kebiasaan baru lainnya.

Referensi:

Nugraheny. (2022). Jokowi Bolehkan Warga Lepas Masker di Area Terbuka. Diakses pada tanggal 19 Mei 2022, https://nasional.kompas.com/read/2022/05/17/17235791/jokowi-bolehkan-warga-lepas-masker-di-area-terbuka.

UNICEF.  (n.d.). How to Support Your Child through Reopening. Diakses pada tanggal 10 Mei 2022, https://www.unicef.org/coronavirus/support-child-covid-reopening.

Allah yang Tidak Berubah

Oleh: Ngatmiati, Staf Kerohanian Sekolah Athalia.

“Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan mereka berubah; tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan. Anak hamba-hamba-Mu akan diam dengan tenteram, dan anak cucu mereka akan tetap ada di hadapan-Mu.
(Mazmur 102:26–28)


Allah yang Tetap Sama dari Dahulu, Sekarang, dan Selamanya

Ketidakberubahan adalah salah satu atribut Allah yang luar biasa. Sifat, kuasa, dan otoritas-Nya tetap sama dari masa ke masa.

Segala sesuatu di dunia akan menjadi usang dan binasa seiring waktu—namun Allah tidak pernah berubah. Ia tetap Allah yang sama dari dahulu kala hingga selama-lamanya.

Kesadaran akan hal ini membawa ketenteraman bagi orang percaya. Fakta bahwa Allah tidak berubah membuat kita mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan kehidupan, karena kita tahu bahwa kasih setia dan kuasa-Nya tidak pernah berkurang.


allah yang tidak berubah

Refleksi dari Sebuah Peristiwa di Pantai

Saya mendapat pengalaman berharga tentang hal ini ketika berlibur ke rumah keponakan pada akhir tahun lalu. Pada hari terakhir tahun itu—31 Desember 2021—saya menemani cucu keponakan bermain di pantai.

Pagi itu sedikit mendung, dan tidak lama kemudian hujan turun. Saya sempat bimbang: apakah sebaiknya tetap bermain di pantai atau kembali ke rumah? Akhirnya, kami memutuskan untuk tetap bermain sambil hujan-hujanan. Tak lama kemudian, hujan berhenti dan matahari kembali bersinar.

Tiba-tiba, cucu saya berteriak gembira, “Pelangi! Pelangi!”

Saya mendongak, dan benar—pelangi yang indah membentang di langit. Saat itu hati saya tersentuh. Rasanya seperti pesan pribadi dari Tuhan di penghujung tahun: saya akan menjalani tahun yang baru bersama Allah yang setia pada janji-Nya.

Keyakinan ini membawa ketenangan mendalam, sebab saya tahu bahwa kasih setia dan kuasa Allah tidak pernah berubah. Seperti Ia telah menyertai dan menolong saya di tahun-tahun sebelumnya, demikian pula anugerah-Nya akan terus nyata di tahun yang baru.


Pelajaran dari Seekor Anak Kucing

Masih di pantai yang sama, saat saya duduk santai, seekor anak kucing tiba-tiba mendekat dan duduk di pangkuan saya. Tak lama, ia tertidur dengan tenang. Ketika saya mencoba mengangkat tangan, kucing kecil itu menariknya kembali, seolah takut kehilangan kehangatan.

Momen sederhana itu membuat saya merenung:

Apakah saya juga seperti anak kucing itu terhadap Allah?
Apakah saya ingin selalu dekat dan tidak menjauh dari-Nya?

Karena hanya bersama Allah yang tidak berubah, saya dimampukan untuk menghadapi setiap tantangan hidup dengan tenang.

Kasih setia dan kuasa-Nya tidak lekang oleh waktu — tetap sama dari generasi ke generasi.


🌈 Penutup

Melalui pelangi dan kehadiran seekor anak kucing, Allah seakan mengingatkan bahwa Dia tetap setia dan tidak berubah. Di tengah dunia yang terus berganti, satu hal yang pasti:

Tuhan yang sama yang menolong kemarin, adalah Tuhan yang juga akan memelihara kita hari ini dan selamanya.

Allah Yang Maha Kuasa

Saya percaya Tuhanku Maha Kuasa. Dia sanggup melakukan apa pun yang kadang tidak terpikirkan oleh manusia. —Susiana, Orang Tua Siswa.

Selama empat hari pertama di HICU, Ariel berada dalam kondisi kritis. Empat hari itu pula, hati saya menangis melihat banyak selang di tubuh Ariel. Warna tubuhnya juga berubah menjadi kuning pekat sebagai efek dari sakit paru-paru yang sudah merembet ke hati. Sebagai seorang ibu, saya hanya bisa terus memohon belas kasihan Tuhan karena hanya Dia yang sanggup menyembuhkan Ariel. Saya berdoa agar dokter dan obat-obatan menjadi perpanjangan tangan-Nya untuk menolong Ariel kembali pulih.

Selama Ariel dirawat di HICU, ada sesuatu yang membuat saya heran. Setiap kali makan, anak saya minta disuapi oleh papanya. Padahal, biasanya dia lebih dekat denganku. Saya melihat mereka bisa mengobrol, bercanda, dan berdoa bersama meskipun Ariel masih kesulitan bicara karena sesak napas.

Baca Juga : Harapan Baru, Awal yang Lebih Baik untuk Masa Depan

Allah Yang Maha Kuasa

Pemulihan Hati dan Tubuh oleh Allah yang Maha Kuasa

Hari keenam Ariel dirawat di HICU menjadi titik balik bagi kami. Saat itu, ia yang justru mengajak kami berdoa bersama. Saya dan suami sangat kaget sekaligus terharu. Biasanya kami yang mengajaknya berdoa. Tapi kali ini, dia yang memimpin. Ariel memegang tangan saya dan suami, kemudian menyatukannya. Dengan suara tersengal-sengal karena sesak napas, dia mulai berdoa. “Tuhan, Ariel percaya bahwa sakit ini bukan untuk membuat Ariel menderita, tapi Tuhan mau membuat keluarga Ariel lebih baik lagi.

