Ulangan 32:11 Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya,
Pesan dari Musa
Musa memberikan pesan-pesan di saat terakhirnya kepada umat Israel melalui sebuah nyanyian. Dalam pesannya, ia mengingatkan Israel bahwa dalam perjalanan iman bersama Tuhan, kadang Ia mengizinkan umat-Nya mengalami masa sulit namun tidak meninggalkan mereka berjalan sendiri. Seperti induk rajawali ketika mengajar anaknya untuk terbang, ia akan dengan sengaja membongkar sarang, lapis demi lapis sampai tersisa lapisan yang kasar dan keras supaya anaknya keluar dari kenyamanan. Ia bahkan mendorong anaknya ke ujung tebing lalu menjatuhkannya supaya anaknya belajar mengembangkan sayap dan melatih ototnya. Namun, ketika anak rajawali terlihat seperti dibiarkan jatuh oleh induknya dan akan mati, tepat pada saat itu pula sang induk akan mengembangkan sayapnya dan menangkapnya kembali. Hal ini dilakukan berulang kali sampai anak itu dapat terbang.
Sekilas kita mungkin berpikir sang induk kejam, namun sebenarnya apa yang induk rajawali lakukan adalah untuk menolong anaknya supaya menjadi seekor rajawali yang kuat, tangguh dan mampu bertahan hidup. Demikian juga dengan Tuhan ketika Ia mengijinkan kita mengalami pergumulan. Sesungguhnya ia sedang mendidik kita agar bertumbuh dalam iman. Ia mau kita semakin tangguh menghadapi zaman ini dan tetap memiliki iman yang teguh apapun keadaannya.
Saat Mendidik Anak: Menggandeng atau Menggendong?
Sebagaimana Tuhan mendidik kita untuk makin dewasa, kiranya setiap kita juga belajar untuk mendidik anak-anak kita agar makin kuat dan mandiri. Jangan sampai atas nama kasih kita tidak mengijinkan anak mengalami kesulitan. Kita memperlakukan mereka seperti seorang bayi yang harus terus ‘digendong’ dan ‘disuapi’. Akibatnya, anak-anak tidak siap menghadapi kesulitan hidup dan tantangan zaman. Orang tua tidak bisa selamanya menemani anak, karena itu mari latih anak untuk mandiri dan bertanggung jawab atas hidupnya. Dalam prosesnya, doakan mereka, gandeng mereka dan topanglah jika diperlukan. Hingga pada saatnya, lepaskan mereka agar dapat mengembangkan sayapnya dan terbang tinggi seperti induk rajawali melihat anaknya terbang tinggi. Mari, memohon hikmat Tuhan dan terus berlatih mendampingi anak kita menjadi dewasa.
Jika kamu diminta pendapat tentang salah seorang temanmu, kira-kira apa yang akan kamu katakan tentang dia? Apakah dia selalu ada untukmu, mendengarkan keluh kesahmu, dan membantu saat kamu membutuhkan? Atau justru kamu akan langsung berkata, “Dia mah toxic.”
Namun, bagaimana jika situasinya dibalik? Apa yang akan temanmu katakan mengenai dirimu? Apakah mereka akan menyebutkan hal-hal positif mengenai dirimu atau justru menganggap kamu sebagai teman yang toxic?
Toxic friendship adalah istilah yang seringkali dipakai untuk hubungan pertemanan yang dinilai memberikan pengaruh negatif. Hubungan ini bisa merugikan secara emosional, psikologis, bahkan sosial. Untuk memahami apakah hubungan pertemananmu sehat atau beracun, kenali ciri-ciri berikut ini.
Ciri-ciri Pertemanan Toxic yang Harus Diwaspadai
1. Ciri yang Terlihat Secara Langsung
Beberapa tanda toxic friendship dapat dikenali dengan mudah. Misalnya, teman yang sering menggunakan kata-kata kasar atau tidak sopan dalam berkomunikasi, terutama saat marah.
Selain itu, pertemanan bisa dikategorikan sebagai toxic jika salah satu pihak mendorong tindakan yang jelas-jelas salah. Misalnya, menyuruhmu berbohong demi menutupi kesalahannya dengan alasan “demi pertemanan.” Jika ini terjadi, hubungan tersebut tidak sehat dan bisa berdampak buruk bagi dirimu.
2. Ciri yang Tidak Terlihat Secara Langsung
Terkadang, toxic friendship tidak selalu tampak jelas. Ciri-ciri ini biasanya dirasakan karena mulai mengganggu kesehatan mental, seperti munculnya kecemasan atau ketakutan untuk kehilangan hubungan tersebut. Meski tidak nyaman, seseorang tetap bertahan dalam hubungan ini karena takut kehilangan teman.
Salah satu tanda yang sering muncul adalah adanya pihak yang selalu merasa benar dan membuat temannya merasa bersalah. Teman seperti ini cenderung memanipulasi situasi agar dirinya terlihat lebih baik dan membebankan kesalahan pada orang lain. Jika kamu merasa berada dalam hubungan pertemanan seperti ini, penting untuk segera mengevaluasi dan mengambil langkah tegas.
Kalau kamu merasa sedang berada dalam hubungan pertemanan yang bersifat toxic, ada beberapa hal yang dapat dilakukan:
1. Lakukan Refleksi Diri
Lakukan refleksi untuk dirimu sendiri. Tanyakan pada dirimu sendiri:
Apakah aku termasuk teman yang toxic? Jika ya, apa yang bisa aku ubah?
Apakah aku berada dalam hubungan pertemanan yang toxic? Jika iya, batasan seperti apa yang harus aku buat?
