Tuhan Ada di Setiap Musim Hidup Kita

Lili Irene-Plt. Kabag PK3

Tuhan Ada di Setiap Musim Hidup Kita

Mazmur 139:16 mengatakan, “Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk sebelum ada satupun daripadanya”.

Segala Sesuatu Ada Waktunya

Pernahkah kita merasa dalam kehidupan ini seolah-olah kesulitan menimpa kita terus-menerus? Atau kita mengalami sukacita secara beruntun? Jika kesulitan atau kesedihan seakan tiada akhir tentu saja ini melelahkan kita. Setiap orang pasti mengharapkan hidupnya selalu dipenuhi oleh sukacita. Namun, hidup tidak berjalan demikian. Setiap orang memiliki perjalanannya masing-masing. Jika kita melihat dalam konteks hidup di Indonesia, ada musim hujan dan kemarau. Hujan tidak selalu terus-menerus tanpa henti atau kemarau panjang tanpa akhir. Di balik hujan ada pelangi dan di balik kemarau ada Tuhan yang berkuasa atas alam. Segala sesuatu ada waktunya.

Tuhan Selalu Ada

Mazmur 139: 16 mengatakan, “Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk sebelum ada satupun daripadanya”. Ayat ini mengingatkan bahwa Tuhan ada dalam setiap perjalanan hidup kita bahkan sejak kita masih di dalam kandungan. Betapa istimewanya kita sehingga Ia mengingat dan menjaga kita dari awal hidup kita, bahkan sampai masa tua pun Tuhan tetap menggendong kita. Yesaya 46:4, “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus, Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.” Pada akhir perjalanan kita di dunia ini nantinya, Tuhan pun tidak pernah melepaskan tangan kita. Ia selalu ada untuk kita.

Janji Tuhan

Apakah pergumulan dan kesulitan yang sedang kita alami saat ini sehingga membuat kita merasa sesak, bahkan mempertanyakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita? Tuhan yang hadir ketika kita masih bakal anak, Ia pun akan selalu hadir dalam setiap pergumulan dan kesulitan yang kita alami. Tentu tidak mudah melewati semua pergumulan sakit penyakit, pekerjaan, kebutuhan hidup, persoalan keluarga, dan sebagainya. Namun, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendiri melewati semua ini. Tuhan ada di dalam setiap musim yang kita lewati. Ia memelihara hidup kita. Kasihnya memeluk kita dengan penuh kelembutan dan berkata,”Anak-Ku, Aku ada di sini untukmu. Tetaplah kuat, Aku akan berjalan bersamamu”.

Mari ambil waktu sejenak untuk merenungkan lagu berikut ini,
“Semusim berlalu namun Kau s’lalu p’liharaku.
Kasih dan setia-Mu tak pernah layu di hidupku.
Lebih luas dari samudra Kebaikan-Mu Bapa tak kan habis di hidupku.
Lebih tinggi dari cakrawala tak terbatas kasih-Mu sungguh kubersyukur”
. (https://bit.ly/4aBKCkS)

Setiap musim atau kondisi apapun yang kita alami Tuhan ada di sana menemani kita. Tuhan mengasihi kita semua. Tetaplah semangat!

Baca juga: Tuhan Hadir Di Setiap Musim

Dua Hari Puisi di Indonesia

Dua Hari Puisi di Indonesia

Wenny Primandari-Pengajar Bahasa Indonesia SMP

Pernahkah di antara kita merayakan Hari Puisi? Atau barangkali ada yang baru mendengar hari nasional satu ini. Tidak dapat dipungkiri, Hari Puisi memang cukup asing di telinga kita, tapi bukan berarti tidak ada, ya. Hari nasional tersebut sering dirayakan oleh komunitas tertentu saja. Namun, ada baiknya jika kita mengetahuinya juga. Nah, ada yang tahu, kapan diperingatinya?

Kapan Diperingati?

Hari Puisi di Indonesia sangat istimewa karena diperingati dua kali dalam setahun. Ya, Hari Puisi di Indonesia diperingati pada 28 April dan 26 Juli. Yang pertama, Hari Puisi Indonesia dideklarasikan di Pekanbaru, Riau pada 15 November 2012 yang diwakili waktu itu oleh penyair Sutardji Calzoum Bachri mengatasnamakan para penyair Indonesia yang datang dari berbagai daerah. “Deklarasi Hari Puisi Indonesia” tersebut ditandatangani oleh 30 penyair dari Aceh sampai Papua. Tanggal Hari Puisi Indonesia yang dimaksud adalah 26 Juli yang merupakan tanggal lahir “Si Binatang Jalang”, yakni Chairil Anwar.


Yang kedua, Hari Puisi Nasional diperingati setiap tanggal 28 April merujuk pada tanggal meninggalnya Chairil Anwar pada 28 April 1949 yang dikebumikan di pemakaman Karet yang sekarang disebut Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta. Chairil Anwar merupakan sastrawan dan penyair pelopor Angkatan ‘45 yang dikenal dan dicatat sebagai penyair yang berpengaruh bagi perkembangan sastra Indonesia.

Apa Maksud Peringatan Hari Puisi?