Doa itu membuat saya dan suami kaget. Kami berdua menangis. Seketika itu pula, saya merasa Tuhan membukakan mata dan hati saya sambil berkata, “Inilah Aku yang penuh kuasa.” Saya tidak bisa berkata-kata selain mengucap syukur di dalam hati. Tuhan sudah menjamah hati anak saya sedemikian rupa hingga dalam kondisi sakit pun dia bisa melihat rencana indah yang Tuhan siapkan untuk keluarga kami.

Selama sakit sampai harus dirawat di HICU, Ariel menjalani semua rangkaian pengobatan tanpa mengeluh. Namun, saya tidak pernah menyangka, anak saya punya pemikiran seperti dalam doanya itu. Tuhan sungguh menjamah dia!

Setelah melalui berbagai proses, akhirnya kondisi Ariel membaik sehingga dipindahkan ke kamar biasa. Setelah dirawat selama hampir satu bulan di rumah sakit, akhirnya dia diizinkan pulang! Sejak saat itu, Ariel menjadi lebih dekat dengan kami, terlebih papanya. Lagi-lagi, saya diingatkan bahwa Allah yang Maha Kuasa bisa memakai peristiwa apa pun untuk membuat hubungan ayah dan anak menjadi lebih dekat. Saya percaya, semua rancangan-Nya indah karena Ia sangat mengasihi kita.

Membentuk Karakter Caring and Sharing Pada Anak

Caring and Sharing merupakan profil karakter SMP Athalia. Untuk menolong siswa semakin menghidupi karakter ini, Sekolah Athalia menyelenggarakan kegiatan Caring and Sharing Camp (Cas-Camp). Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa-siswi kelas VIII. Acara puncak dilaksanakan pada Jumat, 11 Maret 2022. Meskipun begitu, beberapa hari sebelumnya, para pelajar telah memulai rangkaian kegiatan dengan berbagai challenge caring and sharing di rumah. Hal ini dilakukan dengan membantu anggota keluarga atau menunjukkan kepedulian kepada orang di sekitar.

Pada puncak acara, pelajar dibagi menjadi beberapa kelompok dan masuk ke break out room di aplikasi Zoom. Mereka mengikuti berbagai permainan yang dirancang untuk melatih sikap caring and sharing bersama teman-teman sekelompok. Di akhir acara, siswa diteguhkan melalui kebenaran firman Tuhan sebagai dasar hidup dalam karakter ini. Firman Tuhan dibawakan oleh Lao Shi Wendy, seorang youth pastor, yang membimbing siswa untuk merenungkan makna mengasihi diri dan sesama.

Kesadaran akan Kasih Yesus

Sebelum Friman disampaikan, pelajar diminta berdiskusi mengenai pandangan dan pemikiran mereka terhadap fenomena mengasihi diri dan sesama. Dunia mengenal beberapa perilaku mengasihi diri yang salah, seperti operasi plastik, menikah dengan diri sendiri atau menunjukkan kekurangan fisik demi mendapatkan pengakuan. Fenomena keliru lainnya juga disoroti, seperti pernikahan dengan sesama jenis, hologram tokoh anime, atau mengadopsi boneka sebagai anak. Setelah mendengarkan diskusi mereka, Lao Shi Wendy membahas isu-isu tersebut dari sudut pandang Alkitab. Beliau mengupas dua prinsip caring and sharing berdasarkan ayat Alkitab yang terambil dalam Lukas 7: 36-47.

Dalam Lukas 7: 36-47, diceritakan tentang seorang perempuan berdosa yang melayani Yesus. Perempuan tersebut membasahi kaki-Nya dengan air mata lalu menyeka dengan rambutnya, meminyaki kaki Yesus, bahkan rela dipandang najis karena menyeka dan mencium kaki Yesus. Ia melakukan itu semua karena sadar betapa ia amat berdosa dan membutuhkan pengampunan. Yesus mengasihi dan mengampuninya! Inilah yang menjadi prinsip pertama dalam melakukan tindakan caring and sharing.

Prinsip kedua dijelaskan dengan kisah Simon yang mendapat teguran dari Yesus karena ia tidak melayani-Nya saat Yesus datang ke rumahnya. Yesus menanyakan tentang perumpamaan orang yang berutang 500 dan 50 dinar. Jika keduanya dibebaskan dari utang, siapakah yang lebih mengasihi si pembebas utang? Simon menjawab, yang berhutang lebih besar—500 dinar.

Lewat kisah ini, Lao Shi Wendy ingin menekankan bahwa orang yang merasa sedikit diampuni, akan sedikit juga berbuat kasih. Semakin besar seseorang menyadari pengampunan yang diberikan baginya, ketidaklayakannya menerima pengampunan tersebut, maka akan semakin besar kasih yang ditunjukkan bagi Yesus, bahkan sesama!