Mengenali peran dalam hubungan ini adalah langkah awal untuk memperbaiki atau menghindarinya. Jika kamu menyadari bahwa kamu memiliki sikap toxic, buatlah komitmen untuk berubah. Jika justru kamu yang menjadi korban, tetapkan batasan yang sehat agar hubungan tersebut tidak semakin merugikan dirimu.
2. Mengomunikasikan Masalah dengan Asertif
Setelah refleksi diri, langkah berikutnya adalah mengomunikasikan hasilnya kepada teman yang bersangkutan. Berbicara secara asertif berarti menyampaikan pendapat dengan jelas, tegas, tetapi tetap menghormati lawan bicara.
Jika merasa sulit melakukannya sendiri, ajak orang dewasa yang dapat dipercaya untuk mendampingi. Berikan waktu beberapa hari untuk saling merefleksikan hasil pembicaraan kalian. Setelah itu saling berusaha untuk memperbaiki interaksi dalam pertemanan sesuai dengan hasil pembicaraan kalian.
Tips yang paling penting saat berusaha memperbaiki interaksi pertemanan yang toxic adalah harus berani mengambil sikap untuk mengutarakan perasaan dan pendapatmu secara asertif dan tidak memendamnya.
Toxic friendship bisa berpengaruh besar dalam kehidupan seseorang. Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tandanya, melakukan refleksi diri, dan berani mengambil tindakan. Dengan begitu, kamu bisa membangun hubungan pertemanan yang lebih sehat dan positif di masa depan.
Oleh: Ni Putu Mustika Dewi – Staf Karakter Sekolah Athalia
Peran dan Tanggung Jawab di Masa Remaja
Pada umumnya peran setiap manusia dalam menjalani kehidupan ini akan bertambah seiring pertambahan usia. Bertambahnya peran mengakibatkan bertambah pula tanggung jawab yang harus diemban. Pertambahan peran dan tanggung jawab ini secara signifikan terjadi saat usia transisi dari anak ke remaja. Saat memasuki usia remaja peran mereka bertambah terkhusus dalam mengatur dirinya sendiri, seperti menentukan waktu untuk belajar mandiri dan waktu hangout, memilih buku atau tontonan seperti apa yang akan dinikmati, hobi atau kesukaan yang akan ditekuni, dan masih banyak lainnya. Pada masa ini, orang tua tidak lagi mendominasi sebagaimana saat anak masih usia kanak-kanak. Remaja sudah diberi kepercayaan untuk menentukan pilihan meski masih di dalam pengawasan. Oleh sebab itu, tanggung jawab mereka untuk menjaga kepercayaan yang orang tua berikan pun bertambah dibanding pada usia sebelumnya.
Tantangan Hidup di Usia Remaja
Bukan hanya pertambahan peran dan tanggung jawab, remaja mengalami perubahan fisik dan mental, di tengah-tengah identitas diri yang belum ajek. Semua perubahan ini dapat menyebabkan remaja menghadapi tantangan terberat dalam hidup mereka. Oleh sebab itu, perlu sekali pendampingan orang yang lebih dewasa dalam menjalani proses perubahan ini. Sekolah Athalia berkomitmen untuk mendampingi murid saat memasuki masa ini. Program harian, mingguan, bahkan tahunan SMP Athalia, dirancang untuk menjadi sarana bagi murid Athalia yang menginjak masa remaja agar makin paham identitas diri, peran, dan tanggung jawab mereka bahkan mulai peduli kepada orang lain.
Kamp Karakter di Sekolah Athalia
SMP Athalia, sebuah sekolah yang berlokasi di Serpong ini, memiliki beberapa kegiatan yang berkaitan dengan proses belajar karakter, yaitu Kamp Karakter. Beberapa di antara adalah MetCamp dan CaSCamp. Pertama, MetCamp yang merupakan akronim dari Metamorphosis Camp. Siswa kelas VII akan mengikuti MetCamp pada semester genap. Kegiatan ini digambarkan seperti sebuah “jembatan” antara pembelajaran karakter SD dengan SMP. Berbagai aktivitas yang dilakukan dalam MetCamp dirancang untuk mengingatkan, dan meneguhkan kembali karakter tanggung jawab yang sudah ditanamkan sejak SD, seperti arti tanggung jawab berdasarkan firman Tuhan, yaitu alasan kita hidup bertanggung jawab adalah sebagai respons akan kasih Tuhan yang sudah mengorbankan dirinya untuk menebus hidup kita. Selain itu, murid diajak untuk melihat perbedaan peran dan tanggung jawab saat duduk di bangku SD dengan kini saat di SMP, dan bagaimana seharusnya mereka merespons peran dan tanggung jawab yang sudah dipercayakan di hadapan-Nya.
Kedua, Caring & Sharing Camp (CaSCamp), yang digambarkan sebagai bengkel karakter. Kegiatan ini dirancang bagi murid-murid kelas VIII untuk membantu mereka mengevaluasi diri sendiri sudah sejauh mana mereka paham nilai-nilai kebenaran Caring & Sharing berdasarkan firman Tuhan, mengidentifikasi hal-hal penghambat dalam menghidupi karakter tersebut, serta memberi kesempatan kepada mereka untuk memikirkan upaya perbaikan yang dapat dilakukan di kemudian hari.
Pada tahun ajaran ini, CaSCamp sudah diadakan onsite di sekolah, pada 10-11 Februari 2023. Sebelumnya, diadakan Pra CaSCamp selama seminggu penuh pada tanggal 1-7 Februari 2023. Para murid diajak untuk menantang diri dalam mewujudkan kasih mereka kepada diri sendiri, keluarga, dan sesama.
