Pengendalian Diri (1)

A happy person is not a person in a certain set of circumstances, but rather a person with a certain set of attitudes. Demikian kata bijak yang diucapkan seseorang bernama Hugh Downs.

Hidup ini menyenangkan atau tidak bukan ditentukan oleh kondisi di sekitar. Kita sendiri lah, bagaimana cara kita menghadapi hidup, itu yang menentukan hidup ini akan indah atau begitu melelahkan hingga titik tanpa harapan. Kemampuan mengendalikan diri adalah salah satu karakter, sekaligus juga keterampilan hidup, yang sangat bermanfaat.

Ketika kita mengendalikan diri, kita bukan sedang membatasi diri secara pasif. Justru secara aktif kita mengatur hidup. Hidup ini harus memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekedar memuaskan keinginan diri sendiri. Dengan mengendalikan diri, kita sebenarnya sedang menundukkan keinginan kita yang egois agar bisa mencapai tujuan yang jauh lebih besar dan berarti.

Lima Konsep Kunci Pengendalian Diri
Pengendalian diri adalah kebalikan dari pemuasan diri. Tentu tak salah bila kita melakukan hal yang menyenangkan diri. Ada banyak hal positif yang bisa kita lakukan yang akan membuat diri kita puas. Misalnya mencapai nilai maksimal di pelajaran yang selama ini jadi momok setiap siswa atau mencetak gol terbanyak dalam pertandingan antarkelas. Namun ketika hidup kita hanya terfokus pada diri sendiri, kita akan menjadi egois, sangat mudah terbawa suasana dan akhirnya kehilangan kendali diri. Agar dapat mengendalikan diri dengan baik kita perlu memberi perhatian pada orang lain. Kita akan terhindar dari keinginan untuk terus-menerus memuaskan diri sendiri dan terhindar dari kehilangan kendali diri. Fokus pada orang lain adalah konsep pertama dalam mengendalikan diri.

Ketika riak air sungai menerpa tepian sungai, kita akan berpikir air sungai dibatasi oleh tepian sungai itu. Air tak berdaya keluar dari batas yang ditetapkan tepian sungai. Namun ketika riak air terus-menerus menerpa, apa sebenarnya yang sedang terjadi? Tepian sungai mulai tergerus dan berubah bentuk, mengikuti gerakan air. Kita semua memiliki kelemahan. Bila tak dikendalikan, kelemahan itu akan mengikis konsep-konsep baik yang selama ini telah kita miliki. Seorang siswa tahu bahwa bila dia mulai bermain game, dia akan lupa waktu. Padahal sekarang sedang minggu ujian dan dia tahu harus belajar. Ketika dia tetap memutuskan untuk bermain game, dan akhirnya tak siap untuk ujian, konsep baik yang sebenarnya telah dia miliki yaitu tidak boleh mencontek, bisa berubah. Dia berpikir, sekali ini saja lah aku membuat contekan, sebab nilai kali ini akan sangat menentukan. Maka mulai lah terjadi ‘pengikisan dinding sungai’. Karena itu, kenali lah kelemahan kita, dan jaga diri baik-baik agar tak tersandung oleh kelemahan itu. Ini konsep kedua pengendalian diri.

Konsep ketiga adalah membatasi diri. Makan secukupnya, tidur secukupnya, gunakan uang secukupnya. Jangan menunggu hingga ada faktor dari luar, misalnya penyakit, ancaman sanksi, atau kebangkrutan, memaksa kita untuk mau tak mau harus mengatur diri.

Seorang yang bijak akan mengetahui kapan godaan menjadi terlalu besar untuk bisa dihadapi. Kisah Yusuf dan istri Potifar adalah cerita nyata yang tak pernah usang, contoh yang sangat baik dalam hal pengendalian diri. Yusuf pergi meninggalkan godaan istri Potifar. Dia tidak tetap tinggal di ruangan itu dan berusaha menyadarkan perempuan itu atas kesalahannya. Di saat seperti itu, daripada kalah, lebih baik menghindar. Inilah konsep keempat, berpaling dan tinggalkan godaan!