Baca Juga : Rahasia 30 Tahun Perjalanan Karakter

Caring and Sharing yang Tulus, Bukan Citra Diri

Selanjutnya, Lao Shi Wendy juga mengingatkan bahwa CaS (Caring and Sharing) bukanlah:

  1. Keselamatan
  2. Penerimaan
  3. Pencitraan
  4. Kompromi.

Lebih dari itu, sebagai anak Tuhan yang sudah diselamatkan, kita harus melakukan tindakan caring and sharing dengan tulus karena Yesus telah lebih dulu mengasihi dan menerima kita apa adanya. Yang menjadi pertanyaan refleksi: sudahkan kita secara pribadi merasakan kasih Allah yang begitu besar? Bukan hanya sebagai bahan perenungan, tetapi para siswa juga didorong untuk terus mempraktikkan beberapa hal untuk menunjukkan caring and sharing, yaitu:

  • Kasihilah sesamamu manusia – segala prioritas terhadap diri sendiri perlu diarahkan untuk kebutuhan orang lain.
  • Berikan perhatian – secara intentional, menghubungi teman-teman yang ada di sekitar, menanyakan kabar, dan mendoakan mereka.
  • Berikan pertolongan – mendiskusikan dengan orang tua untuk memberikan bantuan kepada orang di sekitar yang sedang membutuhkan.
  • Lakukan kebenaran – jika ada orang di sekitar kita yang belum mengenal Tuhan, jangan menggosip, mencibir, atau mem-bully. Namun, kasihi mereka sebagai sesama manusia, perkenalkan kepada Kristus, dan ajak ke gereja. Share your life!

Kiranya melalui kegiatan CaS-Camp ini, para siswa kelas VIII dapat mengingat, mengevaluasi, serta semakin bertumbuh dalam karakter tanggung jawab dan berkontribusi lebih luas kepada sesama melalui tindakan caring and sharing. Tentu saja, pertumbuhan karakter membutuhkan waktu dan proses sepanjang hidup. Oleh karena itu, siswa membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya, yaitu orang tua, pengajar, dan komunitas yang sehat untuk berjalan bersama! (MRT)

Tips Mengasihi Ketika Merasa Terluka

Mungkinkah seseorang mengasihi walau terluka? Pertanyaan ini mungkin menantang hati dan logika kita.

Bila mengasihi dalam kondisi terluka adalah sebuah pilihan, rasanya tidak banyak orang yang akan memilihnya. Kasih biasanya dinyatakan melalui sesuatu yang indah, menghibur, menyenangkan bahkan membahagiakan. Sangat jarang kasih diekspresikan melalui bentuk yang menyakitkan atau menyedihkan. Sebuah fenomena yang paradoks, mengasihi sekaligus terluka. Namun justru dalam paradoks itulah makna terdalam dari kasih terungkap.

Kisah paradoks ini, menjadi kisah yang spektakuler, kisah kasih yang berkorban dan menyelamatkan dunia. Kisah hidup Kristus, Sang Juruselamat. Dalam 1 Yohanes 3:16 tertulis, “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” Melalui kematian-Nya, Kristus menunjukkan kualitas kasih yang sejati.

Rasul Yohanes mengingatkan para pengikut Kristus untuk hidup meneladani Sang Juruselamat. Menyatakan kasih kepada sesama sampai menyerahkan nyawanya. Apa artinya hal ini bagi kita? Artinya, jika kita mengatakan bahwa kita mengasihi, akan ada pembuktian atas perasaan kasih tersebut. Karena kasih tidak berhenti pada perasaan, tetapi kasih dibuktikan melalui tindakan nyata dan pengorbanan diri.

Mengasihi Lewat Tindakan

Mengikuti teladan Kristus yang menyerahkan nyawanya bagi orang lain adalah tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri. Mengasihi artinya bersedia untuk menanggalkan ego, berempati, bahkan rela berkorban bagi orang lain. Untuk hal inilah kita, para pengikut-Nya dipanggil. Adakah kerelaan untuk tidak selalu mengutamakan diri sendiri?

Bila kita mengatakan bahwa kita mengasihi sesama kita, mengasihi orang-orang di sekitar kita, adakah kepedulian terhadap orang lain tampak dalam tindakan? Jika kita katakan bahwa kita mengasihi orang lain, adakah kita memiliki kerelaan untuk membantu, mendampingi, bahkan ikut menanggung kesulitan yang sedang dihadapi orang lain? Apakah kita berjuang untuk menghidupi kebenaran ini dalam diri, demikian kita dapat mengatakan bahwa kasih bukanlah sekadar perasaan, mengasihi adalah tindakan.

Perlu juga diingat bahwa tidak semua tindakan baik kepada orang lain didasari oleh kasih. Untuk dapat mengetahuinya kita perlu merenungkan motivasi kita dalam bertindak. Apakah sesuatu yang kita perbuat adalah tindakan yang disertai kasih, ataukah tindakan karena mementingkan kepentingan diri?

1 Korintus 13:3: “Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.”

Rasul Paulus mengingatkan untuk memperhatikan dasar dari tindakan kita. Manusia memiliki potensi untuk bisa melakukan sesuatu yang terlihat baik, tetapi tidak didasari oleh kasih. Manusia mudah melihat rupa. Ada orang yang sepertinya mengasihi, memberi dirinya untuk orang lain, tetapi dasar tindakan itu belum tentu berasal dari kasih. Kasih yang sejati tidak berpusat pada cinta akan diri sendiri. Mengasihi adalah tindakan yang rela mengorbankan diri dan tidak mengambil keuntungan dari orang lain.

Kasih dalam Keluarga dan Komunitas

Seorang ayah yang mengasihi anggota keluarganya akan membuktikan kasihnya melalui tindakan merawat dan melindungi seluruh anggota keluarganya dan bukan sebaliknya. Para orang tua akan bekerja keras demi keluarganya, melakukan tanggung jawabnya demi kesejahteraan anggota keluarganya. Namun, jika tidak disertai kasih kepada seluruh anggota keluarganya, misalnya tidak memberikan diri untuk relasi yang intim dengan keluarganya, dan hadir dalam kehidupan mereka, apakah mereka melakukan seluruh tanggung jawab tersebut karena kasih? Marilah kita merenungi adakah kasih itu hidup dalam diri dan apakah kehidupan kita meneladani kasih Kristus yang rela menyerahkan nyawa bagi orang lain?