Kiranya melalui program tahunan yang sudah dirancang ini, murid-murid kelas VII dan VIII untuk dapat mengingat, mengevaluasi, serta makin bertumbuh menjadi remaja yang memiliki karakter Kristus. Kiranya Tuhan menolong.
Oleh: Marlene Shinta – Staf Research & Development TK Athalia
“Lihat, fish-nya lagi bobo.” “Mama tunggu di door depan.” “Makan banana yang sudah mama cut, ya.”
Pernahkah Anda mendengar kalimat seperti itu? Saat ini, banyak anak berbicara dengan bahasa campuran yang dikenal sebagai bahasa kids zaman now. Pola komunikasi ini sering digunakan orang tua untuk mengenalkan bahasa Inggris. Namun, penggunaannya yang kurang tepat dapat memengaruhi perkembangan bahasa anak.
Saat pandemi Covid-19 melanda, mobilitas fisik menjadi sangat terbatas. Banyak anak kehilangan kesempatan untuk belajar di sekolah, berinteraksi dengan orang lain, bermain di taman, dan bertemu dengan anak seusianya. Bagi orang tua yang sibuk, kadangkala anak lebih sering difasilitasi dengan gawai agar tidak mengganggu kesibukan mereka, sehingga anak dapat tetap diam dan tidak berlarian atau membuat keributan. Saat ini banyak sekali video menarik untuk anak-anak dengan menggunakan bahasa asing. Hal ini dapat mengakibatkan kebingungan bahasa pada anak usia dini.
Menurut dr. Tri Gunadi, A.Md.OT., S.Psi., anak yang baru belajar bicara tapi sudah diajari dua bahasa akan membuat anak kesulitan bicara. Hal ini termasuk jika balita yang sedang belajar bicara malah dipaparkan tayangan televisi. Meskipun tontonan tersebut dikhususkan untuk anak, tetapi hal tersebut akan menimbulkan keterlambatan bicara atau speech delay. Apalagi tayangan televisi dan internet yang sifatnya satu arah. Tanpa arahan dan dampingan dari orang tua, tentu anak cenderung lebih banyak menyimak dibandingkan mencoba berbicara.
Pentingnya Bahasa dalam Perkembangan Anak Usia Dini
Mengapa bahasa sangat penting pada anak usia dini? Bahasa merupakan salah satu faktor utama dalam perkembangan anak. Melalui bahasa, anak dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan, bersosialisasi, serta memahami instruksi. Dalam proses pembelajaran, bahasa juga merupakan aspek yang harus dikuasai oleh seorang anak untuk memahami bacaan, mengikuti perintah, dan mengerjakan tugas dengan baik.
Bahasa anak terbagi menjadi dua aspek utama, yaitu bahasa reseptif dan bahasa ekspresif. Kedua aspek ini sangat penting dalam komunikasi sehari-hari. Jika salah satu aspek terganggu, anak akan kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain.
1. Bahasa Reseptif
Bahasa reseptif adalah kemampuan dalam memahami informasi yang didengar atau dibaca. Kemampuan ini bersifat sebagai input atau masukan yang pastinya mendukung kegiatan menyimak maupun membaca. Menyimak adalah suatu proses mendengarkan dengan penuh perhatian, menangkap, dan memahami makna komunikasi yang disampaikan seseorang. Sementara membaca merupakan kegiatan melihat tulisan dan memahami gambar atau kata yang dibaca. Misalnya, ketika seorang anak mendengar instruksi, ia mampu memahami dan mengikuti petunjuk tersebut dengan benar.
Bahasa reseptif biasanya berkembang lebih dahulu dibanding bahasa ekspresif. Anak yang memiliki bahasa reseptif yang baik mampu mengerti makna komunikasi meskipun belum bisa berbicara dengan lancar.
2. Bahasa Ekspresif
Bahasa ekspresif adalah kemampuan dalam mengungkapkan pikiran dan keinginan melalui komunikasi verbal atau nonverbal. Hal ini membutuhkan kemampuan merangkai pemikiran dan menyusunnya ke dalam kalimat sederhana yang masuk akal dan runut. Misalnya, seorang anak yang lapar bisa mengatakan, “Aku mau makan.” Jika bahasa ekspresifnya kurang berkembang, anak bisa mengalami kesulitan berbicara atau merespons pertanyaan dengan kalimat yang tidak sesuai.
Kedua aspek bahasa ini sangatlah penting dalam perkembangan anak usia dini. Kadang, yang terjadi adalah hanya bahasa reseptifnya saja yang berkembang. Hal ini dapat terlihat ketika anak dapat memahami apa yang dikatakan orang lain, tetapi sulit menyusun kata-kata untuk meresponsnya ataupun sulit untuk mengatakan apa yang hendak ia katakan. Sebaliknya, jika kemampuan ekspresifnya saja yang berkembang, maka anak hanya mampu berbicara, tapi tidak sesuai dengan konteks.
Dampak Bahasa Kids Zaman Now terhadap Perkembangan Anak
Saat ini, banyak orang tua bangga melihat anaknya mengerti bahasa asing, termasuk salah satunya adalah bahasa Inggris. Namun, tanpa disadari, hal ini mengakibatkan anak berbicara dengan bahasa campur-campur. Orang tua pun akhirnya mengikuti pola ini dan menjadikan kebiasaan dalam percakapan sehari-hari dengan sang anak.