Peringatan Hari Puisi Indonesia dimaksudkan untuk menghargai serta merayakan keindahan puisi dan mendorong setiap kita untuk mengeksplorasi kreativitas dalam menulis puisi atau menikmati puisi sebagai bentuk seni yang indah. Puisi juga memegang peranan penting dalam kebudayaan manusia karena mampu menginspirasi, merangsang, dan memberikan wawasan baru pada pembacanya.


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Jadi, dapat disimpulkan puisi adalah ungkapan pikiran dan perasaan yang dituangkan dalam tulisan dengan menggunakan bahasa yang indah serta mengandung makna mendalam.


Puisi merupakan salah satu cara manusia mengungkapkan pikiran, emosi, ide, gagasan, dan perasaan yang sedang dialami ke dalam untaian kalimat-kalimat yang indah dan penuh makna. Siapa pun dapat menulis puisi. Puisi masa kini tidak lagi terjebak ke dalam syarat dan aturan-aturan tertentu, di antaranya satu bait harus terdiri dari empat baris, dalam satu baris memiliki 8 sampai 12 suku kata, sajaknya harus a-a-a-a, dan lain sebagainya. Puisi saat ini lebih dinamis dan fleksibel.


Mari kita perhatikan salah satu contoh puisi paling singkat yang dibuat oleh Sitor Situmorang berikut:

Malam Lebaran
Bulan di atas kuburan

Puisi tersebut hanya memiliki satu baris kalimat yang sarat makna. Cukup singkat, bukan? Setiap puisi akan memiliki interpretasi yang berbeda bagi setiap orang yang membacanya. Hal tersebut sangat wajar karena setiap pribadi memiliki latar belakang pengetahuan dan pemahaman masing-masing. Jadi, mari berpuisi untuk sekadar mencurahkan isi hati. Mengikuti aturan tentu boleh, tetapi jangan terjebak di dalam aturan-aturan pembuatan yang membuat kita merasa bahwa berpuisi itu terlalu sulit. Ungkapkan saja perasaan kita ke dalam baris-baris kalimat. Selamat berpuisi.

(sumber: https://kakibukit.republika.co.id/posts/212724/hari-puisi-di-indonesia-ada-dua-28-april-26-juli)

Baca juga: Suluh Literasi di Athalia

Anugerah Tuhan

Anugerah Tuhan

Willa Nikki Aleta-Alumni SMA Athalia Angkatan XI

Perkenalan

Hai, salam kenal! Namaku, Willa Nikki Aleta, alumni SMA Athalia tahun 2023, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong. Saat ini, aku tengah menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi. Sungguh perjalanan yang panjang untuk aku sampai di titik ini, dan tentunya perjalanan tersebut masih belum usai. Perjalanan itu bermula dari aku menjejakkan kaki di SMA Athalia, perjalanan yang mengubah hidupku. Sedikit cerita, sejak masuk SMA, jujur aku sangat “clueless”, tidak tahu mau jadi apa saat lulus serta tidak tahu potensi dan kelebihan diri. Di saat teman-temanku yang nampaknya sudah memiliki segudang bakat, aku masih di fase bertanya-tanya.

Merasakan Anugerah Tuhan

Bersyukur Tuhan menempatkan aku di SMA Athalia karena aku sungguh merasakan adanya bimbingan dan arahan untuk mencari potensi diri. Aku ingat sekali momen yang mengubah hidupku. Kala itu pembelajaran daring dan mata pelajaran Bahasa Indonesia mengharuskan kami untuk membacakan sebuah puisi. Saat itu Bu Merry melihat adanya potensi dalam diriku. Tanpa ragu beliau mendorong aku untuk menjadi perwakilan SMA Athalia dalam lomba membaca puisi.
Di tengah ketidakpercayaan diriku, para pengajar Bahasa Indonesia pada saat itu terus meyakinkan diriku bahwa aku bisa, tentunya dengan segala nasehat dan perbaikan. Sejak saat itu, jujur saja, rasa kepercayaan diriku meningkat drastis. Aku jadi lebih berani mencoba hal-hal baru. Aku juga didorong untuk mengikuti lomba public speaking, hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya karena aku selalu berpikir bahwa diriku “demam panggung”.


Sungguh rencana dan anugerah Tuhan selalu tepat pada waktunya. Momen-momen yang membentuk diriku itu membuatku jadi paham akan potensi diriku dalam public speaking, sastra, hingga dalam kemampuan bersosialisasi. Hingga akhirnya, aku memiliki tujuan setelah lulus SMA dan di sinilah aku berada, di tanah Malang, berlabuh pada Jurusan Ilmu Komunikasi. Jika kembali dipikirkan, aku selalu mensyukuri momen-momen tersebut yang sudah membentuk diriku. Segala puji syukur dan kemuliaan hanya bagi Tuhan!

Baca juga: Semua karena Kasih Karunia Allah

Keluarga yang Bersyukur

Hilda Davina S.-Staf Parenting PK3

Kita semua tumbuh dengan diingatkan untuk bersyukur dan mengucapkan “terima kasih”. Psikolog Sarah Conway dalam tulisannya di Mindful Little Minds menyebutkan bahwa rasa syukur dapat meningkatkan kebahagiaan, mengurangi stres, serta membangun kepercayaan diri dan resiliensi pada anak.

