Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas. Hardiknas menjadi momen penting untuk merefleksikan arah dan tujuan pendidikan di Indonesia. Tahun 2020, peringatan Hardiknas terasa sangat berbeda. Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama Covid-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020. Pengumuman ini menjadi titik awal perubahan besar dalam berbagai sektor, termasuk pendidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merespons cepat dengan mendorong pembelajaran jarak jauh secara nasional. Pemerintah pusat dan daerah menyelaraskan kebijakan demi menjaga keberlangsungan pendidikan. Situasi ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk belajar hal baru.
Beberapa sekolah langsung membuat kebijakan insidental berkaitan dengan Proses Belajar Mengajar (PBM). Mereka mulai menerapkan sistem home learning sebagai solusi alternatif. Para pengajar tetap datang ke sekolah untuk menyiapkan materi home learning. Sekolah Athalia sendiri menggunakan Google Classroom dan Google Form dalam PBM jarak jauh ini. Siswa SD, SMP, dan SMA dapat melakukan tanya-jawab secara langsung dan personal dengan pengajar melalui media ini. Relasi dan komunikasi tetap dapat dibangun. Pembinaan karakter pun masih dapat dilakukan walau terbatas.
Bagaimana peran orang tua dalam PBM jarak jauh ini? Pendek kata, semua orang tua (SD–SMA) harus mendampingi anak-anaknya belajar. Setidaknya, mereka harus mengingatkan anak-anak untuk membuka ponsel dan komputer mereka untuk menerima pembelajaran jarak jauh yang diberikan pengajarnya. Kesempatan ini sebenarnya bisa dipakai oleh orang tua untuk membangun komunikasi dan relasi dengan anak-anak. Selama ini, kesibukan orang tua dan atau kesibukan anak menjadi penghalang terciptanya efektivitas hubungan antaranggota keluarga. Momentum home learning dan work from home dapat dimanfaatkan untuk rekonsiliasi (pemulihan hubungan) jika selama ini ada friksi yang terjadi antara orang tua dan anak yang belum sempat diselesaikan.
Baca Juga : Inilah Pesona Matematika yang Tak Banyak Orang Sadari!
Membangun Karakter di Tengah Keterbatasan
Kebersamaan di rumah juga berfungsi untuk membentuk karakter anak. Orang tua dapat memotivasi anak untuk berusaha memahami materi yang diberikan pengajar dan mendorong anak untuk tidak menyerah ketika mengerjakan soal-soal yang sulit. Pada saat yang bersamaan, orang tua juga harus belajar bersabar dalam mengajari anak memahami materi tertentu. Tak hanya anak yang terbentuk karakternya, tetapi juga orang tua.
Tentu saja proses ini dapat berdampak buruk bagi hubungan orang tua dan anak. Orang tua dapat mengalami stres dan mudah marah karena tidak sabar mendampingi anak belajar. Anak juga menjadi patah semangat dan marah menghadapi orang tuanya yang tidak sabaran. Semuanya berpulang kepada kita. Apakah kita mau memanfaatkan situasi dan kondisi ini untuk kebaikan kita? Jawabannya ada pada kita masing-masing.
Apakah pengajar diuntungkan oleh situasi tidak ideal ini? PBM dilakukan tanpa tatap muka seperti biasanya. Beberapa pengajar memang melakukan perekaman video untuk menyampaikan materi. Namun, tidak ada proses umpan balik dari siswa. Pengajar merindukan kesempatan untuk bertatap muka dengan “anak-anaknya”. Interaksi langsung dengan siswa menjadi kerinduan yang mendalam bagi para pengajar. Tidak sekadar menyampaikan materi, mereka juga ingin melihat ekspresi dan respons spontan dari para siswa.
Ada kerinduan untuk menegur dengan penuh kasih saat siswa tampak tidak fokus dalam pembelajaran. Momen menyapa dengan senyuman hangat di awal pelajaran pun terasa sangat dirindukan. Kelas yang biasanya riuh oleh celoteh siswa kini senyap di balik layar komputer. Keceriaan yang dulu mewarnai ruang kelas tidak bisa tergantikan oleh media virtual. Mereka merindukan suasana belajar yang hidup!
Perspektif Siswa terhadap Home Learning
Bagaimana dengan para siswa? Apakah mereka menikmati suasana belajar home learning? Apakah mereka menyukai cara belajar tanpa tatap muka seperti ini? Memang, tidak ada omelan, hukuman berdiri di belakang kelas, dan lain sebagainya. Namun, ternyata oh ternyata, mereka lebih menyukai PBM dengan bertatap muka langsung dengan pengajar dan teman mereka di kelas!