Ketika hal ini dilakukan oleh anak sejak dini, ada kemungkinan bahwa mereka akan sulit membedakan bahasa yang benar. Mereka mungkin mengenal banyak kosakata dalam bahasa asing, tetapi tidak memahami maknanya secara utuh. Akibatnya, anak kesulitan merangkai kalimat yang benar saat berbicara.
Dikutip dari detikcom, dr. Meta Hanindita, Sp.A menyatakan bahwa anak yang bingung dengan beberapa bahasa dapat mengalami keterlambatan bicara. Mereka lebih memilih diam karena tidak yakin dengan kata-kata yang ingin diucapkan.
Menurut psikolog anak Dr. Seto Mulyadi**), anak sebaiknya diajarkan bahasa ibu terlebih dahulu. Bahasa ibu, seperti bahasa Indonesia, harus dikuasai secara penuh terlebih dahulu sebelum mengenalkan bahasa kedua.
Bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dipelajari anak sejak lahir. Jika anak sudah lancar dalam bahasa ibu, baik secara reseptif maupun ekspresif, barulah ia bisa belajar bahasa asing.
Setiap orang tua ingin anaknya memiliki kemampuan bahasa yang baik. Oleh karena itu, penting untuk memberikan fondasi yang kuat dengan mengajarkan satu bahasa terlebih dahulu sebelum mengenalkan bahasa lain.
Bahasa kids zaman now memang terdengar menggemaskan. Namun, jika digunakan terus-menerus tanpa kontrol, hal ini bisa berdampak negatif pada kemampuan komunikasi anak. Mari kita ajarkan bahasa dengan benar agar anak dapat tumbuh dengan kemampuan komunikasi yang optimal.
Ketika kita tinggal di negeri asing, kita pasti akan mati-matian belajar bahasa negara tersebut, bukan? Jika tidak, kita akan kesulitan memahami budaya, cara pikir, bahkan obrolan sederhana. Relasi pun terasa sulit, meski hanya untuk sekadar membeli ikan di pasar.
Begitu pun dengan pernikahan. Namun, kali ini bukan soal belajar bahasa asing, melainkan bahasa kasih. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menunjukkan dan menerima kasih. Jika pasangan tidak memahami bahasa kasih satu sama lain, komunikasi bisa menjadi hambatan besar dalam hubungan.
Ketidaksesuaian bahasa kasih dapat menyebabkan perasaan tidak dimengerti, bahkan berujung pada konflik. Oleh karena itu, memahami bahasa kasih pasangan adalah kunci dalam membangun pernikahan yang sehat dan penuh cinta.
Perbedaan Bahasa Kasih: Konflik atau Kekuatan?
Saya dan suami memiliki bahasa kasih utama yang sama, yaitu sentuhan fisik. Pelukan dan ciuman menjadi bagian dari keseharian kami untuk menunjukkan kasih sayang. Namun, di awal-awal pernikahan, kami kerap memiliki konflik yang berkaitan dengan bahasa kasih kedua kami yang berbeda.
Saya sangat membutuhkan kata-kata penghargaan. Saya merasa dikasihi jika mendapat pujian, apresiasi, atau sekadar ucapan terima kasih. Hal ini dipengaruhi oleh pola asuh keluarga saya sebelumnya yang penuh kritik. Sebaliknya, suami saya menunjukkan kasihnya melalui tindakan pelayanan. Tuhan menganugerahkan saya seorang suami yang betul-betul irit dalam berkata-kata.
Ketika Bahasa Kasih Tidak Dipahami
Di awal pernikahan, komunikasi kami terasa berat. Saya ingin berdiskusi saat konflik terjadi, tetapi suami justru memilih diam. Ada perasaan bahwa saya ingin dipahami, sedangkan dia merasa cukup dengan melayani saya melalui tindakan.
Saya sering merasa frustrasi ketika suami lebih banyak diam saat kami bertengkar. Bahkan, ia bisa tertidur pulas dan berangkat ke kantor esok harinya tanpa berkata apa-apa. Baginya, diam adalah cara menenangkan diri. Namun, bagi saya, diam terasa seperti mengabaikan perasaan saya. Konflik yang tidak segera diselesaikan membuat saya semakin resah.
Suatu kali, setelah satu atau dua hari berlalu, suami baru mendekat, memeluk, dan meminta maaf. Barulah saat itu, saya menangis dan mengungkapkan isi hati. Kami pun berdamai. Terkadang hal itu terjadi karena di siang hari, pada saat kami berada di kantor masing-masing, saya tidak tahan untuk menumpahkan seluruh pikiran pada suami via WA. Saya berpikir bahwa tulisan dapat mengungkapkan pikiran dengan lebih terstruktur dan minim emosi, sehingga suami dapat mengerti dengan lebih baik.
Kami berkesempatan mengikuti retreat persekutuan pasangan suami istri di gereja. Di sana, kami diberi waktu untuk berbicara dari hati ke hati. Saya akhirnya bertanya langsung kepada suami:
“Apa yang sebenarnya kamu rasakan terhadap saya? Kenapa konflik soal kata-kata ini selalu berulang? Kenapa ya kira-kira konflik terkait kata-kata itu sering berulang? Lalu, mengapa kamu begitu sopan dan berkata-kata baik untuk orang lain, tapi sering terkesan ketus kepadaku?”
Suami saya akhirnya mengungkapkan bahwa dalam keluarganya, ia diajarkan untuk sopan di depan orang lain. Namun, kepada keluarga sendiri, ia merasa tidak perlu menjaga tutur kata. Bagi dia, saya adalah bagian dari dirinya, sehingga berbicara dengan singkat dan lugas adalah hal yang wajar. Pada titik ini, saya menyadari bahwa bukan berarti dia tidak peduli. Dia hanya menunjukkan kasih dengan cara yang berbeda.