Memang tidak mudah untuk bisa selalu bersyukur karena rasa syukur bukanlah sifat alami yang dimiliki manusia sejak lahir. Namun, dengan kesadaran dan komitmen orang tua sebagai teladan, sikap bersyukur dapat tumbuh dalam diri anak-anak dan menyebar ke seluruh anggota keluarga. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membentuk keluarga yang selalu bersyukur:

keluarga yang bersyukur

1. Berbagi tentang hal yang disyukuri

Biasakan berbagi rasa syukur dalam momen kebersamaan keluarga. Misalnya, saat makan malam atau sebelum tidur, ajak anak bercerita tentang hal yang mereka syukuri hari itu. Orang tua bisa memberi contoh, misalnya:

“Ayah bersyukur walaupun hari ini jalanan macet, tapi ayah masih bisa pulang tepat waktu untuk makan bersama”.

Momen ini akan mengajari anak-anak bahwa rasa syukur tidak hanya kita ungkapkan saat mendapatkan barang tertentu (materi), bahkan peristiwa yang awalnya terasa buruk pun bisa berubah menjadi hal yang baik jika kita bisa melihat peristiwa tersebut melalui perspektif yang berbeda.

2. Ucapkan terima kasih

Ungkapan terima kasih tidak hanya mampu menyenangkan hati orang yang mendengarnya, tetapi juga orang yang mengucapkannya. Ajarkan anak untuk mengucapkan terima kasih ketika mendapatkan sesuatu, mulai dari yang bentuknya fisik (konkret) hingga yang sifatnya tidak tampak (abstrak). Mintalah bantuan kepada anak untuk suatu pekerjaan yang bisa mereka lakukan dan ucapkan terima kasih sebagai bentuk apresiasi atas usaha mereka. Ucapkan terima kasih kepada pasangan kita. Semakin sering anak mendengar dan menyaksikan teladan dari orang tua, sikap bersyukur akan semakin tertanam dalam diri mereka.

Baca juga : Perjalanan Mencari Komunitas yang Bertumbuh

3. Menghitung berkat

Ajak anggota keluarga untuk menyebutkan hal-hal yang dapat kita syukuri setiap hari. Supaya lebih menarik dan menantang, kita bisa membuat gratitude poster atau gratitude jar yang wajib diisi oleh seluruh anggota keluarga. Lalu pilihlah satu momen (misalnya akhir bulan atau akhir tahun) untuk bersama-sama membaca, merenungkan, dan akhirnya menyadari betapa banyaknya berkat yang Tuhan sediakan bagi kita setiap hari.

4. Berbagi dengan sesama

Hal ini bisa dimulai dari lingkungan di sekitar kita. Menjenguk teman yang sakit, berbagi makanan dengan tetangga, mendonasikan pakaian dan mainan yang masih layak pakai, dan sebagainya. Pengalaman ini akan mengajarkan anak untuk memikirkan orang lain selain diri mereka sendiri dan mensyukuri setiap hal yang telah mereka miliki.

Membangun keluarga yang bersyukur merupakan perjalanan seumur hidup. Tidak akan selalu sempurna, tetapi jika dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketekunan akan memberi hasil yang sepadan. Setiap ungkapan syukur yang kita nyatakan merupakan bukti penyertaan Allah yang akan membawa kita makin dekat dan makin mengasihi-Nya.

Sumber: 

Focus on the Family. (2024). Teaching kids to be thankful. Focus on the Family. https://www.focusonthefamily.com/parenting/teaching-kids-to-be-thankful/
KlikPsikolog. (n.d.). Pentingnya mengajarkan bersyukur kepada anak. KlikPsikolog. https://klikpsikolog.com/pentingnya-mengajarkan-bersyukur-kepada-anak/

MENGUCAP SYUKUR DALAM SEGALA HAL

mengucap syukur dalam segala hal

Lili Irene – Plt. Kabag PK3

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah
di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
(1 Tesalonika 5:18)

Mungkin beberapa kalimat berikut ini sering kita dengar atau bahkan kadangkala kita sendiri yang mengucapkan:

“Aduh, mengapa setiap pagi harus hujan sih bukan siang saja, aku jadi kesulitan untuk pergi bekerja dan mengantar anak ke sekolah.”
“Nih, jalan setiap hari macet bikin kesel.”
“Susah sekali mengurus anak yang tidak mau mendengarkan orang tua dan guru.”
“Sebel banget sih, orang tuaku sulit sekali mengerti apa yang aku mau.”
“Ini pasanganku tidak mau peduli dengan urusan anak, padahal aku sedang capek.”

Silakan lanjutkan sendiri dengan jujur apa yang sering kita keluhkan setiap hari, tentu ada saja, bukan? Setiap orang punya masalah, keluh kesah, dan kekesalannya sendiri. Tergantung pada kita memilih untuk mensyukuri apa yang sedang terjadi sebagai sebuah proses kehidupan atau kita memilih untuk terus hidup dalam gerutu sehingga kita sulit menikmati hidup dan relasi intim kita dengan Tuhan.

