Paskibra Sekolah Athalia: Bukan Aku, Bukan Kamu, tetapi Kita

Joanne Emmanuel Layar (Siswa Kelas IX Wa)

paskibra sekolah athalia

Perkenalan

Halo! Nama saya Joanne Emmanuel Layar, anggota Paskibra Sekolah Athalia. Ini adalah tahun kedua saya menjadi anggota Paskibra. Sekitar dua tahun lalu saya memutuskan untuk mendaftar. Awalnya saya mendaftar tanpa ekspektasi akan diterima, hanya sekadar ingin mendisiplinkan dan menantang diri dengan hal yang baru. Pada hari seleksi, saya sedikit ragu karena tes-tes yang diberikan sangat berat dan menuntut kekuatan fisik. Namun, puji Tuhan saya diberi kesempatan untuk belajar lebih banyak lewat Paskibra.

Kisah Sebagai Paskibra Sekolah Athalia

Melalui Paskibra, saya dan teman-teman merangkai kisah kami masing-masing. Tentunya cerita yang kami rangkai setiap tahunnya berbeda. Bukan proses yang mudah karena kami harus membagi waktu dan melakukan tanggung jawab sebagai siswa sekaligus anggota Paskibra. Kegiatan ini bukan hanya sekadar berlelah-lelah latihan fisik dan baris-berbaris, tetapi juga tentang respons kami saat menghadapi rasa lelah tersebut. Ada saat kami merasa kemampuan kami sudah mencapai batas maksimal. Ada saat tidak yakin bahwa memilih untuk menjadi pengibar adalah pilihan yang tepat, bahkan sulit sekali untuk merasakan yang namanya semangat.

Selama latihan banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan, salah satunya yaitu saling mendukung antarteman. Paskibra Athalia memiliki kalimat khas yang berbunyi “Satu untuk semua, semua untuk satu”. Bila ada satu anggota yang melakukan kesalahan, semua anggota juga akan mendapatkan hukumannya yaitu “satu paket” untuk setiap kesalahan. Satu paket yang dimaksud setara dengan sepuluh kali push up. Hal itu mengajarkan saya bahwa ini bukan tentang siapa yang benar dan yang salah, tetapi tentang seluruh anggota adalah satu tim.

Menghitung sisa-sisa hari latihan yang makin menipis dan hari pengibaran yang makin dekat, banyak perasaan yang bercampur aduk antara khawatir, lelah, bangga, dan bersemangat. Akhirnya tibalah hari yang dinanti-nantikan. Sabtu, 17 Agustus 2024 merupakan hari yang sangat membanggakan dan mengharukan, tetapi juga menyedihkan. Saya sangat bersyukur dan bangga karena kami berhasil memberikan yang terbaik dalam melaksanakan tugas sebagai satu tim. Satu hal yang paling terasa setelah melaksanakan tugas adalah rasa bersyukur karena saya merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Banyak momen tak terulang yang akan saya rindukan, mulai dari berlari menuju lapangan supaya tidak telat latihan, hingga merasakan tulang yang encok sehabis latihan.

Hal yang Bisa Dipetik

Paskibra memproses diri saya untuk menjadi pribadi yang tangguh, disiplin, rendah hati, bertanggung jawab, dan masih banyak lagi. Walaupun sulit untuk dijalani, saya tidak pernah menyesal telah menjadi bagian dari tim Paskibra yang dapat membanggakan Indonesia. Satu kalimat dari saya untuk tim Paskibra, “Bukan aku, bukan kamu, tapi kita”. Pesan dari saya, jika bukan saat ini, biarkan Tuhan yang menentukan saatnya.

“PaskibraAA! Terima kasih.”

Baca juga: Pengalamanku Sebagai Paskibra

Pengalamanku Sebagai Paskibra Sekolah Athalia

Andreas Stefrans Wijaya – Siswa kelas XII MIPA 1

Andreas Stefrans Wijaya

Halo, namaku Andreas. Aku mau berbagi cerita mengenai pengalamanku saat menjadi anggota Paskibra 2024. Sebenarnya aku sudah berencana untuk mengikuti kegiatan ini semenjak satu tahun yang lalu. Namun, saat itu aku ditunjuk sebagai petugas chapel dan latihan chapel bertabrakan dengan hari seleksi, akhirnya aku memilih chapel. Setelah satu tahun berlalu, aku kembali mendaftarkan diri untuk ikut proses seleksi Paskibra. Mengapa aku mendaftar kembali?

Alasanku Menjadi Paskibra Sekolah Athalia

Sejak dulu aku memiliki fisik yang lemah. Agar mencapai fisik yang lebih baik, tentu aku harus mulai berolahraga. Namun, aku malas untuk memulainya. Oleh karena itu motivasi utamaku bergabung di Paskibra adalah untuk memaksakan diri berolahraga. Aku melihat kegiatan Paskibra sangat identik dengan latihan fisik. “Salah sedikit push up, kurang disiplin push up, intinya sedikit-sedikit push up”. Aku berpikir, jika aku bergabung di sini, mau tidak mau aku harus ikut latihan fisik. Hasilnya tentu akan berbeda jika aku berolahraga sendirian, kalau sedang malas bisa skip latihan. Setelah melewati seleksi, namaku tidak tertulis di lembaran daftar anggota yang diterima. Namun, seminggu kemudian pelatih Paskibra mengajakku untuk bergabung. Ternyata awalnya aku dipilih sebagai cadangan, tetapi karena ada beberapa siswa yang mengundurkan diri akhirnya aku diterima sebagai anggota inti.