Akhirnya, konsep kelima adalah mencari dukungan. Manfaatkan kekuatan kelompok untuk menghadapi tantangan. Temukan orang yang dapat dipercaya, yang memiliki kekuatan justru di wilayah yang menjadi kelemahan kita. Mereka yang sulit mengendalikan nafsu belanja perlu menemukan seseorang yang bisa dipercaya dan biarkan dia mengontrol budget. Mereka yang kesulitan mengatur makan harus memberi kepercyan pada orang lain untuk menyusunkan menu dan memantau tiap kali waktu makan. Tentu butuh kerendahan hati untuk membiarkan orang lain ikut mengendalikan hidup kita. Namun ini cara yang jauh lebih bermartabat daripa mengisolasi diri dan membiarkan diri terus-menerus kalah.

Rantai Internal Pengendalian Diri
Agar bisa mengendalikan diri, seseorang harus bisa menjadi manajer bagi dirinya sendiri, menjaga segala aspek dalam dirinya agar berjalan seimbang dan sesuai porsi masing-masing. “Emosi” harus berada dalam kendali “kemauan diri” (aspek pembuat keputusan yang mempelajari pilihan-pilihan yang ada dan memutuskan pilihan terbaik). “Kemauan diri” itu sendiri harus tunduk pada “akal sehat” (aspek yang melakukan pemikiran, analisis, dan aplikasi atas tiap pengetahuan yang dimiliki). Dan tentu saja “akal sehat” itu harus bereaksi secara benar terhadap “hati nurani” yang semestinya telah dibentengi oleh prinsip-prinsip karakter yang baik. Orang yang mengembangkan manajemen diri yang semacam ini pasti lah seseorang yang seimbang, dan bahagia.

Jemi duduk dengan malas di depan meja belajarnya, memandang setumpuk tugas yang harus dia kerjakan. Aduhhh…kapan semua tugas ini selesai, keluhnya. Rasanya dia ingin segera terbang ke lantai bawah, menyalakan TV dan memainkan game PS terbarunya. Namun akhirnya dia memantapkan hati, membuka buku pertama, dan mulai mengerjakan tugasnya. Hati nuraninya bicara: kamu tahu yang baik. Lakukan lah yang baik, jangan tunda-tunda. Akal sehatnya membenarkan, karena dia tahu dua hari lagi tugas harus dikumpulkan bila dia ingin mendapat nilai yang baik. Jemi pun menundukkan kemauan dirinya di bawah kendali akal sehat, dan memutuskan untuk mengerjakan tugas. Rasa malas dan emosi lain pun dia taruh di bawah kendali keputusan yang telah dibuat. Jemi menyingkirkan playstation dari pikirannya dan mulai bekerja.

Keterampilan untuk menjaga keseimbangan antara emosi, kemauan diri, dan akal sehat harus dilatih terus menerus. Ini lah perang utama yang kita hadapi setiap saat agar bisa mengatakan “TIDAK!” pada keinginan untuk memuaskan diri sendiri dan memilih melakukan yang benar.

Great eaters and great sleepers are incapable of anything else that is great.
~Henry IV of France~

Pengendalian Diri (3)

Barangkali tidak semua orang mengetahui kalau di area TPA Sampah Bantar Gebang, Bekasi terdapat Rumah Singgah Mahanaim yang menampung kurang lebih 100 anak usia sekolah untuk melakukan berbagai aktivitas pendidikan. Rumah Singgah ini menjadi lokasi pilihan bagi APC untuk melakukan kegiatan Bakti Sosial (Baksos) yang dilaksanakan tanggal 22 Desember 2008. Baksos yang diikuti oleh 42 siswa Athalia, 14 orang pengurus APC serta 5 orang (guru & pengurus Athalia), terlaksana dengan lancar baik sepanjang perjalanan maupun pada saat pelaksanaan di lokasi.

Yang mendasari kegiatan Baksos ini adalah dorongan untuk berbagi kasih dan perhatian kepada sesama. Pada kegiatan Baksos ini, APC telah menyalurkan seperangkat alat tulis, perlengkapan mandi dan makanan ringan kepada kurang lebih 75 anak yang hadir pada acara tersebut. Disamping itu juga disampaikan sejumlah mie instant dan beras 100kg kepada Yayasan Mahanaim untuk selanjutnya disalurkan kepada anak-anak yang membutuhkan. Anak-anak ini berasal dari keluarga pemulung yang tinggal di seputar area tersebut dimana sehari-hari mereka juga membantu orang tuanya untuk memisahkan sampah-sampah sambil tetap belajar seperti anak lain umumnya. Yayasan Mahanaim yang mendirikan Rumah Singgah pada tahun 2000 telah menampung anak-anak ini di luar jam sekolah dan bekerja dengan memberikan bimbingan pelajaran tertentu seperti Matematika, Bahasa Inggris, serta Character Building. Saat kegiatan belajar berlangsung, Yay Mahanaim juga menyediakan makanan untuk anak-anak ini. Secara rutin pada hari tertentu rata-rata 50 anak hadir di untuk mengikuti bimbingan pelajaran. Sungguh pelayanan yang luar biasa.