Tentang Perayaan Mengucap Syukur

Mengucap syukur dalam segala hal adalah kehendak Allah bagi kita semua. Tampaknya mudah untuk dilakukan. Namun, pada kenyataannya tidaklah demikian, bukan? Ada kondisi yang membuat kita senang atau menyenangkan baru kita mudah mengucap syukur, dan pada kondisi ketika kita bersedih atau mengalami sesuatu yang tidak menguntungkan maka tidaklah mudah bagi kita untuk mengucap syukur.

Berkaitan dengan hal mengucap syukur, pernahkah Anda mendengar tentang Thanksgiving Day? Yaitu hari libur yang dirayakan masyarakat Amerika Serikat setiap tahun, pada hari Kamis keempat bulan November. Pada hari itu orang Amerika berkumpul, mengadakan pesta dan makan bersama keluarga. Tidak hanya di Amerika Serikat, di Indonesia tepatnya di Minahasa juga terdapat tradisi yang serupa dengan Thanksgiving Day. Tradisi ini disebut “Hari Pengucapan” yang diadakan untuk mengucap syukur saat akhir musim panen, yakni di bulan Juli-Oktober. Thanksgiving Day dan Hari Pengucapan yang dirayakan setahun sekali ini memiliki tujuan yang sama yaitu, mengingatkan kita bahwa kehadiran Tuhan dan keluarga adalah sebuah anugerah dari Tuhan yang harus kita syukuri.

Bersyukur Kunci Kebahagiaan

Sebagai orang percaya kita diingatkan firman Tuhan untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal. Itu artinya dalam segala kondisi dan keadaan kita terus mengucap syukur. Bersyukurlah jika anggota tubuh kita terasa sakit, artinya diingatkan bahwa kita masih memiliki anggota tubuh yang Tuhan berikan, jika hujan turun, sehingga tidak terjadi kekeringan, untuk anak-anak yang belum bisa mendengarkan kita saat ini, artinya kita masih diberi kesempatan untuk mendidik mereka, atau untuk orang tua yang belum mengerti kita, artinya kita masih diberi kesempatan untuk mengasihi dan mendoakan mereka.

Jika kita melatih pikiran dan hati kita setiap hari untuk bersyukur atas setiap anugerah dan kasih Tuhan dalam hidup kita, atas apa yang kita miliki dan tidak kita miliki, hal-hal yang terjadi baik itu suka maupun duka, maka hidup kita akan penuh dengan sukacita dan kebahagiaan. Jadi, kebahagian datang karena kita terus dibentuk menjadi pribadi yang penuh syukur. Bersyukur dalam segala hal dan keadaan. Kiranya Tuhan memampukan Komunitas Athalia baik kita sebagai pemimpin, pendidik, staf, orang tua, maupun siswa memiliki karakter yang terus bersyukur. Tuhan berjalan dengan kita setiap hari dan menggandeng tangan kita dalam segala keadaan. Puji Tuhan!

Baca juga: Sukacita di Tengah Badai: Bagaimana Tetap Bersyukur?

Kiat-Kiat Mendampingi Anak Saat Menghadapi Masalah

Oleh: Mattias Malanthon-Kepala PKBM Pinus

Sejumlah kasus bunuh diri yang terjadi di Indonesia dilakukan oleh anak-anak usia remaja. Hal ini disebabkan oleh berbagai permasalahan yang membuat mereka merasa terpojok, kesepian, tertekan, bahkan sampai kehilangan identitas. Di sinilah peran orang tua sebagai sosok terdekat dibutuhkan untuk mendampingi anak melewati masa sulit.

Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam menghadapi permasalahan anaknya, di antaranya adalah:

1. Mendengarkan versus Mendengar

Mendengarkan tidaklah sama dengan mendengar. Menurut KBBI, mendengar berarti menangkap suara dengan telinga, sedangkan mendengarkan berarti memberi perhatian secara sungguh-sungguh. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan yang mendasar antara mendengar dengan mendengarkan. Sebagai orang tua, seringkali seorang ayah atau ibu “terpaksa” mendengar anaknya bercerita. Kondisi ini biasa terjadi saat orang tua membutuhkan waktu untuk beristirahat, tapi sang anak justru meminta waktu untuk didengarkan masalahnya.

Contohnya, anak mengalami perundungan dari teman-temannya karena menolak menyontek. Dari sudut pandang orang tua, akar permasalahan tampak sederhana: “masalah menyontek.” Mereka mungkin hanya memberikan nasihat bahwa tindakan anak sudah benar. Padahal, yang menjadi inti permasalahan adalah perundungan yang dialami. Jika orang tua menyepelekan cerita anak, mereka dapat merasa terpojok, kesepian, dan tidak dimengerti.

