Bersihkan Hati dengan Mengampuni

mengampuni

Konflik yang terjadi di rumah memang tidak dapat dihindari, baik konflik antara suami dengan istri, orang tua dengan anak, atau kakak dengan adik. Lalu, ketika konflik itu memburuk, ada pihak-pihak yang sakit hati dan akhirnya konflik menjadi berkepanjangan. Di dalam hati, kita menyimpan dendam. Rasanya sulit sekali memaafkan kesalahan orang yang sudah menyakiti hati kita. Padahal, kita diajarkan oleh Tuhan untuk mengampuni mereka yang bersalah kepada kita. Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa melepaskan “ganjalan” yang ada di dalam hati dan mengampuni orang yang telah menyakiti kita?

Mengampuni atau memaafkan bukan berarti melupakan luka atau membenarkan perbuatan orang lain. Justru, itu adalah langkah penyembuhan bagi diri sendiri. Dalam video “Bersihkan Hati dengan Mengampuni“, Ibu Charlotte Priatna kembali mengajak kita merenung dan mengambil sikap dalam proses “mengobati” hati kita agar terbebas dari dendam dan mampu memaafkan orang yang bersalah kepada kita.

Menghadapi konflik dan luka hati memang tak mudah. Tapi dengan kesadaran penuh, kita bisa memilih untuk tidak terus hidup dalam bayang-bayang dendam. Ketika kita berani berdamai dengan rasa sakit, kita membuka ruang bagi hati untuk dipulihkan. Melalui doa, refleksi, dan niat yang tulus, kita bisa perlahan-lahan melepaskan beban dan belajar mengampuni dengan kasih. Mari ambil waktu untuk merenung dan mengambil langkah kecil menuju pemulihan.

Baca Juga : Penyertaan Tuhan Itu Nyata? Ini Buktinya

tags :

#videokarakter #videoparenting #belajarparenting#parenting #belajarkarakter #mengampuni #sekolahathalia #rightfromthestart #characterbasedlearningcommunity #charlottepriatna #tipsparenting #dirumahaja #stayathome #family #keluarga

Keuntungan Bermain Board Game

Keuntungan Bermain Board Game

Mengajak anak bermain board game dapat sekaligus mengajarkannya berbagai hal, lho! Dalam video berikut, Ibu Marlene, salah satu orang tua siswa Athalia, berbagi tentang keuntungan bermain board game. Apakah Anda tertarik untuk juga mengajak anak bermain board game di rumah?

Baca Juga: Berlibur Bersama

#aktivitasdirumah#bermain#boardgame#qualitytime#familytime

#manfaatboardgame#dirumahaja#homelearning#aktivitasseru

#permainananak#keluarga#sekolahathalia#rightfromthestart

#characterbasedlearningcommunity

Menjadi Teladan dalam Ketaatan

Dalam masa penuh tantangan seperti sekarang, peran orang tua sangatlah krusial. Anak-anak akan mengamati dan meniru perilaku kita setiap hari. Pertanyaannya, sudahkah kita menjadi teladan dalam bersikap? Apakah kita sudah menunjukkan ketaatan pada aturan dan yang terpenting pada kehendak Tuhan? Anak-anak butuh figur yang konsisten dan bertanggung jawab. Di sinilah kesempatan kita sebagai orang tua menjadi figur dalam tindakan nyata—baik di rumah maupun dalam kehidupan rohani.

Menjadi Teladan bagi Anak

Ketaatan bukan sekadar kata, tetapi sikap yang ditunjukkan lewat tindakan sehari-hari. Saat orang tua taat mengikuti protokol kesehatan, disiplin menjalani aktivitas, dan terus bersandar pada nilai-nilai iman, anak-anak pun belajar hal yang sama. Dalam video “Menjadi Teladan dalam Ketaatan“, Bu Charlotte mengingatkan bahwa anak-anak lebih peka terhadap perilaku dibandingkan perkataan. Maka, mari ajarkan ketaatan dengan cara yang hidup, yaitu dengan hati yang tunduk dan sikap yang konsisten.