Selain memahami alasan di balik kebiasaannya, saya juga menyadari sesuatu yang lebih dalam. Suami saya sudah menunjukkan kasih dengan caranya sendiri, tetapi saya terlalu fokus pada keinginan saya. Dia mengganti lampu yang rusak tanpa saya minta dan memasang cantelan di dapur agar saya lebih nyaman memasak. Dia pergi ke minimarket dengan sigap ketika saya butuh sesuatu. Sayangnya, saya buta terhadap semua itu.
Ternyata, luka batin masa lalu saya membuat saya haus akan kasih dengan cara yang spesifik. Saya lebih banyak menuntut daripada menerima. Padahal, suami saya sudah menunjukkan kasih dengan begitu banyak tindakan kecil yang bermakna.
Saat terjadi konflik, saya mulai menyadari pola yang terus berulang antara saya dan suami. Di satu sisi, suami membiarkan saya untuk meredakan ledakan emosi saya. Dia tidak ingin memperburuk situasi dengan respons yang impulsif. Namun, di sisi lain, sifatnya yang sangat rasional membuatnya takut untuk berkata-kata atau bertindak. Dia khawatir jika salah bicara, itu justru akan memperkeruh suasana.
Saya pun menyadari bahwa mengajak suami untuk langsung berdebat saat konflik memuncak bukanlah solusi yang tepat. Saya juga tidak adil jika memaksanya untuk berbicara ketika dia masih membutuhkan waktu untuk memahami situasi. Faktanya, bukan hanya saya yang perlu waktu untuk meredakan emosi, tetapi suami juga membutuhkan ruang untuk meregulasi pikirannya.
Kami akhirnya menyadari bahwa kami tidak bisa terus-menerus berjalan dengan cara masing-masing. Saya belajar untuk lebih peka terhadap bahasa kasih pelayanan suami. Dia, di sisi lain, mulai berusaha mengungkapkan perasaan dengan kata-kata. Saat konflik, kami mulai membangun kebiasaan baru. Jika suasana memanas, kami berusaha tidak langsung berbicara dengan emosi. Kami belajar untuk berhenti sejenak, memeluk, atau sekadar bertanya dengan lembut: “Apa yang bisa aku lakukan untukmu?“
Perbedaan ini menyadarkan kami, sampai maut memisahkan pun, kami harus terus mengenal dan mempelajari pasangan kami. Meski orang berkata “Ah, kalau sudah bertahun-tahun menikah kedip mata saja sudah tahu maksud dia apa”.
Pernikahan bukan soal saling memahami dalam setahun atau dua tahun. Bahkan setelah puluhan tahun, pasangan tetap perlu terus belajar mengenal satu sama lain.
Seperti belajar bahasa asing, jika tidak digunakan, kita bisa melupakannya. Begitu pula dengan bahasa kasih pasangan. Jika tidak dipraktikkan, hubungan bisa terasa hambar dan tanpa makna.
Maka, mari kita terus berjuang untuk memahami dan menggunakan bahasa kasih pasangan kita. Terlebih lagi, mari kita doakan dan serahkan pasangan kita kepada Tuhan, Sang Ahli dari semua bahasa kasih. Karena kasih yang sejati berasal dari-Nya.
“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” — 1 Korintus 13:13
Ayat ini ditulis oleh Rasul Paulus untuk menjelaskan pentingnya kasih dalam kehidupan orang percaya. Paulus menegaskan bahwa kasih adalah yang paling besar di antara iman dan pengharapan. Namun, bukan berarti iman dan pengharapan tidak penting. Sebaliknya, tanpa kasih, semua hal itu menjadi sia-sia di hadapan Tuhan.
Kasih: Dasar dari Ibadah dan Kehidupan Sehari-hari
Ketekunan kita beribadah, berdoa, dan melayani akan kehilangan makna bila dilakukan tanpa kasih kepada Tuhan. Tanpa kasih, ibadah menjadi sekadar kewajiban dan formalitas rohani.
Demikian juga dalam kehidupan keluarga. Jika kita menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua, pasangan, atau anak tanpa kasih, maka kehadiran orang lain bisa terasa sebagai beban, bukan sukacita. Kasih Kristus seharusnya menjadi dasar dan motivasi utama dalam setiap aspek kehidupan kita.
Kasih Sejati Menurut Henry Drummond
Dalam bukunya The Greatest Thing in the World, Henry Drummond menuliskan bahwa ujian terakhir dalam kehidupan rohani bukanlah seberapa benar atau suci kita di hadapan Tuhan, melainkan seberapa besar kita mengasihi Tuhan dan sesama.
Ia juga menjelaskan bahwa kasih sejati memiliki sembilan ciri penting:
Sabar
Baik hati
Murah hati
Rendah hati
Tidak egois
Tidak mudah marah atau terprovokasi
Tidak dendam dan tidak memperhitungkan kesalahan orang lain
Tulus dan jujur
Menegakkan kebenaran
Melalui sifat-sifat ini, kasih sejati membawa kebaikan dan kebenaran, baik bagi kita sendiri maupun bagi mereka yang kita kasihi. Inilah kasih yang Tuhan ingin kita nyatakan dalam kehidupan setiap hari.
Menghidupi Kasih Kristus dalam Kehidupan Sehari-hari
Melalui renungan ini, mari kita mengevaluasi kehidupan rohani kita:
Apakah kita sudah mengasihi Tuhan dengan segenap hati?