2. Memberi Penguatan Versus Melakukan Penghakiman

Selain mendengarkan, orang tua juga perlu memberikan respons yang tepat. Memberi penguatan berarti memberi respons positif yang dapat mendorong munculnya rasa percaya diri dan penerimaan diri anak, sehingga dapat keluar dari permasalahan yang dihadapinya. Sebaliknya, penghakiman dapat diartikan sebagai respons berdasarkan pengalaman pribadi, pengalaman masa kecil, ajaran agama, etika, norma sosial, dan sebagainya.

Sebagai contoh, seorang anak merasa kesal karena hasil ujian yang dia dapatkan tidak sesuai harapan, meskipun dia merasa sudah belajar dengan sungguh-sungguh. Dalam situasi ini, orang tua bisa dapat mendampingi anak dengan memberi penguatan, berempati dengan memosisikan diri di “sepatu” anak, lebih fokus mencari tahu perasaan anak, serta memberikan dukungan positif.

Baca juga : Waspada! Ini 10 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua

3. Mengurangi Tekanan Versus Menambah Tekanan

Anak khususnya remaja sering menghadapi tekanan yang besar dari lingkungan sekolah maupun pergaulan. Maka dari itu, mereka membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya untuk berbagi cerita dan mencari solusi. Di sinilah peran orang tua sebagai pendamping sangat krusial.

Sebagai contoh, seorang anak perempuan diajak teman-teman geng-nya untuk mem-bully seorang teman, dengan ancaman akan menyebarkan rahasia pribadinya jika anak tersebut tidak mau melakukannya. Dalam situasi ini, anak mungkin merasa terjebak dan butuh seseorang yang bisa dipercaya sebagai tempat untuk bercerita, juga membantunya keluar dari masalah itu. Orang tua bisa memulai dengan mengajak anak untuk menceritakan “rahasia” yang dimaksud oleh teman-temannya. Saat anak sudah mau bercerita, ajak mereka agar bisa berdamai dengan hal tersebut. Dengan demikian anak dapat merasakan tekanan akibat masalah yang dihadapinya berkurang.

4. Optimis Versus Pesimis

Optimisme adalah kunci bagi remaja untuk menghadapi tantangan hidup. Ketika anak dapat melihat bahwa masalahnya sudah mulai terurai satu persatu, optimisme dan rasa percaya diri mereka akan tumbuh. Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk pola pikir ini.

Sebagai contoh, seorang anak mengalami perundungan karena tubuhnya yang pendek. Jika orang tua hanya merespons dengan kata-kata seperti “tidak apa-apa” tanpa penjelasan lebih lanjut, anak mungkin tetap merasa rendah diri. Namun, jika orang tua mendengarkan dengan serius, membantu anak melihat gambar diri yang baik, dan mengajarkan cara menyikapi ejekan “pendek” tersebut dengan bijak, anak akan belajar menerima dirinya dengan lebih baik dan optimis.

Mendampingi anak remaja bukan sekedar tugas, tetapi sebuah tanggung jawab moral yang harus dilakukan dengan penuh kesadaran. Anak-anak yang tahu bahwa mereka memiliki orang tua yang mendukung akan lebih kuat dalam menghadapi tantangan hidup.

Saat ini, coba tanyakan kepada diri sendiri: “Sudahkan saya benar-benar mendengarkan anak saya? Apakah saya lebih banyak memberi penghakiman daripada penguatan? Apakah saya menciptakan lingkungan yang aman bagi anak untuk bercerita?”

Mari menjadi orang tua yang siap mendampingi anak agar pada saat anak menghadapi permasalahan, mereka tahu harus bercerita kepada siapa untuk bisa keluar dari permasalahannya sebagai pemenang.

Baca juga: Perjuangan Memenangi Hati Anak dan Menjadi Teman Perjalanan Anak Bertumbuh

Pendakian di Ciremai

Oleh: Galvin F. Nathanael Ulag-Siswa Kelas XII MIPA 2

“Expedition Camp 2024 Ciremai, camp paling seru, melelahkan, banyak pelajaran didapatkan, tetapi menjadi yang paling menyedihkan”

Perkenalan

Halo, nama saya S. Sgt. Galvin Farrel Nathanael Ulag, peserta Expedition Camp 2024 Ciremai. Expedition Camp adalah salah satu kegiatan mendaki gunung dari Boys’ Brigade cabang 4 Athalia dengan tujuan memperkenalkan dan mendalami teknik-teknik mendaki gunung.

Proses Seleksi

Peserta camp melewati seleksi ketahanan fisik yang cukup ketat, yaitu push up, sit up, dan plank selama satu menit, serta lari selama lima menit. Seleksi ini perlu diadakan karena untuk mendaki gunung dengan ketinggian di atas 3000 mdpl, membutuhkan ketahanan fisik yang kuat. Puji Tuhan, saya lolos seleksi dan menjadi salah satu dari 24 peserta.

Tidak hanya sampai di situ, setelah lolos seleksi, seluruh peserta diharuskan setiap harinya untuk latihan fisik yang diberikan oleh pengajar pendamping serta melaporkan hasilnya pada grup WhatsApp. Menu latihan yang biasa diberikan adalah 3 km lari/6 km jalan, 40 push up, 40 sit up, dan 4 menit/set plank, tetapi dapat juga ditambah atau dikurangi sesuai dengan kondisi. Apabila pada hari tertentu terdapat peserta yang tidak dapat melaksanakan latihan fisik, akan dianggap “hutang set” yang harus “dibayarkan” keesokan harinya. Hal tersebut bersifat wajib, karena kondisi badan dari masing-masing peserta hanya diketahui oleh dirinya sendiri.