Aku ingat sekali latihan pertama dilakukan di bulan Juli setelah liburan sekolah yang panjang. Awalnya badanku kaget merespons hasil latihan. Otot-otot terasa kaku sampai-sampai penglihatanku menjadi gelap. Tidak hanya aku yang mengalami, beberapa teman pun merasakan hal yang sama. Latihan demi latihan kujalani setiap hari. Terkadang aku merasa lelah, tetapi dengan anugerah Tuhan serta niat untuk mendapatkan fisik yang kuat, aku tetap bertahan. Jujur kukatakan, kekuatan fisikku sekarang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Hal yang Paling Berkesan

Ada hal berkesan yang paling aku ingat selama menjalani proses latihan. Saat kami sedang belajar baris-berbaris, Pak Iwan berkata, “Jawablah seakan-akan besok kamu mati, maka kamu akan menjawab secara tulus”. Kalimat ini diucapkan ketika kami dalam posisi istirahat. Ia mengkritik jawaban “Siap!” dari kami yang terdengar kurang tegas. Mungkin teman-teman yang lain hanya menangkap poin “menjawab dengan tulus dan tegas”. Namun, perkataan itu mengingatkanku akan frasa latin “memento mori” yang telah lama kujadikan sebagai deskripsi (about) WhatsApp. Kalimat “seakan besok kamu mati” adalah sesuatu yang spesial karena sebagai manusia kita tidak tahu kapan kita akan mati. Mungkin saja besok atau mungkin satu detik kemudian, tidak ada yang benar-benar tahu. Renungan ini membuat aku menjadi lebih bersyukur akan anugerah dan kesempatan yang Allah berikan untuk bertobat.

Kita diberikan anugerah dan dibebaskan dari dosa, jadi kita harus hidup sesuai dengan kehendak Allah seperti yang tertulis dalam Alkitab. Gunakanlah kesempatan yang diberikan Allah untuk membantu sesama, menolong yang membutuhkan, dan berkontribusi bagi bangsa demi memuliakan nama Tuhan.

In nomine Patris, et Filii, et Spiritus Sancti, Amen.

Pakibra HUT RI 2024

Baca juga: Paskibra Sekolah Athalia: Bukan Aku, Bukan Kamu, tetapi Kita

Perjalanan Mencari Komunitas yang Bertumbuh

Elizabeth Liswandi (orang tua Siswa Kelas IV dan TK A)

Menemukan Komunitas

Hai Athalians, perkenalkan nama saya Elizabeth. Saya memiliki dua anak yang bersekolah di Athalia, yaitu Ruth dan Joy. Saya berasal dari keluarga Kristen yang taat. Setiap minggu kami sekeluarga selalu pergi ke gereja. Orang tua dan ketiga kakak saya adalah aktivis gereja, sehingga ketika ada pembentukan kepanitiaan atau pengurus untuk acara gereja, saya selalu diajak. Semua berjalan dengan sendirinya tanpa perlu usaha. Semua kemudahan yang didapat membuat saya seolah-olah take it for granted terhadap setiap kesempatan yang hadir. Sampai suatu keadaan membuat saya harus berpindah gereja.

Pada masa itu Tuhan seperti menutup kesempatan yang dahulu Dia berikan dengan mudahnya. Saya mulai menyadari bahwa melayani dan punya komunitas yang bertumbuh itu anugerah dari Tuhan. Saya pun sadar bahwa saya perlu teman-teman yang bisa saling menyemangati, menegur, dan mengingatkan.

Bertahun-tahun berlalu, sampai saya menikah dan punya anak, saya belum juga menemukan komunitas yang cocok di hati. Namun, saya tetap mencari sambil berdoa, “Tuhan, kalau boleh, saya rindu bertemu dengan komunitas yang bisa membantu saya untuk bertumbuh dan melayani”. Perlahan-lahan, Tuhan mulai menjawab doa saya. Ia mempertemukan saya dengan komunitas Kristen di luar gereja, pasutri di gereja, dan juga di Sekolah Athalia. Saya bersyukur karena akhirnya bisa menemukan teman orang tua yang saling peduli, sharing, dan support.

Lihat Juga : My Story is God’s Story

Bertumbuh dan Melayani Bersama dalam Komunitas

Sekolah Athalia memiliki komunitas doa Parents in Touch (PIT). Saat pertama kali ikut PIT, perasaan saya mengatakan, “Saya sudah berada di tempat yang tepat”. Saya merasa diberkati dengan firman Tuhan dan kesaksian yang disampaikan. Kami juga bisa saling mendoakan, hal ini tidak saya dapatkan di sekolah Ruth sebelumnya. Di Athalia bukan anak saja yang belajar, saya juga belajar dan bertumbuh dengan adanya seminar parenting. Saya juga melihat perubahan demi perubahan terjadi di diri Ruth dan Joy.