Apakah kasih Kristus nyata dalam relasi kita dengan keluarga, teman, dan sesama?
Kasih bukan hanya perasaan, tetapi tindakan nyata yang mencerminkan pengorbanan Kristus. Sebagaimana Allah telah mengasihi kita dengan memberikan yang paling berharga — yaitu Yesus Kristus — demikian juga kita dipanggil untuk mengasihi Allah dan sesama dengan segenap hati, jiwa, dan kehidupan.
Kesimpulan: Kasih Adalah Puncak Kehidupan Rohani
Kasih adalah inti dari kekristenan dan puncak dari segala kebajikan. Tanpa kasih, pelayanan kehilangan makna; dengan kasih, setiap tindakan menjadi ibadah sejati kepada Tuhan.
Kiranya kita terus belajar menghidupi kasih Kristus setiap hari — mengasihi Tuhan sepenuh hati dan menyalurkan kasih itu kepada sesama, agar hidup kita menjadi berkat dan memuliakan nama Tuhan.
Oleh: Naomi Fransisca Halim – guru agama SMA Athalia
Renungan Ibadah Berdasarkan Kitab Kejadian 5:1-32
Pada tanggal 4 Januari 2023, Sekolah Athalia dan Pinus, telah mengawali tahun dan semester baru dengan ibadah secara onsite di aula C. Dengan suasana ruangan yang dipenuhi dengan lilin menyala, kami diajak untuk merenungkan kembali perjalanan kehidupan di sepanjang tahun 2022. Selain itu juga diajak memantapkan hati untuk perjalanan di 2023. Ibadah kali ini, dipimpin oleh Bapak Ishak Sukamto dan didasari dari Kitab Kejadian 5:1-32.
Dalam pembacaan silsilah ini, Pak Ishak mengajak kami melihat bahwa setelah manusia jatuh dalam dosa, maka pekerjaan manusia adalah hidup selama beberapa tahun, menikah, memperanakkan, mencapai usia sekian dan meninggal. Begitu seterusnya siklus ini terus berlangsung bahkan sampai zaman sekarang.
Menariknya, dalam perikop yang dibaca, Henokh, salah satu tokoh dalam cerita tersebut, merupakan tokoh yang memiliki umur yang terbilang lebih singkat dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain dalam kisah tersebut. Namun pertanyaan pentingnya bukan seberapa lama seseorang hidup tetapi seberapa berkualitas hidup itu atau bagaimana seseorang mengisi kebermaknaan eksistensi dirinya?
Kehidupan Henokh yang Singkat
Dalam perenungan ini, Pak Ishak memberikan satu frasa yang menarik, yaitu “No More.” Istilah ini merujuk kepada salah satu tokoh, Henokh yang pada akhir hidupnya tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah. Di tengah “singkat” hidupnya, Henokh menikmatinya dengan hidup bergaul dengan Allah. Dalam beberapa terjemahan lain Henokh berjalan bersama dengan Allah dan setelah itu, Henokh no more.
Belajar dari Henokh yang Hidup Bergaul dengan Tuhan dalam Masa Kehidupannya yang Singkat
Pada bagian ini, saya menyadari bahwa kematian merupakan sebuah keniscayaan. Walaupun Henokh dikisahkan tidak meninggal namun ia sudah tiada. Dalam ibadah ini ketiadaan ini disimbolkan dengan para guru dan staf merobek kain hitam yang sudah disediakan. Juga sebagai simbol komitmen kita untuk mau hidup seperti Henokh yang bergaul dengan Allah. Supaya bisa demikian, maka kita harus meninggalkan kehidupan lama kita yang disimbolkan dengan kain hitam yang disobek. Dalam perenungan saya, ketika merobek kain hitam tersebut dengan kuat, saya menyadari bahwa tangan saya terbuka. Bersamaan dengan saat itu, cuplikan lirik lagu yang dinyanyikan pun seakan menjadi doa saya. Ketika menyadari bahwa siklus kehidupan manusia sangat singkat, lagu tersebut mengingatkan saya untuk selalu “bersujud di hadapan-Nya. Juga untuk meminta Tuhan agar memenuhkan bejana diri saya dengan air sungai-Nya.”
Di tengah penyanderaan rutinitas kehidupan manusia, maukah kita mendisrupsi hidup kita dengan menjawab undangan Tuhan untuk datang, hidup bergaul dan berjalan bersama-Nya supaya tidak hanya kuantitas umur kita saja yang bertambah tetapi juga kualitas hidup kita. Biarlah pesan singkat ini menjadi rhema dalam kehidupan kita saat memasuki tahun yang baru ini sampai kita bertemu dengan Tuhan dan menikmati persekutuan sesungguhnya dengan Sang Pencipta Agung itu. Amin.
Oleh: Kenneth Girvan – Alumni SMA Athalia Angkatan 6
Kehidupan tidak pernah lepas dari konflik. Kita tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang atau membuat semua orang suka terhadap kita. Dalam perjalanan hidup, terutama dalam pergaulan sosial, pasti ada orang-orang yang sulit untuk kita dekati atau yang tidak bisa menerima kita sepenuhnya.
Saya mengingat masa sekolah sebagai sebuah periode yang penuh dengan eksplorasi dalam pertemanan. Saya berusaha berteman dengan semua orang, tanpa pilih-pilih atau membatasi diri dalam kelompok tertentu. Namun, di tengah usaha tersebut, saya menemukan bahwa tidak semua orang dapat menerima saya. Ada teman-teman yang enggan berteman dengan saya karena kami tidak memiliki hobi yang sama, tidak bisa bepergian dengan cara yang mereka inginkan, atau karena karakter dan kepribadian saya tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Dikarenakan hal-hal tersebut, seringkali saya mendengar ejekan dan sindiran dari teman-teman.