Apakah selama ini kita sudah benar-benar menjadi teladan dalam ketaatan dan iman? Atau justru kita masih abai terhadap peran penting ini? Mari gunakan waktu ini untuk merenung dan memperbaiki diri. Tuhan mempercayakan anak-anak pada kita bukan tanpa alasan. Saat kita meneladani kebenaran, kita sedang menyiapkan generasi yang kuat dalam karakter dan iman. Tonton video reflektif di atas bersama keluarga dan biarkan Tuhan bekerja dalam setiap hati. Tuhan memberkati.

Baca Juga : Kiat-Kiat Mendampingi Remaja Saat Menghadapi Masalah

tags :

#sekolahathalia #sekolahkarakter #belajarkarakter #benarsejakawal

 #characterbasedlearbingcommunity #komunitassekolahathalia #parenting

 #belajarparenting #tipsparenting #charlottepriatna #praktisipendidikan

Prinsip Keluarga Kristen Meraih Kebahagiaan Sejati

Judul: Keluarga Bahagia
Penulis: Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit: Momentum
Tebal: 125 halaman
Cetakan: Ke-8, Mei 2006

Buku yang ditulis pada tahun 1991 ini berangkat dari kenyataan bahwa keretakan keluarga dan perceraian terus meningkat, sementara kebahagiaan sejati tampak semakin jauh dari jangkauan. Banyak keluarga mengalami kondisi yang digambarkan sebagai “seperti di neraka”.

Di tengah tekanan masyarakat, agama, dan norma budaya, banyak orang berusaha mempertahankan keharmonisan keluarga hanya secara lahiriah—sekadar dari “kulit luarnya”. Oleh karena itu, penulis buku ini memiliki kerinduan agar kebahagiaan sejati dapat kembali hadir, baik bagi mereka yang telah berkeluarga maupun yang sedang mempersiapkan diri menuju pernikahan. Harapannya, melalui buku ini, kemuliaan dapat kembali kepada Allah sebagai sumber kebahagiaan sejati dalam keluarga Kristen.


Tujuh Bab yang Membahas Prinsip Keluarga Kristen

Buku ini terdiri dari tujuh bab yang membahas topik-topik penting dalam kehidupan keluarga Kristen, antara lain:

  1. Prinsip keluarga Kristen
  2. Alasan pernikahan Kristen
  3. Urutan penting dalam keluarga
  4. Menghormati perkawinan
  5. Harmoni perbedaan laki-laki dan perempuan
  6. Ordo suami-istri Kristen
  7. Kendala dan kunci kebahagiaan keluarga

Keluarga Sebagai Cerminan Kasih Allah Tritunggal

Pada bagian awal, penulis menjelaskan bahwa dalam kehendak kekal Allah, Dia membentuk keluarga sebagai komunitas kecil yang mencerminkan kasih dan kebersamaan dalam Pribadi Allah Tritunggal.

Keluarga menjadi wadah untuk belajar berkasih-kasihan, berkomunikasi, dan saling memperhatikan satu sama lain, sebagaimana Allah berelasi dalam Tritunggal-Nya. Karena itu, pernikahan Kristen merupakan bagian dari rencana Allah dalam menciptakan manusia, yakni untuk menjadi cerminan kasih dan keharmonisan ilahi (halaman 5).


Rantai Otoritas dalam Keluarga Kristen

Penulis juga menekankan pentingnya rantai atau urutan otoritas universal (the chain of authority of the universe) dalam kehidupan keluarga Kristen. Rantai otoritas ini menjadi dasar keharmonisan hidup:

  • Allah adalah kepala Kristus
  • Kristus adalah kepala laki-laki
  • Laki-laki adalah kepala perempuan
  • Ayah dan ibu adalah kepala anak-anak

Ketika urutan ini dipahami dan dijalankan dengan benar, keluarga akan hidup dalam keharmonisan dan terhindar dari kekacauan. Sebaliknya, kekacauan dalam kehidupan manusia muncul karena rantai ini diabaikan atau dilanggar.


Prinsip-Prinsip Keluarga yang Bersifat Aplikatif

Buku ini menawarkan banyak prinsip praktis untuk membangun keluarga yang kuat dan bahagia. Prinsip-prinsip tersebut tidak hanya relevan bagi pasangan yang baru menikah, tetapi juga bagi mereka yang telah lama berumah tangga.

Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki hubungan keluarga, karena setiap hari adalah kesempatan baru untuk mengoreksi arah hidup. Buku ini ditulis dengan gaya aplikatif, sehingga pembaca lebih mudah memahami dan menerapkan prinsip firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.


Menghidupi Arti Keluarga di Zaman Modern

Di masa kini, ketika banyak keluarga memiliki lebih banyak waktu bersama, buku ini dapat menjadi panduan untuk merenungkan kembali arti membentuk keluarga dan pentingnya sistem keluarga Kristen di tengah arus pandangan modern yang sering bertentangan dengan nilai-nilai Alkitab.

Mari gunakan waktu berharga ini untuk memandang keluarga dari sudut pandang kehendak Tuhan—membangun rumah tangga yang berlandaskan kasih, otoritas yang benar, dan kebahagiaan sejati di dalam Allah. [MRT]

Memupuk Kemurahan Hati

Di tengah situasi pandemi yang penuh tantangan ini, banyak keluarga mengalami perubahan besar dalam hidup mereka. Tidak sedikit yang menghadapi tekanan ekonomi, kesehatan, maupun emosional. Dalam kondisi seperti ini, justru karakter kemurahan hati sangat diperlukan. Karakter ini membuat kita mampu melihat penderitaan orang lain dan tergerak untuk menolong. Kemurahan hati tidak hanya membantu mereka yang kesusahan, tapi juga menguatkan empati dan kasih dalam diri kita.

Sebagai orang tua, kita memiliki peran penting untuk menjadi teladan dalam hal kemurahan hati. Anak-anak belajar bukan hanya dari perkataan, tetapi dari sikap dan tindakan nyata yang mereka lihat setiap hari. Mulailah dari hal sederhana, seperti berbagi makanan kepada tetangga, mendoakan mereka yang sakit, atau menyisihkan uang jajan untuk membantu sesama. Libatkan anak dalam tindakan kebaikan tersebut, agar anak mengerti arti memberi dan peduli. Karakter ini, jika diajarkan secara konsisten, akan melekat dalam hati anak hingga dewasa.


Mari jadikan masa sulit ini sebagai kesempatan untuk memperkuat nilai-nilai kebenaran, khususnya murah hati. Jadilah contoh nyata bagi anak, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan aksi penuh kasih. Sebab, saat kita bermurah hati, bukan hanya orang lain yang diberkati, tapi hati kita pun diperkaya.

Sudahkah Anda menunjukkan kemurahan hati hari ini?

Baca Juga : Pengendalian Diri – Tembok Pertahanan Diri

tags :

#sekolahkarakter #pendidikankarakter #sekolahkristen #sekolahathalia #tipsparenting #videoparenting #belajarparenting #characterbasedlearningcommunity #komunitasathalia #murahhati #pedulisesama

Menabur Sukacita

Sukacita sejati tidak ditentukan oleh kondisi luar. Baik dalam kelimpahan maupun dalam pergumulan, sukacita tetap bisa hadir dalam hati kita. Dalam masa yang penuh tantangan ini, sukacita menjadi kekuatan yang menjaga hati tetap tenang dan penuh harapan. Alih-alih melihat suatu hal dari sisi negatifnya, kita akan melihat sisi positifnya. Dalam video “Menabur Sukacita” ini, Bu Charlotte memberikan inspirasi agar kita dapat menumbuhkan sukacita di dalam keluarga.

Ketika orang tua bersikap positif dan penuh syukur, anak-anak pun ikut merasakan damainya suasana rumah. Sukacita yang terpancar bukan hanya mencerahkan hari diri sendiri, tetapi juga menularkan semangat kepada orang-orang di sekitar kita. Meski menghadapi tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau situasi tak menentu, kita tetap bisa memberikan sukacita dengan kata-kata penguatan, senyuman, dan tindakan kasih yang sederhana. Mari simak 3 tips dan trik menciptakan sukacita di rumah melalui video ini!