Perjalanan mencari komunitas untuk bertumbuh bersama mengajarkan saya tentang banyak hal:

1. Sikap hati yang benar

Tanpa sikap hati yang benar, ketika kita berada di komunitas yang baik pun kita tidak akan bisa bertumbuh sesuai yang Tuhan mau. Kita perlu ingat bahwa semuanya dari Tuhan dan dikembalikan untuk kemuliaan Tuhan. Jangan sombong apabila Tuhan memberi kita kesempatan. Itu semua bukan karena hebatnya kita. Mungkin kita berpikir, “Sendiri juga bisa kok, bertumbuh. Baca Alkitab sendiri juga bisa bertumbuh, gak perlu komunitas.” Tentu saja bisa. Namun, berapa lama bisa bertahan? Kita tetap butuh orang lain untuk saling mengingatkan. Seperti firman Tuhan di Amsal 27:17:

“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”


2. Membuka diri

Terkadang ketakutan tidak diterima membuat kita enggan untuk membuka diri, bahkan menjauh dari komunitas. Namun, keterbukaan justru dapat memudahkan kita mendapatkan kekuatan dan dukungan untuk mengatasi tantangan dalam hidup.


3. Berdampak

Kita diciptakan Tuhan dengan satu tujuan. Di mana pun kita ditempatkan, Tuhan mau kita memancarkan karakter Kristus yang berdampak bagi orang lain.

Semoga kisah ini bisa bermanfaat. Tetap semangat dan jangan lupa bahagia. Tuhan Yesus memberkati.

Baca artikel lainnya tentang PIT:

https://sekolahathalia.sch.id/pit-parents-in-touch/

https://sekolahathalia.sch.id/parents-in-touch-keluarga-yang-berpusat-pada-kristus/

Komunitas yang Membantu Bertumbuh

Victor Sumua Sanga (Kepala SMA Athalia)

“Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.”
(Efesus 4:11-12)

Komunitas yang Membantu Bertumbuh

Angela Duckworth tumbuh dan dibesarkan di dalam keluarga dengan seorang ayah yang meragukan kompetensi intelektual anak-anaknya. Sang ayah dalam berbagai kesempatan mengatakan kepada Angela, “Kamu bukan orang jenius”. Namun, Angela tidak terjebak dalam label itu.

Jauh di dalam lubuk hatinya Angela ingin berkata, “Ayah bilang saya bukan orang jenius dan saya tidak membantahnya. Tetapi ada satu hal yang ingin saya katakan. Saya akan tumbuh dewasa dengan perasaan cinta terhadap apa yang saya lakukan. Saya akan menantang diri saya sendiri setiap hari. Bila terpukul roboh, saya akan bangkit kembali. Saya mungkin bukan orang yang paling pintar di satu komunitas, tapi saya berjuang menjadi orang yang paling tabah.” Menariknya, ia kemudian meraih beasiswa MacArthur, yang sering disebut beasiswa “Genius Grant“.

Apa Itu Grit dan Bagaimana Kita Bisa Menumbuhkannya?

Ide, pemikiran, dan penelitian tentang pengaruh ketabahan untuk mendukung pertumbuhan diri disarikan oleh Angela Duckworth. Dalam bukunya berjudul Grit, Angela Duckworth menjelaskan bahwa ketabahan (grit) dapat bertumbuh melalui empat faktor utama, meliputi :

  1. Minat (Interest)
  2. Latihan (Practice)
  3. Tujuan (Purpose)
  4. Harapan (Hope)

Ketika membahas tentang minat, Angela menyatakan hal yang penting bahwa, “minat akan berkembang bila ada dorongan dari beberapa pendukung, termasuk orang tua, pendidik, pelatih, dan rekan. Mereka memberikan dorongan berkelanjutan dan informasi penting yang membuat Anda semakin menyukai sesuatu.” Kalimat ini dengan tepat menunjukkan bagaimana sebuah komunitas berperan penting dalam membangun minat yang kemudian akan membentuk ketabahan dan mengoptimalkan pertumbuhan diri.

Peran Komunitas dalam Membantu Kita Bertumbuh

Alkitab juga menekankan pentingnya komunitas dalam membantu bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, menyatakan bahwa Allah memberikan berbagai peran seperti rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, dan pengajar untuk memperlengkapi umat-Nya. Siapa mereka ini bagi komunitas Kristen? Mereka adalah orang tua, para pendidik, rohaniwan, para sahabat, rekan sepelayanan, yang Allah tempatkan di sekitar untuk memperlengkapi kita menemukan dan menekuni panggilan-Nya untuk melayani Tuhan dan sesama. Bagian firman Tuhan ini mengingatkan orang tua dan pendidik untuk memanfaatkan setiap momen dan ruang-ruang perjumpaan untuk memberikan informasi sekaligus inspirasi pertumbuhan diri anak-anak dalam pengasuhan kita.

Sayangnya, tidak semua anak mendapatkan inspirasi dari lingkungan mereka. Sebagian justru mengalami intimidasi, yang menjadi hambatan atau batu sandungan pada pertumbuhan diri dan pencarian panggilan Tuhan dalam hidup mereka. Bagian firman Tuhan ini juga mengingatkan anak-anak untuk mengucap syukur kepada Allah dan berterima kasih atas kehadiran para penolong dalam pertumbuhan hidup mereka. Dukungan dan kehadiran para penolong di sekitar ini sering kali kurang dihargai, take it for granted, tidak lagi disyukuri, dan tidak mendapat ucapan terima kasih.

Ada yang mengatakan, “kehilangan akan membuktikan keberhargaan suatu kehadiran,” tetapi semoga kita tidak harus mengalami kehilangan lebih dahulu untuk bisa menyadari kehadiran para penolong di sekitar kita.