Acara berlangsung lancar mulai jam 12.10 – 14.30 dengan dipandu oleh 2 orang MC yaitu : Sharon (kelas VII D) & Fellicia (kelas VIII R). Renungan singkat dengan tema ‘Adilkah Tuhan’ yang disampaikan oleh Ibu Charlotte menyadarkan kita semua untuk selalu mensyukuri berkat dan anugerah yang sudah Tuhan berikan. Tim musik yang terdiri dari Amel (VIII R), Steven (VIII B), Daniel (VII H), Aldo (VII D) serta tim yang memandu permainan yaitu Keia (VIII R) dan Pak Beryl (Guru IPA) terlihat kompak memimpin acara hingga selesai, meski di tengah udara panas serasa di sauna dan aroma sampah yang menyengat…(tapi ternyata rombongan Athalia berhasil bertahan hingga acara selesai). Terlihat suasana yang semarak dan antusias saat acara berlangsung, terutama pada sessi permainan yang melibatkan seluruh anak dari Rumah Singgah dan siswa Athalia. Bahkan seorang anak dari Rumah Singgah ada yang ’terkesan’ dengan siswa Athalia (siapa ya ?). Rangkaian acara diakhiri dengan ucapan terima kasih yang disampaikan oleh Pak Rudy dari Yay Mahanaim serta foto bersama. Akhirnya rombongan Athalia meninggalkan tempat kurang lebih jam 14.30 dan tiba kembali di Athalia 16.10.

Terima kasih untuk siswa Athalia yang terlibat langsung dalam kegiatan baksos ini, untuk seluruh orang tua yang telah memberikan dukungan dan sumbangan, untuk guru dan pengurus Athalia serta seluruh pengurus APC yang terlibat. Tuhan memberkati pelayanan kita semua.

*Meigawati

Ayo Kumpulkan Minyak Jelantah

Himbauan untuk menghemat energi telah seringkali digaungkan oleh Pemerintah kita melalui banyak media. Upaya-upaya yang mengacu pada penghematan energi pun telah sering diuji-cobakan. Bahkan Presiden telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 10 tahun 2005 tentang penghematan energi yang mengingatkan kita untuk lebih bijaksana dan efisien dalam menggunakan sumber-sumber energi yang kian terbatas.

Sumber energi yang saat ini dirasa sangat terbatas ketersediaannya dan harganya mempengaruhi berbagai sektor kehidupan masyarakat adalah BBM. Keterbatasan inilah yang kemudian menjadi inspirasi bagi berbagai macam produsen untuk meluncurkan produk yang berorientasi hemat energi dan ramah lingkungan. Saat ini misalnya banyak dari produsen perangkat elektronik menawarkan peralatan rumah tangga yang dapat melakukan fungsinya secara optimal namun hemat listrik, kemudian di dunia otomotif para ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek) melakukan gerakan penghematan energi dengan memproduksi mobil yang tidak hanya ramah lingkungan namun juga efisien dalam mengonsumsi bahan bakar, para ilmuwan juga tidak ketinggalan dalam gerakan ini dengan berusaha mencari sumber energi baru dari bahan baku yang kita miliki sekarang.

Upaya untuk mencari pengganti BBM terus berlangsung dan salah satu penemuan yang dihasilkan adalah Biodiesel. Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif yang berasal dari sumber hayati dan relatif ramah lingkungan. Teknologi untuk memproduksi Biodiesel ini sebenarnya telah lama ditemukan, bahkan beberapa daerah di Indonesia telah menggunakannya sebagai altenatif pengganti bahan bakar yang makin hari makin menjulang harganya. Biodiesel di pedesaan ini menggunakan minyak yang disuling dari tanaman jarak pagar yang teknologinya telah dikenal masyarakat sejak jaman penjajahan Jepang. Namun sayangnya entah mengapa bahan bakar dari sumber hayati ini kurang dikenal dan diterima masyarakat.