Bagi tenaga kependidikan, yang telah bekerja keras dan rela berkorban demi pendidikan para murid, adakah kasih dalam diri, memiliki kerinduan untuk membangun relasi dengan para murid, dan mendasari seluruh tindakannya atas dasar kasih?

Baca Juga : Keluarga yang Bersyukur

Kita tidak dapat mengatakan bahwa kita mengasihi Tuhan, jika kita tidak berupaya keras mewujudkan kasih kepada Tuhan melalui seluruh aspek dalam hidup kita. Mengasihi artinya akan mengampuni walau dilukai, kasih sejati akan dengan sabar memberi kesempatan, kasih sejati akan bertahan dalam kesulitan, kasih sejati akan memampukan seseorang tetap mengasihi orang yang melukainya. Perwujudan kasih sejati tidak hanya tampak melalui kata-kata yang diucapkan atau tindakan yang dilakukan, tetapi juga melalui niat terdalam yang mendorong setiap perilaku. Kasih sejati hanya bersumber pada Dia yang telah menjalaninya terlebih dahulu. Di tengah relasi yang rapuh dan dunia yang sering menyakitkan, kasih yang lahir dari sumber ilahi akan tetap bertahan. Ia menjadi kekuatan yang memungkinkan seseorang untuk tetap mengasihi, bahkan ketika hatinya sendiri sedang terluka.

Artikel Oleh: Nostagia Pax Nikijuluw, M.Div.

Allah yang Mahatinggi: Tuhan Segala Tuhan dan Allah Segala Allah

allah yang mahatinggi

Oleh: Welly Alfons Rossall

“Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya; … Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap.”
(Ulangan 10:14, 17)


Allah yang Mencipta dan Berotoritas Atas Segala Sesuatu

Ketika kita berbicara tentang Allah yang Mahatinggi, kita sedang membahas tentang Pencipta langit, bumi, dan segala isinya. Dialah Allah yang memiliki otoritas tertinggi atas seluruh ciptaan.

Dalam Alkitab, kuasa Allah kerap dinyatakan melalui peristiwa-peristiwa besar. Salah satu contohnya adalah ketika Allah menunjukkan kuasa-Nya di Mesir melalui Musa. Saat Firaun mengeraskan hati dan menolak membebaskan bangsa Israel, Allah menurunkan berbagai tulah yang dahsyat.

Kuasa-Nya melampaui para allah Mesir dan bahkan mengendalikan unsur alam semesta. Hingga akhirnya, Firaun harus tunduk kepada otoritas Allah dan membiarkan bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan.


Allah yang Mengalahkan Semua Allah dan Berkuasa Atas Segala Berhala

Kisah lain yang menunjukkan kebesaran kuasa-Nya adalah ketika patung Dagon, dewa bangsa Filistin, jatuh tersungkur di hadapan tabut perjanjian—simbol kehadiran Allah. Saat itu, bangsa Filistin telah merebut tabut tersebut dan menempatkannya di kuil mereka. Namun keesokan harinya, patung Dagon ditemukan roboh.

Peristiwa ini menunjukkan dengan jelas bahwa tidak ada allah atau kuasa apa pun yang dapat menandingi Allah Israel. Dialah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan.


Mengalami Allah yang Mahatinggi dalam Kehidupan Pribadi

Kisah tentang Allah yang Mahatinggi tidak hanya tertulis di Alkitab—saya pun mengalaminya sendiri.

Pada bulan Agustus 2021, istri saya, Jessica, berpulang ke rumah Bapa. Peristiwa itu sangat mengguncang hati dan membawa kesedihan mendalam. Dalam doa-doa saya, saya sering berkata kepada Tuhan bahwa sosok yang paling saya rindukan untuk jumpai pertama kali setelah meninggal nanti adalah Jessica.

Namun, suatu saat Tuhan berbicara lembut di hati saya, seolah bertanya:

“Siapakah yang lebih engkau kasihi—Aku atau Jessica?”

Pertanyaan itu menembus hati saya. Tuhan sedang mengingatkan bahwa Dia harus menjadi yang terutama dalam hidup ini.

Sejak saat itu, doa saya berubah. Kini, saya berdoa agar semakin mengenal Tuhan dan mengasihi-Nya lebih dalam. Saya ingin, ketika tiba waktunya bertemu muka dengan-Nya, Dialah sosok pertama yang saya rindukan dan ingin peluk dengan penuh kasih.


Belajar Taat dan Bergantung Penuh kepada Allah yang Mahatinggi

Kini saya belajar untuk hidup taat dan berserah penuh kepada Tuhan. Saya ingin berjalan bersama-Nya dengan kerendahan hati, meninggikan Dia di atas segalanya.

Biarlah Allah yang Mahatinggi memimpin setiap langkah hidup ini, sebab hanya Dia yang layak disembah, diagungkan, dan dipercaya sepenuhnya.


✨ Penutup: Hiduplah di Bawah Otoritas Allah yang Dahsyat

Allah yang Mahatinggi bukan hanya Tuhan yang besar dan dahsyat, tetapi juga Allah yang pribadi dan penuh kasih. Ia berdaulat atas langit dan bumi, namun tetap hadir di hati orang yang mau berserah.

Ketika kita menempatkan Allah sebagai yang terutama, hidup kita akan dipimpin oleh kuasa dan kasih yang tidak tertandingi.

Bijak Menggunakan Media Sosial

Oleh: Ni Putu Dewi, staf Pengembangan Karakter Sekolah Athalia.