Baca juga: Perjalanan Mencari Komunitas yang Bertumbuh

Keluarga yang Bersyukur

Hilda Davina S.-Staf Parenting PK3

Kita semua tumbuh dengan diingatkan untuk bersyukur dan mengucapkan “terima kasih”. Psikolog Sarah Conway dalam tulisannya di Mindful Little Minds menyebutkan bahwa rasa syukur dapat meningkatkan kebahagiaan, mengurangi stres, serta membangun kepercayaan diri dan resiliensi pada anak.

Memang tidak mudah untuk bisa selalu bersyukur karena rasa syukur bukanlah sifat alami yang dimiliki manusia sejak lahir. Namun, dengan kesadaran dan komitmen orang tua sebagai teladan, sikap bersyukur dapat tumbuh dalam diri anak-anak dan menyebar ke seluruh anggota keluarga. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membentuk keluarga yang selalu bersyukur:

keluarga yang bersyukur

1. Berbagi tentang hal yang disyukuri

Biasakan berbagi rasa syukur dalam momen kebersamaan keluarga. Misalnya, saat makan malam atau sebelum tidur, ajak anak bercerita tentang hal yang mereka syukuri hari itu. Orang tua bisa memberi contoh, misalnya:

“Ayah bersyukur walaupun hari ini jalanan macet, tapi ayah masih bisa pulang tepat waktu untuk makan bersama”.

Momen ini akan mengajari anak-anak bahwa rasa syukur tidak hanya kita ungkapkan saat mendapatkan barang tertentu (materi), bahkan peristiwa yang awalnya terasa buruk pun bisa berubah menjadi hal yang baik jika kita bisa melihat peristiwa tersebut melalui perspektif yang berbeda.

2. Ucapkan terima kasih

Ungkapan terima kasih tidak hanya mampu menyenangkan hati orang yang mendengarnya, tetapi juga orang yang mengucapkannya. Ajarkan anak untuk mengucapkan terima kasih ketika mendapatkan sesuatu, mulai dari yang bentuknya fisik (konkret) hingga yang sifatnya tidak tampak (abstrak). Mintalah bantuan kepada anak untuk suatu pekerjaan yang bisa mereka lakukan dan ucapkan terima kasih sebagai bentuk apresiasi atas usaha mereka. Ucapkan terima kasih kepada pasangan kita. Semakin sering anak mendengar dan menyaksikan teladan dari orang tua, sikap bersyukur akan semakin tertanam dalam diri mereka.

Baca juga : Perjalanan Mencari Komunitas yang Bertumbuh

3. Menghitung berkat

Ajak anggota keluarga untuk menyebutkan hal-hal yang dapat kita syukuri setiap hari. Supaya lebih menarik dan menantang, kita bisa membuat gratitude poster atau gratitude jar yang wajib diisi oleh seluruh anggota keluarga. Lalu pilihlah satu momen (misalnya akhir bulan atau akhir tahun) untuk bersama-sama membaca, merenungkan, dan akhirnya menyadari betapa banyaknya berkat yang Tuhan sediakan bagi kita setiap hari.

4. Berbagi dengan sesama

Hal ini bisa dimulai dari lingkungan di sekitar kita. Menjenguk teman yang sakit, berbagi makanan dengan tetangga, mendonasikan pakaian dan mainan yang masih layak pakai, dan sebagainya. Pengalaman ini akan mengajarkan anak untuk memikirkan orang lain selain diri mereka sendiri dan mensyukuri setiap hal yang telah mereka miliki.

Membangun keluarga yang bersyukur merupakan perjalanan seumur hidup. Tidak akan selalu sempurna, tetapi jika dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketekunan akan memberi hasil yang sepadan. Setiap ungkapan syukur yang kita nyatakan merupakan bukti penyertaan Allah yang akan membawa kita makin dekat dan makin mengasihi-Nya.

Sumber: 

Focus on the Family. (2024). Teaching kids to be thankful. Focus on the Family. https://www.focusonthefamily.com/parenting/teaching-kids-to-be-thankful/
KlikPsikolog. (n.d.). Pentingnya mengajarkan bersyukur kepada anak. KlikPsikolog. https://klikpsikolog.com/pentingnya-mengajarkan-bersyukur-kepada-anak/

Mengasihi Orang yang Menyakitimu? Ternyata Bisa, Lho!

Oleh: Natalia A. – Staf Karakter (PK3)

Mengasihi orang yang mengasihi kita tentu bukan hal yang sulit. Namun, bagaimana jika orang yang seharusnya mengasihi kita malah menyakiti kita? Dapatkah kita mengasihi mereka? Kata mengasihi yang awalnya terdengar manis bisa menjadi tawar bahkan pahit.

Meskipun begitu, sebagai orang yang telah menerima kasih Kristus bahkan di saat masih menjadi seteru Allah, kita dimampukan untuk mengasihi di luar standar dunia. Bukanlah suatu hal yang mudah, tetapi salah satu rekan kita ini sudah mengalami proses untuk mengasihi di saat sulit, loh. Siapakah dia dan bagaimanakah kisahnya?

Mengasihi dalam Luka – Kisah Tirza Naftali, M.B.A.

Halo, saya Ibu Tirza yang saat ini melayani di Chaplain (Character and Parenting Learning Institute). Saya pernah mengalami masa-masa disakiti oleh orang yang seharusnya mengasihi saya. Namun, Tuhan beranugerah menolong dan membentuk saya hingga mampu mengasihi dengan cara yang tidak saya bayangkan sebelumnya.