Seiring dengan dikeluarkannya Inpres No. 1 Tahun 2006 tentang percepatan penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar alami (Biofuel) sebagai bahan bakar lain, saat ini BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) Serpong juga meluncurkan program untuk memproduksi Bio Diesel dari minyak jelantah atau minyak goreng bekas pakai. Minyak bekas pakai ini sebaiknya jangan terus digunakan untuk mengoreng dan menggoreng lagi karena dapat mengendap pada pembuluh darah kita hingga mengakibatkan penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah, serangan stroke, bahkan serangan jantung. Namun minyak jelantah juga tidak bisa dibuang sembrangan karena dapat mencemari lingkungan. Lebih baik bila minyak jelantah ini kita salurkan pada BPPT untuk diolah kembali menjadi Bio Diesel. Biodiesel ini diharapkan dapat menjadi bahan bakar alternatif menjawab kebutuhan BBM yang makin meningkat dari sisi supply karena teknologi proses-nya dikuasai akademisi dalam negeri serta teknologi manufakturing dan konstruksinya juga dikuasai perusahaan dalam negeri. Dan dengan demikian juga dapat bersaing dari sisi harga sehingga diharapkan dapat menciptakan ekonomi kerakyatan.

Namun demikian upaya-upaya untuk melakukan penghematan energi sebagai wujud kepedulian pada lingkungan ini tidak akan terlaksana kalau tidak ada kesadaran dari dalam diri kita sendiri untuk mendukungnya.. Khusus untuk program Biodiesel ini, APC menunjukkan dukungannya dengan mengatur pengumpulan minyak goreng bekas pakai atau minyak jelantah dari orang tua murid untuk kemudian disalurkan kepada BPPT untuk diolah menjadi Biodiesel. Program ini akan kami laksanakan mulai tahun ajaran 2008/09 ini. Setiap hari Anda dapat mengantarkan minyak jelantah ke Sekolah sambil mengantar anak. Akan kah Anda, anggota komunitas Athalia, mendukung program ini? Akankah Anda memilih terlibat langsung dalam menjaga lingkungan dan memelihara sumber daya alam?

Minyak Jelantah….
Dibuang, merusak lingkungan
Dimakan, merusak kesehatan
Jadi…
bawa saja ke Sekolah Athalia….

Naomy Herdhianti
Pengurus APC 2006/08.

Ayo Main..!!

Anak mana yang tak akan melompat dengan antusias lantas memberi seluruh perhatiannya ketika mendengar ajakan di atas? Rasanya semua orang senang bermain, dan ini bisa dimanfaatkan untuk membantu anak memahami berbagai konsep dalam kurikulum.

Ada banyak permainan yang dijual di pasar yang dapat dipakai di ruang kelas. Lewat pengujian yang teliti, seorang guru dapat mengevaluasi permainan mana yang paling cocok untuk dipakai, yang dapat membantunya mencapai target kurikulum.

Guru dapat melibatkan orangtua atau siswa untuk menyiapkan permainan. Kadang sebuah permainan jadi lebih efektif bila siswa dilibatkan untuk membuatnya sendiri dengan bantuan orangtua.

“Pentas permainan” adalah salah satu konsep yang akan menyedot antusiasme anak-anak. Tiap anak membawa mainan yang telah disetujui oleh guru, dan menceritakan tentang permainan itu di hadapan teman-temannya.

Untuk kelas yang lebih kecil, permainan-permainan yang dipilih tentu lah lebih sederhana. Anak diminta menjelaskan garis besar permainan itu, bagaimana dia memainkannya, dan mengapa dia menyukainya. Kemudian guru bisa menambahkan tentang manfaat permainan itu, sambil memasukkan materi pelajaran yang memang ingin dicapai, sesuai kurikulum. Pentas permainan bisa diakhiri dengan memainkan bersama-sama permainan-permainan yang telah “dipentaskan”.