Menabur sukacita bukanlah perkara mudah, namun hal ini dapat dilatih. Ajak keluarga untuk memulai hari dengan doa, pujian, atau mengingat hal-hal yang bisa disyukuri. Jadikan sukacita sebagai budaya dalam rumah. Ingat, hati yang bersukacita adalah sumber kekuatan. Sudahkah Anda menabur sukacita hari ini?

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! (Filipi 4:4)

Baca Juga : Liburan di Rumah Bebas ‘Drama’

tags :

#sekolahathalia #komunitassekolahathalia #sekolahkarakter #sekolahkristen #rightfromthestart #benarsejakawal #characterbasedlearningcommunity #videoparenting #tipsparenting #parenting #dirumahaja #homelearning #familyfirst # familytime

Music: www.bensound.com – LEBIH SEDIKIT

WFH Gak Harus Burnout: Ini Cara Bagi Waktu dengan Bijak

Pandemi global telah mengubah ritme kehidupan manusia secara drastis. Miliaran orang di seluruh dunia kini harus bekerja dari rumah alias Work From Home (WFH). Aktivitas profesional yang selama ini dilakukan di kantor kini “diboyong” ke rumah dan harus berjibaku membagi waktu antara bekerja, mengurus rumah, dan mengasuh anak. Kondisi ini mungkin tak pernah menjadi bayangan banyak orang sebelumnya. Batas antara pekerjaan dan kehidupan rumah tangga yang dulu jelas, kini menjadi kabur. Ketika batasan tersebut sekarang “hancur”, dampak apa yang muncul?

Berkumpulnya keluarga di rumah pada waktu yang bersamaan menjadi momen langka, yang dulu hanya bisa terjadi saat akhir pekan atau tanggal merah, momen ini keluarga bisa memiliki lebih banyak waktu berkualitas bersama. Namun, berkumpulnya keluarga ini, jika dibarengi dengan pekerjaan kantor, dapat memunculkan banyak masalah. Khususnya, bagi orang tua yang memiliki anak kecil. Saat orang tua sedang fokus bekerja, anak sudah meminta ditemani bermain. Ketika orang tua sedang conference meeting, anak meminta bimbingan mengerjakan pelajaran sekolah.

Strategi Efektif agar Sukses Menjalani WFH

Aktivitas WFH memang membutuhkan strategi yang jitu. Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan agar pekerjaan dapat selesai tepat waktu dan Anda tetap mempunyai waktu berkualitas bersama keluarga.

1. Buat Jadwal Harian

Saatnya membuat jadwal! Mungkin selama ini Anda hanya membuat jadwal untuk anak Anda. Jadwal bangun tidur, sarapan, mandi, bermain, belajar, dan lain sebagainya. Sekarang, saatnya membuat jadwal untuk semua anggota keluarga! Dengan adanya jadwal ini, hari-hari Anda akan lebih teratur dan Anda bisa membagi waktu untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan. Ingat, usahakan untuk disiplin mematuhi jadwal agar hari Anda tidak kacau!

2. Tentukan Skala Prioritas

Dengan banyaknya pekerjaan dan terbatasnya waktu selama WFH, penting bagi kita untuk menyusun skala prioritas. Pikirkanlah, mana pekerjaan yang harus segera dikerjakan dan mana yang masih bisa ditunda untuk dikerjakan besok? Kerjakanlah pekerjaan yang memang harus diselesaikan sesegera mungkin dan tunda yang bisa dikerjakan lain waktu. Hal ini dapat menghindarkan Anda dari perasaan burnout karena berusaha menyelesaikan semua pekerjaan, sedangkan waktu yang ada terbatas.

3. Bagi Tugas dengan Pasangan

Jika Anda dan pasangan sama-sama harus bekerja di rumah, buatlah kesepakatan. Aturlah jadwal dengan pasangan mengenai waktu bekerja masing-masing. Jika Anda dan pasangan memiliki anak kecil di rumah dan tidak ada orang lain yang bisa menjaganya, tentu harus ada “pergantian shift jaga”. Sepakati bahwa Anda membutuhkan waktu di pagi hari sekian jam untuk menyelesaikan pekerjaan. Begitu juga ketika pasangan meminta waktu untuk bekerja, akomodasi kebutuhan tersebut dan berikan waktu Anda sepenuhnya untuk menjaga anak dan mengurus rumah.