Bukankah sulit sekali untuk mengasihi orang-orang tersebut? Di saat saya mencoba untuk berteman baik dengan semua orang, tetapi malah respons kurang mengenakkan yang saya dapatkan. Mengasihi mereka yang sulit dikasihi sangat tidak mudah. Sebagai manusia, kita cenderung bereaksi secara emosional terlebih dahulu, seperti kesal atau marah ketika ada yang memperlakukan kita dengan buruk dan memberikan label kepada kita yang memiliki penampilan kurang baik atau bersikap tidak pantas.
Kasih merupakan perasaan atau emosi, tetapi dalam kekristenan, kita mengenal kasih juga memerlukan reasoning. Mungkin pertanyaan terbesar dalam hati kita adalah, Mengapa kita harus mengasihi mereka yang sulit dikasihi dalam hidup kita? Jawabannya cukup sederhana, namun seringkali sulit diresapi. Ya, karena Tuhan terlebih dahulu mengasihi kita.
Ketika kita melihat kembali kehidupan kita, baik di masa lalu maupun saat ini, betapa sering kita hidup dalam dosa dan membuat hati Tuhan terluka. Sadarkah kita bahwa kita juga termasuk orang yang sulit dikasihi, lho? Tetapi, kok, Tuhan mau, ya, memberi kita keselamatan dan memilih tetap sayang sama kita meskipun kita adalah orang yang seumur hidup mendukakan hati Tuhan? Menyadari hal ini membuat saya berpikir bahwa mengasihi sesama bukan karena suka atau tidak suka. Seberapa sulit pun seseorang untuk dikasihi, saya ingin belajar memilih untuk mengasihi dan menerima mereka, sebagaimana Tuhan telah lebih dahulu mengasihi dan menerima saya.
Tidak masalah jika Anda merasa sulit mengasihi mereka saat ini. Memang dibutuhkan waktu untuk berproses. Anda bisa mulai bawa dalam doa dan minta kepada Tuhan untuk dimampukan mengasihi mereka yang sulit dikasihi, serta minta Tuhan untuk memulihkan emosi Anda sehingga dapat mengasihi mereka dengan lebih tulus. Hal tersebut tidak hanya mengubah orang lain, tetapi juga diri kita sendiri dan membuat kita semakin serupa dengan Kristus. Kiranya kebenaran ini bukan hanya diingat dan dimengerti, namun juga dapat dialami dalam perjalanan iman Anda bersama dengan Tuhan.
Oleh: Antonius Hermawan – Orang tua siswa kelas 4M
Kondisi ekonomi di tahun 2023 diprediksi oleh banyak ekonom akan semakin berat. Selain itu kondisi pandemi dua tahun terakhir seakan tidak berakhir. Bahkan varian baru COVID-19 terus ditemukan, membuat akhir dari pandemi sulit untuk diprediksi. Selain tantangan kesehatan, dunia juga menghadapi ketegangan geopolitik akibat perang Ukraina dan Rusia yang berdampak besar pada ekonomi global. Harga pangan dan energi melonjak, rantai pasokan terganggu, dan banyak negara mengalami ketidakstabilan ekonomi. Dalam kondisi seperti ini, banyak orang merasa cemas dan terbeban oleh situasi yang sulit.
Mengetahui hal di atas tidak membuat hidup kita jauh lebih mudah, sebaliknya pengetahuan di atas justru menambah beban hidup kita dengan realita yang tidak mudah pula. Mulai dari pemikiran mau makan apa hari ini, konflik dengan teman sekantor atau teman usaha, konflik dengan pasangan, hingga masalah anak-anak. Maka tidak heran, banyak orang mulai bertanya-tanya, “Bagaimana kita dapat tetap bersukacita di tengah kondisi ini?”
Alkitab mengajarkan bahwa sukacita sejati tidak berasal dari keadaan eksternal, melainkan dari hubungan kita dengan Tuhan. Rasul Paulus dalam Filipi 4:4-7 menasihatkan, “Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan!”. Ia bahkan mengulangi perintah ini untuk menegaskan bahwa sukacita dalam Tuhan bukanlah pilihan, tetapi panggilan bagi setiap orang percaya. Menariknya, Paulus menulis surat ini ketika ia sendiri berada dalam kondisi sulit. Namun, ia tetap menekankan pentingnya pengharapan. Bagaimana kita bisa memiliki sukacita seperti ini?
Kuncinya ada dalam Filipi 4:6: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Ketika kita menghadapi situasi sulit, kita dapat membawa segala kekhawatiran kita kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Dengan itu, damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus.
Janji Tuhan bagi mereka yang hidup dalam doa adalah damai sejahtera yang melampaui segala akal. Filipi 4:7 menegaskan bahwa damai sejahtera Allah akan memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus. Ini berarti bahwa sukacita dan ketenangan sejati tidak bergantung pada perubahan situasi, tetapi pada kehadiran Tuhan yang memelihara kita.
Di tengah segala keadaan yang tidak menentu dan seakan tidak berpengharapan, kita tetap memiliki alasan untuk mengucap syukur. Mengapa? Karena kita memiliki Allah yang senantiasa mendengar doa-doa kita. Kita tidak harus menghadapi segala permasalahan dengan kekuatan sendiri. Sebaliknya, kita dapat datang kepada-Nya dalam doa, menyerahkan setiap kekhawatiran, pergumulan, dan ketakutan kita.