“Saya berasal dari keluarga hamba Tuhan, tetapi seperti tidak ada Tuhan di dalam rumah kami. Setiap hari, Mama dan Papa berdebat tanpa alasan yang saya mengerti. Sering kali Mama menghujani Papa dengan kata-kata hinaan dan juga mengeluarkan kata-kata kasar kepada kami berdua. Waktu itu, rumah tidak menjadi tempat yang aman untuk pulang. Seperti tiada hari tanpa mendengar Mama dan Papa ribut, saya pun sering kali ribut dengan Mama.

Seiring waktu, hal ini menjadikan saya mengalami cherophobia (ketakutan yang berlebihan akan perasaan bahagia). Saya merasa bahwa setiap kebahagiaan hanya akan diikuti oleh masalah baru. Ketika rumah sedang dalam keadaan tenang, misalnya, yang muncul di pikiran saya adalah ‘pasti setelah ini akan ada masalah baru yang muncul’.

Tekanan pun bertambah. Sebagai anak tunggal, saya dituntut untuk berprestasi dan menjadi sukses secara finansial di kemudian hari. Keinginan untuk menempuh sekolah teologi ditolak oleh mama karena mereka berpikir ketika saya menjadi hamba Tuhan, saya akan hidup “miskin”. Hal tersebut membentuk pandangan saya bahwa mama hanya ingin menjadikan saya sebagai ‘ATM’ di masa tuanya.

Baca Juga : Athalia Learning Community News Edisi Maret 2024

Perjuangan Mengasihi di Tengah Kepahitan

Kejadian yang paling mengerikan bagi saya adalah ketika saya masih duduk di kelas 1 SMP. Kami tinggal di pastori gereja dan di malam itu mama dan papa bertengkar hebat. Tidak tahan dengan kecurigaan mama yang tidak berdasar, papa membawa segala macam obat asma yang dimilikinya dan mengurung dirinya di ruang pastori.

Dalam pikiran saya, papa nekat mau mengakhiri hidupnya. Saya pun menggedor-gedor pintu sambil menangis dan berteriak ‘Pa.. jangan.. buka Pa…’ Tidak ada jawaban, saya hanya melihat dari lubang pintu papa sedang mengeluarkan beberapa obat di tangannya. Saya kembali berteriak dan menangis. Di saat itu saya berkata dalam hati ‘Saat besar nanti saya harus menyingkirkan mama dari hidup saya dan papa’. Satu jam berlalu, akhirnya papa keluar dari kamarnya tanpa berkata apa pun. Saya lega masih melihat papa.

Waktu berlalu, papa sempat masuk rumah sakit. Saya meminta papa untuk menceraikan mama, tetapi papa menjawab ‘Papa sudah berjanji kepada Tuhan untuk mengasihi Mama dalam kondisi baik, buruk, sehat atau sakit’. Saat itu saya seperti menemukan oase. Saya memohon pengampunan Tuhan, tetapi saya belum bisa benar-benar memaafkan mama. Pemahaman saya terhadap Tuhan pada saat itu pun tidak benar. Menurut saya melayani Tuhan merupakan bentuk dari menyogok Tuhan agar memaafkan dan menerima saya.

Baca Juga : Perjalanan Mencari Komunitas yang Bertumbuh

Kasih yang Memulihkan Luka

Saya menikah dalam kondisi emosi yang tidak stabil dan masih merasa kosong. Hal ini membuat saya secara tidak sadar sering menuntut suami dan membentak anak saya secara berlebihan. Tak lama setelah papa dipanggil Tuhan, saya putus hubungan dengan mama. Saya merasa aman, tetapi rasa kekosongan itu makin besar.

Pencerahan datang melalui sebuah webinar yang dibawakan oleh Ibu Charlotte tentang luka masa lalu. Saya disadarkan bahwa sebelumnya, saya tidak pernah membiarkan Tuhan mengasihi dan mengobati luka saya yang semakin besar. Seusai momen itu, entah dari mana asalnya, saya merasakan damai yang berlimpah. Saya mencoba menghubungi mama kembali. Jauh dari perkiraan, saya dan mama saling meminta maaf dan memaafkan, Mama banyak menceritakan tentang masa lalunya, dan kami berproses untuk sembuh bersama.

Penerimaan dan belas kasih-Nya yang tanpa syarat itu yang memulihkan pengenalan saya akan Tuhan. Hal ini juga menolong saya untuk berelasi dengan mama dalam belas kasih, alih-alih penghakiman. Saya bersyukur Tuhan memberikan saya seorang suami dan juga komunitas Athalia yang mau mendengar, mendoakan, dan membangun. Ternyata semua orang berproses dan memiliki “cacat”-nya masing-masing. Justru cacat itu hadir agar kita tetap datang dan memohon belas kasih Tuhan tanpa ragu.”

Kasih Allah dan penerimaan-Nya yang utuh membuat kita mengalami anugerah kebaikan-Nya. Dia menerima kita dengan segala keburukan yang ada, bergumul bersama kita, dan menjadikan kita lebih baik. Sebelum kita mengalami kasih-Nya, kita tidak akan mampu mengasihi orang lain, bahkan mengasihi diri pun kita tidak mampu. – Charlotte Priatna

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Korintus 13:13)

Siapa Sangka? Hal Ini Jadi Momen Paling Berkesan dalam Hidup!