Untuk kelas yang lebih besar, permainan yang dipilih bisa disesuaikan dengan tingkat kelas dan minat siswa. Tentu saja sebelumnya tiap siswa harus meminta persetujuan guru atas mainan yang dipilihnya. Ini juga bisa dijadikan tugas kelompok. Siswa bukan sekedar memperkenalkan permainan itu, tapi juga harus mempresentasikan manfaat permainan tersebut. Misalnya, dia memilih permainan sudoku. Selain menjelaskan apa itu sudoku, siswa (atau kelompok siswa) menerangkan juga bahwa sudoku mengajar siswa tentang mengatur strategi, membaca suasana, melihat berbagai probabilita, selain tentunya mengasah kemampuan berhitung.

Untuk menambah antusiasme, kelas bisa memilih permainan yang dianggap paling bermanfaat dan paling menyenangkan. Kemudian, permainan yang terpilih itu diperlombakan, diikuti seluruh siswa kelas tersebut. Sang pemenang (atau kelompoknya) boleh memiliki permainan itu sebagai hadiah.

Pentas permainan bukan hanya bermanfaat bagi anak-anak. Ini penting juga dilakukan untuk orangtua. Kegiatan semacam ini bukan hanya akan menyadarkan orangtua tentang manfaat permainan yang baik bagi pendidikan anak mereka, tapi juga bisa menolong mereka memahami pentingnya menyediakan waktu untuk bermain-main dengan anak mereka di rumah.

Berikut beberapa contoh permainan yang mudah ditemui di pasaran, dan manfaatnya :
1. Untuk membangun persepsi visual dan ingatan: Domino, Jigsaw Puzzle, Dot-to-dot, dll.
2. Untuk membangun kemampuan bahasa dan membaca: Scrabble, Teka teki silang, dll.
3. Untuk membangun kemampuan logika dan berpikir: Monopoli, halma, bridge, catur, otelo, kartu remi, dll.
4. Untuk membangun kemampuan matematika: Bingo, dakon, monopoli, sudoku, main pasar-pasaran, dll
5. Untuk membangun koordinasi motorik halus dan motorik visual: Balok-balok, Clay (tanah liat), Origami, Lego, Play dough (malam), bekel, dll.
6. Untuk membangun koordinasi motorik besar: Lompat tali, hula hoop, Frisbee, bowling, tarik tambang, engklek, trampoline, sepak bola, sepatu roda, dll.
7. Untuk membangun kemampuan memecahkan masalah dan sosial: Bridge, catur, sudoku, monopoli, dll.

Bakti Sosial ke Rumah Singgah Mahanaim

Barangkali tidak semua orang mengetahui kalau di area TPA Sampah Bantar Gebang, Bekasi terdapat Rumah Singgah Mahanaim yang menampung kurang lebih 100 anak usia sekolah untuk melakukan berbagai aktivitas pendidikan. Rumah Singgah ini menjadi lokasi pilihan bagi APC untuk melakukan kegiatan Bakti Sosial (Baksos) yang dilaksanakan tanggal 22 Desember 2008. Baksos yang diikuti oleh 42 siswa Athalia, 14 orang pengurus APC serta 5 orang (guru & pengurus Athalia), terlaksana dengan lancar baik sepanjang perjalanan maupun pada saat pelaksanaan di lokasi.

Yang mendasari kegiatan Baksos ini adalah dorongan untuk berbagi kasih dan perhatian kepada sesama. Pada kegiatan Baksos ini, APC telah menyalurkan seperangkat alat tulis, perlengkapan mandi dan makanan ringan kepada kurang lebih 75 anak yang hadir pada acara tersebut. Disamping itu juga disampaikan sejumlah mie instant dan beras 100kg kepada Yayasan Mahanaim untuk selanjutnya disalurkan kepada anak-anak yang membutuhkan. Anak-anak ini berasal dari keluarga pemulung yang tinggal di seputar area tersebut dimana sehari-hari mereka juga membantu orang tuanya untuk memisahkan sampah-sampah sambil tetap belajar seperti anak lain umumnya. Yayasan Mahanaim yang mendirikan Rumah Singgah pada tahun 2000 telah menampung anak-anak ini di luar jam sekolah dan bekerja dengan memberikan bimbingan pelajaran tertentu seperti Matematika, Bahasa Inggris, serta Character Building. Saat kegiatan belajar berlangsung, Yay Mahanaim juga menyediakan makanan untuk anak-anak ini. Secara rutin pada hari tertentu rata-rata 50 anak hadir di untuk mengikuti bimbingan pelajaran. Sungguh pelayanan yang luar biasa.