Metamorphosis Camp (MetCamp) merupakan kegiatan tahunan SMP Athalia yang diperuntukkan bagi seluruh siswa kelas VII. Kegiatan ini bertujuan sebagai jembatan pembelajaran karakter bagi siswa yang baru lulus dari jenjang SD dan masuk ke SMP. Pada tahun pelajaran ini, profil karakter siswa SD Athalia adalah Tanggung Jawab, sedangkan profil karakter siswa SMP adalah Caring and Sharing.

Sesuai dengan namanya, “metamorphosis” berarti perubahan. Kami berharap, para siswa semakin menyadari bahwa mereka akan mengalami beberapa perubahan di usia remaja—tidak hanya secara fisik, tetapi juga dalam hal tanggung jawab. Kini, tanggung jawabnya bukan hanya memikirkan kebutuhan diri sendiri, melainkan juga kebutuhan orang lain, yang merupakan wujud nyata dari caring & sharing.

Generasi Z dan Tantangan Digital

Para siswa SMP Athalia tahun ini termasuk dalam Generasi Z (Gen Z), sehingga kehidupan mereka sangat dekat dengan gadget dan media sosial. Kondisi pandemi Covid-19 juga membuat keseharian mereka terus terkoneksi dengan internet. Hal inilah yang mendasari bahasan salah satu sesi berjudul “Tanggung Jawab Remaja dalam Penggunaan Media Sosial dan Internet”.

Sesi ini dibawakan oleh Pak Christian Naa dengan sangat interaktif. Dibuka dengan pertanyaan, “Apa kata firman Tuhan mengenai media sosial dan teknologi? Apakah ada hukum Taurat yang secara rinci mengatakan tentang penggunaan handphone dan Instagram?” Jawabannya: tidak ada! Namun, bukan berarti Alkitab tidak memberikan prinsip tentang cara hidup yang benar di zaman ini.

Di dalam 1 Korintus 10: 23-24 & 31, Paulus memaparkan secara jelas tentang prinsip hidup yang tidak akan tergerus oleh zaman.

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna.

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.

Jangan seorang pun yang mencari keuntungan sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain. …

Aku menjawab: jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.

Artinya, kita sebagai orang yang telah ditebus oleh Kristus di atas kayu salib diperbolehkan melakukan “segala sesuatu”.

Pak Christian menekankan bahwa sebelum melakukan sesuatu, kita perlu mengajukan empat pertanyaan penting:

1. Apakah “sesuatu” itu berguna?
2. Apakah “sesuatu” itu membangun orang lain?
3. Apakah “sesuatu” itu untuk keuntungan/kepentingan orang lain, bukan hanya tentang diri saya?
4. Apakah “sesuatu” itu untuk kemuliaan nama Tuhan?

Empat pertanyaan ini menjadi landasan dalam menilai tindakan, termasuk saat menggunakan media sosial. Untuk mempermudah para siswa memahami sesi ini, Pak Christian Naa memberikan sebuah ilustrasi. Misalnya, saat kita liburan ke Swiss dan melihat gunung yang besar di sana. Kita memfoto dan mengunggahnya di Instagram dengan captionHow Great Thou Art”. Pertanyaannya: apakah motivasinya untuk menyombongkan diri, atau untuk menunjukkan kehebatan Allah sebagai Pencipta?

Tidak hanya soal motif, media sosial juga memberi banyak pengaruh lain dalam kehidupan. Contohnya, beberapa orang yang terlalu fokus di media sosial jadi tidak memperhatikan relasi dengan orang lain di dunia nyata, keinginan untuk menunjukkan hanya sisi baik dan keren di media sosial, menyebarkan berita bohong, bahkan menjadi pelaku cyber bullying. Lalu bagaimana cara agar kita bijak dalam menggunakan media sosial?

Baca Juga : Cara Efektif Menetapkan Batasan untuk Anak Remaja

Tips Bijak Menggunakan Media Sosial

Berikut adalah beberapa tips bijak menggunakan media sosial dari sesi ini.

  1. Bagikan hal baik yang kita lihat dan dengar.
  2. Hindari memberikan like atau comment pada konten yang bersifat negatif. Ingat bahwa algoritma media sosial bekerja berdasarkan aktivitas pengguna. Media sosial tetaplah aplikasi yang tidak bisa membedakan antara baik dan buruk, sehingga frekuensi kemunculan konten-konten tergantung pada postingan yang sering kita beri perhatian melalui like dan comment.
  3. Selalu periksa kebenaran suatu informasi dari beberapa sumber terpercaya sebelum membagikannya di media sosial.
  4. Berhati-hatilah dalam melakukan obrolan melalui Direct Message dengan
    orang yang tidak dikenal.

Sesi ini juga menekankan bahwa apa yang kita bagikan di media sosial menunjukkan siapa diri kita, sehingga perlu berhikmat dalam mengunggah sesuatu di media sosial. Sebelum sesi berakhir, Pak Christian Naa juga mengajak para siswa kelas VII untuk melakukan social media check up dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut secara pribadi.

  1. Apa yang ingin saya tunjukkan melalui media sosial?
  2. Apakah saya menampilkan sosok pribadi yang sama, baik di media sosial maupun dunia nyata?
  3. Siapa saja yang saya follow sehingga memengaruhi cara pikir dan perilaku saya?

Sesi ini memberikan wawasan mendalam mengenai tanggung jawab remaja dalam dunia media sosial dan internet. Setelah mengikuti sesi ini, siswa kelas VII SMP Athalia diharapkan dapat semakin bijak dalam memilih, membagikan, dan merespons konten digital.