Saat Pendakian di Ciremai

Tibalah pada hari-H pendakian. Banyak sekali pengalaman yang menarik bagi saya, salah satunya adalah mendaki saat cuaca sedang tidak bersahabat. Medan perjalanan yang berat ditambah hujan deras membuat kondisi fisik kami semakin terkuras. Namun, semua peserta masih memiliki semangat juang yang tinggi untuk bisa sampai di pos lima, tempat kami berkemah. Kondisi fisik yang lelah tidak menghalangi kami untuk saling menyemangati. Perjalanan ini mengajarkan kami bahwa hal yang paling dibutuhkan selama proses pendakian adalah inisiatif untuk saling memberikan semangat melalui kata-kata, sikap, dan tindakan.

Kesan

Sedih bercampur bahagia saya rasakan karena Expedition Camp pendakian di Ciremai ini merupakan camp terakhir saya. Setelah kurang lebih lima tahun mengabdi di Boys’ Brigade cabang 4 Athalia, saya akan lulus dan melanjutkan pendidikan di luar Athalia. Saya bersyukur, bisa menutup pengabdian ini dengan memuaskan. Terakhir, pesan dari saya, puncak bukanlah tujuan pendakian, pulang dengan selamat adalah tujuan yang utama.

ekspedisi ciremai
ekspedition camp di ciremai
ekspedition camp
ekspedition camp
ekspedition camp
puncak ciremai

Baca juga: Boys’ Brigade

Pengharapan Bersama Tuhan

Pengharapan Bersama Tuhan

Oleh: Melody Pantja-Orang tua Siswa Kelas VIIID

Harapan Kami untuk Anak-Anak

Menjadi orang tua merupakan sebuah anugerah. Kami bersyukur dikaruniai dua orang anak yaitu Jose (kelas VIII) dan Phoebe (kelas VI) yang saat ini mereka bersekolah di Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong. Mengingat masa kecil saya yang berawal dari almarhum papa yang selalu mendukung saya untuk belajar musik, saya bersyukur dikaruniai talenta bermusik dan dapat melayani Tuhan dengan talenta tersebut.


Menjadi orang tua yang bisa bermain musik membuat saya dan suami ingin agar Jose dan Phoebe juga dapat mengikuti jejak kami. Sejak dalam kandungan, mereka sudah mendengarkan lagu klasik. Setiap malam, saat mereka masih balita, kami menyanyikan lagu untuk menemani tidur sambil mendoakan mereka.


Namun, seiring perjalanan waktu sering kali harapan kami ini nampak mustahil karena melihat anak-anak lebih suka untuk explore gadget dan games daripada bermain musik. Les piano hanya bertahan satu tahun saja dan seringnya menjadi pertengkaran karena Jose tidak mau latihan. Relasi pun menjadi tidak baik. Saat itu, tanpa disadari yang kami lakukan adalah terus memaksakan apa yang menjadi keinginan dan motivasi kami pribadi.


Sampai suatu saat ketika kami mengikuti seminar parenting, kami tersadarkan bahwa anak adalah titipan Tuhan dengan talenta yang mungkin berbeda dengan talenta yang kami harapkan. Akhirnya, kami tidak memaksakan les musik lagi. Kami belajar mendukung hobi mereka masing-masing. Pada setiap kesempatan ketika diberikan kepercayaan untuk melayani Tuhan di kebaktian, kami jadikan momen ini sebagai motivasi kepada anak-anak kami.

Tuhan Menjawab dengan Cara-Nya

Kami percaya setiap ucapan doa yang kami naikkan, pasti akan Tuhan jawab pada waktu yang terbaik. Salah satu bukti nyata penyertaan Tuhan ketika Jose dan Phoebe akhirnya bergabung dalam group ensemble gereja. Sejak Jose bersekolah di Athalia, dia pun mulai tertarik bermain bass bahkan ini menjadi quality time Jose berdua dengan papanya. Kami juga beberapa kali membuat video bernyanyi bersama.

Menaruh Pengharapan Bersama Tuhan

Melalui pengalaman ini, kami diingatkan bahwa iman dan tindakan adalah sebuah paket yang tidak dapat dipisahkan karena selalu akan ada porsi manusia dan porsi Tuhan. Iman pasti harus diikuti dengan tindakan, dan juga dengan menaruh pengharapan bersama Tuhan. Ya, kami diingatkan untuk berusaha dengan segala kemungkinan yang dapat kami lakukan tetapi tidak lupa untuk tetap menaikan segala doa dan harapan kami kepada-Nya.

Iman dan Tindakan

Iman dan Tindakan

Oleh : Lili Irene-Plt. Kabag PK3

Fakta bahwa Yesus sudah mati dan bangkit bukanlah isapan jempol belaka. Kabar ini diberitakan sendiri oleh malaikat Tuhan. Matius 28:5-6 mengatakan, “Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya.”