4. Pintar Mengatur Waktu

Anda bisa sukses melakukan pekerjaan di rumah jika Anda mengetahui golden times pribadi Anda. Ada orang yang lebih nyaman bekerja di pagi hari setelah bangun tidur. Namun, ada juga yang lebih suka bekerja di malam hari saat semua orang sudah tidur. Kenali gaya bekerja dan temukan golden times Anda sendiri. Misalnya, jika Anda merasa lebih nyaman bekerja di pagi hari, berarti Anda harus bangun lebih pagi dari semua orang di rumah, mulai bekerja sampai waktu yang Anda tentukan sendiri, kemudian melanjutkan aktivitas lainnya.

5. Sediakan Waktu Istirahat

Salah satu permasalahan orang-orang yang bekerja di rumah, adalah overworked. Tak adanya batasan jam pulang membuat orang meneruskan pekerjaannya hingga malam hari. Padahal, hari-hari Anda tak melulu tentang bekerja. Jangan lupa menyediakan waktu untuk me time, alone with God, atau istirahat. Berikan tubuh reward dengan mengajaknya istirahat, menonton film favorit, membaca buku yang belum sempat dituntaskan, atau sekadar melakukan hobi. Jangan lupa bahwa hati yang bahagia akan menghasilkan tubuh yang sehat.

Baca Juga : Liburan di Rumah Bebas ‘Drama’

Mulai dengan Hati yang Seimbang

Dalam situasi WFH, mudah sekali terjebak dalam rutinitas tanpa batas. Di tengah kesibukan Anda, jangan lupakan peran spiritual dalam menjalani hari. Sempatkan diri untuk bersaat teduh, berkomunikasi intim dengan Tuhan. Serahkan hari Anda kepada Tuhan dan mintalah penyertaan-Nya agar Anda bisa melewati hari demi hari.

Selamat bekerja dari rumah dengan bijak! [DLN]

Rendah Hati: Kunci Utama Membangun Relasi

rendah hati

Orang tua yang memiliki anak remaja sering kali menghadapi masa-masa sulit dalam membangun komunikasi dengan anaknya. Masa remaja dikenal sebagai fase terjadinya perubahan besar, baik secara emosional, psikologis, maupun sosial. Sikap remaja yang cenderung cuek, lebih suka bergaul dengan teman sebaya, dan tampak enggan mendengarkan nasihat orang tua kerap memicu ketegangan di rumah. Kondisi ini semakin terasa di masa kini, ketika situasi membuat anak dan orang tua harus menghabiskan lebih banyak waktu bersama di rumah, bahkan hingga 24 jam penuh.

Dalam situasi seperti itu, friksi kecil dapat dengan cepat berubah menjadi konflik yang lebih besar. Ketika orang tua merasa tidak dihargai dan anak merasa dikekang, jarak emosional di antara keduanya bisa semakin melebar. Jika tidak ditangani dengan bijak, hubungan yang seharusnya menjadi tempat bertumbuh bagi anak justru bisa menjadi sumber luka batin. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mencari pendekatan yang tidak hanya memperbaiki perilaku anak, tetapi juga membangun hubungan yang lebih sehat dan kuat.

Lantas, apa yang dapat dilakukan oleh orang tua agar relasi dengan anak tetap terjaga, bahkan bertumbuh, tanpa harus merusak kepercayaan yang sudah ada?

Rendah Hati, Kunci Utama Membangun Relasi

Dalam video singkat ini, Ibu Charlotte Priatna mengajak para orang tua untuk mengasah karakter rendah hati. Rendah hati bukan berarti menyerah atau mengabaikan prinsip yang benar. Sebaliknya, rendah hati adalah kesiapan untuk membuka diri, mengakui kelemahan, dan bersedia belajar dari kesalahan, termasuk dalam berelasi dengan anak. Dengan sikap rendah hati, orang tua tidak lagi hanya fokus menuntut anak untuk berubah atau introspeksi. Orang tua pun mau melakukan evaluasi diri: apakah cara berkomunikasi yang diterapkan sudah membangun? Apakah sikap kita sudah cukup memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh mandiri? dan lain sebagainya.