Allah yang Berdaulat

Oleh: Yanny Kusumawaty

Allah yang Berdaulat dalam Kisah Alkitab

“… dan berkata: ‘Ya TUHAN, Allah nenek moyang kami, bukankah Engkau Allah di dalam sorga? Bukankah Engkau memerintah atas segenap kerajaan bangsa? Kuasa dan keperkasaan ada di dalam tangan-Mu, sehingga tidak ada orang yang dapat bertahan melawan Engkau.” (2 Tawarikh 20: 6)

Di 2 Tawarikh 20 dikisahkan tentang Yosafat yang menerima kabar bahwa bani Moab dan bani Amon datang untuk berperang melawannya. Singkat cerita, Yosafat mengalami kemenangan dalam peperangan karena ada kedaulatan Allah atas kemenangan tersebut! Lewat kisah itu dan dengan melihat realitas kehidupan sehari-hari, kita jadi tahu bahwa pernyataan tentang kedaulatan Allah tidak selalu berarti kehidupan seseorang selalu lancar dan baik-baik saja. Justru, kedaulatan Allah akan semakin nyata ketika kita berada dalam kondisi yang kurang nyaman, seperti mengalami kekalahan atau sakit.

Kedaulatan Allah dalam Hidup Saya

Tentang kedaulatan Allah, saya ingin sharing sesuatu. Beberapa bulan yang lalu, tepatnya tanggal 30 September 2021, saya menerima kabar bahwa kakak mengalami pendarahan otak dan dalam kondisi koma. Saya sangat terkejut karena tidak pernah mendengar cerita kalau Cece—panggilan saya untuk kakak—mengidap penyakit apa pun.

Singkat cerita, saya berangkat ke Surabaya untuk menengok Cece yang dirawat di HCU. Saat itu, saya menyerahkan seluruh harapan untuk kesembuhan Cece kepada Tuhan sambil memohon belas kasih-Nya. Selama 11 hari Cece dalam keadaan koma. Hingga akhirnya pada hari Senin, 11 Oktober 2021, Tuhan memanggil Cece pulang ke rumah Bapa.

Saya dilanda kesedihan yang luar biasa, melebihi ketika kehilangan papa dan mama. Harapan saya untuk kesembuhan Cece tidak terwujud. Pikiran saya mulai dipenuhi oleh pertanyaan: mengapa Cece harus pulang ke rumah Bapa secepat ini? Apakah saya tidak tahu tentang kedaulatan Tuhan? Saya sangat tahu, tetapi secara manusia, saya terus meronta dan mempertanyakan kenapa, kenapa, dan kenapa. Rasanya, saya tidak terima Cece pergi begitu cepat!

Menerima Kedaulatan Allah

Sampai akhirnya, saya memutuskan untuk berhenti mempertanyakan hal tersebut karena menyadari bahwa ketika membiarkan pertanyaan itu terus menguasai diri, lama-kelamaan saya bisa jadi tidak mengakui kedaulatan Tuhan. Saya mulai mengganti pertanyaan-pertanyaan yang muncul itu dengan mengingat janji Tuhan di Mazmur 23: 4—Tuhan berjanji selalu menyertai, bahkan ketika kita berada di lembah kekelaman sekalipun!

Saya juga disadarkan bahwa kepergian Cece membuat saya merasakan kehadiran banyak orang yang begitu peduli dan menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menguatkan dan menghibur saya. Mereka melakukannya tanpa kata-kata penghiburan yang klise, tetapi tindakan nyata, yang saya maknai sebagai bagian dari penyertaan Tuhan. Saya tidak sendirian! Bukankah itu hal yang luar biasa? Imanuel!

Apakah setelah itu kesedihan di dalam hati menjadi hilang? Tidak, tetapi saya diingatkan bahwa selalu ada penyertaan Tuhan dalam hidup kita! Kedaulatan-Nya bukan digunakan secara semena-mena dan kejam terhadap manusia, karena semua yang ada di dalam hati dan pikiran Allah adalah kasih. Dalam keterbatasan manusia untuk memahami kedaulatan-Nya, yang kadang tidak menyenangkan dan tidak nyaman buat kita, mari berhenti untuk bertanya “mengapa” dan cobalah melihat lebih dalam tentang penyertaan-Nya di setiap musim kehidupan. Dengan demikian, kita akan dimampukan melewati dan menerima kejadian-kejadian tertentu, serta mengerti bahwa Tuhan selalu memegang kendali atas segala situasi yang kita hadapi!

Menjadi Teman Perjalanan Anak Bertumbuh

Keluarga kami terdiri dari enam orang, yaitu kami sebagai orang tua dengan empat anak. Awalnya, kami hanya berpikir untuk mempunyai dua orang anak laki-laki dengan selisih umur satu tahun. Namun, kenyataan berbeda. Saat anak pertama baru berusia enam bulan, saya kembali hamil. Selisih umur yang dekat ini membuat kami tercengang. Bila anak pertama kami sambut dengan bahagia dan antusias, anak kedua ini kami sambut dengan sukacita bercampur kaget.

Saat tiba harus memilih sekolah, kami punya beberapa pertimbangan. Pertimbangan yang paling mendasar adalah sekolah tersebut harus dekat dengan rumah, berbahasa pengantar bahasa Inggris, dan menerapkan batas usia yang tidak terlalu ketat. Sepertinya waktu itu sedang populer pemikiran kalau anak bisa lancar berbahasa Inggris, sehari-hari bicaranya menggunakan bahasa Inggris, kelihatannya hebat sekali. Sebuah pemikiran yang kemudian kami sadari kurang bijak dan tidak selalu membantu anak bertumbuh dengan sehat.