Iman yang Tumbuh Melalui Penyelidikan

Lee Patrick Strobel yang lahir pada tahun 1952 adalah seorang ateis. Ia menyelidiki tentang Yesus dan tidak mempercayai kematian dan kebangkitan-Nya. Setelah melakukan penelitian dan menyelidiki tentang hal tersebut, justru membawa ia menjadi orang Kristen dan mengimani kebenaran tentang Yesus. Ia membuktikan imannya dengan menjadi penulis buku apologetik. Melalui buku-bukunya, ia dapat membawa orang-orang yang meragukan iman kepada Yesus dan membuktikan bahwa apa yang dikatakan dalam Alkitab adalah benar serta memiliki bukti yang akurat. Selain itu, ia juga hidup melayani sebagai seorang hamba Tuhan dengan menggembalakan orang-orang yang sedang mencari Tuhan.

Iman dan Tindakan

Setelah Yesus bangkit, Ia menampakkan diri-Nya kepada Simon Petrus. Perintah Yesus kepada Simon Petrus yang sudah menyaksikan kebangkitan-Nya adalah pergi untuk menggembalakan domba-domba-Nya.

Iman harus diiringi dengan tindakan nyata. Strobel membuktikan bahwa apa yang ia imani perlu dibagikan kepada orang yang memiliki keraguan yang sama dengannya tentang Yesus. Ia juga melakukan tindakan nyata dengan melayani orang-orang yang membutuhkan, baik dalam pengajaran maupun pelayanan. Simon Petrus bangkit dari kesedihannya setelah melihat dan menyaksikan Yesus sudah bangkit dengan membuktikan imannya melalui tindakan melayani Dia sampai mati.

Apakah Iman Kita juga Terwujud dalam Tindakan Nyata?

Berikut ada beberapa hal yang perlu kita renungkan sebagai bukti bahwa kita hidup beriman dan memiliki tindak nyata:

  1. Menjawab dan membuktikan iman yang kita percayai. Setiap orang yang mengaku percaya kepada Yesus harusnya bisa menjawab ketika ada yang bertanya, “Mengapa kita percaya Yesus mati dan bangkit?” Oleh karena itu, kita harus terus belajar apologetika (ilmu mengenai pembelaan iman kristen). Bukan berarti kita harus belajar ke sekolah teologi, tapi kita semua termasuk anak-anak bisa belajar di sekolah minggu, ibadah di gereja, Pemahaman Alkitab (PA), dan seminar/pembinaan iman. Jadi, kita beriman bukan sekadar ikut-ikutan, tapi karena sungguh-sungguh memahami apa yang kita percayai.
  2. Membuktikan iman kita dengan tindakan nyata. Yakobus 2:14-17 mengatakan bahwa iman dan perbuatan (tindakan nyata) harus berjalan bersama. Bukan perbuatan tanpa iman, sebaliknya yang benar adalah iman yang disertai perbuatan. Orang yang beriman kepada Yesus akan membuahkan perbuatan atau tindakan nyata yang lahir dari kasih akan Allah kepada orang-orang di sekitarnya. Yakobus 2:15-17, “Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati.”
  3. Melayani serta memberitakan kasih Tuhan melalui perkataan dan perbuatan dalam keseharian hidup kita, sehingga orang lain bisa melihat karakter Kristus yang terus bertumbuh dalam hidup kita.

Mari merayakan kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus dengan terus berpegang teguh pada iman dan terus melakukan tindakan nyata yang lahir dari kasih kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Selamat Paskah. Tuhan beserta kita.

Baca juga: Melangkah Dengan Iman

Mengasihi Orang yang Menyakitimu? Ternyata Bisa, Lho!

Oleh: Natalia A. – Staf Karakter (PK3)

Mengasihi orang yang mengasihi kita tentu bukan hal yang sulit. Namun, bagaimana jika orang yang seharusnya mengasihi kita malah menyakiti kita? Dapatkah kita mengasihi mereka? Kata mengasihi yang awalnya terdengar manis bisa menjadi tawar bahkan pahit.

Meskipun begitu, sebagai orang yang telah menerima kasih Kristus bahkan di saat masih menjadi seteru Allah, kita dimampukan untuk mengasihi di luar standar dunia. Bukanlah suatu hal yang mudah, tetapi salah satu rekan kita ini sudah mengalami proses untuk mengasihi di saat sulit, loh. Siapakah dia dan bagaimanakah kisahnya?

Mengasihi dalam Luka – Kisah Tirza Naftali, M.B.A.

Halo, saya Ibu Tirza yang saat ini melayani di Chaplain (Character and Parenting Learning Institute). Saya pernah mengalami masa-masa disakiti oleh orang yang seharusnya mengasihi saya. Namun, Tuhan beranugerah menolong dan membentuk saya hingga mampu mengasihi dengan cara yang tidak saya bayangkan sebelumnya.