Damai yang Melampaui Akal
Pemeliharaan dalam Kristus menjadi sesuatu yang pasti bagi kita karena Ia bukan Tuhan yang tidak pernah mengalami pencobaan sebagai manusia, melainkan Ia sendiri telah turun sebagai manusia dan taat sampai mati. Artinya Tuhan mengerti segala pergumulan kita.
Ketika kita menyadari bahwa Tuhan selalu hadir dalam hidup kita, kita dapat menghadapi setiap situasi dengan hati yang tenang. Sukacita yang sejati bukanlah hasil dari berpikir positif atau memotivasi diri sendiri, tetapi anugerah dari Tuhan. Kristus telah menyelesaikan karya keselamatan-Nya, dan karena itu kita memiliki pengharapan yang teguh di dalam Dia.
Jadi sukacita yang dituliskan di sini bukan sukacita sebagai motivasi atau pikiran positif yang kita usahakan, tapi semata-mata karena anugerah Tuhan yang telah dikerjakan di dalam kita, sehingga kita dapat berdoa dalam situasi apapun dalam pemeliharaan damai sejahtera-Nya.
Itulah sukacita yang sejati, bukan sukacita yang didasarkan oleh kondisi sekitar kita, tapi sukacita karena pengharapan di dalam Dia, bahwa kita ini milik-Nya, dan kita selalu dapat berdoa kepada-Nya.
Mari luangkan waktu sejenak untuk merenungkan : Di mana kita menempatkan pengharapan kita hari ini? Apakah kita bersedia melepaskan kekhawatiran kita untuk menggantinya dengan sukacita dan kepercayaan kepada Allah yang berjanji memelihara kita?
Dalam perjalanan kami menjadi orang tua, kami terus diteguhkan bahwa menjadi orang tua adalah sebuah panggilan. Allah yang memanggil kami untuk menjalankan peran ini dan menitipkan seorang anak, yang sesungguhnya adalah milik-Nya sendiri, untuk kami asuh. Sungguh sebuah panggilan mulia yang kami sambut dengan sukacita dan semangat untuk memberikan yang terbaik.
Dalam menjalankan peran sebagai orang tua, kami tentunya ingin memberikan yang terbaik bagi anak. Dengan kesadaran ini, kami mulai belajar cara pengasuhan yang baik, berusaha menerapkan apa yang benar, berdiskusi, hingga mencari komunitas untuk bertumbuh bersama. Namun di tengah perjalanan, kami mulai menyadari bahwa meskipun kami sudah berusaha memberikan yang terbaik, hasilnya berlum tentu seperti yang kami harapkan.
Belum lagi banyak kisah di sekitar kami yang membuat hati kami kecil. Ada keluarga yang sudah menerapkan prinsip-prinsip pengasuhan dengan baik, tetapi tetap menghadapi tantangan besar dalam membesarkan anak-anak mereka. Ada orang tua yang setia mengajarkan nilai-nilai kebaikan, tetapi tetap harus menghadapi anak yang memberontak atau terjebak dalam pergaulan yang salah. Hal ini membawa kami kepada sebuah perenungan. Apakah kami berusaha menjadi yang terbaik karena kami mengasihi Allah, atau karena kami hanya ingin memastikan anak kami tumbuh tanpa masalah?Bisakah menjadi yang terbaik dinilai dari hasil yang nampak?
Dalam bukunya Bijak Menjadi Orang Tua, Paul David Tripp menuliskan bahwa pengasuhan bukanlah tentang menggunakan kuasa untuk mengubah anak-anak kita. Pengasuhan adalah tentang kesetiaan yang rendah hati dalam kesediaan untuk berpartisipasi dalam karya pengubahan Allah demi kebaikan anak-anak kita. Dari sini kami belajar bahwa pengasuhan adalah urusan antara orang tua dengan Allah, bukan sekadar hubungan antara orang tua dan anak. Kita tidak dipanggil untuk membentuk anak sesuai dengan keinginan kita sendiri. Manusia tidak bisa mengubah hati siapa pun, hanya Allah yang mampu membawa perubahan sejati dalam hati anak-anak kita.
Kami belajar bahwa menjadi terbaik dimulai dengan menyadari bahwa kita hanyalah perpanjangan tangan Tuhan. Setiap hari, kita membutuhkan hikmat dan kuasa-Nya untuk menjalankan panggilan sebagai orang tua. Menjadi terbaik bukan dinilai dari apakah kita memiliki anak yang baik, penurut, berprestasi, bisa dibanggakan di social media, di mana kemudian kita merasa bahwa ini adalah karya kita, Allah hanyalah partisipan yang kita undang untuk menjaga anak kita tetap baik. Malah menjadi kengerian tersendiri, apakah anak-anak yang baik ini mengenal dan mengasihi Allah?
Menjadi yang terbaik artinya sedia untuk taat dan setia kepada Allah yang punya urusan pengasuhan ini. Hal ini ditujukan supaya kita setia tunduk dalam doa dan menyerahkan segala proses kepada Tuhan. Tidak hanya itu, hal ini juga dilakukan agar kehendak Allah terjadi atas anak-anak kita, sehingga mereka mengenal dan mengasihi-Nya seumur hidup. Kami rindu Allah mendapati kita semua taat dan setia di akhir perjalanan kita sebagai orang tua nantinya. Mari terus bersedia dan setia menjadi orang tua yang terbaik, di mata Allah. Salam.