Oleh: Ratu Putri Hiemawan – Kelas 12 IPS 1

Live In merupakan kegiatan yang wajib diikuti siswa-siswi SMA Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong, pada tahun ketiga masa studinya. Setelah absen beberapa tahun karena wabah Covid-19, tahun ini Live In kembali diadakan pada 14-19 Januari di Dusun Ngringin, Kecamatan Getasan, Semarang. Berikut merupakan sedikit pengalaman saya dalam kegiatan Live In 2024.

Pada kegiatan Live In ini, puji Tuhan saya diberi kepercayaan untuk menjadi PIC atau ketua dari salah satu bidang, yaitu PAUD/SD. Sebuah tanggung jawab yang baru dan cukup menantang bagi saya karena harus merancang kegiatan untuk 3 hari di PAUD dan SD, sedangkan saya belum memiliki gambaran sedikit pun tentang kondisi di lapangan. Huru-hara dan ketegangan bertambah karena persiapan barang pribadi dan barang bidang yang cukup memusingkan. Belum lagi kegiatan penggalangan dana menjual botol dan kardus bekas, serta mengadakan mini konser yang lumayan menyita waktu dan pikiran di tengah kesibukan sebagai siswi kelas 12. Untung saja semua persiapan dapat selesai tepat waktu dan kami dapat berangkat pada Minggu malam.

Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya kami sampai di Dusun Ngringin pada Senin pagi. Semua rasa lelah terasa terbayarkan begitu bertemu dengan orang tua asuh yang menyambut kami dengan hangat dan ceria. Saya ditempatkan di rumah Bu Supri yang hanya tinggal berdua dengan anaknya, Ayu yang duduk di kelas 2 SMA. Kedatangan kami membuat Bu Supri senang dan bersemangat karena rumahnya menjadi ramai. Pengalaman ini terasa begitu berkesan karena di sebuah rumah beralaskan semen dan tanah liat, kehangatan dapat kami rasakan dari Bu Supri yang dengan semangat bercerita kepada kami mengenai kehidupannya. Aneh rasanya, mengalami ikatan emosional dengan seseorang yang baru saja kami temui.

Baca juga : Hati Sejuk di Zaman Penuh Tekanan: Renungan Amsal 24:10–12

Menemukan Kebahagiaan dalam Kesederhanaan

Hari-hari di Dusun Ngringin saya jalani dengan gembira. Banyak pengalaman baru yang saya dapatkan dari kegiatan di PAUD/SD, mulai dari melatih kesabaran untuk mengajar dan menghadapi anak kecil, latihan fisik karena harus mengejar anak-anak yang berlarian ke berbagai arah, menghadapi pukulan-pukulan yang mereka layangkan, bahkan mempelajari sedikit demi sedikit bahasa Jawa. Lagi-lagi terasa aneh, karena saya sendiri tidak menyangka saya akan menikmati setiap momen di Dusun Ngringin ini. Setiap harinya, selalu ada hal kecil yang terasa berkesan, baik itu sapaan dari warga “Mau ke mana, Kak?”, “Makan di sini saja, Kak”, “Tinggalnya di rumah siapa, Kak?”, “Mau ikut ke ladang tidak, Kak?”, canda tawa bersama anak-anak, hingga tantangan yang harus kami hadapi dalam mengajar mereka.

Kebersamaan juga kami rasakan dengan Ayu yang kebetulan seumuran dengan kami. Canda tawa kami layangkan sembari mendengar kisah-kisah tentang warga setempat oleh Bu Supri dan Ayu, bahkan dengan tetangga yang kebetulan mampir ke rumah Bu Supri untuk ikut berbincang dengan kami. Teh manis hangat, susu coklat, dan kue-kue kering selalu menjadi teman berbincang kami hingga larut tiap malam.

Tak terasa, tibalah kami di hari terakhir, saat kami harus pulang. Malam sebelumnya seperti biasa, kami kembali berbincang hingga larut malam, saat itu hujan deras dan mati lampu. Bu Supri sempat bercanda, “Besok pasti telat ini, Kak, hujan gede,” seperti tak ingin kami pergi. Benar saja, hujan bertahan hingga esok paginya sehingga kami memiliki waktu lebih lama untuk perpisahan. Kami yang awalnya mengira akan rindu rumah, sekarang malah enggan pulang. Isak tangis dan janji untuk kembali mengiringi perpisahan kami dengan Dusun Ngringin. Sungguh berat rasanya, terlebih saat Bu Supri mengungkapkan kesepiannya dan betapa ia bahagia rumahnya menjadi ramai. Namun, tentunya setiap perjumpaan akan menemui perpisahan. Hujan mengiringi kepulangan kami, seakan ikut menangis menyaksikan perpisahan yang terjadi.

Baca Juga : Athalia Learning Community News – Edisi Maret 2024

Live In 2024: Sebuah Pelajaran Berkesan

Jujur, awalnya saya tidak terlalu antusias dalam mengikuti kegiatan Live In ini. Tapi ternyata, Dusun Ngringin mengajarkan saya banyak hal. Saya belajar bahwa tidak perlu memiliki segalanya untuk bisa memberikan yang terbaik, ketulusan merupakan yang utama. Kegiatan ini benar-benar mengajarkan saya keindahan dari kesederhanaan dan pentingnya orang-orang yang kita sayangi.

Siapa sangka, sesuatu yang saya kira membosankan justru jadi salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidup saya? Kini, saya justru menjadi salah satu orang yang paling merindukan setiap momennya. Live In 2024 bukan sekadar perjalanan. Ini adalah cerita yang akan terus saya kenang.