“Saya berasal dari keluarga hamba Tuhan, tetapi seperti tidak ada Tuhan di dalam rumah kami. Setiap hari, Mama dan Papa berdebat tanpa alasan yang saya mengerti. Sering kali Mama menghujani Papa dengan kata-kata hinaan dan juga mengeluarkan kata-kata kasar kepada kami berdua. Waktu itu, rumah tidak menjadi tempat yang aman untuk pulang. Seperti tiada hari tanpa mendengar Mama dan Papa ribut, saya pun sering kali ribut dengan Mama.

Seiring waktu, hal ini menjadikan saya mengalami cherophobia (ketakutan yang berlebihan akan perasaan bahagia). Saya merasa bahwa setiap kebahagiaan hanya akan diikuti oleh masalah baru. Ketika rumah sedang dalam keadaan tenang, misalnya, yang muncul di pikiran saya adalah ‘pasti setelah ini akan ada masalah baru yang muncul’.

Tekanan pun bertambah. Sebagai anak tunggal, saya dituntut untuk berprestasi dan menjadi sukses secara finansial di kemudian hari. Keinginan untuk menempuh sekolah teologi ditolak oleh mama karena mereka berpikir ketika saya menjadi hamba Tuhan, saya akan hidup “miskin”. Hal tersebut membentuk pandangan saya bahwa mama hanya ingin menjadikan saya sebagai ‘ATM’ di masa tuanya.

Baca Juga : Athalia Learning Community News Edisi Maret 2024

Perjuangan Mengasihi di Tengah Kepahitan

Kejadian yang paling mengerikan bagi saya adalah ketika saya masih duduk di kelas 1 SMP. Kami tinggal di pastori gereja dan di malam itu mama dan papa bertengkar hebat. Tidak tahan dengan kecurigaan mama yang tidak berdasar, papa membawa segala macam obat asma yang dimilikinya dan mengurung dirinya di ruang pastori.

Dalam pikiran saya, papa nekat mau mengakhiri hidupnya. Saya pun menggedor-gedor pintu sambil menangis dan berteriak ‘Pa.. jangan.. buka Pa…’ Tidak ada jawaban, saya hanya melihat dari lubang pintu papa sedang mengeluarkan beberapa obat di tangannya. Saya kembali berteriak dan menangis. Di saat itu saya berkata dalam hati ‘Saat besar nanti saya harus menyingkirkan mama dari hidup saya dan papa’. Satu jam berlalu, akhirnya papa keluar dari kamarnya tanpa berkata apa pun. Saya lega masih melihat papa.

Waktu berlalu, papa sempat masuk rumah sakit. Saya meminta papa untuk menceraikan mama, tetapi papa menjawab ‘Papa sudah berjanji kepada Tuhan untuk mengasihi Mama dalam kondisi baik, buruk, sehat atau sakit’. Saat itu saya seperti menemukan oase. Saya memohon pengampunan Tuhan, tetapi saya belum bisa benar-benar memaafkan mama. Pemahaman saya terhadap Tuhan pada saat itu pun tidak benar. Menurut saya melayani Tuhan merupakan bentuk dari menyogok Tuhan agar memaafkan dan menerima saya.

Baca Juga : Perjalanan Mencari Komunitas yang Bertumbuh

Kasih yang Memulihkan Luka

Saya menikah dalam kondisi emosi yang tidak stabil dan masih merasa kosong. Hal ini membuat saya secara tidak sadar sering menuntut suami dan membentak anak saya secara berlebihan. Tak lama setelah papa dipanggil Tuhan, saya putus hubungan dengan mama. Saya merasa aman, tetapi rasa kekosongan itu makin besar.

Pencerahan datang melalui sebuah webinar yang dibawakan oleh Ibu Charlotte tentang luka masa lalu. Saya disadarkan bahwa sebelumnya, saya tidak pernah membiarkan Tuhan mengasihi dan mengobati luka saya yang semakin besar. Seusai momen itu, entah dari mana asalnya, saya merasakan damai yang berlimpah. Saya mencoba menghubungi mama kembali. Jauh dari perkiraan, saya dan mama saling meminta maaf dan memaafkan, Mama banyak menceritakan tentang masa lalunya, dan kami berproses untuk sembuh bersama.

Penerimaan dan belas kasih-Nya yang tanpa syarat itu yang memulihkan pengenalan saya akan Tuhan. Hal ini juga menolong saya untuk berelasi dengan mama dalam belas kasih, alih-alih penghakiman. Saya bersyukur Tuhan memberikan saya seorang suami dan juga komunitas Athalia yang mau mendengar, mendoakan, dan membangun. Ternyata semua orang berproses dan memiliki “cacat”-nya masing-masing. Justru cacat itu hadir agar kita tetap datang dan memohon belas kasih Tuhan tanpa ragu.”

Kasih Allah dan penerimaan-Nya yang utuh membuat kita mengalami anugerah kebaikan-Nya. Dia menerima kita dengan segala keburukan yang ada, bergumul bersama kita, dan menjadikan kita lebih baik. Sebelum kita mengalami kasih-Nya, kita tidak akan mampu mengasihi orang lain, bahkan mengasihi diri pun kita tidak mampu. – Charlotte Priatna

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Korintus 13:13)