PBM jarak jauh dapat menjadi solusi alternatif ketika PBM tatap muka tidak dapat dilaksanakan karena adanya halangan besar yang tidak dapat ditembus. Kesimpulan lainnya, PBM yang efektif harus menghadirkan pengajar dan siswa yang bertatap muka langsung di kelas ataupun di luar kelas. Orang tua dan siswa membutuhkan pengajar dalam PBM yang efektif. Bahkan, para siswa membutuhkan kesempatan untuk bertatap muka langsung dengan pengajar dalam menerima pengajaran. Hal yang sama juga berlaku bagi pengajar yang membutuhkan umpan balik dari siswanya.
Sebagai seorang pendidik yang sudah berkecimpung selama 34 tahun dalam “dunia persilatan” (baca: dunia pendidikan), naluri pengajar saya mengatakan bahwa Menteri Pendidikan kita, Dr. Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A., akan menerapkan pembelajaran online (jarak jauh) dan pembelajaran tatap muka langsung (jarak dekat) pada saat yang bersamaan. Bahkan, mungkin program akselerasi akan diterapkan secara nasional di semua sekolah dengan pendekatan pembelajaran online sebagai pendekatan andalannya. Namun, pembinaan karakter juga akan dikedepankan.
Baca Juga : A Power to Rise Up
Hardiknas dan Penghargaan untuk Pahlawan Pendidikan
Dalam rangka memperingati Hardiknas yang ke-112, marilah kita menyatakan syukur kepada Tuhan yang sudah mendidik bangsa ini melalui para pendidik dan tenaga kependidikan selama ratusan tahun. Tuhan menggerakkan Bapak Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional) dan bapak/ibu pendidik/tenaga kependidikan lainnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa tercinta, Indonesia. Pendidikan akademis dan pembinaan karakter yang selama ini sudah diterapkan di sekolah-sekolah telah menghasilkan para tenaga profesional yang cinta akan negeri ini. Hal ini terlihat nyata dari sepak terjang para dokter, suster, dan paramedis yang siap mengorbankan diri dalam merawat para pasien yang terjangkit Covid-19.
Selain tenaga profesional di bidang kesehatan, kita juga memiliki para pemimpin pemerintahan yang bekerja penuh dalam menangani pandemi di negeri tercinta. Lalu, ada sejumlah orang yang memberikan donasi untuk penanganan Covid-19. Luar biasa! Mereka bahu-membahu menghadapi kondisi ini. Para pemimpin, anggota POLRI/TNI, tenaga profesional di bidang kesehatan, dan para donatur tidak dapat kita pungkiri adalah hasil dari pendidikan nasional selama ini.
Di sisi lain, pendidikan nasional kita juga melahirkan pemimpin-pemimpin yang intoleran, dokter-dokter yang berjiwa bisnis, anggota POLRI/TNI yang diskriminatif, dan lain-lain. Itu harus menjadi “pekerjaan rumah” kita bersama. Jika kita sehati, anak bangsa bersatu, masalah laten akan dapat kita atasi. Bersama Tuhan kita bisa melakukan banyak hal. Impossible is nothing for Him.
Langkah dalam Memerangi Covid-19
A. Teknis
- Tinggal di rumah dan menerapkan physical distancing jika beraktivitas di luar rumah.
- Wajib memakai masker ketika beraktivitas di luar rumah dan mencuci tangan dengan sabun/memakai hand sanitizer setelah beraktivitas.
- Wajib mengganti pakaian setibanya di rumah setelah beraktivitas di luar rumah.
- Wajib mengonsumsi makanan bergizi, minum air mineral dalam jumlah yang cukup, sempatkan berolahraga, dan usahakan berjemur di bawah matahari pagi selama kurang lebih 15 menit.
B. Nonteknis
- Bijaksanalah dalam menanggapi dan meneruskan berita-berita yang lalu-lalang seputar Covid-19 di grup media sosial.
- Kurangi “mengonsumsi” berita-berita tentang Covid-19 yang dapat mengakibatkan stres.
- Lakukan waktu teduh secara teratur dan alami perjumpaan dengan Allah yang akan memberi penghiburan dan kekuatan.
- Mengucap syukur kepada Allah karena Dia turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia.
- Teruslah berdoa dan berpengharapan di dalam Kristus. Di dalam pengharapan ada sukacita yang sejati. Hati yang gembira adalah obat.
- Imanilah bahwa Allah kita berkuasa atas alam semesta dan segala isinya, maut, dosa, dan virus Corona.
Akhir kata, selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dan selamat hidup berkemenangan di dalam Kristus. Amin.
Ditulis oleh: Presno Saragih, Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Athalia