Liburan di Rumah Bebas ‘Drama’

Oleh: Hilda Davina S. – Staf Parenting PK3

Penilaian Akhir Semester (PAS) baru saja selesai. Hari libur menanti di depan mata. Anak-anak pun bersukacita menyambutnya. Liburan adalah waktu di mana anak-anak bisa rehat sejenak dari rutinitas belajar selama satu semester. Namun, di balik sukacita anak-anak, terdengar beberapa keluhan dari orang tua antara lain, “Anakku kalau liburan malah bangun siang,” atau “Anakku kalau di rumah, tiap hari main HP karena bingung mau main apa.

Keluhan-keluhan tersebut sering terucap saat anak-anak menjalani masa liburan di rumah. Dalam situasi ini, hal tersebut dapat terjadi disebabkan oleh rutinitas yang tidak sengaja terbentuk karena aktivitas anak di rumah turut ‘berlibur’ saat anak berada di rumah. Oleh sebab itu, orang tua perlu menciptakan rutinitas yang berkesinambungan untuk mengajarkan kedisiplinan pada anak.

Rutinitas yang Sehat agar Liburan di Rumah Tetap Seru

Agar liburan tetap menyenangkan tanpa menghilangkan kebiasaan baik, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk menerapkan disiplin di rumah:

1. Instruksi yang Jelas.

Orang tua perlu mengomunikasikan dengan jelas perilaku yang diharapkan dari anak dan menetapkan batasan. Hal ini bisa dilakukan dengan menciptakan rutinitas yang teratur, stabil, dan nyaman. Rutinitas dapat membantu mengembangkan perilaku dan kontrol pribadi pada anak-anak.

Agar anak dapat menikmati rutinitas mereka, ajak mereka untuk terlibat dalam membuat jadwal dan aturan yang akan disepakati bersama. Di samping itu, orang tua bisa berkreasi bersama anak untuk membuat poster dan menempelkannya di tempat yang gampang dilihat oleh seluruh anggota keluarga.

2. Berikan Pujian dan Semangat.

Pujian dan dorongan semangat dapat meningkatkan rasa percaya dan harga diri anak. Berikan apresiasi atas usaha mereka, contohnya saat mereka mendapatkan nilai baik.

Selain itu, pujian juga dapat diberikan ketika anak-anak menceritakan keberhasilan kecil yang mereka raih. Pujian paling efektif adalah pujian yang datangnya tanpa diharapkan anak. Contohnya, orang tua memberi pujian ketika anak membereskan kamarnya tanpa diminta. Pujian yang tidak diharapkan akan lebih berarti bagi anak dan menjadi motivasi untuk terus berusaha mencapai keberhasilan.

3. Berikan Konsekuensi.

Jelaskan terlebih dahulu perilaku seperti apa yang orang tua harapkan dan konsekuensi apa yang akan mereka dapatkan jika mereka berbuat sebaliknya. Contohnya, jika anak tidak mau merapikan mainannya, maka mainan tersebut akan disimpan di gudang dalam waktu tertentu. Dengan demikian, anak belajar memahami tanggung jawab atas tindakannya.

Baca juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

4. Jadilah Teladan.

Sikap orang tua memberi pengaruh yang besar pada anak. Anak perlu teladan orang tua yang selalu taat pada aturan, yang tentunya bersumber pada ketaatan kepada Tuhan. Contohnya, jika orang tua menerapkan aturan ‘tidak ada gawai saat makan,’ maka orang tua juga harus menerapkannya. Dengan demikian, anak melihat orang tua sebagai orang yang adil dan berpegang pada aturan yang telah disepakati.

Kedisiplinan membutuhkan proses panjang, tetapi dengan konsistensi dan kesabaran, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih rajin dan taat. Melalui proses ini, orang tua juga akan dibentuk menjadi pribadi yang lebih tegas tapi tetap penuh kasih dan sabar dalam mendidik anak-anak.

Sumber:
Ezzo, G. & Ezzo, A. M. 2001. Membesarkan Anak dengan Cara Allah.
Family routines: how and why they work. Diambil dari https://raisingchildren.net.au/pre-teens/behaviour/behaviour-management-ideas/family-routines

Perbedaan yang Indah

Oleh: Erika Kristianingrum – Orang tua murid kelas IXEr dan VW

Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar mengenai MBTI (Myers–Briggs Type Indicator), sebuah tes kepribadian yang mengidentifikasi kecenderungan seseorang dalam berpikir, berperilaku, dan mengambil keputusan. MBTI dikembangkan oleh Katharine Cook Briggs dan Isabel Briggs Myers untuk memahami bagaimana individu melihat dunia dan merespons berbagai situasi. (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Myers-Briggs_Type_Indicator).

Dalam MBTI, kepribadian seseorang dikategorikan berdasarkan empat dimensi utama:

Setiap individu memiliki kombinasi dari keempat kategori ini, yang membentuk kepribadian unik mereka dengan kelebihan serta tantangan masing-masing.

Perbedaan Extrovert dan Introvert dalam Keluarga

Dalam keluarga saya, perbedaan kepribadian ini sangat nyata. Saya dan anak pertama memiliki kepribadian extrovert, yang berarti kami memperoleh energi dengan berbicara dan berinteraksi. Sebaliknya, suami dan anak kedua adalah introvert yang justru mendapat energinya dengan berdiam menyendiri. Bagi orang introvert, melelahkan berada di kerumunan orang yang banyak bicara.