Siapkah kita, sebagai orang tua, untuk terus belajar dan bertumbuh?

Baca Juga : Kiat-Kiat Mendampingi Remaja Saat Menghadapi Masalah

Tags:

#tipsparenting #videoparenting #dirumahaja #belajarparenting #belajarkarakter #rendahhati #relasiorangtuadananak #parenthood #sekolahkarakter #sekolahathalia #characterbasedlearningcommunity #rightfromthestart

Music: www.bensound.com

Jangan Marah Dulu! Simak Cara Melatih Kesabaran

Shalom Bapak/Ibu dalam Komunitas Athalia. Bagaimana kabarnya selama #dirumahaja? Sebelum mulai, mari renungkan hal ini sejenak. Dalam kesibukan dan kepenatan di masa pandemi ini, seberapa sering kita mengingat pentingnya kesabaran dalam menjalani hari bersama keluarga?

Pandemi Covid-19 membuat banyak keluarga beraktivitas sepenuhnya di rumah. Awalnya mungkin terasa menyenangkan, tapi lama-kelamaan rutinitas yang monoton bisa menimbulkan rasa jenuh dan bahkan membuat orang tua kehilangan kesabaran. Anak-anak yang aktif sering bertengkar karena berebut remote TV, meminta perhatian terus-menerus, dan membuat rumah terasa kacau.

Dalam kondisi penuh ketidakpastian ini, kesabaran adalah kunci utama. Kita perlu menyadari bahwa anak-anak juga sedang berjuang menghadapi ketidakpastian. Mereka belum bisa mengelola emosi seperti orang dewasa. Sebagai orang tua, kita ditantang untuk lebih bijak, bukan hanya dalam mengatur rutinitas, tetapi juga dalam mengelola diri sendiri.

Alih-alih terpancing emosi, mari belajar mengatur ulang ekspektasi dan memperbanyak momen kebersamaan yang penuh kasih. Latihan kesabaran bukan berarti menahan amarah saja, tetapi hadir secara utuh, mendengarkan lebih banyak, dan menciptakan suasana rumah yang aman secara emosional. Inilah kesempatan emas untuk memperkuat ikatan batin dengan anak dan membentuk karakter mereka melalui keteladanan yang penuh cinta.

Mari kita jadikan masa ini peluang untuk bertumbuh dalam kesabaran. Tonton kembali video di atas bersama pasangan atau komunitas Anda dan renungkan, “Apakah aku sudah menunjukkan kasih dan kesabaran hari ini?

Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Tags : 

#parenting #tipsparenting #videoparenting #charlottepriatna #karaktersabar  #sekolahathalia #sekolahkarakter #rightfromthestart #covid19 #dirumahaja #sekolahdirumah #belajardirumah #physicaldistancing #psbbtangsel

Melihat Hardiknas di Tengah Pandemi

Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas. Hardiknas menjadi momen penting untuk merefleksikan arah dan tujuan pendidikan di Indonesia. Tahun 2020, peringatan Hardiknas terasa sangat berbeda. Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama Covid-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020. Pengumuman ini menjadi titik awal perubahan besar dalam berbagai sektor, termasuk pendidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merespons cepat dengan mendorong pembelajaran jarak jauh secara nasional. Pemerintah pusat dan daerah menyelaraskan kebijakan demi menjaga keberlangsungan pendidikan. Situasi ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk belajar hal baru.

Beberapa sekolah langsung membuat kebijakan insidental berkaitan dengan Proses Belajar Mengajar (PBM). Mereka mulai menerapkan sistem home learning sebagai solusi alternatif. Para pengajar tetap datang ke sekolah untuk menyiapkan materi home learning. Sekolah Athalia sendiri menggunakan Google Classroom dan Google Form dalam PBM jarak jauh ini. Siswa SD, SMP, dan SMA dapat melakukan tanya-jawab secara langsung dan personal dengan pengajar melalui media ini. Relasi dan komunikasi tetap dapat dibangun. Pembinaan karakter pun masih dapat dilakukan walau terbatas.