Kami menyekolahkan anak pertama saat berusia dua tahun. Saat itu, kami memilih sekolah dekat rumah, dengan saya melakukan pendampingan secara langsung selama di kelas. Tak lama, kami mendengar ada sekolah baru di Serpong yang menawarkan biaya lebih terjangkau dengan nilai pendidikan serupa. Seperti orang tua yang lain, kami pun langsung memindahkan anak ke sekolah tersebut. Perpindahan ini membuat pilihan sekolah untuk adiknya pun ikut menyesuaikan lokasi agar dekat dengan sekolah anak pertama.

Sekolah untuk si adik adalah sekolah kecil yang menerapkan sistem montessori dan berbahasa pengantar Inggris. Beberapa nilai yang menjadi pertimbangan menyekolahkan anak-anak kami tersebut ternyata menimbulkan “kecelakaan besar” dalam proses anak kedua kami bertumbuh. Dia sering tidak mau sekolah karena tidak menikmati lingkungannya. Sikap tersebut dipandang tidak apa-apa karena sepertinya sekolah juga mengikuti kemauan anak (anak-anak tidak boleh dipaksa).

Perbedaan yang Menimbulkan Tantangan Akademik

Ketika anak pertama kembali ke sekolah semula, anak kedua ikut kami pindahkan. Kami merasa keputusan ini sudah tepat karena sekolah dekat rumah, plus ini merupakan sekolah favorit. Proses belajar anak pertama berjalan dengan lancar karena memang sebelumnya sudah pernah diajarkan membaca dan menulis. Jadi saat kembali ke sekolah pertama, ia tidak mengalami hambatan belajar.

Masalah justru muncul pada anak kedua. Ia tidak diajarkan baca tulis di TK B, tapi saat masuk SD sudah dituntut mampu. Perbedaan pendekatan ini sangat memengaruhi cara anak bertumbuh dalam fase belajarnya. Kami tidak menyadari perbedaan ini, sebab pengalaman anak pertama sangat lancar. Selain itu, komunikasi antara pihak pengajar dengan orang tua sangat kurang, khususnya mengenai ketidakmampuan anak ini, juga menjadi isu yang cukup panjang sampai kami berkali-kali dipanggil oleh sekolah. Walau begitu, kami tidak pernah menemukan akar masalah dan solusinya. Kesan yang kami terima justru sekolah menganggap anak kami malas mengikuti pelajaran.

Sesungguhnya, kami berharap sekolah bisa bekerja sama dengan orang tua untuk menemukan akar masalah anak kami. Kami berpikir bimbingan konseling bisa membantu. Namun, saat bertemu konselor sekolah, beliau menyarankan anak kami untuk pindah sekolah karena dianggap tidak cocok bersekolah di sana. Kami tidak langsung percaya dengan saran itu. Kami tetap meyakini kalau anak kedua kami bisa terus bersekolah di sana.

Karena merasa tidak terbantu dengan saran sekolah, kami membawa anak kami untuk konseling ke konselor Kristen. Saat konseling berjalan, kami menyadari bahwa menyatukan dua pribadi dengan latar belakang berbeda adalah tantangan tersendiri. Namun, kami sungguh bersyukur Tuhan bekerja melalui masalah anak kedua ini sehingga saat menjalani konseling, kami juga memulai masa pendewasaan dan pemulihan. Kami terus dibangun untuk memahami, menerima, dan menyeimbangkan perbedaan yang ada di dalam rencana Allah bagi keluarga kami.

Konseling Keluarga

Melalui konseling ini, diketahui bahwa anak kami mengalami keterlambatan motorik di dalam menulis yang tidak ditangani sejak dia masuk SD 1. Ini menjadi isu yang pelik ketika baru ditangani di SD 3. Proses yang kami lewati sungguh panjang. Kami terus menghadapi panggilan demi panggilan dari sekolah dengan keluhan yang hampir sama: anak kami malas menulis. Padahal, semua ujian diberikan secara tertulis yang berarti bila tidak dikerjakan, dia gagal ujian. Anak kami selalu menghitung angka kecukupan untuk dia bisa naik secara pas-pasan sehingga tidak perlu mengeluarkan usaha maksimal untuk naik kelas. Puji Tuhan dengan berbagai kesulitan yang ada, setiap tahun dia tetap naik kelas dengan nilai secukupnya. Semua pengajar di setiap jenjang selalu berkomentar anak ini pintar, tetapi tidak mau berusaha maksimal.

Saat dia duduk di SD 5, kami diberi Tuhan anugerah tambahan, yaitu kehamilan anak ketiga. Tentu saja kehadiran anak ketiga ini sangat mengubah ritme hidup kami. Hal ini juga mengubah banyak hal dalam diri kedua anak kami. Anak pertama, karena memang posisinya sebagai anak sulung, semakin mandiri apalagi memang sudah memasuki jenjang SMP. Namun, kondisinya berbeda bagi anak kedua kami, yang sebelumnya sempat menjadi anak bungsu dalam waktu lama. Dia yang tadinya masih sangat manja, tiba-tiba harus menjadi kakak dan menjadi lebih bertanggung jawab atas dirinya sendiri, tidak bisa mengandalkan mamanya terus-menerus.

Kehadiran anak ketiga juga mengubah kondisi ekonomi keluarga sehingga kami perlu menyesuaikan berbagai hal mengingat penambahan kebutuhan dengan kehadiran anak ketiga. Hal ini sangat memengaruhi ritme hidup anak kedua karena segala fasilitas yang tadinya bisa diberikan kepadanya—privilege sebagai anak bungsu—tak lagi dirasakan. Dia harus berbagi dengan adiknya. Kondisi kehamilan ketiga ini juga membuat anak pertama harus bersekolah di SMP dekat rumah agar saya tidak repot mengantar-jemput.