Acara berlangsung lancar mulai jam 12.10 – 14.30 dengan dipandu oleh 2 orang MC yaitu : Sharon (kelas VII D) & Fellicia (kelas VIII R). Renungan singkat dengan tema ‘Adilkah Tuhan’ yang disampaikan oleh Ibu Charlotte menyadarkan kita semua untuk selalu mensyukuri berkat dan anugerah yang sudah Tuhan berikan. Tim musik yang terdiri dari Amel (VIII R), Steven (VIII B), Daniel (VII H), Aldo (VII D) serta tim yang memandu permainan yaitu Keia (VIII R) dan Pak Beryl (Guru IPA) terlihat kompak memimpin acara hingga selesai, meski di tengah udara panas serasa di sauna dan aroma sampah yang menyengat…(tapi ternyata rombongan Athalia berhasil bertahan hingga acara selesai). Terlihat suasana yang semarak dan antusias saat acara berlangsung, terutama pada sessi permainan yang melibatkan seluruh anak dari Rumah Singgah dan siswa Athalia. Bahkan seorang anak dari Rumah Singgah ada yang ’terkesan’ dengan siswa Athalia (siapa ya ?). Rangkaian acara diakhiri dengan ucapan terima kasih yang disampaikan oleh Pak Rudy dari Yay Mahanaim serta foto bersama. Akhirnya rombongan Athalia meninggalkan tempat kurang lebih jam 14.30 dan tiba kembali di Athalia 16.10.

Terima kasih untuk siswa Athalia yang terlibat langsung dalam kegiatan baksos ini, untuk seluruh orang tua yang telah memberikan dukungan dan sumbangan, untuk guru dan pengurus Athalia serta seluruh pengurus APC yang terlibat. Tuhan memberkati pelayanan kita semua.

*Meigawati

Dampak Pola Asuh pada Karakter Anak

Oleh: Sinsi dan Aegis, Orang Tua Siswa

Kami mengingat kembali saat anak kami masih duduk di bangku TKB dan harus mengikuti tes kematangan sebagai salah satu syarat masuk SD Athalia. Masa itu merupakan pengalaman iman yang luar biasa bagi kami dalam hal tumbuh kembang anak.

Aegis dan Sinsi memiliki latar belakang keluarga yang berbeda. Aegis bertumbuh dalam keluarga yang seperti broken home, tetapi orang tuanya tidak bercerai. Sementara itu, Sinsi tumbuh dalam keluarga yang penuh kasih, harmonis, dan sangat kekeluargaan. Orang tua Sinsi biasa menunjukkan kasih dengan cara memanjakan anak-anaknya. Bisa dibilang level memanjakan kebanyakan orang kepada cucunya sudah diterapkan kepada anak-anaknya.

Begitu Sinsi hamil hingga melahirkan, keluarganya sangat bersukacita. Kami diminta tinggal di rumah Sinsi. Anak kami mendapatkan curahan perhatian dan kasih sayang dari kakek dan neneknya. Apa pun yang diminta selalu dituruti bahkan ditawari segala hal karena itulah bahasa kasih mereka dan mereka ingin cucunya senang. Ada beberapa kebiasaan yang tumbuh dalam diri anak kami, yang kalau menurut pandangan orang mungkin terlalu berlebihan. Begitulah cara orang tua Sinsi menunjukkan kasih sayang mereka terhadap cucunya.

Baca Juga : Athalia Learning Community News Nomor 2 Tahun 2021

Dampak Pola Asuh pada Karakter Anak

Konflik dalam Pola Asuh

Sayangnya, pola asuh orang tua Sinsi ini membuat kami sebagai suami istri sering bertengkar. Aegis tidak setuju dengan perlakuan yang diterima anak kami. Sinsi, sebagai anak, merasa tidak berdaya melawan orang tuanya yang sangat mengasihi cucu mereka. Sinsi sempat bertanya-tanya, apakah benar memanjakan cucu akan sampai “merusak” anak itu? Bukankah anak itu akan berubah dengan sendirinya kalau sudah beranjak besar (bisa mandiri dan lain sebagainya)?

Pertengkaran kami semakin intens dan kami jarang merasakan damai dan sukacita. Akhirnya, kami memutuskan untuk pindah rumah, memisahkan diri dari keluarga Sinsi. Dalam proses ini, terjadi perdebatan yang cukup intens dengan orang tua Sinsi. Namun, kami sudah sepakat untuk menyelamatkan rumah tangga kami.