Bagaimana peran orang tua dalam PBM jarak jauh ini? Pendek kata, semua orang tua (SD–SMA) harus mendampingi anak-anaknya belajar. Setidaknya, mereka harus mengingatkan anak-anak untuk membuka ponsel dan komputer mereka untuk menerima pembelajaran jarak jauh yang diberikan pengajarnya. Kesempatan ini sebenarnya bisa dipakai oleh orang tua untuk membangun komunikasi dan relasi dengan anak-anak. Selama ini, kesibukan orang tua dan atau kesibukan anak menjadi penghalang terciptanya efektivitas hubungan antaranggota keluarga. Momentum home learning dan work from home dapat dimanfaatkan untuk rekonsiliasi (pemulihan hubungan) jika selama ini ada friksi yang terjadi antara orang tua dan anak yang belum sempat diselesaikan.

Baca Juga : Inilah Pesona Matematika yang Tak Banyak Orang Sadari!

Membangun Karakter di Tengah Keterbatasan

Kebersamaan di rumah juga berfungsi untuk membentuk karakter anak. Orang tua dapat memotivasi anak untuk berusaha memahami materi yang diberikan pengajar dan mendorong anak untuk tidak menyerah ketika mengerjakan soal-soal yang sulit. Pada saat yang bersamaan, orang tua juga harus belajar bersabar dalam mengajari anak memahami materi tertentu. Tak hanya anak yang terbentuk karakternya, tetapi juga orang tua.

Tentu saja proses ini dapat berdampak buruk bagi hubungan orang tua dan anak. Orang tua dapat mengalami stres dan mudah marah karena tidak sabar mendampingi anak belajar. Anak juga menjadi patah semangat dan marah menghadapi orang tuanya yang tidak sabaran. Semuanya berpulang kepada kita. Apakah kita mau memanfaatkan situasi dan kondisi ini untuk kebaikan kita? Jawabannya ada pada kita masing-masing.

Apakah pengajar diuntungkan oleh situasi tidak ideal ini? PBM dilakukan tanpa tatap muka seperti biasanya. Beberapa pengajar memang melakukan perekaman video untuk menyampaikan materi. Namun, tidak ada proses umpan balik dari siswa. Pengajar merindukan kesempatan untuk bertatap muka dengan “anak-anaknya”. Interaksi langsung dengan siswa menjadi kerinduan yang mendalam bagi para pengajar. Tidak sekadar menyampaikan materi, mereka juga ingin melihat ekspresi dan respons spontan dari para siswa.

Ada kerinduan untuk menegur dengan penuh kasih saat siswa tampak tidak fokus dalam pembelajaran. Momen menyapa dengan senyuman hangat di awal pelajaran pun terasa sangat dirindukan. Kelas yang biasanya riuh oleh celoteh siswa kini senyap di balik layar komputer. Keceriaan yang dulu mewarnai ruang kelas tidak bisa tergantikan oleh media virtual. Mereka merindukan suasana belajar yang hidup!

Perspektif Siswa terhadap Home Learning

Bagaimana dengan para siswa? Apakah mereka menikmati suasana belajar home learning? Apakah mereka menyukai cara belajar tanpa tatap muka seperti ini? Memang, tidak ada omelan, hukuman berdiri di belakang kelas, dan lain sebagainya. Namun, ternyata oh ternyata, mereka lebih menyukai PBM dengan bertatap muka langsung dengan pengajar dan teman mereka di kelas!

PBM jarak jauh dapat menjadi solusi alternatif ketika PBM tatap muka tidak dapat dilaksanakan karena adanya halangan besar yang tidak dapat ditembus. Kesimpulan lainnya, PBM yang efektif harus menghadirkan pengajar dan siswa yang bertatap muka langsung di kelas ataupun di luar kelas. Orang tua dan siswa membutuhkan pengajar dalam PBM yang efektif. Bahkan, para siswa membutuhkan kesempatan untuk bertatap muka langsung dengan pengajar dalam menerima pengajaran. Hal yang sama juga berlaku bagi pengajar yang membutuhkan umpan balik dari siswanya.