Perjalanan Mendampingi Anak Bertumbuh

Setahun kemudian, saat anak kedua masuk SMP, kami menyekolahkannya ke sekolah yang berbeda dengan kakaknya. Kami berpikir untuk memindahkannya ke Athalia. Namun, tiga kali kami mencoba mengontak sekolah ini, tidak pernah berhasil bertemu dengan bagian pendaftaran karena berbagai alasan. Saat itu, yang tebersit di pikiran kami, yaitu Tuhan tidak mengizinkan anak ini bersekolah di sini (sebuah pola pikir yang belakangan kami sadari kalau salah). Akhirnya, anak kedua kami masuk ke sekolah lain.

Singkat cerita, di sekolah yang baru, konselor dan pengajar sangat perhatian dan mencoba membantu kesulitan anak kami. Namun, cara belajar di sana berbeda dengan sekolah sebelumnya. Jadilah anak saya semakin malas, bukannya semangat. Dia terus menyalahkan kami karena sudah memindahkannya ke sana, bukan ke sekolah yang dia mau (sekolah lain dengan biaya yang jauh lebih mahal dan jarak yang lebih jauh).

Saat anak-anak masuk SMA, kami memberikan opsi agar mereka memilih sekolah sesuai minat dan kesiapan. Kami berharap mereka tidak merasa dipaksa. Apakah masalah selesai? Tidak. Hal ini dikarenakan begitu mulai sekolah, mereka harus mengalami pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat pandemi. Anak pertama sempat bersekolah tatap muka, tetapi anak kedua memulai masa SMA-nya dengan PJJ penuh. Di sinilah kemandirian mereka diuji.

Saat itu, anak kedua kembali mengalami kesulitan. Ia sulit mengatur waktu dan menyelesaikan tugas tepat waktu. Lagi-lagi kami menghadapi panggilan pengajar dan nilai rapor yang tidak memuaskan yang membuat anak kami yang kedua ini hampir tinggal kelas. Sepanjang proses ini, sebagai orang tua, kami jatuh bangun menghadapi setiap kondisi yang ada. Kami terus berpengharapan bahwa hanya Tuhanlah yang mampu mengubahkan anak kami. Kami juga terus memohon agar diberi hikmat untuk bisa mengembalikan anak kami ke “jalan yang benar”. Tuhan memang Maha Pengasih, tetapi kami juga menyadari segala rencana Tuhan akan berjalan sesuai dengan waktu-Nya.

Awal Anak Bertumbuh

Selama liburan sekolah, ketika kami banyak berbincang dengan kakaknya mengenai kelanjutan sekolah di universitas, rupa-rupanya sang adik ikut mendengarkan. Keinginan sang kakak untuk bersekolah di PTN membuat sang adik menyadari bahwa untuk masuk PTN membutuhkan nilai rapor yang bagus. Di sinilah kebangkitannya. Sejak saat itu, kami melihat perubahan. Ia mulai belajar, menyelesaikan tugas, bahkan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Kami kembali diteguhkan bahwa anak bertumbuh ketika diberikan dorongan yang tepat.

Berdasarkan pengalaman dengan anak pertama dan kedua, kami tidak mau mengulang kesalahan yang sama dengan anak ketiga dan keempat. Kami memutuskan bahwa bahasa ibu adalah prioritas. Hal ini memudahkan komunikasi dan memperkaya perkembangan berpikir anak. Perkembangan bahasa anak ketiga dan keempat lebih baik. Mereka mudah mengungkapkan pikiran dan perasaan. Kami bersyukur karena Tuhan telah membuka pemahaman kami. Sungguh semuanya hanya karena anugerah-Nya.

Saat tiba waktunya bagi anak ketiga dan keempat bersekolah, kami sudah memiliki prioritas yang berbeda dari sebelumnya. Kami mencari sekolah yang bisa mengajarkan anak untuk takut dan hormat akan Tuhan, mengenal Tuhan Allah, dan mempunyai karakter Kristus. Motto Athalia, yaitu right from the start, menarik perhatian kami. Maknanya sungguh dalam, membuat kami mengingat kembali kasus yang terjadi kepada anak kedua. Ketika langkah awalnya keliru, segala jalan ke depannya menjadi sangat-sangat terjal.

Baca Juga : Waspada! Ini 10 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua

Terus Bertumbuh Bersama dalam Anugerah Tuhan

Saat ini, kami masih terus berproses dalam mendidik dan menemani anak bertumbuh. Anak pertama dan kedua kami sudah remaja dan akan mulai kuliah. Segalanya terus berjalan, naik turun. Ada masa-masa di mana muncul masalah di dalam komunikasi sehari-hari. Terjadi pergesekan antara anak kedua dan anak ketiga sehingga kami harus terus mengawasi dan menjaga agar kondisi dan relasi mereka tetap terjaga. Namun, satu hal yang pasti, kami percaya bahwa Tuhan terus berbelas kasihan dan memimpin perjalanan kami.

Saat liburan Natal 2021 lalu, kami melihat komunikasi anak kedua dan ketiga terus membaik. Pekerjaan rumah kami masih banyak, seperti membawa anak-anak berjalan bersama Tuhan, kembali kepada Tuhan, dan mau ke gereja untuk beribadah setiap Minggu. Kami terus belajar dan mengalami jatuh bangun. Hanya dengan mengandalkan Tuhan, menyandarkan diri kepada-Nya, dan terus-menerus memohon kepada Tuhan agar Tuhan beranugerah membentuk dan keempat anak kami untuk dipakai seturut dengan rencana dan kehendak-Nya. Soli Deo Gloria.

oleh : anonim.

Baca juga: Perjalanan Remaja Mencari Identitas Diri