Ternyata, pindah rumah tidak menyelesaikan masalah. Orang tua Sinsi tetap ingin dekat dengan cucunya dan datang ke rumah hampir tiap hari. Puncak dari isu di keluarga kami muncul ketika kami dipanggil Kepala TK Athalia. Pada pertemuan tersebut, Bu Risna dan Bu Elita menyampaikan bahwa anak kami tidak lulus tes kematangan. Mereka juga menceritakan, ketika menjalani tes tersebut, anak kami berperilaku sangat buruk. Dia tidak mau mengikuti instruksi yang diberikan, bahkan sampai memarahi pengajar yang sedang mengobservasinya.

Mendengar informasi tersebut, kami kaget sekali. Di rumah, anak ini tidak pernah berkata kasar. Namun, ternyata dia bisa sampai marah-marah dan berucap kasar kepada pengajar di sekolah. Hati kami hancur. Namun, di titik ini, Sinsi menyadari bahwa efek pola asuh yang salah sangat memengaruhi perkembangan seorang anak. Sejak saat itu, kami kembali bersatu, bertekad mengubah pola asuh selama ini dan memperbaiki perilaku dan karakternya.

Perubahan dan Tantangan

Kami bersyukur Athalia masih memberikan kesempatan kepada anak kami untuk mengikuti tes kematangan kedua. Tak mau buang waktu, kami melakukan langkah nyata. Kami berbicara kepada orang tua Sinsi mengenai kondisi anak kami dan meminta pengertian mereka tentang beberapa hal yang sudah kami sepakati. Memang tidak mudah menyampaikan ini kepada orang tua, tetapi kami harus melakukannya demi kebaikan anak kami.

Kami membuat aturan yang jelas dan memberlakukan rutinitas harian yang harus diikuti. Selain itu, kami juga memberikan konsekuensi jika anak kami menunjukkan ketidaktaatan. Kami juga mengajak anak untuk berbicara dari hati ke hati. Melalui percakapan dari hati ke hati, kami juga menjelaskan bahwa selama ini pola asuh yang kami terapkan tidaklah tepat. Kami mengajak anak untuk memahami bahwa hidup tidak bisa sesuka hati, sebagaimana diajarkan dalam firman Tuhan. Tanggung jawab dan kebaikan kepada orang lain harus dimulai dengan belajar untuk taat dan berlaku baik.

Proses itu kami jalani, tetapi harus diakui sangat tidak mudah. Sekalipun sekolah dan kami sudah berusaha keras untuk memperbaiki karakter anak kami, kemajuannya sangat lambat karena sisa-sisa pola asuh terdahulu.

Kemudian, Tuhan menunjukkan kasih-Nya yang begitu besar kepada keluarga kami dengan membukakan jalan lain yang tidak pernah kami duga. Waktu itu, pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia. Kami pun bisa fokus mendidik anak berdua saja. Anak kami dapat menghabiskan waktu lebih banyak bersama orang tuanya dan jarang berinteraksi dengan kakek-neneknya. Kesempatan ini kami pakai semaksimal mungkin untuk menanamkan nilai-nilai baru dan karakter baik kepadanya. Pada saat itu, kami merasakan belas kasihan Tuhan karena anak kami mampu mengerti dan memahami didikan dan teguran yang kami berikan kepadanya.

Baca Juga : Waspada! Ini 10 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua

Kasih Tuhan dalam Perjalanan Kami

Proses yang kami alami masih berlangsung hingga saat ini. Ada kalanya kami masih menghadapi riak-riak kecil dalam perjalanan ini. Namun, kami bersyukur karena Tuhan tidak pernah meninggalkan kami sendirian menjalani ini semua.

Tuhan memperkenalkan kami kepada Sekolah Athalia. Kami merasakan perhatian yang begitu besar dari pihak sekolah melalui diskusi dan percakapan dengan kami. Juga, dengan perhatian yang mereka berikan kepada anak kami.

Saat ini, anak kami sudah duduk di kelas 2 SD dan mulai memahami tugas dan tanggung jawabnya. Perilakunya sudah jauh lebih baik dibandingkan dua tahun lalu. Kami sekeluarga masih terus berproses bersama Tuhan dan Sekolah Athalia. Kiranya kisah kami dapat menjadi berkat bagi kemuliaan Tuhan. Amin.