Sebagai seorang pendidik yang sudah berkecimpung selama 34 tahun dalam “dunia persilatan” (baca: dunia pendidikan), naluri pengajar saya mengatakan bahwa Menteri Pendidikan kita, Dr. Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A., akan menerapkan pembelajaran online (jarak jauh) dan pembelajaran tatap muka langsung (jarak dekat) pada saat yang bersamaan. Bahkan, mungkin program akselerasi akan diterapkan secara nasional di semua sekolah dengan pendekatan pembelajaran online sebagai pendekatan andalannya. Namun, pembinaan karakter juga akan dikedepankan.

Baca Juga : A Power to Rise Up

Hardiknas dan Penghargaan untuk Pahlawan Pendidikan

Dalam rangka memperingati Hardiknas yang ke-112, marilah kita menyatakan syukur kepada Tuhan yang sudah mendidik bangsa ini melalui para pendidik dan tenaga kependidikan selama ratusan tahun. Tuhan menggerakkan Bapak Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional) dan bapak/ibu pendidik/tenaga kependidikan lainnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa tercinta, Indonesia. Pendidikan akademis dan pembinaan karakter yang selama ini sudah diterapkan di sekolah-sekolah telah menghasilkan para tenaga profesional yang cinta akan negeri ini. Hal ini terlihat nyata dari sepak terjang para dokter, suster, dan paramedis yang siap mengorbankan diri dalam merawat para pasien yang terjangkit Covid-19.

Selain tenaga profesional di bidang kesehatan, kita juga memiliki para pemimpin pemerintahan yang bekerja penuh dalam menangani pandemi di negeri tercinta. Lalu, ada sejumlah orang yang memberikan donasi untuk penanganan Covid-19. Luar biasa! Mereka bahu-membahu menghadapi kondisi ini. Para pemimpin, anggota POLRI/TNI, tenaga profesional di bidang kesehatan, dan para donatur tidak dapat kita pungkiri adalah hasil dari pendidikan nasional selama ini.

Di sisi lain, pendidikan nasional kita juga melahirkan pemimpin-pemimpin yang intoleran, dokter-dokter yang berjiwa bisnis, anggota POLRI/TNI yang diskriminatif, dan lain-lain. Itu harus menjadi “pekerjaan rumah” kita bersama. Jika kita sehati, anak bangsa bersatu, masalah laten akan dapat kita atasi. Bersama Tuhan kita bisa melakukan banyak hal. Impossible is nothing for Him.

Langkah dalam Memerangi Covid-19

A. Teknis

  • Tinggal di rumah dan menerapkan physical distancing jika beraktivitas di luar rumah.
  • Wajib memakai masker ketika beraktivitas di luar rumah dan mencuci tangan dengan sabun/memakai hand sanitizer setelah beraktivitas.
  • Wajib mengganti pakaian setibanya di rumah setelah beraktivitas di luar rumah.
  • Wajib mengonsumsi makanan bergizi, minum air mineral dalam jumlah yang cukup, sempatkan berolahraga, dan usahakan berjemur di bawah matahari pagi selama kurang lebih 15 menit.

B. Nonteknis

  • Bijaksanalah dalam menanggapi dan meneruskan berita-berita yang lalu-lalang seputar Covid-19 di grup media sosial.
  • Kurangi “mengonsumsi” berita-berita tentang Covid-19 yang dapat mengakibatkan stres.
  • Lakukan waktu teduh secara teratur dan alami perjumpaan dengan Allah yang akan memberi penghiburan dan kekuatan.
  • Mengucap syukur kepada Allah karena Dia turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia.
  • Teruslah berdoa dan berpengharapan di dalam Kristus. Di dalam pengharapan ada sukacita yang sejati. Hati yang gembira adalah obat.
  • Imanilah bahwa Allah kita berkuasa atas alam semesta dan segala isinya, maut, dosa, dan virus Corona.

Akhir kata, selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dan selamat hidup berkemenangan di dalam Kristus. Amin.

Ditulis oleh: Presno Saragih, Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Athalia