Perbedaan ini membuat saya sering sekali uring-uringan dengan suami dan anak saya. Misalnya saat suami pulang kerja, saya yang merasa lelah harus mendapatkan energi dengan menceritakan keseharian saya. Mendapatkan tanggapan dengan jawaban seadanya dari suami sering membuat saya jengkel. Padahal saat itu suami saya juga lelah karena teman satu timnya sebagian besar adalah orang extrovert sehingga dia membutuhkan waktu untuk me-recharge energinya dengan berdiam sebentar.

Setelah saya sadar bahwa kami berbeda, saya mengajak suami berdiskusi tentang perbedaan sifat kami. Akhirnya, saya mengerti ketika saya mulai berdiam diri sejenak, saya dapat merefleksikan makna hidup ini.

Judging vs. Perceiving: Diferensiasi Gaya Hidup yang Menantang

Perbedaan lain yang cukup mencolok adalah dalam hal gaya hidup. Saya adalah tipe judging yang berarti saya menyukai keteraturan, perencanaan, dan kepastian. Sebaliknya, suami dan kedua anak saya adalah tipe perceiving yang lebih fleksibel dan spontan.

Perbedaan ini paling terasa saat kami merencanakan perjalanan liburan. Saya terbiasa memikirkan “nanti bagaimana” dan merencanakan hal-hal yang akan kami lakukan untuk memastikan liburan kami berjalan dengan baik dan berkesan. Namun, suami dan anak-anak seringkali tidak mengindahkan jadwal yang sudah saya buat. Hal itu menjengkelkan bagi saya. Sifat santai mereka pernah membuat kami berangkat melebihi waktu yang sudah saya rencanakan. Namun, keterlambatan itu justru membuat kami terhindar dari kemacetan luar biasa karena sebelumnya terjadi kecelakaan di jalan yang akan kami lewati.

Setelah kejadian itu saya menyadari bahwa sesekali menjadi fleksibel itu menyenangkan. Saya mulai belajar untuk menerima hal-hal yang tidak prinsip dan anak-anak serta suami belajar untuk teratur terhadap hal-hal yang prinsip. Perubahan kecil dalam cara kami menyesuaikan diri membuat perbedaan itu tidak lagi menjadi konflik, melainkan sebuah harmoni yang memperkaya kehidupan keluarga kami.

Menghadapi perbedaan kepribadian dalam keluarga tentu tidak selalu mudah. Kadang kala, perbedaan ini memicu kesalahpahaman, bahkan menimbulkan kekecewaan. Namun, Tuhan mengijinkan perbedaan itu ada supaya saya belajar untuk bisa menerima diri sendiri dan menerima suami serta anak-anak saya apa adanya, agar kami bisa berjalan bersama dengan perbedaan itu. Perbedaan itu tetap ada hingga saat ini tetapi cara merespon yang berbeda membuat perbedaan itu menjadi sebuah harmoni yang indah sehingga menjadikan saya pribadi yang semakin baik.

Bagaimana dengan Anda? Pernahkah perbedaan dalam keluarga membuat Anda frustrasi atau justru perbedaan tersebut memberi Anda pelajaran berharga?

Merajut Keharmonisan dalam Warna-Warni Perbedaan

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian (PK3)

“Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion.” – Mazmur 133:1,3a

Gunung Hermon adalah pegunungan yang diliputi salju, sedangkan tanah di sekitarnya cenderung tandus. Karena itu, kesuburan tanah di sekitar Gunung Hermon bergantung pada embun dan lelehan es dari Gunung Hermon. Sungai es Gunung Hermon juga menjadi sumber utama air Sungai Yordan dan airnya mengalir ke Laut Mati. Daud mengumpamakan kerukunan seperti embun Gunung Hermon. Kerukunan di antara orang percaya dapat menjadi berkat dan sukacita bagi komunitas di mana kita berada, seperti embun Hermon yang memberikan keuntungan bagi daerah sekitarnya.

Sayangnya, kerukunan tidak mudah terjadi dalam sebuah komunitas. Mengapa? Charles Swindoll menulis renungan dalam Insight for Living, “Do you realize how closely unity and humility are tied together? One breeds the other; neither can exist without the other.” Kerukunan tidak bisa dilepaskan dari kerendahan hati. Sebaliknya, musuh kerukunan adalah kesombongan. Hal ini berlaku bukan hanya dalam komunitas yang besar, tetapi juga dalam setiap keluarga. Tanpa kerendahan hati, kita akan cenderung menghakimi daripada memahami perbedaan yang ada. Tanpa memiliki kesadaran bahwa kita adalah manusia yang lemah dan rapuh, kita cenderung akan cepat marah dan mengeluh daripada menerima dan menolong sesama. Akibatnya, kita terus bertengkar bukan hidup rukun.

Baca Juga : Hati Sejuk di Zaman Penuh Tekanan: Renungan Amsal 24:10–12

Perbedaan tentu akan selalu kita temukan di mana saja. Namun, bagaimana kita merespons perbedaan itulah yang menentukan apakah kerukunan itu dapat terjadi atau tidak. Karena itu, pilihlah untuk tetap rendah hati, buanglah kesombongan, belajarlah saling menerima, dan menolong. Dengan demikian, kehidupan kita akan seperti Gunung Hermon yang membawa berkat bagi sekitarnya, menghadirkan kerukunan beserta damai sejahtera dan sukacita dalam setiap komunitas di mana pun kita ditempatkan.